23 Februari 2017

NHW 05: Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Posted by Basmah Thariq at 22.13.00 0 comments
Bismillaahirrahmaanirraahim

Memasuki pekan ke-5 dapatl Nice Homework tentang Belajar Bagaimana Caranya Belajar. Semacam membuat peta perjalanan. Ketika ada pelaku, tentu ada cara atau metode dalam mencapai tujuan dari target. Kemudian diperlukannya evaluasi sebagai hasil belajar dari setiap perjalanan yang dilalui.

Ya, mungkin sesederhana "desain pembelajaran" yang sedang disuguhkan kali ini. Bagi saya dengan background pendidikan, desain pembelajaran tsb tidaklah asing. Dengan dibuatkan desain pembelajaran, umumnya peserta didik jadi lebih terarah.

*

Di setiap kehidupan, selalu ada ibrah (pelajaran) dan hikmah yang hakikatnya disadari sebagai hamba Allah. Setiap apa yang dilakukan di dunia ini, tentu muaranya untuk mendapatkan ridha Allah.

Menuntut ilmu bukan hanya saat di sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita. 

Begitu salah satu kutipan dari Matrikulasi 5 IIP. Maka, sampai detik ini saya masih terus belajar. Untuk mendapatkan ridha Allah diperlukan ilmu. Sebagaimana di dalam Al Qur'an dalam surah Al Mujadillah ayat 11, Allah mengangkat derajat orang-orang yang menuntut ilmu.

Pada keputusan lalu, ilmu parenting menjadi fokus dalam Universitas Kehidupan. Sebab tertakdir sebagai istri dan ibu yang dilekatkan pada saya dalam menjalankan amanah Allah, 'alaa bi idznillaah.

Adapun metode yang umum saya gunakan adalah active learning dan learning by doing. Active learning adalah proses pembelajaran secara aktif, berusaha langsung mencari referensi yg shahih untuk setiap amalan yang akan-sedang-setelah dilakukan. Begitupula learning by doing adalah pembelajaran yang bisa saya dapati ketika sedang melakukan sesuatu. Kerapkali mendapati metode tersebut ketika berhadapan dengan anak dengan sejuta progress mereka, masyaa Allah tabarakallaah.

Alih-alih, dou-A hafizhah bagi saya adalah sumber belajar utama dan bisa menjadi bagian evaluasi untuk saya. Ketika mereka berkembang dengan baik, 'alaa bi idznillaah maka menjadi tolak ukur sikap kami sebagai orangtua. Tak jarang dari cara bicara dan perilaku serta penggunaan kata-kata yang terlontar dari lisannya sama dengan apa yang biasa kami katakan. Children see, children do. Tentu ini menjadi bahan evaluasi saya (dan suami) saat ini. Kami harus lebih sabar dalam belajar, sabar dalam mengamalkan di kehidupan keluarga dan sehari-hari, serta masih akan terus belajar agar anak-anak mampu berkembang sesuai fitrahnya.


Kami belum membuatkan kurikulum secara tertulis pada dou-A Hafizhah. Meski ke depan kami berencana in syaa Allah akan memilihkan dou-A hafizhah untuk homeschooling. Bagi kami, saat ini dengan melihat usianya, target ada pada dari segi pemahaman dan penanaman iman, memperkenalkan adab, akhlaq, membiasakan lantunan Al Qur'an serta doa-doa dalam aktivitas harian itulah yang terpenting.

Kurikulum masih sebatas menumbuhkan minat dan bakat. Tetap berusaha memfasilitasi apa-apa yang membuat mereka tumbuh dan berkembang. Namun tidak menargetkan mereka untuk berjibaku pada calistung (baca, tulis, dan hitung) secara dini. 

Kurikulum masih sebatas mendengarkan sederat pertanyaan dou-Asma'Aisyah ketika melihat atau mendengar sesuatu dari setiap panca inderanya. Fitrahnya sedang ditumbuhkan rasa ingin tahu dengan terus bertanya dan bertanya. Meski akan mendapati pertanyaan yang sama di hampir setiap waktunya.

Dan kurikulum hanya sebatas pada ketertarikan tentang sekitar yang seringkali menjadi alarm kecil itu terdengar dari lisan-lisan mungilnya. 


Alhamdulillaah, mereka seperti sumber belajar yang harus kami baca dari fitrahnya. Saat mendengar bibir kecil si dou-A hafizhah mengucap basmalah kala memasukkan apapun ke dalam mulutnya, dengan tangan kanan sampai duduk. Saat dou-A hafizhah mengucap bismillahi tawakkaltu 'alallaah saat hendak melangkahkan kaki keluar rumah. Menjawab hamdalah ketika usai bersin. Bergegas mengambil mukena dan sajadah masing-masing ketika saya hendak menunaikan shalat. Bersegera mengembalikan posisi benda/mainan pada tempatnya, dengan sigap membereskan kembali mainan yang telah selesai digunakan.

Tentang dou-A hafizhah kami... Semoga fitrahnya menjadikan kami dan mereka dalam keistiqamahan. Dalam keteladanan Rasulullaah shallaallaahu 'alaihi wa sallam, dan selalu ada pada jalan yang haq.


Saat fitrah itu selalu terpancar, ketika melihat wajah polos Asma' mengatakan, "Ummi, mana ji(l)bab? Asma' mau keluar kasih makan ayam.."

Atau 'Aisyah yang berlari kecil, menunjuk arah jilbabnya dan meminta dikenakan padanya ketika hendak keluar. Paling semangat dan sigap ketika suara adzan dikumandangkan dengan ucapan yang seolah menyadarkan kami, "Adzan.." Sambil menunjuk dengan jari mungil ke sumber suara.


Mereka yang selalu terbangun di awal waktu, jelang subuh.

Mereka yang mendapati saya selepas shalat berujar, "Ummi, mau ngaji..? Asma' mau juga A(l) Qur'an.." Kemudian 'Aisyah pun turut meminta Al Qur'an seperti kakaknya.

Tak pernah sungkan berucap kata "Tolong..", "Afwan..", dan bahkan "Syukran ummi, syukran abi.. Jazakallaahu khaer sudah belikan Asma' buku.."

Ketika terjatuh atau terluka, dari lisan mungil Asma' sering mendapatinya sebaik-baik penyejuk di dalam doanya, "Ya Allah, sembuhkan sakitnya Asma'" Sembari mengusap luka dengan tangannya. Atau ketika mendapati lecet di tangan abinya, "Ya Allah, sembuhkan lukanya abi.." Dan ada setumpuk doa yang teramat sederhana. Entah hanya gatal-gatal karena gigitan semut, ketika stok cemilannya habis, "Banyak-banyak saja berdoa, supaya abi (dapat rezeki untuk)  belikan Asma'.." Dan sebagainya.


Dou-A hafizhah, Asma'Aisyah, mereka qurrata a'yun bagi saya di kala saya mulai kepayahan, dan kelelahan. Mereka menjadi kekuatan tersendiri. Menjadi pengingat kebaikan yang Allah hadirkan dari kebeningan hati mereka. Dari sosok kecil yang tengah ditempa. Menjadi kaca untuk kami, kedua orangtua. Menjadi pelajaran terbesar akan makna ketaatan, keistiqomahan, kedisplinan, menahan diri, bersyukur atas apa yang didapat hari ini.

Kami tak bisa menjanjikan apapun. Bahkan tidak berani berjanji setiap keinginan yang mungkin sangat mudah membuat mata mereka berbinar-binar. Memilih membiarkan deraian air mata itu mengalir dari sudut matanya jika ada saja yang memang kami tak bisa janjikan. Maafkan kami ya, nak..


Tentu mungkin masih banyak celah dari pola tingkah laku mereka. Tapi mendapati dou-A hafizhah dalam kebaikan merupakan salah satu rezeki yang Allah berikan. Hakikatnya bukan hanya mereka yang sedang belajar. Justru kami-lah orangtua yang perlu lebih banyak mengejar ketertinggalan. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah..

Barakallaahu fiikumaa nak, shalehah hafizhah. Maafkan untuk banyaaaaaak-nya kekurangan kami. Kelalaian kami. Keegoisan kami. Dan kejahilan kami. Semoga selalu dalam ridha Allah di setiap kesungguhan dalam proses pembelajaran ini..

***

Alhamdulillaah, Nice Homework ini bisa saya tuliskan. Maafkan, bila tulisan ini mengandung banyak curhat. Tapi, sejujurnya, dengan kehadiran Nice Homework ini, 'alaa bi idznillaah, seolah sedang disadarkan tentang apa yang harus dan akan saya lakukan ke depan. Desain pembelajaran yang pernah saya kunyah di bangku kuliah rupanya mengantarkan saya untuk mengamalkan di kelas sesungguhnya, kehidupan berumah tangga. Allaahul musta'aan

Semoga selalu ada berkahNya dalam menapaki Baiti Jannati. Aamiin..

Jazakillaahu khaer Ibu Septi, 
seorang Ibu Profesional yang menginspirasi. 
Senang bisa hadir di kelas Matrikulasi, alhamdulillaah..


Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'




[ Read More ]

18 Februari 2017

NHW 04: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Posted by Basmah Thariq at 17.21.00 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Memasuki pekan ke-empat di kelas Matrikulasi, rasanya tak semudah mengerjakan Nice Homework di pekan-pekan sebelumnya. Hingga menjelang batas deadline, baru bisa mengumpulkan keberanian untuk menuliskan ini. 
*
Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Deg!
Penggalan kata yang saya temui ini, seperti mengingatkan saya di awal-awal melahap beragam konsep pendidikan apa yang “tepat” untuk mengantarkan dou-A Hafizhah ke depannya. Di tengah kegalauan saat itu, sebab paling mendasarnya karena latah dengan “ilmu kekinian” sebagaimana Ibu Septi paparkan pada Matrikulasi IIP 4. Dan belum terarah oleh misi hidup secara individu. Sampai Allah menegur saya ketika suami men-download-kan dan men-shared sebuah kajian mengenai Beginilah Seharusnya Sistem Pendidikan Kita oleh Ust. Budi Ashari, Lc di Parenting Nabawiyah. Rasanya, seperti ditenggelamkan. 
*
This is it! The Nice Homework yang membuat saya maju mundur cantik.. Mulai dari merenung, membaca berkali-kali, kemudian mengetik, kemudian menghapus, kemudian mengetik lagi, menghapus lagi, mengetik lagi sambil menelaah, menerka-nerka, dan meratapi semua Nice Homework yang telah saya lalui. *seperti mengerjakan skripsi

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a.      Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

In syaa Allah, akan tetap menekuni ilmu parenting di Universitas Kehidupan tersebab melekatnya seorang istri dan juga ibu, atas izin Allah.

b.   Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Pada Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan di NHW #2, ketika susunan indikator telah terbentuk, sengaja menyampaikan pada suami apa-apa yang perlu menjadi tolak ukur di kehidupan saya, baik secara pribadi, istri maupun ibu. Tujuan penyampaian ini untuk bekerja sama pada saling mengingatkan menggeluti keseharian. Istiqamah diperlukan ketika kita melakukan kebaikan. Meski setahap demi setahap yang sifatnya mungkin sangat kecil. Bahkan adakalanya perlu "dipaksakan" jika itu sifatnya wajib. Maka, menjemput kebaikan dan ketaatan diperlukan orang-orang sekitarnya, sebagai bagian yang akan mendapatkan efek dari kebaikan yang kita lakukan.

c.    Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Melalui perjalanan selama seperempat abad di bumi Allah, 'alaa bi idznillah, banyak yang patut disyukuri. Beriringan dengan sabar yang tak jarang perlu didiktekan. Dan ada beragam ibrah dan hikmah tentunya di tiap lini kehidupan yang saya lalui. Alhamdulillaah…

Move on, atau istilah ber-hijrah, satu tahapan yang saya lalui dari beragam pilihan, yang menjadikan sebuah keputusan terbesar dalam kehidupan saya setelah separuh dien ini terpenuhi. Menjadi IRT sepenuhnya, alhamdulillah anugerah. Maka senang pada aktivitas rumahan seperti menemukan fitrahnya seorang istri dan ibu yang sesungguhnya.

Sempat silau akan karir wanita karir di luar, namun Allah menunjuki jalan saya pada proses kehamilan, kelahiran anak, menyusui, dll. Seolah Ia ingin menarik kesadaran saya pada fitrah sesungguhnya seorang perempuan. Bukan sebatas menjalani mem-besar-kan manusia. Tapi ada peran yang perlu dijemput dalam proses menyandang status ibu, yaitu melahirkan peradaban. Generasi terbaik bergantung pada ibu yang mumpuni akan ilmu dengan berbekal iman.

Ketika menyadarkan diri akan ke"khalifah"an dalam porsi masing-masing, di muka bumi Allah, maka tujuan hidup muaranya pada mengenali hakikat diri dan memberikan kebermanfaatan baik untuk diri dan orang sekitar dengan ridha Allah. Sebab, betapa banyak orang yang bergegas pada kebaikan dan menebar kebermanfaatan, tapi belum tentu menuju pada ketaatan sang Khaliq.

Mengambil peran berdasarkan fitrah yang telah Allah anugerahkan pada saya sebagai perempuan, tak kan jauh sesuai dengan amanah yang sedang diemban. Tak semudah menuliskan memang, tapi menuliskannya untuk memantaskan diri. Untuk menyadarkan diri betapa hari ini, "ghazwul fikr" begitu nyata adanya. Merenggut pemikiran banyak kaum perempuan. Hingga lupa fitrah sesungguhnya. Dan secara tidak langsung, fitrah-fitrah anak yang terlahir dari rahimnya, harus terbenamkan. Tergadaikan oleh dunia yang tak seberapa. Allaahul musta'an. Maka, inilah misi kehidupan yang sedang saya catutkan pada diri saya sendiri. Tak ingin muluk-muluk, meski ada title di setelah nama. Menjadi ibu professional, in syaa Allah itulah misi hidup.

Bidang: Istri dan ibu yang senang menulis yang berkaitan pada Ilmu parenting
Peran: Ibu rumah tangga –In syaa Allah yang amanah-, Penulis/blogger, dan thalabul 'ilmu (penuntut ilmu)

d.    Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.

Jauh dari sebelum menikah, ilmu parenting menjadi hal yang menarik untuk ditekuni. Mengingat latar belakang ilmu pendidikan yang mengarah pada pola anak, cara mendidik, manajemen kelas, dll, yang semakin terbuka lebar dalam hal pengasuhan anak ketika jauh sebelum kelahiran anak pertama. Selain mendalami ilmu kerumahtanggaan, hak dan kewajiban suami istri, mempelajari tentang kehamilan dan kelahiran, dan apa-apa yang menjadi kaitan menyambut bayi, saya dan melibatkan suami tuk mempelajari satu per satu. Benar-benar melek dan haus akan apa yang tengah kami persiapkan. Keputusan ingin full stay at home -meski dalam kehamilan pertama dan kedua masih menunaikan amanah di bangku S1, melahirkan, pemberian asupan terbaik seperti asi 2 tahun, MPASI homemade, sampai pada tahapan toilet training, menghadapi tantrum adalah beberapa hal yang sudah dan akan dilalui lagi, in syaa Allah. Mengingat kehadiran dou-A hafizhah yang hanya berjarak 1y9m, melewati beberapa tahapan adalah perjuangan.

Melek ilmu dan mendapatkan support dari suami adalah kunci yang kami berangkatkan in syaa Allah lillaah. Betapa saya dan suami saat ini sedang menikmati proses dalam mengurus rumah tangga. Dengan mendampingi kedua anak kami yang tumbuh kembang bersama. Dengan adanya lingkungan yang kondusif mendukung kesemua ini. Alhamdulillaah..

  • KM 0 – KM 7 (7 tahun): Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang. Hingga detik ini, saya masih terus belajar mengenai ilmu dasar pengasuhan anak. Sudah melewati beberapa episode di kehidupan anak-anak saat penyapih, toilet training, bahkan tantrum. Kini saatnya, saya beranjak ke langkah berikutnya yakni menumbuh kembangkan kekuatan anak sesuai fitrah yang dimiliki mereka. Tidak sulit tapi tidak mudah. Hanya perlu melatih diri agar senantiasa bersabar dalam menghadapi anak yang inginnya berganti-ganti. Namun satu hal yang saya pelajari kemudian, bahwa anak-anak saya tumbuh sesuai dengan yang saya dan suami contohkan. Maka langkah berikutnya adalah kami harus menjadi contoh yang baik sebagai refleksi dari yang kami harapkan.
  • KM 0 – KM 5: Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan. Penting bagi saya untuk mampu me-manage waktu dengan baik dalam mengurus segala urusan rumah tangga. Karena Bunda cekatan sendiri yang berarti adalah ilmu dalam hal manajemen diri dan rumah tangga. Saya berharap antara passion dan urusan rumah tangga dapat berjalan beriringan. Sehingga di KM 5, saya sudah bisa merasakan ritme keseimbangan antara keduanya.
  • KM 5 – KM 8: Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif. Untuk Bunda Produktif ini, jujur, produktif bukan semata-mata dalam bentuk materi saja. Namun, bila menjurus pada materi/finansial, agaknya saya menunda dahulu. Saya tidak terlalu muluk-muluk dalam mencari pemasukan untuk keluarga. Saya percaya pada: Be Professional, Rezeki Will Follow. In syaa Allah, pemasukan keluarga, Allah tetap titipkan rezeki 100% ke suami tanpa atau dengan saya bekerja. Saya hanya ingin menikmati proses tumbuh kembang anak dahulu. Menikmati mendampingi suami dan anak-anak hingga menggapai usia yang layak untuk mandiri.
  • KM 5 – KM tak terhingga: Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha. Dalam hal ini, yang saya pahami mengenai Bunda Shalihah adalah proses menjalani kehidupan yang senantiasa dinamis yang mengarah pada kebaikan. Sehingga prosesnya seharusnya jauh dari sebelum menjadi ibu. Semoga melalui pendidikan yang orangtua saya tanamkan dahulu bermanfaat pada kehidupan saya di hari-hari dalam berumah tangga. Dengan menuliskan apa-apa yang menjadi Nice Homework yang telah saya lalui, menjadi proses saya lebih me-manage dan menjadikan skala prioritas dalam kehidupan.


e.   Koreksi kembali checklist anda di Nice Homework #2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Pada checklist, sudah saya cantumkan meski kurang spesifik dan men-detail. Ini akan menjadi catatan saya dalam pelaksanaan ke depan, in syaa Allah..

f.        Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Bismillaah, semoga Allah memudahkan saya dalam menjemput setiap kebaikan-kebaikan ini. Karena menuliskan seperti menasehati diri.

 ***
Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin...
*lapkeringet...
Hanya memohon kemudahan ini kepada sebaik-baik Penolong, Allah ta'ala,  dalam menjalani kehidupan

Salam Ibu Pembelajar


Basmah Thariq / Ummu Asma'
[ Read More ]

9 Februari 2017

NHW 03: Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Posted by Basmah Thariq at 21.54.00 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Memasuki pekan ke-3 di kelas matrikulasi, lagi-lagi baru bisa menyimak materi dan diskusi di malam hari ketika dou-A hafizhah terlelap dalam tidurnya. Kali ini, saya tertumbuk pada Nice Homework dengan berbagai rasa. Masyaa Allah.. Benar-benar berasa dibangunkan dari malam yang pekat. *padahal tadi sudah terkantuk-kantuk baca via Whatsapp.

Inilah Nice Homework yang membangunkan...

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.

**
Bangunkan Cintanya!
Jujur, ini bukan kali pertama saya membuatkan surat pada suami. Meski berisikan ucapan terima kasih untuk segala kebaikannya selama ini, permintaan maaf tentunya atas segala kekurangan saya sebagai istri dan sebagai ibu atas anak-anaknya. Kemudian tetap ada seuntai kata yang berisikan untuk saling mengingatkan dalam ketaatan serta sederet harapan dan visi-misi ke depan. 

Beberapa surat cinta yang telah saya buat untuk suami :)
Sejak awal menikah, saya selalu berusaha membuat surat cinta dengan  mengkonsepkan berbagai kejutan. Bentuk suratnya bisa dikatakan limited edition karena ada sentuhan handmade and heartmade by me. *emak2kekinian

Kerapkali ditulis secara manual, tapi pernah di satu waktu, surat cinta yang saya buat dalam bentuk slide power point karena saat itu saya memang tak bisa bersentuhan langsung dengan kertas, gunting, lem, dkk di hadapan anak. :'D Jadi, seringnya saya mikir keras, konsep apa lagi ya yang bisa saya buat dengan peralatan-peralatan yang mudah dijangkau dan menjangkau hatinya. Tentunya jauh dari itu, esensi dari mengirimkan surat adalah tetap mengutamakan 'isi' yang membangunkan cintanya.

Respon suami setelah mendapati surat cinta ala-ala saya, ada rasa haru karena tetap merasa selalu di-special-kan di tengah kesibukan saya setelah kehadiran dou-A hafizhah, 'alaa bi idznillaah. Ditambah moment yang saya berikan dengan cara 'menyisipkan' surat cinta pada laptop kerjanya atau menempelkan di dekat kotak bekal makan siang yang biasa saya siapkan untuknya dalam tas kerja yang tiap hari dibawanya ke kantor. Alhasil, ia akan mendapati kejutan tersebut ketika telah sampai di meja kerja di kantornya. Saya tak perlu tahu ekspresi apa yang kali pertama terlukis di wajahnya ketika menemukan surat tsb. Namun selalu menjadi catatan sendiri, setiap mendapati surat tsb, biasanya ia akan langsung menelpon dan menyampaikan apresiasinya tentang usaha saya. Meski tak sekali, baginya tetap merasa surprised dengan surat cinta dan selalu menantikan kejutan-kejutan berikutnya. Bahkan di lain waktu, ketika mendapati saya yang sedang sibuk dengan gunting, kertas, lem, dkk-nya ia langsung nyeletuk, "Masyaa Allah, tanda-tanda bakal dapat surat cinta lagi.." Katanya penuh harap. Padahal, saya sibuk membuatkan kegiatan untuk dou-A hafizhah. *hahaha.. But so far,  alhamdulillaah.. Senang bisa selalu membangunkan cintanya..

Yuk, Mari Bangun dan Lihat Potensi dou-A Hafizhah!

Bagi kami, selalu ada kejutan dari dou-A Hafizhah kami. Tak jarang, mendapati di usianya dengan beragam progress yang perlu disyukuri. Alhamdulillaah..

Asma' (3 tahun 6 bulan)
Asma' ikut kegiatan Memanah di Lapangan Badar, STIBA
bersama Rimayah Archery Club for Kids  
Dari segi perkembangan, berdasarkan observasi kami, alhamdulillah sudah sesuai dengan tahap usianya dan in syaa Allah tetap menantikan perkembangannya.

Sejauh ini, kami melihat Asma' memiliki jiwa pemimpin. Terlahir sebagai seorang kakak, maka ada hal-hal cukup menonjol darinya. Tampak mandiri dalam melakukan berbagai aktivitas di kesehariannya, semisal makan-minum sendiri, -maaf- buang hajat di kamar mandi sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, merapikan barang/mainan/buku-bukunya yang berserakan, menyimpan peralatan makan/minumnya yang kotor ke dapur, menyimpan baju yang telah ia pakai di keranjang pakaian kotor, tidur di kamar sendiri bersama adiknya, dan masih banyak lagi. Detail dan bertanggungjawab. Dalam beberapa hal, ketika air minum yang tertumpah, ia bersegera mengambil kain lap sendiri dan membersihkannya sendiri. Atau membuang sampah pada tempatnya, menyapu sebagian wilayah hasil eksplorasinya, dll. 

Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada hal baru dengan banyaknya pertanyaan yang ditujukan pada kami. Ekspresif, pantang menyerah, percaya diri, dan pengayom. Pengayom di sini ketika kerapkali kami mendapati si kakak membacakan buku untuk adiknya, meski sebatas menunjuk dan menyebut gambar. Bahkan mampu menceritakan sesuai imajinasi hanya dengan melihat apa yang ada pada buku tersebut ke adiknya. Mulai penyebutan benda-benda sekitar, penyebutan angka 1 hingga 10, huruf hijaiyyah, sampai pada pengenalan anggota tubuh. Menjadi pengingat bagi kami dan adiknya. Sering mengingatkan adiknya yang masih terbiasa "w-sitting" atau makan sambil berdiri/tangan kiri, membantu melafazhkan doa setelah adiknya bersin, dan masih banyak lagi. Masyaa Allah tabarakallaah.. Dan yang menjadi catatan bagi kami adalah di usianya, tentu memori yang sangat kuat. Sebab fitrahnya ia yang belum ternodai. Semoga Allah memelihara dou-A hafizhah kami untuk selalu dalam kebaikan dan ketaatan.

Mengingat akan hal itu, apa yang kami ucapkan, perdengarkan, dan perbuat begitu cepat direkam olehnya. Masyaa Allah, benar-benar seperti sponge, menyerap begitu mudah. Tak heran, kami berusaha semaksimal mungkin bisa membiasakan kebaikan semisal memperdengarkan murattal, selektif dalam berkata, mengenalkan kalimat positif. Selalu kami upayakan untuk melafazhkan doa-doa berdasarkan aktifitas harian yang akan-sedang-setelah ia geluti.

'Aisyah (1 tahun 9 bulan)
'Aisyah the Explorer 
Di usianya yang belum genap 2 tahun, ia sedang menjalani penyapihan, mulai kami biasakan tidur secara mandiri. Alhamdulillah, di usianya sudah menguasai banyak kosakata, koordinasi tangan dan mata alhamdulillah terlihat baik, mampu menyebutkan anggota tubuh dan benda-benda sekitar, selalu ingin makan sendiri tanpa disuap, selalu ingin mengenakan celana dan baju sendiri, menyimpan pakaian yang telah ia kenakan di keranjang pakaian kotor, motorik kasar juga berkembang dengan baik dan terlihat lebih dominan. Aktif dan cekatan, senang dan tertarik pada main masa-masakan, ingin menyuapi umminya makanan, dan tertarik pada buku-buku bacaan dan hewan. Masyaa Allah tabarakallaah.. 


Barakallaahu fiikum, dou-A Hafizhah..

Membangunkan Diri Sendiri di antara Suami dan Anak
Saya hanya hamba Allah yang alhamdulillah bisa mendapatkan kesempatan dalam menjemput amanah-amanah di setiap status yang melekat pada diri saya. Maka, ada rasa selalu ingin menjadi thalabul 'ilm, sebagai pembelajar dalam menjemput ke-khalifah-an di bumi Allah. Setelah menikah, tidak ada kata berhenti untuk terus belajar, meng-upgrade sebagaimana bidang yang sedang saya geluti. Senang membaca, menulis, mendesain, memasak yang simple, dan sedang menekuni dunia menjahit meski secara otodidak via youtube. Alhamdulillaah, belajar bagi saya adalah sesuatu yang membuat saya senang dan enjoy menjalaninya

Mengingat menjemput amanah tanpa ilmu jelas akan beda 'rasanya' dengan menjemput amanah yang dibarengi dengan ilmu. Tentunya amanah-amanah itu, sekecil apapun, seremeh apapun, in syaa Allah akan bernilai ibadah di sisi Allah. Hanya menjejak di ranah domestik dengan mengantungi ridha Allah dan suami, in syaa Allah balasannya pun memasuki pintu surga mana saja. Maka, melek itu perlu. Bukan sekadar "katanya orang dulu" dalam melakukan sesuatu. Allaahul musta'an.

My Header Blog
Tentunya, saya dan suami memiliki karakter yang sangat jauh. Ibarat antara langit dan bumi. Saya melangit dengan daya imajinasi yang mampu meneduhkannya. Sedang ia membumi dengan sifat qawwam, -kepemimpinannya yang menyejukkan. Saya penyuka warna biru, dia penyuka warna hijau. Sebab itulah Allah memadukan kami dalam banyak hal perbedaan untuk saling mengutuhkan.

Proses mengutuhkan inilah kami bisa berkolaborasi dalam mendidik anak. Tentu menjadikan Al Qur'an dan Sunnah menjadi referensi terbaik dalam pola asuh anak. Semoga dengan melangit dan membuminya kami, bisa saling menggenggam hingga ke Jannah kelak, in syaa Allah.. Allaahumma aamiinn..

Lingkungan, Bangunkan Kami!
Berada di jantung kota Daeng, dengan populasi lumayan padat, namun jiwa sosial di perumahan kami tinggali semakin menipis. Perumahan dengan rumah saling bersekat di antara dinding dan pagar-pagar tinggi. Sedihnya, penghuni sekitar rata-rata pekerja kantoran dan kuliahan. Minim sosial antar warga, dengan ditambahnya sebagian dari rumah-rumah masih dalam tahap pembangunan dan renovasi. Sunyi sepanjang pagi hingga petang, malam hanya penat yang bersisa di rumah masing-masing. Satu-satunya menjadi pusat kegiatan hanyalah mesjid yang qadarullah wa maa syafa'aal sedang dalam renovasi juga.

Sejalan dengan keadaan sekitar, cita-cita untuk bisa terbangun dari kesunyian lingkungan sekitar menjadi PR terbesar kami ke depannya. Ada harapan bisa membuat semacam pertemuan, entah pengajian, majelis ta'lim bulanan untuk mempertemukan antar warga. Meski sejauh ini komunikasi antar warga bisa berjalan dalam batas maya via grup yang terbentuk di Whatsapp.

Mungkin kami belum bisa mengambil banyak peran dalam lingkungan sekitar. Maka memulai peran secara spesifik dibentuk dari keluarga. Dengan menanamkan nilai-nilai Islam pada diri dan anak-anak. Melatih kebiasaan baik, mengembangkan potensi, agar kelak bisa berkontribusi pada lingkungan sekitar. 
***

Alhamdulillaah, telah sampai di penghujung NHW 03 yang benar-benar membangunkan. Besar harapan kami, menuliskan ini semacam refleksi *menandaidirisendiri. Semoga Allah memampukan kami dalam mengemban amanah-amanah ini. Allaahumma irhamnaa wa sahhalna, -Ya Allah, rahmati kami dan mudahkan kami.. Aamiin...




Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'

[ Read More ]

7 Februari 2017

Berepisodenya di Kemilau Kampus

Posted by Basmah Thariq at 22.37.00 0 comments
Gedung Phinisi
Perjuangan dalam rentang waktu yang panjang menyadarkan ketika hitungan "tepat waktu" pun sesuai kadar dari masing-masing orang. Selama ikhtiar dan doa beriringan, Allah kan mudahkan. Jika dalam hal dunia kadang kita rela terpontang-panting tuk digapai, maka hal yang sifatnya kebaikan di akhirat pun tidak dengan cara santai bukan? (Bianglala Basmah -Repost dari akun Instagram sendiri @basmahthariq :D )

*

Tentang episode saya di kemilau kampus. Tepat pertengahan Agustus tahun lalu, 2016, akhirnya tertunaikannya amanah terakhir sebagai mahasiswi. Ada cerita yang berepisode di sana. Di jelang tahun ke-empat di kampus, kurang lebih empat tahun berlalu, ‘alaa bi idznillaah –atas izin Allah, seseorang datang menjemput untuk mengutuhkan dien saya.

 

Dari sanalah, cerita di kemilau kampus itu berepisode. Seperti hal yang dialami mahasiswa umumnya, 4 tahun adalah target dalam menuntaskan statusnya. Namun, cerita berepisode itu mengubah segalanya pada saya. Bertambahnya status dan amanah di sela-sela menunaikan amanah akademik yang berbilang tahun membidik saya.

 

'Aisyah (8m) menemani saya saat menanti dosen

Di tahun 2012, saat kami angkatan 2009 serentak memasuki babak tugas akhir, alhamdulillah, di saat itu saya hamil. Hingga pada sebagian teman telah seminar judul, saya masih menstabilkan kondisi saya yang didera morningsickness di trimester pertama pada kehamilan pertama. Maka, baru memulai seminar judul di sekitar bulan Maret 2013, dengan usia kandungan 6 bulan.

 

Dilanjutkan pada seminar hasil di bulan Maret lagi, di dua tahun berikutnya, tahun 2015, dengan kondisi hamil kedua usia kandungan 7 bulan. Jreng.. jreng.. jreng.. Terbilang cukup jauh jeda antara seminar judul dan hasil.  Di sela itu saya memang sempat tidak mendatangi kampus dan mengambil cuti akademik untuk bisa fokus memenuhi ASI eksklusif dan MPASI Asma’.

 

Masih terbayang, detik-detik jelang seminar hasil, saya menangisi diri saya di samping suami. Ia menyempatkan diri untuk mengantarkan saya sampai pada pintu ruang seminar. Antara haru bercampur sedih karena alhamdulillaah bisa sampai pada tahap ini dengan proses yang tak sebentar. Terbayang kondisi saya yang sedang hamil besar dan menitipkan Asma’ meski hanya beberapa jam di rumah orangtua namun meninggalkanya hampir setiap hari.  Di tambah proses menuju seminar hasil mulai dari menanti dosen, konsul dan tetap mendapatkan koreksi pada skripsi, juga pendaftaran seminar tetap mengantri selayaknya mahasiswa normal lainnya di kampus. Di sana selalu ada rasa bersalah meninggalkan anak mengingat di saat itu saya tetap nursing while pregnant (NWP).

 

Maka, setahun kemudian, barulah saya kembali ke kampus.  Di antara menanti dosen, konsul, dan menyelesaikan beberapa berkas dalam memenuhi syarat ujian tutup, kadang membawa dou-A hafizhah. Tapi lebih seringnya hanya sanggup membawa ‘Aisyah, dan kembali menitipkan Asma’ di rumah orangtua. Hiks..

 

detik-detik jelang ujian tutup

Sampai pada pertengahan bulan April 2016-lah tahap ini saya lakukan. Selain ujian ini dihadiri oleh teman seperjuangan di kampus, Asma' yang telah beranjak 2 tahun 8 bulan dan 'Aisyah 11 bulan dengan pendampingan ayah dan ibu saya, juga kakak saya yang turut hadir dalam rangka mendoakan, meramaikan dan menyemangati saya dalam proses tersebut. :D

 

Menjadi salah satu kesyukuran saya saat itu, karena alhamdulillaah masjid kampus telah ter-fasilitasi pendingin ruangan yang membuat saya nyaman ketika dou-A hafizhah beserta keluarga besar *LOL* menanti saya di sana selama proses ujian tutup.

 

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin… Beberapa tahapan tersebut menjadi begitu berepisode yang terdengar happy ending. Sebab di Agustus 2016 adalah batasan waktu bagi angkatan saya ‘harus’ menuntaskan gelar kemahasiswaan. Bayangan antara selesaikan atau dikeluarkan benar-benar memacu saya untuk mengupayakan terbaik, sebisa mungkin. Lagi-lagi pertolongan Allah ta’ala dan kemudahan dariNya.

 

Teringat ketika seorang dosen pembimbing di akhir pertemuan pada ujian tutup kemarin mengatakan, “Dengan ini……… (blablabla)……… status mahasiswa sudah tidak bisa dipertahankan……… (blablabla)………” Seperti melepas beban yang berat. Plong rasanya. Namun, tetap ada setampuk amanah yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah tentunya. Bukan hanya pada gelar yang mengiringi nama kita.

 

skripsi by me :)

Rupanya, tentang ilmu dan setelah menjadi orangtua adalah amanah yang perlu diperjuangkan. Tertakdirnya kita sebagai baby sitter Allah yang sesungguhnya menjadi bagian dari prioritas. Mengutamakan untuk memenuhi kewajiban sebagai orangtua terhadap anak dalam menyusui full 2 tahun, bisa mendampingi dalam perkembangan adalah kesempatan yang tak pernah terulang. Adalah rezeki saya dalam menempuh selama 7 tahun di kemilau kampus demi bisa memenuhi hak anak tersebut, menyusui dou-A hafizhah. Dengan cara itu, semoga Allah ta’ala mudahkan saya dalam hal lainnya.

 

Alhamdulillaahi bi ni’matihii tatimmush shaalihaat…


#OWOP2017
#OWOP2
#rumbelmenulisIIP
#IIPSulsel
[ Read More ]

1 Februari 2017

NHW 02: Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Posted by Basmah Thariq at 22.50.00 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillaah, di pekan kedua masih di kelas Matrikulasi IIP batch #3, sembari menyapa bulan baru, entah kenapa setiap buka Whatsapp jadi deg-deg serr sendiriMengingat ada beberapa grup online via Whatsapp yang juga memberikan tugas. Jadilah berasa kembali ke bangku kuliah lagi. Menambah jam belajar lagi. Buka laptop lagi. Diskusi lagi. Meski waktunya hanya bisa di luangkan pada malam hari setelah dou-Asma’Aisyah tidur pulas.

Taraa.. Berikut Nice Homework (NHW) kedua yang datang di malam hari setelah saya tidak sempat hadir di waktu diskusi.
*
Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yang kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan. Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
·         SPECIFIK (unik/detil)
·         MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
·         ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
·         REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
·         TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Maka, dari tugas di atas yang diberikan, awalnya saya sempat skip, karena terbayang akan ribet dan butuh waktu harus me-list daftar kegiatan yang dimiliki.

*
Here I go.


Setelah mencoba menghayati materi dan tanya jawab hasil dari diskusi grup, saya pun bersegera mencoba menuliskannya dalam bentuk tabel. Kemudian saya mendiskusikan (tepatnya bertanya dan memastikan) pada suami apakah indikator yang telah saya tulis ini ada yang kurang, atau ada yang tidak sesuai darinya. Tentunya, bukan hanya fokus pada indikator sebagai istri, melainkan sepaket mengenai pribadi saya, istri, dan ibu untuk anak-anaknya yang kelak akan siap dipertanggungjawabkannya nanti di hadapan Allah ta’ala.

Sebagai pribadi misalnya, ada hal-hal yang memang perlu dibahasakan bersama suami, meski indikator tersebut sifatnya untuk pribadi. Dalam hal ruhiyah misalnya, bertujuan untuk saling mengingatkan dalam ketaatan dan kebaikan bila mendapati ada kelalaian. Begitu pula pada aspek jasadiyah, mengingat ‘ideal’nya memang butuh powerfull dalam menjalani aktifitas rumahan yang membersamai anak dan suami. Dan suami pun perlu mengetahui apa-apa yang menjadi sumber kekuatan pada istri dalam fikriyahnya. Mengetahui passion istri yang bertujuan selain mendapatkan ridha suami, juga mendapatkan dukungan penuh.

Asma’ dan ‘Aisyah masih berusia di bawah 4 tahun. Indikator ibu tentunya ditanyakan langsung kepada ayahnya anak-anak. Peran ayah dalam pembentukan kurikulum keluarga. Sebab saya meyakini ketika seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka ayah adalah kepala sekolah.

Sejauh ini, saya memang mendiskusikan dan banyak menyampaikan progress anak-anak yang hampir 24 jam hadir di kehidupan mereka kepada suami. Termasuk konsep pendidikan dan metode apa yang coba kami aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sejauh ini memang sepengetahuan dan hasil kesepakatan dari suami, ayah dou-Asma’Aisyah. Bahkan ketika ada salah sikap yang saya tunjukkan, pun suami pada anak, kami akan diskusikan untuk mencari solusinya. Tentunya, kesepakatan yang kami pegang in syaa Allah berlandas pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, saya dan suami sedang berusaha tidak terbawa arus informasi dengan beragam konsep pendidikan yang tersaji. Istilahnya, kami tidak ingin latah. Sebab sudah menjadi keharusan bahwa orangtuanya-lah yang tau dimana letak kemampuan dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Wallaahu a’lam.

Khawatir pembahasan mengenai anak jadi meluas, *sering ketagihan curcol* :D in syaa Allah di lain waktu akan saya tulis konsep Home Education kami. Di atas tadi hanya sekadar mengulas pendapat saya dan suami mengenai indikator sebagai seorang ibu.

*
Masyaa Allah, mengerjakan NHW ini semacam bahan muhasabah menurut saya. Sejauhmana kita memposisikan diri sebagai hamba Allah dengan amanah yang telah Allah muliakan dari taqdirnya seorang perempuan. Maka, kesyukuran perlu ditingkatkan, bila masing-masing kita bisa berada dalam lingkar kebaikan tersebut. Semoga dengan men-list indikator tersebut saya bisa menjemput kebaikan-kebaikan itu. 


Salam Ibu Pembelajar,



Basmah Thariq / Ummu Asma'




[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea