9 Desember 2011

[Tulisan Berantai] PR SMP

Posted by Basmah Thariq at 20.47.00
Bismillahirrahmaanirrahiim… Alhamdulillah, kembali mendapati PR SMP (baca: Pekerjaan Rumah Sekolah Menengah Pertama) yang telah diberikan dari seorang Ibu Guru Maya, untuk kali kedua (Maaf bu Guru, judulnya disamakan saja ya..). Dengan perasaan penasaran sambil menebak-nebak apakah PR ini akan sama dari sebelumnya atau tidak. Karena sesaat setelah mendapati ini, aku berpikir keras tentang masa balutan putih biru itu, yang ternyata akhirnya aku teringat pada potongan cerita yang pernah kuabadikan di sebuah buku bernama My Princess Diary. Tulisan bebas di masa lalu. ( ‾.‾)-σ ~Ya.. ya.. Toh, menuliskannya hanya bagian refleksi tentang masa yang memang tak bisa dilupakan begitu saja. n_n
Masih seperti masa SD, kisah di Sekolah Indonesia Jeddah masih berlanjut dengan cerita yang lebih me-remaja. Sekolah dengan sejuta pesona (~hah?) dan harapan anak bangsa yang terlahir dan hidup di negeri orang yang mengantarkan pada banyak cerita yang mengganjal pikiran, menggerus-gerus perasaan atau lebih tepatnya merasuki emosi gembira sampai akhirnya bungkam dan terdiam sendiri. Di sana, ada cerita perih yang masih tersisakan di saat balutan putih biru di SIJ ini harus berakhir di luar kadarku. Yah, aku harus kembali ke negeri yang tak begitu ku kenal sebelumnya, Indonesia, tiga bulan jelang UN. Betapa masa yang harus berjuang keras untuk mengalami perubahan yang baru. T_T hiks…
Berikut, PR ini ternyata akan mengobrak-abrik memoriku tentang kenangan berharga di masa silam itu, putih biru:
1.      Kejayaanku = Kejahilanku
Suatu hari, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tengah berlangsung, guruku sedang keluar beberapa menit untuk mengambil sesuatu di ruang guru. Setelah tugasku benar-benar selesai, dan bosan menunggu guruku kembali, aku pun menjalankan aksi jahilku.
Aku membalikkan badan, demi orang yang menjadi target kejahilanku. Membidik seseorang yang berjarak tiga bangku di belakang sebelah kiriku. Sosoknya yang membuat senyumku semakin mengembang. Rupanya, ia, tengah menjahili teman sebangkunya.
“Pst, Willy!!” Panggilku setengah berbisik. Merasa namanya terpanggil, ia menghentikan kejahilannya bersama rekan sebelahnya.
“Ada apa, Bas?” Tanyanya dengan wajah polos sambil mendapat pukulan ringan dari teman sebangkunya sebagai balasan keisengannya tadi.
Sambil tersenyum melihatnya, “Eh Wil, lo kan kemarin ngsh!@#*$%)^?” Sengaja, di akhir kalimat tanyaku dibuat tidak jelas.
“Apa lo bilang, Bas? Gak kedengeran nih!” Jawabnya sesuai harapanku. Sepertinya ia berharap aku mengulangi pertanyaanku.
“Gak jadi, deh!” Balasku menggeleng sambil melirik ke sosok yang duduk tepat di depan Willy. Yah, target kedua. Bisikku senang.
“Hey, Lid!” Kali ini, aku memanggil si Khalid yang sedang sibuk menggambar. Seperti kebiasaanya, sangat menggemari manga.
“Ya, ada apa, Bas?” Ia pun ternyata menghentikan aktivitasnya demi panggilan yang sebenarnya tidak penting ini.
“Lid, kemarin lo kan yang  ngsh!@#*$%)^? ” Tanyaku berwajah sok serius.
“Apa lo bilang, Bas?” Pertanyaan balik yang sesuai dengan harapani ni  pun memang terlontar darinya. Aku kembali tersenyum menang.
“Oh, gak jadi deh kalo gitu. Sorry..” Ujarku, sambil terus menyembunyikan senyum kemenangan. Lalu, mataku mengarah ke tempat duduk yang berada di depan Khalid. Target selanjutnya adalah Nur H. Anak laki-laki dari kedua orangtua yang berbeda kebangsaan ini sepertinya sedang sibuk mensejajarkan mejanya dengan teman sebangkunya.
“Eh, Masri!” Panggilku padanya saat ia sedang berdiri dari tempat duduknya. Masri,  sapaan yang melekat karena ayahnya berwarganegaraan mesir.
“Apa lo?” Sambutnya dengan sangar. Ini dia orang yang begitu giat menjahiliku.
Dengan wajah dibuat santai, aku berusaha untuk ingin menyampaikan hal yang serius.
“Ah, gak. Cuma mau nanya aja.”
“Tanya apa?” Ia pun memperbaiki posisi berdirinya agar bisa menangkap arah bicaraku.
“Lo kemaren kan bilang kalo lo mau  ngsh!@#*$%)^?” Sama dengan Willy dan Khalid, di akhir kalimat tanyaku sengaja dibuat tidak jelas dalam pengucapan dan merendahkan volume. (¬-̮ ¬) Hihi..
“Apa, Bas? Gak kedengeran..”
 “Lo kemaren kan bilang kalo lo mau  ngsh!@#*$%)^Iya kan?” Aku mengulanginya lagi tetap dengan gaya yang sama, untuk meyakinkannya.
“Apa?” Tanyanya kembali dengan nada yang lebih tinggi sambil berusaha melihat wajahku. Ia menganggap kepala teman sebangkunya menghalangi interaksi kami. Hihi..
“Gak jadi, ah!” Jawabku ketus. Aku berpura-pura mengambil pulpen untuk menekuni kembali tugas yang diberikan oleh guruku.
Di luar dugaan, ia beranjak ke papan tulis untuk mengambil dua penghapus papan tulis magnet yang tertempel di sana sambil menepuk-nepuk keduanya.
“Bas, lo bilang apa tadi, hah? Kalo gak, ini ada bedak cantik buat muka lo.” Ancamnya sambil terus menepuk-nepuk kedua penghapus tersebut.
Sebelum ia benar-benar melempar bedak cantiknya ke arah wajahku, aku pun mendahului serangannya dengan melempar sepatu sebelah kiriku. Bruk… Sepatu kiri ku pun melayang ke arahnya yang kemudian ia tangkap begitu cepat. Lalu, ia pun melakukan serangan balik ke arahku dengan melempar sebuah penghapus papan tulis itu yang ternyata lemparannya meleset dan jatuh ke bangkuku.
Wek, gak kena!” Cibirku dan meraih penghapus hasil lemparannya yang kemudian melempar kembali ke arahnya. Di saat aku memungut penghapus tersebut, ia melemparkan sepatu yang ditangkapnya tadi ke arah entah kemana.
“Nih, bedak cantik ini kayaknya lebih pantes di muke lo!” Balasku sambil melemparnya kembali.
“Biarin, yang penting sepatu lo udah ilang..” Ujarnya ysambil memamerkan kedua tangannya yang tak lagi memegang sepatuku. Oh no!
 Aku tak mengacuhkannya lagi meski ia sebenarnya masih ingin membalas seranganku tadi. Dan memilih beranjak ke belakang untuk menelusuri jejak sepatuku.
“Nur, sepatu gue mane?”
“Tauk.. Tadi gue lempar ke belakang.”
Saat menelusuri ke arah bangku Willy, aku terpaku pada kedua sosok berbadan besar di belakangnya. Kedua laki-laki, Opik dan Adik yang sedang bercerita itu duduknya begitu merapat. Saat aku menatapnya dengan lekat keduanya, mereka tetap bercerita dengan memasang wajah dibuat serius. Tapi, aku tidak tertipu dengan gelagat mereka dan akhirnya aku nekat  mengelilingi kedua anak tersebut sambil mengintrogasi.
“Eh, kalian kan yang pasti umpetin sepatu gue? Hayoo.. mane sepatu gue?” Tanyaku dengan galak. #Kepo ~Kelakuan polisi mode On.
Berkat gerakan Opik yang berusaha menghindar dari serentetan tanyaku yang enggan diakui mereka, tiba-tiba saja sepatu yang ternyata mereka apit tadi terjatuh ke lantai. Pada saat aku ingin meraihnya, buru-buru Adik memungutnya dan melemparnya ke arah Jamal yang sedang menuju bangkunya yang berdekatan dengan Khalid. Aku pun bergegas ke arah Jamal untuk menangkap sepatu tersebut. Ternyata usahaku nihil, karena Jamal telah melemparnya ke arah Khalid. Sampai ke arah Khalid, aku yang tak jauh dari Khalid berusaha untuk menangkapnya.
Gubrak (Prang duk tak tak dung tak ~lebay backsounds).. Sebuah suara bangku terbanting menghentakkan kelas. Sepertinya usahaku untuk meraih sepatu dari hasil lemparan Jamal ke arah Khalid cukup kuat yang membuat aku sedikit bersinggungan dengan bangku yang ada di sekitar hingga bangku tersebut terjatuh dengan sukses bersama dengan Khalid yang juga telah berhasil menangkap sepatuku. Ups… (" `З´ )_,/"(>_<'!)
Baru beberapa detik ingin merunduk untuk meraih sepatuku yang sudah dalam genggaman Khalid yang tengah melantai, ia pun tak kehabisan akal untuk menyelamatkan sepatuku dengan melemparnya ke arah Nur yang tengah berdiri di dekatnya juga. Sesampai sepatuku ke arah Nur, aku bergegas mendekat ke arahnya. Dan belum beberapa detik ada di hadapannya untuk merebut kembali sepatuku, ia telah melemparnya kembali ke Khalid.
Sadar dikerjai mereka, aku hanya memasang wajah ngambek di depan Nur dan berbalik ke bangkuku. Nur yang sempat melempar kembali ke arah Khalid, memintanya kembali, ”Eh Lid, si Basmah ngambek tuh, kayaknya. Balikin gih..” Kata Nur kepada Khalid setengah berbisik sambil meminta kembali sepatu tersebut. Khalid pun melempar kembali ke Nur yang kemudian ia mengembalikan sepatu itu.
“Nih, sepatu lo!” Ujarnya sambil melempar ke arahku. Masih dengan wajah ngambek aku menangkapnya dan bergegas mengenakannya. Setelah itu, aku pun tersenyum, “SADOH*!” Kataku kemudian yang membuat teman-teman sekelas tertawa serentak.
“Yes, gue menang!!” Senyumku bangga. (o尸'▽')o尸
(sadoh= Kena tipu!)

2.      Selamatan ala ABG
Karena terbilang terkecil di kelas, maka sapaan “Si Kecil” pun melekat pada diriku. Sampai pada masa akil baligh telah dialami pada teman-teman perempuanku, hanya aku seorang yang belum. Hal itu, membuat banyak teman laki-lakiku begitu senang bermain denganku. Pernah di suatu hari, saat usai olahraga, dan melepas jilbab karena kepanasan, teman-teman laki-lakiku langsung membelaku di saat teman-teman yang perempuan berusaha menutupi mahkotaku. “Gak papa kalo dia gak pake jilbab. Kan dia belum baligh.” Hahaha.. (o尸'▽')o尸
Hingga akhirnya, di saat aku telah mencapai masa yang cukup matang (baca: akil baligh), tak seorang pun kuberitahu selain kedua sahabatku yang juga menjadi teman sebangkuku. Rasanya, tak bisa disembunyikan lama-lama, karena tepatnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang berlangsung selama 2 jam: satu jam pertamanya dihabiskan untuk mengaji dan satu jam terakhirnya materi, akhirnya menguak sebuah cerita baru.
Pagi itu, satu jam pertamanya, kami sedang ujian mengaji. Dan bagi perempuan yang sedang tak shalat tidak masuk dalam hitungan alias akan mengikuti ujian susulan. Aku yang berada di nomor urutan absen ke-11 merasa khawatir jika namaku disebutkan.
“Eh, Nu.. Apa gue tetep ngaji aja ya? Biar gak ketahuan ma yang laen?” Bisikku pada sahabatku yang duduk bersebelahan.
“Mending lo bilang aja ma Pak Syihab. Kalo lo sekarang lagi dapet..” Sarannya balas berbisik. “Lagian kan gak boleh kalo lagi dapet terus ngaji. Apalagi megang Al Qur’an..” Sambungnya lagi yang semakin menambah detak jantungku.
Suasana kelas yang begitu hening karena harus menyimak ketika ada yang mengaji di depan kelas, membuatku semakin gugup. Dan pada saat namaku disebutkan oleh Pak Syihab, guru Agamaku, aku pura-pura tak merespon.
“Basmah hadir kan?” Tanya beliau sambil mencari tempat dudukku. Rasanya saat itu benar-benar ingin mengecil seperti semut agar beliau benar-benar tak melihatku. Tapi, keinginan itu tak mungkin terjadi, sebab aku sudah tertangkap basah oleh penglihatan beliau yang terbantu oleh kacamata minusnya. “Basmah, kenapa gak maju?” Tanyanya lagi di tempat dengan menambahkan nada suaranya. Mungkin beliau berpikir bahwa aku tak mendengar panggilannya tersebut.
(ˇ_ˇ'!l) Hh… Bismillah, dengan pelan, aku menggelengkan pelan, begitu pelan dan sangat pelan, sebagai tanda bahwa aku akan ikut ujian mengaji susulan. Sontak, gelengan pelan itu memecah keheningan pagi dalam kelas.
“Horeee, ada yang ABG nih!” Teriak teman-temanku yang laki-laki.
“Yeah, dia udah dapat! Alhamdulillaaah…”
“Wah, selamat ya.. selamat ya.. akhirnya lo udah gede juga! Kirain bakal kecil terus..”
Seribu satu ucapan lainnya yang membuatku tertekuk di tempat. Kelas serasa gempar dalam beberapa menit.
Ditambah dengan teman duduk di belakangku, si Zizi yang terus mengguncang-guncangkan tubuhku heboh. “Basmaaaaah, akhirnya udah jadi orang yang setia..” ¬,¬" ~ngeek!!
Dan kertas surat-surat membanjiri bangkuku dari teman-teman lainnya yang tak sempat meraihku hanya untuk ungkapan “Selamat ya, Bas! Akhirnya udah gede juga..”
Ya Allah, antara haru dan malu merekah di wajah yang begitu tak kuasa dengan reaksi mereka.
“Heh… heh.. kok malah ribuut?” Akhirnya, Pak Syihab pun angkat suara.
“Dari tadi kek Pak, pasti gak heboh gini..” Batinku sedikit kesal setelah mendapat serentetan kicauan teman-teman.
“Kok yang beginian diributin? Yak, selanjutnya yang ngaji…..” Kelas pun kembali hening setelah beberapa saat Pak Syihab menyebut nama urutan setelahku.
Dan kehebohan berlanjut pada saat istirahat kedua, saat shalat dzuhur berjama'ah. Teman-temanku semakin riang berkicau ketika masih mendapatiku di kelas. Ya, aku terbilang tak pernah alpa dalam shalat dan akan bersikeras menegur teman-teman yang masih ada di dalam kelas jika waktu shalat tiba.
Keesokan harinya, pada saat istirahat kedua, aku tak ingin lagi mendekam di kelas.  Akhirnya, memilih keluar kelas dan duduk di tempat ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya kelas 1 dan 2 SD yang pulang. Di sini aman.. Pikirku. ~(‾▿‾~)(~‾▿‾)~
“Basmaaah, selamat yaaa.. Akhirnya udah gede juga.” Sebuah suara tak jauh dari tempat duduk mengagetkan ketenanganku. Tak perlu mencarinya, sebab sumber suara itu datang dari sosok separuh baya yang datang menghampiriku dengan senyum ramahnya. Oh, mamanya Zizi.
Aku pun langsung menyalalminya karena merasa tak enak hati dan kaget setengah mati dengan kalimatnya tadi. “Iya, makasih, tante..” Jawabku kikuk. 
“Iya, ini Basmah baru gede lho!” Lapor mamanya Zizi pada ibu-ibu yang sejak tadi duduk-duduk di sebelahku. “Kemaren si Zizi cerita, katanya kelas ampe heboh ya.. Alhamdulillah udah gede juga ternyata si Basmah.. Tante pikir, Basmah bakalan kecil terus.. Salam juga, buat mama di rumah ya..”
Aku tersipu..
Gara-garanya, aku malah kebanjiran selamatan dan salaman dari para ibu yang duduk disitu. Niatnya ingin menyelamatkan diri dari kejahilan teman-teman, eh malah dapat juga dari para ibu. Ckckck.. Masya Allah!!

3.      Perpisahan itu, Cukup…
Hanya tersisa 3 bulan saja untuk UN SMP, aku harus kembali ke Indonesia yang begitu tiba-tiba. Dan sengaja tidak memberitakannya kepada teman-teman karena pada saat itu aktivitas yang beruntun seperti study tour ke Madinah, umrah bersama, bimbel, dan lainnya akan menyita rasa karena larut dengan berita yang tak ingin terusik itu.
Kabar itu pun berhembus di hari dimana aku dan adikku datang ke sekolah bersama ayah, tepat pada hari Selasa waktu istirahat pertama. Teman-temanku sempat mengira hari itu aku tidak masuk lagi ke sekolah karena sakitku kambuh, setelah beberapa waktu lalunya aku memang sempat drop dan dirawat inap di RS setempat seusai melaksanakan umrah bersama sekolah. “Gue baik-baik aja kok.. Insya Allah gue bakal ke sekolah kok.. Tapi agak siangan..” Balasku melalui pesan singkat yang sejak pagi masuk beruntun menanyakan kabarku.
Baru turun dari mobil dan melenggangkan kaki menuju gerbang sekolah, tangisku pecah seketika saat mendapati guru bahasa Indonesiaku, yang seharusnya aku temui di pagi hari jika aku masuk tadi. Seusai ayah menyapa guruku itu, beliau berlalu begitu saja meninggalkanku yang menangis dipelukan guruku. Tanpa kata, aku hanya membahasakannya dengan air mata, bahwa sebenarnya aku masih sangat ingin di sini. Beliau pun memahamiku, dan menyarankanku untuk segera masuk dan menemui semua guru dan teman-temanku. Dengan terus membawa mataku yang sembab, aku memasuki area sekolah yang telah bertahun-tahun membelajarkanku.
Setelah berpamitan pada seluruh penghuni kelas dari TK sampai SMA, guru-guru, teman-teman, adik-adik dan kakak-kakak, serta tak melupakan ibu-ibu yang ada di sana, aku bak seleb yang tiba-tiba langsung naik daun.  ~Huaah!!
Berburu ingin foto bersama denganku, dan memberi beberapa hadiah dan surat yang mereka buat begitu mendadak. Terima kasih semuanya, gue gak bakal pernah ngelupain kalian.. :D “Jangan lupa bertele-tele (baca: telepon) ya kalo udah di ina.. ” Pesan seorang kakak kelasku.
Sambil menunggu surat pindah ditandatangani oleh kepala sekolah, aku mendapat banyak yang gratis, termasuk makanan di kantin. “Mau makan apa ,Basmah? Tante kasih gratis, deh! Jangan lupa Ntar mampir ke rumah juga ya.. Tante bakal kasih empek-empek,.” Ujar ibu kantin asal Palembang ini dengan ramah.
Yah, perpisahan itu begitu cukup. Cukup memberi ketegangan ruang hati untuk menerima semuanya dengan lapang. Cukup menguras perasaan. Cukup merenggut pikiran. Dan cukup membuatku Allah mencukupkan segala sesuatu apa yang aku butuhkan. Bagiku, tak ada penyesalan untuk membuatku cukup. Hanya cukup bersedih sesaat, dan cukup memasang senyum untuk selamanya. ( ˘⌣˘)( ˆ⌣ˆ)
Terima kasih Allah, atas cerita ini. Dan aku hanya ingin tetap tersenyum melewati setiap masa yang begitu indah Kau sajikan.

Wal hamdulillahi rabbil ‘alamiiin… Ibu Guru Maya, aku hanya bisa menyajikan tiga cerita, karena sebenarnya agak shock pada saat tersadarkan oleh ketiga cerita ini yang begitu panjaaaaaang. Khawatir pembaca bosan membaca tulisanku. Gomen ne, Maya Sensei!! ^^

12 comments

10 Desember 2011 00.45

selamat ya... (udah selesai ^__^)

10 Desember 2011 11.19

keren..

10 Desember 2011 18.08

masya Allah.. keren hai bianglala.. :D

11 Desember 2011 02.02

ahahaa...lucu baca kisah SMP mb basmah...wkwkw
jadi penasaran sama bu maya nih...
nanti kalo ketemu salam dari saya ya mbak...hahahaa..#ngarang...

11 Desember 2011 06.38

bismillah

bu guru datang :)

hmm hmm hmm... tahu tidak bas, aku pakai hp loh :) hahahaha *gak penting ya

kita mulai saja ya ;)

*Ya Allah.. usil sekali =)) hahaha mana semua yang diusilin anak2 cowok.. eh Bas, lo kan yang ngsh!@#$%^&? mantaaappp~

*hahahaha :D heboh sekali.. basmah sudah abg =D hahaha... Ya Allah.. lepas dari macan masuk ke sarang harimau :p dan ternyata ibu-ibu lebih ganas, hahahaha

*hiks.. perpisahan memang sedih bas.. aku juga mengalaminya berkali2 karena sekolahku nomaden (T__T)

\(^-^)/
MasyaAllah...
PR yang sangat cantik sekali <3
Luar biasa :)

------------------------
penilaian :
A

Alasan :
A+

tertanda,
bu guru

11 Desember 2011 06.40

eh rupanya ada yang minta salam :)
salam ukhuwah ya nick ^^

11 Desember 2011 06.58

karena prestasi yang sangat gemilang :)

basmah dapat PR lagi, huahahahaha

dikerjakan ya :)
http://nurmayantizain.blogspot.com/2011/12/tulisan-berantai-11-11-11.html

14 Desember 2011 22.35

@d'Anonim™ :D Selamat apa nih? Semoga selamat yg lain..

14 Desember 2011 22.38

@Jingga Hm.. Jinggaku, daun cintaku.. Kenapa baru menunjukkan identitas? Sy benar-benar baru tau.. :( #telat

14 Desember 2011 22.44

@Nick Salsabiila Yah, namanya juga cerita SMP, masih anak-anak.. :D ~sekarang berlagak dewasa.

14 Desember 2011 22.47

@Nurmayanti Zain Haha... uu yeah.. alhamdulillah dapat nilai bagus.. O.o gak sia-sia bisa ngerjain org d masa lalu ~hah?
Iya, kk.. heboh skali selamatannya... untunng gak bikin acara syukuran..
Yes, dpt PR lagi.. ~senangnya.. :D

24 Desember 2011 22.15

@Alkhansa Humaira Jiahaha.. Jazakillah adindaku.. :))

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea