9 September 2010

Pesan di Akhir Senja

Posted by Basmah Thariq at 09.33.00

Memandang langit sore, rasa semakin teduh. Sisa terik siang tadi telah punah tersamar awan-awan yang berarak menuju matahari, membuat saya ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk mengurai kata. Kata-kata yang telah terekam dalam ingatan pun dengan catatan.  Mengingat titipan seseorang pada saya sebelum menuju lokasi tempat sebuah kegiatan yang dirindukan terhampar, fikirku mulai mempola untuk mengurainya.
“Apa yang sedang terbetik dalam fikirmu, ukhti?” Sebuah tanya yang sering kulayangkan dalam hati saat kau jarang lagi menyusun hari bersama, melukis kisah hidup. 

Ingin menjadi kembang yang Dia tanam di halaman ridhaNya  dan mencari secercah cahaya di ruas dedaunan” Jawabmu setiap kali kau merunutkan kisah kepadaku.
Walau tanya dan jawab tersebut tak pernah ada pada tatap muka, tapi aku bisa membaca lewat guratan hatimu pada pesan singkat yang kau kirim untukku.
Ada sunyi yang tak pernah berubah dalam lembaran hari. Saat kau mulai terbiasa menekuk diri dalam-dalam, mencari garis rindu yang tak akan pernah bertepi. Saat itu pula mungkin kau seorang diri sedang menepis kabut-kabut gelap yang mulai bergelayut di hati. Maafku atas segala keterbatasan ini, ukhti..
Kayfahal saudariku?
Mengingatmu, membawaku pada lembaran-lembaran kisah yang kau urai pada pertemuan sebelumnya. Lagi, diri ini tertegun setiap mendapatimu begitu santai membaca kerusuhan hatimu yang lama terpendam. Mungkin karena terlalu banyak kisah yang telah berkarat oleh terpaan kehidupan yang menjengahkan. Ya, terkadang hati ini tak bisa membimbing dan memahami apa yang kita saksikan dan apa yang kita dengar. Karena sekali lagi, fitrahnya manusia itu khilaf dan lalai.
Dan mendengarmu, aku melihat sisi fitrahmu sedang berbicara, rindu pada langkah-langkah kemarin. Padahal, esok sedang menantimu. Agaknya dirimu masih tak cukup kuat untuk melangkah karena kondisinya lebih berbeda. Pada kondisi ini, mungkin aku juga seperti itu. Maka, aku hanya mampu menguatkanmu dengan menyematkan namamu lewat doaku.



Pesan yang bisa kukutip dari pertemuan tadi,
“Berbahagialah wahai orang-orang yang senantiasa berpuasa dengan salah satu pintu yang dikhususkan bagi mereka, dari pintu-pintu syurga Ar-Rayyan dan nikmatilah nikmat yang dijanjikan, yaitu nikmat berbuka puasa dan melihat wajah Allah”
2 kebahagiaan yang insya Allah akan kita raih di dunia saat berbuka, dan di akhirat yakni melihat wajah Allah. Ukhti, pernahkah kita membayangkan dan merindukan cita-cita ini?
Saat kita harus tertatih-tatih dalam menggenggam taqwaNya? Tertohok-tohok pada kecaman-kecaman orang-orang yang membelakangi ilmuNya? Menatap perih pada kezhaliman-kezhaliman yang bertebar di muka bumiNya? Dan kemudian kita sangat merindukanNya??
Pada akhirnya, aku tetap menyerahkan padamu ukhti untuk mencerna setiap peristiwa yang Allah hamparkan untukmu..

1 comment

13 Februari 2011 18.24

Senja, mengisyaratkan kehadiran dan kepergian.. dan slalu ada saja pesan yg tersemat di baliknya.
ana suka postingan ini.

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea