25 Juni 2010

PilihanNya yang Terbaik

Posted by Basmah Thariq at 10.27.00

Beberapa waktu lalu, di suatu siang kembali aku bertandang di rumah seorang saudari yang telah Allah pertemukan di awal kisah kehidupan putih abu-abu. Pertemuan-pertemuan yang pernah digelar dalam rangkaian episode mungkin sesekali akan kuuraikan menjadi kisah.

Dan seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, seolah kami tak pernah kehabisan cerita. Obrolah seputar ekskul yang sama-sama kami geluti saat itu, dakwah, kuliah, kehidupan lainnya hingga menyerempet tentang separuh dien. Ehem, mungkin aku merasa ada warna yang berbeda pada perjumpaan akhir-akhir ini. Selain pemikiran yang mulai dimatangkan (?) atau entahlah, sejujurnya saya masih bungkam seribu bahasa untuk membahas tentang ini.

Tapi, inilah hidup. Akan ada masa yang tengah kita nantikan yang sudah menjadi fitrahnya manusia. Dan aku tak mampu untuk menepis hal tersebut. Mencoba mengajari diri bahwa setiap kehidupan kita akan menjumpai rangkaian hidup yang berbeda. Dan kali ini mungkin adalah babak awal untuk pengenalannya.

Saya percaya, bahwa setiap langkah yang diayunkan merupakan sebuah kisah baru yang siap menoreh sejarah hidup. Belajar untuk melakukan sesuatu yang disanggupi tatkala memijakkan kaki. Tak lupa untuk selalu menghargai setiap langkah kecil yang mengantar maju dan mencoba menemukan jalan yang tepat. Walaupun tak bisa menampik akan ada bebatuan, duri-duri, terjal yang perlu ditanjaki dalam perjalanan. Ditambah dengan perjalanan yang berliku-liku nan jauh dan panjang. Mungkin kita akan berharap mencari jalan pintas. Tapi, Allah kembali menyadarkan bahwa biarlah perjalanan hidup mengalir semestinya, agar diresapi oleh siapapun ia yang melakoni di dalamnya.

Lalu, saat separuh dien ini tengah menyeruak, membiarkan pemikiran dewasa kami terurai begitu saja. Jika memang ia telah tiba, maka Allah akan mengantarnya pada diri-diri kita. Tak perlu khawatir akan pilihanNya. Yang terpenting, kita berikhtiar menjadi manusia yang baik sesuai dalam koridor Islam dan diridhaiNya. Itu lebih dari cukup. Adalah benar janjiNya bahwa seseorang yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik. Pada label akhwat yang disematkan, saya sering mengukur diri, apakah saya sudah menjadi perempuan baik yang layak mendapatkan lelaki baik sebagai pasangan hidup? Terkadang kita mungkin mengatakan ini, “Tidak adil! Mengapa karena saya tidak sholeh/sholehah lalu tak bisa dan tak pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik?” Sebaliknya, seharusnya kita juga mempertanyakan ini pada diri, “Adilkah untuk dia, seseorang yang sholeh/sholehah itu berpasangan dengan kita yang hanya punya sedikit taqwa?”

Berusaha untuk menepis pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab terkadang kita terlalu egois mempertanyakan kebenaran janji Allah, tetapi kita lupa akan hal-hal yang sering kali luput dalam pandangan manusia. Sebab, Allah jauh lebih mampu menakar pasangan seseorang dibanding kita yang tak punya hak atas pilihanNya. Jika kita memandang itu tak sebanding, tapi boleh jadi sesungguhnya benar-benar setara nilainya di hadapan Allah, sehingga tidak ada yang meleset dari janjiNya.

Maka, saya hanya mampu meminta ini padaNya, “Allah, pilihkan seseorang yang baik menurutMu, seseorang yang baik untuk agamaku,dakwah, hidup, dan keluargaku.” Saya hanya mampu meminta itu, karena saya tidak punya keberanian untuk meminta lebih, karena saya memungut taqwa dengan segala keterbatasan dan kesederhaan kemampuan yang saya punya."

1 comment

18 Juli 2010 16.11

T.T
sungguh kuterharu...
sangat menohok dengan kata
"pantaskah diri ini?"

Posting Komentar
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea