15 Maret 2011

(Kali ini, Tanpa Judul)

Posted by Basmah Thariq at 22.03.00 1 comments

(Sebuah PUISI* yang sempat terpendam oleh riuh putaran waktu yang telah digores oleh seseorang..)
18 December 2008 at 12:05 @ SMAN 17 Makassar




Gejolak yang membuncah membuatku tergelepar
Hampir tak sanggup kuhadang badai yang menampar
Menggoyahkan pondasi istiqamah yang terhunjam dalam
Meliukkan mahkota ridha yang bertengger di awan

Tergetar tanah tempatku berpijak
Remuk kapalku di terjang ombak
Meninggalkan ribuan keping berserak

Putus asa membuat dada serasa sesak
Dunia serasa gelap
Jalanan terlihat kabur oleh asap
Tertatih menyusuri lorong tanpa tentu arah
Sementara luka yang diterima kian menganga

Sungguh manusia tak berdaya
Untuk menolak bala’ dan bencana
Hanya keluh kesah dan air mata
Lupa akan semua nikmat yang selalu di banggakan

Berganti ratap pilu tak terkira
Hanya kesabaran yang menjadi senjata
Berbekal ridho, sempitnya bencana akan sirna
Karena pada setiap zaman ada penderitaan
Di setiap tempat ada kesedihan
Di setiap sudut pernah ada tangisan
Di setiap lembah ada kematian
Dan di setiap bukit pun tak luput dari ratapan
Karena memang begitulah dunia di ciptakan

Ya Allah...
Tuntunlah lisanku tuk selalu menyebut kata terindah,
Nama-Mu
Bimbing bibirku tuk selalu melantunkan istighfar
Jadikan ratapku, harapku, takutku
Hanya pada-Mu
Karuniakan kesabaran seperti yang Engkau
Berikan kepada Nabi-Mu
Binalah cinta dalam hatiku untuk
Kupersembahkan bagi-Mu

(seorang adik, AR)




*Bukan menyengaja menyimpannya, tapi "ia" masih tersemat secara maya saat kembali terjenguk.
[ Read More ]

6 Maret 2011

Cinta yang Tak Terbagi

Posted by Basmah Thariq at 21.08.00 2 comments
Senja yang mulai merangkak, menghampar kejinggaan di jantung kota mengiringiku dengan  gontai menuju sebuah angkutan umum untuk pulang seusai ngampus. Baru sejenak dalam angkutan tersebut, tiba-tiba sang supir menyetel musik dengan nada-nada yang memekakan telinga.

“Pak, bisa dikecilin musiknya?” Tegasku. Meski berharap kata “kecilin” itu berganti “matiin”. Karena akan sama hasilnya, alunan itu tetap terdengar. Sang supir pun menurut instruksiku, mengecilkan alunan tersebut.

Entah karena alunan tersebut mengganggu perjalananku, sesekali aku menyimak lirik tersebut. Seperti biasanya, sepanjang perjalanan senja ini, aku tak pernah menemukan lirik lagu yang tak bertemakan cinta. Entah kehabisan tema, hingga semua lirik yang terlantunkan hanya mengurai kata cinta, cinta, dan cinta. Subjek dan objeknya tak jauh dari dan untuk dia, dia, dan dia. Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Benar-benar tak sehat. Bisikku mendelik.

Karena bosan menyimak dan sedikit mual mendengarnya, aku menyimpulkan sendiri untuk semua lirik tersebut, cinta yang tak terbagi. Kasihan sekali para penikmat musik ini.  Mereka hanya disuguhkan pada keindahan cinta, cinta yang tak terbagi. Cinta yang sejatinya indah, namun oleh oknum-oknum tertentu, ia berubah menjadi hal yang sempit. Fatalnya lagi, lirik-lirik ini dan semua lirik yang bersinggungan dengan kata c-i-n-t-a ini, mampu menyugesti banyak orang yang mengaku “music is my life”. Atau, “Hambar rasanya, kalo dunia ini gak dibubuhin musik”, dan masih banyak lagi kalau mau menuruti komentar-komentar mereka.

Padahal, menilik sejenak perkataan dari Imam ibnu Qayyim, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri”. Membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Tapi, apa yang kita dapati dari kebanyakan lirik tersebut? Seolah cinta mengurucutkan hanya pada sebuah objek, tak ada yang lain. Benar-benar memaksakan si pendengarnya, bahwa cinta memang tak terbagikan. Hingga para penikmat alunan-alunan tak bermakna tersebut jauh dari Pemilik Cinta yang hakiki. Ia mampu membelenggukan seseorang, menjauh secara perlahan dari aktivitas cinta untukNya. Al Qur’an, aktivitas yang bersifat sunnah, dan masih banyak lagi yang bisa mengantarkan seseorang untuk menikmati kecintaan padaNya, Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah”. (Al Baqarah: 165)

Rabb, adakah yang lebih berarti dari mencintaiMu?
Cinta yang tak terbagi terkadang meluputkan seseorang, tapi entah mengapa sarana-sarana ini selalu mendapat tempat di hati kaum muslim?

Pada akhirnya, segala sesuatu dikembalikan pada diri kita yang akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak secara nafsi (seorang). Kitakah bagian dari pelaku cinta yang tak terbagi? 

Wallaahu a’alam..
[ Read More ]

Sayap Patah

Posted by Basmah Thariq at 20.56.00 0 comments

Tak lagi bisa terbang,
Walau asa ingin membumbung tinggi…
Karena hari mulai merapuh
satu keinginan, lesap menjauh

Dan mulai patah…
Tak lagi ingin menyapa
Pun tak membumbung membedah langit
Karena mendung menggelapkan hati

Dan lagi, patah…
Tak lagi meliuk-liuk di lazuardi
Pun tak menepikan pada kata
Karena sayap tak lagi mengepak

Aku, si Bianglala
3 Maret 2011 – Pada kelas bilingual bersemi, menanti senja..
[ Read More ]

1 Maret 2011

Jadi Sahabat Anak-Anak

Posted by Basmah Thariq at 23.32.00 3 comments
Wajah teduh itu,
Membantu rasa ini lebih baik
Hingga segaris senyum membersit
Juga tawa segar sering muncul di wajah

Sebuah rutinitas biasa yang kugeluti bersama teman-teman kecil di jelang senja, mengajar. Aktivitas yang terbilang menyenangkan sekaligus menerapi kesabaran. Karena mengenal mereka cukup menyulitkan awalnya. Terlebih mereka memiliki banyak perbedaan dari segi usia, kelas, dan sekolah. Meski akhirnya beberapa pertemuan yang berlanjut membuat kami menjadi “teman akrab”.

Dan, ini  selalu menjadi sore kita.. Pertemuan demi pertemuan membuat aku semakin bisa mengenal dunia mereka. Yah, banyak hal pasti menjadi tantangan dan dinamikanya sendiri. Terlebih kesabaran menjadi modal awal dalam mengkonsepkan sebuah pembelajaran yang bagi mereka menjadi permainan menarik. Sebab, sesekali waktu, adakalanya mereka jengah jika disajikan pada metode pembelajaran yang kaku seperti halnya mereka dapatkan dari sekolah masing-masing. Jika sudah seperti ini, beragam model mulai diluncurkan. Mengajak menggambar dan bercerita hingga bernyanyi walaupun kebanyakan lagu-lagu tersebut mereka yang mengajariku.

Tapi, ada hal yang membuat haru menyelusup di hati, ketika setiap kali ingin mengakhiri pertemuan, mereka selalu meminta untuk berlama-lama belajar. Sekalipun ujungnya, kami akan bermain. Atau di saat diri ini mengalami keterlambatan hadir di tempat mengajar karena kuliah atau kegiatan lainnya, ternyata mereka telah menungguiku di depan pintu masuk dan menyambut girang lewat salamnya.

Akhirnya, aku mengiyakan sebuah artikel yang mengargumentasikan bahwa “Bagi anak-anak, bermain bukan main-main”. Seiring bergulirnya waktu, Allah ingin menyadarkan padaku tentang sosok makhluk kecil bernama anak, agar selalu memberikan kesempatan untuk mengekspresikan kesenangan dan siap membimbingnya, bukan menjadikan ia sebagai “orang” sesuai keinginan kita. Karena anak memiliki hak atas kehidupannya. Yang terpenting, sebagai pendidik, jadilah pendidik yang bisa menjadi sahabat yang selalu optimis. "Not only teach, but also touch".

Terima kasih adik-adikku:
Azka, Mirza, Alif, Nuzul, Arya, Icha, Noni, Rimba, dan Zul.
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea