17 Oktober 2016

Karir Wanita Karir

Posted by Basmah Thariq at 21.49.00 6 comments
“Kalau selesai kuliah, kamu mau kerja?” Tanya mama kala itu.“In syaa Allah mau fokus di rumah aja,” Jawabku.“Kalau begitu, untuk apa sibuk selesaikan skripsi?” Mama kembali mengajukan tanya.“In syaa Allah ilmu dari sekolah sampai kuliah tetap bisa bermanfaat di rumah..” Jawabku berusaha menenangkan mama. “Lagipula nanggung kalau harus berhenti, sisa skripsi ini, in syaa Allah..” Lanjutku.Kami pun sempat berdiam sejenak, saling mencerna kalimat masing-masing.“Mama yang gak kuliah, masyaa Allah tetap bisa membesarkan ke-tujuh anaknya. Paling minimal, saya juga ingin seperti mama..” Terangku meyakinkan beliau.

***

Adalah wajar ketika setiap orangtua punya harapan tinggi pada setiap anak terutama perempuan ketika telah berumah tangga dengan gelar sarjana pada setelah nama. Mungkin ini hal yang paling dilematis bagi orangtua ketika telah berupaya menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin, lalu akan diperhadapkan pada kenyataan bahwa putrinya kembali ke rumah. Memutuskan memilih di rumah sebagai tugas utama.

Seperti halnya percakapan di atas, pertanyaan itu hadir di saat saya sedang hamil anak pertama di usia kandungan 4 bulan. Belum genap setahun usia pernikahan saya dan masih berstatus mahasiswa di tahun ke4 di kemilau kampus.

Jujur, jauh dari sebelum menikah, saya ingin bisa seperti mama. Saya tahu, mama bukanlah sosok yang paling menguasai di segala ilmu. Qadarullah, mengenyam di bangku sekolah sampai jenjang SMA bukanlah rezeki beliau. Jangankan SMA, SMP pun tak sampai. Tapi, “ilmu” dalam rumah tangga, pun atas doa-doa yang selalu beliau panjatkan mengantarkan kami, ke-tujuh anaknya, mampu bersekolah dalam pencapaian masing-masing. Berkeluarga dan berkarir alhamdulillah 'alaa bi idznillah. Semoga Allah merahmati orangtua kami di sisa usia mereka.

Mama membebaskan apapun dalam setiap pengambilan keputusan. Tak ada sedikit pun halangan dalam hal jurusan atau aktivitas yang ingin kami geluti. Bagi beliau, selama keterlibatan kami bisa mengantarkan dalam ketaatan dan kebaikan, lakukanlah! Silakan!

Maka mencita-citakan agar bisa menjadi ibu professional, adalah cita-cita saya dalam karir wanita yang sesungguhnya. Tidak sedikit terbersit ingin berkarir di luar rumah. Sampai pada sahabat terdekat saya, saya pernah sampaikan, “Sekalipun kelak selesai S1 dan Allah belum menghendaki saya bertemu dengan jodoh, saya tidak akan melanjutkan S2 sebagaimana kebanyakan wanita. Saya akan mencari aktifitas semisal kursus untuk meningkatkan kualitas dalam profesi kerumahtanggan, in syaa Allah..”

Ketika hari ini, lembaran ijazah masih begitu hangat dalam genggaman (hitungan dua bulan), dengan proses yang tidaklah sebentar (baca: berepisode XD), tetap menjadikan saya jatuh cinta pada karir wanita sesungguhnya. Meski masih mendapati dengan banyak kekurangan. Masih tertatih-tatih. Dalam pencapaiannya dibutuhkan ilmu, kesungguhan, kesabaran, dan keistiqamahan. Tak tertinggal karena ingin mendapatkan ridha suami.

Tidak terlepas pada karir wanita sesungguhnya, saya berterima kasih pada semua wanita yang telah menjadikan karir wanita karir di luar rumahnya. Entah apa yang terjadi tanpa upaya dan pengorbanan mereka dalam penempatan yang menyelamatkan banyak kaum wanita. Pada bidang kesehatan, bidang pendidikan, dsb-nya yang in syaa Allah semoga Allah membalas kebaikan mereka, dengan pelayanan maksimal dari wanita karir.


Tuk setiap ibu, apapun keputusan dalam karir wanita, semoga selalu ada ridha suami dan berkahNya di perjalanan “baiti jannati”. Barakallaahu fiikumaa, emaks..^^

#rumbelmenulisIIP
#OWOP
#IIPSulsel
[ Read More ]

10 Oktober 2016

Menyederhanakan “Me Time”

Posted by Basmah Thariq at 16.23.00 4 comments
Ketika topik me time pernah menghangat bahkan menjadi viral di jejaring sosial oleh sebagian kalangan mahmud (baca: mamah muda) sejagat Indonesia Raya. Pasalnya ada satu ungkapan me time yang kurang lebihnya mengenai ibu rumah tangga perlu piknik. Bahkan piknik 10.000 kali. Uwoow!! Subhanallaah! Kebayang bagaimana sambutannya. Lebih kebayang gimana piknik 10.000 kali yang menurut saya bakal ngos-ngosan. Tapi kali ini, saya enggan untuk membahas perihal piknik yang hitungannya ribuan itu. Khawatir pro-kontra justru hadir di sini, cukup mengenai bagaimana me time dalam perspektif di kehidupan saya saja.

Secara sadar, setelah bertambahnya status menjadi seorang istri dan telah dikaruniai dou A-Hafizhah –‘alaa bi idznillah-, maka perubahan waktu secara pribadi juga tidak sama sebagaimana saat single dahulu. Waktu-waktu sendiri, atau istilah me time dalam suguhan mahmud, begitu berharga. Tak jarang seorang ibu, terutama yang memutuskan full mom stay at home, kerap ada harapan, dimana me time berharga untuk dirinya. Entah bisa menikmati shalat secara khusyuk, makan tanpa diburu, menyelesaikan amanah domestik bebas iklan, hingga tidur pulas cantik. *maaf bila tulisan ini mengandung curhat

Sungguh, menjadi agak mendrama di kalangan mahmud, terlebih yang tidak dibarengi dengan kehadiran asisten rumah tangga misalnya. Atau telah hidup mandiri tanpa seatap di pondok indah orangtua/mertua. Ditambah dengan kehadiran anak-anak yang masih di sekitaran usia batita, yang kemanapun si ibu melangkah, anak-anak mengekorinya. Bahkan pada saat mandi pun berasa nikmat sekalipun hanya bisa mencelupkan diri ke air sesaat, asal tak membuat beberapa waktu kemudian rumah akan berlatarkan suara isak tangis anak sambil gedor-gedoran pintu kamar mandi. Cukup ya bu, curhatnya..cukup!! Betapa mahalnya kehadiran me time!

Maka me time bisa menjadi sebuah kemewahan, kelezatan, dan kenikmatan hingga tak jarang ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bisa jadi timbulnya ketidakpercayaan pada dirinya, emosi yang tak tersalurkan, dan menganggap amanah rumah menjadi tuntutan yang berujung pada ikhlas yang dipertaruhkan. Pasalnya, lelah yang tak berkesudahan. Iman yang menurun. Kesabaran yang masih perlu di-dikte-kan kembali. Lantas, kesemuanya akan menyalahi taqdir? Atau pada suami? Pun pada anak-anak? Semoga bukan obsesi dalam ketiadaan me time yang ala "piknik", namun pada manajemen waktu itu sendiri.

Memulai me time dengan me-manage waktu. Saya sendiri di awal kelahiran anak pertama berusaha menjadwalkan jam tidur anak dari tidur pagi, tidur siang, dan tidur malam. Sampai pada kelahiran anak kedua berusaha tetap konsisten, Alhamdulillah. Tujuan mengaturkan jadwal jam tidur, agar saya bisa menyelesaikan amanah domestik tentunya secara leluasa (beberes tumpukan cucian piring, ke pasar, masak, mencuci dan menjemur pakaian, dll). Ditambah dengan menyelesaikan skripsi pada saat itu yang berepisode. Hahaha… terlihat sampai memakan waktu tiga tahun penyelesaiannya.

Kembali pada me time, sesederhana me time bagi saya tidak melulu pada piknik terlebih seorang diri dengan sekali lagi ada anak, tanpa art, juga tanpa kehadiran orangtua/mertua di sisi. Adalah hal mustahil bisa nge-mall dan ngemil sesuka hati, seorang diri. Atau ke salon, ke majelis ilmu, ke kegiatan parenting, dll. Sungguh, bagi saya, justru senang bila bisa mengajak anak-anak ke tempat yang bisa kami jangkau bersama dan memperkenalkan lingkungan baru ke anak-anak. Hal ini saya buktikan selama ini, saya tetap momong anak sambil kuliah, sepanjang proses penyusunan skripsi –yang ehem, tetap berepisode- hingga pencapaian gelar sarjana di tahun ketujuh di kampus –‘alaa bi idznillaah.

Me time pun tak selamanya dilakukan ketika anak tertidur pulas saja. Bisa di sela-sela waktu kehadiran ayahnya, di setiap paginya hingga jelang berangkat kerja, dan atau di malam hari sepulangnya dari kerja. Me time pun bukan persoalan dalam hal bersemedi ya, merenung, atau apalah namanya. Sebab me time bisa pada menyelesaikan amanah domestik yang bebas iklan. Hehehe.. Bisa pada menikmati makan makanan yang belum diperkenalkan pada anak-anak alias cheating time, semisal es krim, aneka cemilan coklat, dan…. mi instant. *maapkeun saya. Dan tentunya, harapan bisa menikmati pada dihadirkannya ke-khusyu’an dalam ibadah.

Dan me time pun bisa dengan cara menurunkan standar kita dari jadwal pada amanah domestik yang kerap saya lakukan. Dengan dibebastugaskan masak di waktu-waktu tertentu, tentu meminta ridha suami. Atau menunda sesaat menyelesaikan pekerjaan demi sebuah maslahat agar bisa istirahat sejenak. Dan menolerirkan sebagian amanah domestik yang sifatnya tidak terlalu mendesak/keharusan diselesaikan di waktu tersebut alias dikejar deadline. Mengingat pekerjaan rumah sifatnya berulang, meski telah tuntas di hari itu, namun keesokan hari akan menemuai hal yang serupa, begitupun seterusnya. Maka, memaafkan diri kita, meminta maaf pula pada suami, pun memaafkan dan membiarkan anak-anak dalam ekplorasinya yang menghasilkan rumah begitu tak seindah dalam pandangan. Maka, maafkanlah. Jadikan setiap sudut rumah menjadi baiti jannati dalam kondisi apapun.

Sesederhana me time itulah, in syaa Allah akan begitu ringan seperti melepas beban, bukan menjadi tuntutan, bahkan hadirnya energi positif di setiap kali kita menuntaskan amanah-amanah tersebut. Walau menyelesaikan harus dalam keadaan merangkak, paling tidak, me time bukan jadi momok yang begitu dirindukan karena sulitnya kita “memaafkan” diri ini karena tak mampu menyederhanakan me time.

Menikmati me time tetap dalam kebaikan, ketaatan, dan kebersamaan karena Allah pun bisa tanpa harus piknik 10.000 kali bukan? Tapi, sesekali piknik, tafakur alam, boleh lah yah… *lempar senyum ke suami. Istri mana sih yang akan menolak jika diajak piknik? :D

Wallaahul musta’an.


Menulis bagian menasehati diri
#rumbelmenulisIIP
#OWOP
#IIPSulawesi
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea