20 Januari 2018

Standar Harian

Posted by Basmah Thariq at 10.34.00 0 comments

Bismillah...
Kerap ditanya tentang keseharian anak-anak, terlebih ketika mulai banyak yang tau bahwa in syaa Allah Asma', 'Aisyah dan Afra' homeschooling. Tentang keseharian, apa saja yang mereka lakukan, sampai siapa yang mengakar dan bagaimana cara mereka belajar di usia balita, batita dan bayi.

Tentunya masih banyak kekurangan pada kami sebagai orangtua. Kami hanya berupaya melakukan apa yang menjadi keseharian yang umumnya dilakukan sebagai seorang muslim.

Homeschooling bukan memindahkan sekolah ke rumah. Apalagi pada usia di bawah 7 tahun. Sehingga yang menjadi guru tentu orangtua, menjadi teladan pertama dalam keseharian. Maka dibutuhkan kebiasaan yang lazimnya dilakukan sebagai muslim.

Standar Pagi:
Aktivits Subuh (Mandi, Sikat Gigi, dan Berwudhu), shalat subuh, tadarrus, baca sirah, aktifitas di luar rumah seperti: memberi makan ayam, siram tanaman kemudian sarapan yang sebagian besar dihandle sama abinya.

Alhamdulillaah kami berusaha bangun sebelum subuh. Anak-anak pun bangun lebih awal jadi urusan mandi, dan lainnya selesai sebelum abinya berangkat ke masjid. Setelah dr masjid, sambil minum madu hangat dan masih dihandle sama abinya untuk ikut tadarrus meski sebatas menyimak saja. Kemudian berlanjut pada halaqah keluarga dengan muraja'ah hafalan atau membacakan sirah (dikondisikan). Pukul 6.00, anak-anak keluar rumah memberikan makan ayam, siram tanaman, dan jalan pagi atau senam pagi ala-ala pemanah 😃. Saat anak-anak dibawa keluar rumah, Umminya sibuk di dapur. Jadi Pukul 7.00 kami baru sarapan. Kemudian aktivitas bebas sampai mengantar abinya berangkat kerja.

Setelah abinya berangkat kerja, anak-anak baru saya handle. Standar sebelum tidur jam 9.00 itu: Saya men- talqin 1/4 juz sampai anak-anak minta tidur.

Standar siang: Bangun tidur dan shalat dzuhur, makan siang, aktivitas bebas ini sesuai permintaan anak-anak (biasa minta dibacakan buku, menulis ato mewarnai, dan baca iqra')

Standar sore: shalat ashar, cemilan time, memberi makan ayam, bersepeda di halaman rumah, dan bantu ummi memasak (sekarang alhamdulillaah sudah bisa jadi asisten untuk mengambilkan sendok, piring, kupas bawang, potong-potong tahu/tempe/tomat/terong, memetik daun sayuran); dan mandi sore.

Standar malam: Jelang magrib merapikan mainan dan buku, shalat magrib, mengaji sambil menunggu kedatangan abinya, makan malam, shalat isya, bermain sama abi, bebersih sebelun tidur dan melakukan adab sebelum tidur serta mentalqinkan 1/4 Juz.

#BasmahThariq
#Tantangan10Hari
#Level7
#Day2
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP

[ Read More ]

17 Januari 2018

Berfastabiqul Khaeratlah, Nak!

Posted by Basmah Thariq at 09.31.00 0 comments
Saat ini sedang menikmati masa-masa duo-A hafizhah kami yang saling ber- fastabiqul khaerat, masyaa Allah. Tidak lengkap rasanya bila hal apapun termasuk yang paling sepele bisa menjadi 'heboh' karena ingin semuanya dilibatkan. Semisal, kami meminta tolong Asma' mengambilkan popok untuk Afra'. Ada ' Aisyah yang turut bergegas tuk memenuhi permintaan tsb. Begitu pun sebaliknya.

Maka, tak sepantasnya pula kami mematikan semangat fastabiqul khaerat yang fitrahnya ada pada setiap anak. Berusaha selalu mengapresiasi apapun keadaan dan usaha yang mereka telah lakukan dengan banyak melafazhkan doa di hadapan mereka. Agar tetap merasa selalu dihargai. Bila perlu, tanpa sungkan kami menyempatkan salim tangan duo-A hafizhah atas kebaikan yang telah mereka lakukan, alhamdulillaah bi idznillah.

"Syukran kakak Asma' dan kakak 'Aisyah yang sudah ambilkan popok adek Afra'. Jazakumallaahu khaer. Semoga Allah membalas kebaikan kakak Asma' dan kakak 'Aisyah. Menjadikan kalian shalehah hafizhah qurrata a' yun birrul walidaynnya abi ummi.." Doa panjang dan berusaha lengkap selalu saya dan suami ucapkan di hadapan mereka meski harus ngos-ngosan . Tapi hasilnya, mereka tak bosan ber-fastabiqul khaerat ala duo-A hafizhah. Tidak terlepas aksi heroik yang menegangkan urat kala berfastabiqul khaerat mereka, menahan emosi untuk mencoba menghadapi kenyataan mereka ya anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya. 


#BasmahThariq
#Tantangan10Hari
#Day1
#Level7
#BintangKeluarga
#KuliahBunsayIIP
[ Read More ]

5 Januari 2018

Pengganti Ahfazhii

Posted by Basmah Thariq at 16.26.00 4 comments
Ahfazhii, sebutan nama yang saya sandingkan untuk ponsel saya di beberapa tahun belakangan ini. Meski ini bukan ponsel pertama saya. Namun ia cukup lama membersamai di kehidupan jauh sebelum bertemu penggenap separuh dien saya. 
 
My Ahfazhii
Ahfazhii, ponsel yang telah hadir sejak zaman saya kuliah tahun ketiga, menikah, dan kala itu masih berlanjut kuliah hingga lulus di tahun ke7. Di antaranya telah hadir duo-A hafizhah, Asma'Aisyah, kemudian tahun berikutnya disusul Afra' putri hafizhah yang ke3 kami hadir dan rupanya saya masih setia dengan ponsel ini.

Belum mau beralih kemana pun apalagi mengganti posisi ponsel ini yang kusebut ia si Ahfazhii. Meski selalu dapat tawaran dan bujukan oleh suami yang merasa kasihan melihat usaha saya setiap kali menghidupkan Ahfazhii dari tidurnya.

"Hapenya udah mau diganti.." Begitu kata Suami ketika melihat saya yang tengah berupaya menghidupkan Ahfazhii dari pingsannya. 

"Masih bisa kok, kak.." Jawab saya sambil menusuk tombol power dengan jarum pentul. "Alhamdulillaah, ini udah nyala lagi." Ujar saya dengan sumringah. Seperti biasa, saya pun mengelus-ngelus layarnya yang mulai tampak dua garis mirip testpack. Hahaha...

Saya mempertahankannya pun juga karena banyak alasan. Di antaranya, tahan banting. Masyaa Allah, Ahfazhii ini kategori ponsel yang super tahan banting di mana-mana. Meski efeknya jadi suka tetiba pingsan sesaat, siuman kemudian tanpa ditekan tombol powernya. Selain itu, saya jadi gak terlalu nempel dengan ponsel ini bila sedang bersama 3A hafizhah kami. Apalagi kalo lagi kemana-mana, ponsel ini berasa hilang ditelan tas. Nyaris tak berkutik kecuali ingin menghubungi suami atau ada panggilan masuk.

Kembali ke Ahfazhii, si ponsel hitam manis nan cetarrrr tahan bantingnya masyaa Allah. Secara keseluruhan, aplikasi ponsel selalu meng-upgrade-kan diri secara otomatis (bila terhubung internet). Sampai pada satu hari, dimana salah satu aplikasi yang saya gandrungi qadarullah tak sanggup digunakan di ponsel saya yang menua alias jadul. Sedang ponsel saya tak lagi sanggup menempa laju OS yang semakin meningkat begitu pesat. 

Awalnya saya berusaha legowo meng-eliminasi satu per satu aplikasi yang saya anggap membebani ponsel yang imut ini, masya Allah demi menjaga eksistensi satu aplikasi tsb..  Mengingat ia teramat memberikan banyak faedah ilmu secara online masyaa Allah.

Hari pun berlalu tanpa si satu aplikasi tsb. Hidup jauh lebih terasa tanpa ponsel, sejatinya. Membersamai 3A hafizhah yang mulai banyak membutuhkan perhatian. Maka pengadaan 'gadget time' saya lakukan ketika anak sedang tidur. Namun tetap ada yang kurang tanpa satu aplikasi tsb. Dengan banyak pertimbangan dan meminta kepada Allah untuk meyakinkan akan keputusan selanjutnya.

Beberapa waktu kemudian.

"Ciee.. yang hape baru. Alhamdulillaah.." Ledek suami atas pengganti Ahfazhii yang membuat beberapa kali saya khilaf. Menekuninya di hadapan anak.
Ledekan suami seperti sebuah teguran keras bagi saya. Maklum, hape canggih sedikit membius saya dengan aplikasi yang lebih up to date. Banyak hal yang baru saya ketahui setelah menimang pengganti Ahfazhii ini.

"Kak, bawa saja hape ini.. Nanti saya pakainya kalo malam saja." Saya pun menyerahkan si pengganti Ahfazhii ke suami mengingat layar ponsel suami retak yang mengganggu layar sentuh ponselnya secara otomatis.

"Nanti mau kumpul tugas sama balas chat teman ta' gimana?" Tanya suami.
"Gak papa. Balasnya bisa malam in syaa Allah. Supaya saya bisa fokus sama anak-anak. Kita' yang lebih butuh."

Beliau pun terdiam dan menuruti keinginan saya. Qadarullaah, setelah saya mengganti Ahfazhii, rupanya suami pun menghadapi kondisi ponselnya yang jauh lebih mengenaskan. Bisa saja beliau menggantinya. Namun mungkin cara ini yang ingin Allah tunjukkan agar kami berbenah. Dan  agar tidak ber-gadget terutama di hadapan tiga putri kami.

Pengganti Ahfazhii sesungguhnya adalah mereka, anak-anak yang tengah menekuni kehidupannya masing-masing. Pada sisi kehidupan mereka ada fitrah yang sejatinya perlu dihadirkan dan ditumbuhkan.

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat

[ Read More ]

22 Desember 2017

Math with Iman (Part 3)

Posted by Basmah Thariq at 23.52.00 0 comments

Alhamdulillah, Asma' dan 'Aisyah sudah lama bisa menyebutkan angka 1-10. Memperkenalkannya bukan sebuah kesengajaan. Hanya cukup menyebutkan secara berulang ketika hendak melakukan sesuatu. Kemudian menjadi kebiasaan yang tanpa kami sadari, mereka sudah merekam dengan baik dan hafal secara berurut.

Berawal dari senang bertanya, maka saya buatkan angka 1-9. Kemudian memperkenalkan simbol angka satuan. Sesekali diajak menebak simbol angka, menentukan jumlah, dan sebagainya. 







Setelah mengenal simbol angka yang dilakukan sebelumnya, Asma' masih perlu dikuatkan dengan permainan yang melekatkan angka dengan sekitatnya. 


πŸ“ŒBerapa mata Asma'?
πŸ“ŒAda berapa kaki/tangan Asma'?
πŸ“ŒAda berapa buku Asma'?
πŸ“ŒAda berapa boneka helloki**nya Asma'?
Dst

Jawabnya bisa menyebutkan angka sekaligus menunjukkan simbol angka yang dimaksud.

Yang paling saya suka itu ketika ditanya, 

πŸ“Ada berapa rukun Iman? 

πŸ“Ada berapa rukun Islam?

Yang paling seru ketika ditanya,
πŸ“Asma' mau punya adek berapa?



Dan ia menginjakkan kaki pada foto tsb. πŸ˜†πŸ˜† Sembari menjawab, "Seperti adek Ahmad, Ummi naah.. In syaa Allah." Kids jaman now, masyaa Allah.. Edisi mujahidah mendambakan saudara yang mujahid ya.. 





Setelah cukup mengenal angka 1-9, Asma' pun perlu tahu tentang jumlah benda.pada angka tersebut. Sesekali mendrngarkan coletah Asma' yang sedang membagi stik es kri.nya ke dalam kotak-kotak. "Asma mau' kasih stik esnya dua untuk di sini." Ujarnya sambil menata stik di kotak tegel yang ia maksud.

Barakallaahu fiik ya kak.. Selalu ada cara yang menarik untuk dipelajari.😊😊😊 





Buat #busybook ini dari zaman kapan, tapi belum kelar-kelar juga. Berhubung momen tugasnya berkaitan ini, saya pun mengeluarkan busybook ini yang sudah dinantikan lama oleh duo-A hafizhah.

Betapa bahagia keduanya masyaa Allah sampai berebut ingin buat pizza, kata Asma'Aisyah. Eits, topping pizzanya harus disesuaikan dengan angkanya ya kakak Asma'Aisyah. "Kenapa?" Tanya 'Aisyah.

"Supaya nanti Asma'Aisyah tau, kalo pizzanya ada potongan tomatnya yang sedikit, ada juga yang banyak.. "
"Pake lombok (sambal) duda (juga)?"
"Iya kalo mau. Tapi nanti 'Aisyah kepedesan. Ssh.. Ssh begitu.Makanya Ummi cuma pake tomat aja. Dihitung ya nak.."πŸ˜„πŸ˜„ 





Alhamdulillah, salah satu kesyukuran terbesar kami memutuskan #homeeducation 3A hafizhah di rumah. Belajar menjadi fitrah anak sejatinya yang bisa tumbuh tanpa ada paksaan. Datang berawal dari ketertarikan, keinginan, kebiasaan, dan sampai keteladanan.

Sambutlah!
Seperti sebelumnya, kami telah mengenalkan simbol angka dan jumlah stick angka bila disandingkan pada benda. Saat saya sedang santai menemani Afra' belajar duduk dan berdiri, tetiba Asma' mengeluarkan angka-angkanya dan mengurutkan secara mandiri sambil menyebutkannya. 

Masyaa Allah, jadilah pembelajar yah nak. Meski ruang kelasmu tak bersekat. Di setiap sudut ruang dan waktu ada kesempatan untuk belajar nak. Ambillah ilmu untuk menambah kebaikan dan ketaatan di hadapan Allah yah.. Barakallaahu fiik 😊😊 








Saat ini, berupaya mengenalkan Rukun Islam dan Rukun Iman serta menyebutkan jumlah rakaat shalat secara rutin. Perlu? Iya.

Buatlah anak-anak lebih kenal Rukun Iman dan Islam. Bila perlu, jadikan senandung di keseharian anak-anak terutama 0-7 tahun. Karena fase ini, mereka merekam dangat baik. Setelah 7 tahun, memasuki fase tamyiz, berikan pemahaman secara bertahap. Sisipkan dalam mata pelajaran matematika kehidupan 😊. Saya suka sampaikan pada Asma' dan 'Aisyah, atau melapor tepatnya πŸ˜…πŸ˜…bila hendak shalat, "Ummi mau shalat Subuh, ada dua rakaat."

"Syahadatain itu dua kalimat syahadat."

"Shalat itu Rukun Islam yang kedua."

"Iman kepada Allah itu yang pertama. Jadi kalo Asma' lagi sakit, minta sama Allah dulu. Berdoa. Baru sama Abi Ummi.."

Begitu pun suami saya setiap akan ke masjid, berusaha pamit ke anak-anak dan menyampaikan shalat apa dan berapa jumlahnya. Gak masalah bagi kami, mereka saat ini mungkin belum paham, tapi memfamiliarkan akan membantu memudahkan bila kelak mereka mulai menyadari akan hal tsb.

Maka, bagi kami sebagai orangtua, belajar agama itu gak mentok hanya shalat kita yang sudah in syaa Allah rutin dilakukan. Puasa udah terlaksana. Zakat pun demikian. Bukan sebatas itu. Luaaaas masyaa Allah. Islam rahmatan lil 'aalamiin. Bisa masuk di setiap lini kehidupan.







'Aisyah yang serba dua dalam hal menjawab. Maka saya selalu mengajukan pertanyaan padanya yang jawabannya akan sama dengan realitanya. *bahasa apah ini..?* Jadi, pertanyaannya bisa begini:
U: Berapa Allah ciptakan mata untuk adek Afra'?
A: Dua.
U: Coba tolong ditunjuk mana mata adek Afra'!
A: Ini. Satu. Dua.
U: Masyaa Allah.. Terus, ada berapa kaki Ummi yang Allah ciptakan?
A: Ada dua.
U: Mana coba? Tolong ditunjuk?
A: Ini kaki Ummi. Satu kanan, satu kiri.
U: Masyaa Allah. Barakallaahu fiik kakak ' Aisyah.. Dst


[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea