20 Juli 2017

Rumah dan Fitrah Anak

Posted by Basmah Thariq at 07.43.00
Aktivitas duo-A Hafizhah
Setelah menikah, kerapian rumah hanya terjaga di awal kehidupan rumah tangga yang masih diisi oleh saya dan suami. Tapi, setelah kehadiran Asma', kemudian disusul oleh 'Aisyah, membuat saya dan suami semakin mengerti bahwa kenyamanan itu tidak datang dari rumah yang selalu rapi. Menjaga tetap bersih, iya. Namun, berharap setiap ruang dengan tanpa dijejali mainan berhamburan, lembaran-lembaran kertas berserak, bahkan buku-buku yang jadi bacaan favorit lecek sampai tak utuh itu, m u s t a h i l.

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat

Entah kesyukuran apa lagi yang harus kami panjatkan, karena rumah yang kami anggap kapal pecah itu menjadi sebab adanya kehidupan. Tentang tangis yang tak pernah absen, hadir secara bergantian bahkan hampir bersamaan. Tentang rival siblings pun bisa membuat nada-nada kami khilaf, merubah menjadi melengking. *Astaghfirullaah..* Tentang kertas-kertas yang seringnya menghujani hampir seisi rumah dalam keadaan tak lagi utuh, menjadi hal menarik yang justru diminati. Tentang mainan berserakan menjadikan kaki perih ketika tanpa sengaja menginjak. Dan tentang berhiasnya senyum tawa selalu menjadi penyejuk, penghapus lelah yang tak berkesudahan.

Berbenah sebelum meninggalkan rumah
Kesyukuran ini semakin bertambah ketika duo-A hafizhah tetap dalam fitrah anak sesungguhnya. Tanpa harus melibatkan gadget dan TV yang membuat kami seringnya menahan tak ber-gadget ria di hadapan mereka. Tujuannya agar koordinasi tangan dan mata berkembang dengan baik. Motorik halus dan kasar terasah, imajinasi yang terarah. Daya ingat yang menajam tanpa dijejalkan pada hal-hal yang tak semestinya.


Di usianya yang beranjak batita dan balita, duo-A hafizhah secara perlahan mulai kami libatkan dalam hal membereskan mainan misalnya. Asma’(3y11m) terbiasa tanpa kami pinta turut membantu adiknya. ‘Aisyah (2y2m) yang ingin minum, mengambilkan dan membantunya menuang. Ketika mendapati lantai basah karena tumpahan minum/makan, kakak Asma’ dengan sigap segera mengambil lap yang memang kami sudah siapkan untuk anak-anak bisa dijangkau. Di jelang bepergian misalnya, atau di sebelum makan dan tidur malam mereka, kami mengajaknya untuk sama-sama membereskan mainan dan buku-bukunya untuk dikembalikan di tempatnya. Masyaa Allah wal hamdulillaah. Perlunya bermula dari memberikan teladan, menyampaikan, lalu mengajak,  dan mengingatkan agar fitrah itu tetap hadir.

Kondisi Kamar duo-A Hafizhah
Dari kesemuanya, kemandirian yang kami ajarkan bukan menjadi tuntutan yang berujung mengancam. Tetap pada porsi mereka di usia yang masih tak seberapa. Setiap usahanya tetap kami sambut dibarengi ucapan terima kasih. Agar mereka mengerti akan tanggung jawab tentang apa-apa yang mereka lakukan. 

Lagi-lagi, kalaulah keinginan rapi terpelihara, cukuplah ‘rapi’ itu saat anak telah tertidur pulas. Ketika bangun tidur pun kami tetap mengizinkan rumah ini berantakan. Sebab, kami sadar sesadar-sadarnya, betapa nikmat sehat, aktif, dan rasa ingin tahunya yang tinggi, mahal harganya.

Sebab pula tak sebanding dengan gadget yang kebanyakan menjadi senjata paling ampuh untuk penenang buah hati. Pun hiburan tv yang sejak awal memang sengaja kami tiadakan di rumah. Walau 'mungkin' hal tsb akan terlihat kalian lebih tenang, rumah tak akan seperti kapal pecah, dan mungkin tak ada lagi drama rebutan mainan antar saudara yang disertai dengan isak tangis.

Barakallaahu fiikunna, duo-A hafizhah kami.. Jazaakunallaahu khaer.

#BasmahThariq  
#Day1 
#GameLevel2 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea