31 Juli 2017

Buku: Alhamdulillah... Balitaku Khatam Al Qur'an

Posted by Basmah Thariq at 00.42.00
Bagi orangtua yang punya target anak-anaknya menjadi hafizh/hafizhah, buku ini bisa menjadi pilihan sekaligus panduan untuk anak dalam memperkenalkan Al Qur’an sejak usia dini. Pada ketiga belas bab di dalamnya ditulis berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan penulis. Karena kesungguhan dan keistiqamahannya, ketiga putri penulis berhasil khatam Al Qur’an di usia balita. Putri pertamanya, khatam Al-Quran pada usia 4 tahun 9 bulan 18 hari, putri kedua khatam pada usia 4,5 tahun dan putri ketiga khatam di usia 3 tahun lebih. Masyaa Allah…
  
Dalam uraiannya, penulis ingin mengajarkan Al Qur’an pada anak-anaknya tak sebatas bisa membaca. Namun mengajarkan Al Qur’an yang paripurna dengan membimbingnya untuk bisa mencintai Al Qur’an, membaca setiap hari, memiliki target prestasi dengan Al Qur’an, dan senang berinteraksi dengan Al Qur’an.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat dari Utsman radhiyallaahu ‘anhuRasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” Hal inilah yang menjadi dasar tentunya setelah menyadari bahwa menjadi pembelajar Al Qur’an adalah sebagai sebaik-baik manusia.

Berlanjut pada prinsip rumah tangga yang dibangun dengan pembelajaran Al Qur’an di rumahnya. Mengawali perkenalan huruf hijaiyyah ketika anak-anaknya sudah bisa mengucapkan dua suku kata. Kemudian dilanjut dengan huruf hijaiyah yang mudah diucapkan dan dari anak sekiranya mampu mengucapkannya. Suasana dibuat semenyenangkan mungkin dengan menempelkan huruf-huruf hijaiyah di tempat yang sering dilalui anak, memperbanyak reward dan minimalkan punishment, menyerertakan anak ketika membuat alat peraga Alquran, dan sebagainya agar setiap hari bisa bersama Al Qur’an.

Untuk mendekatkan anak-anak pada Al Qur’an tentunya dilakukan dengan men-sounding sesering mungkin. Menanyakan kapan ingin mengaji, belajarnya sama abi atau ummi, dan beragam penawaran yang memikat untuk anak-anak tertarik pada Al Qur’an.

Dalam proses masa pembelajaran pada Al Qur’an, terutama di usia balita tentu ada kendala yang dihadapi oleh penulis. Kendalanya pertama, bisa berasal dari orangtua. Semisal; kurang sabar, mudah marah, terlalu kaku pada target yang justru menjadikan anak tertekan. Maka solusi yang biasa diambil oleh penulis atas saran suaminya adalah dengan berlibur untuk me-refresh hati dan tentunya memperbanyak doa bersama anak kepada Allah untuk dimudahkan. Kendala kedua yang berasal dari anak itu sendiri. Tanpa dipungkiri, kadang anak menolak ketika diajak mengaji. Maka solusinya cari tahu sebabnya. Hindari cara-cara instan seperti memaksa, mengancam, dll yang membuat anak tidak nyaman. Kendala ketiga, bisa saja ada pada fasilitas dan sarana walaupun fasilitas dan sarana tidak menentukan keberhasilan. Penulis pun mengatakan bahwa selama proses beliau tidak merasakan kendala yang cukup berarti selama mendampingi ketiga putrinya. Mengingat fasilitas yang disediakan saat itu dianggap penting adalah buku latihan membaca (iqro’, tilawati, abatasa) dan mushaf besar ketika anak sudah masuk Al Qur’an.

Beberapa metode pembelajaran Al Qur’an untuk balita pun diuraikan, sebagai berikut:
1. Memulai dengan mengajarkan bunyi, bukan nama huruf.
    Contoh: Penyebutan A, Be, Ce, De, E, dst dengan lambang pada bahasa Indonesia A, B, C, D, E, dst
Pada kata “Umi” misalnya kita tidak perlu lagi membaca “U-eM-I” tetapi tetap dibaca Umi. Karena yang kita gunakan adalah bunyi hurufnya, bukan nama hurufnya. Hal tsb berlaku pada semua bahasa, termasuk Al Qur’an yang berbahasa Arab. Sedang pada pengenalan nama huruf bisa diketahui oleh anak nanti seiring bertambahnya usia, anak akan menyerap pengetahuan itu sendiri dari lingkungan sekitar.
2. Memulai dari yang sudah bisa, akhirkan yang susah
  Anak pada usia balita akan lebih mudah menyebut A-Ba-Ta-Ja-Ha-Da ketimbang Tsa-Kha’-Dza’-Ra’-Za misalnya.
Adapun langkah praktis bisa dilakukan dengan cara berikut:
1.      Semua huruf yang berharkat fathah
2.      Kenalkan bentuk sambungnya
3.      Dilanjutkan berharkat fathah mad thabi’i
4.      Boleh kasrah atau dhommah terlebih dahulu (disertai dengan mad thabi’i)

Dan masih banyak lagi tahapan yang diajarkan bisa ditemukan pada buku ini. Selain pengalaman yang diuraikan, penulis memberikan pengenalan dasar beserta metode untuk bisa membaca Al Qur’an dengan benar.  In syaa Allah tetap santai dan tanpa digurui.

***

Jujur, secara pribadi saya agak terlambat baca buku ini, mengingat anak saya yang pertama telah genap berusia 4 tahun. Rasa-rasanya ingin segera mengaplikasikan pada ketiga putri saya (sama seperti penulis buku ini *gak penting) sesegera mungkin in syaa Allah.

Kelebihan:
1. Penyampaian yang mengalir, karena didasarkan oleh pengalaman. Jadi lebih ngenain syaa Allah..
2. Penyampaian yang aplikatif, karena banyak contoh terutama pada metode pembelajaran Al Qur'an.

Kekurangan:
1. Sayangnya, tidak menampilkan foto aktivitas anak-anak penulis dalam pembelajaran Al Qur'an.

Oh ya, pada bab terakhir dituliskan tentang masa-masa yang tak terlupakan dari pengalaman putri-putrinya di jelang dan pada berlangsungnya khataman Al Qur'an. Perayaan yang sederhana, namun bisa menjadi semangat untuk mengkhatamkan Al Qur'an pada selanjutnya.

In syaa Allah, setiap kita dan anak kita pun mampu mengkhatamkan dan menghidupkan Al Qur'an pada kehidupan sehari-hari.
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea