16 Mei 2009

Penantian

Posted by Basmah Thariq at 10.35.00 0 comments

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran sseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.

Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.

Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.

Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….

Wassalam…


Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya…cukuplah dengan itu hilan harga dirinya…di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah. PELIHARALAH DIRI DAN JAGA KESUCIAN.
sumber:
http://fsialbiruni.multiply.com/journal/item/6
[ Read More ]

AADG (Ada Apa dengan Guru)

Posted by Basmah Thariq at 10.27.00 0 comments
Ciri-ciri Guru Kreatif:

F - fleksibel
O - optimis
R - respek
C - cekatan
H - humoris
I - inspiratif
L - lembut
D - disiplin
R - responsif
E - empatik
N - ngefriend

Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan secuil gambaran tentang guru. Walaupun kata-kata di atas tadi saya kutip dari sebuah buku "Kenapa Guru Harus Kreatif" yang ditulis oleh Kak Andi Yudha, membuat saya semakin positif dengan pilihan saya.

Yah, setelah beberapa bulan yang lalu saya dinobatkan menjadi mahasiswi yang insya Allah akan tetap mengabdi pada pendidikan. Sebelumnya juga, saya akan memaparkan sepelintir alasan kenapa saya begitu terobsesi dengan kegiatan yang mulia ini.

Pasca UN, saya telah disibukkan dengan kegiatan mengajar melalui training yang pernah saya lakukan di waktu senggang menanti pengumuman UN. Sebenarnya, bukan kali pertama saya melakukan kegiatan ini. Mengajar telah melekat pada saya di usia yang masih amat muda. Di usia yang terpaut 12 tahun itu, dibeberapa kesempatan kegiatan mengajar ini dilakukan. Walaupun saya hanya mengajar mengaji di sebuah TPA bernama TPA Al Naashiriyyah (AN), yang berlokasi di Jeddah tempat kelahiran saya, saya amat yakin dengan cita-cita yang pernah terlintas saat duduk di bangku SD Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ). Berawal dari mengagumi beberapa guru kami di sana (SIJ dan AN), hingga akhirnya tertanam pada diri ini untuk ingin seperti mereka. Saya pun berusaha menanamnya dan memupuki cita-cita ini sampai akhirnya Allah 'azza wa jalla menjawab doa saya. Keinginan ini mungkin terkadang dianggap remeh oleh beberapa kalangan, karena saya adalah salah satu siswi jebolan dari SMA Negeri 17 Makassar. Entahlah. Mungkin terlalu banyak dari SMA ini yang menyebar di fakultas-fakultas bergengsi se-nasional, hingga banyak dari kami sendiri menutup mata bahkan jarang sekali untuk melirik cita-cita ini. Atau mungkin luput tentang bahwa tidak ada seorang tokoh pun di dunia ini yang berhasil tanpa peran serta seorang guru. Mereka tidak akan berhasil menjadi seorang dokter yang handal, ilmuwan yang pintar, pun menjadi seorang guru dan sebagainya, kecuali sebelumnya dia belajar banyak dari seorang guru. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengawali masa kecilnya dalam bimbingan seorang guru, sekaligus ibu susunya, yaitu Halimatus Sa'diyah. Halimah-lah yang mengajarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang cara bertutur kata dan bersikap baik. Hingga Rasulullah tetap dikenal dengan perilakunya yang baik. Subhanallah..

Terkadang orang sering mengira bahwa tugas seorang guru hanyalah mengeja angka. Kelihatannya sederhana..

Namun, pada praktiknya tidak sesederhana itu. Sebagai lapis kedua setelah keluarga dalam perannya mendidik anak, guru mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuh kembang seorang anak. Keberhasilan seorang anak saat dewasa apakah dia akan menjadi orang yang baik atau jahat, pintar atau bodoh, sukses atau gagal, dipengaruhi oleh didikan guru mereka, selain didikan keluarga dan pengaruh lingkungan.

Dengan demikian, seorang guru itu dapat menjadikan mereka sebagai generasi yang hebat dan mampu menjadi generari rahmatan lil 'alamiin. Mereka pun akan menjadi manusia-manusia berkualitas, unggul, dan berdaya tahan tinggi dalam menghadapi perubahan. Insya Allah, dalam proses transfering values and knowledge, guru yang baik akan senantiasa mengajar dan berkomunikasi kepada anak-anak, dan bukan sekadar berkomunikasi terhadap mereka.
Amiin..


Disela-sela mendalami ilmu menjadi seorang guru yang baik, saya ingin mengucapkan jazakumullah khairan katsiran kepada guru-guru saya yang telah mentransfer ilmu untuk menjadi orang.

Ket:
detik-detik Jubel menuju UNM
[ Read More ]

Berjilbab dengan Ilmu

Posted by Basmah Thariq at 10.07.00 0 comments

Subhanallah,, maraknya jamur jilbab di kota tercinta ini. Tatkala sedang singgah ke sekolahan, anak-anak sekolah sudah banyak yang berkerudung. Biasanya, mereka memakai kerudung pada hari Jum’at dan Sabtu. Tak ayal ibu-ibu sekarang pun juga banyak yang menutup rambutnya, saat datang kondangan atau pun belanja ke pasar. Yang lebih mengharukan lagi, remaja-remaja kuliahan bertaburan di mall, jalanan, dan masjid lengkap dengan jilbabnya. Allahu akbar... Allahu akbar...

Saat share dengan adek-adek, beberapa mengeluhkan, ”Mbak, teman-teman ane pada nanya, ’kok banyak dari kalangan yang gak bener itu pake jilbab? Eh tahu dak banyak orang yang di pantai panjang remang-remang tuh (tempat dunia kegelapan-red), orang yang make jilbab galo. Apo cubo gawenyo (kerjaan) berduo kek lanang-lanang (cowok) banyak tuh?’”

Laen lagi dengan teman ammah ana di kampus, ”Frend, kemaren gua jalan di mall banyak orang yang pake jilbab panjang, seumuran lah dengan kita, nah mereka kek orang pacaran. Gua sangsi kalau mereka suami istri, secara mereka kek nya seumuran dengan kita.”

Atau yang lain lagi, ”Iwh, masa Vo, pake jilbab tapi tos-tosan, cubit-cubitan ama teman sekelas. Apa kata dunia!!”

Coment sebagian yang lain, ”Percuma aja berjilbab kalau kayak gitu, buka tutup lepas blazz, kemaren aku liat si X jalan ke mini market, waktu aku sapa dan kutanya jilbabnya kemana, beuuh, dia jawab; oh iya jilbabku kotor semua jadi gak pake deh.” Brak patah hati ini mendengarnya. Hiiksss...T_T

Teman-teman yang ammah cukup banyak yang complaind plus nanya-nanya ini itu, kok gini, lah yang itu begitu, yang seperti ini aja begono, wadohh bengund. Haks,,haks,,,


JILBAB TANPA ILMU

Film KCB booming, jilbab panjang pun menyebar bak virus yang membunuh baju-baju casual. Subhanallah dakwah yang indah. Tapi, sebagian besar gak ngarti dan gak fahim ilmunya menutup aurat. Begitulah kalau jilbab dijadikan mode belaka. Memakai tanpa tahu ilmunya.

Mengapa bertaburan cewek-cewek berjilbab yang berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya? Mengapa cewek berjilbab ada yang pacaran ampe gak jelas getho?

Miris saat ngeliat banyak muslimah-muslimah yang kata orang banyak sebagai contoh untuk orang lain ternyata begentayangan gak bisa jaga hijab-nya. Wuiz,, ujung-ujungnya ujung si jilbab yang dipermasalahkan. Dan di akhirnya ujung, Islam yang indah yang disalahkan dan dikambing hitamkan. Masuklah beragam pemikiran-pemikiran yang jelek tentang Islam. Bewwwwuh,, semoga bukan ane... Allahuma Aamiin...

Kalau dah banyak teman yang complaind masalah ini (padahal kan gak semua jilbaber kayak gitu), lantas gemana?

Menurut Firman Allah di surah An-Nuur ayat 31;

(**Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, ........................**)

Weiz, di sinilah ilmunya. So, banyak dari muslimah-muslimah pada gak ngerti kalau sebagai wanita yang beriman wajib menahan padangan dan kemaluan bukan sekedar hanya make jilbab. Bahkan Allah menulis ”menahan pandangan dan kemaluan” lebih dahulu dibanding ”menutup kudung ke dadanya”.

So plis, jangan malu-maluin muslimah laen dund dengan gaya pergaulan yang gak syar’i. Dan jangan sampe tingkah kita yang berkerudung ini jadi fitnah hingga mengambing hitamkan Islam. Wuiz, tanggung jawab muslimah berjilbab emang cukup ngeh deh. Semangat!! Jangan lembek!! Jangan jadi muslimah gampangan!! Malu ama tuh jilbab, apalagi ama ALLAH!!

MARI BERUBAH...

Senangnya saat teman-teman dah mulai belajar make kerudung, ana senang beud kalau banyak teman yang curhat kalau mereka pengen pake jilbab. Walau niat awalnya, pengen kayak si akhwat itu, pengen diliat si ikhwan ini, yaaah, pacar gua Islami so gua mesti nyeimbangin dund. Hakz,.hakz.. Hahay!!

Segala sesuatu memang bergantung dengan niat. Bahkan percuma melakukan kebajikan kalau niatnya bukan karena Allah.

Ayo, akhwat jangan mengekslusifkan diri dari pergaulan, agar jadi salah satu tempat teman-teman cerita kalau mau pake jilbab. Kita harus 100% mendukung mereka, semoga, setelah menutup aurat terlebih dahulu, ikut pengajian dan berkumpul dengan orang yang solehah, Insya Allah mereka dapat berubah. Yuhuu, medan dakwah yang menyenangkan!

Paling tidak, dengan menjamurnya mode jilbab banyak orang yang mulai tertarik dengan islam. Menyebabkan sebagian bertanya, dan akhwaters inilah tugas kita. Mari belajar memperbaiki niat dan meluruskan niat saudari muslimah kita, terkhususnya diri sendiri. Semoga saudari muslimah kita dapat berjilbab dengan ilmu bukan dengan mode.


**copas dari seorang ukhti
[ Read More ]

15 Mei 2009

Tetaplah Disini

Posted by Basmah Thariq at 09.58.00 0 comments

Saudaraku,
Bersyukurlah atas petunjuk Allah yang telah menuntun kaki kita menapaki jalan hidup bersama kafilah dakwah ini.
Sungguh, inilah nikmat yang teramat mahal harganya. Nikmat yang tak ada bandingannya. Karena dengan nikmat inilah kita bias merasakan kesenangan menuai kebersamaan diatas jalan dakwah.

Karena nikmat Allah itu kita bias mengecap manisnya sebuah pengorbanan, nikmatnya kesempitan, lapangnya kesulitan yang tak dirasakan oleh orang lain.
Begitulah janji Allah kepada hamba-hambanya yang berjalan di jalannya, dalam qur’an surah Muhammad ayat

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian”

Karena itu Saudaraku………
Menempuh jalan ini jelas bukan perkara yang mudah. Kita perlu bekal, bekal yang dapat mengecilkan semua kesulitan. Bekal yang dapat menebus dagangan Allah yaitu syurgaNya, sebagaimana Allah ta'ala berfirman dalam qur’an surah attaubah ayat 111.

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung”

Saudariku, yang kucintai karena Allah...
Renungkanlah dalam-dalam ada tiga bekal yang harus kita miliki sepanjang perjalanan ini. Bekal paling utama adalah keikhlasan, bagaimana saudariku apakah keikhlasan itu ada pada dirimu? Bekal kedua adalah Ilmu, dan ilmu ini kita dapatkan lewat tarbiyah-tarbiyah kita. Dari tarbiyah inilah muncul sesosok Abu Bakar ash-shiddiq yang rela mengorbankan seluruh hartanya untuk jalan dakwah ini. Lewat tarbiyah ini pula lahir seorang Mush’ab bin Umair yang rela meninggalkan orang tuanya dan segala kekayaannya demi Allah dan Rasul-Nya.Dan bekal yang ketiga adalah saling menasehati. Bukankah Allah subhanahu Wata’ala dalam surah al-asr berkata.

“Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”

Saudariku, teman seperjuanganku...
Allah masih menghimpun kita dalam kebersamaan di jalan ini. Bersama dalam cita-cita dan harapan. Bersama dalam lantunan do’a dan pinta. Bersama dalam beribadah, bertasbih, dan berdzikir. Inilah karunia hidup yang sangat mahal, setelah hidayah dan keimanan pada Allah kepada kita. Semoga kebersamaan ini adalah bukti kesetiaan kita pada petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala. Kebersamaan yang tak pernah lekang oleh terik panas matahari, kesetiaan yang tak pernah luluh oleh terpaan masa

Saudariku.. para tentara-tentara Allah………………
Mari lanjutkan iringan langkah kiat. Bersama-sama menuntun dan saling memberi pelita agar langkah kita tidak menyimpang dari jalan yang benar. Bersama-sama saling memompa semangat agar tekad kita terpelihara sampai tujuan hidup akhir.
Wahai para mujahidah-mujahidah Allah…….
Perjalan panjang perjalan panjang hanya bias ditempuh dengan keseriusan dan berjalan waktu malam. Jika seorang musafir menyimpang dari jalan, dan menghabiskan waktu malamnya untuk tidur, kapan ia akan sampai ke tujuan?

Untuk Itu…
Tetaplah Disini Saudariku. Di jalan keimanan. Dijalan keislaman
Tetaplah bersama-sama meniti jalan ini sampai usai. Kita semua mungkin telah letih. Karena perjalanan ini8 amat panjang dan amat berliku. Tapi, tetaplah disini dan jangan menjauh. Yakinlah, kenikmatan yang kita reguk di jalan ini, jauh lebih banyak ketimbang yang dilakukanorang-orang yang lali. Keindahan yang kita alami disini, sangat lebih indah daripada keindahan yang kerap dibanggakan oleh mereka yang jauh dari jalan ini. Jangan berharap atau tertipu dengan fatamorgana kenikmatan, keindahan, kebahagiaan dan semua yang telah kita lihat dari orang-orang yang jauh dari tuntunan Allah.
Tetaplah disini.

(tulisan ini saya pungut dari sebuah buku penyemangat dakwah "berjuang di dunia mengaharap pertemuan di surga" dengan sedikit perubahan)
[ Read More ]

Pesan Untukmu

Posted by Basmah Thariq at 09.42.00 0 comments

Mungkin ini kali terakhir
Kutapaki koridor putih
Tempat jejak-jejak kita berubah bayangan
Ketika tawa menguap, mencampuri debu yang beterbangan

Mungkin ini kali penghabisan
Sapa kita bertukar dalam suara tertahan
Sedikit lagi airmata jatuh perlahan
Lalu diserap bumi dan terlupakan

Waktu akan berjalan
Kemudian kau akan jadi dokter
Dia pemilik perusahaan software komputer
Mereka adalah orang-orang sukses dan populer

Masa lalu mengabu
Di antara foto-foto berubah warna
Kuning kelabu
Di tengah kota berubah wajah

Ketika lelah datang menagih rindu
Pejamkan mata dan ingat aku
Dan kita akan kembali bersama
Mencari memori yang tersepak kaki waktu


Makassar, 5 Mei 2009
(Saat langkah tergeser meninggalkan Jubel menuju UNM)
[ Read More ]

13 Mei 2009

Jika...

Posted by Basmah Thariq at 15.00.00 0 comments

Rasa malas lebih sering menjemputku di tengah kondisi yang sedang tak fit. Namun, saat-saat rasa ini kembali menyergap dan memaksa untuk menyelinap dalam ketidakberdayaan ini, pada akhirnya saya memilih untuk jeda sejenak dalam menata ruang hidup selanjutnya. Yah, dengan mengais hikmah sebagai penyemangat dalam tiap perjumpaan aku dengan manusia-manusia hebat.
Tak kuasa, kembali lisan ini mengucap puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah sengaja menyajikan skenarioNya dengan begitu indah hingga tiap perjumpaan yang terkadang luput dari diri ini menjadikan aku belajar banyak hal.
Saya merasa bahagia karena disela-sela kehidupan ini Allah mempertemukan saya dengan beragam manusia tempat saya belajar banyak hal, tentang keistiqamahan lewat perjuangan-perjuangan manusia-manusia hebat yang pernah saya temui. Bukan berarti di sini saya menafikkan ibrah dari risalah para nabi dan rasul yang telah dibuktikan secara nyata. Tapi sekali lagi, saya bisa kembali mempelajari banyak hal tentang ujian seseorang saat ini yang ternyata telah dicontohkan pula oleh para nabi dan rasul.
Meski perjumpaan ini tak dianggap oleh siapapun ia kepada saya, tapi kesan yang mereka tinggalkan di lubuk hati saya melebihi itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah saya temukan pada setiap kisah hidup orang-orang di sekeliling saya. Keluarga, sahabat, bahkan orang-orang yang tak saya kenal sebelumnya.
Seorang adik kelas, laki-laki muda berumur 3 tahun di bawah saya. Berperawakan sedikit sulit ditebak tentang kepribadiannya, karena mengenalnya dari perjumpaan tak terduga. Mungkin berawal dari keterlibatan di sebuah lomba yang ditunjuk oleh teman saya tentang kemampuannya, hingga masuknya ia pada sebuah ekskul yang telah saya geluti lebih awal. Tanpa sungkan suatu hari ia menceritakan sepenggal kisah hidupnya di sela-sela kesibukan kami. Ia bercerita tanpa memberi saya ruang untuk menanggapi, ceritanya mengalir begitu saja. Mempercayakan kisah kesulitannya untuk di simak oleh saya. Ternyata, ia terlahir dari orangtua yang memiliki perbedaan latar agama dan suku. Pengalaman yang dianggap lumrah dalam hidupnya saat pergesekan mengalami keyakinan membuat ia tetap tegar dan istiqamah dengan keislamannya. Hausnya akan Islam, tak membuat ia berhenti untuk belajar dengan mengikuti kajian-kajian Islam. Reaksi yang terpancar dari ayah dengan ketidaksukaannya membuat ia semakin semangat dalam menuntut dienNya. Bahkan ia rela jika suatu hari nanti akan diusir dari rumahnya. Ya Allah… saya pun diam tanpa kata. Hanya ucap syukur atas segala yang Allah berikan pada saya. Seandainya saya berada diposisinya, yang memiliki latar perbedaan yang amat tak terduga, dan seandainya..., seandainya..., saya berusaha menepis kata itu. Sekali lagi, Allah Maha Mengetahui tentang kemampuan hamba-hambaNya. Hingga Dia, tak menghidupkan saya pada posisi itu, atau posisi yang dirasakan oleh anak-anak Palestina. Ya Allah...
Pada pertemuan selanjutnya dengan orang yang berbeda, sosok perempuan yang juga teman kelas saya, suatu hari ia mengeluhkan tentang kondisinya dan orangtuanya yang boleh terbilang cuek dalam hal agama. Membiarkan dirinya berhamburan dalam pergaulan, hingga ia terlanjur memandang gelap Islam ini. Berawal dari pemantauan dia tentang saya yang sering ia tangkap, tentang kesibukan saya yang bergumul di luar kelas sehingga perhatian saya lebih terpusat pada kondisi di luar kelas. saya jarang jenguk kondisi kelas karena kesibukan beberapa ekskul yang saya tangani membuat saya alfa tentang mereka yang seharusnya mereka jauh lebih utama mendapatkan gizi baik dalam dakwah fardhiyah. Pemaparan tentang ia yang juga tertarik ingin dikenalkan Islam. Ia bercerita dan mempercayakan kisah kesulitannya untuk di simak oleh saya. Dari ceritanya, ia berharap ketika orangtuanya yang telah berpredikat sarjana dan berlabel haji mampu mengenalkannya dengan Islam secara kaffah, ternyata hanya sebatas angan-angan saja. Lalu, ia menangis tersedu-sedu saat ia sadar kalau selama ini orangtuanya hanya menitipkan ia pada pihak sekolah saja sepenuhnya untuk belajar Islam. Segalanya yang ada di dunia begitu mudah untuk dimilikinya membuat ia terkikiskan oleh iman, hingga ia pun tergilas oleh budaya yang lebih sering didengungkan dan tenggelam di dalamnya sedang ia hanya cukup menanti jawaban tentang pergolakan batin yang ia rasakan. Dan kembali rasa sesak menyeruak dalam diri. Sedang diri ini terlalu... dan sangat terlalu menyibukkan diri di luar sana.
Mendengar kisahnya, membuat saya sangat malu padaMu ya Allah… Di satu sisi ada orang yang sedang memperjuangkan keimanannya, di sisi lain ada orang yang begitu pasrah kehilangan meski ia menanti tanpa pasti. Sedang saya? Segalanya telah ada, lalu apa yang membuat langkah ini tertatih menggenggam keimanan ini, ya Allah?
Saat Engkau mendapati kondisi saya yang terseok-seok menjalankan segala perintah dan laranganMu, Engkau sengaja menyajikan perjumpaan ini untuk memetik ibrah darinya. Sedang diri ini ternyata harus belajar banyak bersyukur tentang orangtua yang sejak awal membimbing saya pada pengenalan pertama imanMu.
”Yaa Muqallibal quluub.. Tsabbit qalbii ‘alaa diinika.”
[ Read More ]

Duh, Jaga Hijab Dong...

Posted by Basmah Thariq at 14.57.00 0 comments
Hudzaifah.org - “Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???,” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?,” tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

“Duh… ngeri, lihat itu… ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat……,” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.

“Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” tanya seorang akhwat penuh keheranan.

Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:
1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.
2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.
3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.
4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.

Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah panggilan persaudaraan. ‘Ikhwan’ artinya adalah saudara laki-laki, dan ‘akhwat’ adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikhotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-‘ikhwanan’-nya atau ke-‘akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.

Aktivis sekuler tak lagi segan

Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, ”Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi.”

Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat

Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:

1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.

2. Rapat Berhadap-Hadapan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya - bila belum mampu menggunakan hijab - dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.

3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.

4. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.

5. “Men-tek” Untuk Menikah
“Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-tek’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.

6. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.

7. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.

8. Berbicara Mendayu-Dayu
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh…..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.

9. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh :).“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.

10. Curhat
“Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, akh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.

11 Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.

12. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Dalil untuk nomor 1-5:
a. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)

b. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 30)

c. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 31)

d. Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

e. Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu." (HR Ahmad)

Dalil untuk nomor 6-12:
"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya..." (Al Ahzab: 32)

Penutup

Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).

Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah… “


By: Ayat Al Akrash

----- Wahai Insan, Mintalah Fatwa Pada Hatimu ----
[ Read More ]

Aku Berbicara Cinta

Posted by Basmah Thariq at 14.44.00 0 comments

Ada tawa yang tertahankan saat seorang teman melempari sebuah tanya pada saya, "Kamu pernah jatuh cinta gak?" dibeberapa waktu yang lalu.

Saya hanya memasang senyum setiap kali ada orang yang melontarkan seperti itu. Mungkin saya sering tertangkap basah dengan gaya cuek bebek saya di saat saya berkumpul bersama teman-teman yang selalu bertingkah aneh ketika berhadapan makhluk yang katanya bernama "cowok ganteng". Entah dalam ekspresi bisik-bisik antar teman, jeritan-jeritan kecil, atau apalah namanya sebagai kode kehadiran sosok tersebut.

Mendengar uraian teman-teman tentang saya yang mungkin sangat dingin dengan makhluk tersebut membuat saya hening sesaat, bingung. "Kenapa jadi mereka yang pusing? Saya aja gak pernah terbersit untuk bereksplorasi yang begitu-begituan!" Batinku sambil menyembunyikan geli dalam hati. Mencoba untuk berbaik sangka pada mereka karena mereka belum tahu atau entahlah..

Bagi saya, perasaan jatuh cinta adalah sunnatullah. Karena ia akan dijumpai di kehidupan dan kita tak mampu menampiknya. Meski perasaan itu harus kita atur agar sejalur dengan keinginanNya. Dan jangan membiarkan perasaan itu liar menggerogoti diri hingga membekukan akal sehat kita.

Dan untuk perasaan ini, saya tak ingin menyempitkan maknanya. Karena rasa ini hadir karena Allah, untuk Allah, rasulNya, keluarga, teman-teman dan orang di sekitar yang selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Dan lagi-lagi saya diajarkanNya lewat pertanyaan teman saya untuk menikmati sejatinya cinta. Meski ada hal yang tak sesuai inginku, paling tidak menyadari bahwa semuanya ada dalam kehidupan meski seringkali kita lupa bahwa ternyata kita memilikinya, cinta. Tanpa harus terpesona dengan seseorang dan menjadikannya pacar. Apapun ekspresi cinta itu, akan dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Jadi berani jatuh cinta, berani menanggung resiko. Wallahu a'lam.



Teruntuk teman-teman di Social Rangers: Cinta itu indah, koq!! d^.^b
[ Read More ]

Saudariku… Kuingin Meraih Surga Bersamamu

Posted by Basmah Thariq at 14.39.00 0 comments

Oleh: Ummu Ziyad
Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai kenyataan yang kutemui.
Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.
Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.
Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut? Mulai dari baju, jilbab yang lebar, masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab lagi! Dan… apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?
Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah. Pengetahuan akan surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya. Panas dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.
Maka… hatiku kini pedih… Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, “Di mana jilbabnya?”
Ia menjawab, “Tidak sempat kupakai.”
Aih… waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah… mungkin karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.
Tapi hari ini… kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang pendek pula. Sesak rasanya dada ini. Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya… maka habislah sudah… karena perenungan dan pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali ditunjukkan kepadanya.
Saudariku… kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga kita bertemu di surga kelak…

sumber:
www.muslimah.or.id
[ Read More ]

Rapuh

Posted by Basmah Thariq at 14.10.00 0 comments

Di suatu malam yang hening, aku menemukan secarik kertas yang terburai di antara tumpukan buku. Tulisan yang tertera di sana, mengingatkanku pada satu moment yang membuat jiwa ni muak akan segala aktivitas dalam menghadapi UN. Tak terasa, secarik kertas ini memberikan efek pada tangan ini yang akhirnya mampu menari-nari di atas kertas tersebut.

Perlahan jiwa ini melemah
hingga segala asa yang terpendam nyaris padam
hingga langkahku mulai pupus dan terhapus
khawatir diri ini terhempas dan lepas
karena semuanya nyaris buyar dan memudar

aku rapuh.. ringkih.. nelangsa..
saat langkah kehilangan arah
saat raga melemah dan goyah
saat jiwa yang pernah hidup jadi redup

entah rasa apa yang menggerogotiku
menembus gelapnya ruang
menghentak gelora jiwa
mengguncang segenap asa
entah, ia menerangi atau membakar

kini, ia mulai meradang dan mematikan
membekukan akal, menghempas rasa
jika bukan karenaNya,
kemana kan dibawa sekeping hati ini?

(makassar, 22 Februari 2009)
[ Read More ]

18 Februari 2009

Maaf, Aku Bukan . . .

Posted by Basmah Thariq at 16.14.00 0 comments

Entah alasan apa, kebanyakan orang yang menjumpai saya mengatakan saya orang Jawa. Meskipun pernah merasa tak mempermasalahkan hal tersebut karena memang sudah melekat pada diri saya. Tapi, akhirnya saya merasa lelah dengan anggapan-anggapan tersebut. Sebab saya memang bukan dari Jawa. Yah, berusaha berbaik sangka pada mereka karena sampai detik ini saya belum mampu melebur dengan bahasa daerah asal saya, bugis. Ditambah dengan kesan mereka yang mengatakan bahwa saya itu "Indonesia Banget" dalam berkomunikasi. Tak heran jika setiap pembicaraan saya mengundang senyum atau bahkan tawa yang tertahan karena logat saya yang cenderung asing di pendengaran mereka. Entahlah..

Mencoba untuk beradaptasi pada mereka dengan banyak bertanya jika ada kosa kata yang asing bagi saya meski hal yang sepele. Dan saya akui untuk mempelajarinya butuh waktu lama karena logat saya lebih kental ke Jawa ketimbang ke Bugis. Huft... Walau dengan perlahan saya tetap saja berprinsip "be your self" daripada saya harus melawan keterbatasan. Tapi, tetap saja saya tak menampik untuk mempelajarinya.

Yahh, mungin sikap itulah yang saya tempuh agar saya tetap berada dalam posisi yang seimbang dan melawan keterbatasan. Karena saya harus akui, di tengah keterbatasan ini, selalu yakin bahwa Allah ingin mengembalikan kesadaran saya dengan inginNya. Bahwa Ia ingin memuliakan hambaNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal bagaimana kita mensyukuri segala yang ada dan menjalani segala sesuatu yang telah dirancangNya.

Maha Suci Allah, atas segala nikmat yang terus berhamburan..
[ Read More ]

Padamu, Palestinaku..

Posted by Basmah Thariq at 16.11.00 0 comments

Puisi Anak Palestina

Ayah!!
Kata mereka kau penjahat,
padahal sebenarnya engkau bukan penjahat.
Ayah!!
Mengapa mereka jauhkan aku dirimu,,
mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan untuk menciumku meski hanya sekali.
Atau mengusap air mata ibu,
ibu,,!!
Aku melihat air mata di kelopak matamu setiap pagi.
Apakah palestina tak berhak diberi pengorbanan?
Setiap hari aku bertanya kepada matahari,
ibu,
apakah ayah akan kembali pada suatu hari?
Ataukah dia akan pergi selamanya sampai hari kiamat?
Atau dia akan mengusap air mata ibu yang menetes setiap hari?
Wahai ayah,
dimana engkau?
Ooh, bayi-bayi yang dijajah,
kini telah datang hari raya baru,
setelah hari raya tahun lalu dan bayi barupun lahir setelah bayi yg itu.
Dan para syuhada berguguran setelah gugurnya syahid yang lalu,
sedangkn ayah masih disembunyikan di balik jeruji besi
dalam sel mengerikan yang tak layak dihuni manusia,
mana hari kemenangan dan kehancuran penjara besi itu?
Malulah kalian, malulah kalian!!
Aku ingin ayah pulang..


Dari Sebuah Pesan Singkat
[ Read More ]

Dari Kami yang Tak Ingin Tergantikan

Posted by Basmah Thariq at 16.11.00 0 comments

Laksana makna telah terukir
dalam menghadapi bait-bait kehidupan
dalam menapaki hari demi hari
dalam duri onak yang terbalut
dalam buaian kasih yang terkuak
cukup sudah seribu galau dan rasa

mungkin gampang mengakhiri segalanya
saat kegagalan mengiringi langkah
meski…ada rasa tertinggal di sini
ada sedih bertualang di jiwa
ada pilu yang membuncah di tengah gelaga hati
aku pudar…aku ringkih…

waktu seolah telah berlalu cepat di depanku
seolah jarak yang terpisah menghadirkan kerinduan
cintaku, entah aku menggapainya lagi atau tidak
kuingin bertahan demi cintaNya
menyelimutiku dengan kedamaian
meneguhkanku dengan sesuatu tak terduga
menghapus air mataku dengan kasihNya

Ya… keabadian itu hanya milikNya
tanpa kusadari kini langkahku di penghujung jalan ini
air mataku pun seakan menggugatku
ide yang tak terkaryakan
dan karya yang tertunda adalah saksi bisu bagiku

kucoba atur kembali gerak langkahku
walau kutau sejenak lagi kukan beranjak
namun kuyakin di persimpangan jalan sana
ada jalan yang masih sangat panjang
yang tercipta untukku
demi sebuah asa yang melambung tinggi
demi jannahNya yang kudambakan.

Episode Kurma17
Ada ego yang bersemi ketika langkah tak ingin tergeser
karena bergumul tugas yang belum juga usai
[ Read More ]

Indahnya Ayat-Ayat Al Qur'an

Posted by Basmah Thariq at 15.44.00 0 comments

Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.
Saudaraku,
Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,
Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.
Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.
Saudaraku,
Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.
[ Read More ]

Mari, Lihatlah Diri Kita..

Posted by Basmah Thariq at 15.44.00 0 comments


Sepanjang apapun perjuangan kita di jalan dakwah, kita tidak akan pernah mampu membalas apa yang dakwah ini telah berikan untuk kita.

Pandang diri kita, siapa diri kita sebelum merasakan nikmat hidayah.
Dahulu kita begitu jahil, tapi kini Allah membukakan mata hati kita merasakan indahnya Islam dan nikmatnya iman.

Sadarkah bahwa kita adalah orang-orang beruntung, ukhti?
Meski tak jarang kita merasa sakit, air mata yang terus mengalir, beban terasa menghimpit, tapi sudikah kita menukarnya dengan sesuatu yang tak ada bandingannya dengan surga Allah?
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea