31 Juli 2010

Andaikan Kita Bukan Aktivis

Posted by Basmah Thariq at 17.48.00 0 comments

Andaikan kitabukan aktivis, mungkin kita telah bebas berekspresi dan berkreasi tanpa batas.
Andaikan kita bukan aktivis, mungkin kita adalah pasifis yang setiap hari hanya bisa meringi, terkikis oleh moleknya dunia yang semakin lama semakin tragis.
Andaikan kita bukan aktivis, tak akan mungkin kita bisa menangis haru teringat syurga yang hanya mampu terdefinisi oleh padatnya perjuangan.
Tapi, hari ini kita adalah aktivis, yang siap menghadapi pahit getirnya makna sebuah perjuangan itu.
kita harus bertahan dan pantang mundur!
Karena akan ada puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan orang yang siap menggantikan posisi kita.

Ya Rabbi.. jaga keimanan kami agar tetap aktif dan dinamis hingga amal sholeh senantiasa mengiringi perjuangan ini. UntukMu ya Allah segala muara tanya.. Semoga tetap istiqamah di jalanNya hingga ketetapanNya berlaku... Amiin ya Rabbal 'alamiin.
[ Read More ]

Cordova, Mutiara yang Hilang

Posted by Basmah Thariq at 17.32.00 2 comments


Malam itu sesampai di Cordoba, kota bagian selatan negeri Spanyol, ada kehangatan yang menyelinap dalam hatiku. Alhamdulillah, akhirnya kutapakkan juga kakiku di ibu kota negeri Spanyol semasa kejayaan Islam beberapa abad silam. Rasanya tak sabar lagi ingin segera berlari menuju masjid Agung yang begitu sering kulihat dalam buku arsitektur. Sambil menikmati keheningan malam, kuayunkan kakiku menuju Youth Hostel di Plaza Judi Levi. Terbayang kembali cerita ayahku sewaktu kecil tentang kejayaan Islam di Andalusia pada masa lampau.
Tidurku pun tak nyenyak malam itu. Tak sabar menunggu pagi agar dapat kulepas kerinduan akan La Mesquita (Masjid Agung). Masih jelas di pelupuk mataku, kemegahan istana Alhambra di Granada serta keagungan madrasah-madrasah tua di Marroko, yang kukunjungi sepekan berselang. Mungkinkah kejayaan Islam di Barat bangkit kembali? Seraya merenung aku pun terlelap.
Keesokan harinya, kumulai petualanganku di kota Cordoba dengan melangkahkan kaki di sekitar Judi Levi, yang merupakan pemukiman kaum Yahudi di masa lalu. Tak lama kemudian sampailah aku di depan La Mezquita Cathedral. Hatikupun terasa berdebar-debar saat menunggu antrian panjang para pengunjung.
Sesampai di dalam interior Masjid Agung itu, aku begitu terkesima dengan ukurannya yang sangat luas. Walaupun kolom dan tiang dari masjid itu bukanlah pemandangan yang asing lagi di mataku. Namun, aku begitu terpesona akan keagungan masjid tersebut. Subhanallah! Tak heran jika masjid itu pernah dijuluki “the largest mosque in the Islamic World after Makkah.”
La Mezquita pertama kali dibangun di atas reruntuhan Visigothic Temple oleh Abdul Rahman I pada tahun 784-786. Yang kemudian diselesaikan oleh putra mahkotanya, Hisham I dengan menambah menara sebagai bagian dari masjid. Selanjutnya Abdul rahman III mengadakan perluasan pertama kali terhadap masjid Agung itu, sehingga mendekati sungai Guadalquivir sekitar tahun 833-852. Ekspansi kedua, berkisar tahun 961-976, dilaksanakan oleh oleh Al Hakam II dengan menambah kubah dan mihrab yang memisahkan area masqura dari keseluruhan dari bagian masjid. Namun, pada tahun 987, Al Manshur akhirnya memperlebar masjid itu sehingga tidak lagi mengikuti secara tradisional. Masjid itu berukuran total 190x140 meter yang sepertiga bagiannya merupakan taman indah yang ditanami pepohonan orange. Maka sudah sewajarnya jika masjid itu merupakan masjid tercantik pada masanya.
Dalam bangunan itu, terdapat 19 arcade dari timur ke barat dan 31 dari utara ke selatan serta 1293 kolom dan tiang yang menopang, dilengkapi pila oleh 4 buah kolam dengan pancuran air pegunungan sebagai tempat berwudhu serta 21 pintu gerbang yang menjadi saksi bisu para mu’abad di saat itu. Di bagian barat masjid, dibangun tempat penginapan bagi para musafir dan fakir miskin dilengkapi dengan jamuan dari penduduk Cordoba yang terkenal sangat ramah-ramah. Maka tak heran jika berdiri di tengah kemegahan masjid itu lamunan pun akan melayang jauh ke masa kejayaan muslim Spanyol ketika itu. Wallaahu a’lam.
Pada abad ke 10 Cordoba, sebagai ibu kota Al Andalus saat itu , sangat terkenal dengan sebutan “The Jewel of The Word.” Raja-raja Eropa, yang masih but abaca dan tulis, senantiasa mengirimkan putra-putra mahkota mereka untuk menuntut ilmu kepada para cendikiawan dan ilmuan muslim dari Cordoba dan Taledo, sebuah kota di dekat Madrid. Tentunya saat itu setiap orang diharuskan mengenal bahasa Arab, yang merupakan bahasa kaum terpelajar sepanjang Dar-al-Islam. Pada zaman di mana Eropa masih dalam kegelapan, Cordoba telah melahirkan pemikir yang tidak sedikit pengaruhnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern. Beberapa di antaranya adalah Ibnu Sina ahli kedokteran dan biologi, Al Khwarizmi pencetus ilmu aljabar dan logaritma, Ibn Rushd ahli filsafat Yng memperkenalkan pemikiran Aristotle kepada bangsa Eropa, Abu Kasim Khalaf seorang dokter ahli bedah, Ibn Zorh seorang ahli kedokteran dan bedah, Ibn Beytar ahli botani dan obat-obatan, dan tentunya Maimonides seorang dokter Yahudi yang juga ahli filsafat. Singkatnya, di Cordobalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, fisika, biologi, matematika, geografi serta filsafat dan seni tumbuh dan berkembang dengan suburnya. Yakni masa dimana ilmu pengetahuan mencapai puncaknya di dunia Barat. Hal ini terjadi jauh sebelum era Renaissance (pencerahan) timbul di Eropa.
Dalam abad lamanya kehadiran Muslim-Arab di Spanyol tak jarang terabaikan dalam catatan sejarah dunia Barat. Walaupun sangat banyak sumbangan dan pengaruhnya terhadap kemajuan dunia dewasa ini. Keruntuhan Islam di Andalusia dengan “Inquisista” telah luka yang teramat dalam sepanjang sejarah perjuangan Islam. Saat itulah kaum muslimin diusir serta dimusnahkan dari negeri Spanyol untuk selama-lamanya. Masjid pun berganti menjadi Cathedral, seruan Allahu Akbar berubah menjadi “Ave Maria.” Kemenangan kerajaan Katolik oleh Ferdinand dan Isabella ditandai dengan berlayarnya Christoper Columbus menuju “The New Word” pada tahun 1492 dengan semboyan “Gold, Gospel, and Glory.”
Dalam hati aku berfikir, andaikan kejayaan Islam tak mampu dijatuhkan oleh kekuasaan Barat saat itu, tentunya kita semua takkan pernah merasakan era kolonialisasi yang membawa penderitaan bagi seluruh umat Islam. Wallahu a’lam bish shawab! Namun, semua itu tentu ada hikmanya dan bukankah pengalaman sejarah merupakan pelajaran paling berharga bagi kehidupan manusia?
Seraya berkhayal akan kebangkitan kembali kejayaan Islam di dunia, pesawat pun mulai bergerak. Kulemparkan pandangan keluar jendela, sambil tersenyum kuberbisik, “Selamat tinggal negeri Spanyol, selamat tinggal sisa-sisa kejayaan Islam.” (File Tahun 2002)
[ Read More ]

28 Juli 2010

انا واخي

Posted by Basmah Thariq at 13.58.00 0 comments

انا واخي واخي واخي
شوق يدفعني لاراها
امي ذكري لا انسي ها
طيف انقي
من زبد الايام ابقي
امي امي امي


هماستها احلي من ناي سكنت قلبي
كلمتها باتت نجواي
تضيء دربي


لاتنس اخاك ترعاه يداك
لا تنس اخاك


لوسرقت منا الايام
قلبا معطاء بسام
لن تستسلم للالام
لن تستسلم للالام


لاتنس اخاك ترعاه يداك
لا تنس اخاك


[spacetoon.com]
^^v hm..
[ Read More ]

27 Juli 2010

Hening Tercipta

Posted by Basmah Thariq at 18.01.00 0 comments

Kupandangi langit biru yang cerah nan megah. Saat ia sempat beberapa kali berubah kelabu karena inginNya. Dan awan-awan yang berhiaskannya mengantar pada kedamaian angin. Sejuk. Atau tiba-tiba gerimis tipis mengantar irama indah mengetuk hati yang kaku. Sesekali berharap sepasang roda terbang melintas menyapa di atas sana. Menggugat lelah yang membuat tersungkur seorang diri. Yah, saat rona fikirku singgah di titik nol, hanya mendapati kertas putih tak tergores sedikitpun. Ada hening tak bergeming yang tertumbuk di sana. Membisu, menyaksikan tumpukan kisah yang hanya bisa terpendam. Hingga kurangkai kata, "Bisa bantu aku mengurainya?"




Di tengah gemuruh detak jantung.. Rindu yang tak terperi, ukhti..
To: Tri Aminah ^^v [Uhibbuki fillah..]
[ Read More ]

22 Juli 2010

Wanita Itu..

Posted by Basmah Thariq at 09.03.00 0 comments
Bukan dari tulang ubun-ubun seorang wanita dicipta, sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja. Tak juga dari tulang kaki, karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak. Tetapi dari tulang rusuk kiri karena dekat di hati untuk dicintai dan dekat ke tangan untuk dilindungi.
Subhanallah..


To: Sepupuku yang jauh di sana,
jazakillah khaer SMSnya..
Dan barakallaahu fiiki yang telah menembus UI..
n_n

Kapan kita bisa bertemu?
[ Read More ]

21 Juli 2010

Sudah Siapkah Kita?

Posted by Basmah Thariq at 19.43.00 0 comments
Raga, sudah siapkah dirimu menghadap Dia?

Terkadang kita terlalu khawatir karena ketidaksiapan kita akan nafas terakhir. Tapi, kita tidak pernah menyelesaikan kelalaian padaNya.
Padahal, Allah muara segalanya. Di saat sekarang tangan ini belum menggenggam bekal, manfaatkanlah waktu diri mencari ilmuNya untuk beramal.
Karena hari-hari yang dilalui hanyalah hari-hari persiapan untuk berpisah dengan orang yang kita cintai.

Semoga menjadi nasehat untukku dan untukmu..
[ Read More ]

20 Juli 2010

Akibat Kurang Minum Air

Posted by Basmah Thariq at 12.39.00 1 comments

Sebenernya kenapa sih kita harus minum air putih banyak-banyak? Sebenarnya jawabannya cukup “mengerikan” tapi berhubung ini menyangkut kesehatan maka harus dijelaskan sedetil-detilnya dan berikut penjelasannya.
Sekitar 75% tubuh manusia terdiri dari air. Bahkan ada beberapa bagian organ tubuh kita yang memiliki kadar air diatas 75%. Dua komponen tersebut adalah otak dan darah. Otak manusia mengandung komponen air kurang lebih 90%, sementara pada darah terdapat sekitar 95% komponen air .
Manusia normal sedikitnya harus minum 2 liter air sehari atau setara dengan 8 gelas ukuran sedang. Jumlah itu harus ditambah jika anda perokok. Air yang banyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang hilang dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. (proses pengeluaran oleh sel dan kelenjar hasil pengeluaran tersebut berupa getah yang umumnya mengandung hormon)
Lalu apa yang akan terjadi kalo kita minum kurang dari 2 liter sehari? Tentu saja tubuh kita yang canggih ini akan menyesuaikan diri. Lalu bagaimana cara tubuh kita ini menyesuaikan diri dengan keadaan? Tubuh kita akan “menyedot” air dari komponen dan organ tubuh sendiri dan sumber terdekat yang disedot adalah darah.
Darah yang kandungan airnya disedot akan menjadi kental. Pengentalan darah ini menyebabkan peredarannya kurang lancar dibandingkan darah yang mengandung cukup air. Sewaktu darah kental ini melewati ginjal, organ ini harus bekerja sangat keras menyaring darah. Karena saringan pada ginjal (glomerulus) ini sangat halus, maka tidak jarang darah yang kental ini justru merobek glomerulus. Robeknya glomerulus ini akan menyebabkan air seni berwarna kemerahan, tanda dimulainya kebocoran saringan organ ginjal. Bila keadaan seperti ini dibiarkan terus berlanjut, suatu saat anda akan menghabiskan jutaan rupiah setiap minggunya hanya untuk mencuci darah.
Ketika darah yang mengental mengalir melewati otak, perjalanannya akan terhambat. Otak tidak lagi “encer” dan karena sel-sel otak adalah yang paling banyak mengkonsumsi makanan dan oksigen, lambatnya aliran darah akibat pengentalan ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati dan tidak berfungsi lagi. Akibatnya fungsi otak seperti daya ingat, refleks, dan sensitivitas organ indra akan terganggu. Apabila hal ini kemudian ditambah dengan penyakit jantung, maka serangan stroke hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sekarang anda bisa bisa membuat pilihan sendiri, melakukan “investasi” kesehatan dengan cara minum air putih sedikitnya 2 liter per hari, atau kelak “membayar bunga” lewat gagal ginjal atau stroke. Yang manakah pilihan anda?

sumber:
http://kocakgila.com/akibat-kurang-minum-air/

catatan: Bas, jangan malas lagi !!!
[ Read More ]

Mengintip Nakalnya Cinta

Posted by Basmah Thariq at 11.51.00 0 comments

"..Lihatlah dan engkau pun pasti pernah atau bahkan sedang merasakan nakalnya cinta. Ia mengetuk pintu air mata. Jadilah mata berkaca dan tetesan bening pun berlinang menyusurupi pipi. Pun, tak ada tangan lembut yang menyeka.."

***

Kembali pena ini hadirkan tentang cinta karena ia menyusup dalam kehidupan tanpa meminta dan dipinta. Cinta memberikan warna dalam kanvas kehidupan walaupun manusia belum memahami makna kehidupan itu sendiri. Cinta memberi bekas dalam hidup. Kadang bekas itu berupa luka maupun dentuman bahagia. Tanpa sadar harus dan telah memilih, manusia bisa menjadi digdaya atau bahkan gila karena cinta. Maka, bukankah hanya kepada Pemilik dan Penganugerah Cinta lah kita pasrahkan jiwa??


Kenakalan Cinta. . .

Cinta itu nakal. Lincah, pula. Dibuatnya bayi menangis, menjerit dan berteriak hanya untuk menggapai susu sang ibu.

Cinta itu nakal. Lihatlah disana. Betapa banyak anak gadis tersihir rayuan gombal cinta dari lelaki. Betapa banyak anak lelaki ingusan harus berlagak pahlawan di depan wanita yang dicinta. Ia harus tersulap dan bertopeng menjadi laki-laki bijaksana nan arif. Penampilan pun berubah baik dari pakaian, parfum dan gaya berjalan hanya untuk sekedar menepati janji pertemuan dengan si dia.

Sungguh nakal cinta itu. Lihatlah si kaya memiskinkan diri agar meraih kenikmatan sesaat dengan kekasih hati yang tak sah secara syar’i. Lihatlah pula si miskin, ia mengkayakan dirinya agar terlihat “wah” di depan sang pujaan. Para wanita pun dibuat nakal oleh cinta. Jadilah mereka tak bermalu. Jadilah mereka begitu mudah terayu. Jadilah mereka diobral. Secara sadar atau tidak, mereka mengatasnamakan cinta sejati. Mereka rela berkorban segalanya demi pria yang dikasihi.

Nakalnya cinta. Atas namanya lah seorang muda-mudi berzina. Mereka robohkan keimanan dan kehormatan diri.

Aiiiiiiiiiiih..
Karena kenakalan cinta, seorang suami kerap kali berbohong menutupi jati dirinya karena khawatir isterinya akan kecewa. Kekecewaan sang isteri adalah rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Maka tak usah kaget ketika sang isteri baru tahu belakangan sang suami adalah koruptor..

Bisa jadi sang suami yang begitu baik, santun dan penuh kasih itu ternyata seorang berdarah dingin yang bisa membunuh ratusan orang dengan kesadisannya. Demi kebahagiaan sang anak, atas nama cintalah orang tua harus bermaksiat kepada Allah. Jadilah ayah seorang pencuri. Jadilah ia pemakan riba. Jadilah ia pendusta. Jadilah ia menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Aduhai. .

Nakalnya cinta. Ia hadir dan bereaksi dalam jiwa dan membuat letupan-letupan makna yang kerap mengejutkan. Dan jiwa pun tak sadar kapan ia bergemuruh di langit hati. .

Terlalu banyak manusia yang menjadi korban kenakalan cinta. Bertumpuk-tumpuk novel-novel picisan menglamorkan kisah para korban cinta itu dalam adegan-adegan heroik. Padahal siapaun tahu kalau adegan tersebut adalah kecelakaan yang menonjok jiwa sekaligus menumbuhkan dosa.

“dijadikanlah indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)..”[1]


Mendayung Hati di Telaga Cinta Sejati. .

Adalah Allah azza wajalla telah selipkan teori mengakali cinta dalam lengkap, agung dan paripurnanya ajaran islam sebagai risalah langit. Hanya islam lah yang mampu jelmakan cinta menjadi anugerah. Hanya islamlah yang mampu menempatkan cinta pada rel yang sebenarnya.

Untukmu saudaraku,

Untukmu saudariku,

Sekiranya cinta tidak ditundukkan dan di akali maka ia lah yang akan mengakali jiwa yang menjadi tempatnya ber-inang. Setelah itu, ia akan mendikte pikiran. Ia akan membodohi diri. Lalu ia akan menghentakkan anggota badan untuk memperagakan kemaksiatan. Tak lah bisa selanjutnya dibedakan hitam dan putih sehingga menubruk dosa yang mengkaratkan hati.

Menundukkan cinta sama lah artinya dengan membangun ketundukan dengan penuh kepatuhan dan penyerahan diri terhadap Sang Penganugerah cinta itu sendiri. Dialah Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahiem.

Dialah yang menciptakan langit tanpa tiang penyangga. Dialah Allah yang menjadikan malam bertabur gemerlapnya bintang dan memoles langit malam dengan kemuning rembulan. Dialah Allah yang menerbitkan mentari di ufuk timur lalu disambut kicauan burung-burung. Beberapa waktu kemudian datanglah hangatnya waktu dhuha seiring keringnya embun di dedaunan.

Dialah Allah yang membenamkan mentari dengan warna mewah memerah. Telah tiba saatnya hewan-hewan kembali ke sarangya. Telah tiba saatnya adzan berkumandang.
Dialah Allah yang mentakdirkan kemarau datang bertandang. Setelah itu datang lah musim hujan. Allah lah yang menyiramkan air ke bagian permukaan bumi yang Dia kehendaki. Basah lah bumi itu. Dialah Allah yang menguncupkan dedaunan muda dan menghijau sejuk dipandang.

Dialah Allah yang menghembuskan udara yang mengalir diantara langit dan bumi. Sementara burung-burung mengepakkan sayapanya sambil berpurtar-putar di udara. Dialah Allah yang menggerakkan awan menyusuri langit biru.

Dialah Allah yang mengabulkan seluruh do’a hambanya. Dia anugerahkan dan membagikan rizki. Dialah Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang melebihi kasih sayang seorang ibu yang bercucur mata karena begitu cinta kepada sang anak.

Dialah yang menjadikan surga dan kenikmatannya teruntuk orang-orang yang bertauhid dengan benar. Pula Dia sediakan neraka dan adzabnya bagi kaum yang ingkar lagi kufur.

Allah lah pula yang menurunkkan agama yang mulia melalui malaikat yang mulia dengan kitab yang paling mulia kepada seorang manusia yang paling mulia. Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat cinta kepada umatnya. Amat menginginkan kita masuk surga dan terhindar dari adzab neraka. Dialah lelaki yang selalu mencintai dan selalu dicintai.

Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya lah menjadi muaranya cinta. . .



Ada Allah Tempat Adukan Rasa. .

Ibarat koin, cinta itu bermuka dua. Ia bisa mendatangkan bahagia dan pula penghias jiwa. Namun di sisi yang lain, ia bisa guncangkan derita. Kerapkali jiwa dibuatnya merana. Kerap kali ia goreskan luka. Terlalu sering diundangnya duka di hati. Jadilah hati berkarat dosa nan menanggung derita.

Lihatlah dan engkau pun pasti pernah atau bahkan sedang merasakan nakalnya cinta. Ia mengetuk pintu air mata. Jadilah mata berkaca dan tetesan bening pun berlinang menyusurupi pipi. Pun, tak ada tangan lembut yang menyeka.

Namun begitu, ada Allah tempat mengadu. Para pendahulu baik para nabi dan orang-orang shalih pun mengadukan kepada Allah terhadap peliknya masalah yang mereka hadapi. Mengadu yang bukan menggugat namun menumpahkan rasa dan menyemburatkan do’a penuh harap.

Adalah Yusuf ‘alaihissalam mengadukan rasa kepada Allah ketika dia harus digoda seorang wanita cantik dalam ruangan yang tertutup di istana raja. Nakalnya cinta tengah bereaksi hebat. Dan dengan keteguhan imannya, Yusuf ‘alaihissalam pun diselamatkan Allah dari maksiat yang menggoda hati dan menggelorakan nafsu. .

Subahanallah, dialah yang menolong hambanya. Dan memang kepadanya lah meminta pertolongan.

“iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’ien.”
“hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami pinta pertolongan”[2]

Saatnya Mengakali Nakalnya Cinta. . .

Telah tiba saatnya seorang balita harus berhenti diberikan ASI. Namun ketika ia masih ketagihan, seorang ibu harus mengakalinya. Entah harus memolesi jejamuan pahit di [maaf] puting susu atau dengan cara lain agar sang balita sedikit “kapok”.

Begitulah cinta. Harus pula diakali dan disiasati agar tak menguasai dinasti hati..
Kecintaan berlebih terhadap makanan dan minuman harus diakali dengan puasa sehingga tak rakus lagi mengejar nikmat perut semaunya.

Kecintaan berlebih terhadap syahwat akan menggelorakan nafsu. Diakalilah ia dengan menikah atau puasa bujang (shaumul ‘uzzab) bagi yang belum mampu berumah tangga. Lalu melunaklah nafsu yang bergejolak sehingga ia tak berlagak dan merusak. Tak terceburlah diri dalam dosa.


Senarai Harapan. .

Tetaplah berada pada kesadaran bahwa cinta itu sebagai penghias jiwa, bukan menguasai jiwa. Jadikanlah cinta itu indah sesuai dengan ketentuan agama yang mulia. Oleh karena itu, memahami islam dengan benar adalah kunci utamanya. Pelajari lah tauhid agar memebersihkan karat-karat hati.
Jadikanlah cinta sebagai alat memburu kebahagiaan hakiki. Hiasilah hati dengan cinta sejati yaitu cinta yang dikelola agar benar-benar bermuara dan berlabuh syahdu di dermaga cinta-Nya. Maka cinta lain akan tunduk dan mendahului kecintaan kepada Allah.

“pokok-pokok iman yang paling kuat adalah mencintai karena allah dan membenci karena Allah.” [3]

Tak usahlah bersikap jumawa untuk tidak berdo’a dan meminta pertolongan kepada Allah dalam berbagai masalah. Hanya dengan pertolongan Allah lah terselamatkan dari jerat-jerat cinta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Abbas:

“sekiranya engkau hendak pinta pertolongan, pintalah kepada Allah..” [4]


Akhirnyaaaa…
Cintailah siapapun, cintailah apapun selama cinta itu bermakna dan berguna untuk kehidupan dunia maupun kelak dihari kebangkitan. . .

Wallahu a’lam.
Subahanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. .

***

Penulis : Rufaidah Kiky & Fachrian Almer Akiera
Editor : Fachrian Almer Akiera


Footnotes:
[1]. QS. Al-Imran: 14
[2]. QS. Al-Fatihah: 5
[3]. HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, No. 11537; Ibnu Syaibah dalam Al-Iman, hlm. 110, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 1728
[4]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV : 667, oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak III : 623, Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa-id VII : 189 dan Ahmad dalam Musnad-nya I : 293.


[ Read More ]

19 Juli 2010

Membangun Doa

Posted by Basmah Thariq at 20.29.00 0 comments


"Betapa angkuhnya manusia jika ia tak pernah melibatkan Allah dalam hidupnya. Manusia itu tidak bisa apa-apa selain meminta-minta padaNya. Bahkan untuk setiap tarikan napas kita bergantung pada rahmatNya."

Tiba-tiba kata-kata itu hadir dari seseorang pada perjumpaan beberapa waktu lalu di benak. Bukan untuk mengelus, tapi lebih tepatnya menampar perasaan siapapun ia yang begitu sibuk pada kegaduhan-kegaduhan yang menderanya. Jika ada sesuatu yang tak bersambut inginnya, barulah mengangkut puluhan hingga jutaan nyeri, keluh, dan lainnya di hadapanNya.

Hm.. sederhana, memang!! Hanya cukup memanjatkan doa setiap memulai aktifitas kemudian mengayunkan langkah untuk memulai usaha. Tapi, yang menjadi masalah adalah melibatkanNya, DOA!!

Terkadang kegiatan ini disepelekan oleh banyak pihak. Hanya mengandalkan kemampuannya walau sudah dipastikan Allah memberikan suatu keberhasilan tanpa ia meminta. Tapi, sadarkah bahwa setiap langkah itu ada Allah di baliknya?

Dan, akan memulai memanjatkan doa dengan menghadirkan segenap jiwanya jika ada hal-hal yang membuat dirinya terdesak, mentok pada keadaan, merasa K.O, dll. Hingga kegiatan spritual yang telah lama hengkang dari kehidupannya mulai digulirkan kembali. Seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, atau shalat sunnah lainnya. Mungkin sampai puasa Senin-Kamis kembali diaktifkan. Sangat fenomenal, jika suatu yang diinginnya telah direnggut, kegiatan spritual pun ditinggalnya. Adakah kita termasuk di dalamnya?

Ah... Betapa naifnya diri kita. Padahal Allah membentang tanganNya setiap saat bagi hamba-hamba yang meminta. Tapi, kadangkala kita akan menyadari "kebutuhan" tersebut saat menerima sekelumit masalah. Ampuni hambaMu, ya Rabbi..

Lagi-lagi pertemuan sejenak tersebut mengajari saya tentang kebutuhan kita sebagai makhlukNya. Saat hari ini menemui lagi rasa sedih, saya berucap pelan, "Ya Allah, jangan biarkan langkahku kehilangan jejakMu walau sedetik."
[ Read More ]

18 Juli 2010

Jadilah Sang Pendidik

Posted by Basmah Thariq at 10.23.00 0 comments

Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya. Hal tersebut membuat pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, yang tidak dapat diremehkan dan dipandang sebelah mata. Bagi pendidik yang ikhlas dan menjadikan tugas tersebut sebagai ladang amal maka pahala dari Allah telah menanti. Akan tetapi akankah seorang pendidik akan selalu mulus dan tanpa rintangan dalam melaksanakan tugasnya tersebut??? Tentu jawabnya tidak.
Lika-liku sebagai pendidik harus dilalui, karena pendidik tidak hanya menghadapi satu orang saja, namun bisa puluhan orang. Tidak hanya anak didik saja yang harus pendidik hadapi, begitu juga orang tua anak didik. Tidak mudah tentunya. Namun mengingat agung perannya seorang pendidik, dapat menjadikan pemicu semangat untuk tidak gentar menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dengan anak didik. Setiap pendidik akan dicoba dengan masalah masing-masing, dan hal tersebut dapat mendewasakan sang pendidik dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat ia mampu berdiri setegar karang, yang mampu menghadapi benturan ombak yang kian membesar. Senyum, tangis, guratan kesedihan maupun kekhawatiran menjadi bumbu bagi pendidik. Senyum dan tawa mengiringi langkah keberhasilan anak didik. Guratan kesedihan maupun kekhawatiran tersimpan hingga terkadang teruraikan air mata bila melihat kemunduran atau bahkan kemerosotan ynag dihadapi anak didik baik dari segi akademik maupun akhlak. Harus bagaimana lagi agar dapat menjadi guru yang pengertian terhadap anak-didik. Harus melakukan apa lagi agar anak didik dapat menjadi lebih baik. Satu masalah terurai dan selesai muncullah masalah yang baru yang harus dihadapi lagi. Seakan-akan masalah tak ada henti-hentinya dari hari ke hari.
Wahai para pendidik bersabarlah, hingga waktu dimana kau menuai pahala akan tiba!
Penulis ini juga belum menjadi pendidik yang baik namun baru berusaha menjadi pendidik yang baik bagi anak didiknya. Tentunya banyak belajar baik dari teori maupun pengalaman bagaimana cara mendidik yang benar dan efektif.Untuk itu salah satu cara adalah pendidik harus cerdik mengetahui hal-hal yang penting dalam mendidik. Hal-hal yang penting tersebut antara lain :
Ikhlas
Pendidik harus memiliki niat yang ikhlas dalam mendidik anak-anak didiknya. Hal tersebut agar membedakan antara niat kebiasaan dan niat ibadah. Jadi tatkala pendidik meniatkan mendidik untuk mencari pahala di sisi Allah, maka akan berbeda jika pendidik tanpa ada niat dihati, pergi pagi pulang siang ke sekolah dan hanya menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas belaka. Dan niat tersebut harus ikhlas, karena niat yang ikhlas adalah bagian terpenting agar tidak menjadi amalan yang kosong. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menempatkan niat di hadist pertama dalam kitab Hadist Arba’in, yang isinya adalah:
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallohu’anhu, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijarhnya karena (Ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijarhnya karena dunia yang dikehendakinya atau kerana wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)
Jauhkan sifat riya‘ dari diri Sang Pendidik. Rasa ingin dipuji karena ketinggian ilmu, rasa ingin di sanjung dengan keahlian yang dimiliki. Wahai para pendidik, ingatlah bahwa kau dapat mengajarkan ilmu yang sekarang kau ajarkan karena menang selangkah. Dalam artian kau lebih dahulu menimba ilmu yang kau berikan sebelum anak didikmu. Mungkin jika kau duduk bersama bersanding dengan anak didikmu, belum tentu kau lebih faham dari mereka. Terbukti banyak sekali anak didik yang ilmunya melebihi ilmu sang guru. Dan juga ingatlah ilmu tersebut berasal dari Allah. Allah yang memahamkan kepadamu.
Ilmu yang kau dapatkan jangan sekedar kau gadaikan demi sesuap nasi
Kau menjadi angkuh dan menilai ketinggian ilmumu dengan rupiah. Waliyyadzubillah. Ingatlah bahwa rizqi adalah dari Allah. Kau dapat pendidikan yang tinggi itu juga rizqi-Nya, kau dapat kecerdasan juga karena rizqi-Nya. Kau faham akan ilmu yang kau pelajari juga karena rizqi-Nya. Dan kau mendapat kesempatan menularkan ilmu kepada yang lain juga tak lepas dari Rizqi-Nya. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Kata yang sangat mudah terucap namun sulit dalam mempraktekkannya. Ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Cek, cek dan cek lagi hati agar tak lepas dari keikhlasan. Bagaimanapun inilah ladang amal yang besar yang tidak boleh disia-siakan. Maka berjuanglah!!!
Keteladanan
Pendidik tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Jika mengajar, setelah bahan ajar disampaikan, sudah lepaslah tanggung jawab, namun jika mendidik adalah lebih menuju ke arah memberikan pemahaman baik segi akademik maupun segi mental anak didiknya. Pendidik akan lebih dihargai dan lebih didengar tatkala ia tidak asal bunyi saja alias asal berbicara (menasehati dan menasehati) namun lebih ke suri teladan. Melihat dengan contoh lebih mudah dipahami oleh anak daripada sekedar mendengar, karena perilaku merupakan cermin berfikirnya. Sebagai contoh yang mudah, tatkala ada kerja bakti kelas, pendidik hanya menyuruh ini itu, sedangkan ia santai melenggang pergi atau hanya mondar-mandir saja, maka akan terjadi protes pada diri anak didik, Karena perintah tersebut tak terwujud dalam tindakan. Mungkin benar bahwa sebagai pendidik adalah yang mengarahkan namun alangkah lebih bagus lagi selagi mengarahkan pendidik juga memberikan contoh. Hal tersebut sepele namun akan benar-benar membekas. Siapa tahu tatkala anak didik menjadi pendidik, ia akan cenderung bersikap sebagaimana pendidik ajarkan dahulu yaitu menjadi jiwa penyuruh tanpa mau meneladani. Bila seorang pendidik benar dalam perkataannya dan dibuktikan dalam perbuatannya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya.
Allah juga telah memperingatkan bagi pendidik yang berbuat berlainan dengan ucapannya, Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)
Disiplin
Menegakkan kedisiplinan berbeda dengan pengekangan. Memang sedikit agak sukar dibedakan, karena begitu banyak aturan yang harus ditegakkan saat menerapkan kedisiplinan. Akan tetapi jika diamati lebi cermat terdapat perbedaan mencolok diantara keduanya, Pengekangan akan sangat merugikan anak didiknya yang akan dirasakan sekarang maupun dilain waktu, namun disiplin akan menimbulkan pengekangan anak didik di awal saja, disaat mereka baru beradaptasi dengan bentuk kedisiplinan tersebut, jika sudah berulang kali melaksanakannya dan biasa maka mereka akan merasakan betapa bermanfaat disiplin tersebut bagi dirinya. Hal yang kecil yang dapat dilakukan, misalnya disiplin masuk kelas, disiplin terhadap peraturan yang ada di kelas atau sekolah.
Islampun telah mengajarkan kedisiplinan yaitu tercermin dalam shalat wajib tepat waktu, tidak boleh mengulur-ulur hingga akhir waktu bahkan keluar dari waktu yang telah ditentukan. Juga disunnahkan untuk mengucapkan salam jika bertemu saudara muslim yang lain, dan wajib untuk menjawabnya.
Amanah Ilmiah
Hal tersebut yang sering sekali terlupa oleh sang pendidik, yaitu amanah ilmiah. Amanah Ilmiah tersebut harus dijalankan disaat memberikan pelajaran, sehingga pelajaran yang dibawakan bukan sekedar asal bunyi belaka. Kadang ada pendidik yang kurang menjalankan amanah ilmiah ini, dengan sekedar mengabarkan tanpa memberikan rujukan-rujukan yang terpercaya, atau bahkan pelajaran hanya diisi dengan cerita pengalaman yang mungkin tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama sekali.
Dapat mengkondisikan kelas
Terkadang tidak semua pendidik mampu mengkondisikan kelas, tidak mampu dalam mengendalikan anak didik, akhirnya target pelajaran tak terkejar, kelas dalam suasana gaduh dan anak didik bersikap semaunya. Tidak dapat dibiarkan, untuk situasi semacam ini pendidik harus pandai memutar otak agar dapat mengendalikan kelas tanpa harus beradu mulut dengan anak didiknya. Memang sulit apalagi jika dalam satu kelas terdiri dari 20 anak lebih, yang masing-masing dari mereka memiliki pemikiran sendiri. Jangan menyerah insyaallaah akan selalu ada jalan bagi pendidik yang sabar dan berpikiran jernih.
Bertindaklah bak seorang pendidik sedang bermain layang-layang
Ibarat ini memiliki arti bahwa pendidik harus mampu menempatkan diri sebagai pemain layang-layang, dan layang-layang tersebut sebagai anak didik. Pendidik harus dapat menarik-ulur layang-layang tersebut, menarik layang-layang dengan artian tatkala anak didik mulai melanggar peraturan atau anak didik mulai tidak mengindahkan nasehat pendidik maka pendidik bisa bersikap tegas namun bukan mendzalimi. Dan mengulur layang-layang artinya tatkala anak didik mulai disiplin, taat kepada aturan yang ada dan bersemangat untuk menuntut ilmu, pendidik dapat memberikan kelemahlembutan namun bukan lemah. Kelemahlembutan misalnya dengan memberi mereka hadiah berupa pujian atau mengadakan kejutan kecil untuk mereka, seperti memberi hadiah buku dsb. Karena Allah pun menyuruh pendidik agar berlemah lembut, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali.” (HR. Muslim 2592)
Jauhilah Mengeluh dan Putus asa
Ingatlah selalu, pahala yang akan diraih. Mengeluh akan membuka pintu setan sehingga pendidik, menyerah sedangkan berputus asa akan dapat memutuskan ladang amalan yang seharusnya pendidik dapatkan. Semangat harus selalu dipupuk tatkala mulai timbul kejenuhan, keruwetan dalam menghadapi lika-liku dalam mendidik.
Dan yang terpenting adalah DOA
Serahkan semua permasalahan kepada Allah, dan Allah lah tempat mengadu. Bisa jadi anak yang semula buruk akan berubah menjadi baik dengan izin Allah karena wasilah dari doa yang pendidik panjatkan. Allah Subhanahu wa Ta’alla berfirman,
” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186)
Bagaimanapun hati manusia ada di antara jari-jari Allah. Sebagaimana hati anak-anak pula yang berada diantara jari-jari Allah, hanya Dia yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya. Adukan semua kepada-Nya, dan memohonlah agar mendapatkan kemudahan.
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lunakkanlah lidahku agar manusia dapat memahami perkataanku.” (QS. Thaahaa: 25-28)
Bersyukurlah karena dalam garis hidup ini ada waktu untuk memberikan ilmu walau sedikit kepada orang lain. Mungkin itulah salah satu cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Baik pelajaran syar’i maupun pelajaran umum bila ilmu tersebut untuk kemajuan agama islam, insyallaah bermanfaat. Semua bisa mengaku sebagai guru namun semua guru belum tentu bisa menjadi pendidik sejati.
Wallahu a’lam bishawab
Penulis : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah
***
[ Read More ]

Apa Makna Wanita Diciptakan dari Tulang Rusuk yang Paling Bengkok?

Posted by Basmah Thariq at 09.52.00 0 comments

Pertanyaan:
Disebutkan dalam sebuah hadits, “Berbuat baiklah kepada wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sedangkan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas,” dst. Mohon penjelasan makna hadits dan makna ‘tulang rusuk yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas’?
Jawaban:
Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim di masing masing kitab Shahih mereka, dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.”
(HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah, saudara saudara laki laki dan lainnya untuk menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, berbuat baik terhadap mereka , tidak mendzalimi mereka dan senantiasa memberikan ha-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam, “Berbuat baiklah kepada wanita.”
Hal ini jangan sampai terhalangi oleh perilaku mereka yang adakalanya bersikap buruk terhadap suaminya dan kerabatnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sebagaimana dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bahwa tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.
Sebagaimana diketahui, bahwa yang paling atas itu adalah yang setelah pangkal rusuk, itulah tulang rusuk yang paling bengkok, itu jelas. Maknanya, pasti dalam kenyataannya ada kebengkokkan dan kekurangan. Karena itulah disebutkan dalam hadits lain dalam ash-Shahihain.

“Aku tidak melihat orang orang yang kurang akal dan kurang agama yang lebih bias menghilangkan akal laki laki yang teguh daripada salah seorang diantara kalian (para wanita).”
(HR. Al Bukhari no 304 dan Muslim no. 80)
Hadits Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam yang disebutkan dalam ash shahihain dari hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Makna “kurang akal” dalam sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam adalah bahwa persaksian dua wanita sebanding dengan persaksian seorang laki laki. Sedangkan makna “kurang agama” dalam sabda beliau adalah bahwa wanita itu kadang selama beberapa hari dan beberapa malam tidak shalat, yaitu ketika sedang haidh dan nifas. Kekurangan ini merupakan ketetapan Allah pada kaum wanita sehingga wanita tidak berdosa dalam hal ini.
Maka hendaknya wanita mengakui hal ini sesuai dengan petunjuk nabi shalallahu ‘alayhi wasallam walaupun ia berilmu dan bertaqwa, karena nabi shalallahu ‘alayhi wasallam tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, tapi berdasar wahyu yang Allah berikan kepadanya, lalu beliau sampaikan kepada ummatnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
(Qs. An-Najm:4)
Sumber:
Majmu Fatawa wa Maqadat Mutanawwi’ah juz 5 hall 300-301, Syaikh Ibn Baaz Fatwa fatwa Terkini Jilid 1 Bab Perlakuan Terhadap Istri penerbit Darul Haq
***
Artikel muslimah.or.id
[ Read More ]

17 Juli 2010

17 Juli, Kali Kesekian

Posted by Basmah Thariq at 18.46.00 0 comments

Inginku sapu segala lelah di hati karena hari-hari yang pernah berdebu ketika tak henti menenun khilaf..
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada saja pesan-pesan masuk memenuhi ponsel biru kesayangan dan wall di facebook. Hh.. ucapan-ucapan itu, bukanlah suatu kebahagiaan yang sering didengungkan banyak orang. Dengan gontai, aku menatap langit, kelabu. Ada rasa ringkih yang mengisi sudut hati. Mengingat perjalanan lalu yang samar-samar karena kenangan yang datang dan pergi.

17 Juli, pertemuan yang kesekian kali. Berapa banyak episode yang telah diperankan. Banyak hal yang baru walau tak sedikit kesabaran yang dihadirkan, tak sedikit air mata yang menemani, dan tak sedikit doa-doa yang terpanjatkan hanya untuk mendapatkan kekuatan agar tetap bertahan atau mampu melanjutkan episode hidup.

Meski selalu kuakui, jiwa ini tertatih-tatih karena ada saja kesia-siaan yang tersaksikan, kemaksiatan yang tampak, dan ada kealpaan yang menyesakkan. Tapi, tetap saja ingin kugenggam erat taqwaMu dengan segenap kemampuan dan keterbatasanku.
[ Read More ]

15 Juli 2010

Memilih atas PilihanNya

Posted by Basmah Thariq at 05.43.00 0 comments


Sedikit demi sedikit, ia mulai mundur dari aktivitas-aktivitas yang pernah menemani hari-harinya. Menghapus beberapa gelar yang pernah menyandangnya untuk memilih atas pilihanNya. Tak peduli, betapa lelahnya untuk meraih prestasi-prestasi itu. Latihan berhari-hari yang bermandikan peluh di tubuhnya. Tak peduli dengan aksi men-drible bola berkali-kali hanya untuk menembus ring basket. Atau, pertahanan bola voli demi angka-angka tercetak. Atau bunyi dentingan musik yang kerap kali dimainkan saat inginnya tak bertepi.

Yah, itu dulu.. Saat spektrum sinar mentari bernama hidayah belum menyinari jalan hidupnya. Itu dulu, saat ia masih saja suka membalut dirinya dengan pakaian laki-laki demi gerakan-gerakan lincahnya di lapangan. Dan itu dulu, saat jemari-jemarinya tak lelah menjentikkan tuts piano yang menciptakan keharmonisan bunyi.

Mungkin orang banyak boleh saja terpikat. Mereka boleh saja takjub dengan aksinya di lapangan. Tapi, tetap saja kesegaran dan keharuman jiwa hanya bisa diraih dari sesuatu yang diridhaiNya.

Sekalipun ia tak pernah terpikat pada pernak-pernik dunia yang menyilaukan wanita pada umumnya. Blush on, eye shadow, lipstick, dan sejenisnya. Atau pada kain-kain yang membalut di tubuh dengan ukuran lebih mini.

Ia hanya melepas kebiasaan yang tak sesuai dengan inginNya. Kini ia memilih kain penutup kepala yang kadang kala mereka katakan "taplak meja". Mungkin karena sepadan dengan taplak meja mereka di rumah. Dan memilih membalut tubuh dengan sempurna. Tak peduli dengan ukuran yang "kedodoran" menurut mereka, atau dengan kaos kaki yang selalu nekat dibasahi saat hujan yang mereka pun protesi.

Yah, sekali lagi melepas untuk memilih yang lain. Tetap digenggam dalam bentuk taqwa. Bukan untuk kebanggaan berekspresi "seorang muslim", tapi dalam pengaplikasian yang nyata. Dan inginnya merangkul taqwa ini sambil berucap, "Ukhti, sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah.."
[ Read More ]

14 Juli 2010

Sepenggal Kisah di Hari Bersama

Posted by Basmah Thariq at 14.19.00 0 comments

Apa kabar tarbiyah? Inginku kembali hadir di tengah-tengah majelis menyejukkan itu. Mengingat murabbiyah yang sibuk dengan sejumlah amanahnya, ibu rumah tangga, aktivis, dan calon dokter yang tak pernah usai kesibukan tingkat tingginya ~co-ast. Sehingga kami tak bisa menuntut apa-apa.

Tapi, kerinduan itu akhirnya terbayarkan saat sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Harber, istilah dari hari bersama yang diadakan dari masing-masing liqo'. Jika harber kemarin kita manfaatkan masak-masak bersama, maka kali ini kita menyajinya dengan cara berbeda. Berenang di sebuah pulau. Setelah keberadaan saya di Indonesia selama empat tahun, ngeh rasanya untuk mengunjungi tempat-tempat sejenisnya. Menganggap tempat-tempat tersebut menjadi tempat yang punya kemungkinan berikhtilat dan bahkan menjurus ke maksiat. Tapi, kebahagiaan ini tak sirna bahkan benar-benar memuncak ketika di sana tempatnya aman untuk berenang. Sebab lokasinya masih jarang dibidik oleh wisatawan baik lokal maupun interlokal.

Maka, gayung pun bersambut. Di hari tersebut nan cerah, langit biru dengan indah, dan matahari sinarnya pecah menemani harber kami. Tak lupa sebuah kapal kecil memboyong kami untuk menyebrangi pulau tersebut. Meski ada rasa dag-dig-dug berlebihan karena belum mampu beradaptasi, tapi telah terbayar saat tiba di tempat tujuan.

Benar adanya, bahwa pulau yang kami kunjungi tampak sunyi yang berarti aman untuk berenang. Rumah kecil yang dianyam bambu itulah menjadi tempat istirahat kami. Belum juga ada 10 menit di sana, ternyata hanya menyisakan dua atau tiga orang termasuk saya enggan berenang.

Melihat teman-teman sudah beraksi, sengaja saya mendekat. Walau tetap saja mengurungkan niat untuk berenang. Alhasil, hanya mencoba membasuh kaki, tangan, muka, dan byuur.. Sukses basah kuyup semuanya. Asin. Itu yang pertama dikecap. Kali terakhir berenang di kolam renang beberapa tahun silam saat SMP. Setelahnya tak pernah lagi menjenguknya.

Dari berenang di sini, kembali diajarkan tentang diujinya tauhid seseorang tentang kepasrahan seorang hamba terhadap Rabbnya. Belajar dari mengapung, kita benar-benar dipaksa untuk rileks tanpa memikirkan apapun seolah tanpa beban. Segalanya kita bertawakkal pada Allah. Dan, untuk manusia seperti kita begitu kecil di mataNya. Kita yang hanya seonggok daging yang tak ada artinya jika berada di lautan.

Saat berusaha mengapung, sesekali saya memandangi langit biru. Mungkin ia sedang menertawakanku saat melihat betapa bodohnya saya yang hanya mampu mengapung dalam hitungan detik. Ditambah kilauan cahaya mentari yang mengagetkanku hingga membuat panik. Dan menyerah untuk tidak ingin menyentuh air asin itu lagi. Hasilnya, muka saya benar-benar memerah bak udang rebus.

Di sini membuktikan saya hanyalah seseorang yang kadang kuat dan bisa rapuh. Tapi masih punya langkah untuk melanjutkan perjalanan.

Dan akhirnya, jazakumullah khaer untuk akhwatifillah yang telah menemaniku di tiap majelis-majelis ilmu yang digelar secara rutin. Dalam episode "harber", 11 Juli 2010 di sebuah pulau indah yang pernah kita ukir bersama di atas pasir putih, Ummu Aiman.

^^v piss..
[ Read More ]

13 Juli 2010

Manusia dan Perasaan

Posted by Basmah Thariq at 20.29.00 0 comments

Manusia itu cenderung memiliki kekhawatiran akan kesulitan dunia. Hingga tak heran jika tak sedikit kalangan yang menolak apa yang telah ditetapkanNya dalam hidup.

Satu contoh yang umumnya digulirkan. Jilbab. Kata sebagian kaum hawa yang hanya mengandalkan perasaannya dalam berpijak, beranggapan bahwa jilbab menutup keluwesan seorang wanita dalam berkarya, berkarir, sulit mendapat jodoh, dll.

Hm... Jadi mengantarkan kejadian masa SMA beberapa tahun silam. Seorang ibu guru yang usai mengajar di kelas, mengatakan ini pada saya, " Jilbab ini lebarnya kayak taplak meja, ya? Emangnya ada ya dijual jilbab begini?" Ucapnya sambil memperhatikan jilbab saya. Kata-katanya yang mengundang gemuruh dalam dada dan sedikit menahan tawa. Meski yang terpancar di wajah saya hanya sesungging senyum. Karena saya tahu, beliau pasti belum paham dan menganggap asing penampilan "akhwat". Lalu saya menjelaskan sedikit tentang berjamurnya jilbab lebar di butik-butik muslimah.

Mungkin ini yang kesekian kalinya mendapat kata-kata yang membutuhkan kekuatan iman dalam menghadapi kondisi ini. Sekalipun saya adalah manusia biasa, tak bisa terhindar dari rasa galau yang terpaut, jengah, atau kikuk di kondisi tertentu. Tapi seketika itu pula saya menghempas rasa negatif. Sebab, adakalanya kita takut pada pendapat orang lain tentang diri kita. Padahal, suka atau tidak, orang lain memiliki pendapat tentang diri ini dan kita tak akan pernah mampu menghentikannya. Lantas mengapa harus resah?

Dan puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang sengaja menjamu saya dengan perjumpaan yang tak terduga. Karena Ia ingin mengajarkan saya banyak hal walau harus sedikit menghentak-hentakkan perasaan.

Lewat majelis ilmu yang pernah terhampar sebelumnya, menohok perasaan ini. "Kalau saja kita hidup hanya ingin mencari wajahnya manusia, maka bersiaplah untuk kecewa. Sebab, acap kali keinginan kita tak terpenuhi oleh keinginan atau pendapat manusia." atau "Syari'at Islam tidak akan pernah tegak karena dihantui oleh ridhanya manusia."

Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya. Perasaan boleh saja mengikis keimanan tanpa dibarengi ilmu. Tapi, keimanan yang dibarengi ilmu tak akan terkikis oleh perasaan.

Barakallaahu fiiki untuk ukhtifillah yang menegakkan syari'atNya..
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea