27 Januari 2012

Di Antara

Posted by Basmah Thariq at 21.12.00
#1
Pagi cerah menghabiskan waktu pada lembaran-lembaran buku Soft Skills untuk Pendidikan, mengajak pikiran ini dicecar oleh bayangan kedua negeri yang menjadi impianku. “Negara maju berarti ia telah memperhatikan pendidikan dalam kondisi sedemikian rupa.” Simpulku.
Tak ada alasan, ketika setiap kali berada dalam posisi yang terperangkap pada negeri yang begitu mencemaskan akan pendidikan. Maka, meraba beberapa negeri seberang adalah bentuk upaya untuk memajukan negeri ini. Apa salahnya? Pada sejumlah buku yang berimbuh pendidikan yang pernah kubaca, justru merekomendasikan untuk memperhatikan dan mempelajari bagaimana negara-negara asal Asia Timur ini membangun negaranya.
Jepang dan Korea, kedua negara tersebut juga pernah terpuruk, pernah mengalami kekalahan dalam peperangan, pernah mengalami kegagalan, dan lainnya. Tapi, kedua negeri itu punya beberapa hal yang bisa membangun kembali negerinya, yaitu: kesadaran, tanggung jawab, dan komitmen kuat dalam mengawali kehidupan bernegara dan memperbaiki semuanya dari sebuah penanaman dalam diri yang terbentuk dan terarah bernama pendidikan. Pendidikan yang tidak hanya meminta implementasi segi kognitif, tapi juga menuntut pada psikomotorik dan afektif seseorang. Yang tak kalah mengejutkan, justru pendidikan bagi keduanya itu sebagaimana ilmu itu bisa memberi ruh dalam dirinya masing-masing. Kejujuran yang tak hanya ada pada teori. Kedisiplinan yang tak hanya pada banyak janji belaka. Rasa tanggung jawab tak hanya ada dalam bayang-bayang. Tapi, mengupayakan adanya indikasi dari pendidikan dan meyakini bahwa pendidikan merupakan investasi yang luar biasa dalam membangun negeri.
Ah, semoga kita bisa memberi ruh pada masing-masing ilmu yang kita miliki. Sama seperti mereka, kita terlahir dalam keadaan yang berakal untuk menempatkan sesuatu yang memang semestinya.

#2
Duniaku sedang berputar pada: Ruang kelas – Gedung Sekolah – Anak – Ibu
“Mbak, anak saya tulisannya gak terlalu bagus. Padahal dia udah kelas 2 lho, mbak..”
“Bu, anak saya kok susah sekali ya kalo disuruh belaja? Butuh hidayah kayaknya ya?”
“Si A.. Selalu aja kalo waktu belajar, maunya maiiiin terus.. Gimana bu?”
Tersadarkan atas pertanyaan-pertanyaan ini justru sering dilayangkan untuk seorang “aku” yang masih memiliki kadar sedikit untuk membenahi anak-anak. Tak lepas dari hal itu, seringkali kondisi ini pula yang bisa mengantarku untuk banyak belajar lagi dan mendapati jawaban dari proses yang kulalui. Tentunya, untuk memenuhi semuanya, mencoba menjawab dari hasil membaca banyak buku, banyak bertanya dan share ke orangtua murid, terlibat langsung dengan mengikuti seminar parenting dan training untuk calon pendidik. Setidaknya ada bekal melatih diri untuk lebih. Lebih mengerti, lebih memahami, lebih tahu, dan… lebih mempersiapkan diri untuk menuju.

#3
Guru dan Murid = Sama-sama sedang belajar
Intinya, kita mau – bisa – lakukan demi ketercapaian proses pembelajaran.
Memiliki skill khusus dibutuhkan waktu untuk mengupayakan semuanya ada. Percaya atau tidak, aku baru mahir dalam meng-gradasi warna itu disaat duduk di bangku perkuliahan. Pada saat salah satu murid privatku sedang mengisi waktu kosongnya dengan mewarnai dengan sangat indahnya, aku pun tak ragu ingin belajar. “Azka, ustadzah* boleh belajar gradasi warna dari Azka?” Tanyaku penuh harap. Ia pun tanpa sungkan menerimaku dan mengajariku dengan sangat tekun seusai belajarnya selesai. Alhasil, setiap kali aku menyelesaikan gambarku, kemudian membawa dan menyuruhnya untuk mengoreksi hasil gradasi warnaku. “Azka, ustadzah udah warnain ini. Coba dinilai ya..”
Di sini, kita bisa melatih kepercayaan dan kemampuan anak didik, bahwa segala sesuatu itu tidak harus didapatkan dari guru seorang. Tapi, bisa jadi murid membelajarkan pada banyak sisi yang justru kita kadang luput dari kemampuannya yang lebih.
Lain gradasi, lain juga dengan origami. Pada saat sedang mengeluarkan buku dari tasnya, tiba-tiba sebuah hasil karya origami terjatuh. Aku yang memungutnya mengamati lekat kertas lipatan itu. “Ini Azka yang buat? Boleh diajarin cara buatnya?”
“Tapi, aku cuma taunya yang ini aja, ustadzah.. Itupun diajarin temenku di sekolah” Katanya dengan sangat polos.
“Oh gak papa, Azka.. Ntar ustadzah bakal kasih tau cara membuat yang lainnya.” Akhirnya, aku rajin men-search di google dan mengikuti tutorial origami dari internet yang kemudian ku bagikan kepadanya dan murid-muridku di waktu senggang.
Rupanya, aku memang masih harus banyak belajar..

#4
Mau mendengarkan suara (hati) kecil..
Kita kerapkali dihadapkan untuk tiba-tiba memahami kondisi seseorang. Sekalipun ia tak mengerti bahwa memahami kondisinya bukan hal mudah dituruti seketika.
Kali pertama mem-privat di sebuah rumah kompleks sebelah, seorang anak laki-laki yang kondisi belajarnya masih labil dan bergantung pada mood-nya, lagi-lagi mengajariku pada banyak hal. Mulai dari belajarnya harus ditemani oleh ayahnya yang justru membuatku kikuk dihadapannya, sampai pada mogok belajar karena kondisi keterpaksaan. Disanalah aku mengerti, menumbukan kecintaan belajar pada anak diawali dari hal-hal yang dekat dengan dunianya. Yah, bermain. Bukan dengan ancaman atau bujukan sekalipun yang akan mengubah mindset anak bahwa belajar: menakutkan.
Awalnya, ingin menyerah ketika berhari-hari dipertemukan dengan kondisi yang sangat dipaksakan. Tapi, situasi itu justru mengalihkan cara membelajarkan sosoknya dari biasa menjadi luar biasa. Laki-laki yang berusia 4 tahun itu akhirnya mau mengaji hanya bermodal crayon dan kertas putih polos yang tanpa sengaja tergeletak di atas meja belajarnya. Memulainya ketika tiba-tiba saja ia mendekat dan menggambar di sebelahku tanpa dipinta.
“Mirza lagi gambar apa nih?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Lagi gambar mobil.” Katanya pelan dengan tetap memainkan jarinya di atas kertas tersebut.
“Waah, anak shaleh yang satu ini, hebat...” Pujiku sambil terus mengamati gambarnya. “Kalo gitu, dik Mirza bisa gambar rumah juga dong?” Pintaku kembali sambil terus mengamati tangan mungilnya yang lihai.
“Bisa..” Jawabnya datar yang kemudian memenuhi pertanyaanku itu.
“Masya Allah, bener-bener keren..” Pujiku lagi sambil mengusap kepalanya ketika ia telah berhasil menggambar rumah. Kemudian aku meminta ia menggambar sesuai keinginannya. Maka, ia pun menggambar sampai akhirnya, “Kalo gambar huruf alif atau a yang ada di iqra’nya adek Mirza, bisa gak?” Tanyaku pelan-pelan dengan sebuah penawaran baru. Aku tak sungkan memperlihatkan buku Iqra’nya.
“Bisa..” Masih dengan jawaban yang singkat, ia memenuhi permintaanku.
“Hebat, masya Allah!!” Pujiku ketika ia menunjukkan hasilnya yang maksimal. “Yang adek gambar itu huruf apa?” Tanyaku mengulangi apa yang ia gambar tadi.
“Huruf alif atau a..”
“Masya Allah, benar-benar anak shaleh! Hebat!” Pujiku untuk kali kesekian dengan perasaan senang. “Adek bisa buat huruf ba, gak?” Tanyaku kembali sambil menunjuk ke arah iqra’ miliknya.
Ia pun menuruti keinginanku. Setidaknya metode ini bisa mengantarnya untuk mengenal huruf-huruf hijaiyyah dengan caranya. Sesukanya, tanpa mengikatnya bahwa belajar ya harus pada buku Iqra tersebut.
Pekan-pekan berikutnya, ia tak ingin lagi menggambar. Sepertinya rasa bosan tengah menggugah dirinya. Tak ingin kehilangan cara, mataku tiba-tiba terpikat pada sebuah bantal guling berbentuk boneka Lala, salah satu pemeran Teletubbies. Entahlah, tanganku tiba-tiba ingin meraih boneka tersebut dan memainkanya
“Hey Lala, si Mirza anak shaleh ini lagi ngambek tuh..” Godaku sambil mengajak boneka teletubies ini berinteraksi padaku. Waktu itu, ia sedang merebahkan badannya di sofa. Aku pun mulai mengelilinginya sambil terus membawa boneka Lala. “Oh ya? Kalo gitu kita ajak main aja, yuk..” Jawabku dengan mengubah nada suaraku menjadi sosok Lala yang menghampiri Mirza.
Aku dan Lala pun mendekat ke adik kecil ini, Mirza. Ia pun akhirnya menuruti keinginanku dan Lala untuk mau mengaji. Sesekali ada tawa yang selalu membersamainya saat melihatku yang berlaku Lala. Kadang, aku berperan menjadi sosok yang berpura-pura tidak tahu dan menjadikan Lala sosok guru yang siap mengajariku dan Mirza untuk mengaji. Butuh waktu yang lama untuk bisa membuat Mirza menurut. Yah, hitung-hitung, melatih diri berbahasa anak untuk suatu nanti. Mungkin di suatu hari nanti pula, aku akan menggunakan cara ini di depan kelas menghadapi anak-anak didikku. ^^ Doakan ya..


Mungkin, 
karena kesempatan mengetahui banyak hal itu 
bergantung pada kondisi dan situasi,
hingga kemampuan juga akan terlahir dari kesempatan yang ada.
*sapaan Bu Guru; entah kenapa sang ibu menyematkan sapaan itu pada yang sebenarnya aku ingin dipanggil "Kakak"

12 comments

27 Januari 2012 23.00

MasyaAllah, mantaaaaaaap
semangat sekali hehehe

Anonim
27 Januari 2012 23.49

Pada beberapa hal...
Aku merasa ingin menjadi seperti dirimu...
Ingin menjadi profesional di bidang yang mungkin boleh dibilang 'pelarian'...
Tapi, aku tak ingin menjadi orang lain...

28 Januari 2012 09.20

Assalamu'alaikum


Mungkin,
karena kesempatan mengetahui banyak hal itu
bergantung pada kondisi dan situasi,
hingga kemampuan juga akan terlahir dari kesempatan yang ada.
*sapaan Bu Guru; entah kenapa sang ibu menyematkan sapaan itu pada yang sebenarnya aku ingin dipanggil "Kakak"

hehe apa aja jadi ... klo selama dipanggilnya baik hehe... tokh nnti ada masanya jadi ibu yah?

luar biasa... semangatnya tinggi...
jadi isniprator nih..

29 Januari 2012 09.07

Pengen banget jadi guru~...~_~

29 Januari 2012 13.08

semoga makin sukses ya kedepannya
:D

3 Februari 2012 16.28

salam kenal ya bu guru...heheheh
salam dari blogger surabaya :)

3 Februari 2012 23.16

@Kaito KiddHm.. iya.. Sepertinya harus semangat sebagai tanda bahwa kita mencintai pekerjaan ini.. ^^

3 Februari 2012 23.19

@AnonimKita yang menjalani berarti kitalah yang harus menentukan pilihan ini secara matang. Pelarian bukanlah salah satu celah untuk menyelesaikan masalah. Semoga bisa menemukan arti sesungguhnya dari satu profesi ini. Yah, dengan bahasa hatimu yang tak kan satu pun orang bisa memahaminya.. :)

3 Februari 2012 23.20

@Annur EL- KareemJazakillah khaer untuk semuanya.. InsyaAllah, untuk menjadi ibu dan inspiratornya.. :))

3 Februari 2012 23.21

@farid maricarMasih ada kesempatan untuk menjadi guru. Secara tidak langsung kita telah menjadi guru. Guru untuk diri sendiri..

3 Februari 2012 23.22

@Penghuni 60Aamiin, insyAllah.. syukran untuk doanya..

3 Februari 2012 23.23

@widhi onlineSalam kenal jg.. Senang bisa dapat teman blogger dari surabaya..^^

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea