28 Mei 2011

Monolog (Lagi)

Posted by Basmah Thariq at 18.19.00 3 comments
Entah kekuatan apa yang memberanikan diri ini untuk kembali menjemput segala rutinitas. Meski banyak yang harus ditanggalkan. Jam ngajar mulai tersisihkan untuk menjumput makna di setiap pertemuan sederhana ini. “Aku memang tak yakin bisa dengan raga yang rapuh ini. Tapi, Allah meyakinkanku untuk semuanya.” Ucapku lirih. Kemudian meremas resah untuk mengemasnya dibawa pergi. Karena ada janjiNya yang lebih indah, bukan?

***

Bukan, bukan Engkau, Rabbi.. Semestinya aku tak melakukan hal ini. Menjaga jarak darinya, berarti sama saja aku sedang membatasi diriku padaMu. Dan aku tak ingin kehilangan jejakMu walau sedetik. Aku menghargai pemberianMu atasnya, menjumpai mereka meski menemui banyak kesulitan di setiap kekakuan lidah mengenal alif, ba, dan ta yang diakhiri ya. Tapi, dari sanalah aku ingin menjumput kembali maknaMu.

***

“Dik, apa yang kau tangisi darinya?” Tanyaku di akhir pertemuan kemarin. Rasanya terlalu sadis aku menanyainya seperti ini, sedang wajahnya masih terbaca jelas guratan perih menahan rasa yang menjalar di ruas hatinya.

“Ndak tau ka juga.” Ujarnya dengan masih menahan seribu tanya di kepalaku. Selebihnya, aku sedikit menggengam harap, menungguinya mengucap gundah, bersabar mendengar tangis yang memecah. Sesekali di matanya ada air yang mengapung-ngapung.

Lagi-lagi, bibit itu. Dan ia berniat ingin bersemayam di hati adikku ini.

“Jangan biarkan celah di hati ini untuk menanamnya. Apalagi untuk dia yang tak memberikan sepeser kasih pun” “Memberi celah, berarti mau tak mau kita akan menanaminya, memeliharanya, dan memupukinya hingga ia bermekaran.”

Hh.. Memikirkannya adalah kebodohan. Sedang memelihara rasa untuknya adalah kepedihan.

***

Akhir-akhir ini, terlampau sering senja ku pandang. Mungkin jarak aktivitas dan rumah yang cukup jauh, akhirnya memanfaatkan perjalanan pulang untuk menikmati senja yang merangkak siap menengadahkan langit kelamnya.

Seolah membalas kepenatan yang menyemat di tiap waktu. Lalu menyapa langit dengan doa petang yang bisa menguatkan kembali langkah-langkah ini. Padamu langit, engkau telah dititipkanNya yang terindah untuk dipandang. Awan yang selalu berserakan, cerah dan kelammu tetap saja membuatmu cantik. Aku suka langit.

***

Hey… Aku, si Bianglala.
Rupanya seseorang menyimpan namaku di phonebook pada ponselnya dengan nama Bianglalaku. Dan ternyata, ia menyimpan beberapa nama blog sebagai nama di phonebooknya. Ada Kemilau Cahaya Emas, dan mungkin ia masih menyimpan nama dengan caranya sendiri.. Hm, gara-garanya aku dibuat takjub dan terharu. Sebab ia tak pernah menyisakan jejak sedikit pun (semoga kamu membacanya ya, dik!!) di rumah ini. Ternyata, ia pembaca tanpa jejak (mungkin aku akan menyimpan nama itu di phonebooku ).

Terima kasih atas keceriaan dan cerita yang kau beri. Yang setiap pertemuannya selalu berucap, “Kak, ada yang kurang! Mana Kak Tri?” Ia menganggapku, aku dan Tri satu paket. Ah, semua orang berpikiran begitu..

***

Maafkan aku, kakak! Sepertinya aku belum bisa duduk di sana untuk kali kesekian. Meski aku selalu merindukan dalam diam. Menangis dalam diam. Karena disanalah tempat cinta yang tak bersyarat. Mengajarkan riuh putaran waktu yang indah karenaNya.

Aku masih dibelenggu oleh keegoisan diri. Hingga menghentikan langkahku untuk hadir disana. Entahlah sampai kapan. Berharap, suatu hari nanti, langkah ini masih ada dan tak pernah melesap pergi.

Aku masih baik-baik saja kok, kak!


Emosi yang masih saja ber-fluktuasi

"MerindukanMu, dalam diamku.."
[ Read More ]

18 Mei 2011

Kitakah yang Setia?

Posted by Basmah Thariq at 12.30.00 2 comments


Seingatku, aku pernah melayangkan tanya pada mama. Tapi itu, cukuplah membuatku tersentak atas pertanyaan tersebut. Entah beberapa waktu telah terlewati, dengan kepolosan yang tak pernah terbersit dalam diri sendiri saat ini.
“Mama… mama…  Apa mataharinya gak capek nyinarin bumi terus?” tanyaku saat baru saja pulang sekolah.
            Dengan tersenyum, mama menjawab, “Ya gak-lah!! Kan mataharinya udah janji sama Allah.”
“Janjinya kayak gimana, ma?” Aku terheran dan penasaran.
“Matahari diciptakan sama Allah karena untuk menyinari seluruh alam. Bukan Cuma untuk bumi aja.”
“Berarti, mataharinya gak setia dong, ma?” Sanggahku.
“Lho? Kok bisa gitu?” Kali ini, mama yang terheran-heran atas pertanyaan putri kecilnya.
“Karena kan ada malam. Kalo kata mama matahari udah janji sama Allah, kenapa mesti ada malam? Jadi, mataharinya gak nyinarin seluruh alam.”
“Mataharinya tetap setia, kok!!” Mama tersenyum mendengar sanggahanku. “ Tapi, mataharinya akan menyinari negara-negara lain di belahan bumi lain. Bumi Allah kan luas. Misalnya aja, kalo di Jeddah lagi malam, di Indonesia udah pagi. Kamu kan sering nelpon kakak pas malam-malam. Dan biasanya kalo lagi nelpon jam 12 malam, di Indonesia udah pagi kan?” Papar mama jelas.
“Iya, ya.. ” Aku termanggut-manggut atas paparan mama.
“Jadi, apa yang Allah ciptakan itu sebenarnya udah pada janji semua sama Allah. Termasuk kita.”
“Apa janji kita sama Allah?”
“Kita harus rajin ibadah. Kamu kan pasti udah kenal ayatnya kan dari TPA?”
“O..oh iya, ya…” Pada saat itu pula, aku mengingat materi yang pernah aku pelajari di TPA. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu.” (SQ Adz Dzaariyat : 56)
Sekilas, pertanyaan masa lalu menerawang hanya untuk mengais banyak hal. Yah, semoga kita seperti makhluk Allah, yang setia pada setiap janjinya. Seperti matahari yang tak kunjung lelah menggairahkan kehidupan. Seperti langit, bebas seperti tak berbatas, namun tetap menunduk pada-Nya. Dan seperti banyak makhluk Allah lainnya, mereka telah mengemban dengan baik. Lalu, kitakah yang setia?
Alastu birabbikum? Qaalu balaa syahidnaa. “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.(Qs Al A’raf : 172)
Hanya ingin mem-paralel-kan kisah ini dengan kehidupan hari ini.
Mari, memetik hikmah di kebun kehidupan.

***

[ Read More ]

17 Mei 2011

Ups, Salah Hijab!

Posted by Basmah Thariq at 14.05.00 6 comments

Maghrib hampir menyambut saat beberapa panitia masih saja berkemas-kemas untuk menyiapkan acara hari esok. Bukan lagi dikatakan H-1, tepatnya bisa dikatakan -12 jam lagi saat harus menyiapkan beberapa barang perlengkapan untuk menjemput kegiatan Temu Aktivis Rohis yang terselenggara besok pagi. Di antara barang yang terpenting adalah hijab (pembatas) untuk banyak kemungkinan mengingat kami meminjam aula dari salah satu sekolah negeri di Makassar.


Dalam kepanikan yang terus mendera karena waktu yang tak lagi banyak, seorang akhwat sebut saja Ana, dan ditemani pula oleh Hilya mendatangi sebuah kampus tempat Ana mengenyam pendidikan. Sesampai di kampus, tanpa merasa canggung, Ana dan Hilya pun melesat ke masjid kampus tersebut sebagai bidikan yang tepat untuk meminjam hijab masjidnya. Sesampainya, Ana dan Hilya langsung menghampiri hijab masjid yang menjadi pembatas antara ikhwan dan akhwat.

“Afwan… Bisa kami pinjam hijabnya?” Ujar Ana dari balik hijab bagian akhwat sambil mengguncangkan helaian kain hijab sebagai sinyal keberadaannya.

“Iya, ambil saja di lemari.” Tiba-tiba terdengarlah balasan ikhwan dari balik hijab tempat di mana Ana memberi isyarat atas guncangan helaian kain hijab tersebut.

Walau masih menggenggam rasa kepanikan sebelum melesat di masjid terebut, Ana keheranan atas perintah si ikhwan tersebut. Tanpa banyak tanya, bersama Hilya, Ana bergegas melangkahkan kaki ke arah lemari yang berada di sudut ruang masjid bagian akhwat. Kemudian membukanya dengan ekspresi yang berhiaskan tanda tanya besar. “Hijab? Di dalam lemari?”

Ana membuka lemari tersebut. Tapi, yang diharapkan ternyata tidak ada hijab yang ia maksud sebagaimana yang dikatakan oleh si ikhwan. Hanya berisikan setumpukan mukena dan beberapa sajadah. Tunggu dulu, setumpukan mukena dan beberapa sajadah. Innaalillaaah, jangan-jangan yang dimaksud hijab itu adalah. . . . . .

Seketika itu pula, gemuruh tawa tertahankan, karena Ana dan Hilya telah mengerti apa yang dimaksudkan oleh si ikhwan tersebut. Ternyata, hijab yang dimaksud oleh si ikhwan itu adalah mukena (alat shalat yang dikenakan oleh muslimah ketika shalat). Meskipun sebenarnya si ikhwan tersebut tidak sepenuhnya salah.

Tapi, merasa tersia-siakan karena ketidakmengertian si ikhwan tersebut, Ana dan Hilya memilih beranjak pergi meninggalkan tempat yang masih saja menggenggam  tawa yang semakin membuncah. Ups, salah hijab!!

Makassar, 14 Mei 2011

Teruntuk ukhti Ana dan ukhti Hilya, 
untungnya dia tidak berucap begini,

“Afwan, kami tidak punya hijab yang antunna maksud..”

GUBRAKS!!

[ Read More ]

16 Mei 2011

Monolog: Sepenggal Kata

Posted by Basmah Thariq at 08.05.00 2 comments

Di setiap pertemuan, selalu kata-kata itu masih tetap sama menyisakan jejak di hati..

“Kayfahal, Ukhti?”
“Baik-baik aja, ukhti?”
“Semangat-semangat!!”
“Afwan..”
“Syukran..”
“Baarakallaahu fiik..”
“Hati-hati di jalan ya, Ukh..”
“Bareng ukh, pulangnya..”
“Udah makan?”
“Laa ba’sa..”
Sepotong kata inilah yang terkadang menggenapkan segalanya.
Menggugah hati yang selalu ingin terpaut di tiap pertemuan.

Kali kesekian, aku dibuat terharu
Ini wajar, kan?


Aku, Si Bianglala

[ Read More ]

15 Mei 2011

Perempuan

Posted by Basmah Thariq at 21.16.00 3 comments

:  Saudariku di Bumi Allah

Jika bukan karena sebuah penjagaan
Apa jadinya kita, perempuan?
Tertunduk saat banyak mata berusaha curi pandang
Adakah yang salah dengan muka kita, perempuan?
Gerak gerik yang tersorot karena kibaran jilbab yang menjuntai

Perempuan…
Banyak mata yang bertanya-tanya
Apakah senyum kita tak ada?
Karena jarang berbagi pada yang tak pantas
Dan memilih ala kadarnya di tiap wajah sederhana

Perempuan…
Kita tak pernah heran untuk sikap ini dan itu
Karena perintahNya menundukkan hati
Tak ter-rasa-kan beban dan lelah
Hanya pengharapan, Dia ridha pada kita..

Perempuan…
Kita akan bebas pada yang seharusnya
Untuk segala yang sepantasnya
Tak mengenal “ia”, bukan berarti tak akan pernah mengenal
Dan segalanya kan indah pada waktuNya yang kan terjawab

Perempuan…
Sst, hingga nanti tiba hari berjumpa padanya yang tak dikenal nama
tidak aku, tak juga kau
Maka, siapkan saja diri ini
Dan simpan yang memang semestinya..


Naluri perempuan yang bersemi kembali
Saat menjumpai seorang saudari 
telah menggenapkan diennya
(^o^)
Baarakallaahu lakuma wa baraka 'alaikuma 
wa jama'a bayna kumaa fii khaer..


(Terurai begitu saja pada angkot yang mengantarku pulang)
Aku, Si Bianglala

[ Read More ]

8 Mei 2011

Bukan Pernikahan Cinderella

Posted by Basmah Thariq at 09.51.00 6 comments
Pangeran menatap mata Cinderella. Ia jatuh cinta padanya. Kemudian... mereka menikah dan bahagia selamanya.

Sebenarnya, buku ini telah cukup lama memenuhi lemari ku. Menulis tentangnya karena berawal dari Demam SD (baca: Separuh Dien) yang merekah di hati kaum muda-mudi yang begitu tampak dari banyaknya status yang terlayangkan di beberapa jejaring pertemanan. Hm, adakah yang salah dengan SD ini? Oh, tepatnya sih pada impian ingin seperti pernikahan Cinderella. Hm..

Indahnya hidup menjadi seorang Cinderella!! Hanya modal paras yang cantik dan kebaikan hatinya ia mendapatkan Pangeran yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa melihat sisi lain, ia bisa hidup bahagia di istana yang mewah nan megah. Walaupun masa lalunya pernah mengalami kepayahan dalam hidupnya, rasanya telah terbayarkan saat pangeran datang menjemput dengan membawa sebelah sepatu kaca sebagi bukti bahwa ia adalah Cinderella yang pernah ditemui di pesta beberapa waktu yang lalu.

Ya, pernikahan yang (sebenarnya) diimpikan oleh kaum muda-mudi, hidup serba ada tanpa mengalami kepayahan memikirkan harga-harga sembako dan BBM yang terus melejit . Hanya duduk manis di istana tanpa ba-bi-bu karena serba ada. Dan pertanyaannya adalah, “Maukah kita hidup seperti Cinderella?”

(menunggu jawaban dari pembaca)

Buku ini based on Islami, kok. Karena mas Iwan Januar, sang penulis buku Bukan Pernikahan Cinderella ingin mengajak kita belajar memahami dan mendefinisi terjal dan lika-liku dalam berumah tangga. “Meskipun hal-hal itu tidak dirasakan di awal pernikahan, kalau tidak segera diantisipasi, maka akan menjadi bom waktu yang dapat meluluhlantakkan monument cinta sejak ikrar ijab Kabul dilantunkan.” Ungkapnya dari pengantar buku ini. (He.. salintempel -red)

Tapi, bukan berarti buku ini membuat kita yang belum menikah menjadi berciut hati untuk menggapai separuh dien. Sebaliknya, justru menambah pada pendewasaan dan kesadaran kita akan hikmah penyempurnaan separuh dien ini.

Seperti yang kita ketahui, Cinderella tidak pernah memperlihatkan tentang cara membangun rumah tangga idaman, hubungan baik antar tetangga, serta dakwah. Lho? Berdakwah juga? Ya, rumah tangga yang baik bukanlah yang sekedar menciptakan cinta bagi penghuninya. Tapi juga bisa menebarkan kebaikan pada lingkungan. Mulai dari membentuk individu yang shaleh(ah), keluarga yang sakinah-mawaddah-wa rahmah, masyarakat madani, hingga membentuk negara yang insya Allah tegak atas hukum Allah.

Belum lagi, buku ini cukup romantis dalam menyajikan. At all, buku ini cantik. Tak sekedar hard cover yang biru memikat dan membuatku teriring untuk terus membaca, tapi buku ini dikemas dalam kata-kata yang bersahabat beserta dalil-dalil yang insya Allah shahih, mengangkat beberapa kisah kehidupan Rasulullah dalam berumah tangga, kehidupan di dalam dan di luar rumah tangga, serta tips dan trik disetiap permasalahan yang ada.

Yang paling disayangkan mungkin dari buku ini adalah mas Iwan Januar tak mencantumkan bagaimana cara mendidik anak. Dan aku pun berbaik sangka karena kisah Cinderella yang pernah kita tonton belum dikaruniai anak, maka buku ini pun memang hanya disajikan hanya kalangan pasangan muda-mudi. Pra nikah? Silakan juga.. :)

[ Read More ]

7 Mei 2011

Cinta Kita Tak Pernah Bertepuk Sebelah Tangan

Posted by Basmah Thariq at 07.03.00 0 comments
Pernahkah sahabat? Meski kemudian engkau tahu, bahwa rasa-rasa itu adalah sesungguhnya bukan pada sosok yang layak, dan belum dihalalkan-Nya, lalu kemudian mati-matian engkau coba lenyapkan dari segala bilik memorimu? Pernahkah?

Kemudian, pada saat yang tak terduga, saat harap-harapmu itu kian mencerah, kau dihadapkan pada sesuatu yang bagimu lebih dahsyat dari hancurnya katai putih menjadi supernova. Harapan dan asa yang kau rajut tiba-tiba saja buyar seketika.
Tiba-tiba saja mentari yang baru saja menyingsing di ufuk timur, dengan segera tenggelam seketika. Kau merasa gelap. Harapanmu itu kandas seperti bergantinya mentari dengan gelapnya sang malam tanpa rembulan. Semangatmu meredup. Harapanmu lenyap. Lalu, engkau menderita sebab langit asamu tiba-tiba saja mendung dan memuntahan hujan deras.

Ah, sahabat. Kau sedang dirundung kedukaan. Tapi, engkau tak boleh lupa satu hal, bahwa CINTAMU TAK PERNAH BERTEPUK SEBELAH TANGAN! Ya, sekali lagi, cintamu tak pernah bertepuk sebelah tangan. Sungguh, tak pernah.!!

Sebab, mungkin saja harap-harap itu telah membuatmu lupa bahwa ada banyak lokus cinta yang ada di sekelilingmu. Cinta tulus, yang tak pernah ada pamrih sedikitpun, tercurah untukmu, di saat engkau (mungkin) mengejar cinta yang bahkan bukan selayaknya untuk kau kejar!

Cobalah kembali kita insafi sejenak. Sungguh ada banyak cinta di sekeliling kita, tulus teruntuk buat kita, yang mungkin ambang dalam hati kita sebab satu lokus harap itu sudah tersandar bulat-bulat padanya. Cinta dari sahabat-sahabat kita, saudara saudari kita. Mereka yang merengkuh pundak-pundak kita dengan hangat. Berbagi kedukaan dan berbagi canda tawa dengan kita. Adakah pantas untuk terlupakan?

Ada lagi, curahan cinta yang lebih dahsyat dari itu. Bahkan, ia pertaruhkan nyawa demi kehidupan kita. Sungguh, cinta yang takkan pernah terbalaskan oleh diri kita. Ialah cinta ibu dan ayah kita. Lalu, apakah masih ada alasan bagi kita untuk lupa dengan segenap cinta yang begitu dahsyat ini dan masih merelakan separuh hati kita, bahkan untuk seseorang yang tak layak menurut-Nya? Cobalah sejenak kembali kita selami. Bukankah beliau berdua tak pernah rela membiarkan sedikitpun ada beban penderitaan di hati kita?

Saat kita bahkan lebih euphoria menerima SMS dia dari pada beliau berdua? Saat sebagian alam fikir kita justru tersedot pada seseorang yang belum tentu terbaik buat diri kita, dan lupa akan segala cinta dahsyat dari ayah bunda kita? Bukankah beliau telah berkorban segalanya untuk kita? Memberikan yang terbaik untuk kita. Berbahagia dengan kebahagiaan kita, melebihi kebahagiaan diri beliau sendiri. Apakah kita lupa itu?

Ingatkah kita, ketika beliau lebih rela kekurangan, lebih rela untuk tidak enak, hanya demi diri kita agar tidak kekurangan dan merasa lebih enak? Ingkatkah kita, ketika beliau senantiasa bersusah payah, lelah dan penat tetapi tak pernah beliau keluhkan itu? Bahkan, ketika kita bertanya, “adakah engkau lelah, Bunda?” beliau masih saja menjawab “tidak, anakku” padahal tubuh itu sudah begitu gemetaran? Aaah…, sungguh, mungkin kita lupa, ketika kita mengejar cinta yang belum tentu Alloh halalkan untuk diri kita. Lupakah kita akan hal itu?

Sahabat, bersyukurlah…bahwa engkau jauh lebih beruntung dikaruniai kasih dan cinta yang tak terbatas? Kita jauh lebih beruntung dari pada segenap anak-anak lainnya yang sama sekali tak merasakan dahsyatnya cinta luar biasa ini. Anak-anak yang tak pernah merasakan betapa bersahajanya belaian seorang ibu? Lalu, masihkah kita sanggup berkata, bahwa cinta kita bertepuk sebelah tangan?

Di atas itu semua, masih lagi ada cinta yang Maha Dahsyat! Cinta Sang Maha Pemilik Cinta. Kita, yang senantiasa melakukan dosa di hadapan-Nya, tapi, Dia masih membentangkan segenap keampunan. Masih mencurahkankan segenap Rahman dan Rahim-Nya pada diri kita yang dhaif ini. Dia yang sungguh jauh lebih dekat dengan kita. Bahkan, dia itu, tentulah tak lebih bandingannya dengan sebiji dzarrah dibandingkan luasnya semesta. Bahkan ia lebih kecil dari pada itu. Lalu, adakah kita lupa akan hal ini? Ah, sungguh…cinta kita tak pernah bertepuk sebelah tangan. Tak pernah…

Sahabat...

Sungguh, ada cinta-Nya yang Maha Indah yang lebih patut untuk kita kejar. Sungguh, dia itu bukan apa-apa. Bahkan, BELUM TENTU dia adalah sebaik-baik pilihan-Nya buat diri kita. Berhentilah melabuhkan harap pada manusia yang sama dhaifnya dengan diri kita. Berhentilah menyandarkan hati pada sosok yang belum tentu Dia ridhoi untuk membersamai kita. Sedangkan cinta-Nya dan kasih sayang-Nya, adalah sesuatu yang PASTI meliputi semua hamba-Nya, bahkan setelah kita bermaksiat sekalipun. Sungguh, ampunan-Nya lebih luas dari samudera, kendati pun dosa-dosa kita juga sebanyak air di lautan. Lalu, masihkah kita rela menukar cinta yang banyak dengan cinta yang sedikit? Tentu kita tak ingin merugi, bukan?

Sahabat, mari, kita saling mengingatkan. Mari kita mengejar cinta-Nya. Yaah, cukuplah pada-Nya saja kita labuhkan segenap harap. Dia paling tahu apa yang terbaik bagi diri kita, jauh melebihi kita. Bahkan kita tak tahu apa-apa.

Ditulis oleh:
El Mafazy Fauzan Azhari 
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea