1 Maret 2010

An Insident

Posted by Basmah Thariq at 09.19.00
Di suatu siang menjelang dzuhur, saya yang ditemani seorang teman saya mengurungkan niat pulang dari ngampus. Meski terbilang jam kuliah pada hari itu sudah berakhir sebelum dzuhur, maka kami pun membidik sebuah masjid yang berlokasi dekat kampus untuk jadi tempat peristirahatan sejenak menanti jam 3 untuk musyawarah (rapat-red).

Menanti jarum pendek menuju jam 3 itu sangatlah lama pada saat itu. Seusai shalat dzuhur, pun kami menghabiskan waktu dengan bertukar cerita. Maklum saja, kedekatan kami masih seumur jagung setelah kami sama-sama dinobatkan berada di bilingual class, PGSD.

Saking lamanya waktu yang bergulir pada saat itu, jika cerita kami dibukukan, mungkin cerita tersebut bisa mencetak beberapa buku tentang dua insan dalam pentas sandiwara. Tapi, siang yang membosankan seolah tak mengurangi semangat untuk bercerita. Mulai dari cerita sekolah, dakwah, kuliah, hingga menyerempet ke masalah nikah (?).
*
Akhirnya, jarum jam pun menunjukkan pada pukul 3 sore. Karena sebentar lagi waktu ashar akan menyambut, maka sepakatlah kami untuk tetap di masjid tersebut hingga shalat telah ditunaikan. Di sela-sela menanti kumandang iqamah, saya masih disibukkan dengan OL (coution: don't try this) via hp teman saya atas permintaannya untuk di-download sesuatu. Saat saya yang tengah bersiap-siap untuk shalat walau iqamah belum dikumandangkan, saya mendapati sesosok makhluk laki-laki berada di shaf perempuan paling belakang. Lelaki berkemeja yang sempat saya temui di kampus beberapa jam yang lalu itu sedang merogoh sesuatu. Yah, mata saya masih berusaha mendeteksi apa yang dia lakukan itu. Teman saya yang juga saudari saya itu menyadari hal yang sama dengan saya.
"Ukhti, itukan tasnya Ani. Ngapain orang itu di sana?" Tanyanya dengan ekspresi panik sambil terus melontarkan kata-kata yang sama.
Saya yang juga menyadari dan sempat terselip pikiran husnudzan terhadap lelaki berperawakan pegawai itu, akhirnya terkontaminasi juga. Melihat gelagat lelaki yang langsung sadar karena merasa terpantau oleh kami. Dengan ekspresi yang dibuat tenang untuk meyakinkan bahwa dirinya bukanlah apa yang kami pikirkan (mungkin).
Untuk apa lelaki itu di shaf perempuan, sedang qamat akan dikumandangkan? Bukannya bersegera untuk berwudhu dan menunaikan shalat, tapi malah melumurkan diri dengan dosa, di rumah Allah, dan di waktu shalat pula. Astaghfirullah. Buru-buru saya tepis tuduhan itu, sambil terus mengamati lelaki itu sampai ia telah kembali merapatkan shaf untuk shalat. Sedang kami? Saya masih berjaga-jaga walaupun shalat telah dimulai. Pun dengan teman saya yang langsung melesat ke tempat wudhu untuk memberitahukan kondisi tas pemiliknya.
Ditiap kesempatan, saya berani mengungkapkan sesuatu. Jika benar adanya. Tapi, kejadian ini benar-benar membuat saya benar-benar bungkam. Entah kenapa. Mungkin saya takut akan membuyarkan ke-khusyuk-an jama'ah yang hendak shalat. Alasan lainnya, imaji saya pada saat itu begitu liar hingga terlintas jika saya melakukan tindakan nekat ini, dan tiba-tiba ada wartawan yang kebetulah sedang mampir shalat di masjid tersebut, dan meliput kejadian ini. Sampai akhirnya, koran pagi memuat berita kami yang menggegerkan kampus, pun dengan warga sekitarnya dengan judul JILBABER, PAHLAWAN di Siang Bolong (baca: Lebay). Imaji liar itupun saya buang jauh-jauh dan berkonsentrasi untuk shalat.
Seusai shalat, saat saya masih terpaku dalam kesendirian, lelaki itu pun langsung meluncur ke tempat tadi untuk mengais rezeki yang tidak halal itu. Saya dan juga teman saya membiarkan lelaki itu bertebaran di belakang. Toh, tak ada tas yang tak bermajikan. Sebab, semua tas telah dievakuasi oleh pemilik masing-masing. Dan kami pun bersegera keluar dari masjid sebelum kami juga terancam dalam bahaya.
Yah, sangat miris. Inilah satu insiden yang kali pertama saya saksikan dalam hidup.
Mungkin ini jadi pelajaran buat saya, bahwa kejahatan bisa dilakukan bukan hanya niat tapi jika ada kesempatan (lha? Koq ngutip dari Bang Napi, ya?).
Yah, waspadalah di manapun kita berdoa. Jangan lupa berdoa plus dzikir pagi-petang, serta cuci kaki sebelum tidur (ha?)..

Makassar, 1 Nov 09.

Thanks to Ukh Insana Pertiwi yang menemani saya melihat insiden ini dengan penuh ketegangan dan ke-lebay-an dalam menyaksikannya.
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea