23 Oktober 2012

Leave and Go

Posted by Basmah Thariq at 20.37.00
Berkali lipat, kutemui wajah sekitar dengan  penuh kesembaban. Satu orang, dua orang, tiga orang, … entah sampai angka berapa harus ku hitung hingga tak lagi menemukan wajah-wajah yang dipenuhi kesenduan. Ah, meninggalkan dan ditinggalkan; rupanya, suasana ini akan memberikan suasana yang berbeda memeriakkan ruang hati seseorang.

Agaknya, di antara siang nan terik ini tak mampu mengeringkan kesembaban. Sedang aku, hanya bisa menarik diri dari kerumunan wajah-wajah itu. Kepayahan memang, saat harus berbalik dan melawan arah dari arus orang-orang yang menuju ke beberapa orang yang akan meninggalkan mereka. Setidaknya mencoba melesap pergi, agar tidak menarikku ke rasa yang sama, sendu.

Meninggalkan dan ditinggalkan. Entah berapa banyak cerita ini terkumpul dari mereka yang meninggalkan. Kemudian tak sedikit pula menyisakan rasa terserak dari yang merasa ditinggalkan. Baik sementara, atau mungkin selamanya. Tetap saja tak bisa mengalihkan perasaan yang sejatinya memang ada.

“Kakak Basmah, di mana Kakak Fadli?” Terdengar suara Akram, seorang adik yang juga sepupu dari Kak Fadli, sejak tadi turut bersamaku menelusuri hampir sebagian pekarangan masjid.

Aku menatap Akram lekat. Kemudian menarik lengan Akram dan menggenggamnya erat, “Mungkin Kakak Fadli masih belum naik bus. Soalnya dari tadi kakak gak liat Kakak Fadli di dalam bus yang disini..” Jelasku menunjuki beberapa bus yang siap beranjak. Dan pandanganku terus saja menyapu pekarangan masjid Al Markaz, tempat di mana wajah-wajah sendu itu ada.

Setidaknya, pertanyaan Akram tadi mengembalikan kesadaranku. Bahwa bukan aku seorang yang ‘merasa’ ditinggalkan pergi. Tapi, ada Akram, juga Akram lainnya, yang serasa bagaimana kita kami ditinggalkan pergi. Mengantarkan jejak-jejak mereka yang mulai beranjak satu per satu pergi, meninggalkan.

Kepergian. Suatu sikap yang justru menjadi satu harapan besar bagi yang ditinggalkan untuk kembali, dalam keadaan yang dikehendakinya. Dan bagi yang ditinggalkan seharusnya memasrahkan kepergiannya untuk tetap bisa kembali dalam keadaan yang dikehendakiNya, Allah ta’ala. 

Jika setelah pertemuan yang kita lewati karena kehendakNya, maka bersiaplah untuk menyambut perpisahan dalam bentuk apapun. Entah sesuai keinginan, pun bisa jadi yang bertolak dari kita. Sejatinya, kita akan bertemu keduanya; pertemuan dan perpisahan, yang diperuntukkan kepada kehidupan. Maka, nikmatilah!

Saat riuh rendah orang-orang di pekarangan masjid dan sekitarnya menyentuh selaput pendengaranku, jiwaku bergetar. Ya, Allah! Panggilan memenuhi rumahMu sungguh menjadi lirikan hati di setiap muslim dunia. Adakah aku bisa kembali memenuhi rumahMu?

Waktu, ia akan mengantar dan menjemput
Sedang kita, hanya menjumput di antaranya
Maros, 14 Oktober 2012

6 comments

24 Oktober 2012 06.17

Ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan tiap-tiap yg hidup pasti akan kembali. SAya yakin kita semua tahu dan paham hal ini, namun saat moment ini menyapa...tak bisa dielakkan ada rasa sendu mengusik perlahan palung hati. Semoga yg sdh masanya pergi bisa mendapatkan 'perjalanan' barunya dengan baik. Dan yg dtinggalkan bisa segera menjejakkan langkah diri dengan penerimaan yg Ikhlas.

24 Oktober 2012 12.19

kak Basmah..... :)

23 Desember 2012 15.27

perpisahan memang selalu menyisakan ruang kesedihan dalam hati, meski kadang perpshn itu tak lama. tp tetap saja.

salam kenal kak...

22 Januari 2013 10.36

haaa aku nyasaar, ini blog siapaaa...

tapi isinya menarik,,, judul2 postingannya kereen.. good good

29 Januari 2013 12.34

nice day :)
hargailah hari kemaren,
mimpikanlah hari esok,
tetapi hiduplah untuk hari ini.
bagi-bagi motivasinya yaah...

http://wisataoutboundmalang.com/

http://www.nolimitadventure.com/

25 Februari 2013 18.01

nice post :D salam kenal yaaa

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea