“Semoga ini tempat yang terbaik,” Pasrahku setiap kali orang-orang memberikan gambaran tentang lokasi ini. Benar, sama sekali aku tak menyesal.
Captured 2:
Alhamdulillaaah, rasa syukur berkali lipat setelah mobil yang mengantarkan kami ber-3 memasuki halaman rumah Kepala Desa yang sekaligus menjadi posko kami di Desa Maccini Baji, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan
Captured 3:
Jelajah perdana menuju rumah kepala dusun setempat.
Captured 4:
Ah, benar! Separuh hatiku masih tertinggal di Makassar
Captured 2:
Rumah warga di Desa Maccini Baji
Captured 3
Captured 4
Singkatnya, aku sedang mengakrabi diri dengan hobi baru sebagai photographer. Yah, walaupun masih amatiran. Mengabadikan beberapa pemandangan yang teramat jarang kutemui dijantung kota. Benar-benar puas bisa melihat bentangan langit dan hamparan hijau merumput. Subhanallah... Untuk captured dan cerita lainnya, insya Allah menyusul. ^^
“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Mudahkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Mudahkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)
seperti hening yangberjarak
masing-masing kita berpaling
bukan pada zona ..si ..si
yang kadang membuat degup jantung bergelimpangan
tapi, menulis cerita baru di lembar-lembar kemilau kampus
sedianya aku, akan mengutip hikmah di setiap langkah -insya Allah-
(Beribu maaf, tuk jemari seseorang yang ter-captured >.<)
Sebab anak, sang Ibu
setia..
Melimpahi kesetiannya dalam
hikmah dan cinta padaNya
Sore yang lengang. Sambil menikmati
senja penuh gerimis, aku terduduk di depan TV. Awalnya sih, agak ngeh juga untuk menyimak tayangan
tersebut karena tidak mengikutinya dari awal. Seperti biasanya, aktivitas memindahi dari
satu tayangan ke tayangan lainnya. Tapi, saat mendengar satu kata “anak” yang
menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, sinyal rasa ingin tahuku pun meninggi,
kemudian mencoba memberikan perhatian penuh padanya.
Rupanya yang menjadi topik
pembicaraan itu adalah tentang gerakan
peduli lagu anak yang belakangan ini menjadi sebuah himbauan di kalangan
pemerhati pendidikan dan dunia anak. Selain Kak Seto dihadirkan di sana, adapula
beberapa pencipta lagu anak saat ini (meski masih kurang familiar menurutku), seorang
psikolog anak, dan beberapa komunitas giat cipta lagu anak yang dilibatkan
dalam diskusi ini.
Pada dua sesi yang kulihat, menghadirkan
pencipta lagu anak, memberikan kesannya bahwa hari ini, para orang tua patut merasa
dilema di saat anak-anak mereka tak lagi mengenal dekat lagu yang sepantasnya
dengan kehidupan mereka. Dimana lagu anak, katanya, berfungsi sebagai alat komunikasi
efektif, baik dari segi pelafalan dan pemaknaan yang menyertai di dalamnya
secara berulang-ulang. Dalam sumbangsihnya secara tak langsung memang untuk
memberikan kesan dan pesan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak dari lirik-lirik
lagu.
Ketika membahas kondisi anak zaman sekarang,
sepertinya era Joshua, Sherina, dan Tasya mungkin menjadi akhir dari episode
lagu anak-anak di saat aku SD dahulu. Saat ini, anak-anak begitu dekat dengan
lagu-lagu yang jauh dari usianya. Aku pun langsung teringat pada beberapa murid
privatku. Mereka dengan mudah menyanyikan beberapa lirik lagu yang sebenarnya tak
pantas diucapkan dan diperdengarkan, terlebih dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu
keong racun, dengan sangat lancar terlisankan dari seorang anak yang masih
berusia 4 tahun. Masya Allah, perasaanku langsung terhempas sangat kuat. Walaupun
apa yang ia nyanyikan sebenarnya tidak sepenuhnya dimengerti makna dari lagu
tersebut. Dan kasus ini ternyata bisa dialami di hampir seluruh orang yang
dekat dengan lingkungan anak.
Di satu sisi, aku bisa menanggapi keefektifitas
dalam memperkenalkan kosa kata mereka. Seperti, “Bun, keong itu apa?” Begitu pertanyaannya Iza pada bundanya setelah
menyanyikan lagu keong racun tersebut. Semisal yang tadinya anak tersebut tidak
mengenal kata “keong”, maka ini menjadi satu kesempatan bagi orang tua untuk semaksimal
mungkin memberikan penjelasan tersebut lebih ke ilmiah. Perasaanku yang sempat
terhempas tadi, bisa terkembalikan atas pertanyaan polosnya si Iza. Duh, si Iza-ku..
Dalam sesi selanjutnya, penuturan
dari beberapa komunitas giat cipta lagu anak menyisakan satu spirit yang menjadi
visi mereka. Mengembalikan keberadaan lagu anak untuk menjadi bagian dari
kehidupan anak semestinya. Dengan memfasilitasi secara cuma-cuma dengan hanya
men-download gratis dan menyebarluaskan.
Serta beragam usaha lainnya yang dikerahkan demi sebuah pengembalian tempat
semestinya.
Sebagai salah seorang yang insyaa Allah tak lepas dari dunia anak,
aku pun ingin memberangkatkan hal ini dari sisi positif. Ketika lagu anak pada topik
ini yang kiranya dianggap menjadi penyampai sesuatu hal positif, maka aku pun
ingin meminjam spirit tadi melebihi mereka. Agar bisa pula menumbuhkembangkan kecintaan
anak pada sesuatu yang mulai diabaikan banyak kalangan. Yaitu, Al Qur’an.
Al Qur’an, satu peralihan peran
secara verbal yang terbentuk dari kesempurnaan pelafalan huruf hijaiyyah yang
mewakili pelafalan alphabet dari berbagai negara. Mungkin, banyak orang yang
tidak tahu. Tapi, ini berdasarkan fakta secara langsung yang sering kita temui
di lapangan. Kemudian secara nonverbal terletak
pada isi dari Al Qur’an yang jika dipahami merupakan dari sebuah bacaan yang dilantunkan
dan pesan-pesan di dalamnya yang diamalkan.
Sebagaimana yang dikemukakan pada salah
seorang psikolog anak pada acara tersebut, bahwa aktivitas anak tak sekedar
berujung pada kognitif (knowledge) semata.
Melainkan ada afektif (attitude) dan psikomotorik
(skill) yang saling menunjang dalam
pertumbuhan anak. Hal tersebut, sangat mewakili dari apa yang ada pada Al Qur’an.
Sekalipun, aku bukanlah salah seorang hafizhah
(penghafal Al Qur’an). Dan untuk setiap orang yang memelihara lisannya dari
kalamNya, semoga Allah memberikan keberkahan atas penjagaannya terhadap Al Qur’an.
Terakhir, Sebab anak! ketahuilah, jiwa anak harus dibangkitkan dengan hal positif agar tetap bersemangat setiap menghadapi kehidupannya dan masa depannya. Memberikan sesuatu
yang positif akan menghasilkan yang positif bukan? Wallaahu a’laam..
*Disetiap tulisan selesai diketik, aku selalu tersendat pada judul. Karena mengantuk (check waktu post tulisan ini), Sebab Anak dibuat karena menonton hanya alasan kata "anak". Pantas? -semoga-
“Setiap kita yang masih menggenggam separuh, menikahlah! Karena
menikah itu mengutuhkan jiwa-jiwa terhadap cintaNya. Mengutuhkan hati yang
selalu menerbitkan kecenderungan. Dan karena setiap kita punya cerita tetap di
lauhul mahfudz.”
Ini sudah Document 7
setelah berkali-kali jari kelingking dan telunjuk kiriku secara serentak
menekan tuts ctrl+n pada Afkaar, my black lapty. Baru menulis
beberapa paragraf yang masih dalam uraian sementara, aku pun berpindah lagi
pada new blank document untuk
tulisan baru ini.
Hopeless. Kata ini selalu saja ingin menghinggapiku berkali-kali. Ya, setelah
berulang-ulang merevisi usulan penelitianku yang tersendat pada kerangka
teoritik di salah satu variabel. Dimana variabel tersebut akan menguatkan
penelitianku ke depannya, insya Allah. Sebab, sumber dari variabel tersebut masih
sangat minim. Berharap semoga bisa diupayakan goal di semester 8.
Sebenarnya hal yang kadang membuat perasaanku pasang surut dalam
merevisi penelitian ini adalah karena tanggapan dari beberapa orang yang
mengatakan bahwa memilih penelitian pada kategori non-PTK (bukan Penelitian Tindakan Kelas) cukup rumit dan tingkat keberhasilan
yang diragukan. Makanya, banyak teman-temanku bahkan dari tahun-tahun
sebelumnya yang sejurusanku memilih PTK dalam tugas akhirnya.
Berbeda dengan teman-teman yang mengambil PTK, menurutku non-PTK merupakan penelitian yang bisa memberikan
sumbangsih besar pada proses pembelajaran di SD secara umum. Karena non-PTK
memberikan keluwesan pada peneliti untuk mengambil garis besar yang terjadi
secara umum di sekolah-sekolah. Sedangkan PTK memiliki prinsip bahwa penindakan
terjadi di satu kelas tertentu karena satu permasalah yang dihubungkan dengan
satu model pembelajaran yang kemudian akan dikondisikan pada kelas yang mengalami
permasalahan. Dan permasalahan tersebut belum tentu akan terjadi pada kelas
lainnya.
Mengingat PTK hanya ditujukan kepada permasalahan yang terjadi oleh
siswa dan mengesampingkan persoalan guru dari teknik mengajar, maka memilih non-PTK menjadi suatu landasan utama yang
menarik bagiku. Membuat suatu inovasi yang dibutuhkan baik dari guru maupun siswa
secara keseluruhan: usefull, flexible, dan insya Allah terjangkau.
Adapun penelitianku terinspirasi dari sebuah konsep yang telah
ada di Jepang dan dituliskan pada salah satu komik Jepang yang bercerita
tentang kehidupan anak-anak 小学校(dibaca: Shougakko =Sekolah Dasar)di Jepang. Ia akan menjadi bagian
variabel independen dimana pada penerapan きぼう (dibaca: kibou yang artinya buku rapor) di Jepang
yang terkonsep dalam penilaian. Akan sangat menarik jika きぼうditerapkan dalam
aktivitas kelas di sekolah Indonesia.
Ide penelitian ini sebenarnya telah lama mengendap*. Terhitung dari
semester 4 di saat aku membaca komik tersebut yang kemudian aku benar-benar
ingin mengembangkannya untuk menjadi tugas akhir di semester 8 nanti, insya
Allah. Sebelumnya, aku memang sempat terpikirkan pada banyak hal. Salah satu
diantaranya ingin mendiagnosis kesulitan belajar dan bentuk pengajaran remedial
yang sering terjadi pada Nobita, salah satu pemeran utama kartun Doraemon. Namun
kendala ada pada dia yang berasal dari tokoh fiktif dan sistem pembelajaran SD
di Jepang sangat berbeda dengan pembelajaran di Indonesia.
Nah, teruntuk adik-adik di PGSD, sangat direkomendasikan untuk
memilih non-PTK agar bisa menjadi
orang yang lebih berkembang dalam situasi apapun. Intinya, bisa menghidupkan dan menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan tanpa keluar dari batasan kurikulum yang telah
ditetapkan. Walaupun kita tak bisa menutup mata bahwa PTK pun punya nilai
tersendiri dalam menindaki kelas-kelas yang memiliki masalah khusus. Soredewa, mata au hi made… (sampai
bertemu lagi…)
“Kadang kita menjadi manusia yang teramat sedih atas ke-GAGA-lan
yang sebenarnya adalah suatu kemungkaran. Tapi anehnya kita tak bisa menjadi manusia yang
paling bahagia ketika kebaikan dekat dengan kita.”
(Bianglala Basmah)
A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim..
Sungguh,
aku berlindung kepada Allah ta’ala dari
muara syaithan la’natullaah ‘alaih
yang sesering ia menembus celah manapun untuk mengalihkan kita dari orbit perjuangan Islam.
Ungkapan permulaan (ta'awudz) tadi bisa jadi sering kita ucapkan. Namun terkadang kita
luput mengiringinya dalam diri ini pada banyak aktifitas untuk mengenal lebih
dekat tentang apa-apa yang menjadi bagian dari seorang khalifah di muka bumi
ini.
Setelah pendeklamasian
atas pembatalan konser yang belakangan digaungkan di berbagai media, komentar
beruntun langsung bertebaran di mana-mana. Ya, pro-kontra meramaikan jejaring sosial lagi. Menyedihkan, ketika pihak pro menyayangkan
atas pembatalan tersebut kemudian menyudutkan pihak-pihak yang mengakibatkan di
antara alasan pemutusan pembatalan tersebut.
Seketika
itu pula, ada saja kekhawatiran yang terangsang dari status-status yang berjejalan
di jejaring sosial. Di satu sisi, kesyukuran berlimpah karena satu kebathilan yang akan menyapa negeri ini
bisa dihandle. Tapi, di sisi
selanjutnya, kita patut bersedih sedalam-dalamnya karena kecaman dari sebagian
kita, ya, mereka yang “belum siap” menerima keputusan atas pembatalan konser
tersebut.
Ada gerangan
apa negeri ini? Apakah sebagian kita, “si mereka” mulai di gugu GAGA dan
membenarkan pihak mereka tanpa mempertimbangkan segala sesuatu yang justru akan
membawa pada suatu kemudharatan yang lebih besar? Sebagian kita, boleh saja hanya memikirkan keuntungan,
kesenangan, dan kehedonisme masing-masing. Tapi, pernahkah sekali duakali mau memikirkan
kondisi negeri ini. Minimal generasi muda yang mulai melarut dalam hingar bingar yang tak jelas ujungnya. Mau di bawa kemana kami jika hal yang seperti ini
teramat sulit dipertegas? Memang, kita tak bisa menyalahi sepenuhnya kepada
mereka. Alasan mendasarnya, karena semua bermuara pada belum kuatnya pemahaman
dan kesadaran dari masing-masing. Dan semoga hidayah itu tersampaikan pada mereka.
Kelak, pertanyaan-pertanyaan
itu akan tetap menjadi sebuah “tanya” yang akan membawa kita untuk mengintrospeksi
masing-masing. Ketika suatu keberlangsungan dalam menyerukan kebaikan (dakwah) masih
akan terus berjalan hingga kehidupan Islami menjadi aturan sepanjang hembusan
nafas. Maka, mari memergoki apa yang telah kita perjuangkan untuk Islam selama
ini.
Hari ini,
begitu banyak orang Islam. Tapi, dari kebanyakan belum mampu untuk menerima
Islam secara baik. Hari ini, memang sudah banyak orang yang menerima Islam. Tapi,
belum semua mampu berkomitmen pada nilai Islam. Ya, sampai hari ini pun, ada
orang-orang yang bisa berkomitmen pada Islam. Tapi, belum sepenuhnya komitmen
itu digenggam dengan baik.
Rupanya,
keadaan ini yang akhirnya masih belum menyelesaikan tugas kita sebagai khalifah
di muka bumi ini. Dalam waktu yang sama, kemaksiatan terus saja berlari
sekencang mungkin hingga kebutuhan untuk menyerukan kebaikan (dakwah) pun
sedemikian besar. Wallaahu a'lam.
~Mari,
merapat untuk perjalanan panjang yang masih ada untuk kita..