21 Februari 2019

Pre-Tamyiz (Part 1)

Posted by Basmah Thariq at 2/21/2019 09:31:00 AM 0 comments
Tulisan ini pernah saya posted di akun instagram saya @basmahthariq sebulan yang lalu. Hanya kali ini saya sedang kangen dengan blogging, ingin merapikan dan merepost sebagian tulisan saya dari instagram.

***

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Semoga kita bagian dari orang yang sangat familiar dengan hadits ini. Mampu meresapi, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah (bermakna suci, pembawaan sejak lahir yang belum ada pengaruh buruk apapun).

Adapun fitrah di atas Islam adalah setiap kita ketika masih di dalam kandungan, telah bersaksi di hadapan Allah secara langsung, sebagaimana dalam surah Al A'raf: 172, "Alastu bi rabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa" ~~“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Sederhananya, ponsel yang kita miliki, jauh sebelum kita beli telah disiapkan aplikasi-aplikasi yang akan menunjang dari penggunaan ponsel tsb. Sisa kita, mau menggunakannya atau tidak.

Seperti itulah kita manusia, yang perlu diupayakan adalah tetap dalam fitrah, hingga kembali menemuiNya. Dan tugas kita sebagai orang tua yang Allah titipkan berupa anak, diharapkan mengupayakan dalam menginstall iman mereka terlebih dahulu bukan yang lain.

Man Rabbuk? Siapa Tuhanmu?
Maa diinuk? Apa Agamamu?
Man Nabiyyuk? Siapa Nabimu?

Mengenalkan ushul tsalaatsah, tiga landasan utama inilah yang perlu disajikan ke dalam kehidupan anak pre-tamyiz (0-7 tahun). Bermula dari bagaimana orang tua menyajikan sendiri. Berupa pemahaman 'ilmu' yang tentunya diamalkan. Melalui pengamalan ini mengiringi kepada pengenalan, penanaman, dan pembiasaan secara berulang kepada anak setiap hari.

Penyajian dalam bentuk dialog iman kepada anak pun dibutuhkan. Tentu penyampaian disesuaikan dengan penguasaan literatur anak.

Sering mendapati orang tua berharap anaknya bisa shaleh/shalehah, hal sepele seperti kalimat thayyibah dilupakan. Lupa mengucapkan alhamdulillaah, masyaa Allah, astaghfirullaah, subhaanallaah, innaalillaah dan masih banyak lagi bentuk dzikrullaah pada setiap perkataan yang sangat berkaitan apa yang tengah kita dialami.

Dari kalimat thayyibah bermula, anak sedikit demi sedikit akan bertanya, Siapa Allah? Kenapa harus alhamdulillah Ummi? Kenapa bilang innaalillaah? Kenapa beristighfar astaghfirullah begitu? Kenapa qadarullaah Ummi? Kenapa syafaakillah? Kenapa dadah-dadah diganti fii amaanillaah? Apa itu barakallaahu fiik? Kenapa kalo ketemu  ato nelpon bilangnya Assalamu'alaikum, bukan halo?

Pertanyaan sederhana pada perkenalan  Rabb (Tuhan) juga mengarah kepada ad-Diin (Agama). Dan masyaa Allah ketika setiap orangtua mampu menguraikannya. Saya dan suami sering takjub dan terharu yang tak terhingga ketika mendapati banyak hal dari fitrah imannya anak yang sejatinya ada tertanam di hati mereka. Sisa kita, mau menumbuhkan atau tidak.


"Ihfazhillaaha yahfazhka, ihfazhillaaha tajidhu tujaahaka. 
Jagalah (agama) Allah niscaya Allah akan menjagamu, 
jagalah (agama) Allah niscaya kamu dapati Dia dihadapanmu. 
Hadits riwayat At Tirmidzi, hadits Hasan Shahih."

Beginilah Asma'Aisyah kala sedang muraja'ah hadits. 1 hadits 1 bulan yang kami terapkan. Meski pada progress mereka, 1 hadits bisa dihafal hanya memakan waktu 3 hari saja. Bahkan meminta hadits tambahan untuk mereka hafal. 

"Ummi, tambah lagi haditsnya." Pinta Asma'Aisyah ketika mereka sudah hafal dengan hadits tsb. 

"Haditsnya untuk diamalkan kakak. Biar lebih berberkah, in syaa Allah." Jelas saya setiap permintaan mereka tambahan hadits.

"Kenapa Ummi?" Tanya Asma'Aisyah yang hampir berbarengan.

"Saya mau hadits lagi." Ujar 'Aisyah seperti biasanya.

"Ya gak papa. Supaya lebih mantap aja in syaa Allah." Ucap saya sambil mengacungkan jempol di hadapan kedua wajah mungil nan shalehah tsb.

Namanya anak-anak, semangatnya luar biasa. Masyaa Allah. Kadang saya harus banyak bersyukur atas kelelahan yang sering menghampiri diri. Lelah yang tak seberapa rupanya.


Terbayang hadits-hadits tsb seperti menumbuhkan fitrah iman mereka. Saya gak perlu bersusah payah semestinya mengeluarkan beribu kata untuk menyampaikan nasehat kepada anak-anak. Melalui hadits yang saya kenalkan kepada Asma'Aisyah, alhamdulillaah bi idznillaah, di sanalah mereka mendapatkan ibrah (pelajaran). Sungguh, agama ini begitu sempurnanya. Sebaris hadist yang tak seberapa jumlah kata, pesannya tersampaikan langsung. Menancap in syaa Allah ke hati seiring ditumbuhkan, diingatkan, dan diamalkan pada anak-anak. Dan tentu ketika orangtua bisa menjadi teladan.

Melalui hadits yang satu per satu diperkenalkan, bi idznillaah, saya menyadari bagaimana pengenalan dan penambahan kosa kata baru kepada anak-anak. Menjelaskan dan mendeskripsikan bentuk pengamalannya. Sampai masuk ke ranah iman dan adab. Bagaimana bentuk penjagaan kita kepada Allah misalnya, dan masih banyak lagi.

Anakku, sebagaimana doa yang Abi Ummi kenalkan padamu. Doa untuk selalu diberikan petunjuk, ketaqwaan, kesucian diri, dan kekayaan jiwa. Allaahu a'lam.


#imansebelumquran
#adabsebelumilmu
#fasepretamyiz
[ Read More ]

20 Februari 2019

Cerita di Kemistri 2018

Posted by Basmah Thariq at 2/20/2019 11:09:00 PM 0 comments
Beberapa bulan lalu, kami sekeluarga alhamdulillah bisa hadir di Kemistri Camp 2018. Keluarga Muslim Nyantri sebutan dari Kemistri, merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) dan sekarang telah berubah nama menjadi Homeschooling Muslim Indonesia (HSMI). Dimana keluarga praktisi dan calon praktisi homeschooling bisa berkumpul untuk bersilaturahmi, saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam membersamai anak-anak dalam homeschooling.

Kegiatan yang saya idamkan dari tahun-tahun sebelumnya, qadarullah wal hamdulillaah baru tersampaikan karena saat itu, kondisi saya yang hamil dan melahirkan dalam waktu yang lumayan dekat.

Selalu mupeng dengan suasana camp, meski saya pribadi alhamdulillaah pernah melakukan perkemahan (Persami dan Perjusami) pada kegiatan pramuka semasa di kampus.  Dan Kemistri ini tentu membawa tantangan baru. Suasana kekeluargaan disertai nyantri mulai dari bangun qiyamul layl sampai akan tidur kembali, share pengalaman dan ilmu membuat kami mendapat pengalaman baru masyaa Allah.
Kemistri ini berlangsung pada tanggal 7-9 September 2018 di Gunung Pancar, Bogor. Terbayang pada saat berkemas barang dan segala keperluan yang akan dibawa, kota Bogor identik dengan suasana dingin dan hujan. Tapi, sesampai di lokasi malah suasananya jadwal mandi subuh dan sore tetap berlaku. Geraahnya masyaa Allah.. Ditambah dengan aktivitas anak yang kebanyakan outdoor.

Di awal kedatangan, kami disambut panitia, dan diantar menuju tempat pengambilan tenda. Karena suasana camping, tinggalnya ditenda dengan ukuran tergantung jumlah personil. Bersyukur dapat ukuran tenda besar yang dibangun oleh masing-masing keluarga setelah ada demo membangun tenda oleh panitia.
Kehadiran saya saat itu, diantar dengan orangtua saya, adik saya, dan tante saya yang domisili di Bogor (sebagai tour guide kami selama disini), membuat suasana tenda kami paling rameee masyaa Allah. Mau camping aja sampai diantar sekeluarga. Ayah dan adik saya pun akhirnya turut membantu dalam proses membangun tenda yang akan kami tinggali beberapa hari.


Di Kemistri, terdapat 5 Kabilah yang per kabilahnya terdiri dari 5 sampai 6 keluarga dengan nama-nama sahabat Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sesuai dengan namanya, keluarga muslim nyantri. Family camp yang sangat masyaa Allah, menariknya luar biasa. .

Rundown kegiatannya yang mencakup amal yaumi, kajian untuk orangtua, sharing ilmu dan pengalaman para praktisi homeschool, outbond anak, penampilan dari masing-masing kabilah di malam api unggun, tracking, dan aktivitas lainnya cukup mendukung dalam membangun home team. Masyaa Allah.

Terasa banget perjuangannya di family camp saat saya dan suami berbagi tugas menjaga dan mengemong anak. Mendampingi dan menenangkan anak kala tantrum misalnya. Atau meng-handle anak yang mau ke kamar mandi dengan jarak yang lumayan jauh dari tenda kami secara bergantian. Saling menguatkan dan mengkondisikan di saat tertentu kepada anak-anak, terutama saat jam tidur malamnya namun masih ada kegiatan dan seseruan di tracking moment.

Sesampai di Makassar pun, rupanya Asma'Aisyah masih terngiang dengan yel-yelnya , kangen dengan tenda yang mereka akui sebagai tempat tinggal sementara selama di puncak. Terasa senang dengan pengalaman baru, teman baru, 'logat' barunya, masyaa Allah.

Asma': "Ummi, nanti kita pergi lagi. Bermalam di tenda ya. Di Bogor."

Ummi: "In syaa Allah yah. Minta sama Allah dulu kalo ada keinginan Asma."

Asma': "Kenapa Ummi?"

Ummi: "Karena Allah yang akan gerakkan hati Abi dan Ummi nantinya. Apakah nanti qt camping lagi. Ato pergi ke Makkah, umrah mungkin. Berdoa saja dulu ke Allah." (Kemudian menyaksikan Asma'Aisyah berdoa, menengadahkan tangan)

Dan moment Asma'Aisyah berdoa selalu membuat kami terharu. Semoga doa setiap keinginan kebaikan dan ketaatan itu menembus langit ya nak..

Barakallaahu f├Čikum anak-anak shalehah hafizhah qurrata a'yunnya Abi Ummi (sebutan kami, dalam doa senantiasa dimohonkan demikian) ❤❤❤

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat.


#kemistricamp2018
#edutrip
#MuslimFamilyCamp 
#HomeschoolingMuslim
[ Read More ]

Tanya Asma'

Posted by Basmah Thariq at 2/20/2019 07:57:00 PM 0 comments
"Ummi, apa itu hadits?" Tanya Asma' suatu hari.

"Hadits itu sesuatu dari Nabi kita Muhammad, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dari beliau katakan, amalkan, sifat, atau persetujuan."

"Kenapa Ummi?" Seperti biasanya, Asma' akan bertanya dengan kata kenapa ketika ia masih belum mendapatkan jawaban yang ia hendaki.

"Karena Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam manusia atau orang terbaik yang Allah hadirkan untuk kita."

"Kenapa Ummi, Rasulullah jadi terbaik?"

"Karena dijamin sama Allah. Kalo salah, langsung Allah tegur. Makanya dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam segala amalan atau kegiatannya kita sebaiknya ikuti. Makanya disebut sunnah."

"Oh, makanya kalo makan harus tangan kanan kan?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Gak boleh mencela makanan juga kan, Ummi?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Baca doa kalo mau makan, sudah makan, mau ke kamar mandi juga.. Begitu?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Harus malu juga, Ummi?"

"Iya, kan ada haditsnya juga."

"Jadi semua ada hadits? Dari bobo sampai bobo?"

"Iya. Nanti in syaa Allah Ummi kenalkan satu satu haditsnya."

"Kenapa?"

"Supaya Asma', 'Aisyah, Afra', kenal gimana kehidupan Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam."

"Nanti, nanti saya kasih kenal hadits ke 'Abdullah.." Sela 'Aisyah polos.

Masyaa Allah.. Itu cita-cita yang membuat Umminya terharu.

"In syaa Allah.. Makanya gak cuma dihafal hadits yang Ummi kenalkan. Tapi diamalkan juga. In syaa Allah Abi, Ummi, Asma', 'Aisyah, Afra' bisa saling mengingatkan."

"Selalu ji ku ingatkan 'Aisyah sama Afra', Ummi.. Kalo lagi makan. 'Aisyah..., Afra'..., Makannya duduk. Tangan kanan, ya Ghulaam*.. Begitu Ummi." Cerocos Asma' semangat.

"Iya, pokoknya saling mengingatkan. Termasuk ke Abi sama Ummi."

"Kenapa Abi Ummi juga harus dingatkan?" Tanya 'Aisyah.

"Karena Abi Ummi manusia biasa kayak Asma', 'Aisyah, sama Afra'. Siapa tau Ummi lupa, kalo makan berdiri. Kan perlu diingatkan."

"Termasuk laa taghdhab ya Ummi? Jangan marah. Jangan nah. Jangan Ummi." Tegas 'Aisyah sambil menggeleng-gelengkan kepala di hadapan saya, Umminya. Kemudian ia mengecup pipi saya. Entah gemas ato greget.

"Jangan apa 'Aisyah?"

"Jangan marah-marah Ummi. Laa taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah maka bagimu surga. Hadits riwayat Thabrani." Balas 'Aisyah sambil mengutip sebuah hadits yang ia hafal.
Seketika Umminya lebam ditabok pake hadits.. 

"Iya, 'Aisyah. Ummi harus belajar sabar. Afwan 'Aisyahku." Saya pun membalas mengecup kening 'Aisyah.

"Kalo memanah kayak Abi, hadits juga Ummi?" Tanya Asma' lagi.

"Iya, in syaa Allah apa yang kita lakukan ya harus seperti di Al Qur'an dan hadits." Jelas saya.

"Ummi, kalo gak mau dilakukan seperti di hadits kenapa?"
Sebenarnya agak berat menjawab pertanyaan ini. Tapi, selalu berusaha menjawab sesuai dengan penguasaan literatur anak. Dan tentu memohon pertolongan pada Allah untuk bisa memahamkan putri kami yang tiada henti bertanya dengan kata kenapa. .

"Bisa rugi." .

"Kenapa rugi?"

"Karena Rasulullah itu manusia yang Allah jadikan petujuk dan teladan. Berarti harus dicontoh. Kita umatnya Nabi Muhammad, Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Nanti Allah akan kumpulkan bersama orang-orang yang kita sayangi."

"Terus?"

"Allah sudah menjamin Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan amal dan perkataannya. Berarti itu semuanya baik. Dan yang paling penting, karena Nabi Muhammad beriman kepada Allah ta'ala."

Hampir setahun ini,  kami mulai memperkenalkan hadits seiring berjalannya talqin juz 30 dan 29, 'alaa bi idznillaah. Kami pun sisipkan membacakan sirah sebagai penguat dalam hal apapun dalam amal yaumiah. Meski masih sangat jauh, bahkan terlampau jauh amalan kami dibanding dengan mereka orang terdahulu di zaman Rasulullaah shallallaahu 'alaihiwa sallam.

Ya Allah, bimbinglah kami. Mampukan kami.


#istiqamahberkisah
#komunitasibuberkisah
#jalanbahagiaberkisah
#kelompokannur
[ Read More ]

2 Mei 2018

Big Project

Posted by Basmah Thariq at 5/02/2018 11:05:00 AM 1 comments
Bismillaah..
Saat ini sedang fokus utama saya dan suami adalah dalam hal pendidikan anak. Konsep yang dijalankan dalam pendidikan pada ketiga putri kami Asma', Aisyah, dan Afra' berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah in syaa Allah. Dengan konsep Fitrah Based Education yang memang 2 tahun ini sedang kami pelajari dan beberapa kali kami mengikuti rangkaian kajian FBE dari Ustad Harry Santosa dan mengikuti grup HEbAT.


Beberapa contoh penerapannya saat ini adalah saya membuat jurnal kegiatan sebagai salah satu tahapan membuat portofolio 3A menggunakan framework FBE dan kegiatan harian 3A berdasarkan konsep FBE.

Adapun ilmu dalam penerapannya saya memilih sebagaimana umumnya yang sering disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari, Lc berupa pengenalan tauhid.

Harapan ke depannya, kami bisa menyusun dan membukukan sebagai panduan pendidikan nabawiyah untuk anak-anak pra usia dini. Sekaligus menebar ilmu nabawiyah dan kegiatan-kegiatan yang bisa menumbuh fitrah iman kepada anak-anak sejak usia dini. Semoga dengan kehadiran buku tersebut, kelak akan membantu setiap orangtua dalam mengenalkan Iman dan tahapan-tahapannya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Adapun  langkah yang sedang kami jalani bersama adalah menyusun kurikulum. Dan kurikulum yang kami siapkan mencakup pada:
  1.  Kurikulum disesuaikan dengan usia (0-7) yang sifatnya flexible dan mudah diterima.
  2. Mengenalkan iman dan membacakan sirah disesuaikan dengan penguasaan literatur anak.
  3. Belajar dengan metode Al Hifzh (menghafal), yaitu: dimana men-tasmi’ dan men-talqin (usia 0-7 tahun) secara berulang dan berlanjut terhadap materi yang ingin disampaikan. Hal ini berupa bacaan Al Qur’an, doa-doa pada amal yaumiyah,  dan pengenalan tauhid.
  4. Belajar tanpa dipaksa. Melalui dari kesadaran dan keinginan yang ditumbuhkan.
  5. Orangtua dalam hal ini selain sebagai rule model, juga sebagai pembimbing, fasilitator, dll yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak dalam ketaatan, kebaikan dan perkembangan.
  6. Selalu memohon pertolongan kepada Allah di setiap kelas kehidupan yang membersamai anak untuk menjadikan generasi yang Rabbani.


#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateriLima
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
[ Read More ]

22 April 2018

Ilmu Pendukung dan Maestro

Posted by Basmah Thariq at 4/22/2018 10:26:00 AM 0 comments
Pada tahap ini kami diminta menuliskan ilmu-ilmu pendukung yang diperlukan untuk mempertajam bakat dan mencapai impian.

Impian:
  1. Menjadi seorang ibu, sebagaimana Ummahatul Mukminin
  2. Desainer
  3. Penulis
  4. Ahli Sejarah Islam

Ilmu pendukung:
Ustadz Budi Ashari, Lc adalah seorang yang berkonsetrasi dalam dunia sejarah Islam, sejalan dengan pendidikannya saat kuliah di Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Nabawiyyah yaitu Fakultas hadis dan Dirosah. Ustadz Budi Ashari juga membidani lahirnya sebuah lembaga kajian yang diberi nama Cahaya Peradaban Islam. 
Hasil dari eksplorasi kajian beliau terkait sejarah Islam diaplikasikan dengan konsentrasi pendidikan dan parenting. Beliau mendirikan beberapa lembaga pendidikan berbasis sejarah Islam seperti Kuttab Al Fatih, Parenting Nabawiyah dan juga Akademi Sirah Nabawiyah. 
Dalam tulisan kali ini kami akan membagikan 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang digagas oleh Ustadz Budi Ashari. Parenting Nabawiyah adalah konsep pendidikan keluarga berbasis Nubuwah (kenabian).Sumber utama dari Parenting nabawiyah adalah Al-qur,an hadits serta sejarah-sejarah bagaimana ulama-ulama terdahulu mendidik anak sehingga melahirkan generasi yang luar biasa. Tak hanya bersinar di dunia namun juga gemilang hingga akhiratnya. 
Berikut adalah 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang diusung oleh Ustadz Budi Ashari.
1.  Visi Keluarga Muslim 
“Kalau orang hebat hari ini berpikir 250 tahun ke depan. Kita dibiasakan oleh Islam berpikir sangat-sangat jauh ; Sesudah kematian….” (Ustadz Budi Ashari Lc) 
Ustadz budi Ashari menjabarkan visi dari keluarga Islam ada empat diantaranya adalah menyejukkan pandangan mata, pemimpin bagi masyarakat bertakwa, terjaga dari api neraka dan bersama hingga ke surganya. Empat hal ini harus menjadi cita-cita utama setiap rumah tangga muslim. 
Rumah tangga ibarat sebuah kendaraan. Ia digunakan untuk menempuh sebuah perjalanan. Seluruh anggota keluarga adalah penumpang dengan masing-masing perannya. Penumpang ayah dan ibu ibarat nahkoda dan navigatornya. Merekalah yang memiliki rencana an mengumumkan kepada seluruh anggota keluaga; kemana tujuannya, lama perjalanan yang ditempuh dan apa yang akan dilakukan sesampainya. Begitu Ustadz Budi Ashari menyampaikan. 
Beliau juga menambahkan keluarga adalah awal dari berdirinya peradaban Islam yang megah. Pemimpin yang istimewa berawal dari keluarga yang istimewa, pemimpin yang membahagiakan masyarakat berasal dari keluarga yang menyejukkan pandangan mata bagi keluarganya dan pemimpin yang Istimewa merupakan karya perpaduan harmonis suami istri. Dan inilah tugas utama dari sebuah keluarga. 
Untuk mencapai setiap visi ini, tentu harus menggunakan cara-cara yang telah teruji dalam membangun peradaban Islam sejak dahulu kala yaitu metode parenting Nabawiyah. 
2. Melahirkan Generasi penegak Khilafah 
“Ternyata masa depan yang dipikirkan orang tua hanya masa kini. Masa depan sesungguhnya adalah kebesaran islam” (Ustadz Budi Ashari Lc) 
Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan oleh HR.Ahmad : 
“Nubuwah ada pada kalian sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khilafah di atas manhaj (sistem aturan) nubuwwah sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerajaan yang menggigit sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerjaan yang diktator sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khilafah di atas manhaj nubuwwah. Kemudia beliau diam.” 
Akan hadir kembali fase Khilafah di atas manhaj Nubuwwah. Para pemimpinnya adalah pemimpin-pemimpin yang adil mensejahterakan rakyatnya. Rakyatnya adalah orang-orang beriman yang senantiasa berupaya berada dalam ketaatan kepada Allah subhaanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Konsep parenting Nabawiyah salahnya satunya adalah menyiapkan generasi kita sebagai generasi penegak khilafah. Berdo’a kepada Allah, berusaha membentuk kepribadian yang shaleh/ha dalam diri anak sehingga menjadi generasi yang diperlukan dalam fase kebangkitan Islam nanti, fase Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. 
3. MelahirkanGenerasi Pembuka Roma 
“Carikalan pendidik yang bukan saja berilmu tinggi tapi juga berakhlak mulia. Karena seringkali sesuatu yang tidak terucapkan tetapi terajarkan” (Ustadz Budi Ashari, Lc) 
Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam menyandingkan antara pembuka Konstantinopel dan pembuka Roma. Dari sini kita dapat belajar dan mengambil inspirasi kalau kualitas dan cara melahirkan mereka harus disejajarkan dan disamakan. Sehingga kita harus mempelajari bagaimana Muhammad Al Fatih sang penakhluk konstantinopel dididik sebagai inspirasi mendidik generasi kita agar menjadi generasi pembuka Roma. 
Demikian konsep pendidikan Parenting Nabawiyah yang diusung oleh Ustadz Budi Ashari. Sebuah konsep yang tidak hanya teruji dari pengalaman serta hasil eksperimennya melahirkan generasi hebat tapi juga teruji dan terpercaya sumbernya, yaitu jalan kenabian.

Sumber:
https://www.elmina.id/3-konsep-utama-dalam-parenting-nabawiyah-menurut-ustadz-budi-ashari-lc/


#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateri6
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
[ Read More ]

9 April 2018

"Hadiah"

Posted by Basmah Thariq at 4/09/2018 05:49:00 PM 3 comments
Selepas Isya', saya mengantar ketiga putri hafizhah kami tidur. Tentunya, Afra' masih dibantu tidur dengan menyusui, bi idznillah. Hal yang rutin biasanya kami  lakukan adalah men-talqin Al Qur'an 1/4 juz dari Juz 30 atau Juz 29.
Aktivitas Mengaji Asma'Aisyah setelah Shalat Maghrib
Setelah ditalqinkan Al Qur'an, Afra' dan 'Aisyah sudah tidur. Asma' masih terjaga meski dibiarkan sendirian pun ia akan tidur dengan sendirinya. Namun pada malam itu, saya masih mau menemani di jelang tidurnya. Maklum, setelah kehadiran adiknya, 'Aisyah dan Afra', perhatian lebih tentunya tercurah kepada dua adiknya. Kesempatan bisa bersama putri sulung, ketika 'Aisyah dan Afra' tidur atau dihandle sama abinya.

Saya mengusap punggung Asma' sambil terus mengaji menunggu Asma' tertidur. "Ummi, kenapa Ummi suka mengaji?" Tanya Asma' di suasana kamarnya yang gelap.
"Hm.. Karena Ummi suka mengaji. Supaya Ummi ingat Allah terus."
"Kenapa lagi Ummi?" 
"Hm.. Kenapa ya?" Saya pun mencari jawaban yang tepat untuk seusia Asma'. "Karena Ummi mau kasih hadiah untuk Baba dan Sittinya Asma', Abi Ummi-nya Ummi."
"Ooh..hadiah kado begitu, Ummi?"
"Iya, kayak kado. Tapi ini hadiahnya istimewa. Asma' suka gak dikasih hadiah?"
"Suka." 
"Nah, Ummi juga pengen bisa kasih hadiah ke Baba dan Sitti hadiah lewat mengajinya Ummi."
"Kenapa?" Asma' selalu penasaran setelah jawaban-jawaban saya. Dan ini bagian dari fitrah iman yang perlu dijaga. Dialog iman perlu dirutinkan pada setiap kesempatan.

Teringat pada sebuah hadits, Siapa saja membaca Al Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah membawa al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim).

Masih sambil terus mengusap punggung Asma', "Karena janji Allah untuk yang suka mengaji, baca Al Qur'an. Nanti Abi Umminya bisa dikasih hadiah mahkota kehormatan."
"Hadiahnya dibeli?"
"Gak dibeli sih Kak. Hadiahnya langsung dari Allah. Cukup dengan rajin membaca Al Qur'an saja. Masyaa Allah."
"Oh.. Kalo Asma' rajin mengaji, berarti Asma' bisa kasih hadiah juga di'?"
"Asma' mau jugakah kasih hadiah? Untuk siapa?"
"Iya, hadiah untuk Abi Ummi. Kan Asma' tidak bisa beli hadiahnya."
"Jadi caranya dengan apa kalo gitu?"
"Asma' harus rajin mengaji juga, kayak Abi sama Ummi. Masyaa Allah..."

Mendengar kepolosan Asma', mata saya pun gerimis. Dua kesyukuran dalam satu waktu. Bersyukur karena kamar anak-anak sudah gelap. Hanya dibantu cahaya lampu dari luar kamar  yang membuat Asma' tentu tidak bisa melihat saya dengan jelas. Kesyukuran kedua, harapan dari seorang Asma' yang membuat saya mengamini dalam hati berkali-kali. Saya pun memeluk Asma' dengan posisi tidur. "Aamiin. Jazaakillaahu khaer ya kak. Ayo tidur ya. Supaya bisa bangun sebelum shalat Subuh." Pesan saya sambil terus mengusap punggung dan membelai rambutnya. Mengecup ubun-ubunnya dengan sesekali mengusap mata saya yang sembab.

Anak-anak masih suci jiwanya. Entah kita ingin memberikan teladan yang seperti apa untuk mereka kelak. Saya pun masih perlu belajar tentang agama ini. Ingin kami, mereka adalah penyelamat orangtuanya kelak di akhirat. Tugas kami pun masih sangat banyak. Bukan hanya mengenyangkan perut, bukan sebatas melihat mereka tersenyum bahagia dengan segala pemenuhan yang sebenarnya lebih banyak akan mendatangkan mudharat bagi mereka kelak. Ah, tugas kita (kami, maksudnya) menjauhkan mereka dari godaan syaithan. Allaahul Musta'an..
[ Read More ]

31 Maret 2018

Episode Hujan

Posted by Basmah Thariq at 3/31/2018 09:28:00 PM 0 comments

#01 Merindukan Hujan
Dua belas tahun meninggalkan kota kelahiran, tapi hujan di masa itu tetap terekam jelas dalam ingatan. Bagaimana hujan di masanya, selalu dinantikan bahkan menjadi keinginan untuk selalu hadir di setiap harapan itu. Bukan saja bagian dari sebab membawa rahmat dan terpanjatkannya doa-doa di antara rinainya. Melainkan, hujan di masa itu hanya datang sesekali dalam setahun. Hujan yang datangnya mengundang kebahagiaan oleh kebanyakan penduduk di sana. Rela keluar rumah hanya untuk bersentuhan langsung dengan butiran-butiran hujan. Membasahi diri sebagai pelepas rindu yang lama tak kunjung.


#02 Hujan Menjadi Pengingat
Beberapa bulan lalu, saya melihat di sebuah unggahan insta story teman saya yang memang masih menempati kota kelahiran saya. Potret kota yang selalu saya rindukan itu sedang dalam genangan air di mana-mana. Rupanya, hujan lebat telah mengguyur kota tersebut. Dan hanya dalam hitungan jam, bisa melumpuhkan aktifitas kota. Mobil, rumah, beserta gedung lainnya terlihat seperti dalam rendaman air.

Beberapa wilayah yang masih saya kenali pun terendam banjir. Qadarullaah wa maa syaafa'al. Lagi-lagi mengingatkan kita, pembangunan gedung yang begitu melejit bisa berakibat fatal. Sesekali mendengar dzikrullah, dari suara perekam yang sempat mengabadikannya via sosmednya. "Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.." Ujarnya berulang kali. Hujan bisa menjadi pengingat atas keangkuhan kita sebagai manusia. Berlomba mendesain kemegahan pada dunia, rupanya apalah daya kita sebagai hamba di mata Allah. Menghalau air yang kadang kita anggap tak seberapa justru membuat kita terpaku akan kejadian banjir ini.

#03 Suka Hujan
Kali pertama menjejakkan kaki di kota Anging Mammiri yang paling berkesan adalah musim hujan. Saat di mana hujan pertama kali, saya tetap di tempat, sebuah tempat terbuka dengan sengaja membasahi diri. Sedangkan teman-teman saya begitu panik dan bersegera mencari tempat berteduh. "Basmah, hujan. Nanti basah.." Panggil seorang teman saya dari kejauhan di tempat berteduh.

Saya: "Gak papa. Sengaja hujan-hujanan, Seru lagi. Hahaha" (Terlihat kan betapa kampungannya saya)
Teman: "Ooohh, karena di sana padang pasir ya?"
Saya: "Hahaha.. Kesannya padang pasir semua. Tapi emang lebih sering hujan debu."
Teman: (Setengah kaget)"Haah? Gimana ceritanya kalo hujan debu?" 
Episode Hujan
Saya: "Hujan debu. Debu yang berterbangan di tiup angin kencang."
Teman: "Jadi?" (Penasaran)
Saya: "Ya jadi hujan debu. Masa' hujan air."
Teman: "Eh, serius...?" (Masih penasaran)
Saya: "Jadi, saya suka hujan air pokoknya. Titik."
Teman: "Kalo hujan debu?"
Saya: "Bikin sakit mata soalnya. Gak bisa liat jarak jauh karena tertutup. Mirip kayak kabut. Lebih seru hujan air pokoknya."

#04 Genangan. Bukan di Kenangan ya!
Pernah berlari dan terjatuh di antara genangan air hujan itu s-e-s-u-a-t-u sekali, masyaa Allah. Sukses membuat pakaian putih abu-abu saya basah kuyup bercampur tanah. Padahal masih di sekolah dan baru saja hendak beranjak pulang. Teman-teman yang melihatnya pun antara miris dan bahagia. Miris karena pakaian saya kotor, bahagia karena saya kalah telak dari pengejaran. "Ciee... Cieee.. ada yang terjatuh dalam kenangan." Bully seorang teman saya dari kejauhan saat melihat saya masih berusaha membersihkan noda di pakaian seragam saya.

"Hei, Genangan. Genangan.." Koreksi teman saya yang lain. 
Saya hanya menatap heran teman saya, sambil berusaha tertawa. Padahal berusaha menyembunyikan rasa malu yang berlipat-lipat akibat terjatuh di kenangan, eh genangan air. Hiks.

#05 Gerimis Romantis
Gerimis. Rimanya selalu terasa romantis. (Ehem!) Maklum, kami baru benar-benar mengenal satu sama lainnya setelah menikah. Tepatnya, ta'aruf setelah menikah. Maka hati saya akan terus menerus berdesir ketika melihat sikap suami yang begitu teramat manis masyaa Allah di hadapan saya. Seperti membaca cerita romantis di kisah 'entah dimanaa' tapi saya menemukan di buku kehidupan bersamanya, alhamdulillaah. Termasuk saat beliau memayungi saya ketika sedang hujan. Padahal saya senang dengan kehadiran hujan dan kondisi saya kehujanan. Tapi, beliau seringnya memegang erat saya demi bisa memayungi tubuh saya agar terhindar hujan. "Biar romantis sepayung berdua. Sambil memperbanyak doa untuk segala harapan kita." Bisiknya di tengah derasnya hujan. Setelah hadirnya anak-anak? Ya, beliau masih seperti pertama kali memayungi saya kok. Bedanya, suami sudah mengamankan anak-anak terlebih dahulu ke mobil misalnya. Agar tidak terlalu basah kuyup. Semoga kita sehidup sesurga ya, kak!

#06 Doa di Kala Hujan
Selain memperkenalkan doa ketika dan setelah hujan, ada beberapa doa yang biasa saya dan suami talqinkan kepada anak-anak. Doa yang berkaitan tentang penguatan dan keistiqamahan pada iman. Doa agar selalu menunaikan shalat sepanjang hidup. Doa kedua orang tua, doa keselamatan dunia akhirat, sampai doa-doa lainnya. Alhamdulillah, doa-doa yang sering kami talqinkan kini menjadi sederet doa yang selalu di lafazhkan ketika hujan. Bak senandung, ada banyak harapan dan pintayang segera di langitkan di kala hujan. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita ya, anak-anak hafizhah.

Namun, belakangan ini, tanpa talqin, doa-doa itu jadi bertambah dengan keinginan dari banyak pihak yang membuat saya kesengsem sendiri memerhatikan doa putri pertama kami.

"Ya Allah, Nanti Asma' mau Ummi hamil lagi. Supaya Asma' punya adek laki-laki. Namanya Abdullah. Biar kayak anaknya Abu Bakar" Pinta Asma' khusyuk.

"Ya Allah, 'Aisyah duda (juga)." Doa yang singkat tapi padat oleh 'Aisyah putri kedua kami.

Yah, segala doa bermuara pada kebaikan, Ummi hanya bisa mengamini, putri hafizhah.
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea