20 September 2011

TELAT

Posted by Basmah Thariq at 06.16.00 10 comments

Suasana Senin pagi di Makassar. 
Derum mesin kendaraan mulai gusar dari banyak jalan yang ku lalui. Seakan berkejaran dengan waktu yang tak kunjung berhenti melaju memberikan jeda bagi pelakonnya. Di kondisi ini pula, aku tampak begitu santai menikmati angkot yang membawaku pergi, membiarkan supir angkot melaju membedah jalan meski perkuliahan akan digelar tepat pada pukul 07.30 WITA.
Tak ada yang ingin ku nikmati dari perjalanan ini selain ingin melahap habis sebuah buku “Menjadi Guru Untuk Muridku” yang baru kubeli di beberapa waktu lalu. Setidaknya menggandrungi sajian pagi dengan sesuatu adalah untuk membuyarkan rasa kantuk yang kadang masih menggelayut di pelupuk mata. Atau lebih tepatnya sih aku tak ingin menyia-nyiakan perjalanan ini hanya dengan duduk dan diam menatap kosong di sepanjang jalan tanpa diselingi hikmah.
Masih di pertengahan wilayah Pettarani, adiknya Ahfadzi –ponsel keduaku; yang belum sempat mendapat nama baik menurutku- sukses menghamburkan konsentrasi bacaku. Arah mata pun langsung beralih ke layar adiknya Ahfadzi ini untuk membaca sebuah pesan masuk, “Udah ada dosen..”. Singkatnya mempengaruhi detak jantungku. Deg!
Ada rasa gusar disana. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku menekan nomor seseorang untuk memastikan pesan masuk tadi. Dan semakin gusar lagi karena seseorang mengirimkan pesan yang lebih membuatku semakin khawatir. “Ukhti, saya hampir dialpa. Dosen ini agak keras kayaknya..”
Bukan kesalahan jarak dan waktu yang merentang panjang perjalanan ini. Tapi  diri ini ya Rabb, selalu berlaku santai hingga pantas saja Engkau mengetuk kekhilafan ini. Bukan pula kesalahan supir angkot yang sering kali dikeluhi dan dijadikan alasan keterlambatan panjang ini. Tapi diri ini ya Rabb, yang tak tahu berterima kasih dan tak mau sedikit mengerti kondisi masing-masing. Seketika itu pula aku mengajak berdialog diri.
Di saat yang bersamaan,  aku pun mencoba memutar balikkan perasaan ini. Allah, sekiranya rasa gusar ini ada pada diri-diri ini saat merasa telat menunaikan kewajiban terhadapMu, apa jadinya diriMu?
Aku pun tergagap dengan sendirinya.
Maafkan aku yang tak bisa bersikap adil. Untuk manusia terkadang kita berlomba-lomba mencari perhatiannya dengan menempatkan rasa cinta, takut, dan pengharapan begitu tinggi, lantas dimanakah kita meletakkan rasa-rasa ini  terhadap Allah?
Sebisa mungkin hanya ingin mengingatkan diri agar tak terjerumus. Kelalaian adalah rupa kealpaan kita padaNya. Astaghfirullaahal ‘adziim..
Di tengah kepasrahan, aku memang mendapat hukuman bersama teman-teman senasib atas keterlambatan ini. Tapi, hukuman ini berakhir manis karena Allah memberikan kebijaksanaanNya agar kami tak mengulanginya lagi. Semoga.
Seusai perkuliahan, sebuah penawaran yang membuatku tenang. “Yah, karena ini kuliah perdana kita, jadi saya masih mengampuni mahasiswa yang terlambat.” Ungkapnya di depan kelas. “Yang merasa telat silakan ke depan untuk diabsen..” Ada banyak wajah senyum disana dan desahan hamdalah beruraian.
Allah, tetap rengkuhkan aku walau terlihat begitu keruh di mataMu..
[ Read More ]

18 September 2011

Sesuatu di Sharing Keliling

Posted by Basmah Thariq at 22.18.00 8 comments


Beberapa waktu lalu, aku tengah bertandang secara maya di sebuah jejaring pertemanan yang telah ku geluti sejak lama. Awalnya, hanya mengesampingkan penat saat masih saja harus memandangi beberapa tugas yang belum dituntaskan. Iming-iming mencari inspirasi, tiba-tiba saja mataku tertumbuk pada sebuah tulisan di sana. Seseorang yang ku kenal di SMA beberapa tahun lalu me-like sebuah sebuah judul yang membuat mataku berbinar-binar, Kelas Menulis Sharing Keliling. Dengan sigap, tanganku langsung mengarahkan kursor pada tulisan tersebut untuk membacanya lebih dalam. Tulisan yang tercantum disana, menambah perasaanku terus berjingkrak-jingkrak karena acara ini masih membuka peluang bagi yang ingin terlibat. Alhamdulillah, finally, Sharing Keliling goes to Makassar. Senandung riang pun memenuhi ruang hatiku.
***
Pukul 08.24 WITA, tertera di Ahfadzi –my ponsel- .. Aku belum juga membenahi diri. Padahal di tiket tercantum jelas pukul 09.00 WITA. Artinya, aku akan tiba tidak tepat pada waktunya bahkan akan molor sampai pukul 09.30 WITA mengingat posisi rumahku hampir melampaui kota Makassar, bertetangga dengan bandara Sultan Hasanuddin. Ditambah dengan tiket yang telah ku download via e-mail tersebut belum juga ter-print out. Maka sukseslah keterlambatanku ini. 

Sekitar di wilayah Unhas, Ahfadzi mulai menderit-derit. Saat sebuah pesan masuk, aku memperhatikan waktu yang tertera disana, pukul 08.58 WITA. Pesan dari seorang kakak yang berisikan penawaran kepadaku untuk menjenguk Jubel pada waktu sepulang sekolah mereka. Lagi-lagi waktu yang tidak tepat. Bukannya enggan menjenguk, aku hanya ingin mengakrabi diri dengan sesuatu yang telah lama aku cari. Tak ada salahnya jika aku menolak. Lagi pula, di waktu itu aku juga memang tak bisa, karena harus meluncur ke tempat lain. 

Ternyata Allah memberikan kemudahan padaku dengan banyak hal. Diantaranya adalah dengan kemurahan hati seorang supir angkot yang aku tumpangi, ia membiarkan angkotnya masuk ke jalur yang sebenarnya tidak dilalui oleh angkot pada umumnya. Selanjutnya, kegiatan yang aku pikir akan tertinggal banyak hal, ternyata belum dimulai. Alhamdulillah yah, sesuatu banget.. #abaikan kata-kata terakhir.. :) 

Singkatnya, sesampai di lokasi, aku harus mengakrabi diri dengan beberapa orang yang aku harap bisa menjadi teman share nantinya. Karena menghadirkan diri dengan memodalkan keberanian yang cukup tanpa mengenal siapapun orang yang akan terlibat di dalamnya akan terlihat aneh pastinya. Sekalipun, aku tahu disana ada beberapa orang yang cukup aktif dalam bloofers akan meramaikan kegiatan ini. 

*** 
Di LAN Antang inilah tempat digelarnya acara sharing keliling  yang dilaksanakan oleh salingsilang.com, bekerja sama dengan AngingMamiri.org, komunitas blogger Makassar yang menyajikan tiga kelas, yaitu: Kelas Menulis, Photo Blogging, dan Video Blogging. 

Tentunya aku terpaut di Kelas Menulis. Di sana, seorang penulis Artasya Sudirman menjadi narasumber utama kami dalam banyak hal. Dengan lihai dan gaya santainya, ia mengajarkan “sesuatu banget” yang tak pernah terbersit dalam pikiran kita. Bahkan, diakhir pemaparannya, ia mengajak kami –para peserta Kelas Menulis- untuk menulis tentang sesuatu yang tak terduga, sepatu. 

Hm… Alhamdulillah, banyak hal yang aku dapatkan. Bertemu dengan penulis-penulis handal dan teman-teman yang baru ku kenal yang diisi dengan sharing dan juga kopdar –baca: kopi darat- antara aku dengan anak-anak bloofers. Entah seseorang tiba-tiba mengenaliku dan bertanya, “Kita anak bloofers juga toh? Kok jarang share di bloofers?” Tanyanya. 

Selalu, ada sesuatu yang melahirkan semangat dan inspirasi baru yang aku raih dari setiap pertemuan. “Bukannya lo gak bisa nulis, tapi lagi malas nulis..” Tekan Artasya di sela-sela pemaparannya. Dan “Menulislah walau sebait sebelum namamu ditulis di batu nisan..” Kutip dari seorang penulis buku Cinta is Anu, Endik Koeswoyo yang sesekali menyematkan akhiran kata mi, ji, pi, dan pale menjadi sesuatu banget dalam benaknya. (Cukup mengerti, bagaimana kali pertama aku belajar bahasa Makassar dan maenyisipkan akhiran kata tersebut.. )
***
[ Read More ]

10 September 2011

“Hai, Tulang Rusuk!”

Posted by Basmah Thariq at 09.57.00 11 comments

Aku tak pernah berpinta
Untuk menjadi tulang rusuk
atau bahkan mencurinya darimu,
Padamu,
Pemilik tulang rusuk yang hilang..

“Hai, tulang rusuk!”
Aku hanya mengerutkan kening keheranan mendengar sebutan itu. Kakak laki-lakiku, sebut saja Kak Farhan yang akhir-akhir ini begitu giat menyebutku dengan sebutan itu. Saat pagiku mulai tersita bersama setumpukan pakaian kotor yang siap dicuci, aku hanya menahan tawa yang tak karuan mendengarnya memanggilku sebelum pergi kerja.
Masih dalam keheranan, aku kembali merengkuh ingatan cerita tulang rusuk itu. Di senja itu, saat mentari telah membayang hendak naik ke peraduannya. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, tiba-tiba saja aku memasuki kamar kakak laki-lakiku, Kak Farhan, yang tengah berselancar secara maya dan siap menggangguinya.
Cie.. cie.. yang lagi baca buku itu..” Sambut pun turut menggodaku langsung saat mendapati tangan kiriku sedang menggenggam sebuah buku bertuliskan Ya Allah, Aku Tak Ingin Sendiri Lagi.
“Jangan salah paham dulu, dong!” Cegahku sembari duduk tepat di sebelah kirinya. “Buku ini terdiri dari banyak cerita, kebetulan aja judul cerita itu yang terpilih menjadi tulisan di cover. Padahal isinya gak gitu lho!” Sanggahku lagi untuk memangkas rasa curiganya.
“Ah, gak apa-apa, kok! Bilang aja..” Ujar Kak Farhan santai sambil terus menatap layar notebooknya.” Itu novel kan?”
“Iya.. Tapi, based on true story kok, kak..” Jawabku sambil menunjuk buku itu ke arah wajahnya. Tapi, ia hanya menatap sedetik pada buku yang kutujukan, kemudian kembali lagi pada layar putihnya.
“Kakak tahu tulang rusuk?” Tanyaku tiba-tiba. Entah gerangan apa yang mendasari aku mempertanyakan hal ini. Padanya pula, kaum Adam.
“Hah? Tulang rusuk, iga, costae.. Begitu kan?”
“Hh… serius dong! Tau ceritanya kan kakak, kenapa hawa dibilang bagian tulang rusuk kiri?” Tanyaku sedikit memaksa dan sedikit kesal karena ia tetap saja lebih memandang serius pada layarnya daripada adiknya ini.
“Oh ya? Adakah?” Ia berbalik tanya.
“Lho? Masa’ gak tau, kak? Ah, gak percaya..” Ucapku heran.
Beneran.. Coba diceritain dulu..” Jawabnya ikut mendesakku.
Sebenarnya ada harapan yang bisa aku dengar darinya tentang tulang rusuk itu. Tapi, justru harapan itu harus terkubur sedalam-dalamya, karena ia memintaku untuk mengurainya. Aku pun bercerita tentangnya, tulang rusuk dan mengaitkan pada separuh dien yang terjaga.
“Jadi, kakak, jangan buru-buru memburu tulang rusuk. Banyak lho kejadian, ikhwan men-tag akhwat, eh malah ternyata bukan itu jodohnya..” Paparku di akhir cerita. Tak lupa pula beberapa kisah nyata yang kusematkan di sana.
“Seperti pacaran, maksudmu?”
“Hm, mungkin bisa dibilang begitu..” Ujarku kembali sambil menarik nafas panjang. “Kita tak perlu khawatir dengan sesuatu yang Allah janjikan. Sebab ia takkan tertukar atau pergi menjauh..” Lanjutku berusaha meyakinkannya.
“Beuuh, syahdunya adikku ini kalo udah cerita tentang tulang rusuk..” Godanya kembali. Kali ini ia pun bernada serius. “Makanya, kalo ada yang serius sama kamu, Bas, langsung hubungin saya ya.. Ok!?” Lanjutnya sambil menyimpulkan senyum.
Aku pun langsung menepuk lengannya dan memamerkan jempolku ke arah wajahnya. “Sip, dehh!! Insya Allah..” Aku membalas senyumnya.
Suasananya semakin berhamburan saat kakak laki-lakiku yang satu lagi, bernama Nabil baru saja pulang kerja. “Ada apa ini? Tulang-tulang?” Tanyanya yang langsung mode ON.
Hihihi Kakak-kakakku ini begitu semangat sekali.
“Di note ku juga ada tentang tulang-tulang. Mau baca? Buka FB ku saja..”
Ahh, Kak Nabil sih, gak pernah mau add saya di FB, jadi saya gak update tentang kakak..” Protesku langsung ketika mengingat FBnya. Maklum, kami memang belum berteman di FB.
“Lho? Harusnya adik dong yang add kakaknya.. Masa’ kebalik?”
Abisnya, namanya gak terdeteksi. Pake nama samaran segala, jadi gak bisa ketebak.”
Selepas berdiskusi panjang, kami pun bubar untuk menyambut maghrib yang tinggal dalam hitungan menitnya adzan dikumandangkan. Aku menyiapkan makanan untuk berbuka untuk yang akan berpuasa syawal. Sedang kakak-kakakku berkemas-kemas untuk shalat nantinya di masjid seusai berbuka puasa.
Alhamdulillaaah, saat adzan dikumandangkan, rasanya nikmat melepas dahaga walau hanya dengan segelas air putih dan kurma. Kakak-kakakku yang sedang melahap es buahnya masih saja sempat berceletuk. “Ayo, kita shalat, baru cari konro* di luar..” Celetuk Kak Farhan.
Sedang Kak Nabil masih ngeh dengan kata-kata tadi. “Heh? Apa? Konro?”
Ish, pura-pura gak tau lagi. Konro, tulang.” Jelasku.
Tawa pun meledak di antara kami. Ayah dan adikku yang juga laki-laki, Faruq, masih berkutat di meja makan bersama kami hanya adem ayem menyantap es buah masing-masing. Tak menghiraukan kami yang masih saja membawa kata-kata tulang.
“Ayo, pada shalat, gih!Seruku. Jangan lupa juga berdoa, semoga kalian benar-benar menemukan tulang rusuk yang hilang..” Kataku lagi mengakhiri candaaan yang sesekali mencoba mengusir dua kakakku yang masih betah di kursinya masing-masing.
“Hai, tulang rusuk!” Ujar mereka kompak dan akhirnya keduanya beranjak dari tempat.
Sedikit menghela napas lega melihat kepergian mereka ke masjid. Yah, semoga saja, mereka menemukanya yang telah lama hilang. Batinku sambil terus menyimpulkan senyum. 

Adalah ketetapan Allah yang telah terjaga di lauhul mahfudzNya. Allah tak kan mengubah janjinya, jika ia telah datang pada diri-diri kita. Karena, ia takkan tertukar atau pergi menjauh. Tapi, adakah yang telah aku persiapkan untuk menjadi bagian tulang rusuk kiri seseorang? Pikirku kembali melobi diri.
PenjagaanNya yang terbaik dengan menjadi yang terbaik.“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS An Nur:26)
Aku tak ingin mendikteNya karena masih menggenggam taqwa seadanya. Hanya meminta penjagaanNya yang baik menurutMu untukku, keluargaku, saudara-saudara seimanku, dan agamaku yang akan membersamai ritme kehidupannya nanti dalam kehidupan “kami” nantinya, insya Allah.. Allaahumma Aamiin..

*Konro dalam bahasa Makassar yang berarti tulang.
[ Read More ]

5 September 2011

(Sejenak Saja)

Posted by Basmah Thariq at 14.52.00 7 comments
"Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu... Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya.Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku."
Tere Liye (Hafalan Shalat Delisa)
"Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Suci Engkau yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak ada punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan "perasaan" itu pada mahkluk ciptaanMu? Perasaan kehilangan...perasaan memiliki...perasaan mencintai...
Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa?"  
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea