20 Februari 2012

Tanya Hari Itu

Posted by Basmah Thariq at 19.58.00 12 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Langit jingga lekas mengingatkanku untuk bertolak dari keramaian kota menuju rumah. Meski mendung menggantung, rupanya di balik awan-awan itu masih ada seberkas cahaya mentari membentuk garis-garis keemasan memperjelas bentuk awan yang berserak. Senja, entah berapa kali lagi kita masih bisa menatapnya dengan lekat? Sedang menikmati senja, tiba-tiba sesuatu menyelusup ke dalam benakku.

"Ingin kemana?"

Tanya itu seolah menggegas perjalanan panjang yang masih berlanjut. Setelah bahasaku yang terkadang sulit dimengerti juga ketidakmengertianku yang berasal dari kebodohan.

Seolah hendak memangkas waktu, ujarku saat itu, "Aku ingin memulihkan diri..." Ingin me-restart hidup kemudian memulai segalanya dengan lebih baik. Bisakah? Karena tiap detik terus meringkis kesalahan dan kelalaian yang kutemui. Bisa saja ini kealpaan yang menghambat laku keshalehan dan kema'rufan yang masih sedikit kugenggam untuk langkah yang kadang tak kusanggupi. Walau akhirnya tetap menjalani kehidupan ini untuk mendapatkan perhatianNya.


Hari itu, seorang kakak berperangai lembut namun tegas datang kepadaku untuk menanyakan kondisiku. Kakak yang sebenarnya tak begitu dekat denganku tapi ia begitu memberi perhatian penuh. Mungkin untuk satu alasan, dipersaudarakan karena Allah Ta'ala. Tak peduli betapa kesatnya hati ini, ia selalu memberikan bingkisan manis yang ia pun tak menyadarinya bahwa aku menyimpannya. "Tetap menjaga kondisi iman agar bisa diajak kerja sama."

Yah, tentang penerimaan yang tulus atas setiap takdir dariNya saat segalanya telah berjalan mengikuti arah waktu. Pun tentang pencapaian hidup yang harus kukejar dengan tetap memerhatikan kebaikan untuk dunia dan akhirat.

"Jadi, ingin kemana?" Tanya itu menyentakku lagi.

"Kalau begitu, aku tak ingin kemana-mana..." Kataku pelan.

Tertunduk ketika dihadapkan sejumlah kesempatan yang masih kualihkan untuk kesibukanku. Mungkin karena aku lelah dipermainkan oleh rasa hingga tak menyadari pertanyaan itu.

"Kemanapun melangkah, tetap memerhatikan jalan yang kita tempuh. Jika tidak sedang berada di jalan kebaikan, berarti sedang berada di jalan keburukan." Tegasnya dengan terus menggenggam kedua tanganku. Sepertinya ia tahu, bahwa tak lama lagi akan ada gerimis dari ujung mataku.

"Setidaknya juga aku tidak ingin jalan di tempat, Kak." Kataku dengan setengah berbisik. Waktu itu, kami tengah duduk bermajelis. "Sebab aku tak punya kuasa mempermainkan waktuNya. Untuk memutar waktu walau sekedip mata yang berlalu saja tak kusanggupi..." Lanjutku lirih. Kemudian melepas tanganku dalam genggamannya dan menyeka wajahku yang basah. Hujan pun membersamai keadaan ini.

***

Tentang kehidupan kadang membuatku mengalah
pada fatamorgana dunia yang tak layak diambil.

"Ah, Rabbi... kalaupun aku harus kemana, dengan fitnah dunia yang terus merengut kehinaan diri, maka aku tak akan jauh kemana.
Karena aku akan tetap memilih pergi, ke sisi seorang,
yang tak menyesaki sekitarnya, justru untuk
menyempurnakan separuh agama ini."


Photobucket

[ Read More ]

19 Februari 2012

Shiny Awards

Posted by Basmah Thariq at 08.21.00 8 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Aku ingin memulai tulisan ini dengan sebuah cerita cahaya. Bolehkan? Karena ada kemurahan Allah dalam senang yang kurasakan untuk memunculkan ceritannya.


Belakangan ini, kami memang sering dipertemukan dengan banyak alasan. Entah karena sama-sama ingin memungut rindu di sekolah yang sama, menjenguk daun cinta dan sederet adik-adik lainnya yang sedianya telah memilih tempat dimana dulu kami pernah singgahi.


Pada sebuah musyawarah kerja berlangsung di kelasku beberapa tahun lalu, seorang adik hendak pulang berpamitan dan menyalami kami yang duduk di bangku sebelah kanan hampir menyudut. “Kak Maya, kok tangannya hangat?” Tanyanya ketika ia menyalami Kak Maya kemudian melepasnya dan menyerahkan tangannya padaku yang juga duduk tepat di sebelah Kak Maya.


Aku terheran. Padahal di luar sedang gerimis dan kedua tanganku menggigil kedinginan. “Masa’ sih?” Aku pun turut menyalami kak Maya untuk meyakinkan perkataan si adik tadi. Raut wajah Kak Maya yang juga sedikit tak percaya meraih menyalamiku.  “Iya, kak May.. Tangan kakak hangat.” Kataku setengah berbisik karena sebuah musyker akan dimulai kembali.


Berselang beberapa detik, “Oh, karena kakak, cahaya.” Terangku yang akhirnya menemui senyum bersama.
***



Alhamdulillah, dengan segenap kesempatan yang ada, akhirnya aku datang mengunjungi ruang Kemilau CahayaEmas-nya Kak Maya untuk melihat pengumuman Giveaway Kemilau Cahaya Emas. Tulisanku Aku, si Bianglala memang harus tersisihkan untuk mendapatkan bukunya secara gratis. Hehe.. Tapi sebagai gantinya ia memberikan  ke seluruh peserta Giveaway berupa Shiny Awards. Yah, walaupun aku sudah tahu award ini dari jauh hari sebelum pengumuman.. “Hihi.. Kakak selalu gak bisa bikin kejutan untuk bianglalamu ya?”

Dengan Shiny Awards yang diberikan karena menjadi salah satu peserta di Giveaway Kemilau Cahaya Emas bukan membuatku menyerah. Justru membuatku semakin men-cerah karena ia tak lupa menyemburatkan cahayanya pada setiap blogger yang berpartisipasi. Jazaakillah khaer kakak Cahayaku.. 

Dan maaf baru bisa membawa pulang setelah beberapa hari pengumuman dan pencantuman awards ini. Alasannya mungkin aku sudah sebutkan pada saat ia memberitahukan rencana cahaya awards (waktu itu, kak Maya menyebutnya Cahaya, bukan Shiny -red) sebelum pengumuman ini. Yah, rupanya Afkaar-ku masih  dalam kondisi perawatan yang lebih lama lagi. Jadi, menjenguk rumah ini saja aku harus menumpang pada saudaranya Afkaar. ˘)

Seperti namamu, 
Semoga selalu menyemburatkan 
seberkas cahaya dalam kebaikan. 

..Keep Dakwah bil Qalam..

[ Read More ]

10 Februari 2012

Bukan Datang Tanpa Alasan

Posted by Basmah Thariq at 20.39.00 16 comments
gambar 


“Aku tak tahu alasannya ketika aku bertanya pada diriku sendiri. ’Mengapa aku jatuh cinta padamu?’.  Karena cinta selalu datang tanpa alasan.”
 (Drama Korea, Miss Ripley episode  ?–tidak tahu-)
 
Maaf sebelumnya, kalimat ini terlihat agak nyentrik memulai sebuah tulisan ini. Karenanya justru menyulut perdebatan yang tak sedikit terutama padaku di kalimat terakhir. Awalnya berniat menonton tv dan memindahi dari satu program tv ke program lainnya secara acak. Dan terhenti pada sebuah chanel yang tengah menayangkan drama Korea ini. Bukan aku mengikutinya, tapi terhenti tidak memindahi ketika kalimat tadi terlontar dari seorang pria yang tengah memberikan alasan cintanya pada seorang wanita. Dan di akhir alasannya semakin menyulut tanya besar dalam diri, “Apa iya, cinta datang tanpa alasan?”
Ingatanku tiba-tiba terluapkan pada banyak peristiwa,beberapa teman yang seringkali mengadukan kisah cintanya yang sedikit banyak menghadirkan buliran-buliran bening mengapung di ujung matanya. Berakhir tragis? Dikhianati, diputuskan secara sepihak, dan ditinggal karena menikah dengan yang lain. Mungkin.
Bisakah cinta datang tanpa alasan? Kalau saja datang hanya untuk melukai dan dilukai, kecewa dan dikecewakan, lalu ada sebuah tanya yang ingin kuajukan pada Tuhan, “Mengapa bisa Engkau menyisipkan perasaan ini di hati-hati hambaMu ini?”
Dalam fragmen yang menyertakan keadaan ini, kadang aku harus menyesaki karena ada ruang keprihatinan melihat betapa banyak akhirnya menyalahi cinta yang katanya datang membawa sejuta kejutan manis. Mengantar pada cerita cinta ‘indah’ namun dalam waktu seketika bisa saja menebas perasaan dengan mudah ketika ada akhir yang berujung menyalahi sebuah senyawa bernama cinta. Pada sisi lain, aku pun kembali harus meluapkan rasa syukur atas segalanya karena masih terselamatkan dari kondisi tersebut, kondisi masih terjaga.
Seringkali ada kita yang tersudut asyik dengan cerita yang ramai dibersamai sekawanan manusia. Ya, kita terlalu banyak mengenal histori cinta menggenaskan yang telah dikamuflasekan untuk dijadikan cerita indah. “Cinta tak direstui” yang akhirnya menjadi sebuah tumpuan cinta kebanyakan. Kisah cinta Romeo and Juliet  salah satunya yang  telah membuat banyak hati manusia tergugah oleh kisah romantismenya. Lalu, pada Kisah Valentine yang tak ubahnya cerita yang berlatar pengingkaran cinta tak direstui dari banyak pihak dan anehnya terdeklamasikan menjadi hari cinta sepanjang sejarah.

Jika cinta datang tanpa alasan, dimana letak cinta sesungguhnya?
Pernahkah kita berusaha mengejar atau minimal mengenal kehidupan cinta Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Khadijah radhiyallaahu ‘anha atau bersama ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha? Kisah kehidupan Nabi Ibrahim bersama Sarah begitupula bersama Siti Hajar? Atau kisah-kisah lainnya yang membawa kita tahu, bahwa cinta datang pada sejumlah alasan untuk dirunut. Cinta orang-orang yang bisa menikmati keimanan padaNya. Mari, luangkan sejenak untuk merenungi kisah-kisah orang-orang terdahulu yang berhasil menjalani keislaman mereka karena cerita cinta yang secara nyata ada, bukan dalam bayang-bayang fiksi.

Teruntuk yang sering mengagungkan cinta; semoga bisa memahami bahwa penempatan cinta kepadaNya yang tak membuatmu saling menyalahi, kecewa, dan terlukai. Sekalipun kita menempatkan peran ini pada apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana.

Sesungguhnya, cinta telah datang dengan sejumlah alasan yang semestinya memang dipahami. Cinta mengantar pada alasan ‘mengapa’ terhadap jalinan kuat yang saling berpengaruh hingga kadar cinta tak mengurangi porsi seseorang terhadap efek yang membawa cerita yang lebih merona indah. Percayakan kesemuanya bahwa Allah menyisipkan cinta untuk menundukkannya pada tempat yang direstuiNya.

“Dan kunci-kunci semua yang ghaib; ada padaNya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al An’am : 59) 
 
Jikalau dedaunan yang berguguran saja memberi sejumlah alasan, bagaimana dengan cinta yang sengaja dihadirkan untuk kita?
“Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya pastilah dia merasakan kelezatan iman; (1) menjadikan Allah dan RasulNya menjadi yang paling dicintai darpada selain keduanya, (2) mencintai orang lain karena Allah ta’ala, (3) tidak senang bila dirinya dicampakkan ke dalam ke kafirannya yang lalu sebagaimana dia tidak suka dicampakkan ke dalam api.” (HR Bukhari)
Jelas, alasannya agar kita merasakan keimanan kita. Maha Suci Allah, untuk segala cintaNya..

[ Read More ]

3 Februari 2012

Aku, si Bianglala

Posted by Basmah Thariq at 23.08.00 14 comments

  Kupandangi wajah itu, ketika keluguannya membuatku banyak menyiratkan senyum. Lalu untuk beberapa waktu yang ada, masing-masing kita  menyediakan ruang untuk saling berurai cerita. Memaknai kesemuanya dari sisi kata. Bagimu, ceritamu adalah seberkas cahaya yang berkemilau untuk setiap satu senti kehidupanmu. Pun bagiku, ceritaku adalah menjadi bianglala di segala musim yang diurainya bersama senyum.
Kala senja mengantar kita pada satu cerita tentang maknaku. Kemudian kau memfilosofikan bianglala; dengan komidi putar, atau tepatnya mengibaratkan darinya roda kehidupanku yang berputar, pun dengan makna anak-anak yang ada di sekelilingku. Sebaris senyum, aku menyepakatimu meski berujung ada gemuruh tawa bersamaan di sana setelah terangmu secara ragu memaknaiku.
Dari pertemuan itu, justru satu simpul yang akhirnya membawaku berkutat tentang keambiguan yang rupanya sejak awal memang terpasang rapi untukku, tanpa disengaja. Meski pada banyak cerita yang telah sengaja aku buat dengan  menghadirkan banyak makna, agar cerita-cerita itu hanya bisa dipahami untuk beberapa orang saja. Atau membiarkan terurai bebas agar bisa memungut semestinya dari cerita yang sejatinya hanya terus ingin meluaskan hati ini. Untuk mengambil kebaikan dari tiap keputusanNya dengan ketulusan hingga merubah cara pandang terhadap banyak hal.
 
 Tahukah? Seperti saat aku menuliskan ini, sesungguhnya aku sedang belajar pelan-pelan memahamkan pada diri sendiri. Aku, si Bianglala.. Ingin selalu menjadi pelangi yang melengkungi warna indah ketika hujan turun berirama. Karenanya, menjadikannya nama adalah sesuatu yang ingin kutujukan padaNya satu-satunya, Allah subhanahu wa ta'ala, agar selalu tumbuh lebih baik.

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Kemilau Cahaya Emas yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain dari sebuah cerita Kemilau Cahaya Emas


[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea