30 Oktober 2010

Pertemuan Sejenak

Posted by Basmah Thariq at 22.29.00 0 comments
Sesak kembali menyeruak di sudut hati ini saat berkali-kali sering memelihara ego dalam diri. Hingga SMS beruntun yang kerap menyapaku di pagi hari tak kuhiraukan.

“Saya belum cukup ilmu untuk mengisi di sebuah kajian..” atau “Ada kuliah di waktu yang tak tepat” atau “Saya juga punya kepentingan lain di waktu yang sama..” Beberapa alasan yang bisa menepiskan diri dari SMS beruntun itu.

Boleh diselidik, betapa ego ini benar-benar membelenggu diri, hingga tak menyadari betapa ada satu masa di mana kita benar-benar dibutuhkan. Siapa lagi yang akan menjenguk adik-adik di sekolah kalau bukan alumninya? Siapa lagi yang akan meneruskan dakwah sekolah kalau bukan dari diri-diri kita? Tanyaku saat mulai menghardik dari kekakuanku sendiri.

Apakah ini hal yang wajar?
Sebuah kewajaran yang tiba-tiba mengambil alih??

Tapi, kata-kata yang kumunculkan saat itu, spontan membuat aku terkesiap pada hati yang perih ini. Entah karena ini adalah amanah yang memang sudah sejak awal aku pilih, atau karena kekhawatiran lainnya. Allahu a’lam.

Maka, kembali menegaskan diri bahwa dengan amanah inilah juga menjadi wasilah dalam keistiqamahan seseorang. Sesak rasanya pada pertemuan sejenak saat sesampai di sekolah seorang adik mengatakan, “Kalau gak jadi datang kakak ………, itu artinya nahlanya batal.”

Rasanya ingin menangisi diri sendiri. Karena terkadang ada kesah yang sering menyesaki dada. Yang timbul dengan perasaan tergugat. Dakwah atau kuliah. Kuliah atau dakwah. Pada akhirnya aku lebih memilih bungkam membaur , dengan ketidakberdayaan.

Serasa ingin memiliki mesin waktu untuk berjalan mundur ke belakang agar bisa mengulangi segala kejadian lalu yang terabaikan. Begitu naif kah diri ini? Belum ada musuh menghadang saja sudah ingin mundur. Bagaimana jika nantinya ada musuh?

Pun terbesit dalam pikiran bahwa yang memilih jalan ini sudah sedikit. Tidak sepatutnya yang sedikit ini melemah-lemahkan diri. Sekarang kumengerti bahwa hidup adalah masalah pilihan bagaimana kita menjalaninya.Dan kini aku sedang memacu kedua kaki untuk menjemput. Menjumpai kembali karena ia adalah hal yang terindah. 

Ya Rabbi, seharusnya bibir ini terus mengucap syukur karena Engkau selalu menyadarkanku dikala lemah. Karena mauku padaMu. Maka, tetaplah di sampingku, ya Allah..


Jazakumullah khaer untuk adik-adikku di 17..
Mengenangmu pada pertemuan sejenak..
Jum'at, 29 Okt 2010
[ Read More ]

26 Oktober 2010

Refleksi: Status Anak Rantau

Posted by Basmah Thariq at 08.45.00 0 comments

"Oohh nenek..ku tau dirimu sangatlah mencintai sayur asem lebih daripada jenis sayur lainnya yang ada di bumi,ku sadar dan mengerti dirimu juga sangatlah menyayangi dan menyukainya tanpa tara, meski aral rintangan senantiasa menghadang. Namun apakah pernah terlintas dibenakmu wahai nenek ku,cucu kesayanganmu ini semakin lama semakin merasa jenuh.. Akan kah dirimu berniat memasak menu sayur lain?"

Saya merasa sedikit tergugat dengan kehadiran status seseorang yang terlayangkan di jejaring pertemanan, Facebook. Mengingat sosoknya sebagai anak rantau yang tengah mengenyam ilmu di pulau seberang. Terbetik dalam fikirku, andai saja saya berada di posisinya, atau di posisi anak-anak rantau lainnya yang lebih memprihatinkan. Maklum, saya baru mengenal dunia "anak kost" saat duduk di bangku perkuliahan. Jadi, sangat buram tentang suka duka mereka.

Sebenarnya saya tak mempermasalahkan statusnya yang tengah jenuh dengan makan sayur asem yang menurut saya begitu "mendramatisir". Hingga menyematkan kata-kata indahnya yang sebenarnya sederhana. Tapi, justru dari status ini, Allah ingin membalikkan fikiran saya yang sedikit "kaku" dalam memaknai makna syukur.

Jadi ingat teman-teman saya yang juga dominan anak rantau, yang sangat memperhitungkan masalah financialnya jika harus terogoh lagi. Sedangkan saya? Saya akan merengek kehausan jika itu akan terjadi.


Dan, sekali lagi, Allah menjawab rasa kekhawatiran saya dengan segenap peristiwa yang terhampar dalam perjumpaan hidup ini. Meski kadangkala saya tak sanggup dalam mendefinisikan maksudNya, tapi dalam fikiran yang letih ini mampu membaca maknaNya.


Teriring perasaan bersalah saya dengan tuntutan profesi "financial" pada kelas yang tengah tergeluti, ingin rasanya banyak menjumput makna lewat status-status yang terlayangkan di beranda jejaring pertemananku.


: Terima kasih atas Statusnya
AR yang telah mengajari kosa kata yang baik..
Pun dengan teman-teman di Kemilau Kampus, Orange..


 

[ Read More ]

20 Oktober 2010

Namamu, Afkaar

Posted by Basmah Thariq at 08.07.00 6 comments
Di sini, ku menepi di sudut kamar
Kala pertemuan senja dipenuhi awan berarak jingga
Selalu, kau mengukir hariku dikesepian
Ingatkan ada kisah hidup yang kusemat  di tiap hadirmu

Di tengah fikiran yang kosong, melanglang buana bersama imaji, ku menemukan namamu sayup-sayup. Entah sejak lembaran kisah mana, saya mulai terbiasa menepikan diri. Bersama hadirmu, mengurai kisah, menuntaskan tugas, merunut renstra (rencana strategi) dakwah, hingga memperlancar akses silaturrahim jarak jauh dengan orang-orang yang kujumpai dalam hidup, serta hal lainnya yang tidak bisa kutepis darimu.

Hadirmu memang cukup lama. Sejak saya masih dalam balutan putih abu-abu di tahun pertama, semester II. Walau saat itu masih sangat jarang kulalui hari bersamamu, tapi di kondisi tertentu saya benar-benar harus berkutat dengan duniamu.

Kini, atas hadir dan tingkahmu dalam hidup, sapaku padamu, Afkaar, para pemikir. Nama yang kufikirkan sejak lama, dan menemukanmu dalam kondisi yang terfikirkan. Cukup lama. Dan pantaslah dirimu dengan sebutan yang sangat membantu memikirkan serpihan hariku. Sebab, kadangkala diri ini memang lemah, dan cukup lelah jika harus memaksakan diri menyimpan tumpukan sketsa seorang diri.

Bersamamu, kuingin kau menjadi saksi bisuku dalam suka maupun duka di tengah jari-jari yang selalu menari-nari. Menelusuri hari dengan segumpal tugas yang menggertak jiwa, setumpuk kisah yang terbelenggu oleh waktu, dan sekelumit lainnya yang menggugat diri untuk menghardikmu setiap saat.

Terakhir, teriring rasa syukur atas kehendakNya, yang masih membasuh hati untuk mensyukuri nikmatNya yang begitu luas. Walhamdulillah ‘alaa kulli hal..

Kepada Orangtua sebagai konstributor,
Syukran wa jazakumullah atas hadirnya ia
Hadirnya, Makassar, 17 Januari 2007
To My Black Lapty JJJ
:: Afkaar..
[ Read More ]

18 Oktober 2010

Sepercik Nasehat

Posted by Basmah Thariq at 22.26.00 1 comments
Saat Sedih datang...
BERDO'ALAH...
Deraskan keluh kesah pada Sang Pencipta
untuk menemukan jawaban Kedepannya...

Saat jenuh Menghampiri, PERGILAH...
Pergilah silaturahmi,
temui teman sejati yang mau menasehati & berdiskusi...

Allahu Akbar 3x


: di tengah hati berkelebat hebat..
aku menemuimu, Afkaar :)
[ Read More ]

17 Oktober 2010

Bila Air Mata Tak Pupus Jua

Posted by Basmah Thariq at 10.10.00 0 comments
Duri tajam itu memang menyakitkan
Karenanya sedu sedan seakan tak tertahankan
Namun...
Hidup ini pun tak pernah berhenti pada satu titik singgah
Lalu mengapa tak engkau hamparkan saja sajadah dan ratakan kening di atasnya?
Mohonkan ampun dalam hamburan do'a kepada Sang Pemilik Cinta




Nanar...


Pandangannya menerawang dari balik jendela kaca. Di luar sana, sang dewi malam masih bersinar temaram kekuningan. Tak henti memamerkan kecantikan pada setiap makhluk yang tersentuh cahayanya. Saat itu, dengan tangan gemetar dielusnya perut yang tampak semakin membesar.

Tak seindah rembulan, raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata pun sembab karena ruah tangisan. Kepedihan itu masih saja menggurat, membuat tumpukan gundah dan keluh kesah yang semakin membuncah.

Kekecewaan jelas menyelubungi jiwa dan raganya. Kenangan itu memang sangat menyakitkan, karena telah direnggutnya sebuah nilai kesucian. Hati kecilnya berteriak, ingin berontak. Namun, kenyataan tak mungkin begitu mudah terhapuskan. Lelaki yang diharapkan mestinya bagaikan Pangeran, ternyata hanyalah seorang durjana. Memetik sari bunga, kemudian terbang entah kemana.

Berjuta impian tentang sebuah keluarga perlahan sirna. Mimpi akan kerinduan rumah mungil yang penuh canda tawa, hanya sekedar khayalan. Hasrat untuk mengukir jiwa-jiwa suci dan murni seakan tenggelam karena tiadanya pendamping seorang qawwam. Hari-hari lalu berganti dengan derai tangisan. Memilukan, sehingga menciptakan serpihan hati yang berserakan di mana-mana. 

Perlahan, dilangkahkan kakinya ke pembaringan. Mencoba sejenak melepaskan lelah jiwa dan raga. Dipejamkannya mata, namun air bening tak mudah dibendungnya. Air mata itu mengalir, bahkan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Tubuhnya lemah, lunglai tiada daya. Di kesenyapan malam isaknya masih terdengar memilukan, menyiratkan penyesalan akan nasibnya yang telah ditoreh nista.

Esok menjelang, dan dengan rasa letih ia terjaga saat sinar mentari menerpa raut wajahnya. Jiwa yang rapuh itu seakan enggan menggerakkan raga. Tak berubah, tatapan matanya lantas kosong menerawang. Tak pula fitrah sebagai wanita menyapa kesadarannya akan detak kecil kehidupan di alam rahimnya. Perih itu masih ada. Luka pun masih menganga. Tanpa kuasa menahan segalanya, kembali air bening menerobos kelopak mata. 

Duhai...
Apalah daya dirinya, jika kala itu setan telah pula mengambil peran. Sepercik darah yang mestinya tersaji setelah ikatan suci disimpulkan, tak akan pernah lagi dihidangkan. Belaian mesra yang diharapkan saat mereguk cinta di malam pertama pun hanyalah sekedar khayalan. 

Aaah...
Indah harapan terkadang sangatlah berbeda dengan kenyataan. Namun, bila impian itu selalu saja dipenjara dalam jiwa, apakah ada beda antara keduanya? Penyesalan yang tiada kunjung usai pun bukankah dapat meranggas keimanan.  

Duri tajam yang pernah menancap di jiwa memang sungguh menyakitkan. Tetapi hidup juga tidak pernah berhenti pada satu titik persinggahan. Waktu akan selalu menggulirkan siang dan malam atas titah Sang Pemiliknya. Lalu, mengapa tak usah hiraukan saja torehannya, bila itu justru akan membuat hidup ini akan jauh lebih berharga.

Hapuslah air mata, hentikan juga sedu sedan. Bila akhir sepertiga malam menjelang, hamparkan sajadah dan ratakan kening di atasnya. Kemudian, tengadahkan telapak tangan seraya memohon ampunan dalam jutaan butir do'a. Bersimpuh, seraya merenungkan semua kekhilafan tentu akan lebih menenangkan jiwa.

Sabarlah...
Tiada seorang jua di dunia yang bersih dari segala dosa dan noda. Pun, masih pula tersedia banyak  lembaran kertas untuk menggoreskan kehidupan yang lebih bermakna. Tataplah keindahan alam di luar sana, dengar dan rasakan senandung tasbih serta tahmid yang tak henti dialunkan penghuninya. Belajarlah dari mereka yang tercipta tidak sempurna seperti manusia, namun tak pernah berkeluh kesah akan nasibnya.

Semoga.

-Tulisan ini telah dimuat di buku Sapa Cinta dari Negeri Sakura-
http://abuaufa.multiply.com
[ Read More ]

14 Oktober 2010

Cinta

Posted by Basmah Thariq at 15.47.00 0 comments




: dalam fikiran yang terpacu oleh waktu
Kadang menangis, kadang tertawa
Entah kapan datangnya tak bisa ditebak
Lalu, rasa ini menyeret-nyeretku
Oh, rasa apakah ini Tuhan?
Mengiris perih dalam sanubari
Pun pikirku tak menentu
Orang-orang di sekitarku tak pernah tahu
Kegelisahan ini..

Aku menyebutnya, cinta

* Terima kasih untuk KELOMPOK A..

[ Read More ]

7 Oktober 2010

Hati Seorang Ayah

Posted by Basmah Thariq at 14.09.00 0 comments
Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basahkuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap 
Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia 
& BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. " AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah... 


With Love
to All Father " JIKA KAMU MENCINTAI Ayah mu / sekarang merasa 
sebagai AYAH KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG
LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI 
AYAHNYA & Dan Mencintai Kita Sebagai Seorang Ayah

". Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaikuntuknya.  
Berbahagialah yang merasa sebagai ayah..
[ Read More ]

2 Oktober 2010

Karena Dia Pilihanku

Posted by Basmah Thariq at 09.19.00 0 comments



by Muslimah Perindu Syurga (RKI Muslimah) on Thursday, 02 September 2010 at 14:15


Aku sedang menanti dia.
Seorang lelaki yang akan bergelar suami.
Seorang mukmin yang merindui syahid di jalan ALLAH.
Seorang hambaNYA yang senantiasa Dzikrullah.

Dia seorang lelaki yang tegas dan berani.
Dia tidak pernah takut untuk berkata benar.
Dia tidak pernah gentar melawan nafsu yang ingin menguasai diri.
Dia senantiasa mengajak aku berjuang berjihad fisabilillah.

Dia selalu menghiburkan aku.
Dengan alunan ayat-ayat suci Al-Quran.
Dengan dzikir-dzikir munajat.
Dengan surat-surat rindu yang dihafalnya.

Ketika aku terlena mimpi indah duniawi.
Dia menasehati ku supaya mengingati mati.
Ketika aku sedang asyik terpesona dengan buaian cinta dunia.
Dia menyadarkan aku betapa lezatnya lagi pesona cinta Yang Maha Esa.

Dia memang senantiasa kelihatan penat.
Matanya penat karena membaca.
Suaranya lesu karena penat mengaji dan berzikir.
Badannya letih karena bermunajat di malam hari.

Dia senantiasa mengingati mati.
Baginya,dunia ini adalah pentas lakon semata-mata.
Kita hambaNYA adalah pelakon.
Hasil keputusan lakonan kita akan diputuskan di padang Mahsyar nanti.

Dia senantiasa menjaga matanya dari perkara-perkara maksiat.
Dia senantiasa mengajak aku mendalami ajaran Islam.
Dia seorang yang penyayang dan taat akan kedua ibu bapak.
Dia juga senantiasa berbhakti untuk keluarga.

Dia senantiasa tabah dan sabar dalam menghadapi fitnahan.
Baginya fitnahan itu adlh sebuah cambukan.
Sajadah imannya yang terkoyak.
Lantaran mungkin karena kekhilafannya sendiri.
Dia senantiasa menjaga sholatnya karena itulah sejati diirinya.
Dia senantiasa bersedia menjadi imam dan pemimpin keluarga.

Dia tidak pernah berasa malu mempertahankan agama IslamNYA.
Karena Islam adalah dien ALLAH yang sebenar-benarnya.
Dia senantiasa ingin mencontohi sifat-sifat mulia Rasullullah
Dia juga senantiasa berusaha mencintai kekasih agungnya.
Kekasih sejatinya dan kekal abadi.
Yaitu ALLAHURABBI...

Dia selalu berdoa dan mengimpikan syurga
Dia ingin mengajak aku ke sana sekali.
Karena, di situlah tempat pertama wujudnya cinta.
Dia ingin bawa aku ke syurga yang abadi dan hakiki.

Aku mencintai dia karena agamanya dan karena cintanya kepada Maha Pencipta.
Andai dia hilangkan cintanya, maka hilanglah cintaku pada dia.
Cinta dia terhadap Maha Pencipta mendekatkan aku padaNYA.
Cinta Illahi jugalah yang menyebabkan aku memilih dia.

Siapakah dia..???
Aku juga tidak mengetahui siapakah dia jodoh ku.
Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Doaku, semoga dia tercipta untuk ku..
Semoga aku bertemu jodoh dengan dia.
Karena..Dia pilihan ku..
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea