31 Januari 2017

Perjumpaan pada Asma'

Posted by Basmah Thariq at 22.51.00
Baru menyadari, di rumah ini belum pernah menyinggahkan awal pertemuan saya dengan dou-A Hafizhah kami. Setelah beberapa hari lalu dapat kesempatan di salah satu grup Whatsapp untuk menceritakan awal perjumpaan dengan buah hati, maka kesempatan ini saya kemas kembali untuk mengisi kisah yang mungkin sudah terlampau jauh. Kali ini, cerita perjumpaan saya dengan seorang Asma’ yang Allah perkenankan kehadirannya di tengah keluarga kecil kami. Di kali pertama kami mendapat amanah sebagai abi dan ummi.

*

Terhitung kurang lebih empat tahun lalu, dua bulan setelah menikah, saya menemukan dua garis pertama di testpack di jelang Subuh kala itu. Mengingat masa datang bulan yang tak kunjung dan disertai tanda-tanda yang menggerakkan saya tuk meminta suami untuk dibelikan testpack. Berlanjut pada menjalani masa kehamilan yang ternyata tidak mudah. Karena baru merasakan kehamilan pertama, tentu tubuh masih memerlukan pengadaptasian.

Morningsickness, diiringi dengan mual muntah hebat yang rupanya berbilang bulanan. Kalau kata orang yang mengalami masa itu, mual muntah hanya ada di trimester pertama. Namun tidak dengan kondisi saya. Betapa jatuhnya berat badan saya kala itu, lemas, dan hampir dirawat di RS karena nafsu makan yang benar-benar hampir hilang. Mempertahankan apa yang sudah masuk itu p-e-r-j-u-a-n-g-a-n. Kalaulah proses ini harus saya tempuh, saya hanya berpinta agar dimudahkan pertemuan saya dan buah cinta kami di masa persalinan nanti, tentu sekehendakNya.

Hari demi hari terlalui, bulan demi bulan terlewati, tubuh ini mulai bisa beradaptasi. Menjalani kehamilan dengan status masih mahasiswi tingkat akhir, dan berusaha kuat meski dengan menemui kondisi hampir masih sama. Mual muntah di sepanjang hari. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.. Seluruh raga ini, termasuk janin dalam kandungan adalah kehendakNya. Hanya tawakkal kepada Allah untuk segala rasa yang dihadirkanNya untuk saya.

Hingga waktu yang telah ditetapkanNya, gelombang cinta bernama kontraksi memberikan tanda-tanda dari proses perjumpaan ini. Cukup menghujam perih sekitar perut bawah depan dan belakang. Mules-mules seolah hendak buang hajat yang di ujung tanduk, namun tak berarti ada. Berkali-kali ke kamar mandi hanya untuk memastikan rasa mules yang semakin menjadi, tetap saja tidak ada. Tidak pula ditemukan tanda lainnya semacam bercak atau merembesnya ketuban. Namun gelombang cinta itu datang dan pergi silih berganti. Hingga awalnya saya yang penasaran dengan gelombang tersebut terus menerus memilih jalan-jalan mengitari ruangan dan naik turun tangga. Berusaha melepaskan gelombang yang terus meronta-ronta. Hingga akhirnya saya tak lagi sanggup berdiri. Hanya membungkuk untuk mencoba menopang gelombang cinta yang datang dan pergi secara bergilir.

Suami memang sedang tidak sedang menemani saya lebih sepekan. Setelah sebelum menitipkan saya di rumah orangtua, saya memastikan kandungan di salah satu RSIA. Prediksi dokter spog kala itu HPL jatuh selepas lebaran idul fitri. Maka, melepas suami untuk memenuhi amalan 10 malam terakhir Ramadhan di masjid, sembari menitipkan setumpuk doa tuk di panjatkan.

Melihat saya menahan perih dengan terus membungkuk, oleh orangtua, saya dilarikan ke RSIA tempat saya rutin memeriksakan kandungan. Suami yang harusnya masih beri'tikaf di hari ke-28 Ramadhan kala itu, qadarullah, memutuskan keluar dari masjid selepas sahur untuk memantau kondisi saya.

Ahh ya, gelombang cinta.. Masih saja terus mendesak. Jelang Subuh, sesampai di tempat, Bidan yang saya temui memeriksa setelah meminta saya untuk –maaf- buang air kecil terlebih dahulu.  Bidan mengatakan sudah pembukaan 7 dan mengingatkan untuk menahan desakan dari gelombang cinta sampai pada pembukaan lengkap. Oleh bidan pula, dipecahkannya ketuban. Dan semakin terus mendesak gelombang ini, raga saya melemah. Hingga doa bertubi-tubi berucap di lisan.

Hadirnya suami ba’da Subuh, langsung mendekati saya disertai mengingatkan untuk terus berdzikir. Dan mengatur emosi dan energi saya yang teramat lelah tak berkesudahan. Semakin mendesak saja, sedang lemah dan letih sudah dipuncak. Maka suami menyempatkan tuk menyuapi sarikurma dan sesekali memberi minum air untuk bisa bertahan. Nafas saya terputus-putus. Tak sanggup melepas desakan itu dengan nafas panjang. Hingga berulang kali nafas yang tetap terputus, seolah lupa bagaimana cara buang hajat.

Sungguh, Maha Sempurna milik Allah.. Gelombang cinta itu mendesak-desak, kemudian memberikan jeda yang sesekali saya mengatur ulang nafas tuk melepas desakan itu. Tapi belumlah maksimal. Hingga ilmu tawakkal itu seolah menguji saya. Tawakkal 'alallaah.. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

Tentang proses kehamilan dan persalinan, hingga gelombang cinta itu, tetiba terbersit wajah mama, yang pernah berkali-kali berjuang untuk sebuah pertemuan ini.

Masih dengan lemas yang tak berkesudahan diselingi jeritan-jeritan saya yang memenuhi ruang. Di detik-detik jelang melepas desakan yang terus meronta, saya melihat suami yang meneteskan air mata. Meminta maaf sambil terus berdoa. Menggenggam tangan saya begitu erat. Seolah ia ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia punya pada saya.

melalui doanya,
melalui tawakkalnya,
melalui harapannya,
dan melalui cintanya..

Melihat ia menggenggam tangan saya, dan tangan satunya terus mengelus ubun-ubun saya, sebagaimana kali pertama, di 11 bulan lalu, ia menyentuh dan meniupkan segenap doa setelah akad diucap.

Atas izin Allah, desakan yang tak mampu dijangkau oleh kata, lepas juga tepat di pukul 07.14 WITA, setelah nafas panjang yang saya hempaskan. Sebentuk kepala menyembul sempurna, kemudian diraih oleh bidan dan saat itu pula gelombang itu hilang. Tak ada tangisan yang kami dengar. Tenaga medis sesekali menggosok tubuh mungil buah cinta kami. Tetap belum ada isakan tangis. Menurut tenaga medis, ada  ketuban yg tertelan. Sehingga diambilkannya alat untuk membantu mengeluarkan cairan ketuban tersebut. Hanya berselang dua-tiga menit, tangisan yg kami nantikan pecah. Didekapnya ia, untuk berlanjut proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Suami mengecup kening saya yang masih terbaring lemah, kemudian dikecup pula buah cinta kami yang masih dalam IMD sambil menikmati jahitan dari pergolakan tadi.

Kini gelombang cinta yang mendesak-desak saya kala itu, telah berusia 3 tahun 6 bulan. Perjuangan di awal hanyalah sebuah proses menemui perjuangan-perjuangan bersamamu di hari selanjutnya, nak.. 

Asma’ binti Armawi FadliAlhamdulillaah bini'matihii tatimmush shaalihat..


#OWOP2017
#OWOP1
#rumbelmenulisIIP
#IIPSulsel


1 comment

9 Februari 2017 10.50

ditunggu kisah perjumpaannya dengan aisyah dan yang satuny lagi (insya Allah).....

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea