22 Agustus 2010

Dan Untukku juga Untukmu, Ukhtii..

Posted by Basmah Thariq at 14.31.00
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Segala puji hanya milik Allah Subhaanahu wa ta’ala, Sang Pencipta dengan segala keMAHAannya hingga membuat siapapun ia, apapun itu tunduk dan takluk di bawah naunganNya tanpa terkecuali.
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabiullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diutusNya sebagai pembawa risalah, pembawa berita gembira bagi orang-orang yang mengimaninya, dan diutusNya sebagai teladan dalam kehidupan.
Selalu, ada untaian doa teruntuk jiwa-jiwa yang lemah agar masih merasakan nikmat pada perjumpaan awal, pada nafas kali pertama yang terhembus, iman dan Islam. Dan selalu berharap kenikmatan-kenikmatan ini menjadikan diri-diri ini mensyukuri pada setiap rahmat dan kasih sayangNya. Allaahumma aamiin.. Terlebih saat nikmat ini tersambut untuk mengenalnya secara kaffah.
Ukhti, izinkan diri ini menilik ke belakang, tentangmu dan tentangku sebelum mengenal makna perjuangan..
Sebelum hidayah menjemput diri kita, mengingat tentang sosok akhwat kali pertama, mungkin cukup asing di pandangan, aneh di pendengaran. Kalau boleh menyisipkan kisah tentangku, aku katakan, agak risih dan ribet melihat atribut yang mereka kenakan. Nasehat yang tiap kali terlontar darinya, membuatku ingin menutup kedua kuping, mundur, dan… LARI!! Jika ada sesuatu yang tak sesuai inginku namun benar, rasa PANIK dalam diri menghujam. Seolah kuperintahkan paru-paru untuk menghirup udara, namun tenggorokanku tertutup, diam, menyempit. SESAK. Yah, itu yang mampu kugambarkan. Sebab pikiranku mengatakan, “Aku hidup bebas memilih segala ingin.” Meski aku tahu, kata-kataku sangat berseberangan dengan pendapat yang kumunculkan setelahnya bahwa ini SALAH dan tak seharusnya ego merajai diri. Dan kau tahu rasanya? Sebuah perasaan tak enak yang menghentak-hentak.
Aku tahu, mungkin ada aku-aku lain yang merasakan hal yang sama. Tapi, apa yang mengantar kita hingga detik ini, ukhti? Tanpa kita sadari, saat itu kita (terkhusus aku), butuh cahaya. Sesuatu yang menyala dalam kegelapan. Walau di sekeliling kita telah diterangi lampu-lampu, atau di luar sana sang mentari masih menyinari dengan ramah meski agak menyengat. Hadirnya cahaya membuat kita terbelalak menerawang kembali masa-masa itu.
Perubahan terus bergulir seiring ilmuNya didapati lewat majelis-majelis ilmu yang terhampar. Dunia tak lagi menjadi tujuan dan cita-cita, meski kita tetap ingin menggapainya demi perjalanan akhirat. Rasa ingin terus menenun asa pada misi agung terus bergulir dengan merapatkan shaf dakwah yang kujumpa di masa balutan putih abu-abu.  Dan sisi ini menjadikan diri ini ingin tetap menancapkan diri untuk merangkai cita-cita.
Waktu yang teranyam dengan beberapa episode heroik yang kita perankan, menjadikan kita ALARM untuk senantiasa istiqamah. Mungkin karena amanah-amanah yang berjejalan di hari-hari yang tergelut, hingga tak sanggup lagi memikirkan hal yang TAK PENTING untuk disambut. Meski rasa jenuh mulai menghinggapi diri yang tersungkur oleh kegaduhan-kegaduhan yang mendera diri. Pergesekan emosi, jadwal kuliah yang membelenggu, minimnya ilmu dien, lemahnya sosok diri yang tak pernah lelah menenun khilaf, sehingga mampu mengikis sedikit demi sedikit asa yang sempat terbangun.
Dan untukku juga untukmu, ukhtii.. Dalam sisa-sisa perjalanan yang kuingat samar-samar, mungkin ada lelah yang tak terbagi, ada rasa ingin alpa dalam cita-cita ini, ada rasa diri ini sudah jauh tertinggal karena tak sempat jumpa pada kegiatan-kegiatan yang digelar, tapi ukhti, cukuplah Allah ‘Azza Wa Jalla sebaik-baik pengharapan. Cukuplah lelah ini untukNya, cukuplah Dia menjadi saksi pada tiap asa yang kita rangkai bersama maupun seorang diri. Jadikanlah episode-episode ini menjadi indah karena benar janji Allah, Jannah balasannya. Toh, hidup kita hanya seputar jatuh, kemudian bangkit. Atau, jatuh berlinangan air mata, tapi tetap saja ada upaya untuk bangkit. Dan akan berputar di sekitarnya saja.
Dan untukku juga untukmu, ukhtii.. Pada hari-hari yang kita rangkai bersama, semoga tak terhenti di sini. Sebab rangkaian ini beralamatkan di hari perjumpaan diri denganNya saat Dia kan menjawab semua cita-cita ini. Kita hanya butuh doa agar Dia menguatkan kita dalam episode-episode heroik yang telah Dia rangkai, berharap pula senantiasa dalam orbit yang sama hingga akhir hidup ini.
Akhir kata, jazakumullah khaer telah mengajariku makna perjuangan dalam kosa kata sesungguhnya.

Bumi Allah, 7 Ramadhan 1431 H
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea