29 Agustus 2011

Maafkan Kami, Ramadhan...

Posted by Basmah Thariq at 22.20.00 4 comments



Ramadhan yang agung, dahulu pernah datang kepada kaum yang melakukan persiapan maksimal untuk menyambutnya, yang sangat memahami rahasia bulan suci itu, yang mengenali keistimewaannya. Mereka menantinya dan selalu berjaga untuk mendapatkannya, menyertainya dengan shalat, puasa, membaca Al-qur’an, dan melakukan banyak lagi ibadah yang lain. Mereka berdoa enam bulan sebelumnya agar diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan, demi mendapatkan keberkahan dan keutamaannya, lalu berdoa enam bulan kemudian agar yang mereka lakukan bersama Ramadhan, semua diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka berdoa,” Ya Allah, selamatkan  kami hingga Ramadhan, selamatkan pula Ramadhan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.”

Dahulu ia datang kepada kaum yang bergadang di malam hari demi bercengkerama bersamanya disetiap detiknya, merasakan dahaga di siang harinya, memahami bahwa Ramadhan adalah hari-hari yang tak tergantikan, lalu memberikan apa saja yang berharga dan bernilai yang mereka miliki. Mereka sangat memahani firman Allah subhanahu wa ta'ala, “(yaitu) beberapa hari tertentu,” hari-hari yang berbilang, hari-hari yang terbatas, maka mereka ingin agar tidak kehilangan sedikit pun. Serasa Ramadhan menatap mereka, sedang diantara mereka ada yang menangis, tenggelam dalam rasa takut mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ada yang mendirikan shalat, lupa dari kehidupan dunia. Ada yang sujud, meninggalkan dunia dibelakang punggungnya. Ada yang berdoa dan bermunajat, menggantungkan seluruh asanya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Kita membaca dalam sirah mereka, disana ada alim bernama Ibnu Syarahil yang karena sujudnya kepada Allah begitu lama hingga tanah memakan keningnya. Di sana ada Shafwan bin Salim yang berdiri melakukan shalat malam hingga kedua kakinya bengkak, dan urat-uratnya terlihat membiru. Ada pula Abdulllah bin Zubair yang shalat disekitar Ka’bah, tak merasakan batu-batu yang berjatuhan di sekitarnya, yang dilemparkan oleh orang-orang kafir. Ada Umar bin Khattab, yang selalu menangis ketika shalat hingga di kedua belah pipinya terlihat garis hitam oleh sebab airmata yang selalu menetes. 

Mereka selalu serius dengan Al-Qur’an, seperti Utsman bin Affan radhiyallaahu a'nhu yang mengkhatamkannya setiap hari selama Ramadhan, atau seperti Qatadah yang mengkhatamkannyasetiap tiga hari sekali. Atau seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang sengaja menghentkan segala aktifitasnya agar bisa berkonsentrasi penuh dengan Al-Qur’an.

Mereka begitu menikmati shalat malamnya, berkomunikasi dengan Penciptanya, dan meresapi tilawah Qur’annya. Ini terlihat dari keadaan Abdullah bin Fudhail yang ketika mendengarkan ayat Allah, “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada neraka, lalu mereka berkata ,’Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al An’am:27) tiba-tiba menangis dan kemudian tak sadarkan diri setelah itu.
Sungguh benar firman Allah subhanahu wa ta'ala  yang memuji mereka, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan harta apa-apa rezki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi merea, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS As Sajdah: 16-17)

Namun hari ini, Ramadhan datang kepada kita, yang tahu kemuliaannya tapi tak banyak melakukan apa-apa. Mungkin Ramadhan menatap kita dengan tatapan kosong; tak ada aktifitas di waktu malam kecuali hanya senda gurau, berhibur, dan menebar canda tawa. Mungkin Ramadhan melihat kita hanya sekumpulan dungu yang meninggalkan shalat dan hanya asyik menghabiskan waktu dengan chanel-chanel tv yang tak memberi manfaat. Mungkin Ramadhan hanya menatap kita sebagai sekumpulan orang-orang malas, yang merasa telah mengeluarkan segala kesungguhannya usai menunaikan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat dalam beberapa menit, setelah itu pergi dengan penuh rasa bangga, seolah telah melaksanakan dan menunaikan hak untuk ibadahnya dan terbebas dari kewajiban Allah kepadanya.
Mungkin kita harus meminta maaf kepada Ramadhan. Sebab hati kita barangkali telah berubah menjadi keras, membatu, mata kita kering. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya merasakan manisnya ketaatan, tidak pula indahnya ibadah, serta nikmatnya munajat-munajat malam Ramadhan. 

Ramadhan mungkin belum menemukan apa yang seharusnya ia temukan pada diri kita. Padahal menurut orang-orang yang ditemui Ramadhan dahulu, bahwa Ramadhan adalah bulan bertemunya dua macam jihad; jihad di waktu siang dengan berpuasa, dan jihad di waktu malam dengan memperbanyak shalat malam dan tilawah Qur’an. Dan Imam Ibnul Jauzi telah mengingatkan kita tentang hal itu dalam nasihatnya, “Siapa yang mengumpulkan dua jihad ini, serta melakukan keduanya dengan penuh sabar, pahalanya akan diberikan tanpa hisab.”

Hal yang sama juga telah disampaikan Ka’ab,” Pada hari kiamat akan terdengar seruan, ‘Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya saja para ahli Al-Qur’an dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batas, tanpa perhitungan.”

Sekali lagi, mungkin kita harus minta maaf pada Ramadhan. Karena ia belum menemukan dalam diri kita sesuatu yang sesungguhnya ia harapkan dari kehadirannya bersama kita. Seperti saat ia pernah hadir di tengah-tengah manusia yang memperlakukannya dengan sangat istimewa, yang tidak tunduk dan terpedaya oleh musuh. Ramadhan hadir di tengah mereka, dimana bumi yang dipijak selalu terdengar adzan, syiar Ramadhan selalu diagungkan, selalu ditinggikan.

*Menyalin tempel dari artikel berjudul,
“Maafkan kami, Ramadhan. Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka.”
(Sulthan Hadi)
Majalah Tarbawi edisi 257, Ramadhan 1432 H


[ Read More ]

16 Agustus 2011

Teruslah...

Posted by Basmah Thariq at 05.34.00 5 comments


 (Ket foto: mereka -Al Qur'an, Afkaar, Ahfadzi, adik Ahfadzi, pena dan pensil- bagian dari perjuangan)

Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikuti
Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan hingga kefuturan itu futur menyertaimu
Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu
Teruslah istiqamah di jalan dakwah ini 
meski sakit di telapak, berat di pundak,
peluh di sekujur hingga suatu saat nanti akan terjawab,
“Mengapa jalan dakwah ini begitu sulit?”
“Karena syurga itu indah”
Salam Perjuangan

Memungutnya dari mini book "Menjadi Aktivis Tak Tergantikan"
pada lembaran Unit Sekolah LMCM WI

Makassar, 14 Ramadhan 1432 H / 14 Agustus 2011 M
[ Read More ]

11 Agustus 2011

Ini Tentang "Status Kita"

Posted by Basmah Thariq at 10.27.00 9 comments

Ada keresahan yang mengendap saat kerap kali memandang hening pada banyak kalimat yang berjejer meramaikan halaman itu. Seolah tiap detik ingin memberi kabar pada banyak khalayak tentang apa yang dirasakan.
Sepertinya, hidup memang harus memiliki kejelasan. Kejelasan dalam hidup dan tujuan yang ingin digapai. Fikirku. Tapi, haruskah kejelasan itu dilayangkan di setiap nafas ini berhembus? Atau minimal pada tiap derapan langkah kaki kita?
Di tiap banyak kesempatan mengunjungi rumah maya, jemariku yang tak henti terus mengarahkan kursor pada layar Afkaar (my black lapty) mencecar kata demi kata. Duh, Rabbi.. Status galau bertebaran lagi. Resah yang diendapkan tak juga ingin memberi jejak pada tiap penggalan kalimat yang berkutik disana.
Lihat saja, kotak kosong yang bertulisan samar-samar, “What’s on your mind?” memang sedang memberikan banyak peluang untuk membebaskan kita dari riakan emosi. Tak tahu kenapa, nama “Status” melejit semenjak kemunculan ini, jejaring sosial.
Dulu, kita tak jarang mendapati pada banyak lembaran pengisian biodata, CV, kartu identitas, dll yang bertuliskan status dengan opsi yang telah dicantumkan. Ada opsi pelajar/mahasiswa, belum menikah/menikah, yang begitu valid tanpa harus me-like atau membubuhi komentar. Dan sepertinya, kata status ini mulai bergeser menjadi makna yang lebih luwes.
Yah, rasa-rasanya status tersebut hanya terlalui di dunia nyata. Sebab, dunia maya ternyata memberikan kebebasan status yang terkadang tak kalah (tidak) penting. Seolah-olah status bebas di dunia maya ingin menyita banyak perhatian di setiap sisi kehidupan pelakonnya. Tak bisa dipungkiri, kemunculan situs-situs jejaring sosial telah mengiring kita pada kejelasan status kita yang sebenar-benarnya dan seluwes-luwesnya.
Lihat saja, berawal dari status yang menyatakan pribadi kita sebagai single, complicated, in open a relationship, in a relationship, engaged, hingga married, sampai pada status yang menyatakan hati, fikiran, sikap, cita-cita, dll yang turut menuai dunia jejaring sosial yang digeluti.
As silent reader, memandang dalam hening, aku pun mulai me-list beberapa status bebas tersebut ke beberapa kategori. Yah, itu pendapatku tentang status bebas yang berkutik di ruang maya yang secara tidak langsung mengajarkan banyak hal tentang psikolog seseorang. Berikut list-nya berdasarkan hasil jelajahku di dunia maya:
Status Inspiratif
Kita bisa menemui status bebas ini yang beruraian berupa nasihat, quotes, dan sejenisnya yang cukup difavoritkan dari banyak kalangan. Karena memiliki nilai dan makna yang menginspirasi dan membangun bagi pembacanya hingga status ini biasanya dibuktikan dengan me-like status tersebut dan tidak terlalu mengais komentar banyak karena isi dari status bebas ini telah memiliki makna yang cukup indah.
·         "..Hati adalah tempat kau simpan keikhlasan punyamu sendiri. Pun menyimpan sendiri bersama Allah, karena hanya Ia yang meneguhkannya.." (on June, 7th 2011)
·         waktu kadang lambat bg yg menunggu, tp terlalu cepat bg yg terburu-buru. terlalu panjang bg yg gundah, terlalu singkat bg yg bahagia. tapi bagi yang selalu bersyukur waktu senantiasa adalah kebahagiaan. bersyukur membuka kekayaan hidup, bersyukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, bersyukur menjadi yg terbaik. Bersyukur karena hari ini kita masih diberi kesempatan... (on August, 9th 2011 by: TA)

Status Curhat Colongan (Curcol)
Bagi pengguna jejaring sosial, tentu tidak merasa asing dengan istilah curcol alias curhat colongan. Yap, status inilah yang memiliki rating tertinggi dari para pengguna jejaring sosial.  Karena status ini paling banyak meramaikan halaman maya yang bergelut di jejaring sosial. Mulai dari penguraian peristiwa yang akan-sedang-telah dialami hingga merambah pada kondisi perasaan yang galau, suara parau, harapan risau, dan kawan-kawannya yang seharusnya begitu abstrak untuk diterka. Namun, status ini begitu eksis hingga mengais cukup banyak komentar bagi pembaca berkat status.

Berikut contoh status curcol:
·         Maukah Kau Mengisi Kekosongan Hati Ku Yang Hampa Ini? (on August, 9th 2011 by: NZA)
·         sabar.com vs macet.com (on August, 9th 2011 by: MA)
·         Menjengkelkan tin9kat tin99i.. (on August, 9th 2011 NMV)
·         untuk tuhan, bangsa, dan almamater !!! (on August, 7th 2011 by: MF)
·         Buat pisang ijo with my cousin n my aunt... Really fun.......- (on August, 7th 2011 by: CD)
·         gak nafsu makan di bulan Ramadhan. sepertinya saya bisa puasa 48 jam (-____-")
#wow perut yang aneh! (on August, 10th 2011 by: NM)
·         bete -________________________- (on August, 10th 2011 by: ASC)

Status Intermezzo
Sejauh ini, status ini terlihat begitu sederhana yang entah kenapa penulis status tersebut memiliki ketidakjelasan pada dirinya, atau kehabisan kata, sampai pada permainan kata tingkat tinggi sehingga nama intermezzo ini tepat dibidik kepada pelayang status ini. Meskipun isinya tidak cukup terkait pada pribadinya, tapi bisa mengais cukup banyak respon untuk status ini.
Contoh status tersebut:
·         PPT: Para Pencari Ta'jil. Hahaha... (on August, 6th 2011 by: ADF)
·         Nikah Connecting People (on August, 2011 by ERZ)
·         Tukang apa yg paling goblok? Tukang foto, karena 3x4 ko' 5000,- (on August, 5th 2011 by: HR)
·         Sekarang uang naik serba mahal,..uang naik (jenjang sekolah), uang naik (pesawat), uang (pa) naik, dll.. (on August, 4th 2011 by: SW)
·         Lahir di Friendster.. Besar di Facebook.. Tinggal di Twitter.. Blom brencana hijrah ke G+ (on August, 10th 2011 by: ER)

Status Ambigu
Selanjutnya, ambigu atau bermakna ganda ini tak jarang mengisi halaman jejaring sosial. Selain kalimat yang dicetuskan biasanya menyimpan banyak tanya, juga memancing prasangka bagi pembaca. Biasanya penulisan status ini hanya sebuah ungkapan yang ingin disamarkan atau memiliki maksud tertentu untuk mengajak para pembaca mendefinisikan pada banyak sisi. Mengenai respon, status ini juga bisa turut membanjiri komentar tergantung pada status yang terurai. 
·         Di antara 2 Pilihan (on May, 21th  2011)
·         Rabbi, pantaskah aku mendapatkan perasaan ini…?? (on Feb, 13th 2011)
·         "..kau yang ditakdirkan untuk bertemu.." (on Jan, 2nd 2011)
·         "..jika menerimanya adalah sebuah jawaban..” (on Dec, 10th 2011)


Status Kabar-kabari
Hasil penjelajahanku di dunia maya, ternyata status kabar-kabari adalah status yang memberikan banyak peluang dalam banyak hal. Mulai dari membagi informasi, berita, iklan, dan lainya yang penting memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelayang status ini. Tak Cuma itu, status ini pun bisa dimanfaatkan untuk mem-post situs-situs tertentu yang dianggap tulisan di dalamnya layak dibaca.

Hm.. Lantas, kita telah berada di posisi mana? Atau kita telah merasakan di hampir semua kategori status di atas? Silakan periksa sendiri… :))
Tulisan ini tidak bermaksud me-judge siapapun. Hanya sebatas menasehati diri sendiri atas banyak hal yang terjadi belakangan ini. Meski bermula dari banyaknya saudari-saudariku yang menerbangkan status-statusnya hingga menghadirkan banyak tanya jawab dari pembacanya. Akhirnya, tak sedikit mencerca kalimat-kalimat berkutik tersebut.
Maka, menuliskannya hanya ingin memetik hikmah dari tiap peristiwa yang telah Dia hadapkan secara nyata. Sebab, sekiranya kita tahu maksud dan tujuan tertentu dari para pencipta jejaring sosial tersebut, mungkin kita tak ingin menebar walau secuil dari kata. Di satu sisi bisa menyajikan keuntungan, namun di sisi lain tak sedikit menuai mudharat.
Yah, ternyata tak sedikit dari keberadaan jejaring sosial ini telah memangkas rasa ketergantungan  kita padaNya. Teralih pada situs yang segala keluh kesah bisa saja hanya menguap yang tak berarti, karena telah merendahkan kedudukanNya dengan setiap kesukaan dan kedukaan hanya terpatri di layar-layar jejaring sosial. Na’udzubillah min dzaalik..
Oleh karenanya, sepatutnya kita harus lebih bersabar, bersyukur, dan melapangkan hati untuk tiap bentuk rasa yang selalu meletup-letup. Untuk tiap riakan emosi yang sepantasnya hanya dilayangkan pada Allah, Pemilik Hati kita. Karena Dia yang akan selalu membaca status-status kita tang tak  pernah meluputkan sedetikpun. Pun Dia yang akan me-like dengan kemurahanNya dan meng-komentari atas kasih sayangNya meski terkadang kita tak pernah mengerti maksud dari kehendakNya.
Jejaring sosial hanya pengembaraan sejenak di dunia maya. Semoga, setiap tuts yang terketik, mengupayakan diri ini selalu dalam upaya merengkuh beribu manfaat untuk diri dan agama. Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang yang lain." (Riwayat Al Bukhari)
Wallaahu a’alam..
Colek:
Saudari-saudariku di bumi Allah..
Yuk, status-status ini cukup Dia yang tahu..
n_n

kita kan yang percaya kekuatan doa padaNya?


NB:
Syukran wa jazakumullah khaer atas status-statusnya..
Jadilah pencetus status yang menginspirasi.. :)


[ Read More ]

4 Agustus 2011

Catatan Kecil: 30 Hari Menulis Cerita

Posted by Basmah Thariq at 20.37.00 3 comments


: Menjenakkan jari untuk 30 Hari Menulis Cerita
Menyambut Ramadhan dengan sejuta kehangatan yang tak terlupa. Jelang 1 Ramadhan, lagi-lagi sepenggal senja menjadi latar indah menyapa Ramadhan. Pada event Mini Camp Welcome Ramadhan yang terhampar di sebuah rumah adat di benteng Somba Opu dengan segala warna yang menyeruak. Ada riang yang tak henti menyemburat. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja kami –penghuni MCWR- tak khawatir di jeprat-jepret oleh seorang atau dua orang paparazzi yang siap meng-shoot sesukanya.

Sesekali juga kita berpinta, “Kak, foto ka dulee..” Pinta seseorang seraya berebut posisi untuk siap di jeprat-jepret oleh seorang kakak.

“Lagi, kak..” Pinta salah satu di antara kami yang merasa belum cukup.

“Kak, lagi..” Kembali meminta salah satu di antara kami.

“Lagi.. Lagi.. Kak!!” Nah lho, semakin meningkat permintaan untuk dijepret.

“Eh.. eh.. khusus angkatan ’09, sekarang!”

Hatiku berbisik ngengir melihat aksi mereka dan aku yang jelas gak mau kalah nimbrung, “Ckckck… ternyata gak kalah narsis. Di luar adem ayem, di dalam hebooh juga..”   Dan beberapa celotehan lain yang menyimpulkan banyak senyum di wajah yang tak ingin terlepas dari pandangan mata.

Pun pada sebuah kenangan yang pernah menyimpan cerita di masa lalu serasa terulang kembali di sini. “Main sepeda yuk..” Ajak seseorang padaku.

“Emangnya ada yang bawa sepeda?” Tanyaku. Sudah sejak lama keinginan bermain sepeda ingin tersalurkan. Dan akhirnya, kesempatan itu ada di hari ini, di waktu yang indah ini.

Iya, ada akhwat yang bawa.. Baruka juga ini mau belajar..” Ucapnya lagi yang masih terus sibuk dengan benda-benda elektroniknya.

“Oh, masa’ sih baru mau belajar?” Tanyaku yang terus bertanya-tanya sendiri. Aku terheran sendiri. Pikirku, hidup di negeri bebas ini ternyata masih ada yang belum bisa bersepeda, ya..Ya sudahlah, pasti ada alasan tersendiri. Jangan pikirkan itu..

Tanpa berfikir panjang, aku pun menikmati secuil waktu di bagian cerita ini dengan bersepeda.

1st Day on Ramadhan..
Ramadhan tiba…
Ramadhan tiba…
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan

Ramadhan tiba…
Ramadhan tiba…
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan


Senandung nasyid Opick memang selalu hits di bulan Ramadhan. Alhamdulillah, seiring pergantian Sya'ban menuju Ramadhan, dengan sejuta asa yang ingin langsung ku terbangkan, aku tak ingin lengah, walau sedetik pun. Walau saat ini, kondisi suaraku agak parau, nyaris tak terdengar. -Flu menerjang-

Tak terasa, ternyata ini Ramadhan di tahun ke-5 di Indonesia. Meski sedih, tapi selalu ada rasa syukur dan merasa beruntung teramat dalam karena di negeri ini masih mudah menemukan nuansa Islam. Bersyukur karena peluang mengenal dan mengakrabkan diri dengan nilai Islam telah jauh lebih mudah dibanding di negeri-negeri yang hambatannya bahkan datang dari kultur paksaan yang akhirnya mewarnai jatidiri. Alhamdulillah..

Teruntuk Saudara/i-ku di Bumi Allah di manapun,

Semoga Allah menautkan hati-hati ini dalam iman dan taqwa padaNya..


2nd Day on Ramadhan..
Semangat yang tak ingin melewatkan ternyata sedikit lumpuh di sini. Qadarallah, harus alpa, karena ia datang lebih cepat dari yang ku harapkan.

Masih menikmati atmosfer awal Ramadhan, walau dengan cara yang berbeda. Salah satunya, ber-silaturrahmi dengan beberapa saudari yang belum pernah ku kenal sebelumnya. Hm..

Tak tahu harus darimana cerita ini bermula, tak ingin menyalahimu.. Tapi, kau telah mengekang kuat tali silaturrahmi ini. Syukran untukmu, MZS.. Aku ingin mendengar uraian ceritamu dengan kisah heroikmu.. Pasti cukup tertantang bukan?


3rd Day on Ramadhan..
Pagi ini, aku menemani kakak ku yang tengah hamil besar ke salah satu rumah sakit bersalin di Makassar. Kakakku yang juga dokter, bisa bebas masuk ke kamar bersalin mana saja. Dan aku membuntutinya sampai pada kamar dimana ada dua orang ibu yang tengah siap dalam persalinan, hanya untuk menyapa beberapa rekannya.

Di sanalah, kali pertama aku melihat salah satu dari mereka sedang menjerit kepayahan demi kelahiran buah hatinya. Buru-buru aku menutupmata dan telinga   sambil terus berdoa agar ia dimudahkan dalam proses persalinannya.

Duuh, mata ini mengembun.

Tiba-tiba, aku ingat ibu di rumah. Ah, perjuangan ibu memang tak tergantikan oleh apapun. Kasih sayang yang tak pernah lusuh, meski usia semakin keruh memakannya dan memupuskan sedikit demi sedikit keberdayaan. Zaman yang mulai memangkas banyak makna pada nilai “birrul waalidain”, tapi doa-doa untuk putra-putrinya selalu membersamainya di setiap desahan nafas dari seorang ibu.

Jadi ingat, betapa seringkali kita alpa dihadapannya hanya karena berbenturan dengan letupan-letupan emosi. Betapa sering kita melupakan kebaikan dan kasih sayangnya, hanya ego yang membelenggu diri. “Aku sayang mama..” :')

Betapa keinginan menjadi seorang ibu itu, adalah bagian dari cita-cita. Meski terasa sulit, tapi aku tak ingin kehilangan status ini tersemat, di suatu hari nanti insya Allah. Terus mematri dengan berusaha menjadi bidadari dunia –mar’atush shaalihah-, dengan menberi bibit melalui ilmu dengan tarbiyah, dan persiapan lainnya. #abaikansaja cerita ini..

4th Day on Ramadhan..
Tentang nama..

Ahfadzi –nama ponsel biruku- menderit-derit. “Oh, ada pesan masuk!” Saat aku melihat di layar Ahfadzi tertulis, “1 Messages FUM touya_midori” yang berisikan;

Bismillah..

Ukhti. Mulai skrg pggl nmaq humairah nh.

Sykrn

Hm, tak sedikit rupanya saudari-saudariku mulai memiliki nama hijrah yang terkadang sampai aku tak mengenal nama aslinya. 

Yah, pada lembaran masa lalu, salah satu cerita, Kak Fashihah namanya.. Bagus kan? Di saat keakraban menyebut nama beliau, tiba-tiba ada seorang akhwat bertanya, “Pembina rohista’ itu namaya Kak Citra Rosita toh?”

“Bukan, kak.. Pembina rohis saya itu Kak Fashihah..” Jawaban itu membuat seseorang yang bertanya padaku hanya mengulas senyum.

“Cocok mi dek, Fashihah itu nama hijrahnya..” Jelasnya dengan terus tersenyum.

Ah, aku! Serasa bodoh dan memalukan sekali..

Tapi, sungguh aku menginginkan nama hijrah, meskipun juga aku menyukai namaku sendiri. “Kamu orang yang paling gak pernah berhenti tersenyum di setiap saat.. Jadi, gak usahlah pake nama-nama hijrah..” Ucap Ayah pada putri kecilnya ini yang terus merayu minta dicarikan nama hijrah.

Akhirnya, aku tetap menyepakati nama pemberian orangtuaku dengan alasan apapun, yang dengan menyebut nama itu, menjadi harapan dan doa untuk diriku dan orang-orang sekitarnya.

Hm.. Teruntuk ukhti-ukhti yang baru memasang nama hijrah, barakallaahu fiikunna..

Ukhti Hilyah, Ukhti Qonitah, Ukhti Muflihah, Ukhti Adzkia, dan Ukhti Humairah..

Pun teriring doa dan rinduku pada adik-adikku di jubel, dik Azizah (Amel), dik Masyitah (Widi), dik Hafshah (Mega), dik Shafiyyah (Bani), Kiki, Aisyah, Firah, Zahrah, dan adik-adikku yang tak bisa ku sebut satu per satu.. Semoga nama-nama itu menjadi bagian dari keinginan yang tulus dalam diri-dirimu yang tak ingin luput dari perjalanan panjang ini.. –Uhibbuki fillah-
Seraya tersenyum, aku menulis sesuatu pada Ahfadzi;
insyaALLAH,ukhti humairah.. :)
kemudian, ku tekan send..

[ Read More ]

3 Agustus 2011

Menemukanmu Lagi!

Posted by Basmah Thariq at 14.24.00 2 comments


Ah, senangnya!!
Meski dalam hiruk pikuk dunia yang masih terbentang luas, adalah anugerah menemukanmu lagi dalam penantian yang cukup panjang. Karena ditiap detikmu yang berhembus ada nilai yang bermakna. Bertabur rahmah dan maghfirah dariNya, serta waktu yang tepat terijabahnya doa-doa. Pun malam-malam yang serasa dipanjangkan karena ingin membersamaiNya dalam tiap nafas. 

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikatNya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR Ath Thabrani)

“Berlumur senyum di wajahku, aku tak ingin kehilangan sedetik darimu, ya Ramadhan..”

Semoga bulan ini menjadi kesempatan emas kita
untuk kembali mempercantik amalan kita kepada Allah.. 
Aamiin!!

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea