21 November 2011

[Tulisan Berantai] PR Sekolah Dasar

Posted by Basmah Thariq at 20.26.00 15 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Sebenarnya, PR ini telah menyebar luas dari blogger yang satu ke blogger yang lainnya. Dan aku hanya menjadi pembaca hening dari tiap PR mereka yang telah terkumpul dan menanti seorang guru yang mau berbaik hati memberikan PR ini. “Bu guru, kasih PR..” Tiba-tiba suara itu terngiang dalam pikiranku. Aku jadi ingat murid-muridku, ditiap akhir proses belajar mengajar, mereka memintaku untuk memberikannya PR. Makanya, saat seseorang telah tuntas dari PR ini, aku pun tak sungkan untuk meminta PR juga. Hitung-hitung, aku juga memang suka mengerjakan PR kok. Hehe…
Teruntuk kakak Maya, terima kasih sudah menjadikanku murid barunya dalam penugasan ini. “Bu guru Maya, nanti kasih PR lagi ya..” Hihihi… ^^
***
Masa Lalu, Masa Merah Putih
Mengingat masa itu, satu pengharapan yang selalu muncul di benak, kelak aku bisa kembali ke sekolah itu yang aku sendiri apakah bisa mengunjunginya kembali untuk kali keduanya. Karena sekolahku tak sedekat dalam pandang, tak semudah teraih dengan tangan, dan tak seringan dalam langkah. Yah, SD ku itu, Sekolah Indonesia Jeddah, di Arab Saudi.
Betapa masa itu, aku memang menghabiskan waktu di sana (karena lahir di sana) hingga 3 bulan jelang kelulusan SMP. Bertarung pada ragam budaya, bahasa, dan warga negara. Walau akhirnya aku memang tetap berputar pada lingkungan Indonesia yang berdomisili di Jeddah. Tak heran, kami begitu saling mengenal satu sama lain layak keluarga besar Indonesia di negeri orang.
Di tahun pertama sekolah, nama sekolahku adalah Sekolah Indonesia Pancasila (SIP). Yah, aku mengingatnya karena baju seragam olahraga yang bertuliskan Sekolah Indonesia Pancasila disaat itu ternyata sangat “kedodoran”. Hebatnya, baju itu bisa terpakai di usia sekarang. Subhanallah yah.. Nama itu akhirnya berganti menjadi Sekolah Indonesia Jeddah atau biasa kami sebut SIJ (baca: es-i-je), di tahun kedua, karena menyebar luasnya Sekolah Indonesia di kota-kota di Arab Saudi maupun di negara-negara lain. Seperti di Arab Saudi misalnya, terdapat Sekolah Indonesia Jeddah, Sekolah Indonesia Makkah, dan Sekolah Indonesia Riyadh. Di negara-negara lain seperti Jepang, terdapat Sekolah Republik Indonesia Tokyo, di negeri kincir Belanda, Sekolah Indonesia Netherland, di Qatar ada Sekolah Indonesia Doha dan masih banyak lagi. Walhasil, jadilah aku orang yang pernah berwarga negara asing dengan sejuta cerita di negeri orang selama bertahun-tahun.
Aku yang proaktif, periang, ceria, mudah berteman dengan sedikit memainkan peran antagonis dan lebih menerima teman laki-laki adalah bagian kehidupanku pada masa itu. O_o Wew!! Aku beranggapan bahwa berteman dengan laki-laki itu karena mereka memiliki pribadi yang tidak manja, tidak ribet, dan lebih welcome. Karena bergaul dengan kaum adam lah, aku merasa terlindungi dari teman-teman yang akan menjahiliku. Mungkin yang perlu dicatat baik-baik disini adalah teman kecil atau teman sepermainan kami sangat rentan untuk menjadi cinta monyet, menjadi cinta pertama, menjadi sahabat, atau musuh bebuyutan. Karena interaksi kami tak lepas dari bertemu dan berteman dengan orang yang itu-itu saja. Lingkunagn yang itu-itu saja. Bisa jadi, seatap dari duduk di bangku  TK sampai kelas 3 SMA. Tak heran, orangtuaku, sangat mengenali siapa teman kecilku, teman mainku di sekolah, teman dekat, teman sebangku, sampai musuh dan rivalku.
Hari pertama sekolah, aku tak mengalami kecanggungan. Sebab, pertemuan pertama dengan teman-teman baru di awal kelas 1 SD hampir dianggap biasa. Yang baru karena kita mengenakan baju seragam putih merah, karena sebelumnya kami memang telah bertemu di tempat pengajian khusus WNI, TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang berdomisili di Jeddah. TPA yang tersedia ada dua, yaitu TPA Al Naashiriyyah dan TPA Darul Ulum. Kalaupun ada beberapa wajah baru, itu karena sebelumnya kami tidak berada di TPA yang sama. Atau wajah baru dikarenakan baru dating dari Indonesia dengan alas an orangtuanya dinas di kota Jeddah. Hal itu tak bermasalah dan membuat aku berusaha mengakrabi diri dengan mereka. Apalagi yang berwajah baru itu baru datang dari Indonesia dan lahir di Indonesia. Haha.. Pastikan ada banyak pertanyaan yang terlontar untuk menjawab rasa penasaran tentang negeri sendiri. “Wuah, lahir di Jakarta ya? Asyik ya.. Pasti seru!” Responku heboh.
Banyak perbedaan sekolah Indonesia di negeri sendiri dan negeri orang. Di Jeddah, hari pertamanya adalah hari Sabtu yang berarti upacara bendera pun terselenggara di hari Sabtu. Dan hari terakhir sekolah di hari Rabu. Sedang Kamis dan Jum’at adalah hari libur dan menjadi weekend untuk wilayah Timur Tengah secara serentak. Pengantar bahasa di sekolah tetap menggunakan bahasa Indonesia. Guru-guru juga asli Indonesia dan tentunya lulusan dari Indonesia yang punya kesempatan bisa mengajar di negeri arab. Untuk bahasa keseharian antarteman, lo-gue yang begitu kental bercampur aduk dengan bahasa Arab non baku yang juga sebagai bahasa lokal dalam interaksi antar tetangga (bagi yang bisa). Hal lain yang berbeda adalah tidak ada kegiatan pramuka. Dan tak ingin berkecil hati karena mendapatkan kegiatan plus yaitu umrah bersama pada hari-hari tertentu. Seperti hari Pendidikan Nasional, kami tidak melakukan upacara pada umumnya, tapi melaksanakan umrah bersama. Alhamdulillah yah!! Mengingat thawaf dan sa’I, bukannya khusyu’ beribadah, tapi jadi ajang berlomba lari jika lepas dari pantauan guru. Ampuni kami, Rabbi… T.T
Guru Favorit
Rasanya tidak adil jika aku harus menyebut satu nama saja untuk memberikan sebuah reward sebagai guru favorit. Dengan banyak alasan, dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD, aku mendapati mereka, guru-guru yang patut dibanggakan dengan masing-masing memiliki manajemen kelas yang baik. Semoga Allah memelihara mereka dalam kebaikannya. Mereka adalah:
  • Ibu Lilis (Guru yang berasal dari Aceh ini adalah wali kelasku di Kelas 1 SD dengan sifat keibuannya. Masih lekat dalam ingatan bagaimana beliau mengajar dan memainkan perannya..)
  • Pak Fathoni (Beliau wali kelas 2 SD dan pernah mengajar bahasa Indonesia di kelas 6 SD, dengan sosok ayah yang sangaaat bersahabat. Sst, tanpa canggung beliau pernah mengajariku menari Jawa lho untuk sebbuah acara di akhir tahun ajaran pada saat kelas 2 SD.. Canggih kan?)
  • Bu Hafidzah (Guru Agama yang masya Allah banget!! Aku sampai tak bisa melupakan beliau bagaimana cara mengajarnya yang really excited.)
  • Pak Fardilal (Guru matematika dengan model pembelajarannya yang rapi)
  • Pak Amin (Guru bahasa Inggris yang begitu renyah dalam speaking dan interested.)
  • IBu Fatim (Guru Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan detail tata bahasanya. Benar-benar  tak bisa lengah di setiap penulisan. Titik dan koma bisa jadi masalah besar jika berhadapan dengan beliau .)
Dan masih banyak lagi yang dengan keterbatasan memori ini yang aku pun begitu sulit mengembalikan ingatan beberapa tahun silam tersebut. Sepertinya terlalu panjang jika harus mengulasnya. Karena mereka benar-benar menjadi guru untuk muridnya. Really love them…
Guru Killer
Alhamdulillah, dalam ingatan ini, aku tak menemukan sosok guru yang pemakan orang. Bagiku, guru punya hak untuk memarahi muridnya selama dalam batas kewajaran. Dan itu ada pada guru-guruku di SIJ. Mereka memarahi untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kekesalan. :))
Teman Bolos
Speechless. Apakah ada yang membolos di saat SD dahulu? Jujur saja, saking tidak pernahnya bolos, rasanya ingin mengosongi paragraf ini. Karena aku terbilang super rajin, sampai sakit pun aku tetap merengek-rengek untuk ke sekolah. (Ini alasannya, mengapa aku ingin jadi guru SD..)
Teman Berantem
Ada sih beberapa wajah yang saat itu aku merasa dibuat ilfeel dan gak banget deh! Untuk meladeni orang-orang seperti mereka. Dan beberapa wajah-wajah itu memang telah diakui oleh seantaro SIJ, kalau mereka biang keonaran. Kalau kelas rusuh yang pembahasannya sampai di meja kantor guru SIJ, sinyal ini mengarah ke mereka. Aku pernah dibuat kesal oleh salah seorang dari mereka karena ulahnya yang tak bisa dicegah dan menyakitkan. Mengumpat dengan bahasa  yang membuatku istighfar sedalam-dalamnya. Karena tidak menerima perkataannya oleh akal sehatku, akhirnya untuk membuatnya jera, aku dengan sangat terpaksa memukulnya pakai sapu berkali-kali sambil mengejek dengan bahasa Madura karena ia berasal dari Madura, “Heh lo, dasar celleng*!!”  atau dengan bahasa arab non baku, “Yaa takroniyyah*..” (Dua kalimat yang berbeda bahasa tapi memiliki arti yang sama=*dasar orang hitam!!). Sekalipun sikapku ternyata tak membuatnya jera. Innaalillah..
Jajanan Makanan/Minuman Favorit
Harga makanan dan minuman di sini sangat terjangkau dan terbilang murah. Hanya berkisar SR 1.- atau SR 2,- saja kita sudah bisa dapat makanan dan minuman. Biasanya aku suka beli sandwich laham mafrum (di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kebab) atau kentang sosis goreng yang hanya SR 1,- dan susu cokelat Jamjoom. #jadipengen.. T,T
Mainan Favorit
Ah… bingung!! Lebih tepatnya gak tau namanya. Sepatu roda aja ya? Hehe.. Waktu SD, memang pernah ngetrend sepatu yang multifungsi itu. Tidak hanya sebagai alas kaki, tapi juga untuk hiburan. Sepatu ini khusus dibuat dengan tersedianya roda yang bisa terlipat masuk dan keluar dari bawah alas sepatu. Jadi, ukuran sepatunya agak tinggi untuk menyimpan roda-rodanya. Jika sewaktu-waktu ingin digunakan, hanya cukup menekan tombol di sebelah kiri/kanan sepatu tersebut untuk mengeluarkan roda, dan hanya mendorong masuk jika rodanya sudah tidak ingin dipakai lagi. Biasanya aku memainkan di saat jam istirahat keluar main atau menunggu jemputan datang. Kalau ada beberapa teman yang tidak punya, kami akan memakainya secara bergiliran.
Meski demikian, aku tetap kok mengenal permainan petak umpet, lompat tali, bola bekel, 
Sepatu / Tas Favorit
Uhh.. Barbie! Entah alasan apa, orangtuaku sangat giat memenuhi segala keperluanku dengan gambar-gambar Barbie. Girly banget!! Padahal, aku gak terlalu tahu cerita dari Barbie itu sendiri. Hh… -___-"
 ***
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin..
Akhirnya PR ini sudah dituntaskan, dan semoga aku bisa mendapatkan nilai 100 dan dikasih bintang juga. “Bintangnya yang banyak ya, bu guru ..” n_n
Dan, sekarang aku menjadi sosok guru yang akan memberi PR ini kepada murid-murid yang rajin membaca tulisanku.. "Ayo, murid-murid.. Mari membuat PR  Sekolah Dasar ini. 
Inilah murid-murid yang insya Allah akan meraih nilai 100 setelah mereka benar-benar mengerjakan PRnya. :))
Bu guru yakin, kalian adalah murid-murid yang bisa mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Semangat ya!!

Cat: Foto kedua adalah gedung Sekolah Indonesia Jeddah yang lama.. Hhe..
Oh iya... Bu guru,  izin menyamakan judul yang telah disesuaikan dari ibu Maya yang telah memberi tugas ini. . Syukran ya sebelumnya..
[ Read More ]

20 November 2011

Memantaskan Diri

Posted by Basmah Thariq at 14.37.00 10 comments

Sepenggal siang yang mengantarku pulang ke rumah. Treet.. Treet..
Ponselku –my Ahfadzi- bergetar menyentakku. Muncul sebuah pesan dari seseorang yang beberapa menit lalu baru saja terpisahkan karena perkuliahan telah berakhir.

“Saya tau, saya bukanlah seorang pejuang! Saya tau itu. Saya masih malas. Masih bodoh.. Masih jauh dari kalian. :(
Tiba-tiba, aku merasa dicecar oleh kata-kata itu. Ada apa denganmu, saudariku? Sepeninggalanku tadi, aku merasa ia masih baik-baik saja. Masih sempat melempar senyum dan mencipta atmosfer menyenangkan. Buru-buru, aku menekan tuts ponsel untuk meminta kembali senyumnya..

“Kenapa ukhti? Kita boleh menilai diri kita rendah karena orang-orang terdahulu menunjukkan keimanannya yang nyata. Melalui perjuangan, dakwah, ibadah yang tak bisa dikalahkan. Tapi, kita masih layak memantaskan diri untuk menjadi seperti mereka, jundi-jundi Allah. Karena atasNya, iman dan ilmuNya masih dititipkan di hati ini. Tinggal gimana kita memperlakukannya. Agar ia tumbuh bermekaran hingga kita menemuiNya.. Wallaahul musta’an ~semoga Allah menolong kita.. Mengembalikan semangat ini yang kadang surut. Maafkan saya, jika tak bisa jadi saudari yang baik.”
Masih menyimpan tanda tanya, kukirim kilat untuk mendapat jawaban apa yang membuatnya begitu cepat menjustifikasi dirinya.
Ponselku kembali menderit, sebuah pesan kembali muncul. Segera kubuka,

“Saya mungkin tak sehebat dirinya dan akhwat lain yang senantiasa bisa kesana kemari memperlihatkan mujahadahnya. Baru kali ini saya menitikkan air mata untuk kalimatnya yang sebenarnya saya sangat tak ridho. Tapi, mungkin dia benar menggambarkan saya yang tak pantas menjadi seorang pejuang. Jika ada waktu, saya akan cerita, agar tak ada penyakit hati..”
Aku meluruh saat menatap sms ini.
“Insya Allah.. Mintalah pada Allah untuk perasaan yang kadang keruh karena perbuatan hambaNya. Pelihara rasa husnudzan, ukhti..”
***
Keesokan pagi yang masih menyapa..
Seusai menyalami satu per satu penghuni kelas, aku beranjak mencari sosoknya. Kucoba menyapa dan merentangkan percakapan.
“Hey.. Kenapa kemaren ukhti?”
“Gak kok, ukhti.. Mungkin saya yang salah paham..” Balasnya dengan dibuat santai. Bagiku, itu tidak wajar ketika ia memaksakan memasang wajahnya yang dibuat semanis mungkin. Aku sangat mengenal sosoknya.
“Kenapa dengan pejuang?” Pancingku sedikit memaksa.
Tak butuh usaha yang memakan waktu lama untuk mengajak ia kompromi mengeluarkan uneg-unegnya. Terenyuh mendengarnya.
“Saya sedih pas seseorang bilang ‘kalau nama Khansa gak cocok untuk saya karena artinya pejuang’.. Apa saya memang gak pantas? Saya sedang mencari nama hijrah. Karena nama saya tak memiliki arti yang bisa menjadi sebuah doa yang ketika menyebutnya, sama seperti mendoakan kebaikan untuk saya dan untuk orang yang memanggilnya.” Paparnya dengan perasaan yang masih ditahan.
Sebuah suara akhirnya membuka pada dialog hati..
“Saya bercerita seperti ini bukan karena membencinya, ukhti.. Tapi saya khawatir, bahwa akan ada orang-orang lain yang tersakiti karena ucapannya. Itu saja.” Aku tersenyum ketika ia bisa meredam kesedihannya dengan masih memelihara husnudzan. Sedang aku hanya seseorang yang mencoba mengerti.
 Rupanya, kata-kata membawamu mengajak negosiasi hatimu.
 Agar mau menuruti kehendak yang baik, bukan sebaliknya..

(Tulisan lama yang baru sempat ku layarkan setelah banyak kesibukan menghardik.. Dan membiar doa ini selalu ada di setiap kejadian, Allah, mampukan kami untuk mengerti..”)
[ Read More ]

8 November 2011

Kemilau Kampus

Posted by Basmah Thariq at 14.54.00 8 comments

Kemilau kampus. Adalah nama yang sengaja ku istilahkan untuk sebuah tempat yang berkilau karena kejinggaan almamaternya yang tampak silau, menyiratkan makna: Membangun semangat yang tak pernah hilang. Memberikan kecemerlangannya melalui wadah yang sebenarnya jernih dan sebening cita yang tertanam disana. Olehnya pula, ada  banyak generasi intelek yang telah terlahir dan untuk terus membangun generasi yang berintelek juga.
Kemilau itu bisa saja meredup oleh “rasa” yang diserang oleh udara kebebasan yang mengatasnamakan demokrasi, lalu mengobrak-abrik ketenangan cita dengan menabur debu berkali-kali hingga ia tak lagi begitu tampak kemilau. Yah, universitasku itu, salah satu universitas terkemuka di kota Makassar.
Sadarkah? Betapa banyak jurang yang bisa menjatuhkan disana hanya dengan tingkah pola anarkisme. Walau tak jarang sebagian kami harus terseok membawa nama kemilau ini agar tetap berkilau. Setiap kali ditanya, “Kuliah di mana, dek?”
 “Kuliah di UNM..” Jawab kami. Kadang dengan jawaban lirih, sungkan bahkan ragu untuk menyebutnya.
 “Oh, kampus yang tukang demo itu yah?” Jawaban spontan yang sering menyentakkan aliran darah dalam tubuh. Serr… Perih!! 
T^T Hiks…
Mereka tak peduli, seberapa usaha di antara kami menata dan mempertahankan kilauan ini. Karena yang telah terbangun dalam image mereka (baca: orang-orang di luar sana) adalah, kerusuhan. Meski, tak dipungkiri, tak jarang kampus ini terekspos karena ketidakmahasiswaan dalam perilakunya yang hanya membuat penonton tercengang. Mengelus dada dan melempar komentar yang tak diharapkan di saat melihat aksi dan reaksi yang tak berimbang, meluluhlantakkan segenap harap yang sedang kami bangun disana.
Dan tak jarang pula kami mencoba meluruskan. Dengan perlahan, semampu kami, dengan cara kami masing-masing. Kita tegak bersama atas sebuah alasan yang seharusnya membuat kita merasa aman dan nyaman disana. Alasan yang meminta semangat kita, alasan yang meminta kerja keras kita dan alasan yang meminta KEBAIKAN kita. Bukan alasan yang justru menggugat dan menuntut banyak hal yang ternyata mereka (para biang keonaran) lupa, masih banyak yang harus dibenahi dalam diri mereka.
Aku tak ingin meminta waktu berbalik ke arah yang lalu hanya untuk menambahkan kilauan itu, tapi, hanya meminta pada diri-diri ini, bahwa warna ini masih menyemburatkan warna sebenar-benar kilauan dalam banyak kebaikannya, insya Allah.. 
Vivat Academia!!

[ Read More ]

7 November 2011

Teruntuk;

Posted by Basmah Thariq at 16.29.00 8 comments


Orang pertama
Dalam kondisi yang bahkan tak tentu .. Aku; tak ingin lengah walau segoyah apapun rasa ini. Hanya sesering angin yang lenyap lalu datang menghembuskan kesejukan. Tapi, kadang menderukan ketakutan.
Berjalan sambil membawa puzzle yang rusak untuk disusun kembali.
***
Orang kedua
Kamu; Yang pernah tertera di Ahfadzi-ku beberapa waktu lalu; Bismillah.. Kadang saya merasa sendiri, bukan karena tak ada ALLAH. But sometimes I need someone in my life. Dan saya tidak bisa mengusahakan hal itu. Saya hanya bisa memendam rasa, melakukan yang terbaik menurutku saat ini. Saya butuh nasehat untuk sedikit menguatkan diri. Karena saya tak sedang rapuh, hanya ingin mnyadarkan diri bahwa saya masih punya kalian. Uhibbukifillah.. *curcol
Ketahuilah, aku meluruh saat menatap dan merasai sms ini. Dalam kadarku, semoga ini hadiah yang selalu ingin disematkan dari Sang Rabb sebagai pengalih atas riak-riak rasa yang kita miliki. Kita tak perlu gusar dengan kemahaanNya yang akan menjaga rasa ini agar hati-hati ini tidak melukai dan terlukai oleh sesuatu yang tak semestinya. Cukup ikhtiar dalam doa untuk sebuah perasaan yang halal itu. Agar rasa ini meyakini kedekatanNya. Maka, biarlah Rabbmu yang mencukupi cintaNya untukmu..
Pun aku masih mencintaimu, wahai saudariku karena Allah. Disaat hati ini begitu kesat, aku memang mengadu padaNya. Lalu, berlari pula pada hambaNya, ke arahmu, wahai saudariku..
Terima kasih sudah menjadikanku saudarimu..
***
Orang ketiga
Dia; Rindu yang belum terjawab.
Apakabar ia, Rabbi? Lagi, aku lengah terhadapnya. Sedih setiap mendengar namanya yang hanya bisa ku pandang dari layar Afkaar dan Ahfadzii-ku. Ia dalam kondisi yang tak kondusif. Banyak angin yang menghembuskan tentangnya yang membuatku semakin khawatir. Benarkah begitu?
Teruntuknya dalam tiap doaku, semoga Allah menjaganya lebih dari biasanya, lebih dari biasanya.
Dan selalu diteguhkan hatinya
***
Orang keempat
Kami; Bila memang ini adalah jeda kadaluarsanya hubungan kami, maka bentuk seperti apa yang mesti aku wujudkan pada hubunganku dengannya agar kembali segar seperti semula? Aku rindu untuk leluasa menangis dalam dekapannya.
***
Orang kelima
Mereka; Dalam bahasa apa lagi agar mereka mengerti? Terlalu sering lelah karena mencari husnuzhan, agar tak ada yang perih. Aku tak punya harap akan perhatian yang lebih. Tapi, mereka tak pernah mendengar jeritan-jeritan kecil yang tersembunyi dalam diam. Dan berkali-kali aku terjatuh di titik ini. Haruskah aku berlari?
***
Orang keenam
Peri kecilku;
“Terima kasih untuk hari ini karena udah mau belajar sama bu guru..” Ucapku sambil melempar senyum pada mereka, peri-peri kecilku.
Sebelum meninggalkan mereka, ku cium keningnya satu per satu sambil berbisik, “Besok masih mau belajar lagi, kan?” Dengan senyum terakhir, ku simpan jawaban kalian dalam hati agar tetap merekah sampai benar-benar bisa tertancap disini.

Mengantarmu ke masa depan yang lebih baik, insya Allah..
***
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea