9 Mei 2008

Belajar dari Karakter

Posted by Basmah Thariq at 15.30.00 0 comments

Mata dan telunjuk ini sedang menulusuri baris demi baris seirama pada angket yang telah saya isi beberapa menit yang lalu. Menelaah tentang kepribadian seseorang lewat 40 pertanyaan yang sukses saya jawab dalam waktu singkat yang saya pungut dari meja teman saya.

Siang itu memang tengah menampakkan kegarangan sang mentari. Tapi, tak urung membuat kami kelas XI larut dalam aktivitas masing-masing. Potret inilah yang bisa ditangkap jelang deadline pengumpulan tugas Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang menyeruak di masing-masing kelas XI. Mulai dari bergumulnya lembaran-lembaran questioner atau angket yang tersebar ke pelosok-pelosok Jubel dan pada akhirnya lembaran-lembaran tersebut kembali memadati ruang kelas yang akan di'jenguk' oleh sang pemilik.

Fokus pada kata demi kata, akhirnya mendapati diri ini di posisi koleris kuat dan sanguinis sempurna.

Jika dikatakan koleris kuat, maka ia memiliki kekuatan emosi berbakat pemimpin, dinamis dan aktif, tidak emosional bertindak, tidak mudah patah semangat, bebas dan mandiri, memancarkan keyakinan, dan bisa menjalankan apa saja. Dan disimpulkanlah koleris kuat adalah pribadi yang ekstrovert, pelaku dan optimis.
Sedangkan sanguinis sempurna adalah berkepribadian menarik, suka berbicara, rasa humor yang hebat, emosional dan demonstratif, antusias dan ekspresif, periang dan penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, baik di panggung, lugu dan polos, dan selalu kekanak-anakan. Sehingga jika disimpulkan, maka ia berkepribadian yang ekstrovert, pembicara, dan optimis.

Segala puji bagi Allah! Meski agak tercenung mendapati posisi ini, tapi insya Allah inilah saya. Tapi, saya tidak ingin langsung mengklaim bahwa posisi ini adalah yang terbaik dan menampik posisi lainnya. Ada hikmah dari segala apa yang Allah subhanahu wa ta'ala ciptakan. Dan Dia Maha Mengetahui kondisi hamba-hambaNya. Karena boleh jadi jika saya berada di posisi yang berkarakter melankolis dan phlegmatis, saya tak menyanggupinya. Ada banyak hal yang sering saya jumpai dalam kehidupan ini. Saat seseorang pada posisi melankolis dan phlegmatis, mungkin ia sangat berbeda dengan orang yang berkarakter koleris dan sanguinis. Ia yang cenderung di balik layar memiliki cara sendiri dalam menghadapi masalah. Berbeda dengan karakter koleris dan sanguinis yang cenderung tampak di panggung kehidupan.

Maka apapun karakter kita, entah pada posisi sanguinis, koleris, melankolis, atau phlegmatis jika dibalut dengan keimanan hakiki, semuanya akan terlihat indah. Itulah yang membuat saya tetap yakin, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala selalu mampu menjadikan saya sadar dengan caraNya sendiri. Dan rasa syukur kepadaNya semakin mengkristal karena Allah memuliakan hambaNya sebagai khalifah dan Dia begitu siap memberikan kelebihan dan kekurangannya pada tiap karakter-karakter tersebut agar kita satu sama lain tetap eksis memaksimalkan dalam memainkan hidup di bumi Allah subhanahu wa ta'ala. Alhamdulillah 'alaa kulli haal..

Apapun itu, menjadi diri sendiri dengan kelebihan dan kekurangan yang telah terporsi tidak menghalangi diri-diri ini untuk semakin banyak belajar hal tentang tidak merendahkan diri sendiri. Tentunya semakin banyak bersyukur atas segala yang Allah ta'ala berikan pada kita, bahwa Dia tidak pernah luput dalam membagi rezekiNya.

[pada KTI yang tak kunjung usai, semangat!!]
[ Read More ]

Cinta dalam Islam

Posted by Basmah Thariq at 15.20.00 0 comments

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.
[ Read More ]

Makna dalam Himpunan Kata

Posted by Basmah Thariq at 15.13.00 0 comments


"Saat kau mencoba menulis surat cinta dengan segenap hati kau ungkapkan semua perasaanmu.
Ketika surat itu telah selesai kau tulis dan kau kemas sedemikian rupa, kau kirimkan kepadanya dengan harapan yang tentu saja menyenangkan.
Namun ketika surat itu sampai ke orang yang kau tujukan, surat itu sama sekali tak ia sentuh! Bahkan ia buang tanpa sempat membacanya.

Lalu, bagaimana perasaanmu saat mengetahuinya?

Sama halnya dengan Al Qur'an yang Allah buat dengan segenap hatiNya, yang Ia kirimkan untuk seluruh umat yang Ia cintai.
Namun apa yang diperbuat oleh sebagin besar umatNya?
Dan bagaimana yang Allah rasakn akan hal itu?
Yang Dia rasakan adalah sama sepert kita membuat surat cinta itu.

Karena Al Qur'an yang Ia buat adalah surat cinta untuk umatNya."

Mencoba kembali mencerna dari himpunan kata bermakna ini. Tanpa disadari, terkadang banyak orang dan mungkin termasuk saya yang lebih mengutamakan perasaan orang lain tanpa tahu perasaan Sang Pemilik Hati. Rasanya, hati ini lebih dahulu berkelit dan resah ketika ada hal-hal yang tak sesuai dengan hati manusia. Lalu, kita begitu mudah mengabaikan dan melupakan bahwa "ada" yang lebih "peka" dengan perasaan.

Untuk kesekiankalinya, saya telah dibuat geger oleh beberapa pesan singkat yang serupa seperti di atas. Dan yang masih terekam dalam memori saya adalah tentang seseorang yang juga adik kelas saya, yang rela tercabik perasaannya karena ketidak ridhanya manusia terhadap dirinya daripada ia harus mencabik perasaan Allah.

Maha Suci Allah, yang telah mempertemukan saya pada orang-orang yang membuat saya banyak belajar dalam segala hal di setiap kesempatan.

Jazakumullah khairan katsiran untuk semua rekan saya di bumi Allah.
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea