14 Juli 2010

Sepenggal Kisah di Hari Bersama

Posted by Basmah Thariq at 14.19.00

Apa kabar tarbiyah? Inginku kembali hadir di tengah-tengah majelis menyejukkan itu. Mengingat murabbiyah yang sibuk dengan sejumlah amanahnya, ibu rumah tangga, aktivis, dan calon dokter yang tak pernah usai kesibukan tingkat tingginya ~co-ast. Sehingga kami tak bisa menuntut apa-apa.

Tapi, kerinduan itu akhirnya terbayarkan saat sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Harber, istilah dari hari bersama yang diadakan dari masing-masing liqo'. Jika harber kemarin kita manfaatkan masak-masak bersama, maka kali ini kita menyajinya dengan cara berbeda. Berenang di sebuah pulau. Setelah keberadaan saya di Indonesia selama empat tahun, ngeh rasanya untuk mengunjungi tempat-tempat sejenisnya. Menganggap tempat-tempat tersebut menjadi tempat yang punya kemungkinan berikhtilat dan bahkan menjurus ke maksiat. Tapi, kebahagiaan ini tak sirna bahkan benar-benar memuncak ketika di sana tempatnya aman untuk berenang. Sebab lokasinya masih jarang dibidik oleh wisatawan baik lokal maupun interlokal.

Maka, gayung pun bersambut. Di hari tersebut nan cerah, langit biru dengan indah, dan matahari sinarnya pecah menemani harber kami. Tak lupa sebuah kapal kecil memboyong kami untuk menyebrangi pulau tersebut. Meski ada rasa dag-dig-dug berlebihan karena belum mampu beradaptasi, tapi telah terbayar saat tiba di tempat tujuan.

Benar adanya, bahwa pulau yang kami kunjungi tampak sunyi yang berarti aman untuk berenang. Rumah kecil yang dianyam bambu itulah menjadi tempat istirahat kami. Belum juga ada 10 menit di sana, ternyata hanya menyisakan dua atau tiga orang termasuk saya enggan berenang.

Melihat teman-teman sudah beraksi, sengaja saya mendekat. Walau tetap saja mengurungkan niat untuk berenang. Alhasil, hanya mencoba membasuh kaki, tangan, muka, dan byuur.. Sukses basah kuyup semuanya. Asin. Itu yang pertama dikecap. Kali terakhir berenang di kolam renang beberapa tahun silam saat SMP. Setelahnya tak pernah lagi menjenguknya.

Dari berenang di sini, kembali diajarkan tentang diujinya tauhid seseorang tentang kepasrahan seorang hamba terhadap Rabbnya. Belajar dari mengapung, kita benar-benar dipaksa untuk rileks tanpa memikirkan apapun seolah tanpa beban. Segalanya kita bertawakkal pada Allah. Dan, untuk manusia seperti kita begitu kecil di mataNya. Kita yang hanya seonggok daging yang tak ada artinya jika berada di lautan.

Saat berusaha mengapung, sesekali saya memandangi langit biru. Mungkin ia sedang menertawakanku saat melihat betapa bodohnya saya yang hanya mampu mengapung dalam hitungan detik. Ditambah kilauan cahaya mentari yang mengagetkanku hingga membuat panik. Dan menyerah untuk tidak ingin menyentuh air asin itu lagi. Hasilnya, muka saya benar-benar memerah bak udang rebus.

Di sini membuktikan saya hanyalah seseorang yang kadang kuat dan bisa rapuh. Tapi masih punya langkah untuk melanjutkan perjalanan.

Dan akhirnya, jazakumullah khaer untuk akhwatifillah yang telah menemaniku di tiap majelis-majelis ilmu yang digelar secara rutin. Dalam episode "harber", 11 Juli 2010 di sebuah pulau indah yang pernah kita ukir bersama di atas pasir putih, Ummu Aiman.

^^v piss..
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea