11 November 2015

Oleh-Oleh Seminar Pendidikan Finansial Sejak Dini

Posted by Basmah Thariq at 22.55.00
Seminar murah yang tidak murahan ini di gagas oleh Smart Mom Community dengan pembicara Yuria Pratiwi Cleopatra alias the famous Teh Patra. Tempatnya di sebuah rumah yang homy di Jalan Layar 10 Arcamanik tanggal 7 November 2015.

Selain materinya menarik, saya juga sebenarnya penasaran sama si Teh Patra. Siapa sih beliau? Ternyata si ibu cantik adalah adik kelas saya di ITB. Ia jurusan Sipil angkatan 1996. Hebatnya dimana? Di anak-anaknya yang jumlahnya 4 orang itu! Teh Patra senang berbagi pengalamannya membesarkan ke-4 anaknya yang kini berusia 18 tahun, 14 tahun, 13 tahun dan 3,5 tahun. Ke-4 anak ini juga mendapatkan pendidikan Homeschooling dari orang tuanya.

Sempat heran juga, kenapa angkatan 1996 bisa punya anak umur 18 tahun? Lah saya angkatan 1993 anaknya baru 8 tahun. Dimana letak kesalahannya? Ternyata salahnya di tahun pernikahan. Ketika saya masih galau dengan tugas kuliah, Teh Patra sudah menikah di tingkat 1. Dengan orang seangkatan saya lagi. Ketika saya wisuda di ITB hanya dengan didampingi orang tua, Teh Patra wisuda dengan Pendamping Wisuda pasukan lengkap:  1 suami, 2 anak dan 1 bayi. Padahal kami sama-sama nyangkut di Ganesha 10 semester. Kelihatan kan bedanya? Jadi dalam urusan pengalaman ngurus anak dan keluarga, kudu lah kita berguru.

Dalam sharing selama 1 jam, ibu jebolan ‘jalur sutra’ SMP 5 – SMA 3 – ITB  ini berbagi pengalaman tentang bagaimana mempersiapkan anak mandiri dan cerdas secara finansial. Membuat anak cerdas finansial itu BUKAN semata-mata mengajarkan anak BERDAGANG. Catet ya! Tapi lebih ke arah mempersiapkan mental enterpreneurship anak.

Sekitar tahun 2011 Teh Patra dan suaminya sempat berjalan-jalan dan menemukan seorang penjual kue lupis dan putu yang enak. Tapi sayang pembelinya terbatas karena belum banyak yang tahu. Saat itu Teh Patra memiliki ide, yang kemudian dituangkan dalam bentuk proposal kepada suatu departemen untuk memfasilitasi si penjual makanan dan para pembeli dengan menggunakan jasa ojek pangkalan. Proposal itu ditolak. Ide pun tenggelam.

Dan di tahun 2015, muncul lah yang namanya Gojek. Idenya persis sama dengan ide Teh Patra. Tapi eksekusinya beda. Teh Patra hanya bisa ngelus dada, “Mungkin di situ bedanya lulusan Harvard dan ITB.”

Itulah mengapa mental enterpreneurship perlu di asah. Ide boleh sama, hasil bisa jadi sangat jauh berbeda ketika kecerdasan finansial dipahami sejak awal. Jangan sampai anak-anak kita hanya bisa mengelus dada dan menjadi penonton di masa depan ketika ide-ide briliannya dieksekusi oleh orang lain.

Anak adalah aset dan investasi masa depan. Coba renungkan, maukah teman-teman menukar anak tersayang -  yang sangat nyebelin ketika ngambek, dengan sebuah Lamborgini terbaru? Rasanya kalau masih waras, jawabannya tentu tidak.

Mandiri

Dalam Islam tidak ada itu istilah remaja. Tidak ada itu istilah remaja yang lagi puber, labil, dan sejenisnya. Islam hanya mengenal istilah anak baligh dan belum baligh. Anak yang sudah baligh adalah anak yang mandiri dan bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Semestinya kita tidak perlu mengenal anak usia baligh yang masih selalu minta dilayani, makan disiapkan, baju dicucikan, sekolah dianterin, uang dikasih, atau kemanjaan-kemanjaan yang tidak perlu lainnya.

Kemandirian adalah salah dasar penting dalam mengembangkan mental enterpreneurship. Berikut sejumlah dalil mengenai kemandirian dalam Islam:


“Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak, kemudian memanggul kayu bakar dan memikulnya di atas punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau di tolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. dan sesungguhnya Nabi Daud AS dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR Bukhari)

“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR Ibnu Majah)

Ada sebuah cerita dimana seorang anak yang telah dewasa dan berkeluarga namun ia masih diberikan segala kebutuhannya oleh ibunya. Jika merupakan uang si ibu pribadi, itu bisa dinilai sebagai sedekah. Jika merupakan uang keluarga, sedangkan si ayah tidak tahu apalagi merestui, itu bisa dikategorikan pencurian.

Tanamkan pada anak untuk tidak menjadi BEBAN SOSIAL  bagi orang lain. Tidak menjadi beban ibunya, tidak keluarga lainnya, apalagi masyarakat.

Masalahnya sering ada pada IBUNYA. Sebagai ibu, kita ini yang paling tidak tegaan sama anak. Terasa kan beratnya ketika mulai menyapih, membantu mereka belajar jalan atau makan, memenuhi permintaan mereka. Seorang ibu akan selalu punya kecenderungan untuk memberikan kenyamanan buat anaknya.

Ketika anak-anaknya kecil, Teh Patra tidak pernah membiasakan anaknya jajan. Ketika orang lain jajan, anaknya tetap tidak diberikan jajan. Sampai anaknya nangis-nangis juga nggak dikasih. Terkadang si nenek yang ikut lemah dan ingin memberikan.

Anak-anaknya protes, “Itu anak orang lain dikasih jajan kok.”

“Ya udah, kamu jadi anak orang lain aja,” kata si Umi.

Tapi sebagai gantinya, Teh Patra memberikan hal-hal yang anak lain tidak dapatkan untuk anak-anaknya, seperti buku atau barang-barang penting lainnya, sambil memberi penjelasan, “Umi nggak ngasih bukan karena nggak punya uang atau nggak sayang, tapi karena Umi ingin kamu dapat yang lebih baik.”

Ketika kita tidak melatih anak mandiri, “Yang repot itu ibunya.”

Anak-anak usia baligh itu semestinya sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak ada lagi ibunya jungkir balik melayani dan menyuapi anak-anaknya.

Pegang anak tertua, dan biasanya adik-adiknya akan mengikuti.

Mental enterpreneurship

Sekali lagi, kecerdasan finansial bukan sesederhana anak dikasih barang dagangan dan jualan. Tapi yang lebih penting lagi adalah melatih mental/karakter enterpreneurship anak seperti kejujuran, keramahan sosial, kemampuan bekerjasama, tidak egois, tanggung-jawab dan memikul konsekuensi, inovatif dan kreatif. Ada banyak nilai penting dari mental enterpreneurship.

Ok, sekarang kita bahas satu-satu ya.

Kejujuran

Anak itu cenderung tidak jujur karena merasa dirinya terancam.  Biasanya ketidakjujuran mulai terjadi pada usia 3 tahun keatas. Coba apresiasi anak yang jujur, jangan dimarahi. Biarkan anak nyaman bicara dan terbuka  dengan kita. Walau terkadang jujur itu menyebalkan. Terutama jika ia menyampaikan hal yang tidak penting kita ketahui. Gampang banget bikin darah kita naik.

Disamping itu, sebagai orang tua kita pun harus membiasakan jujur. Jujur pada diri sendiri yang utama. Ini yang susah kan ya. Jangan biasa mengancam dan membohongi anak.

“Nanti Mama belikan permen ya kalau nggak nakal.” Walau anak tidak menagih, kita harus amanah dengan janji kita. Jangan sampai anak merekam bahwa orang tuanya berbohong dengan menjanjikan sesuatu yang tidak ditepati.

Sopan dalam hubungan sosial

Terkadang dalam berdagang, transaksi dapat terjadi karena kita memiliki ketertarikan personal terhadap penjualnya. Penjual yang ramah lebih disukai daripada penjual yang jutek.

Kemampuan bersosialisasi dan ramah dengan orang lain bisa dilatih dari kecil. Terkadang ada anak-anak yang begitu pemalunya. Biasanya semakin parah jika diberi label oleh lingkungan sebagai “Pemalu” di keningnya. Anak akan lebih tertekan kalau ibunya mulai merasa terganggu dengan omongan orang. “Anakku tidak pintar”, “Anakku pemalu”, “Anakku nakal”, “Anakku pendek”. Ibunya stress anaknya yang jadi korban ikutan stress.

Bijaknya, orang tua bisa membantu anaknya untuk menyikapi labeling sosial itu. Buat anak nyaman dengan dirinya. Keluarkan potensi anak. Ajak anak bicara. Untuk anak yang masih kecil, bisa juga dengan cerita-cerita inspiratif atau bermain role model dengan boneka tangan.

Sportif

Dalam berbisnis kita perlu kemampuan untuk bisa bekerja sama. Tidak saling menjatuhkan dengan orang lain. Memang ada 2 cara untuk sukses. Cara pertama kita kerja keras, cara kedua adalah dengan menjatuhkan lawan.

Ini bisa dilatih dengan mengajarkan anak untuk tidak jadi pengadu. Anak-anak itu terkadang suka mengadu, dan merasa menang jika aduannya membuat orang lain jadi dimarahi. Jika ketemu kasus seperti ini, coba si pengadu ditegur terlebih dulu. Disampaikan bahwa ia tidak seharusnya mengadu, tapi malah harus mengingatkan saudara atau temannya terlebih dulu.
Kita perlu mengajarkan anak untuk bisa kompak dan bukannya saling menjatuhkan satu sama lain.

Belajar tidak berhutang

Ajarkan ke anak, jangan beli sesuatu jika kamu tidak punya uangnya. Tapi mungkin susah ya kalau orang tuanya masih punya hobi berhutang.

Profesional

Latih anak untuk menjadi profesional di bidangnya dan mengeluarkan potensi terbaiknya. Jangan terlalu mudah memanjakan anak dengan pujian.

Tanggung jawab dan konsekuensi

Pada suatu hari anak Teh Patra menelpon, “Umi, tolong jemput di depan kompleks dong”
“Emang kenapa?”
“Saya nggak punya uang untuk naik angkot?”
“Emang uangmu kemana?”
“Tadi dikasihkan ke orang yang butuh”
“Kenapa dikasihkan semua? Kenapa tidak disisakan sebagian untuk ongkos kamu pulang?”
“Nggak kepikiran Umi”
“Ya udah, kalau begitu kamu harus bisa menanggung konsekuensinya. Ketika kamu berbuat baik, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Jangan jadi Umi yang ketempuhan suruh jemput kamu. Kalau begitu yang berbuat baik bukan kamu, tapi Umi.”

Anak sejak dini harus belajar dengan yang namanya konsekuensi dan tanggung jawab dari apa yang dia kerjakan. Bukan melimpahkannya kepada orang lain. Anak harus tahu konsekuensi logis dan sosial dari perbuatan yang dilakuannya.

Tidak menaruh mainan ditempatnya – rumah berantakan, mainan susah dicari.
Banyak makan permen atau jajanan tidak bergizi  – gigi sakit, badan tidak sehat.

Pada anak kecil, hal seperti ini perlu dilakukan berulang-ulang. Menurut Ibu Elly Risman perlu perulangan  ribuan kali biar nyantol di otak anak. Jadi jangan bosen mengulang-ulang.

Pada anak yang sudah besar, ia harus mulai belajar konsekuensi dari kemandirian.
Tidak mau mempersiapkan makan – tidak makan.
Tidak mau mencuci pakaian – tidak ada pakaian bersih.
Tidak cari uang – tidak punya uang.

Usahakan anak dari kecil tidak dibiasakan dengan mendapatkan apa-apa dengan mudah. Sejak bayi sudah di manja pakai barang branded, padahal mengerti pun tidak.

Orang tua berkewajiban memenuhi KEBUTUHAN, sedangkan KEINGINAN anak harus diusahakan sendiri oleh si anak.

Kewajiban orang tua harus segera diberikan kepada anak, jangan menunggu anak sampai meminta-minta. Beri teladan anak untuk menyegerakan kewajiban.

Reward uang bisa diberikan oleh orang tua kepada anak untuk pekerjaan yang orang tua biasa membayar orang lain. Misalnya daripada membayar daycare, bisa diganti dengan membayar si kakak untuk jaga adiknya. Atau bayar anak untuk bantu membersihkan rumah dan cuci mobil. Untuk hal-hal yang sifatnya kewajiban anak, tidak perlu dibayar. Disinilah perlunya rapat keluarga untuk membahas apa yang menjadi kewajiban setiap anggota keluarga.

Kita juga perlu mengajarkan anak untuk realistis. Bukan berarti mematahkan semangat anak tapi mengajarkan anak realitas yang mereka perlu persiapkan.

Ketika anak tertuanya menyampaikan ingin belajar ke AS, Teh patra hanya bilang:
“Kuliah disana mahal, uang Umi tidak sampai segitu. Sekolah di Eropa lebih murah.”

Dengan demikian anak jadi bisa lebih kreatif dengan berusaha mencari beasiswa dan kemungkinan pendanaan lainnya. Orang-orang yang survive dalam keterbatasan biasanya lebih sukses dalam hidup dibanding orang yang biasa hanya disuapi oleh orang tuanya.

Praktek berjualan

Kapankah anak siap melakukan transaksi keuangan? Ketika anak itu mengerti dan paham akan uang dan barang. Jangan memaksakan anak yang ngomongnya saja masih belum jelas untuk bertransaksi di warung misalnya. Kan kasihan penjualnya.

Dalam berjualan, anak harus mengenal  dan memahami konsep keuangan seperti modal, biaya produksi dan keuntungan. Jadi tidak ada cerita anak dagang, barang habis uang tak ada.

Konsep balik modal ini perlu ditanamkan. Misalnya ketika anak minta les berenang. Ia harus mengerti bahwa les berenang itu ada biayanya, dan biaya itu harus bisa kembali. Bisa dengan mengajarkan adik-adiknya atau lainnya. Setiap keahlian yang didapat harus bisa menjadi produktif. Jadi tidak ada cerita 2 kali ikut sudah bosen. Harus ada komitmen yang jelas, jika tidak bisa saja uangnya diminta kembali. Segala sesuatu harus dikerjakan sampai tuntas. Jangan setengah-setengah.

Orang tua bisa segera memfasilitasi minat anaknya. Jangan dibiarkan momennya lewat. Misalnya anak tertarik dengan menggambar atau berenang, maka bantu anak mencari orang-orang untuk mengembangkan ilmu itu. Bisa dengan mencari teladan dan kisah sukses orang lain, memfasilitasi les, games, outing atau magang.

Apakah jiwa bisnis hanya bisa diturunkan oleh orang tua yang berbisnis? Bagaimana kalau orang tuanya Dosen, PNS, dan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan dagang?

Untuk kesekian kalinya, jiwa enterpreneurship itu bukan hanya urusan dagang. Melainkan ke arah membuat sesuatu memiliki nilai lebih dan bermanfaat bagi banyak orang. Dosen yang tidak memiliki jiwa enterpreneurship bisa jadi hanya makan uang gaji saja, tapi dosen dengan jiwa enterpreneruship bisa mengoptimalkan ilmunya dengan membuat seminar dan mengamalkan ilmunya dengan cara yang lebih kreatif.

Demikianlah sedikit oleh-oleh dari pertemuan seru hari ini. Terima kasih sekali kepada Teh Patra yang sudah membuka wawasan saya mengenai sejumlah hal. Termasuk juga terima kasih banyak atas tumpangannya seusai acara sehingga memungkinkan obrolan-obrolan lanjutan yang seru sepanjang perjalanan.  


Semoga bermanfaat buat teman-teman semua.

sumber dari blog Shanty Belajar Menulis
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea