23 Oktober 2012

Leave and Go

Posted by Basmah Thariq at 20.37.00 6 comments
Berkali lipat, kutemui wajah sekitar dengan  penuh kesembaban. Satu orang, dua orang, tiga orang, … entah sampai angka berapa harus ku hitung hingga tak lagi menemukan wajah-wajah yang dipenuhi kesenduan. Ah, meninggalkan dan ditinggalkan; rupanya, suasana ini akan memberikan suasana yang berbeda memeriakkan ruang hati seseorang.

Agaknya, di antara siang nan terik ini tak mampu mengeringkan kesembaban. Sedang aku, hanya bisa menarik diri dari kerumunan wajah-wajah itu. Kepayahan memang, saat harus berbalik dan melawan arah dari arus orang-orang yang menuju ke beberapa orang yang akan meninggalkan mereka. Setidaknya mencoba melesap pergi, agar tidak menarikku ke rasa yang sama, sendu.

Meninggalkan dan ditinggalkan. Entah berapa banyak cerita ini terkumpul dari mereka yang meninggalkan. Kemudian tak sedikit pula menyisakan rasa terserak dari yang merasa ditinggalkan. Baik sementara, atau mungkin selamanya. Tetap saja tak bisa mengalihkan perasaan yang sejatinya memang ada.

“Kakak Basmah, di mana Kakak Fadli?” Terdengar suara Akram, seorang adik yang juga sepupu dari Kak Fadli, sejak tadi turut bersamaku menelusuri hampir sebagian pekarangan masjid.

Aku menatap Akram lekat. Kemudian menarik lengan Akram dan menggenggamnya erat, “Mungkin Kakak Fadli masih belum naik bus. Soalnya dari tadi kakak gak liat Kakak Fadli di dalam bus yang disini..” Jelasku menunjuki beberapa bus yang siap beranjak. Dan pandanganku terus saja menyapu pekarangan masjid Al Markaz, tempat di mana wajah-wajah sendu itu ada.

Setidaknya, pertanyaan Akram tadi mengembalikan kesadaranku. Bahwa bukan aku seorang yang ‘merasa’ ditinggalkan pergi. Tapi, ada Akram, juga Akram lainnya, yang serasa bagaimana kita kami ditinggalkan pergi. Mengantarkan jejak-jejak mereka yang mulai beranjak satu per satu pergi, meninggalkan.

Kepergian. Suatu sikap yang justru menjadi satu harapan besar bagi yang ditinggalkan untuk kembali, dalam keadaan yang dikehendakinya. Dan bagi yang ditinggalkan seharusnya memasrahkan kepergiannya untuk tetap bisa kembali dalam keadaan yang dikehendakiNya, Allah ta’ala. 

Jika setelah pertemuan yang kita lewati karena kehendakNya, maka bersiaplah untuk menyambut perpisahan dalam bentuk apapun. Entah sesuai keinginan, pun bisa jadi yang bertolak dari kita. Sejatinya, kita akan bertemu keduanya; pertemuan dan perpisahan, yang diperuntukkan kepada kehidupan. Maka, nikmatilah!

Saat riuh rendah orang-orang di pekarangan masjid dan sekitarnya menyentuh selaput pendengaranku, jiwaku bergetar. Ya, Allah! Panggilan memenuhi rumahMu sungguh menjadi lirikan hati di setiap muslim dunia. Adakah aku bisa kembali memenuhi rumahMu?

Waktu, ia akan mengantar dan menjemput
Sedang kita, hanya menjumput di antaranya
Maros, 14 Oktober 2012
[ Read More ]

6 September 2012

#jleb

Posted by Basmah Thariq at 10.20.00 6 comments
(#jleb captured)
 
Setelah beberapa waktu lalu menjauhkanku pada lokasi KKN, rupanya ada ketidaknyamanan di tempat sendiri. Bukan hanya di rumah yang harus mendapati saudara lelakiku yang bertambah hari (maaf) semakin centil, tapi pada banyak pihak yang membuatku terjerembab pada kata ‘jleb’.

Pada buku-buku yang tengah kubaca, pada kalender yang tertempel rapi di mading kamarku, pada layar Ahfadzii dan Afkaarku (si ponsel dan laptopku), pada lembaran mushaf yang ku baca (lagi di surah An Nisaa’ dan hafalan di surah ke-33, jadi mantap sudah! #eh?), dan pada setiap pertemuanku; tetangga, sekolah, kampus, mall -hiks-, sampai dokter. (Maaf pembaca, telah membuatmu ngos-ngosan baca paragraf ini. Hahaha…)

Di satu sisi, bisa menjadi bagian doa dan penyangga harapan untuk terus mematri kebaikan. Namun di sisi yang berseberangan, ada rasa yang tak berkutik karena dibentur oleh sesuatu yang memeriakkan emosi.

Bukan hal yang mengherankan sebenarnya, jika tiba-tiba saja aku langsung ter-jleb oleh keadaan. Bagaimana tidak? Reaksi mereka menggembar-gemborkan satu hal tentangku begitu mengobor dan semangat '45. Kadang aku harus memasang wajah sedatar-datar mungkin, untuk mendinginkan ekspresi mereka.

"Barakallaahu lakumaa, eh, taqabbalallaahu minna wa minkum dulu, ya? Hehe.. Sini dek, dipeluk dulu.." Cegat seorang Kakak yang ku temui di depan pintu mesjid kampus Unhas kemarin. Dengan pasrah, aku membiarkan kakak itu memelukku erat untuk meredam rasa
jleb-ku.

"BASMAAAAAH!!!!" Terdengar jerit payah seseorang karena harus melawan keramaian pengunjung mall. Kemudian berlari kecil ke arahku yang baru saja keluar dari mushallah. Bukan hanya nama yang terpanggil, terperangah. Tapi, sekeliling orang yang berlalu lalang pun rela menghentikan langkahnya hanya untuk melihat ketiga wajah dengan senyuman utuhnya yang pernah ku temui di masa putih abu-abu.

Buru-buru aku menyerahkan tangan kananku dan merangkulnya satu per satu, "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.." Salamku lengkap untuk membekap histeria mereka.

"Kumsalaam.." Singkat Ayu yang belum terbendung rasa histerianya. "Arghhh.. Basmah.. Basmah!! Basmah udah gede!" Serbunya lagi gemas. Ditambah dengan beberapa temanku yang lain mulai ingin menjahiliku. Jujur, mengingat kalimat terakhirnya, malah mengembalikan ingatanku pada satu episode disini.

Masih di situasi ke-jleb-anku, saat sedang menelusuri beberapa rak di satu toko buku, tiba-tiba ada yang menarik lenganku. "Hei, Sini! Lupakan dulu masalah pendidikan, sekolah beserta anak SDnya. Tempatmu, disini!" Seret Anti sambil menunjuki papan nama rak yang ia maksud.

Aku hanya melongo, berusaha mencari oksigen cadangan untuk bisa menghirup kembali nafas segar seperti semula. Tapi, sulit rasanya. Mulutku seperti tersumbat, tak berkutik. Ooh,
jleb lagi.

Dan di suatu silaturahim bersama saudari-saudariku, suaraku langsung tercekat pada saat seseorang mempersilakanku untuk mengutarakan sesuatu. Padahal biasanya bisa sangat lancar tanpa text dalam hal berbicara. Setelah saudari-saudariku membuat murabbiyah kami speechless, aku pun akhirnya terseret.

Ziing! 
Hening sesaat. Satu per satu ku pandangi wajah-wajah itu, duduk manis dan setia menunggu kata demi kata yang keluar dari bibirku. Tapi, "Ya Allaah, saya benar-benar gak tau mau bilang apa..?" Imbuhku seketika. Ingin menyerah, dan meminta saudariku lainnya yang berbicara.

Saudari-saudari yang sudah memasang wajah seriusnya memaksaku. "Ayo! Bilang.. Bilang! Kasih tauin, Basmah!!"

Setelah merasa ter-
jleb berkali-kali, sederet kalimatku selanjutnya akhirnya membalikkan mereka ter-jleb serentak.

"Haah? Tunggu dulu.. Apa saya ndak salah dengar..?" Tanya seseorang meyakinkan kalimatku tadi.

Aku mengangguk, membenarkannya.

Beberapa detik selanjutnya, "Kyaaaaa… Basmaaaah!!" Pekik mereka berhamburan.

#
jleb


***


Kadang aku harus mengatup rapat-rapat pada satu garis yang telah disediakanNya.
Membiarkan seberkas cahaya memantulkan garisNya, agar ia menyemburat dengan bentuk sejadinya.

Maafku, untuk semua yang tak bisa terbalaskan: SMS, twitter, facebook, dan aktivitas blogwalking. Memberlakukan silent reader dan meng-aamiin-kan doa sebagai penyanggaku.

Jazaakumullah khaer.. ^^
[ Read More ]

3 September 2012

Terperangkap!

Posted by Basmah Thariq at 14.45.00 8 comments
“Saya tidak pernah menyangka, ternyata saya bisa rajin shalat juga! Padahal malasnya ampuun deh, kalo disuruh shalat dulu..”
“Yaa.. Islamnya saya kan karena dari kakek nenek saya yang udah dari sananya Islam! Saya sih, ngikut-ngikut aja..”
“Kalo inget dulu bagaimana jahiliyahnya saya, duh maluu..”

“Lho kok bisa ya, saya milih ekskulnya kayak Rohis? Padahal waktu SMP saya anak cheersleaders!”

(Kutipan dari mereka yang kini telah menerima Islam secara kaffah)
*
Pernah merasa seperti kutipan-kutipan di atas? Ah, ini belum seberapa yang pernah kita dengar. Simple, tapi ‘ada’ yang merasa terheran-heran dengan dirinya sendiri. Sebab masih ada yang lebih jahil (baca: bodoh) yang bisa jadi kita akan tercengang berkali lipat kemudian hanya bisa berucap mengagungkan asma-Nya.

Apakah kita benar-benar butuh alasan untuk menelusuri takdirNya? Mencari tahu, kenapa tiba-tiba kita berada di sini, di jalan ini dan (menganggap) terperangkap, meski keterperangkapan ini berupa dalam ketaatanNya?

Memilih kata ‘terperangkap’ sebenarnya hanya menuliskan bentuk kata yang berarti ‘yang telah direncanakanNya’. Hanya saja, merasa kata ‘terperangkap’ ini disuguhkan disini, ketika kita sebagai manusia, baru bisa merasakan atau melihatnya setelah terjadi apa-apa yang belum pernah terbersit sebelumnya. Ya, tiba-tiba saja kita merasa meng-iya atau tidak-kan diri kita pada sesuatu (atau seseorang). Kemudian akan terlihat ke arah mana kita melaju. Begitu kan?

Tahukah? Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan kecenderungan dalam hati-hati manusia untuk melihat, mendengar, dan merasakan dengan cahayaNya. Sejauh mana seseorang memberikan kecenderungan di antara dua pilihan yang telah ditetapkanNya sejak awal; baik atau buruk, maka kecenderungan ini akan mengikuti ke arah mana ia akan pergi. Kembali lagi, bergantung pada amaliah seseorang.

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah*, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”(QS Az Zalzalah (99): 7-8)

Begitulah memang, rencanaNya begitu cantik untuk sekadar dipahami oleh indera manusia. Bahkan sekuat apapun rencana kita untuk mengerahkan kita ke tempat yang lebih, Allah dengan segala kemahaanNya akan memberikan kecenderungan berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan dari sang hamba.

Dan sekali lagi, kesyukuran tetap perlu ditanamkan dalam setiap diri kita atas nikmatNya yang tak pernah lengah. Sebab, adakalanya ia bagian dari anugerah dalam kemudahan untuk (me)ngenalNya, dan melihat kenyataan bahwa ada pula yang harus (di)kenal(kan)Nya dengan berbagai bentuk kehendakNya.

Merasa terperangkap dalam ketaatan? Ya, ucapkan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin..
***

~Fiuh, di ujung tulisan ini, aku harus menghindar dari kakak laki-lakiku yang ingin tahu adiknya ini sedang menulis apa. Tentu saja, ada banyak faktor yang menyebabkan ia seperti itu. “Kak, bisakah engkau berhenti mengintaiku? Aku tak sedang menuliskan tentangmu.. Tentangmu nanti sajalah, setelah saya benar-benar terperangkap sesuai kehendakNya!”

(Merasa diajari lagi oleh Allah perihal takdir yang bermuara
pada keikhlasan, kesabaran, dan kesyukuran untuk menggapai keridhaanNya)

*Kata dzarrah, berarti debu yang berterbangan di antara cahaya matahari. Atau debu yang menempel pada suatu benda. Sebagian ulama pun menafsirkan, bahwa dzarrah adalah semut yang paling kecil.

[ Read More ]

29 Agustus 2012

Surat Perpisahan

Posted by Basmah Thariq at 07.58.00 15 comments

:dari Negeri bernama KKN

Saudara… Hari ini, jiwa dan naluri kita kembali terluka atas adanya sebuah kata perrpisahan. Namun, percayalah wahai Saudara, hati kita akan selalu terikat. Jalinan ini akan semakin erat, semakin jauh ragamu melangkah maka akan semakin hati kita mendekat.
Saudara… Perpisahan itu akan selalu ada, karena kita pernah berjumpa, bersama dalam tangis, luka, kecewa, marah, benci, canda tawa dan bahagia. Setiap tetes air mata yang tertumpah di hari ini, akan menjadi saksi atas jalinan yang selama ini kita simpul bersama.

Saudara… Biarkan aliran air mata ini jatuh sesukanya, biarkanlah dia mengalir, mengucap kata seindah-indahnya. Biarkan dia, wahai Saudaraku.. Karena air mata tak berarti sedih, air mata ini tak berarti duka. Tetapi, air mata ini juga adalah lambang bahagianya hati. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Biarkan!! Karena dia memang hadir untuk saat seperti ini, untuk sebuah perpisahan yang begitu menyayat hati.

Perkuatlah langkahmu, wahai Saudaraku!! Yakinkan diri dan hatimu, hari esok pasti akan lebih cerah, hari esok adalah harapan yang harus kita raih. Pandang senyumannya yang lebar, tatap wajahnya yang ceria, sebab hari esok adalah bahagia. Yakinlah, Saudara! Cinta dan cita kita akan selalu bersatu selamanya, dalam cahaya persaudaraan ini.
Saudara… Segala rindu yang akan muncul, segala nafas yang akan berhembus, segala harapan yang akan kita raih. Di sana akan selalu ada keberkahan. Dan di sana pasti akan selalu ada cinta.

Saudara… Selamat melanjutkan kembali langkahmu. Selamat berjumpa lagi di tangga kesuksesan di masa yang akan datang, dalam senyum yang lebih indah dan dalam pelukan waktu yang cukup lama, agar kita bisa kembali tertawa, mengingat kembali indahnya kebersamaan ini.

di kutip dari Surat Perpisahan oleh Saudara Ardyanto, Sekretaris Kecamatan Batang
sekaligus menjadi bagian teman posko di Desa Maccini Baji
-Terima Kasih-

 
*** 
Setelah gerimis mengantar pergi, ada perasaan yang terdesak disana..
Jeneponto, 26 Ramadhan 1433 H / 15 Agustus 2012 M

[ Read More ]

26 Agustus 2012

Potret di Lokasi KKN (part II)

Posted by Basmah Thariq at 16.14.00 2 comments
 
Captured #1: Menjelajahi desa sebelah, Desa Kaluku

Captured #2: Aktifitas mengajar di SD Negeri 091 Panrang, Desa Maccini Baji

Captured #3: Menyaksikan pertandingan Futsal sekaligus pertemuan anak KKN
antar Kecamatan Batang dan Kecamatan Arungkeke
~sungguh! Ini keterpaksaan yang mendesak.. :'(

Captured #4: Kordinator Kecamatan Batang, Sang Nasionalis!

Captured #5: Koordinator desa Maccini Baji

Captured #7: Mengajar Baca Tulis Al Qur'an 
di Masjid Taqwa Panrang, Desa Maccini Baji :))

Captured #8: Ehem!! Jadi 'dewan juri' di MTQ yang kami adakan ^^
Ada lomba Qasidah, ckckck..
Captured #9: Pertandingan Sepak Takraw, 
salah satu Program Kerja kami

Captured #10: Hm.. *iseng!!

 Captured #11: Persembahan dari kami, Anak Ka-Ka-eNg U-Neng..

Sebenarnya masih banyaaaak, masya Allah!! 
Tapi tidak sanggup berlama-lama di depan layar laptop. 
Ceritanya? Entahlah, bisa disegerakan atau tidak.
Tapi, insya Allah diusahakan.. ^^

Dan terima kasih telah menjadi 'model' di Lokasi KKN
baik secara sengaja maupun tidak disengaja..
[ Read More ]

19 Agustus 2012

Sebab Semua Beriringan

Posted by Basmah Thariq at 10.04.00 8 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Sebab semua beriringan. Seperti halnya purnama yang tak bisa selamanya utuh. Ia yang akan berkurang dan bertambah seiring waktu yang terus menuju..

Sebab semua beriringan. Seperti manusia yang tak melulu baik dan tak bisa sempurna. Karena kadar imannya yang naik turun sesuai kebaikan dan keburukan yang mengikutinya..

Sebab semua beriringan. Untuk setiap niatan, ucapan, dan tindakan yang tak pelik mengantar pada kehidupan. Selalu ada khilaf yang menyertai dan alpa yang tersemat hingga dosa terus saja tertenun.

Sebab semua beriringan. Untuk banyak doa yang bisa terselip di sana, di sini, dan di hati kita masing-masing. Harapan dan cinta meraih ridha Allah, menjadi pemenang, sebagai orang yang bertaqwa.

"Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal kami dan kalian." Aamiin..


Ahad, 1 Syawal 1433 H / 19 Agustus 2012 M
menyapa dua rasa yang terkuak, di satu waktu..

[ Read More ]

15 Juli 2012

Potret di Lokasi KKN

Posted by Basmah Thariq at 13.28.00 9 comments
Captured 1: 
Detik-detik pembekalan KKN dan pengumuman lokasi

“Semoga ini tempat yang terbaik,” Pasrahku setiap kali orang-orang memberikan gambaran tentang lokasi ini. Benar, sama sekali aku tak menyesal.

Captured 2:
Alhamdulillaaah, rasa syukur berkali lipat setelah mobil yang mengantarkan kami ber-3 memasuki halaman rumah Kepala Desa yang sekaligus menjadi posko kami di Desa Maccini Baji, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan

Captured 3:  
Jelajah perdana menuju rumah kepala dusun setempat.


Captured 4: 
Ah, benar! Separuh hatiku masih tertinggal di Makassar

Captured 2: 
Rumah warga di Desa Maccini Baji

Captured 3

Captured 4

Singkatnya, aku sedang mengakrabi diri dengan hobi baru sebagai photographer. Yah, walaupun masih amatiran. Mengabadikan beberapa pemandangan yang teramat jarang kutemui dijantung  kota. Benar-benar puas bisa melihat bentangan langit dan hamparan hijau merumput. Subhanallah... Untuk captured dan cerita lainnya, insya Allah menyusul. ^^

[ Read More ]

28 Juni 2012

Menuju

Posted by Basmah Thariq at 21.59.00 5 comments
 

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Mudahkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Mudahkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)



Perjalanan penuh sembab dan haru T^T 
#hiks
[ Read More ]

25 Juni 2012

#5 Sudut Hati: sementara

Posted by Basmah Thariq at 17.16.00 4 comments

seperti hening yang berjarak
masing-masing kita berpaling
bukan pada zona ..si ..si
yang kadang membuat degup jantung bergelimpangan
tapi, menulis cerita baru di lembar-lembar kemilau kampus
sedianya aku, akan mengutip hikmah di setiap langkah -insya Allah-
(KKN segera beranjak menyuguhkan cerita)

[ Read More ]

11 Juni 2012

Sebab Anak*

Posted by Basmah Thariq at 00.45.00 2 comments

(Beribu maaf, tuk jemari seseorang yang ter-captured >.<)

Sebab anak, sang Ibu setia..
Melimpahi kesetiannya dalam hikmah dan cinta padaNya

Sore yang lengang. Sambil menikmati senja penuh gerimis, aku terduduk di depan TV. Awalnya sih, agak ngeh juga untuk menyimak tayangan tersebut karena tidak mengikutinya dari awal.  Seperti biasanya, aktivitas memindahi dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Tapi, saat mendengar satu kata “anak” yang menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, sinyal rasa ingin tahuku pun meninggi, kemudian mencoba memberikan perhatian penuh padanya.
Rupanya yang menjadi topik pembicaraan itu adalah tentang gerakan peduli lagu anak yang belakangan ini menjadi sebuah himbauan di kalangan pemerhati pendidikan dan dunia anak. Selain Kak Seto dihadirkan di sana, adapula beberapa pencipta lagu anak saat ini (meski masih kurang familiar menurutku), seorang psikolog anak, dan beberapa komunitas giat cipta lagu anak yang dilibatkan dalam diskusi ini.
Pada dua sesi yang kulihat, menghadirkan pencipta lagu anak, memberikan kesannya bahwa hari ini, para orang tua patut merasa dilema di saat anak-anak mereka tak lagi mengenal dekat lagu yang sepantasnya dengan kehidupan mereka. Dimana lagu anak, katanya, berfungsi sebagai alat komunikasi efektif, baik dari segi pelafalan dan pemaknaan yang menyertai di dalamnya secara berulang-ulang. Dalam sumbangsihnya secara tak langsung memang untuk memberikan kesan dan pesan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak dari lirik-lirik lagu.
Ketika membahas kondisi anak zaman sekarang, sepertinya era Joshua, Sherina, dan Tasya mungkin menjadi akhir dari episode lagu anak-anak di saat aku SD dahulu. Saat ini, anak-anak begitu dekat dengan lagu-lagu yang jauh dari usianya. Aku pun langsung teringat pada beberapa murid privatku. Mereka dengan mudah menyanyikan beberapa lirik lagu yang sebenarnya tak pantas diucapkan dan diperdengarkan, terlebih dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu keong racun, dengan sangat lancar terlisankan dari seorang anak yang masih berusia 4 tahun. Masya Allah, perasaanku langsung terhempas sangat kuat. Walaupun apa yang ia nyanyikan sebenarnya tidak sepenuhnya dimengerti makna dari lagu tersebut. Dan kasus ini ternyata bisa dialami di hampir seluruh orang yang dekat dengan lingkungan anak.
Di satu sisi, aku bisa menanggapi keefektifitas dalam memperkenalkan kosa kata mereka. Seperti, “Bun, keong itu apa?”  Begitu pertanyaannya Iza pada bundanya setelah menyanyikan lagu keong racun tersebut. Semisal yang tadinya anak tersebut tidak mengenal kata “keong”, maka ini menjadi satu kesempatan bagi orang tua untuk semaksimal mungkin memberikan penjelasan tersebut lebih ke ilmiah. Perasaanku yang sempat terhempas tadi, bisa terkembalikan atas pertanyaan polosnya si Iza. Duh, si Iza-ku..
Dalam sesi selanjutnya, penuturan dari beberapa komunitas giat cipta lagu anak menyisakan satu spirit yang menjadi visi mereka. Mengembalikan keberadaan lagu anak untuk menjadi bagian dari kehidupan anak semestinya. Dengan memfasilitasi secara cuma-cuma dengan hanya men-download gratis dan menyebarluaskan. Serta beragam usaha lainnya yang dikerahkan demi sebuah pengembalian tempat semestinya.
Sebagai salah seorang yang insyaa Allah tak lepas dari dunia anak, aku pun ingin memberangkatkan hal ini dari sisi positif. Ketika lagu anak pada topik ini yang kiranya dianggap menjadi penyampai sesuatu hal positif, maka aku pun ingin meminjam spirit tadi melebihi mereka. Agar bisa pula menumbuhkembangkan kecintaan anak pada sesuatu yang mulai diabaikan banyak kalangan. Yaitu, Al Qur’an.
Al Qur’an, satu peralihan peran secara verbal yang terbentuk dari kesempurnaan pelafalan huruf hijaiyyah yang mewakili pelafalan alphabet dari berbagai negara. Mungkin, banyak orang yang tidak tahu. Tapi, ini berdasarkan fakta secara langsung yang sering kita temui di lapangan. Kemudian secara nonverbal terletak pada isi dari Al Qur’an yang jika dipahami merupakan dari sebuah bacaan yang dilantunkan dan pesan-pesan di dalamnya yang diamalkan.
Sebagaimana yang dikemukakan pada salah seorang psikolog anak pada acara tersebut, bahwa aktivitas anak tak sekedar berujung pada kognitif (knowledge) semata. Melainkan ada afektif (attitude) dan psikomotorik (skill) yang saling menunjang dalam pertumbuhan anak. Hal tersebut, sangat mewakili dari apa yang ada pada Al Qur’an. Sekalipun, aku bukanlah salah seorang hafizhah (penghafal Al Qur’an). Dan untuk setiap orang yang memelihara lisannya dari kalamNya, semoga Allah memberikan keberkahan atas penjagaannya terhadap Al Qur’an.
Terakhir, Sebab anak! ketahuilah, jiwa anak harus dibangkitkan dengan hal positif agar tetap bersemangat setiap menghadapi kehidupannya dan masa depannya. Memberikan sesuatu yang positif akan menghasilkan yang positif bukan? Wallaahu a’laam..

*Disetiap tulisan selesai diketik, aku selalu tersendat pada judul.  Karena mengantuk (check waktu post tulisan ini), Sebab Anak dibuat karena menonton hanya alasan kata "anak". Pantas? -semoga-
[ Read More ]

1 Juni 2012

#4 Sudut Hati: Mengutuhkan

Posted by Basmah Thariq at 21.40.00 9 comments

(Pic: "memergoki" di balik bingkai kacamataku)


“Setiap kita yang masih menggenggam separuh, menikahlah! Karena menikah itu mengutuhkan jiwa-jiwa terhadap cintaNya. Mengutuhkan hati yang selalu menerbitkan kecenderungan. Dan karena setiap kita punya cerita tetap di lauhul mahfudz.”

[ Read More ]

30 Mei 2012

ノート(Nouto)*

Posted by Basmah Thariq at 17.31.00 2 comments

Ini sudah Document 7 setelah berkali-kali jari kelingking dan telunjuk kiriku secara serentak menekan tuts ctrl+n pada Afkaar, my black lapty. Baru menulis beberapa paragraf yang masih dalam uraian sementara, aku pun berpindah lagi pada new blank document untuk tulisan baru ini.
Hopeless. Kata ini selalu saja ingin menghinggapiku berkali-kali. Ya, setelah berulang-ulang merevisi usulan penelitianku yang tersendat pada kerangka teoritik di salah satu variabel. Dimana variabel tersebut akan menguatkan penelitianku ke depannya, insya Allah. Sebab, sumber dari variabel tersebut masih sangat minim. Berharap semoga bisa diupayakan goal di semester 8.
Sebenarnya hal yang kadang membuat perasaanku pasang surut dalam merevisi penelitian ini adalah karena tanggapan dari beberapa orang yang mengatakan bahwa memilih penelitian pada kategori non-PTK (bukan Penelitian Tindakan Kelas) cukup rumit dan tingkat keberhasilan yang diragukan. Makanya, banyak teman-temanku bahkan dari tahun-tahun sebelumnya yang sejurusanku memilih PTK dalam tugas akhirnya.
Berbeda dengan teman-teman yang mengambil PTK, menurutku non-PTK merupakan penelitian yang bisa memberikan sumbangsih besar pada proses pembelajaran di SD secara umum. Karena non-PTK memberikan keluwesan pada peneliti untuk mengambil garis besar yang terjadi secara umum di sekolah-sekolah. Sedangkan PTK memiliki prinsip bahwa penindakan terjadi di satu kelas tertentu karena satu permasalah yang dihubungkan dengan satu model pembelajaran yang kemudian akan dikondisikan pada kelas yang mengalami permasalahan. Dan permasalahan tersebut belum tentu akan terjadi pada kelas lainnya.
Mengingat PTK hanya ditujukan kepada permasalahan yang terjadi oleh siswa dan mengesampingkan persoalan guru dari teknik mengajar, maka memilih non-PTK menjadi suatu landasan utama yang menarik bagiku. Membuat suatu inovasi yang dibutuhkan baik dari guru maupun siswa secara keseluruhan: usefull, flexible, dan insya Allah terjangkau.
Adapun penelitianku terinspirasi dari sebuah konsep yang telah ada di Jepang dan dituliskan pada salah satu komik Jepang yang bercerita tentang kehidupan anak-anak 小学校(dibaca: Shougakko =Sekolah Dasar) di Jepang. Ia akan menjadi bagian variabel independen dimana pada penerapan きぼう (dibaca: kibou yang artinya buku rapor) di Jepang yang terkonsep dalam penilaian. Akan sangat menarik jika きぼうditerapkan dalam aktivitas kelas di sekolah Indonesia.
Ide penelitian ini sebenarnya telah lama mengendap*. Terhitung dari semester 4 di saat aku membaca komik tersebut yang kemudian aku benar-benar ingin mengembangkannya untuk menjadi tugas akhir di semester 8 nanti, insya Allah. Sebelumnya, aku memang sempat terpikirkan pada banyak hal. Salah satu diantaranya ingin mendiagnosis kesulitan belajar dan bentuk pengajaran remedial yang sering terjadi pada Nobita, salah satu pemeran utama kartun Doraemon. Namun kendala ada pada dia yang berasal dari tokoh fiktif dan sistem pembelajaran SD di Jepang sangat berbeda dengan pembelajaran di Indonesia.
Nah, teruntuk adik-adik di PGSD, sangat direkomendasikan untuk memilih non-PTK agar bisa menjadi orang yang lebih berkembang dalam situasi apapun. Intinya, bisa menghidupkan dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan tanpa keluar dari batasan kurikulum yang telah ditetapkan. Walaupun kita tak bisa menutup mata bahwa PTK pun punya nilai tersendiri dalam menindaki kelas-kelas yang memiliki masalah khusus. Soredewa, mata au hi made… (sampai bertemu lagi…)
*catatan
 ♥ ♥ ♥

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea