5 November 2010

Simfoni Jum'at

Posted by Basmah Thariq at 19.10.00
Ada rasa yang bergemuruh dalam diri setelah beberapa hari belakangan ini jeda menulis. Mungkin betapa banyak rutinitas yang tak mampu ditepis, hingga begitu banyak tumpukan kata meluap-luap yang kembali ingin digoreskan. Kali ini, aku ingin meluapkan kata-kata tersebut dengan memulai pertarungan bersama imaji. Mengingat hari-hari yang  kujumpai ini tetap saja tak usai menghardik naskah-naskahNya yang tak teduga walau kadang pasrah dengan perasaan terseret-seret.

Hh… ada keluh kesah yang ingin kutumpahkan sebenarnya saat setiap kali menjumpai hari Jum’at. Mungkinkah perasaan ini yang terlalu mendramatisirkan sesuatu, hingga hari ini kutemukan dengan banyak aroma tergugat dari diri?

Ingin rasanya ku katakan pada ketua tingkatku, atau setidaknya perkuliahan yang mengusik hari Jum’at mampu memahami tentang hari Jum’at adalah hari nasional bagi kalangan aktivis dakwah sekolah di manapun. Mengingat waktu-waktu yang cukup luang bagi anak sekolah adalah hari Jum’at, maka kami diupayakan untuk bisa memaksimalkan hari ini terjun langsung ke sekolah-sekolah. Bukan karena ingin dikatakan eksis dalam dakwah atau entahlah apa namanya (jika terbersit dalam pikiran), tapi, das sollen tetap saja membelakangi das sein. Dan inilah yang seringkali naskah yang kerap disuguhkan, bukan? Maka tetap berhusnudzan pada Allah dengan menyadari bahwa kepentingan manusia tidaklah sama, karena tiap-tiap orang punya pola rutinitas yang berbeda.

Dan setiap kali menjemput Jum’at dengan segala keresahan dan kerisauan, aku sangat ingin katakan, “Beri waktu luang di hari Jum’at.”. Kata-kata yang sering kujeritkan dalam hati. Hanya dalam hati. Rasanya gak kuat jika aku harus membolos terus menerus pada mata kuliah yang bersangkutan hanya gara-gara telat 5 menit. “Ya Allah, perjalanan dari sekolah yang kukunjungi cukup memakan jarak menuju kampus!! Kuliah jam 13.00 tepat sedangkan waktu kajian Jum’at di sekolah dihamparkan pada pukul 12.00-13.00.” Lagi, perasaan ini yang kerap kali merayapi ruang hati. Sesak…

Hari ini, dengan mengawali dari sebuah kisah di mata kuliah Studio Seni Musik, ujian siap digelar dengan berbagai ekspresi yang tertumpah ruah dari menyapa awal hari Jum’at. Gagal perkuliahan pagi, Kapita Selekta, dilanjut menghampar BMC, dan akhirnya masing-masing sibuk melakukan persiapan ekstra dengan lagu-lagu, not balok, kres-mol, dsb. Bahkan mencuatnya beberapa status yang kudapati di FB dengan mendeklarasikan “Ingin menghilang”, hingga melahirkan atmosfer ketegangan yang sempat menyeruak efek dari mata kuliah ini.

Pukul 13.00 lewat sekian-sekian ---- The real beauty of symphony.. Virus H2C menjangkiti kelas kami. Aku rasakan di saat ketegangan benar-benar merebak pada detik-detik menanti dosen. Hiruk pikuk teman-teman yang ber-solmisasi dan menekuni not-not balok, serta gelagat ketua tingkat yang sejak tadi lalu lalang keluar masuk kelas, sibuk dengan ponselnya sambil memasang ekspresi abstraknya, yang tak terdefinisi. Senyumnya kadang tak memahami atau bahkan tak bisa mengisyaratkan antara ada dan tiada dosen.

“Ya Allah, aku siap dengan segenap skenarioMu. Apapun kejutanMu. Aku ingin menyelesaikan perasaan ini. Mengakhiri dan cukup dengan hari ini, ya Rabb..” Pintaku dalam hati, ber-tawakkal. Karena tetap saja simfoni ini Kaulah yang susun. Aku tak punya kesanggupan untuk menyusun dan menyelesaikannya seorang diri. Hanya berpinta yang terbaik dariMu. Hanya itu…

Di antara suara-suara yang tak teratur terbentur, membaur karena persaingan suara satu dengan yang lainnya, ada kalimat yang tiba-tiba kutangkap dengan cepat dari jarak yang tidak sampai 2 meter sebelah kananku, “Gak datang dosen!!” Suara yang sangat kukenal, memang nada yang khas selalu standar, tapi mampu membangkitkan pekikan kompak “Hore!! dan Alhamdulillah!!” Suara yang spontan menyatu membumbung tinggi dari berbagai sudut yang sejak awal ber-H2C menanti jawaban. Membahana dan menyatu dalam ruang kelas. So surprised!!

“Ini memang kejutanMu. Tapi, ketegangan masih berlanjut, ya Allah!!” Aku benar-benar tak berekspresi sejak awal menangkap kata-kata itu. Mungkin justru aku menyayangkan adanya celah lagi untuk perasaan ini. Mengingat di awal hari tadi aku telah menolak beberapa job di sekolah demi menjemput simfoni ini. Walau begitu, berharap aku ingin Kau hibur dengan simfoni rintik hujan yang tengah membasuh tempat dimana aku berpijak di tengah perasaan yang semakin gersang. Ku mau apa yang Kau tau…

2 comments

12 November 2010 06.43

kata "tidak ada dosen" merupakan anugrah bagi setiap mahasiswa.

untuk bagian sebelum kata ini, saya no comment karena tdk sanggupka berkata2 yg bagus utk bercomment atas tulisan yg sangat puitis dan terstruktur

cuma

Subhanallah

13 Februari 2011 18.06

Slalu saja Allah menyajikan simfoniNya yg indah untuk hamba2NYA. so, la tahzan innallaaha ma'ana.

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea