9 Mei 2008

Belajar dari Karakter

Posted by Basmah Thariq at 15.30.00 0 comments

Mata dan telunjuk ini sedang menulusuri baris demi baris seirama pada angket yang telah saya isi beberapa menit yang lalu. Menelaah tentang kepribadian seseorang lewat 40 pertanyaan yang sukses saya jawab dalam waktu singkat yang saya pungut dari meja teman saya.

Siang itu memang tengah menampakkan kegarangan sang mentari. Tapi, tak urung membuat kami kelas XI larut dalam aktivitas masing-masing. Potret inilah yang bisa ditangkap jelang deadline pengumpulan tugas Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang menyeruak di masing-masing kelas XI. Mulai dari bergumulnya lembaran-lembaran questioner atau angket yang tersebar ke pelosok-pelosok Jubel dan pada akhirnya lembaran-lembaran tersebut kembali memadati ruang kelas yang akan di'jenguk' oleh sang pemilik.

Fokus pada kata demi kata, akhirnya mendapati diri ini di posisi koleris kuat dan sanguinis sempurna.

Jika dikatakan koleris kuat, maka ia memiliki kekuatan emosi berbakat pemimpin, dinamis dan aktif, tidak emosional bertindak, tidak mudah patah semangat, bebas dan mandiri, memancarkan keyakinan, dan bisa menjalankan apa saja. Dan disimpulkanlah koleris kuat adalah pribadi yang ekstrovert, pelaku dan optimis.
Sedangkan sanguinis sempurna adalah berkepribadian menarik, suka berbicara, rasa humor yang hebat, emosional dan demonstratif, antusias dan ekspresif, periang dan penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, baik di panggung, lugu dan polos, dan selalu kekanak-anakan. Sehingga jika disimpulkan, maka ia berkepribadian yang ekstrovert, pembicara, dan optimis.

Segala puji bagi Allah! Meski agak tercenung mendapati posisi ini, tapi insya Allah inilah saya. Tapi, saya tidak ingin langsung mengklaim bahwa posisi ini adalah yang terbaik dan menampik posisi lainnya. Ada hikmah dari segala apa yang Allah subhanahu wa ta'ala ciptakan. Dan Dia Maha Mengetahui kondisi hamba-hambaNya. Karena boleh jadi jika saya berada di posisi yang berkarakter melankolis dan phlegmatis, saya tak menyanggupinya. Ada banyak hal yang sering saya jumpai dalam kehidupan ini. Saat seseorang pada posisi melankolis dan phlegmatis, mungkin ia sangat berbeda dengan orang yang berkarakter koleris dan sanguinis. Ia yang cenderung di balik layar memiliki cara sendiri dalam menghadapi masalah. Berbeda dengan karakter koleris dan sanguinis yang cenderung tampak di panggung kehidupan.

Maka apapun karakter kita, entah pada posisi sanguinis, koleris, melankolis, atau phlegmatis jika dibalut dengan keimanan hakiki, semuanya akan terlihat indah. Itulah yang membuat saya tetap yakin, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala selalu mampu menjadikan saya sadar dengan caraNya sendiri. Dan rasa syukur kepadaNya semakin mengkristal karena Allah memuliakan hambaNya sebagai khalifah dan Dia begitu siap memberikan kelebihan dan kekurangannya pada tiap karakter-karakter tersebut agar kita satu sama lain tetap eksis memaksimalkan dalam memainkan hidup di bumi Allah subhanahu wa ta'ala. Alhamdulillah 'alaa kulli haal..

Apapun itu, menjadi diri sendiri dengan kelebihan dan kekurangan yang telah terporsi tidak menghalangi diri-diri ini untuk semakin banyak belajar hal tentang tidak merendahkan diri sendiri. Tentunya semakin banyak bersyukur atas segala yang Allah ta'ala berikan pada kita, bahwa Dia tidak pernah luput dalam membagi rezekiNya.

[pada KTI yang tak kunjung usai, semangat!!]
[ Read More ]

Cinta dalam Islam

Posted by Basmah Thariq at 15.20.00 0 comments

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.
[ Read More ]

Makna dalam Himpunan Kata

Posted by Basmah Thariq at 15.13.00 0 comments


"Saat kau mencoba menulis surat cinta dengan segenap hati kau ungkapkan semua perasaanmu.
Ketika surat itu telah selesai kau tulis dan kau kemas sedemikian rupa, kau kirimkan kepadanya dengan harapan yang tentu saja menyenangkan.
Namun ketika surat itu sampai ke orang yang kau tujukan, surat itu sama sekali tak ia sentuh! Bahkan ia buang tanpa sempat membacanya.

Lalu, bagaimana perasaanmu saat mengetahuinya?

Sama halnya dengan Al Qur'an yang Allah buat dengan segenap hatiNya, yang Ia kirimkan untuk seluruh umat yang Ia cintai.
Namun apa yang diperbuat oleh sebagin besar umatNya?
Dan bagaimana yang Allah rasakn akan hal itu?
Yang Dia rasakan adalah sama sepert kita membuat surat cinta itu.

Karena Al Qur'an yang Ia buat adalah surat cinta untuk umatNya."

Mencoba kembali mencerna dari himpunan kata bermakna ini. Tanpa disadari, terkadang banyak orang dan mungkin termasuk saya yang lebih mengutamakan perasaan orang lain tanpa tahu perasaan Sang Pemilik Hati. Rasanya, hati ini lebih dahulu berkelit dan resah ketika ada hal-hal yang tak sesuai dengan hati manusia. Lalu, kita begitu mudah mengabaikan dan melupakan bahwa "ada" yang lebih "peka" dengan perasaan.

Untuk kesekiankalinya, saya telah dibuat geger oleh beberapa pesan singkat yang serupa seperti di atas. Dan yang masih terekam dalam memori saya adalah tentang seseorang yang juga adik kelas saya, yang rela tercabik perasaannya karena ketidak ridhanya manusia terhadap dirinya daripada ia harus mencabik perasaan Allah.

Maha Suci Allah, yang telah mempertemukan saya pada orang-orang yang membuat saya banyak belajar dalam segala hal di setiap kesempatan.

Jazakumullah khairan katsiran untuk semua rekan saya di bumi Allah.
[ Read More ]

5 Maret 2008

Oh, Ibu...

Posted by Basmah Thariq at 14.49.00 0 comments

Bismillahirrahman nir rahhim.

terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan,kau lah ibu.
oh ibu..dimana kah sosok ibu muslimah dalam arti yang penuh kehangatan dan kelembutan???kenapa banyak ibu yang membunuh kami?...
apa salah kami wahai ibu..bukankah kami semua tak pernah meminta dilahirkan...?kami juga selalu menuruti jalanmu.
dimanakah lagi kesalahan yang kami perbuat...kami semua butuh kamu sebagai pembimbing kami dalam menjalakan roda kehidupan yang fana ini dan hanya dari tangan mu timbulnya keindahannya dunia....apakah tak ada lagi ibu yang mengajarkan aku tentang indahnya ISLAM dan Allah serta Rasulnya..yang menceritakan tentang indahnya kisah para shahabat?

wahai ibu yang selalu kami rindukan...hujan telah turun..menetes dari sisi kamar kami..terbayang satu wajah yang penuh kasih dan cinta dengan segenap kehangatan..tak ada yang lebih indah dari kau wahai ibunda tercinta..dan tak ada hal yang lebih agung selain menbahagiakan engkau oh ibu...

dimanakah kau ibunda yang tercinta....?
aku berjalan dalam dinginnya malam tanpa ada pendamping dan penunjuk jalan lagi..
dimana kah kau wahai ibunda yang muslimah....ingin aku merindukanmu dan mimpi bersama dengan indah dan menjumpaimu wahai ibunda tersayang...

ku merindukan mu ibu ku..kapankah kita akan berjumpa.
ataukah kita hanya menjadi kisah-kisah sejarah yang tak akan pernah berulang? akankah dengan kehendaknya kita akan kembali menyatu dalam kehangatan ILLAHI Rabbi...

aku sungguh-sungguh menantikan saat indah bersamamu yang akan datang...aku berjuang keras mengumpulkan kasih yang berurai mengharap cukup bekal untuk perjalanan cintaku pada ibu..
wahai engkau ibu ..kami menanti mu ataukah engkau menanti kami? ku memohon pada yang mneguasai raga dan jiwaku
agar sudi mencukupkan bekal dan ragaku

Sumber:
http://yudimuslim.multiply.com/journal/item/15
[ Read More ]

15 Februari 2008

Sebesar Apakah Musibah Agama Di Mata Kita?

Posted by Basmah Thariq at 15.59.00 0 comments
Saudaraku,
Bagaimanakah perasaan kita ketika ada benda-benda dunia yang kita sukai tiba-tiba saja hilang dan tak dapat kita temukan? Bagaimanakah suasana hati kita ketika apa yang menjadi hobi dan kesenangan kita, ataupun rencana liburan ke pantai yang telah disusun rapi jauh-jauh hari akhirnya berantakan dan batal dilaksanakan? Secara umum reaksi yang muncul dari kita adalah perasaan kecewa, jengkel, atau bahkan mungkin marah dan tidak terima terhadap biang penyebab segala kegagalan di atas.
Begitulah reaksi kebanyakan dari kita ketika banyak dari perkara dunia kita yang berlalu dan terlewatkan karena tidak sesuai dengan harapan. Namun sadarkah kita, ketika perkara kebaikan terlewat di depan mata, peluang kebaikan yang akan menambah pundi-pundi pahala dan hadirnya keridhoan Ilahi Robbiy akhirnya berlalu begitu saja, namun hal itu bagi kita merupakan perkara biasa dan bukan merupakan musibah?

Saudaraku,
Dikisahkan bahwa Hatim Al-Asham Rodhiyallahu’anhu pada suatu hari menuju masjid untuk menunaikan sholat berjama’ah. Sesampainya di sana, ternyata sholat telah selesai dilaksanakan. Tidak ada yang mengucapkan belasungkawa, turut berduka cita atas keterlambatan beliau itu selain Abu Ishak Al-Bukhari. Hatim Al-Asham pun berkata, “Andaikata putraku meninggal dunia, tentu lebih dari 10 ribu orang akan mengucapkan belasungkawa turut berduka cita kepadaku. Sebab, dewasa ini masyarakat memandang musibah dalam beragama lebih ringan daripada musibah dunia.
Dalam kesempatan lain, di dalam syarah kitab beliau “Al Hikam”, Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menuturkan, “Tidak ada musibah yang lebih besar selain kemalasan dan hilangnya semangat dari hati seseorang untuk berbuat baik. Maka ketahuilah, bahwa dia sedang tertimpa musibah yang paling besar yang tiada lagi musibah yang lebih besar dari itu.”
Saudaraku,
Demikianlah sikap dan pandangan para pendahulu kita yang sholeh dalam memandang sebuah kebaikan. Tertinggalnya satu bagian dari amal kebaikan bagi mereka bukanlah sebuah perkara remeh, melainkan merupakan sebuah musibah agama, akan tetapi sebagaimana terbaliknya keadaan saat ini, dimana kita seringkali memandang remeh sebuah kebaikan yang terlewatkan tanpa pernah kita sesali dan usahakan untuk diperbaiki, padahal boleh jadi rahmat Allah ada pada perbuatan yang kita anggap remeh tersebut.
Saudaraku,
Semoga kisah di atas bisa menjadi renungan bagi kita, dan semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, memperbaiki hari-hari kita dengan kemuliaan taat, bertambahnya kebaikan pada diri kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin, sehingga hari-hari yang berlalu dalam hidup kita mulai saat ini tidak lain telah berisi nilai-nilai kebaikan yang mulia dalam pandangan-Nya…aamiin.
Astagfirullahal ‘azhiim,
Wallahu a’lam
Sumber:
http://zidaburika.wordpress.com/2010/03/08/sebesar-apakah-musibah-agama-di-mata-kita/
[ Read More ]

Biarlah...

Posted by Basmah Thariq at 15.55.00 0 comments
Sepanjang hidup menuntut kesadaran kita pada tangung jawab dunia akhirat. Banyak ujian yang kadang membuat kita terlupa pada akal dan agama karena seringnya kita bermain pada area rasa.

Namun tak berarti dengan alasan rasa, kita dapat melegalkan segalanya atau bahkan melemah-melemahkan diri yang akhirnya dapat menghancurkan masa depan kita.

Tetap yakin bahwa ALLAH telah merencanakan yang terbaik untuk kita.

Biarlah semua berjalan seperti yang seharusnya dan berakhir pada saat yang tepat, karena semua masih ada batas akhirnya.
[ Read More ]

Mutiara Hikmah Persahabatan

Posted by Basmah Thariq at 15.54.00 0 comments


“Temanmu yang sesungguhnya adalah orang yang mau melarangmu dari berbuat dosa dan musuhmu yang sebenarnya adalah orang yang membujukmu untuk berbuat maksiat.” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
“Tiada kebaikan dalam persahabatan yang tidak diikuti saling menjaga dari kejelekan.” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
“Budi pekerti yang baik itu adalah dengan menampakkan wajah yang berseri-seri, selalu berbuat kebaikan dan menahan diri dari melakukan gangguan terhadap saudaranya.” (Sayyidina Abdullah Ibnul Mubarak)
“Setiap orang yang membuatmu lalai dari taat kepada Tuhanmu adalah musuh dalam selimut, sekalipun ia menampakkan diri sebagai kawan yang jujur dan ikhlas.” (Salafunasshalihin)
~ ~ ~
*Dikutip dari buku: Secangkir Hikmah - Karya Al Habib Abdul Qadir Umar Mauladdawilah
[ Read More ]

Nasehat: Pelita Bagi Gelapnya Hati

Posted by Basmah Thariq at 15.26.00 0 comments

Saudaraku,
Membaca, menyimak, dan merenungkan untaian mutiara kalimat hikmah para sholihin yang tertulis di banyak kitab acapkali membungkam hati kita. Bagaimana tidak? Karena tidak sedikit dari untaian mutiara-mutiara kalimat tersebut mampu menegur diri kita secara langsung, padahal kita sendiri tidak sedang berhadapan langsung dengan orang yang mengucapkannya.
Ada sebuah pesan, dimana sekiranya kita tidak pernah berjumpa dengan orang-orang sholeh di zaman dahulu, namun begitu, sesungguhnya kita masih bisa mengambil manfaat yang banyak dan besar dari ucapan-ucapan mereka yang sarat dengan nasehat mendalam, yang terangkum dalam banyak kitab yang terabadikan hingga kini.

Nasehat-nasehat tersebut begitu mudah menggetarkan hati kita. Bak anak panah yang tajam, yang dilepaskan oleh seorang ahli memanah, hingga meluncur tepat mengenai sasaran dan bagaikan tetesan air hujan di tengah padang hati yang tandus dari hijaunya petuah-petuah. Dan tiada hal lain yang mesti dilakukan saat mendapati nasehat-nasehat tersebut selain mengambilnya, dan menjadikan pengingat diri kita dalam setiap gerak kehidupan.
Saudaraku,
Sebelum tulisan ini saya akhiri, ada baiknya kita simak sepenggal untaian nasehat dari ahli hikmah berikut ini. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan bagi langkah hidup kita yang masih tersisa dan semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufiq dan hidayah untuk dapat mengamalkannya…insya Allah..aamiin.
~ ~ ~
“Jagalah olehmu delapan kalimat, nicaya Allah akan menjagamu: Bila engkau sedang sholat, jagalah hatimu. Bila engkau sedang berada di rumah orang lain, jagalah matamu. Jika engkau berada di tengah umat manusia, jagalah lidahmu. Jika engkau berada di meja perjamuan, jagalah perutmu. 5, 6, 7, dan 8 adalah, ingatlah akan dua hal dan lupakan dua hal lainnya. Adapun dua hal yang kita ingat adalah mengingat Allah dan kematian. Sedangkan dua hal yang kita lupakan ialah melupakan kebaikanmu kepada orang lain dan keburukan orang lain kepadamu”
~ ~ ~
Wallahu a’lam
Sumber:
http://zidaburika.wordpress.com/2009/12/08/nasehat-pelita-bagi-gelapnya-hati/
[ Read More ]

Tersenyumlah Untuk Hidup!

Posted by Basmah Thariq at 15.23.00 0 comments

Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.
Saudaraku,
Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,
Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.
Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.
Saudaraku,
Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.
Sumber:

http://zidaburika.wordpress.com/2008/02/04/tersenyumlah-untuk-hidup/
[ Read More ]

1 Februari 2008

Pulang..

Posted by Basmah Thariq at 16.26.00 0 comments

Andai saja hidup ini hanya sebatas permainan, bolehlah hidup kita seluruhnya adalah bermain dan terus bermain.
Andai kehidupan semuanya adalah sendagurau. Tak masalah tiap detik hidup kita hanya canda tawa yang tak berujung.
Tapi ternyata, hidup ini dipenuhi ragam warna. Sekali kita gembira, lain waktu kita bersedih. Hidup juga adalah perjalanan singkat menuju satu dari dua negeri. Kemungkinan kecil adalah syurga, besar peluang ke neraka. Dalam hening dan sepi, ada baiknya kita bertanya pada hati:
Sudahkah kita memikirkan kemana kaki melangkah "pulang"?
[ Read More ]

Mencari "Ukhuwah"

Posted by Basmah Thariq at 16.11.00 0 comments
Di antara kenikamatan besar yang dikaruniakan Allah subhanahu wa ta’ala adalah nikmat persaudaraan iman. Hati-hati yang berserakan dan bertentangan menjadi satu di atas landasan kesatuan iman. Sehingga didapatkan orang yang tua menyayangi lebih muda dan yang muda menghormati yang lebih tua.
Hari ini, jelang shalat Jum’at, kami pengurus akhwat menggelar Nahla (Nasehat Islami Akhwat) perdana dalam kepengurusan baru yang merupakan proker departemen dakwah di Kurma17. Seperti halnya ikhwan yang akan menunaikan kewajiban shalat Jum’at, akhwat tak mau ketinggalan untuk menghamparkan sebuah kajian jum’at yang alhamdulillah telah lama terselenggara di aula sekolah. Alhamdulillah, proker yang dilaksanakan dua pekan sekali ini menghadirkan rasa antusias para pengurus dan peserta. Peserta yang terbilang masya Allah tak mengecewakan, membuat kami para pengurus berinisiatif untuk menyelenggarakannya tiap pekan. Insya Allah..
Di tengah kesibukan yang bergumul dengan berbagai perbedaan latar ekskul dan inskul yang digeluti oleh masing-masing pengurus, ternyata tak tersia-siakan dengan sebuah pendirian ekskul ini. Karena, di sinilah wadah yang insya Allah menjadikan kita dalam penetralan segala hal.
Mengawali proker ini, maka kami sepakat mengangkat sebuah tajuk “ukhuwah”. Tak lain dan tak lepas karena alasan tadi. Terkadang, kita tak cukup kuat menerima pergesekan emosi, entah kecintaan atau kefanatikan kita pada sebuah organisasi, maka membiarkan ego pun mampu mengalahkan diri ini.
Aku tercenung ketika menanyakan pada teman-teman, kakak-kakak, pun dengan adik-adik tentang alasan memilih ekskul ini. Tak berharap untuk membanggakan, tapi menjadikan sebuah ibrah pada diri ini, bahwa banyak kalangan menginginkan sebuah wadah penetralisir dari perbedaan. Meski ekskul ini bukanlah satu-satunya ajang yang menetralisir perbedaan latar, tapi di sinilah insya Allah masing-masing akan belajar tentang Islam yang membingkai perbedaan tersebut.
Aku merasakan tentang wadah lain yang terkadang hanya menekankan hubungan atau persahabatan karena “kebutuhan” akan keterkaitan job-job tersebut, setelah ditunaikan job tersebut, maka hubungan tersebut terkadang akan pudar oleh waktu yang terus bergulir. Namun berbeda halnya jika kita dipahamkan tentang persaudaraan iman. Bahkan melekatnya hubungan ini karena pemahaman tentang ukhuwah telah menjadi pelabelan dalam ibadah tiap individu yang bernafaskan hablum minallah dan hablum minnannas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Tidaklah kalian masuk syurga sampai kalian beriman dan tidaklah beriman sampai kalian bersaudara (saling mencintai). Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian lakukan akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian” (Riwayat Muslim).
Dan sabda selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Seorang muslim adalah saudara muslim tidak mendzalimi dan tidak membiarkan didzalimi. Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah akan menunaikan hajatnya, barangsiapa yang menyelamatkan seorang muslim dari bencana niscaya Allah akan menyelamatkannya dari satu bencana di hari kiamat dan siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat” (Riwayat Muslim).
Semoga, dengan penyajian Nahla kali ini, mampu membangun ukhuwah yang berlandaskan iman karena Allah subhanahu wa ta’ala. Semata-mata karenaNya, sehingga pergolakan atau pergeseka emosi yang menyapa kehidupan ini mampu ternetralisir. Amiinn..
Untuk yang beralmamater JUBEL: mari galakkan salam di mana-mana. Sesungguhnya, Allah bersamamu..
[ Read More ]

AKHWAT SEJATI

Posted by Basmah Thariq at 15.50.00 0 comments

AKHWAT SEJATI…Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya. Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada mahramnya. Dia senantiasa menguatkan iltizam dan azzam-nya dalam ber-ghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga serta agamanya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran. Dia yang senantiasa menjaga lisan dari ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudaranya. Dia yang memahami dan merasakan betul bahwa Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala ia berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan. Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, dimanapun dirinya berada. Tak ada perbendaharaan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya. Dia senantiasa merasa cukup dengan apa yang Allah swt anugerahkan untuknya, juga atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya. Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam di tengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya. Sifat tawadhu’ adalah pakaian yang senantiasa dia pakai sepanjang perguliran zaman.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang ditempat kerja (wajihah dakwah), tetapi dari tatacaranya menghormati dan menyayangi siapapun dan dimanapun tanpa memandang status yang disandangnya. Dia yang dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah. Baitii jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga. Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarmabakti mengurus generasi penerus yang berjiwa Rabbani
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah dan Rasulullah. Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang diharamkan-Nya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya airmata yang menitik, tetapi dari ketabahannya menghadapi liku-liku kehidupan. Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya. Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari merdunya suara kala bertilawah Qur’an dan banyaknya hadits yang ia hafal, tetapi dari keteguhan dan konsistennya mengamalkan kandungan keduanya. Dia selalu berusaha mengajarkan pada yang belum memahaminya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikannya sebagai suluh penerang serta pijakan dalam menelusuri lorong-lorong gelap kehidupan.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar yang disandangnya serta luasnya wawasan ataupun lincahnya ia bergerak, tetapi tingginya ghirah untuk menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan. Ilmu yang bermanfaat adalah tongkat yang ia pegang.
Menjadi akhwat sejati,
niscaya akan membuat iri dan cemburu para bidadari,
menjadi dambaan bagi mereka para insan berjiwa Rabbani,
menjadi dambaan bagi mereka para pemilik ruh dakwah dan jihadiyah,
serta para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu…….
Menjadi Akhwat sejati,
Seperti yang dicontohkan oleh khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fathimah Az Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in.
# Dikutip dari Buku : “Surat Cinta Untuk Sang Aktivis” – Musafir Hayat #
[ Read More ]

Pacaran Halal, Sebagai Proses Penjajakan

Posted by Basmah Thariq at 15.43.00 0 comments

PACARAN HALAL
Sebagai Proses Penjajakan, Percayalah Kepada Cowok
(tidak mengandung ayat dari kitab agama manapun)
Berdasarkan dari betapa mudahnya wanita diperdaya oleh lelaki/cowok. Bahkan dengan sangat angkuhnya wanita sering berpendapat bahwa dirinya tidak akan mudah termakan rayuan gombal lelaki. Itu benar, karena dimasa sekarang ini tidak ada lelaki yang bibirnya bisa mengucapkan rayuan gombal seperti film-film Indonesia toempoe doeloe. Tetapi dengan pendidikan dan teknologi yang berkembang, metode kami berubah (red:cowok).
Kami bisa memanfaatkan semua SDM dan SDA yang ada di sekitar kami untuk menunjang tegaknya diagnosa “SERIUS” dihadapan target (wanita). Apakah property “nebeng”? Oh tidak! Bahkan hanya dengan kesederhanaan, malah jadi pamungkas yang cukup jitu untuk meluluhkan hati wanita incaran kami. Karena dengan kesederhanaan dan property seadanya, akan mendatangkan kesan ketulusan dan bersahaja. Yang kemudian menimbulkan cinta sepenuh hati, berakibat kepasrahan. Ini fokusnya, kepasrahan yang artinya diriku sepenuhnya kuserahkan padamu, termasuk my virgin (klo masih).
Wahai wanita, tidak semua diantara kami kaum lelaki mengincar hartamu, yang merupakan incaran kami sebenarnya adalah SEX, sejauh mana dirimu memberikan rasa penasaran kepada kami, selama itu pula kami sanggup bersandiwara dengan sekuat tenaga kami. Mengapa kami sebut sandiwara? Karena kami menyimpulkan bahwa yang telah beristeri saja masih banyak yang selingkuh (meski tidak semuanya).
Pernikahan yang kejelasan statusnya dilindungi oleh hukum agama dan UU Negara, masih sering kami injak-injak. Apalagi status pacaran? Yang sama sekali tidak dikuatkan oleh peraturan manapun. Artinya seorang cowok bisa saja berpacaran dengan seribu cewek dalam waktu bersamaan atau sebaliknya. Maka jadilah pemuda-pemudi bangsa ini sebagai pakar zina, dari yang kecil sampai yang besar.
Tapi masalah jadi bangsa apa bukan urusan kami, selagi kami masih bisa menikmati kenikmatan dunia lewat tubuh wanita secara free, maka paradigma “Pacaran sebagai proses penjajakan” akan selalu kami sebarkan dengan cara apapun.
Sex dengan pacar sendiri sangat berbeda rasanya dengan sex dengan pelacur manapun dengan harga pakai berapapun. Sebab wanita yang selalu jadi target kami tentunya bersih, sehat, bebas penyakit menular seks (PMS), terawat dan terdidik.
Soal kaya atau miskin si target itu bisa disesuaikan.
Maksudnya apabila kami telah sukses memperdaya hati target, maka keadaan keuangan akan sangat mudah dikendalikan berdasarkan scenario “rasa pengertian” yang kami ciptakan di hati target. Pulsa yang kami keluarkan untuk menjalin kedekatan tidak sebanding dengan kenikmatan yang menanti kami.
Target berjilbab? Bisa sukses bisa juga tidak.
Usaha kami dalam berburu “kenikmatan” terhadap target berjilbab memerlukan beberapa trik tambahan. Tetap bersikap sederhana, apa adanya, bersahaja, pengakuan terhadap kekurangan diri, bersikap humoris dan sedikit bumbu religi yang didapat dari ceramah ustadz-ustadz di televisi bisa jadi referensi tambahan.
Usaha kami sukses terhadap target yang berjilbab yang juga masih berpakaian ketat, sehingga jilbab kadang-kadang hanya menutupi rambutnya dan tidak menutupi ukuran “hardware” indahnya. Kulit target yang halus mulus karena sering tertutup dari polusi udara dan matahari memberikan sensasi yang tidak sama dengan target tidak berjilbab pada umumnya.
Luar biasa!!!
Usaha kami gagal apabila target berjilbab tapi juga berpakaian yang lebar, sehingga tidak tampak keindahannya lewat mata secara fisik, tapi kami sangat yakin dibalik pakaian yang lebar itu tersimpan lebih banyak keindahan. Kami kurang pasti penyebab kegagalan usaha kami terhadap target tersebut, bisa jadi keteguhan
target dalam memegang keyakinan bahwa keindahan yang mereka miliki merupakan “harta berharga” yang hanya akan disuguhkan kepada suami mereka nantinya.
Kenyataan yang menggembirakan adalah target “kokoh” semacam ini berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan total target “empuk” yang banyak tersedia di sekitar kami.
Pada umumnya target menginginkan “keseriusan”.
Ketidaktahuan mereka terhadap makna kata serius ini yang sering kami manfaatkan sebagai peluluh hati mereka. Trik yang kami gunakan bermacam-macam, mulai dari kirim sms yang bertuliskan “Aku serius lho sama kamu”, telepon diatas jam 23.00 (tarif murah) untuk bicara panjang lebar dengan topik yang dipilih secara random. Ini trik yang paling sederhana dan cukup jitu untuk target yang masih lugu atau pura-pura lugu soal keseriusan hubungan. Maksudnya walau target sudah mengerti tentang trik
yang kami jalankan dalam meraih target, tapi seiring waktu dan semangat kami yang tidak berputus asa dalam menjalankan skenario, cepat lambat target yang dulunya pura-pura lugu akan luluh akhirnya melihat semangat tulus palsu kami.
Jika tujuan utama kami yaitu tubuh indah target belum didapatkan, maka bukti keseriusan palsu kami dapat dikuatkan dengan memboyong mereka ke orang tua kami atau sebaliknya, kami bersedia diboyong ke orang tua target. Sampai disini saja keberanian kami untuk bermain dengan kata serius, untungnya karena 99% target telah takluk pada level trik ini.
Kenyataan yang juga menggembirakan kami adalah apabila ternyata orang tua kami atau oramg tua target juga memiliki paradigma “Pacaran adalah proses penjajakan” atau “Pacaran adalah proses yang harus dilalui oleh remaja normal”.
Luar biasa!!!
Target yang telah beranggapan bahwa “inilah jodohku”, dengan paradigma ini kami telah mendapatkan kepercayaan penuh dari segala pihak untuk memperlakukan target semau kami. Termasuk menikmati kenyamanan sensasi seks penuh gratisan yang kami tunggu-tunggu selama perjuangan. Tidak perlu buru-buru, karena kami sangat dan sangat memperhatikan situasi, kondisi dan domisili.
Soal dikemudian hari kami bosan dengan target yang sudah habis manisnya karena kami hisap atau muncul target baru yang lebih segar, maka skenario pelepasan diri dapat dijalankan dengan berbagai alasan. Sangat mudah melakukannya mengingat semua manusia memiliki kekurangan, kekurangan inilah yang harus diangkat ke
permukaan dan menjadi pokok bahasan yang berlanjut dengan putusnya hubungan. Alasan ketidakcocokan bisa menjadi penangkal pertanyaan orang tua masing-masing pihak.
Putus. Juga merupakan jalan baru bagi kami untuk memulai skenario pengejaran target baru. Tampang berduka, bahkan tampang tegar paska putus pun bisa menjadi pesona di hadapan target baru ini. Tentunya kami tidak meninggalkan trik-trik peluluhan hati yang kami terapkan terhadap target-terget sebelumnya seperti sederhana, tampil apa adanya, bersahaja, sedikit ditambah bumbu humoris karena target pada umumnya ingin dekat dengan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dalam setiap keadaan. Target selalu ingin merasakan aman, nyaman, disayang, diperhatikan (beberapa). Maka sedaya upaya kami akan ciptakan suasana tersebut hanya didekat kami. Persepsi bahwa di dekat kami maka target merasa aman, nyaman, tenang, tersenyum, dan damai merupakan paradigma yang harus kami ciptakan di
dalam kepala target. Untuk kesekian kalinya kami selalu sukses dalam pencapaian tujuan kami, menjadikan kami sangat berpengalaman dan cerdas dalam program ini, dengan atau tanpa hambatan sama sekali. Sungguh indah dunia ini, dipenuhi dengan target-target berpendidikan tapi bodoh yang menunggu giliran untuk kami habisi.
“Ahh, saya kan gak pernah serius klo pacaran, ngapain takut!”
Jika terget berfikiran seperti kata-kata di atas, maka pemikiran seperti ini juga merupakan peluang besar bagi kami untuk memulai skenario peluluhan hati. Yang kami utamakan lebih dahulu adalah mengadakan ikatan super tidak jelas bernama Pacaran, soal cinta atau tidak, itu cuma masalah waktu. Trik-trik yang kami lancarkan akan mengubah keadaan hati target seiring waktu yang dilalui bersama-sama dan komitmen semu tentang pacaran yang kami atau orang lain ciptakan.
“Ahh, tidak semua cowok seperti itu, cowokku ga gitu and ga mungkin begitu!”.
Kata-kata sejenis ini merupakan tolak ukur keberhasilan skenario BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) yang nantinya menjadi peluang besar untuk mendapatkan tubuh target di kemudian hari. Karena salah satu yang kami ingin bentuk adalah pendapat target bahwa kami adalah cowok yang berbeda dengan cowok pada umumnya.
Jika Anda wanita berpenampilan menarik atau tidak, bertubuh indah baik tertutup atau tidak, mencari keseriusan hubungan, mencari cinta dari sesama manusia tanpa pemahaman yang jelas…Maka Anda target kami berikutnya !
Wahai wanita, ketahuilah bahwa seorang laki-laki yang benar-benar serius terhadapmu akan datang kepada orang tuamu dengan berkata “Pak, saya ingin menikahi putri Bapak, sekarang saya punya penghasilan Rp…../bulan, dst”, sedangkan laki-laki yang benar-benar serius ingin menghabisimu akan datang langsung kepadamu dengan berkata “Maukah kamu jadi pacarku?”.
Puncak kehinaan wanita ketika ia menerima tembakan seorang lelaki untuk jadi kekasihnya.
Puncak kemuliaan wanita ketika orang tua/walinya mempertimbangkan lamaran seorang lelaki untuk jadi isterinya.
Hancurkan harga diri dengan pacaran, muliakan diri dengan …
Tidak ada solusi termuat dalam tulisan ini, meskipun solusinya tertulis tetapi tidak akan menghentikan kegiatan kami, kami hanya bisa berhenti jika semua target mengaplikasikan solusi yang sebenarnya sudah mereka tahu.
Pacaran sebagai proses penjajakan, penjajakan = peng”injak-injakan” atau pen”jaja”an.
Jika Anda belum pacaran, Nantikan kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda telah putusan, Nantikan juga kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda masih pacaran, maka tunggu tanggal “main” kami bersama Anda!
Wallahua’lam bisshawab
Cyber City Net 30.10.2006 at 02.22 am
Artikel ekstrem ini asli tulisan Iriyan Gunawan Amd.Kep, ditulis pertama kali di forum MyQuran.org (tahun 2006) dan dibaca lebih dari 1500 kali selama 1 x 24 jam setelah diposting. Juga dimuat dalam novel “Jangan Biarkan Aku Sendiri” karya Burhan Shadiq tahun 2007
Merupakan 99% pengakuan diri dari pengalaman hidup dan argumen murni yang keluar dari kepala botaknya,
tanpa saduran dari buku atau website manapun.
Penulis tidak mendapat kerugian atau keuntungan sepeser pun dari tersebarnya artikel ini
Kritik, saran, protes, hinaan dan cacian ditunggu di irgunawan_spk@yahoo.co.id atau irgunawan.spk@gmail.com
[ Read More ]

Karena Jalan Ini Tak Berujung

Posted by Basmah Thariq at 15.31.00 0 comments


Sahabatku, perjalanan dakwah adalah perjalanan cahaya. Yang hanya bisa ditempuh dengan kekuatan cahaya. Terkadang sekelumit permasalahan, setampuk amanah membuat kita terlupa untuk mohon satu energi terbesar dari Yang Maha Kuat. Hingga akhirnya amal-amal kita berlalu begitu saja, dengan persiapan yang minim, yaumian seadanya dan ruhiyah yang teramat ringkih. Padahal kita sedang mengatakan al Haq. Sungguh, terkadang ku merasa teramat sempit dengan semuanya. Dan muhasabahku menunjuk pada satu kata…, tidak tawazun. Terkadang ada saat kita harusnya sendiri, bermuhasabah dan mencharge energi keimanan kita. Namun berbagai tuntutan terkadang membuat kita tak punya waktu, bahkan untuk diri kita sendiri. Kita terlalu sering kelelahan….. Tertidur dengan lelah. Bahkan kerap meninggalkan yaumian muhasabah kita. Astagfirullah…. Ya Rabb, ampuni hamba….
[ Read More ]

29 Januari 2008

Untukmu, Ukhtifillah

Posted by Basmah Thariq at 16.01.00 0 comments
Assalamu’alaikum…Warahmatullahi…Wabarakatuh……
Sahabat………………
Meskipun kita lama tidak bertatap muka dengan langsung, namun hati kita, denyut nadi kita serta langkah kita telah terpautkan dalam satu nada yang sama yaitu…..
Al-Islam…
Oleh karena itu suka atau tidak suka….
enak atau tidak enak..
kita telah disatukan oleh Allah sebagai saudara….
yang diantara kita akan saling memiliki,saling membutuhkan serta saling melindungi….
oleh karena itu lewat do’alah kita akan dipertemukan…
Sahabat Yang Semoga Di Ridhoi Allah ……………….
Waktu yang kita miliki saat ini lebih sedikit dibandingkan dengan kewajiban yang kita emban…oleh karena itu manfaatkan waktu yang ada dengan menomor satukan ibadah…..
karena Al-Khaliq menciptakan kita kedunia hanya untuk melakukan hal tersebut.(QS.51:55).

Sahabat…………….
sudahkah kita sampai pada kenikmatan beribadah seperti yang Rasul dan para shahabatnya rasakan? Sungguh hal itulah yang telah menjadikan umat di jaman Rasul sebagai ”Khairu Ummah”…
dan sekarang bagaimana dengan kita?
Terkadang bahkan setiap kita melakukan ibadah hanyalah sebatas memenuhi kewajiban saja, padahal Allah telah menyuruh kita melakukan hal tersebut dengan penuh kesungguhan..
lantas apakah ibadah yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi penolong kita?
Wallahu’alambishawab,
yang jelas kita belum bisa menghadirkan Allah dalam setiap ibadah dan munajat yang kita lakukan..
Lantas apakah cukup bisa kita membeli kenikmatan syurga hanya dengan melakukan hal tersebut?…………..

Sahabat……………..
Mau kapan lagi kita memperbaiki diri kalau bukan dari sekarang,
selagi kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia lebih lama,
dengan kondisi yang sehat dan waktu yang luang tapi Sahabat siapa sangka besok kita sakit atau bahkan meninggal karena hal tersebut bisa saja terjadi, tidak ada yang mustahil bagi Allah, lantas apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapinya?

Sahabat…...
Rasullah manusia mulia yang telah di ma’sum oleh Allah,
Namun beliau masih terus melakukan ibadah…..
Apalagi kita selaku manusia biasa yang sudah pasti tidak mulia, lantas apakah kita telah merasa cukup dengan ibadah yang telah kita lakukan sekarang?

Sahabat…………………….
Begitu banyak corak kehidupan yang telah kita rasakan sebelum kita sampai kepada kenikmatan hakiki yaitu syurga, bahkan begitu banyak keburukan yang ada pada diri kita, sehingga bahkan tak pantas rasanya bibir kita berucap
“Ya…Rabbi….”
Apalagi untuk menengadahkan tangan memohon pertolongan, ampunan atau sekedar meminta tambahan rizqi untuk memuaskan nafsu duniawi, Terlalu kotor rasanya kalau saja Allah tidak bermurah hati mengulurkan kasih sayang-Nya, sehingga kita masih diberi waktu untuk membersihkan diri,mungkin bibir kita masih komat-kamit berucap “Ya…Rabbi…”
sementara keburakan maksiat semakin hari semakin banyak…nikmat apalagi yang akan kita dustakan,nikmat islam,iman dan nikmat dipertemukannya kita dalam saudara seakidah.

Sahabat …………………….
Bila Allah membukakan bagi kita pintu kenikmatan dan rizqi, maka bukakanlah bagi-Nya pintu ibadah, karena ibadah itu dapat melindungi kekalnya kenikmatan yang kita rasakan, sementara perbuatan maksiat akan melenyapkan kenikmatan.

Sahabat ……………………….I
slam itu tinggi dan tidak ada yang dapat melebihi ketinggiannya,…..
namun bukan kita yang menyebabkan Islam menjadi tinggi,
tetapi kitalah yang harus dapat mencapai ketinggian Islam tesebut dengan Iman,
Hijrah dan jihad…
jangan jadikan Islam sebagai layang-layang,dan kita sebagai pemainnya yang terus mengulur benangya sehingga semakin jauh jarak kita dengannya, Dan jangan pula kau jadikan Islam sebagai mimpi indah,karena Islam bukanlah angan-angan…namun Sahabat……jadikanlah Islam sebagai cermin, yang apabila kita melihatnya maka kita akan melihat diri kita sendiri karena Islam telah menjadi bagian dalam hidup kita dan kita adalah bagian dari padanya.

Sahabat……………………….
Karena Islam pulalah kita telah dipertemukan untuk saling melindungi,mencintai, menyayangi dan mengingatkan akan kebenaran dan keshabaran (Qs.Al-Asr:4), Nimat apalagi yang akan kita dustakan setelah kita menikmati persaudaraan ini?

Sahabat.....bukankah kita satu raga, yang jika sebagian sakit, maka bagian yang lain akan merasakan sakit pula? Bukankah kita ibarat satu tubuh, yang apabila satu tangan kita luka maka tangan yang lain akan membalutnya.

Sahabat……………………….Jika suatu saat kita menemukan kejelekan saudara kita,maka tutupilah kejelekan tersebut dari penglihatan,penciuman dan pendengaran saudara yang lain,semua itu kita lakukan tidak lain karena kitapun memiliki kekurangan dan kejelekan, bukankah orang yang menutupi aib orang lain maka Allah akan menutup aib dan kejelekkannya di akhirat kelak? (QS.49:12) dan (QS.59:10)

Sahabat………………………
Kadang melihat kekurangan diri sendiri lebih sulit dari pada melihat kekurangan orang lain, ibarat kita mempunyai luka di punggung kita tidak bisa melihat luka tersebut apalagi mengobatinya, tapi kita masih punya saudara yang akan selalu membantu kita berusaha mengobati luka tersebut, dan berusaha menjaga agar luka tersebut tidak diketahui orang lain, karena usaha lebih penting dari pada hasilnya,…karena hasil adalah hak Allah………………….
Sungguh betapa indah persaudaraan ini……………………

Sahabat………………………
Ujung lidah lebih tajam dari ujung tombak, karena luka akibat ujung lidah lebih sulit sembuh , oleh karena itu jagalah lidah kita karena antara muslim satudan yang lainnya adalah haram hartanya….dan harga dirinya (HR.Muslim)..
sungguh betapa mulia persaudaraan ini...
Sahabat………………………
Ombak dilautan begitu dahsyat,sanggupkah kita menghadapinya jika bahtera kita sendiri rapuh,dan berlubang apalagi lubang tersebut bukan karena hantaman ombak, tapi karena hantaman palu kita sendiri ketika kita membuatnya, sungguh berat rasanya. Oleh karena itu Sahabat…jadilah nakhoda yang baik jika engkau seorang nakhoda…jadilah kelasi yang baik jika engkau seorang kelasi….atau jadilah penumpang yang baik jika engkau seorang penumpang…..maka insyaa Allah bahtera kita akan selamat sampai tujuan..
Sahabat………………………
Afwan ….ana tidak bermaksud menggurui Sahabat,maksud ana hanya saling mengingatkan, semoga kita menjadi manusia pilihan Allah dan semoga kita dipertemukan di Jannah-Nya….Let’s Fastabiqul Khairat…..

.:: Salam Perjuangan dan Persaudaraan, dari saudaramu yang slalu mendo’akanmu ::.
Waridhwaanumminallahi AkbarWassalamu’alaikum…Warahmatullahi…Wabarokaatuh...
[ Read More ]

Seuntai Nasihat

Posted by Basmah Thariq at 15.46.00 0 comments

Sabarlah ukhti shalihah..
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan sinar kicauan bening burung?
Pun dengan malam akan selalu riang bercanda dikegelapan?
Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.
Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati.
Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini.
Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani.
Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan.
[ Read More ]

Kembali Aku Berpinta

Posted by Basmah Thariq at 15.34.00 0 comments





BismillahirohmanirroheemRobbi....
Ketika aku lelah...
jangan lelahkan aku dalam ibadah ku..
ketika aku Jenuh
Jangan jenuhkan aku untuk menyebut Asma-Mu..
ketika aku letih..
jangan letihkan pula aku akan kewajibanku pada-Mu
kewajibanku untuk menyembah-Mu
Ketika aku mulai putus asa...
Jangan buat aku putus asa akan hidup ini..
Ketika aku merasa sendiri..
Temani diri ini dimana diri ini berada...
Hadirkanlah seorang teman untukku
bukan seorang "teman"
Dan ketika aku menangis...
bantu aku untuk meredakan tangisku..
Ingatkanlah aku akan janji-Mu
Robbi..bantu diri ini supaya kuat..
bantu diri ini supaya mandiri..
bantu diri ini agar tak lemah
bantu diri ini agar tegar..
tegar dalam menghadapi semua cobaanMU ...
ujianMu..
bantu diri ini supaya tak tergantung pada hambaMu yang lain
bantu diri ini untuk ikhlas menerima sgala ketentuanMU
bantu diri ini supaya bisa dan bisa...Amien.....
*************************************************
Robbi..
begitu banyak yang ingin aku sampaikan padaMu..
sangat banyak Robbi..
[ Read More ]

Kubawa Bukti

Posted by Basmah Thariq at 15.24.00 0 comments

Terkadang, kita terlampau sering terbenam dalam anggapan bahwa masa muda adalah masa hura-hura dan penuh keceriaan, penuh permainan dan kesenangan. Sampai akhirnya, ketika sekitar kita hampir tenggelam dalam problematika yang begitu kompleks, para pemuda hanya mampu menonton dari kejauhan. Seakan seluruh permasalahan yang menimpa umat ini tak memiliki hubungan sama sekali dengan kehidupan mereka. Boleh jadi karena ketidaktahuannya, atau mungkin ketidakpekaan mereka terhadap kondisi saat ini yang tak kunjung usai menerpa umat Islam. Lalu, ingin kubawa bukti bahwa ternyata masih ada sepelintir muda-mudi yang tak segan untuk menancapkan langkah-langkah mereka di barisan dakwah. Kerap kali diri ini dibuat tersentak oleh beberapa pertemuan kemarin yang ternyata mereka begitu gentar memperjuangkan identitas Islam di sekolah masing-masing. Hingga akhirnya, usai pencetusan kepengurusan baru akhwat di Kurma17, untuk memaksimalkan segala sesuatu yang telah Allah ta'ala berikan kepada hambaNya.
Dia telah menganugerahkan kekuatan, kematangan berfikir, semangat yang menggelora dalam tekad, dan kepekaan yang sangat tajam. Dia pun telah mempersiapkan diri kita untuk mengubah keadaan yang melilit dari buruk kepada yang bagus, dari yang jelek kepada yang baik, dan dari yang lemah kepada yang kuat.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
(Surah Al Ankabut: 69)

Salam Ukhuwah..
[Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberkahi perjalanan kita]
[ Read More ]

Perpaduan

Posted by Basmah Thariq at 15.00.00 0 comments

Ketika tawa, canda, tangis, silih berganti datang dan pergi Yang tanpa ku sadari ternyata begitu tipisnya batas antara tawa dan tangis.Masih ku ingat baru hari kemarin tertawa lepas, bercanda bersama Rasanya hati ini begitu senangnyaTanpa kusadari esok harinya berganti menjadi kesedihan dan tangisSepi rasanya hati ini, seakan semua nya pergi meninggalkanku sendiri.Mungkin kemarin ku terlalu terlena dg kegembiraan sehingga Allah menegurku dengan ujian iniYa Allah bila ini adalah salah satu ujian dalam hidupku agar ku bisa meraih kebahagiaan, berilah hamba kesabaran untuk melaluinya dan ikhlaskanlah hati ini untuk menjalaninya.Jangan biarkan diri ini terbelenggu oleh nafsu amarah dan emosi sesaat sehingga ku terlupa kalau aku masih punya Engkau Ya Rabb Yang Maha Mendengar, Maha MenolongHanya kepadaMu lah hamba bersimpuh, bersujud dan memohon kekuatan hati untuk dapat melalui ujian ini.Hanya kepadaMu lah hamba mengaduHanya kepadaMu hamba berlindung dari segala macam keburukan.Ya Allah hanya Engkaulah yang selalu ada kapanpun dan dimanapun, di saat ku bahagia maupun dalam kesedihan.Tapi terkadang ku terlupa padaMu Ya Allah di saat ku bahagia dan ku ingat kepadaMu di saat ku bersedih. Ya Allah ampuni hamba Ya Allah, ampuni diri hamba yg terlena dan terlupa ini.
[ Read More ]

Di Awal Senja

Posted by Basmah Thariq at 14.50.00 0 comments

Gerimis tipis yang menyapu seluruh tubuhku kala senja itu, tak menghalangi langkahku yang tengah menuju rumah dengan pikiran tak menentu. Ada lelah yang mulai menyergap. Tentang Januari akan usai masanya. Dan untuk bulan selanjutnya akan silih berganti menjumpai diri ini mengiringi langkah kaki untuk menjalani beberapa “job” baru di sekolah tercinta. Seusai sukses pagelaran Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI), sebuah proker inti dari inskul Kaisar 17 (sejenis kelompok Karya Ilmiah di SMAN 17 Mks), yang telah dirancang akhir tahun kemarin dengan keterlibatan aku di dalamnya, maka tak akan lagi mampu diri ini menampik sebuah tugas baru yang menjadi syarat kelulusan untuk menerobos ke jenjang kelas XII. Kembali menarik napas panjang saat beban mulai terasa berat. Rasanya, ingin kuhempaskan, namun seperti ada palang yang menahannya, sehingga aku tak kuasa melakukannya.
Sejenak, pikiran berlih pada amanah yang tengah diusung yang juga kembali diemban di pertengahan Januari kemarin. Adalah Kurma17, sebuah ekskul yang berhubungan dengan Rohis (kerohanian Islam) hal yang tak lagi dalam tahap pengenalan dalam dunianya, melainkan menuntut pembaharuan dalam merapatkan barisan dakwah di sekolah. Meski keterbatasan ilmu dan amal yang membuat sedikit canggung dalam melangkah, namun tak lepas dari kekuasaan Sang Pengatur, Allah subhanahu wa ta’ala, semua kan berjalan karena ketetapanNya. Insya Allah..
Belum hilang dalam bayangan tentang Kurma17, OSIS/MPK bid. 1 Muslim yang dengan bersikeras menyelinap masuk ruang pikiran ini. Di tengah kondisi yang amat melelahkan dan menambahkan beban. Tak mampu untuk menepisnya, karena diri yang terlampau nekat untuk memainkan peran ini. Dengan visi-misi untuk meggebrakkan dakwah di sekolah. Pikirku, mungkin dengan jalur inilah, link perizinan pada pihak sekolah lebih mudah terakses. Allaahumma, amiin..
Sekali lagi, aku tak mampu menampik beberapa amanah yang tengah kugeluti saat mereka bertandang satu per satu. Entah diri ini begitu loba, sehingga dengan mudah menyambut mereka dan membuang sepi. Tentang Mata17 (MadingTa’ 17) yang menguras waktu dengan pengejaran deadline penempelan mading dan lomba-lomba yang tergelar secara beruntun.
Lalu, diri ini kembali menatap langkah di penghujung Januari. Di penghujung bulan yang akan mengawali perjumpaan selanjutnya. Memoleskan warna pada hari-hari yang menyambut dan memetik sejumput demi sejumput hikmah tentang kegiatan yang bergumul. Sebelum memasuki rumah yang tertelusuri, kualihkan pandangan ini ke arah burung-burung kecil yang berterbangan, melayang-layang di udara. Mereka begitu riang, seolah tak terpikirkan oleh mereka akan hari-hari berat yang akan mereka lalui.
Ya, Rabbi...
Semoga Engkau selalu memudahkan langkahku dalam mengurutkan permainan di dunia ini melalui iman dan Islam yang telah menyambutku di awal perjumpaan hidup.
[ Read More ]

Sebuah Ungkapan Untukmu,, Ukhti

Posted by Basmah Thariq at 14.48.00 0 comments


Di saat aku kebingungan… di dalam perjalanan menuju destinasiku…
Ku bertemu dengan berbagai halangan…
Tak mampu… runsingnya fikiranku… buntunya harapanku… resahnya hatiku…
Betapa ku bersyukur dengan kehadiranmu…
Menyirami dedaun kesuraman hatiku…
Ku mulai diterangi dengan cahaya wajahmu…
Senyuman terukir alangkah bahagia hidupku…
Betapa nikmatnya merasakan kemanisan iman…
Didalam sebuah ikatan penuh keikhlasan
Ku mendambakan sebuah ukhuwwah yg berkekalan…
Semoga Ridho Alloh dijadikan tujuan…
Wahai ukhtiku dampingilah aku ke jalannya…
Bersama melayari bahtera di luas lautan…
Walaupun harus mengharungi gelombang ia…
Bersamamu disisi ku sanggup meredahnya…
Sayangku padamu hanyalah karena Alloh…
Cintakan Alloh dan Rosululloh tujuan utama…
Payungan di ‘Arasy Alloh itulah yg kuharapkan…
Bersamamu dan sekalian Ummat Rosululloh…
Tidak lagi aku kebingungan… dgn kehadiranmu mengingatiku…
Ku berasa tenang denganmu disisiku… membimbing tanganku untuk diteruskan…
Satu perjalanan… satu perjuangan…
Untuk mencapai kemanisan iman… bersamamu…
Wahai ukhtiku aku mencintaimu karena Allah…
[ Read More ]

Goresan tinta seorang hamba

Posted by Basmah Thariq at 14.25.00 0 comments

Saat langkah ada di dunia maya, tak menapak di bumiNya. Lalu, kucoba atur gelombang asa.
Ya Rabbi, kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalanMu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. "

Saat Cinta dan rindu tuk gapai syurga dan syahid di jalanNya makin membuncah, Ya Rabb.. Ya Gaffaar... Ya Kariim.. Ya 'Aalim..
Ampunilah Dosa-dosaku yang terdahulu hingga saat ini hamba bernafas, baik dosa besar maupun dosa Kecil, yang disegaja ataupun tidak disengaja, yang terasa atau pun yang tidak terasa hamba lakukan selama ini, karena tanpa ampunan dariMu kami akan menjadi orang-orang yang sangat merugi di dunia maupun di akhirat kelak.

Ya Rabb.. Engkaulah sebaik-baiknya pemberi perlindungan dan pertolongan kepada kami. Amiin.

Ya Allah lindungi kami dari cinta dunia, yang semakin menjauhkan kami dariMu, yang mengeraskan hati dan melupakan kami akan hari pertemuan denganMu..

Ya Rabb, terangilah hati yang gelap ini dengan cahayaMu dan lembutkanlah hati yang keras ini dengan kasih sayangMu.
Jauhkan hati ini dari penyakit hati yang dapat mengurangi keikhlasan hamba dalam beramal Ya Rabb.."
[ Read More ]

Pertemuan di Awal Senja

Posted by Basmah Thariq at 14.16.00 0 comments


Langit sore telah menampakkan warna kejinggaannya, buru-buru ia pulang dari sebuah rumah sederhana setelah menyelesaikan beberapa amanah hari ini. Saat itu, macet menghiasi perjalanan pulangnya.
Sepanjang perjalanannya pulang, sengaja kaca jendela angkot yang ia tumpangi dibuka dan membiarkan angin atau debu sekitarnya menyentuh jiwa yang sedang kalut. Jemarinya yang terus memainkan tuts Hp untuk menghibur diri sejak risau tadi yang berpendar dalam hati belum juga terbendung. Mencoba menangkap kembali kata-kata akhwat yang terlontar padanya sebelum mengakhiri perjumpaan tadi.
"Jagalah Allah, niscaya Allah kan menjagamu. Ketika Allah telah memberikan ladang dakwah ini pada kita untuk dikelola dengan baik, maka genggamlah ia dengan erat. Karena inilah bentuk penjagaanNya pada kita. Dan kita tahu, apa bentuk penjagaan kita padaNya?"

Ia merasa benar-benar ternasehati dan mencoba belajar dari kalimatnya. Yah, menancapkan langkah di barisan dakwah ini bukanlah hal yang tabu. Sejak awal kita sudah mampu menganalisa. Ada yang diperjuangkan dan ada yang dikorbankan. Untuk bersikap jujur saja penuh tantangan. Terkadang, banyak yang memicingkan mata karena tak suka. Dianggap sok pahlawanlah, dan lainnya. Kasus serupa bisa kita buktikan: jika salah seorang siswa mengadukan ulah temannya yang menyontek pada guru bersangkutan, lihatlah reaksi si pelaku. Pandangan sinis pun akan terpancar dari sudut matanya. Apalagi untuk menegakkan sebuah kebenaran ini.
Meskipun, kita tak perlu khawatir karena model ini telah ada di zaman para nabi dan rasul yang juga menegakkan kalimat tauhid. Bahkan jauh lebih berat. Kalau saat ini hanya mengalami pergesekan emosi atau korban perasaan, di zaman para nabi dan rasul harus mengorbankan segalanya. Sangatlah berbeda medannya saat ini.

"Lalu, apa yang membuatmu resah?" Hati pun mulai berdialog.
Ia bukan tak mampu menjalani amanah ini. Ia hanya tersentak pengumuman tadi yang terlalu tiba-tiba. Ilmu yang masih minim, amal yang masih pas-pasan, dan kekurangan lainnya membuat ia takut amanah ini tak sanggup dijalaninya dengan baik. Terkadang langkah ini tertatih saat menjemput tiap hidayahNya, dan tak selalu erat tangan menggenggam tiap hidayahNya. Sungkan rasanya menyuruh orang lain berbuat baik, sedang ia masih sangatlah tidak pantas. Tapi, ia tak ingin menampik kesempatan ini. Dan ia tidak sedang mengatakan bahwa diri ini adalah orang baik yang punya kesadaran tinggi. Sekali lagi tidak untuk mengklaim diri sebagai orang baik yang telah terjamin 24 jamnya dalam kebaikan. Ia hanya sedang mencari dan terus mencari kesempurnaan itu.
"Aku ingin memungut sejumput demi sejumput taqwaMu, Rabbi.."

[Makassar, 16 Muharram 1429 / 25 Januari 2008]

Teruntuk: Kepengurusan Akhwat Kurma17, Barakillaahu fiik..

Semoga Allah terus memudahkan tiap langkah-langkah kita dalam menggapai ridhaNya..
Amiin.
[ Read More ]

12 Januari 2008

Jelang Kurma17 Periode 1429 H

Posted by Basmah Thariq at 11.37.00 0 comments



Di antara pergantian waktu, ada sisi-sisi yang menarik untuk dicermati. Terkadang waktu yang telah lampau mampu menghadirkan beberapa kisah yang mungkin luput dalam benak saat diri terlampau letih memasuki ruang waktu yang sesak.
Tapi, sisi inilah yang justru kerap kali memunculkan lisan-lisan ini untuk kembali memuji Allah, Rabbul Izzah, yang tidak pernah menyia-nyiakan siapapun yang mengharapkan keridhaanNya, dan tidak pernah menampik siapapun yang memanjatkan doa kepadaNya.
Setelah mengarungi perjalanan Kurma17 pada sesi ta'aruf dengan bergelut di dalamnya menjadi anggota, maka usailah kepengurusan yang dinaungi oleh kakak-kakak kelas. Dan pada akhirnya, tongkat estafet ini sudah berada di tangan angkatan saya.
Usai bergulat melalui perdebatan yang cukup sengit pada pemilihan Ketua Umum Kurma17, maka ditentukan siapa yang akan memboyong kepengurusan selanjutnya. Meski mengalami banyak hambatan dalam prosesnya yang memakan waktu dua hari untuk menentukan siapa yang 'klik' pada visi-misi Kurma17.
Entah karena apa penentuan ini dipersulit. Dengan hadirnya argumen-argumen yang menjatuhkan, hingga memunculkan keraguan pada peserta musyawarah ini.
Saya yang terlampau bersikeras mempertahankan argumen tentang ia yang insya Allah mampu akan menjalani amanah ini ke depan, menilai ini cukup tidak adil.
Untuk apa? Untuk apa mereka mencoba mengusik kekhilafannya yang menghasilkan keraguan kami?
Mengupayakan diri untuk berhusnudzan pada Allah bahwa siapapun ia yang berada di posisi itu, mungkin bertindak hal yang sama. Tapi, kenapa mereka tidak melihat sudut lain?
Setelah upaya pertahanan satu sama lain terus bergulir, maka tercetuslah ia menjadi Ketua Umum Kurma17 yang dilakukan dengan ijab qabul di sebuah masjid yang menjadi persaksian bisu.
Rasanya moment ini sedang 'in' oleh beragam ekskul yang menyeruak di penjuru Jubel usai memunculkan pemimpin-pemimpin baru yang bersemi di bulan Desember dengan caranya masing-masing.
Sampai akhirnya, Osis/MPK pun dalam masa pengakhiran memunculkan calon-calon baru untuk ke depan. Setelah melakukan beberapa tahap penyaringan, maka mengantarkan para kandidat Jubelers ini ke final, kampanye makan-makan. Itu artinya, tak lama lagi perekrutan kepengurusan baru segera digelar.
Disela-sela kesibukan yang bergumul di akhir tahun, tanpa disangka Ketua Umum Kurma17 yang baru ia sandang, mendatangi kelas saya. Awalnya, saya tak ingin menanggapi kehadirannya yang mengumbar senyum. Tapi, saat saya menangkap kata-kata "pemilihan ketua akhwat" akan digelar, saya pun mengurai tawa lepas. Dan selanjutnya, saya memaparkan tentang kata-katanya itu yang membuat dirinya pergi tanpa kata.
Tak apalah, jika ini sikap awal sebagai "pemimpin" yang peduli.
Sebelum amanah menjemputku lagi, harus banyak lagi doa-doa yang kurangkai sebagai wajah cita-cita. Meski di tengah aktifitas berjubel di Jubel tak terelakkan.

[PKTI, LPJ ke FUM, dan penyambutan Semester II tahun kedua di Jubel..]
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea