28 Juni 2012

Menuju

Posted by Basmah Thariq at 21.59.00 5 comments
 

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Mudahkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Mudahkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)



Perjalanan penuh sembab dan haru T^T 
#hiks
[ Read More ]

25 Juni 2012

#5 Sudut Hati: sementara

Posted by Basmah Thariq at 17.16.00 4 comments

seperti hening yang berjarak
masing-masing kita berpaling
bukan pada zona ..si ..si
yang kadang membuat degup jantung bergelimpangan
tapi, menulis cerita baru di lembar-lembar kemilau kampus
sedianya aku, akan mengutip hikmah di setiap langkah -insya Allah-
(KKN segera beranjak menyuguhkan cerita)

[ Read More ]

11 Juni 2012

Sebab Anak*

Posted by Basmah Thariq at 00.45.00 2 comments

(Beribu maaf, tuk jemari seseorang yang ter-captured >.<)

Sebab anak, sang Ibu setia..
Melimpahi kesetiannya dalam hikmah dan cinta padaNya

Sore yang lengang. Sambil menikmati senja penuh gerimis, aku terduduk di depan TV. Awalnya sih, agak ngeh juga untuk menyimak tayangan tersebut karena tidak mengikutinya dari awal.  Seperti biasanya, aktivitas memindahi dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Tapi, saat mendengar satu kata “anak” yang menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, sinyal rasa ingin tahuku pun meninggi, kemudian mencoba memberikan perhatian penuh padanya.
Rupanya yang menjadi topik pembicaraan itu adalah tentang gerakan peduli lagu anak yang belakangan ini menjadi sebuah himbauan di kalangan pemerhati pendidikan dan dunia anak. Selain Kak Seto dihadirkan di sana, adapula beberapa pencipta lagu anak saat ini (meski masih kurang familiar menurutku), seorang psikolog anak, dan beberapa komunitas giat cipta lagu anak yang dilibatkan dalam diskusi ini.
Pada dua sesi yang kulihat, menghadirkan pencipta lagu anak, memberikan kesannya bahwa hari ini, para orang tua patut merasa dilema di saat anak-anak mereka tak lagi mengenal dekat lagu yang sepantasnya dengan kehidupan mereka. Dimana lagu anak, katanya, berfungsi sebagai alat komunikasi efektif, baik dari segi pelafalan dan pemaknaan yang menyertai di dalamnya secara berulang-ulang. Dalam sumbangsihnya secara tak langsung memang untuk memberikan kesan dan pesan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak dari lirik-lirik lagu.
Ketika membahas kondisi anak zaman sekarang, sepertinya era Joshua, Sherina, dan Tasya mungkin menjadi akhir dari episode lagu anak-anak di saat aku SD dahulu. Saat ini, anak-anak begitu dekat dengan lagu-lagu yang jauh dari usianya. Aku pun langsung teringat pada beberapa murid privatku. Mereka dengan mudah menyanyikan beberapa lirik lagu yang sebenarnya tak pantas diucapkan dan diperdengarkan, terlebih dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu keong racun, dengan sangat lancar terlisankan dari seorang anak yang masih berusia 4 tahun. Masya Allah, perasaanku langsung terhempas sangat kuat. Walaupun apa yang ia nyanyikan sebenarnya tidak sepenuhnya dimengerti makna dari lagu tersebut. Dan kasus ini ternyata bisa dialami di hampir seluruh orang yang dekat dengan lingkungan anak.
Di satu sisi, aku bisa menanggapi keefektifitas dalam memperkenalkan kosa kata mereka. Seperti, “Bun, keong itu apa?”  Begitu pertanyaannya Iza pada bundanya setelah menyanyikan lagu keong racun tersebut. Semisal yang tadinya anak tersebut tidak mengenal kata “keong”, maka ini menjadi satu kesempatan bagi orang tua untuk semaksimal mungkin memberikan penjelasan tersebut lebih ke ilmiah. Perasaanku yang sempat terhempas tadi, bisa terkembalikan atas pertanyaan polosnya si Iza. Duh, si Iza-ku..
Dalam sesi selanjutnya, penuturan dari beberapa komunitas giat cipta lagu anak menyisakan satu spirit yang menjadi visi mereka. Mengembalikan keberadaan lagu anak untuk menjadi bagian dari kehidupan anak semestinya. Dengan memfasilitasi secara cuma-cuma dengan hanya men-download gratis dan menyebarluaskan. Serta beragam usaha lainnya yang dikerahkan demi sebuah pengembalian tempat semestinya.
Sebagai salah seorang yang insyaa Allah tak lepas dari dunia anak, aku pun ingin memberangkatkan hal ini dari sisi positif. Ketika lagu anak pada topik ini yang kiranya dianggap menjadi penyampai sesuatu hal positif, maka aku pun ingin meminjam spirit tadi melebihi mereka. Agar bisa pula menumbuhkembangkan kecintaan anak pada sesuatu yang mulai diabaikan banyak kalangan. Yaitu, Al Qur’an.
Al Qur’an, satu peralihan peran secara verbal yang terbentuk dari kesempurnaan pelafalan huruf hijaiyyah yang mewakili pelafalan alphabet dari berbagai negara. Mungkin, banyak orang yang tidak tahu. Tapi, ini berdasarkan fakta secara langsung yang sering kita temui di lapangan. Kemudian secara nonverbal terletak pada isi dari Al Qur’an yang jika dipahami merupakan dari sebuah bacaan yang dilantunkan dan pesan-pesan di dalamnya yang diamalkan.
Sebagaimana yang dikemukakan pada salah seorang psikolog anak pada acara tersebut, bahwa aktivitas anak tak sekedar berujung pada kognitif (knowledge) semata. Melainkan ada afektif (attitude) dan psikomotorik (skill) yang saling menunjang dalam pertumbuhan anak. Hal tersebut, sangat mewakili dari apa yang ada pada Al Qur’an. Sekalipun, aku bukanlah salah seorang hafizhah (penghafal Al Qur’an). Dan untuk setiap orang yang memelihara lisannya dari kalamNya, semoga Allah memberikan keberkahan atas penjagaannya terhadap Al Qur’an.
Terakhir, Sebab anak! ketahuilah, jiwa anak harus dibangkitkan dengan hal positif agar tetap bersemangat setiap menghadapi kehidupannya dan masa depannya. Memberikan sesuatu yang positif akan menghasilkan yang positif bukan? Wallaahu a’laam..

*Disetiap tulisan selesai diketik, aku selalu tersendat pada judul.  Karena mengantuk (check waktu post tulisan ini), Sebab Anak dibuat karena menonton hanya alasan kata "anak". Pantas? -semoga-
[ Read More ]

1 Juni 2012

#4 Sudut Hati: Mengutuhkan

Posted by Basmah Thariq at 21.40.00 9 comments

(Pic: "memergoki" di balik bingkai kacamataku)


“Setiap kita yang masih menggenggam separuh, menikahlah! Karena menikah itu mengutuhkan jiwa-jiwa terhadap cintaNya. Mengutuhkan hati yang selalu menerbitkan kecenderungan. Dan karena setiap kita punya cerita tetap di lauhul mahfudz.”

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea