17 Februari 2011

Tak Boleh Reda!!

Posted by Basmah Thariq at 12.20.00 3 comments
Bismillah… Masih seperti biasanya, hari-hari yang ditemui adalah hari-hari yang selalu Allah sajikan dalam balutan naunganNya. Ia mengadakan beragam manusia untuk menjadikan tempat belajar akan banyak hal. Bukan sekali dua kali, aku selalu ingin belajar dari seseorang yang telah memberikan kalimat penyejuk hati. Sederhana, tapi memiliki arti yang cukup dalam.
“Dalam kehidupan, Allah tidak melihat hasil dari sebuah perjuangan, melainkan dari proses. Jika Dia hanya melihat hasil, maka akan banyak yang terkalahkan.”
Subhanallah... Apa yang terbersit jika Allah hanya melihat hasil dari suatu kaum atau seseorang tersebut? Maka benar, akan banyak yang terkalahkan. Karena kami, orang-orang yang tak akan pernah bisa menyaingi akhlaqnya orang-orang terdahulu, akhlaqnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam beserta para shahabatnya. Karena kami, tak sanggup menyaingi amaliah-amaliah mereka, yang tidak tidur hanya untuk menghadap padaNya untuk bermunajat akan kesyukuran atas nikmat-nikmatNya. Begitu jauh diri ini, Rabbii...

Tapi, Allah  dengan Maha Adil-Nya, memberikan balasan sesuai dengan proses yang kita lalui. Meski dalam porsi ketidakseberapaan diri kita, yang terkadang merasa aman menjadikan ketidakseberapaan itu sebagai alasan untuk tidak bertahan dalam perjuangan ini.

“Maka, tak boleh reda!! Ketidakseberapaan inilah yang akan membawamu mengahadapNya.” Rasanya kalimat ini yang ingin kusematkan dalam diri, agar selalu terpacu, bahwa masih banyak tugas yang belum tuntas. Ia tak bisa diselesaikan hanya dengan setengah asa. Betapa ketika menghadapNya, akan lebih indah jika kita terlihat istimewa dengan kelebihan masing-masing dari proses tersebut. Betapa ketika menghadapNya, kita tak perlu takut dengan ketidakseberapaannya kita. Mengusahakannya dengan caranya masing-masing.


Menemukannya,
dalam sebuah Pengajian Pengurus
"Suasana Baru, Semangat Baru"
Forum Ukhuwah Muslimah Makassar


Ahlan wa Sahlan yang baru bergabung..
Dan Barakallaahu fiikum

14 Rabiul Awal 1432 H / 17 Februari 2011 M
[ Read More ]

14 Februari 2011

Biarlah, Hanya Allah yang Mengenalku

Posted by Basmah Thariq at 11.58.00 3 comments
Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf, tu’rafuna fi ahlis-sama’ wa tukhfuna fi ahlil ardhi. Berusahalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan Al Akhfiya’; manusia-manusia tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini. Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, sebab -bagi mereka-  yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemasyhuran.

Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia hidup di masa tabi’in. Namun hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu! Shahibul hikayat adalah seorang tabi’in bernama Muhammad ibn al-Munkadir –rahimahullah-.

Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasannya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu. Sudah satu tahun ini kota Madinah tidak pernah mendapat curahan air dari langit. Entah telah beberapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan shalat istisqa’ demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes hujanpun yang turun menemui mereka.

Dan malam itu, seperti biasanya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad ibn al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas menuju Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usai mengerjakan sholatnya malam itu, ibn al-Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid. Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu. Agak sulit sebab malam sudah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid itu dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam masjid. Ia tidak menyadari kehadiran Ibn al-Munkadir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka’at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu’ ia bermunajat. Dalam munajat itu, ia mengatakan, “Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka.”

Ibn al-Munkadir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. “Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu,” gumamnya dalam hati. “Orang-orang shaleh seantero Madinah telah keluar untuk meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan… Lalu tiba-tiba, orang ini berdoa pula…,” gumamnya.

Namun sungguh di luar dugaan, belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah ta’ala. Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu’an, “Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?”

Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka’at-raka’atnya. Hingga ketika saat subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja sampai di masjid itu. Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang. Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu kemana pria hitam itu pergi.

Malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir kembali mendatangi Masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu. Ketika sang imam mengucapkan salam, pria itu tidak menunggu lama. Persis seperti kemarin, ia bergegas meninggalkan masjid itu. Dan Ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong dan setibanya di sebuah rumah ia masuk ke dalamnya. “Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya.”

Matahari telah naik sepenggalan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, Ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu. Begitu ia melihat Ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya. “Marhaban  wahai Abu ‘Abdullah –begitulah Ibn al-Munkadir dipanggil-! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki?” ujar pria itu menyambut kedatangan Ibn al-Munkadir.

Namun Ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. “Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?”

Dan tanpa diduga, wajah pria itu tampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi ia berkata, “Apa urusanmu dengan itu semua, wahai Ibn al-Munkadir??!”

“Tampaknya ia sangat marah. Aku harus segera pergi dari sini,” ujar Ibn al-Munkadir dalam hati. Ia pun segera pamit meninggalkan rumah tukang sepatu itu.

Inilah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu Ibn al-Munkadir berjalan menuju masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu. Setibanya di masjid dan mengerjakan shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.

Namun malam semakin malam, pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan kesalahan. “Inna lillah ! Apakah yang telah kulakukan??” itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.

Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun, yang ditemukan hanyalah pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata,”Wahai Abu ‘Abdullah! Apa yang terjadi antara engkau dengan dia?”

“Apa yang terjadi?” Tanya Ibn al-Munkadir

“Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satupun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia pergi hingga kini,” jelas penghuni rumah itu.

Dan sejak hari itu, Ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil. Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini. Kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, “Biarlah, hanya Allah yang mengenalku…”

Sumber: Kerinduan Seorang Mujahid, Abul Miqdad al-Madany (Hal:103-108)
http://wimakassar.org
[ Read More ]

13 Februari 2011

Untukmu Pemuda

Posted by Basmah Thariq at 07.59.00 3 comments
Pemuda adalah Ibrahim
yang dengan kampaknya menebas leher paganisme
yang dengan kekuatan argumentasinya menghancurkan
kesombongan sang tiran
yang dengan kecerdasannya menemukan hakikat
kebenaran dibalik rahasia alam semesta
yang dengan keberaniannya menundukkan panasnya bara api
yang dengan keteguhan imannya mengarungi sahara tak bertuan
yang kecintaan kepada Rabb-nya mengalahkan segala sesuatu,
merelakan semua kemahalan pengorbanan





Pemuda adalah Musa
yang dengan tongkatnya meluluhlantakkan keangkuhan kebodohan
yang dengan keberanian dan keimanannya membelah lautan merah
yang dengan kekuatannya membunuh sang angkara
yang dengan ketegasannya menciptakan system kepemimpinan
di tengah kaum yang terpecah belah
yang dengan bara semangat perjuangannya membebaskan kaum tertindas


Pemuda adalah Isa
yang dengan ketulusan kasih sayangnya mencairkan kebekuan hati
yang dengan kelembutan menumbuhkan kehidupan
yang pengorbanan tanpa pamrihnya menyinari
kegelapan paradigm materialis
yang kejernihan hatinya menguak segala rahasia kejahatan


Pemuda adalah Muhammad
yang didirinya terhimpun segala potensi kebaikan
yang kekuatan perjuangannya menghancurkan peradaban
rendah untuk kemudian membangun ketinggian hakikat peradaban kemanusiaan
yang kecintaan kepada Rabb-nya membuatnya tak peduli apapun yang menimpanya
yang ketinggian akhlaqnya membuat hormat dan pujian dari seluruh alam
yang kecintaan kepada ummatnya membuatnya tak tenang istirahat
yang kezuhudannya telah mengharamkan diri dan keluarganya dari
obsesi gelimang materi
yang ketinggian namanya selalu disebut sampai hari kiamat


PEMUDA,
di pundakmu lah tertumpu berjuta harapan
di dirimu lah terkumpul potensi keutamaan
di tanganmu lah terletak penyelesaian permasalahan ummat
di matamu sinar akan menguak kegelapan
di perjuanganmu tergantung bangunan ketinggian
peradaban kemanusiaan

PEMUDA,
Raihlah ketinggian
Gapailah kemuliaan
Temukan hakikat kebahagiaan
Tegarkan dirimu menghadang badai
Tinggalkan semua kepalsuan dan kesemuan
Lambungkan jiwamu meninggi
Menembus batas birunya langit…
Karena disanalah akan engkau temui
Rabb-mu yang Maha Tinggi

Depok, 24 April 1996
(Aam)


Memungutnya dari sebuah Artikel bernama "Aktivis Dakwah Sekolah"
Salam Perjuangan
untuk semua yang sedang merindukan khilafah..
[ Read More ]

5 Februari 2011

Sisi Biru Berkata

Posted by Basmah Thariq at 17.03.00 2 comments

Bismillah..
Menyempatkan diri bertandang di sebuah jejaring sosial yang kugeluti. Dan kumenemukan sebuah note yang telah di tag dari seorang sahabat tentang 
Ada Apa dengan Biru? 
Syukran, ukhti...

Memang tidak gampang menandai penyuka warna ini. Kadang kelihatan lembut, kadang kelihatan sangat periang dan kadang tertutup. Yang pasti mereka amat dikuasai oleh emosinya. Mereka gampang terharu hanya untuk urusan yang kelihatannya sepele buat kebanyakan orang. Mereka gampang menangis dan gembira untuk hal yang menyentuh perasaannya.

Tapi tak ada yang membuat mereka tersinggunng sekali. Mereka sebetulnya orang yang penyabar, tidak pendendam meskipun hatinya sering luka atau dilukai. Ia melihat dunia ini sebagai satu wilayah yang romantios sekaligus mengandung banyak ranjau yang bisa membahayakan suasana hatinya. Ada kalanya ia tersungkur dan mundur, tapi penyuka warna biru biasanya tabah dan mencoba untuk bangkit dan berusaha mencapai apa yang diinginkan.

Bedanya dengan warna lain, ia tidak menggebu-gebu. Ia selalu tenang, sopan, tidak terlalu mencolok dalam bersikap, tidak ekstrim dan menghindari kalimat yang sinis, tajam atau kasar. Ia ingin berdamai dengan dunia, dengan alam semesta dan seluruh mahluk yang ada di bumi. Ini jangkauan gedenya. Jangkauan kecilnya, ia ingin ramah dengan siapa saja dan ingin juga mendapatkan keramahan yang serupa.

Tapi apa yang menjadi unggulannya. Ia selalu berusaha rapi tapi tidak genit. Ia selalu berusaha tampil sebaik-baiknya, tapi tidak sok. Ia selalu ingin lebih baik dari orang lain tanpa harus menganggap orang lain sebagai saingan yang harus disingkirkan.

Ada kalanya penyuka warna biru nampak loyo dan selalu hal ini berkaitan dengan emosi jiwanya. Ia memang tidak bisa menerima situasi yang dirasakan atau yang orang lain rasakan kalau hal itu dianggapnya tidak adil.
Mereka yang menyukai warna biru yang gelap cenderung lebih suka menarik diri dan lebih gampang tersentuh perasaannya. Sebaliknya mereka yang menyukai warna biru yang cenderung lebih terang lebih periang dan bisa menerima segala sesuatu dengan lebih positif. Yang menyuka warna biru mencolok atau biru benhur, termasuk bukan dalam golongan penyuka warna biru kebanyakan. Ia amat ekstrovert, terbuka dengan emosinya. Dan emosinya itu gampang membara. Ia memang beda deengan penyuka warna biru yang lain.

(Tri Aminah)

[ Read More ]

Manusia di antara Dua Tangisan

Posted by Basmah Thariq at 12.15.00 0 comments
Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan .Nyaring berkumandang menghiasi telinga si IBU. Merakah tersenyum hatinya gembira penawar sakit dan lesu serta berjuang dengan Maut. Lalu mulailah sebuah kehidupan yang baru didunia dengan sebuat resiko pahit dan kejamnya kehidupan ini, bercucurkan darah dan tetes air mata.

Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih Kekecewaan yang menhimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setetes air mata kerana takut kepada ALLAH persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak mencucurkan air mata Demi ALLAH  dan Rasulnya bukan semata karena harta dan kedudukan.
Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.

Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang batil, Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengitai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan, serta rindu akan RasulNya.

"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang." (al- Hasr: 20)

Tangis adalah basahan hidup,justeru:Hidup dimulakan dengan tangis, Dicela oleh tangis dan diakhiri dengan tangis.Manusia sentiasa dalam dua tangisan.   Sabda Rasulullah s.a.w. "Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."

Nabi Muhammad bersabda lagi : "Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."

Oleh karena itu berhati-hatilah dalam tangisan, kerana ada tangisan yang akan mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan bertakhta.

Nabi bersabda : "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."

Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulamak dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.

Nabi Muhammad bersabda : "Jika kamu tahu apa yang aku tahu nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."

Seorang Hukama pernah bersyair : "Aku heran dan terperanjat,melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan,lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."

Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal,takut-takut tidak Diterima ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan.

Lupakah kita
Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."

Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau Yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.

Namun, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman : " Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)

Bukankah Nabi pernah bersabda: "Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."

Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.Di sana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat. Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orangitu."

Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya : "Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.

Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah.

Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur : "Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami,kubur di hadapan kami,kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."

Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............

Wallahu a'lam...
(RIZAL JALAL)

sumber:
[ Read More ]

3 Februari 2011

Bertemu dalam CintaNya

Posted by Basmah Thariq at 10.33.00 2 comments
Rabbi… seseorang telah memberikan beberapa rasa padaku. Yang segelintir orang berkata, aku mencintainya atasMu dan aku membencinya atasMu. Mata ini sebenarnya tak ingin menatapnya tertunduk dan menjadikannya hina. Sebab ia makhlukMu yang Kau cipta sepertiku, memiliki porsi tak jauh beda atas keterbatasan masing-masing.

Jika aku bisa salah, ketahuilah sebagai manusia, ia pun bisa salah karena khilafnya. Jika aku bisa menangis, ketahuilah sebagai manusia, ia pun bisa beruraian air mata. Jika aku bisa terjatuh, ketahuilah sebagai manusia, ia pun bisa terjatuh.

Dan tak menepisnya, karena Engkau memang menyengaja membuat kita hidup dalam keterbatasan. Agar mampu bersikap atas ilmu-Mu, menyadari ketetapan diri masing-masing.

Rabb, seringkali kurasai pada diri ini  terguncang, karena tak sanggup menahan terpaan demi terpaan kehidupan yang begitu deras. Akhirya membuat begitu sering jiwa ini merapuh, hati yang lelah tersaput debu khilaf, langkah yang tersengal-sengal karena berada di tempat yang gersang, dan menjadikan segalanya tergoyahkan.

Rabb, inikah yang ingin Kau perlihatkan padaku?
Di detik ini, Engkau begitu Pengasih dengan segala bentuk nikmat dan rahmat yang terlebih dahulu Engkau datangkan pada kami dan akhirnya membutakan kami dengan kesombongan kami sendiri.

Lagi, merasa bahwa masalahku tidak lebih berat darinya. Bisa jadi ia menjadi cermin tempatku berkaca, tempat untuk bertanya tentang diri melihat diri sendiri.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik..


Untukmu, saudariku karena Allah..
Bertemu dalam cintaNya, dan ingin berpisah karenaNya
Uhibbukifillah..
: NNK
Makassar, 1 Feb 2011
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea