26 September 2010

Cintaku Utuh Tak Tersentuh

Posted by Basmah Thariq at 14.14.00 0 comments
by Renungan Kisah Inspiratif Muslimah on Tuesday, 21 September 2010 at 20:48

Ku mencintamu utuh tak tersentuh….,

Jika ada yang bertanya, bagaimana aku memandang perkara jodoh, maka akan ku jawab, bagiku sama saja kau menanyakan keyakinanku tentang kematian..

Jodoh dan kematian adalah rahasia-Nya yang tersembunyi dalam tabir keghaiban-Nya, dan tersimpan dengan indah dalam tiap lembar daun di lauhul mahfuzh..

Lalu apa yang ku khawatirkan? Dan kenapa pula ku harus mengejar? Tidak, aku tak sudi.. Ku katakan padamu wahai para wanita perhiasan terindah dunia..

Jangan pernah mengobral murah kehormatanmu untuk hal yang kau sendiri tak yakin kehakikiannya? Pahamkah maksudku?

Ku tanya padamu, pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu, membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih? Tak malukah? Tak malukah?

Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak dengan cinta yang seutuhnya jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain… Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah? Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu, namun ternyata kau yang akan meminangnya.

Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu, ternyata dia tengah membandingkanmu dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah? Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab 'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..

Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya…. Sekuat apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak akan pernah terjadi.. . Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu? Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?.... untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu? Untuk apa?

Dan ku katakan padamu. Mungkin kau yang akan memilihku belum ku cinta saat itu. Tapi ketahuilah, karena kau memilihku, kau ku cinta... Bukankah jatuh cinta adalah sebuah proses? Akan ada sebab, akan ada hal yang membuatku jatuh cinta padamu, dan kau pun akan mencintaiku.. Dan ketika itu terjadi, semua telah terangkai dengan indah dalam kerangka kehalalan, dalam ikatan pernikahan yang disebut mitsaqan ghalizhan..

Dan tak akan pernah ada ragu ku katakan kuserahkan cintaku UTUH TAK TERSENTUH, padamu.. Hanya padamu.. ya, hanya padamu dan untukmu duhai cintaku….
[ Read More ]

24 September 2010

Biarkan Seperti Langit

Posted by Basmah Thariq at 05.30.00 0 comments

: dalam goresan seseorang

Kubebaskan rinduku membuncah
Menari di atas kepahitan
Menyayat hati yang telah lama diam
Dan kubiarkan ia seperti langit

Tak mampu dilakukan airmata
Maka langkahku yang menjawabnya
Pada sebuah janji seorang insan
Yang kuanggap seperti langit

Kubiarkan diriku mengukuhkan jiwa
Pada setiap pandangan yang tajam
Yang memandangnya tetap biru
Seperti langit yang tetap di sana

Karena tentang kita
Tak mereka ketahui
Hanya aku dan kamu
Karena hati kita
akan tetap seperti langit
Yang setia pada penjagaannya
[ Read More ]

19 September 2010

Al Qur'an, Jadi dibakar?

Posted by Basmah Thariq at 19.07.00 0 comments
Liputan6.com, Springfiled: Pembakaran Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones, pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata oleh pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat, Sabtu (11/9) silam.
Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan. Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan segelintir orang, yang sebagian besar dari media.
Seperti dilansir Detroit News, ternyata pembakaran Alquran juga terjadi di Michigan. Sebuah Alquran dibakar di depan pusat ajaran Islam di kota tersebut.
Ryanne Nason, seorang cendekiawan Amerika Serikat, seperti dilansir sebuah koran lokal Mainecampus, Kamis (15/9), menyebut bahwa pembakaran yang dilakukan oleh sejumlah orang sangat menyedihkan dan memalukan. Di AS, negara yang dibentuk pada keyakinan kebebasan beragama, setiap orang diberikan hak untuk mempraktikkan agama yang mereka yakini, seperti Yudaisme, Islam, Kristen, atau tidak menganut agama sama sekali. Dengan membakar Alquran atau kitab suci agama lain, bayangan seluruh bangsa lain membuat AS adalah negara tanpa kelas dan tidak etis.
Sungguh ironis bahwa Terry Jones atau Bob Old merasa memiliki perlindungan berdasarkan amandemen pertama untuk membakar kitab suci agama lain yang ia tidak percaya. Padahal semua muslim di AS dilindungi oleh undang-undang konstitusional yang sama. Hal ini akan memeberikan cela pada reputasi Amerika.
Menurut Ryanne, orang beragama menggunakan moral yang kuat dan nilai-nilai, namun sekarang orang mendiskreditkan keyakinan mereka karena bersifat menghakimi dan intoleransi. Salah satu dari banyak alasan mengapa kita memiliki pasukan di Irak dan Afghanistan adalah untuk melawan penindasan dan penganiayaan agama terhadap penduduk negara di negara tersebut. Namun, saat ini ternyata warga negara Amerika sendiri yang melecehkan agama lain.
Di Chicago, Mohammed Kaiseruddin, Dewan Direksi Pusat Ajaran Islam memberikan gambaran terhadap pembakaran Alquran yang sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianutnya. Ia mengatakan kepada Huffington Post hari ini, "Kami merasa seperti kita sudah menjadi korban. Ketika kami memegang Alquran, kami memperlakukannya dengan sangat hormat. Kami tidak pernah menaruh salinan Alquran di lantai. Sejak kecil, kami selalu mengingatkan anak-anak untuk menghormati kitab suci ini. Kami juga mengajarkan kepada mereka ketika selesai membaca Alquran, mereka menutup dan menciumnya, lalu menyimpannya". (Huffington Post/Mainecampus/Detroitnews/DES/IAN)
[ Read More ]

Ada Apa dengan Separuh Dien?

Posted by Basmah Thariq at 18.58.00 2 comments
Langkah 1 kuberkaca diri, apa aku layak untuk engkau
Langkah 2 ku berdoa semoga kau juga mau kepadaku
Langkah 3 ku mencoba beranikan diri mendekati engkau
Langkah terakhir ku berserah diri pada Dia Yang Maha Menentukan


Entah alasan apa seseorang memajangkan status tersebut yang membuat para pembacanya terbetik hatinya untuk membubuhi komentar di statusnya. Menggelitik sekaligus mengundang tawa jika mengingat sosoknya yang bukan dia banget. Tapi, percaya atau tidak, tetap saja status tersebut mampu mengais respon yang mencengangkan. Mungkin moment qabla dan ba'da Ramadhan yang marak menghamparkan acara sakral tersebut hingga kawula muda yang paham Islam ini tak sungkan melayangkan status-status tersebut dalam jejaring pertemanan. Menyematkan dengan berbagai ekspresi ala kawula muda. Hm...

Tanpa ingin men-judge dan menggurui mereka, setidaknya Allah ingin mengajari saya melalui status-status tersebut. Meski cukup menyeret rasa kekaguman dan agak tersentak, tapi toh ternyata ada secuil di antara mereka yang telah memahami tentang separuh dien ini. Disaat kawula muda lainnya lebih memilih atau bahkan tengah menikmati masa kematangan melalui jalur yang tak sesuai keinginanNya akibat tergilas oleh perubahan zaman yang semakin ingin menyingkirkan nilai-nilai syari'at.
Maka rasa mengharu biru pun memuncak pada mereka yang ingin ber"segera" sebagaimana yang saya tangkap dari komentar-komentar tersebut. Hehehe...

Dan teriring perasaan husnudzan kepada mereka yang tengah menenun asa sesuai ridhaNya tanpa canggung pula mereka mendeklamasikannya ketimbang harus mengarah kepada kawula muda lainnya yang hanya berani mencetuskan cinta tanpa keberanian, bersembunyi di balik hawa nafsu dan godaan syaitan la'natullah 'alaih. Na'udzubillaah min dzaalik.

Agaknya saya terlalu mendramatisir pada sebuah status seseorang hingga nekat membuat posting ini karena saat ini sedang di sudutkan dengan berbagai hal yang menyeret rasa. Teruntuk orang-orang yang sedang menenun asa menuju samara (Sakinah, Mawaddah, Warahmah), selamat mengarungi kehidupan baru wa Barakkallaahu lakumaa wa jama'a bayna kumaa fii khaer.. Amiiin..


To:
My Sister...


dan terima kasih pula untuk:
Seseorang yang telah menginspirasi fikirku
MZS
[ Read More ]

16 September 2010

Sebuah Renungan

Posted by Basmah Thariq at 07.17.00 1 comments
Bilakah Ramadhan bertanya kepada kita tentang hasil tarbiyahnya,

"Masihkah kita berdiri di malam hari setegak seperti di Ramadhan?"

"Masihkah tilawah semerdu seperti di Ramadhan?"

"Masihkah sedekah semerbak seperti di Ramadhan?"

Mari sama-sama menempa diri dengan amalan-amalan shalih, meskipun sedikit tetapi istiqomah.
SEMANGAT!
[ Read More ]

9 September 2010

Pesan di Akhir Senja

Posted by Basmah Thariq at 09.33.00 1 comments

Memandang langit sore, rasa semakin teduh. Sisa terik siang tadi telah punah tersamar awan-awan yang berarak menuju matahari, membuat saya ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk mengurai kata. Kata-kata yang telah terekam dalam ingatan pun dengan catatan.  Mengingat titipan seseorang pada saya sebelum menuju lokasi tempat sebuah kegiatan yang dirindukan terhampar, fikirku mulai mempola untuk mengurainya.
“Apa yang sedang terbetik dalam fikirmu, ukhti?” Sebuah tanya yang sering kulayangkan dalam hati saat kau jarang lagi menyusun hari bersama, melukis kisah hidup. 

Ingin menjadi kembang yang Dia tanam di halaman ridhaNya  dan mencari secercah cahaya di ruas dedaunan” Jawabmu setiap kali kau merunutkan kisah kepadaku.
Walau tanya dan jawab tersebut tak pernah ada pada tatap muka, tapi aku bisa membaca lewat guratan hatimu pada pesan singkat yang kau kirim untukku.
Ada sunyi yang tak pernah berubah dalam lembaran hari. Saat kau mulai terbiasa menekuk diri dalam-dalam, mencari garis rindu yang tak akan pernah bertepi. Saat itu pula mungkin kau seorang diri sedang menepis kabut-kabut gelap yang mulai bergelayut di hati. Maafku atas segala keterbatasan ini, ukhti..
Kayfahal saudariku?
Mengingatmu, membawaku pada lembaran-lembaran kisah yang kau urai pada pertemuan sebelumnya. Lagi, diri ini tertegun setiap mendapatimu begitu santai membaca kerusuhan hatimu yang lama terpendam. Mungkin karena terlalu banyak kisah yang telah berkarat oleh terpaan kehidupan yang menjengahkan. Ya, terkadang hati ini tak bisa membimbing dan memahami apa yang kita saksikan dan apa yang kita dengar. Karena sekali lagi, fitrahnya manusia itu khilaf dan lalai.
Dan mendengarmu, aku melihat sisi fitrahmu sedang berbicara, rindu pada langkah-langkah kemarin. Padahal, esok sedang menantimu. Agaknya dirimu masih tak cukup kuat untuk melangkah karena kondisinya lebih berbeda. Pada kondisi ini, mungkin aku juga seperti itu. Maka, aku hanya mampu menguatkanmu dengan menyematkan namamu lewat doaku.



Pesan yang bisa kukutip dari pertemuan tadi,
“Berbahagialah wahai orang-orang yang senantiasa berpuasa dengan salah satu pintu yang dikhususkan bagi mereka, dari pintu-pintu syurga Ar-Rayyan dan nikmatilah nikmat yang dijanjikan, yaitu nikmat berbuka puasa dan melihat wajah Allah”
2 kebahagiaan yang insya Allah akan kita raih di dunia saat berbuka, dan di akhirat yakni melihat wajah Allah. Ukhti, pernahkah kita membayangkan dan merindukan cita-cita ini?
Saat kita harus tertatih-tatih dalam menggenggam taqwaNya? Tertohok-tohok pada kecaman-kecaman orang-orang yang membelakangi ilmuNya? Menatap perih pada kezhaliman-kezhaliman yang bertebar di muka bumiNya? Dan kemudian kita sangat merindukanNya??
Pada akhirnya, aku tetap menyerahkan padamu ukhti untuk mencerna setiap peristiwa yang Allah hamparkan untukmu..

[ Read More ]

7 September 2010

Sebelum Ramadhan Pergi

Posted by Basmah Thariq at 10.09.00 0 comments
Oleh: Tata Abdullah
Dimuat di Ujung Pandang Ekspress (Hikmah Ramadhan, 26 Ramadhan 1430)
Ramadhan sesaat lagi meninggalkan kita, sejumlah pertanyaan patut direnungkan setiap jiwa yang selalu mengharap ampunan dan keridhaan RabbNya. Bukankah Ramadhan bulan yang membawa rahmat? Sudahkah rahmat Allah yang amat luas melapangkan rongga-rongga dada yang sesat dengan tumpukan noda dosa dan maksiat? Ramadhan membawa maghfirah (ampunan), adakah seberkas percikan cahaya kesadaran dan tetesan air mata taubat karena khasyyah (takut) membasahi pipi merasakan kelembutan Ilahi? Ramadhan syahrul qur’an, manakah ayat-ayat Ilahi yang merobek-robek singgasana kesombongan dan melebur kebekuan hati? Ramadhan bulan yang dirindu kehadirannya, adakah kegelisahan dan keresahan hati karena yang dirindukan sebentar lagi kan pergi tanpa pamitan..

Wahai jiwa-jiwa yang tertipu dengan perasaannya… mengapakah bibirmu tersenyum menyambut hari lebaran yang hanya sehari sementara air matamu kering tak menetes sedikitpun jua karena Ramadhan yang mendekapmu sebulan penuh dengan sepenuh kelembutan dan kasih sayang kan pergi jauh meninggalkanmu?

Saudaraku!
Sungguh kita hanyalah sekumpulan hari-hari dari waktu yang tersedia... sadarkah kita bahwa setiap kali matahari tenggelam berarti separuh bagian dari diri telah sirna dan tak akan pernah kembali. Penyesalan tidaklah berguna jika masa untuk menyesali diri telah berakhir. Berapa banyak tanda-tanda kematian menghampiri, berapa banyak bukti-bukti kebenaran menampar hati, berapa banyak panggilan kesadaran mengetuk nurani, demi Allah hidup ini adalah perlombaan, kompetisi yang tak berakhir hingga sampai ke garis finish setiap orang.

Setan-setan jin dan manusia berlomba-lomba merebut perhatian hati anak cucu Adam, dengan berbagai bumbu penyedap maksiat, penghias nafsu, beraroma birahi dan cinta dunia untuk persembahan kepada raja iblis sang dajjal. Orang-orang yang sadar berlomba-lomba menghias hati dengan kesucian iman, keindahan akhlaq dan kelezatan munajat mengharap ampunan dan keridhaan Rabbul Jalal wal Ikram. Lalu kepada siapakah hati ini akan kita menangkan …

Saudaraku!
Hari-hari penentuan semakin dekat akankah senyum kebahagiaan kelak kita tukar dengan murka dan bencana abadi? Ataukah isak tangis penyesalan mengiris hati berujung rahmat dan ampunan yang kita rindu?

Sekaranglah saatnya tangisi diri sebelum ditangisi… Sekaranglah saatnya berpikir jernih tuk kembali mengetuk pintu Ilahi… Cukuplah sudah perjalanan panjang mengumpul maksiat… Saatnya menjadi manusia yang sesungguhnya… perhatikan sekeliling anda pandanglah kelangit di keheningan malam bayangkanlah ketika langit itu di belah dan petaka maut di depan mata sementara manusia terlelap dalam mimpi palsunya. Ya Allah Rabbul ‘Alamin bukalah untukku pintu ampunanMu tuk menangisi seluruh hidupku, sapulah hatiku dengan kelembutan cintaMu tuk menerima segala taubatku... terimalah diri yang hina tuk menggapai surga-Mu. Amin..

sumber:
http://www.wahdah.or.id/
[ Read More ]

5 September 2010

Bersinarlah ditiap Langkahmu..

Posted by Basmah Thariq at 15.19.00 0 comments
Bersinarlah dengan semangtmu hari ini dan esok,
teruslah tegar dalam aktivitasmu hingga ALLAH tersenyum padamu.
Sebab langkah-langkah kecilmu takkan mampu mencapai cita-citamu yang besar kecuali dengan kesabaran.
Jadi bersabarlah.
Sungguh sabar itu indah.
[ Read More ]

2 September 2010

Para Budak Dunia Meninggalkan Masjid?

Posted by Basmah Thariq at 15.17.00 0 comments
Sebuah kehidupan yang paradok di kalangan Umat Islam, selalu berlangsung di setiap bulan Ramadhan. Pemandangan yang berulang. Setiap tahunnya. Episode kehidupan yang dipertontonkan oleh para pencari dunia. Pengejar nikmat dunia. Bukan para pencari akhirat, dan kemuliaan akhirat. Bukan mereka yang  mencari keridhaan Rabbnya. Bukan mereka yang mencari kasih-sayang-Nya. Mereka berlari bersama bisikan syetan terus mengejar dunia.
Gambaran ini sangat jelas. Nampak dengan kasat mata. Tidak dapat ditutupi lagi. Bukti-bukti banyaknya kaum muslimin yang larut dengan bisikan syetan, dan mengejar kenikmatan dan aksesoris dunia adalah semakin mendekati akhir Ramadhan, di mana pemandangan di masjid-masjid, yang merana ditinggalkan jamaahnya. Masjid-masjid mulai sepi. Banyak masjid yang kosong. Tinggal beberapa shap (baris). Tak  lagi kedengaran suara lantunan ayat-ayat Kibullah, yang mulia itu dibaca di malam hari.
Kaum muslimin mengubah ibadahnya bukan di masjid-masjid. Kaum muslimin mengubah amal-amalnya bukan lagi dengan semakin khusuk beribadah, berdzikir, melakukan tilawah dan mentadzaburi Al-Qur’an, tetapi justru larut dengan lautan manusia lainnya, berada di tempat-tempat keramaian, seperti mall, plaza, cafĂ©, serta tempat-tempat yang tidak ada hubungan dengan ibadah.
Mereka memuja hawa nafsu, memuaskan kenikmatan hidup dengan aksesoris yang artifisial, serta tidak mendatangkan manfaat apapun dihadapan Allah Azza Wa Jalla. Sungguh sebuah ironi. Sebuah pengkhianatan makhluk terhadap pencipta-Nya, yang tidak dapat mengucapkan dan menampakkan rasa syukurnya atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-NYa.
Masjid-masjid di komplek perumahan yang mewah, jamaahnya hanya terdiri para pembantu rumah tangga (PRT), sedangkan para ‘Nyonya dan Majikan’, tak nampak lagi di masjid. Sangat jarang para ‘Nyonya dan Majikan’, menyempatkan diri ikut berbaur dengan umat dan kaum muslimin melakukan ibadah shalat Tarawih, apalagi berbuka puasa. Masjid yang indah dengan keagungannya itu, isinya tak lain, orang-orang miskin dan para PRT, yang rajin beribadah. Anak-anak para ‘Nyonya dan Majikan’ hanya sibuk memainkan BB (Black Berry) atau mainan lainnya, saat berlangsung shalat, dan kemudian mereka pergi, tidak mengikuti shalat dengan khusu’.
Tradisi muslim di Indonesia sangat paradok dengan ajaran Islam. Menjelang akhir Ramadhan mereka bukan lagi justru meningkatkan ibadahnya. Tetapi, yang terus membayangi dalam benak mereka adalah jenis pakaian apa yang akan dipakai saat lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis makanan apa yang akan disiapkan menghadapi lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis kendaraan (mobil) yang akan digunakan berkunjung dan silaturrahim ke keluarga, sanak-famili dan handai taulan, serta para kerabat dan kolega? Seakan setiap lebaran menjadi parade ‘pamer’ kemewahan, bukan lagi menjadi saat untuk menunjukkan sifat-sifat  ‘ketaqwaan’ dihadapan sesama muslim.
Karena itu, yang paling sibuk saat menjelang akhir Ramadhan adalah kantor-kantor, pasar, mall, plaza, yang menjadi menu utama pembicaraan hanyalah persiapan menjelang lebaran. Semuanya berkaitan dengan kehiduan dunia, yang tidak mempunyai relasi dengan kehidupan akhirat. Tidak memiliki relasi dengan tingkat ketaqwaan seseorang dihadapan Allah Azza Wa Jalla. Karena itu, tak heran, kehidupan kaum muslimin semakin carut-marut, hina, tidak memiliki kemuliaan (izzah) dihadapan musuh-musuhnya. Karena, hakekatnya di dalam dada dan sanubari mereka telah tertanam dalam-dalam budaya materialisme, dan bahkan mereka sudah menyembah materi, serta menjadikan materi sebagai sesembahan mereka.
Materi sudah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil, yang menguasai seluruh hidupnya. Maka tak heran mereka untuk memenuhi kehidupan duniawinya, tak segan-segan mengikuti bisikan syetan, dan berbuat maksiat melanggar semua aturan dan ketentuan Allah Rabbul alamin, dan tidak mau tunduk dan patuh, karena mereka sudah terjerumus kedalam kehidupan materialisme itu.
Padahal, saat-saat menjelang akhir Ramadhan, seharusnya kaum muslimin meninggalkan kehidupan dunia, seperti yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, dan waktunya  hanya digunakan beribadah dan bertaqarrub kepada Azza wa Jalla. Tidak lagi disibukkan memikirkan tentang dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa dihadapan Allah Ta’ala. Mengejar maghfirah-Nya.
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS, Al-Imran : 133).
Betapa Allah Azza wa Jalla telah memberikan balasan (jaza') yang tak terhitung nilainya, bagi siapa saja yang dengan tulus-ikhlas, beribadah dan memohon ampunan dari Rabbnya, dan akan mendapatkan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi, khususnya bagi mereka yang bertaqwa. Seharusnya kaum muslimin berusaha semakin setulus-tulusnya untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dari Rabbul Alamin, dan menjadi orang-orang yang muttaqin (bertakwa) dengan ganjaran, yang digambarkan berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Karena di akhir Ramadhan ada saat 'Lailatur Qadr', di mana Allah Rabbul Alamin akan memberikan ampunan bagi hamba yang bertaqwa.
Bandingkan dengan usaha-usaha manusia yang terobsesi dengan materi dan kenikmatan dunia, dan menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar dunia? Berapa materi yang didapatkan oleh manusia selama ia hidup dan bekerja di dunia itu? Bandingkan dengan jaminan dan balasan dari Allah Azza Wa Jalla yang  melebihi apa yang didapatkan manusia di dunia. Tidak ada artinya dibandingkan dengan semua yang akan diberikan Allah itu, dibandingkan dengan yang diperoleh manusia.
Manusi hanyalah produktif dan dapat menikmati kehidupannya sebatas umur 50 tahun, sesudah itu, kondisi fisik manusia sudah tidak efektif untuk dapat menikmati kehidupan dunia. Semua yang didapatkan di dunia akan ditinggalkannya. Isteri, anak keturunan, rumah, kendaraan, dan segala harta benda, semuanya akan ditinggalkan. Manusia akan mati.
Manusia hanya akan menempati tempat yang sangat sempit yang bernama alam kubur, yang luasnya tidak lebih dari 1 X 2 yang bersifat kekal. Sebaliknya, kehidupan akhirat akan kekal selamanya. Betapa bahagianya bagi mereka yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya, dan ditempatkan surga-Nya?
“Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. (QS, Al-Imram : 136). Wallahu’alam.

sumber:
http://www.eramuslim.com
[ Read More ]

1 September 2010

Katakanlah Pada Diri

Posted by Basmah Thariq at 20.00.00 0 comments
Katakanlah pada diri:
Aku menjalankan amanah bukan untuk menerima ucapan 'syukran',
bukan untuk meraih popularitas diri,
bukan untuk mendapatkan pujian,
bukan untuk mengisi waktu kosong.
Tapi kuatkan hati dan berbisik padanya, 
"Aku menyelesaikan tanggung jawabku untuk meraih ridha Ilahi, 
untuk menjadikannya sebab pemberat timbangan amalku, 
untuk menambah keimananku, 
untuk melatih diriku menempatkan amanah yang lebih besar. 
Bukan karena ikhtiar dan mujahadahku, 
tapi karena Allah menolongku.."
[ Read More ]

Teman-Teman Akhirat

Posted by Basmah Thariq at 13.12.00 0 comments
Akhir-akhir ini, saya lebih banyak menepi di sudut kamar, menggores kisah kehidupan, berkutat pada buku, atau banyak menatap langit biru ketimbang harus berkelana keluar berkutat dengan alam sekitar. Entahlah. Fikirku, momen Ramadhan ini baiknya lebih fokus pada kegitan spritual. Meski agaknya diri sedikit memaksakan kehendak untuk sengaja menekuk diri dalam-dalam untuk tidak terlibat pada beberapa kegiatan di luar. Dan dalam kesendirian ini, saya jadi rindu membaca kisah-kisah kemarin yang sama-sama kami ukir ditiap peristiwa.Pada persembahan kali ini pun, ingin kurangkai lewat artikel yang saya jumpai di situs tempat jeda di dunia maya. Semoga pungutan artikel ini menjadikan kita sama-sama berharap memiliki teman-teman akhirat yang dirindukan. Untukmu, Ukhtifillah..



Umumnya, kita ngerasa seneng dengan adanya teman, terlebih teman yang buanyak. Memang lumrah, karena kita disebut sebagai makhluk sosial, artinya kita tak bisa hidup tanpa orang lain.
Tapi bukan berarti loh…. kita boleh semaunya bergaul dengan sembarang orang! Sebab, teman adalah cerminan diri. Baik buruk teman sangat berpengaruh terhadap hidup, terlebih agama kita. Karena itu, Islam memberi metode-metode jelas dalam menjalin teman, khususnya teman yang baik untuk akhirat kita.

Pilih Yang Baik!
Teman memiliki pengaruh yang besar sekali pada diri kita. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kamu melihat siapa temannya." (Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi)
Hadits tersebut memiliki makna bahwa seseorang akan berbicara dan berkelakuan seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita kudu bisa mengenali kualitas agama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, no way…! Tapi jangan lupa kasih nasehat teman yang model ini loh…

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengungkapkan,
"Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa." (Riwayat Ahmad dihasankan oleh al-Albani)
Al-Khathabi mengatakan, “Yang dimaksud dengan jangan memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa adalah dengan cara mengundang mereka dalam suatu jamuan makan. Sebab jamuan makan bisa melahirkan rasa kasih sayang dan cinta di antara yang hadir.”
Yang ngga boleh juga dalam berteman adalah berkawan dengan para pelaku dosa besar dan ahli maksiat, apalagi berakrab ria dengan orang-orang kafir dan munafik.

Saling Memberi Nasihat
Dalam Islam, prinsip menolong teman adalah bukan berdasar permintaan dan keinginan hawa nafsu teman. Tapi prinsip menolong teman adalah keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan tidak menipu serta berbasa-basi dengan mereka dalam urusan agama Allah. Termasuk di dalamnya adalah amar ma'ruf nahi mungkar, meskipun bertentangan dengan keinginan teman.

Adapun mengikuti kemauan teman yang keliru dengan alasan solidaritas, atau berbasa-basi dengan mereka atas nama persahabatan, supaya mereka tidak lari dan meninggalkan kita, maka yang demikian ini bukanlah tuntunan Islam.

Nyatakan Cintamu…
Persahabatan yang paling agung adalah persahabatan yang dijalin di jalan Allah dan karena Allah, bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan, atau sejenisnya. Persahabatan yang dijalin untuk saling mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan tersebut telah sirna, maka persahabatan pun melayang.

Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, tidak ada tujuan apa pun dalam persahabatan tersebut, kecuali hanya untuk mendapatkan ridha Allah. Orang macam inilah yang berhak mendapat janji Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, 'Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku." (Riwayat Muslim)

Sebuah kisah mengatakan, "Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Ke mana anda hendak pergi? "Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini." Jawabnya. "Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?" "Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah l." jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, "Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia." (Riwayat Muslim)

Ungkapkan Cinta…Kokohkan Cinta
Anas radhiyallahu anhu mengisahkan, "Ada seorang laki-laki di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)”. Maka Nabi n bertanya, “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya." (Riwayat Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Jaga Rahasia
Setiap orang punya rahasia. Biasanya, rahasia itu disampaikan kepada teman terdekat atau yang dipercayainya. Anas radhiyallahu anhu pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu anhu berkata,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya." (Riwayat Al-Bukhari)
Teman dan saudara sejati adalah teman yang bisa menjaga rahasia temannya. Orang yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat terhadap amanat. Berkhianat terhadap amanat adalah termasuk salah satu sifat orang munafik.
Begitulah, diantara resep mencari teman akhirat. Artinya teman yang terjalin karena tali agama dan demi kepentingan agama. Siapakan temen kamu?(A.naY)

sumber:
http://majalah-elfata.com/
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea