3 Maret 2010

Rindu yang Tak Usai

Posted by Basmah Thariq at 15.07.00


Saat ini, saya telah berlabel jadi anak kampus, di mana tempat inilah akan menyita banyak waktu ke depan, insya Allah. Bercerita tentang kampus, mungkin masih banyak yang harus dibenahi. Yah, tentang pembangunan yang semakin melejit, namun lupa akan sebuah bangunan yang agung, yang masih alpa di tengah persaingan bangunan lain yang telah berdiri kokoh. Mesjid, namanya. Sehingga, tak heran banyak mahasiswa yang menunaikan panggilanNya di masjid yang alhamdulillah ia berada dalam posisi dekat dengan kampus.
Untuk saat ini, saya enggan menceritakan tentang kampus, karena kepadatan jadwal di luar lebih mendominasi hingga akhirnya kegiatan di kampus bukan hal yang begitu menyentuh dalam benak ini.
***
Seusai shalat dzuhur di sebuah masjid dekat kampus, saya masih terpaku dalam hening cipta. Masih dalam keteduhan yang sedang saya nikmati sesaat itu, meski mata mulai menjalar ke sekeliling ruang dimana saya benar-benar merindukan suasana keteduhan yang jarang saya rasakan akhir ini. Dan mata ini kembali menatap lekat pada sebuah hijab (baca: pembatas shalat antara ikhwan dan akhwat) yang tepat di depan saya. Pada hijab itu, kembali mengusik segenap imaji pada sebuah bab dalam kehidupan saya. Perkenalan dengan Kurma 17.

melayarkan masa lalu
untuk ditelusuri dan dibaca
yang bertabur dalam memori
menganga sepanjang jalan

Kali pertama saya diperkenalkan dengan kata “hijab”, saat saya memasuki dunia SMA. Saat seorang akhwat sekaligus seorang kakak kelas bertegur sapa dengan ramahnya, ia memanggilku pada sebuah kegiatan bernama musyawarah. Walau sebenarnya sejak awal masuk SMA, saya memang sudah men-tag ekskul Rohis (kerohanian Islam) yang akan saya geluti, tapi tak apalah jika saya harus lebih tahu banyak tentang kegiatan-kegiatan lainnya. Apalagi, rohis di sekolah saya di Jeddah tentu berbeda dengan Jubel.
Perkenalan saya dengan Kurma17 yang memiliki kepanjang Kerukunan Remaja Masjid 17 yang berkiprah di SMA Negeri 17 Makassar, tak lain dan tak lepas dari bentuk qadarallah, Allah ta’ala yang benar-benar mengantarkan saya. Siapa yang menyangka jika saya akan melewati sebuah langkah baru yang telah Allah skenariokan.
Seorang kakak kelas menyapa dengan ramahnya, mengajak saya pada sebuah musyawarah yang entah apa yang akan mereka lakukan. Saat itu, saya hanya mengiyakan akan menghadiri musyawarah tersebut. Kesan pertama yang saya tangkap dari sebuah musyawarah yang mereka gelar seusai sekolah adalah “aneh”. Aneh dengan cara mereka yang tidak seperti biasanya kebanyakan orang lakukan. Berbicara di depan sebuah pembatas di sebuah masjid sekolah, dengan nada yang sangat rendah. Itulah yang tertangkap oleh mata saya. Hati ini mulai menghimpun kata untuk melontarkan sebuah tanya pada kakak tersebut yang sekali-kali berbicara di depan hijab itu. Mungkin ekspresi saya langsung bisa terbaca oleh si kakak itu tanpa harus mengutarakan pertanyaan yang sempat saya ukir dalam hati.
“Jika kita ingin menegakkan syari’at Allah, maka terlebih dahulu kitalah yang memulai menjalankan syari’atNya. Inilah syari’at yang mengajarkan kita untuk menjaga pandangan. Apalagi kita harus berinteraksi dengan lawan jenis dalam ruang dan durasi yang cukup lama. Walaupun kita tak bisa memungkiri kita akan menjumpai non mahram dimanapun dan kapanpun. Tapi, kita harus memulai dari hal-hal yang kecil jika bisa diusahakan seperti musyawarah ini. ”
Mungkin itulah inti dari perkataan kakak itu utarakan pada saya. Tepatnya, saya merasa benar-benar dapat sebuah ilmu yang belum pernah saya dapat dari manapun dan mencoba belajar dari kalimat-kalimat  tersebut. Karena sekali lagi, saya bukanlah manusia yang telah terinstall selama 24 jam full dalam kebaikan. Dan ini membuat saya kembali mengklaim pada manusia terkhusus pada diri saya sebagai manusia yang lemah. Kalau boleh meminjam sebuah istilah atau semacamnya yaitu: “perasaan muncul dari mata turun ke hati”.
Saya semakin bisa mencerna apa yang si kakak tersebut utarakan. Yah, seringkali kita tertatih menata hidup untuk menjemput setiap perintahNya, tak selalu erat tangan menggenggam tiap hidayahNya. Namun, peristiwa ini hadir hanya sebuah reaksi yang sempat terkeluhkan beberapa saat yang lalu pada diri ini.
            Dan waktu kerap kali melangkah dengan cepat, segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala mengantarkan saya pada sebuah ekskul untuk mengemban amanah yang sangat besar. Padahal apa yang ada sesungguhnya kadang tak dapat digenggam dengan erat. Dan tidak dapat dipikul dengan benar. Tapi...
Saat itu, saya tidak seorang diri. Saya menjumpai banyak teman yang juga men-tag Kurma17 sebagai ekskul mereka. Karena sekolah kami mengharuskan tiap siswanya memiliki minimal satu ekskul. Walaupun, ekskul Kurma17 bukanlah ekskul yang dinomorsatukan oleh siapapun. Dengan kata lain, banyak yang memilih lebih satu ekskul, termasuk saya. Mungkin dari niat ingin mengenal Islam lebih dalam, juga sebagai pemersatu ikatan dari berbagai ekskul yang telah mendeklamasikan diri dalam Kurma17. Yah, entah dari PasQ17, Gema Suara17, PMR17, dan masih banyak lagi yang bergumul di Kurma17. Siapapun bisa masuk tanpa melihat dari sisi manapun. Walhasil, kami tidak ragu untuk memilih Kurma17 sebagai ekskul netral.
Terbiasa mengikuti musyawarah secara intens dalam tiap kepengurusan Kurma17 sebelumnya, maka tak asing lagi ketika dalam kepengurusan angkatan saya juga menjalankan berbagai musyawarah dengan kehadiran sebuah hijab. Walaupun, seharusnya berhijab tak hanya sekedar dalam musyawarah.
Pada saat itu, saya masih sangatlah minim dalam mengenal ilmu Islam ketika mendapat sebuah amanah di Kurma17. Terlebih dalam kepengurusan kami yang tak sepenuhnya paham tentang definisi hijab itu. Minimnya ilmu, membuat banyak orang bertanya dengan keluguan masing-masing. Namun, perlahan tapi pasti, kami mulai terbiasa dengan musyawarah dengan ala kami ber-“hijab” yang sering kepergok oleh orang-orang yang lalu lalang sekitar masjid dengan memandang heran dan penuh tanya.
Tak bisa dipungkiri pula, musyawarah yang sering kami gelar berhamburan. Misalnya, entah ketidaksengajaan kami menyebut nama orang, yang seharusnya hanya menyebut nama jabatan ke lawan bicara dibalik hijab. Atau jika kami tidak mengenal suara lawan bicara di balik hijab, maka kami akan bertanya pada teman segolongannya yang mengenalnya untuk mengetahui siapa yang sedang berbicara.
Tapi toh semua bisa berjalan lancar tanpa penghalang dan bisa berkoordinasi dengan baik dengan siapapun. Terbukti lewat beberapa proker (program kerja) yang alhamdulillah bisa terlaksana. Atau, jika ada sekelumit masalah, kita langsung bermusyawarah dengan lebih serius. Walau di saat tertentu, terkadang ada gelak tawa tertahan yang tercipta tanpa harus sungkan terhadap lawan bicara, atau rasa geram karena amarah atau kekecewaan yang tersembunyi, dan bahkan tentang air mata yang terkadang terurai jika masalah kembali mengguyur. Sekali lagi, semua tidak tampak, dan semua tidak perlu disembunyikan, karena sejak awal “hijab” itu telah ada. Setia menemani dalam persaksian bisu musyawarah. Setia menutupi segala sesuatu yang mungkin bisa jadi aib. Setia menghalangi pandangan yang terkadang begitu liar yang tidak bisa dinafikkan oleh hati.
***
Masih dalam kesunyian tempat saya usai shalat, kata-kata seorang akhwat itu terngiang, “Kutunggu Kau di Balik Hijab”. Saya pun tersadar untuk selanjutnya beranjak dari hening cipta dan bergegas pulang dan sekali lagi menatap sebuah hijab yang nyaris serupa dengan hijab di sekolah. Pada rindu yang menyesakkan...
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea