Tampilkan postingan dengan label rumbelmenulisIIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumbelmenulisIIP. Tampilkan semua postingan

31 Maret 2018

Episode Hujan

Posted by bianglalabasmah at 3/31/2018 09:28:00 PM 0 comments

#01 Merindukan Hujan
Dua belas tahun meninggalkan kota kelahiran, tapi hujan di masa itu tetap terekam jelas dalam ingatan. Bagaimana hujan di masanya, selalu dinantikan bahkan menjadi keinginan untuk selalu hadir di setiap harapan itu. Bukan saja bagian dari sebab membawa rahmat dan terpanjatkannya doa-doa di antara rinainya. Melainkan, hujan di masa itu hanya datang sesekali dalam setahun. Hujan yang datangnya mengundang kebahagiaan oleh kebanyakan penduduk di sana. Rela keluar rumah hanya untuk bersentuhan langsung dengan butiran-butiran hujan. Membasahi diri sebagai pelepas rindu yang lama tak kunjung.


#02 Hujan Menjadi Pengingat
Beberapa bulan lalu, saya melihat di sebuah unggahan insta story teman saya yang memang masih menempati kota kelahiran saya. Potret kota yang selalu saya rindukan itu sedang dalam genangan air di mana-mana. Rupanya, hujan lebat telah mengguyur kota tersebut. Dan hanya dalam hitungan jam, bisa melumpuhkan aktifitas kota. Mobil, rumah, beserta gedung lainnya terlihat seperti dalam rendaman air.

Beberapa wilayah yang masih saya kenali pun terendam banjir. Qadarullaah wa maa syaafa'al. Lagi-lagi mengingatkan kita, pembangunan gedung yang begitu melejit bisa berakibat fatal. Sesekali mendengar dzikrullah, dari suara perekam yang sempat mengabadikannya via sosmednya. "Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.." Ujarnya berulang kali. Hujan bisa menjadi pengingat atas keangkuhan kita sebagai manusia. Berlomba mendesain kemegahan pada dunia, rupanya apalah daya kita sebagai hamba di mata Allah. Menghalau air yang kadang kita anggap tak seberapa justru membuat kita terpaku akan kejadian banjir ini.

#03 Suka Hujan
Kali pertama menjejakkan kaki di kota Anging Mammiri yang paling berkesan adalah musim hujan. Saat di mana hujan pertama kali, saya tetap di tempat, sebuah tempat terbuka dengan sengaja membasahi diri. Sedangkan teman-teman saya begitu panik dan bersegera mencari tempat berteduh. "Basmah, hujan. Nanti basah.." Panggil seorang teman saya dari kejauhan di tempat berteduh.

Saya: "Gak papa. Sengaja hujan-hujanan, Seru lagi. Hahaha" (Terlihat kan betapa kampungannya saya)
Teman: "Ooohh, karena di sana padang pasir ya?"
Saya: "Hahaha.. Kesannya padang pasir semua. Tapi emang lebih sering hujan debu."
Teman: (Setengah kaget)"Haah? Gimana ceritanya kalo hujan debu?" 
Episode Hujan
Saya: "Hujan debu. Debu yang berterbangan di tiup angin kencang."
Teman: "Jadi?" (Penasaran)
Saya: "Ya jadi hujan debu. Masa' hujan air."
Teman: "Eh, serius...?" (Masih penasaran)
Saya: "Jadi, saya suka hujan air pokoknya. Titik."
Teman: "Kalo hujan debu?"
Saya: "Bikin sakit mata soalnya. Gak bisa liat jarak jauh karena tertutup. Mirip kayak kabut. Lebih seru hujan air pokoknya."

#04 Genangan. Bukan di Kenangan ya!
Pernah berlari dan terjatuh di antara genangan air hujan itu s-e-s-u-a-t-u sekali, masyaa Allah. Sukses membuat pakaian putih abu-abu saya basah kuyup bercampur tanah. Padahal masih di sekolah dan baru saja hendak beranjak pulang. Teman-teman yang melihatnya pun antara miris dan bahagia. Miris karena pakaian saya kotor, bahagia karena saya kalah telak dari pengejaran. "Ciee... Cieee.. ada yang terjatuh dalam kenangan." Bully seorang teman saya dari kejauhan saat melihat saya masih berusaha membersihkan noda di pakaian seragam saya.

"Hei, Genangan. Genangan.." Koreksi teman saya yang lain. 
Saya hanya menatap heran teman saya, sambil berusaha tertawa. Padahal berusaha menyembunyikan rasa malu yang berlipat-lipat akibat terjatuh di kenangan, eh genangan air. Hiks.

#05 Gerimis Romantis
Gerimis. Rimanya selalu terasa romantis. (Ehem!) Maklum, kami baru benar-benar mengenal satu sama lainnya setelah menikah. Tepatnya, ta'aruf setelah menikah. Maka hati saya akan terus menerus berdesir ketika melihat sikap suami yang begitu teramat manis masyaa Allah di hadapan saya. Seperti membaca cerita romantis di kisah 'entah dimanaa' tapi saya menemukan di buku kehidupan bersamanya, alhamdulillaah. Termasuk saat beliau memayungi saya ketika sedang hujan. Padahal saya senang dengan kehadiran hujan dan kondisi saya kehujanan. Tapi, beliau seringnya memegang erat saya demi bisa memayungi tubuh saya agar terhindar hujan. "Biar romantis sepayung berdua. Sambil memperbanyak doa untuk segala harapan kita." Bisiknya di tengah derasnya hujan. Setelah hadirnya anak-anak? Ya, beliau masih seperti pertama kali memayungi saya kok. Bedanya, suami sudah mengamankan anak-anak terlebih dahulu ke mobil misalnya. Agar tidak terlalu basah kuyup. Semoga kita sehidup sesurga ya, kak!

#06 Doa di Kala Hujan
Selain memperkenalkan doa ketika dan setelah hujan, ada beberapa doa yang biasa saya dan suami talqinkan kepada anak-anak. Doa yang berkaitan tentang penguatan dan keistiqamahan pada iman. Doa agar selalu menunaikan shalat sepanjang hidup. Doa kedua orang tua, doa keselamatan dunia akhirat, sampai doa-doa lainnya. Alhamdulillah, doa-doa yang sering kami talqinkan kini menjadi sederet doa yang selalu di lafazhkan ketika hujan. Bak senandung, ada banyak harapan dan pintayang segera di langitkan di kala hujan. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita ya, anak-anak hafizhah.

Namun, belakangan ini, tanpa talqin, doa-doa itu jadi bertambah dengan keinginan dari banyak pihak yang membuat saya kesengsem sendiri memerhatikan doa putri pertama kami.

"Ya Allah, Nanti Asma' mau Ummi hamil lagi. Supaya Asma' punya adek laki-laki. Namanya Abdullah. Biar kayak anaknya Abu Bakar" Pinta Asma' khusyuk.

"Ya Allah, 'Aisyah duda (juga)." Doa yang singkat tapi padat oleh 'Aisyah putri kedua kami.

Yah, segala doa bermuara pada kebaikan, Ummi hanya bisa mengamini, putri hafizhah.
[ Read More ]

5 Januari 2018

Pengganti Ahfazhii

Posted by bianglalabasmah at 1/05/2018 04:26:00 PM 4 comments
Ahfazhii, sebutan nama yang saya sandingkan untuk ponsel saya di beberapa tahun belakangan ini. Meski ini bukan ponsel pertama saya. Namun ia cukup lama membersamai di kehidupan jauh sebelum bertemu penggenap separuh dien saya. 
 
My Ahfazhii
Ahfazhii, ponsel yang telah hadir sejak zaman saya kuliah tahun ketiga, menikah, dan kala itu masih berlanjut kuliah hingga lulus di tahun ke7. Di antaranya telah hadir duo-A hafizhah, Asma'Aisyah, kemudian tahun berikutnya disusul Afra' putri hafizhah yang ke3 kami hadir dan rupanya saya masih setia dengan ponsel ini.

Belum mau beralih kemana pun apalagi mengganti posisi ponsel ini yang kusebut ia si Ahfazhii. Meski selalu dapat tawaran dan bujukan oleh suami yang merasa kasihan melihat usaha saya setiap kali menghidupkan Ahfazhii dari tidurnya.

"Hapenya udah mau diganti.." Begitu kata Suami ketika melihat saya yang tengah berupaya menghidupkan Ahfazhii dari pingsannya. 

"Masih bisa kok, kak.." Jawab saya sambil menusuk tombol power dengan jarum pentul. "Alhamdulillaah, ini udah nyala lagi." Ujar saya dengan sumringah. Seperti biasa, saya pun mengelus-ngelus layarnya yang mulai tampak dua garis mirip testpack. Hahaha...

Saya mempertahankannya pun juga karena banyak alasan. Di antaranya, tahan banting. Masyaa Allah, Ahfazhii ini kategori ponsel yang super tahan banting di mana-mana. Meski efeknya jadi suka tetiba pingsan sesaat, siuman kemudian tanpa ditekan tombol powernya. Selain itu, saya jadi gak terlalu nempel dengan ponsel ini bila sedang bersama 3A hafizhah kami. Apalagi kalo lagi kemana-mana, ponsel ini berasa hilang ditelan tas. Nyaris tak berkutik kecuali ingin menghubungi suami atau ada panggilan masuk.

Kembali ke Ahfazhii, si ponsel hitam manis nan cetarrrr tahan bantingnya masyaa Allah. Secara keseluruhan, aplikasi ponsel selalu meng-upgrade-kan diri secara otomatis (bila terhubung internet). Sampai pada satu hari, dimana salah satu aplikasi yang saya gandrungi qadarullah tak sanggup digunakan di ponsel saya yang menua alias jadul. Sedang ponsel saya tak lagi sanggup menempa laju OS yang semakin meningkat begitu pesat. 

Awalnya saya berusaha legowo meng-eliminasi satu per satu aplikasi yang saya anggap membebani ponsel yang imut ini, masya Allah demi menjaga eksistensi satu aplikasi tsb..  Mengingat ia teramat memberikan banyak faedah ilmu secara online masyaa Allah.

Hari pun berlalu tanpa si satu aplikasi tsb. Hidup jauh lebih terasa tanpa ponsel, sejatinya. Membersamai 3A hafizhah yang mulai banyak membutuhkan perhatian. Maka pengadaan 'gadget time' saya lakukan ketika anak sedang tidur. Namun tetap ada yang kurang tanpa satu aplikasi tsb. Dengan banyak pertimbangan dan meminta kepada Allah untuk meyakinkan akan keputusan selanjutnya.

Beberapa waktu kemudian.

"Ciee.. yang hape baru. Alhamdulillaah.." Ledek suami atas pengganti Ahfazhii yang membuat beberapa kali saya khilaf. Menekuninya di hadapan anak.
Ledekan suami seperti sebuah teguran keras bagi saya. Maklum, hape canggih sedikit membius saya dengan aplikasi yang lebih up to date. Banyak hal yang baru saya ketahui setelah menimang pengganti Ahfazhii ini.

"Kak, bawa saja hape ini.. Nanti saya pakainya kalo malam saja." Saya pun menyerahkan si pengganti Ahfazhii ke suami mengingat layar ponsel suami retak yang mengganggu layar sentuh ponselnya secara otomatis.

"Nanti mau kumpul tugas sama balas chat teman ta' gimana?" Tanya suami.
"Gak papa. Balasnya bisa malam in syaa Allah. Supaya saya bisa fokus sama anak-anak. Kita' yang lebih butuh."

Beliau pun terdiam dan menuruti keinginan saya. Qadarullaah, setelah saya mengganti Ahfazhii, rupanya suami pun menghadapi kondisi ponselnya yang jauh lebih mengenaskan. Bisa saja beliau menggantinya. Namun mungkin cara ini yang ingin Allah tunjukkan agar kami berbenah. Dan  agar tidak ber-gadget terutama di hadapan tiga putri kami.

Pengganti Ahfazhii sesungguhnya adalah mereka, anak-anak yang tengah menekuni kehidupannya masing-masing. Pada sisi kehidupan mereka ada fitrah yang sejatinya perlu dihadirkan dan ditumbuhkan.

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat

[ Read More ]

13 September 2017

Mengenal Gaya Belajar Anak

Posted by bianglalabasmah at 9/13/2017 09:40:00 PM 0 comments
Bismillah.. Memiliki tiga putri di usia di bawah lima tahun, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk mengenali karakter dari masing-masingnya. Sehingga banyak hal yang memang biasa saya dan suami lakukan dan perhatikan terutama pada putri pertama dan kedua yang sedang aktif-aktifnya bergerak, bertanya, melihat sekitar, dan merasakan apa-apa yang terjadi antara dirinya.

Maka kata belajar bukan hanya terbatas pada kegiatan belajar di sekolah. Setiap anak kita punya kesempatan dalam menunjukkan rasa ingin tahuannya. Terbukti berbagai eksplorasi yang anak-anak tunjukkan melalui gerakan tubuh yang notabene tidak bisa diam.

Keterkaitan pada anak, mengenali gaya belajarnya supaya dapat membantu mereka belajar dan memahami suatu informasi dengan lebih efektif. Biasanya, gaya belajar anak mulai terlihat jelas dan konsisten pada usia di atas 3 tahun. Pada saat itu anak mulai menunjukkan cara belajarnya yang efektif karena rentang perhatiannya sudah berkembang cukup baik dan fungsi-fungsi penunjang belajar lainnya, seperti kemampuan motorik dan postur tubuh, juga sudah berkembang siap untuk mengolah informasi. Orangtua dapat mengamati dari kegiatan anak sehari-hari, terutama bagaimana anak menerima informasi baru, mengingat, dan memahaminya. 

Pada putri pertama kami, Asma', dengan usia 4 tahun 1 bulan kini menunjukkan satu gaya belajar yang dominan, meski tanpa mengurangi kesempatannya belajar dengan gaya belajar lainnya. Berdasarkan dari keseharian Asma', ia menunjukkan kemampuan dalam menghafal dan mengulang apa yang ia dengar, masyaa Allah. 

Pada kesempatan yang sama pula, kami sebagai orang tua berusaha menyampaikan kata-kata positif, memperkenalkan doa sehari-hari, bacaan surah-surah dalam Al Qur'an. Hal tersebut sangat efektif bagi Asma' dalam mempelajari sesuatu walau belum bisa membaca. 

Begitu pula pada 'Aisyah, di usia belum genap 3 tahun, ia pun mulai menunjukkan gaya belajar dominannya pada motorik kasar. Tampak aktif dan cekatan melalui cara berjalan, makan, meraih sesuatu, yang masyaa Allah kadang diluar dugaan kami. Namun, ia pun ada kecenderungan menyerap apa-apa yang ia dengar dengan jelas. Tak jauh beda dengan kakaknya, Asma', ia pun mulai menunjukkan kemampuan mengulang bacaan doa sehari-hari, bacaan surah-surah dalam AL Qur'an, dan apa-apa yang kami sampaikan.
 
Dari kedua putri kami inilah in syaa Allah akan saya jabarkan pada tulisan selanjutnya secara detail mengenai gaya belajarnya. Kami pun tak ingin mendominasi dari fitrah mereka, sejatinya. Tentunya sebagai orang tua hanya memfasilitasi dan mengarahkan dalam mengenali gaya belajarnya dan menerapkannya sebagai bekal ke depannya, in syaa Allah.

#BasmahThariq
#Day1
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP


[ Read More ]

15 Agustus 2017

Sekilas Kurikulum Kami

Posted by bianglalabasmah at 8/15/2017 10:58:00 PM 0 comments
Bismillah…

Dapat tugas Family Project itu seperti mendapatkan peta harta karun di dalam rumah. Tentunya untuk mendapatkan harta karun, terlebih dahulu dirumuskan secara bersama-sama dalam satu team dengan beberapa strategi agar pencapaian harta karun bisa lebih maksimal dalam hal efektif dan efesien.


Lembaran Kurikulum
Seperti halnya harta karun tersebut, saya dan suami tengah merampungkan kurikulum untuk ketiga putri kami di Rumah Belajar Rabbani (mengenai nama belum fixed ya..). 

Pada tahapan perumusan tentunya berawal dari keinginan kami yang memutuskan konsep pendidikan menjadi tanggung jawab orangtua sepenuhnya. Sehingga kurikulum ini pun kami adakan agar aktivitas ketiga putri kami lebih terarah dan fokus pada proses dan progress.

Tersadar merasa tertinggal itu ketika putri pertama kami, Asma' yang telah berusia 4 tahun dengan potensi menyerap apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan begitu pesat, maka kami tak ingin menyia-nyiakan kesempatan  di masa 'golden age'nya untuk bergerak menjadwalkan hafalan Al Qur'annya. Meski harus melewati banyak hal, namun alhamdulillah, ia mulai menunjukkan sikap antusias pada banyak hal. Meminta ingin menulis, ingin membaca, ingin menggambar, dan sejuta keinginan yang in syaa Allah kami tampung dan sambut dalam kurikulum Rumah Belajar kami. Tak hanya itu, kurikulum ini in syaa Allah tetap berbasis fitrah anak yang satu di antarnya terdapat fitrah iman.

Adapun kurikulum ini disesuaikan dengan usia ketiga putri kami yang masih di bawah 7 tahun. Sifatnya lebih flexible alias tidak kaku harus ini dan itu mengingat aktivitas ini melibatkandan anak, maka sesuatunya diupayakan dalam terkondisikan. Tetap mengacu kepada Al Qur'an dan Sunnah melalui men-talqin bacaan Al Qur'an, membacakan doa pada aktivitas amal yaumi (keseharian), dan membacakan sirah nabawiyah. 

Sebagai orangtua, kami adalah rule model utama tentunya bagi anak-anak, kemudian menjadi pembimbing, pendamping, fasilitator, yang semoga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak dalam ketaatan, kebaikan, dan perkembangannya. Belajar melalui kesadaran dan keinginan secara utuh pada anak dengan menumbuhkan fitrahnya.

Terakhir yang menjadi setiap pengiring aktivitas dalam menjalani kurikulum ini adalah memohon pertolongan Allah Ta'ala di setiap kelas kehidupan kami yang membersamai anak untuk menjadikan kelak mereka generasi yang Rabbani, in syaa Allah.

(Mohon maaf, kurikulum belum bisa saya lampirkan karena belum dapat izin dari Kepala Sekolah dalam hal ini adalah suami.)


#BasmahThariq
#Day1
#Tantangan10Hari
#Level3
#KuliahBunsayIip
#FamilyProject

[ Read More ]

27 Juli 2017

Mengenal Kalimat Thayyibah

Posted by bianglalabasmah at 7/27/2017 10:31:00 PM 0 comments
Asma' dan 'Aisyah
Untuk membentuk karakter memang dibutuhkan keteladanan. Anak bak sponge, menyerap di sekitarnya terhadap apa saja yang ia lihat. Maka ada hal yang memang perlu kami biasakan sejak dini, kalimat thayyibah (kalimat baik) di setiap apa-apa yang akan-sedang-setelah dilakukan.

“Afwan ummi..” Kata ‘Aisyah sambil memeluk saya yang tengah membantu memakaikan celana setelah membersihkan ‘Aisyah yang qadarullah, ‘kebobolan’ pup di celana.
“Minta tolong Abi, ambilkan Asma’ minum..”
“Tabe’ (permisi) Ummi, Asma’ mau lewat..”
“Syukran Abi, jazakallaahu khaer..”
“Syukran Ummi, jazakallaahu khaer..”
 "Afwan nak, Ummi salah.." Saya pun selalu berusaha mengakui kesalahan dengan meminta maaf.

Terima kasih, maaf, dan tolong adalah kata-kata yang memberi efek positif. Tentunya berlaku dari orangtua, antar pasangan, keluarga, dan anak. Tak sebatas itu, pujian atau sesuatu yang kita anggap buruk sekalipun tetap berucap kembali kepada siapa yang mencipta.

Subhanaallah
Allaahu Akbar
Innaalillaah
Astaghfirullah
Masyaa Allaah
Insyaa Allah
dll *emak-emak gitu, suka lelah ngetik*

Usia anak 0-6 tahun memiliki kecenderungan melihat apa yang orangtua lakukan, bukan apa yang orangtua katakan. Jangan heran bila tiba-tiba perilaku kita seperti terpantul ke tingkah anak-anak. Bahkan dari cara berbicara, bersikap atau kebiasaan kita begitu mudah ditiru dengan baik oleh anak. Tak jarang pula orangtua seringnya khilaf dan luput atas tindak tanduknya. Astaghfirullaah…

Mulai dari lisan sampai pada perbuatan orangtua bisa mudah di-copy paste oleh anak. Kerap kali saya dan suami memerhatikan gaya dan cara bicara Asma’ dan (sekarang) ‘Aisyah yang arahnya kemana. Termasuk tindak tanduk mereka seperti siapa. Rasa-rasanya malu sendiri ketika yang di-copy paste itu yang tidak mengenakkan mata dan hati. Langsung ada sesal beruntun dan memperbanyak istighfar atas sikap sendiri.

Untuk menjadikan anak shalih atau shalihah memang tidak instant. Tidak pula dengan memasukkan pada sekolah bergengsi, kalau kata Ibu Elly Risman ke sekolah berlabel AL-AL agar akhlaqnya bisa seperti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka, bekal teladan memang jadi tanggung jawab orangtua yang meski kami harus tertatih-tatih melakukannya, lelah yang semoga menjadi lillaah. 

Sering dianggap ‘aneh’ oleh kebanyakan orang termasuk orang terdekat. Bahkan ketika mengucapkan, “Syukran, Jazakallaahu khaer..” masih dianggap ribet dan tabu untuk sebagian orang. Begitu pula pujian berupa “Masyaa Allaah..” dan kalimat lainnya yang selalu kami ingatkan berkali-kali kepada anak-anak ketika berujar sesuatu.

“Banyak mainanku..” Begitu yang Asma’ katakan. Ketika kedatangan kakek neneknya, atau sedang berkunjung ke rumah keluarga, tetiba ada saja laporan dari Asma’. Entah mainan, baju, buku, dan lainnya.

“Kalau banyak bilang apa?” Seperti biasa, saya atau suami berusaha untuk bisa saling mengingatkan, baik untuk kami, juga anak.

“Masyaa Allah..” Lanjut Asma’ atas banyak mainan yang ia sampaikan.

“Barakallaahu fiik, kakak..” Puji kami ketika mendapatkan tanggapan dari Asma’ berupa pujian kepada Allah.

Begitupun pada kata ‘astaga’. Asma’ pernah mendengar kata tsb dari luar, dan ia pun tiba-tiba juga mengatakan kata yang sama membuat saya yang tidak pernah berkata itu, ganjal.

“Abi sama Ummi biasa bilang astaghfirullaah, sayang..” Saya mengingatkannya, kemudian Asma’ mengucapkan kalimat istighfar dengan lengkap.

“Astaghfirullaahal ‘adziimm..” Sambungnya dengan tersenyum.

“Syukran kakak. Barakallaahu fiik sudah mengerti.” Puji saya. Tak lupa mendoakannya semoga Allah bisa istiqamahkan kalimat thayyibah padanya, juga pada anak-anak kami yang lain.

Memandirikan anak dengan kalimat baik memang dibutuhkan. Sebab kita tidak pernah tahu, bahwa seberapa banyak yang kita sampaikan mengena di dalam diri anak. Apakah yang terekam dalam benak anak itu adalah yang baik atau buruk. Serta berkata dan bersikap entah pada siapa nantinya anak-anak kita mencontoh.

Ketika pengenalan sosok teladan nabi kami upayakan dengan membacakan atau menceritakan. Menjaga sikap kami sebagai orangtua dengan mengamalkan sunnah, menyampaikan hikmah di setiap kejadian, menjauhkan gadget dan tontonan tv yang saat ini menjadi ikhtiar kami dalam memberi pemahaman secara bertahap. Pun pada doa yang bisa kami panjatkan tentunya untuk diri kami lalu anak dan sekitarnya. Karena pengaruh dari luar begitu deras. Lengah sedikit saja bisa mengubah pola yang lebih dikenal dengan lifestyle ‘kekinian’.

Kepada siapa anak kita nanti mencontoh.
Kepada siapa anak kita nanti bergaul.
Kepada siapa anak kita nanti ke depannya.
Kita tidak pernah tahu taqdir Allah apa yang ada di hadapan kita.

Itulah mengapa salah satu alasan tidak tergesa-gesa memperkenalkan calistung (baca, tulis, hitung). Sebab ada ‘time limited’ yang sedang kami kejar. Sebelum Asma’, ‘Aisyah, dan Afra’ masuk fase tamyiz ( > 7 tahun). Fase dimana seorang anak mulai dapat membedakan baik dan buruk, mampu menilai sesuatu bermanfaat atau tidak untuk dirinya. Membekali dalam ketundukan di hadapan Rabb-nya, pesiapan untuk memasuki fase tersebut. Allaahul musta'an.

Masih banyak PR kami untuk bisa menancapkan Iman, Islam, dan Ihsan pada 3A Hafizhah kami. Bekal penting tentang ketundukan pada Rabb-nya meski kami pun sedang berusaha mengajari diri sendiri.

#BasmahThariq
#Day8
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
[ Read More ]

20 Juli 2017

Rumah dan Fitrah Anak

Posted by bianglalabasmah at 7/20/2017 07:43:00 AM 0 comments
Aktivitas duo-A Hafizhah
Setelah menikah, kerapian rumah hanya terjaga di awal kehidupan rumah tangga yang masih diisi oleh saya dan suami. Tapi, setelah kehadiran Asma', kemudian disusul oleh 'Aisyah, membuat saya dan suami semakin mengerti bahwa kenyamanan itu tidak datang dari rumah yang selalu rapi. Menjaga tetap bersih, iya. Namun, berharap setiap ruang dengan tanpa dijejali mainan berhamburan, lembaran-lembaran kertas berserak, bahkan buku-buku yang jadi bacaan favorit lecek sampai tak utuh itu, m u s t a h i l.

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat. 

Entah kesyukuran apa lagi yang harus kami panjatkan, karena rumah yang kami anggap kapal pecah itu menjadi sebab adanya kehidupan. Tentang tangis yang tak pernah absen, hadir secara bergantian bahkan hampir bersamaan. Tentang rival siblings pun bisa membuat nada-nada kami khilaf, merubah menjadi melengking. *Astaghfirullaah..* Tentang kertas-kertas yang seringnya menghujani hampir seisi rumah dalam keadaan tak lagi utuh, menjadi hal menarik yang justru diminati. Tentang mainan berserakan menjadikan kaki perih ketika tanpa sengaja menginjak. Dan tentang berhiasnya senyum tawa selalu menjadi penyejuk, penghapus lelah yang tak berkesudahan.

Berbenah sebelum meninggalkan rumah
Kesyukuran ini semakin bertambah ketika duo-A hafizhah tetap dalam fitrah anak sesungguhnya. Tanpa harus melibatkan gadget dan TV yang membuat kami seringnya menahan tak ber-gadget ria di hadapan mereka. Tujuannya agar koordinasi tangan dan mata berkembang dengan baik. Motorik halus dan kasar terasah, imajinasi yang terarah. Daya ingat yang menajam tanpa dijejalkan pada hal-hal yang tak semestinya.


Di usianya yang beranjak batita dan balita, duo-A hafizhah secara perlahan mulai kami libatkan dalam hal membereskan mainan misalnya. Asma’(3y11m) terbiasa tanpa kami pinta turut membantu adiknya. ‘Aisyah (2y2m) yang ingin minum, mengambilkan dan membantunya menuang. Ketika mendapati lantai basah karena tumpahan minum/makan, kakak Asma’ dengan sigap segera mengambil lap yang memang kami sudah siapkan untuk anak-anak bisa dijangkau. Di jelang bepergian misalnya, atau di sebelum makan dan tidur malam mereka, kami mengajaknya untuk sama-sama membereskan mainan dan buku-bukunya untuk dikembalikan di tempatnya. Masyaa Allah wal hamdulillaah. Perlunya bermula dari memberikan teladan, menyampaikan, lalu mengajak,  dan mengingatkan agar fitrah itu tetap hadir.

Kondisi Kamar duo-A Hafizhah
Dari kesemuanya, kemandirian yang kami ajarkan bukan menjadi tuntutan yang berujung mengancam. Tetap pada porsi mereka di usia yang masih tak seberapa. Setiap usahanya tetap kami sambut dibarengi ucapan terima kasih. Agar mereka mengerti akan tanggung jawab tentang apa-apa yang mereka lakukan. 

Lagi-lagi, kalaulah keinginan rapi terpelihara, cukuplah ‘rapi’ itu saat anak telah tertidur pulas. Ketika bangun tidur pun kami tetap mengizinkan rumah ini berantakan. Sebab, kami sadar sesadar-sadarnya, betapa nikmat sehat, aktif, dan rasa ingin tahunya yang tinggi, mahal harganya.

Sebab pula tak sebanding dengan gadget yang kebanyakan menjadi senjata paling ampuh untuk penenang buah hati. Pun hiburan tv yang sejak awal memang sengaja kami tiadakan di rumah. Walau 'mungkin' hal tsb akan terlihat kalian lebih tenang, rumah tak akan seperti kapal pecah, dan mungkin tak ada lagi drama rebutan mainan antar saudara yang disertai dengan isak tangis.

Barakallaahu fiikunna, duo-A hafizhah kami.. Jazaakunallaahu khaer.

#BasmahThariq  
#Day1 
#GameLevel2 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
[ Read More ]

17 Maret 2017

NHW 08: Misi Hidup dan Produktivitas

Posted by bianglalabasmah at 3/17/2017 03:36:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim…


Alhamdulillaah, masih bisa stay di kelas Matrikulasi di pekan ke-8. Ketika awal-awalnya hanya menerka-nerka tentang ‘isi’ dari matrikulasi tersebut. In syaa Allah dengan modal menerka-nerka, sambil menyelami materi tiap pekan dan mengupayakan dalam pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari lebih mengarahkan saya ke arah mana produktivitas tersebut.

Melirik pada bakat dan passion yang memudahkan saya dalam menjalankan misi hidup yang selaras dengan perjalanan produktivitas. Dalam Nice Homework ke-8, diminta kembali untuk melihat dan mengambil salah satu dari ranah aktivitas yang telah ditulis pada Nice Homework ke-7, kuadran SUKA dan Bisa. Dalam hal ini, saya senang pada aktivitas rumahan; mendesain dan melakukan aktivitas bersama anak (belajar dan bermain).

“BE DO HAVE” di bawah ini:

BE
Fitrahnya seornag perempuan. Ibu, menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Mereka belajar lewat apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Mereka belajar dari apa yang seorang ibu mereka ucapkan dan lakukan.

DO
Belajar dari sumber yang shahih. Al Qur’an dan Sunnah. Parenting Nabawiyyah, satu di antaranya yang menguatkan saya dalam perjalanan produktivitassaya. Sebab teladan ada pada sosok Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada teori-teori lain yang dikemukakan oleh orang barat pada umumnya dalam melahirkan generasi rabbani, in syaa Allah.

HAVE
Alhamdulillah, dengan kekuatan yang saya miliki, sebagai educator, designer, dan server yang cukup mendominasi menjadi komitmen awal dan dukungan dari suami dalam menjalankan aktivitas bersama anak, in syaa Allah.


3 Aspek Dimensi Waktu
Lifetime Purpose
Dalam kurun waku kehidupan saya, in syaa Allah ingin menjadi seorang khalifah yang bisa memainkan peran sesuai kadar dan fitrah sebagai perempuan. Menjadi ibu professional, istri yang shalehah, dan anak yang berbakti kepada orangtua, In syaa Allah. Walaupun dalam hal tersebut tidak semudah yang dituliskan. Namun, semoga cita-cita ini bisa diwujudkan. Allaahumma Aamiin..

Strategic Plan
Dalam kurun 5-10 tahun, jika Allah menghendaki, ingin bersama suami menciptakan suasana belajar dan lingkungan yang kondusif untuk anak-anak. Bisa melahirkan generasi rabbani yang hafizh/hafizhah, dan shaleh/shalehah.

New Year Resolution
Dalam kurun satu tahun, berharap bisa fokus dalam aktivitas anak baik pada belajar maupun bermain anak-anak. Bersabar dan bisa menjadi teladan bagi anak-anak, mengenyahkan rasa malas dan egois dalam diri. Seiring dengan itu pula, saya bisa melahirkan sebuah buku dengan harapan besar bisa memotivasi saya dan orang lain dalam mendampingi dan mendidik anak-anak.

Bismillaah...
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH


Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'



[ Read More ]

11 Maret 2017

NHW 07: Tahapan Menuju Bunda Produktif

Posted by bianglalabasmah at 3/11/2017 10:05:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Alhamdulillaah, telah memasuki pekan ke7. Sejauh ini saya senang sesuatu yang bisa mendukung 'kinerja' saya dalam hal bakat. Dan pada kesempatan ini, Nice Homework-nya diarahkan untuk mengisi di temubakat.com

'Alaa kulli haal, ketika baik itu segala anugerah dari Allah. Dan segala kekurangan yang buruk tentunya menjadi bahan introspeksi. Menyempurnakan dengan memaksimalkan potensi yang baik, yang menjadi anugerah dari Allah ta'ala. Tentunya, segalanya diupayakan dengan kesungguhan dan berbekalkan iman, ilmu, dan ihsan.
Berikut hasil dari temubakat.com yang telah saya ikuti..

Deskripsi singkat tentang hasil dari temubakat.com


Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'



[ Read More ]

3 Maret 2017

NHW 06: Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Posted by bianglalabasmah at 3/03/2017 05:53:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada hal-hal yang tidak pernah terlintas dalam benak atau belum terpelajari di kehidupan sebelum menikah. Namun tidak ada kata terlambat untuk belajar, mengambil hikmah dan sisi terbaik dari setiap peristiwa.

Membelajarkan diri, melalui banyak pengalaman yang bisa dipetik, terutama dari seorang ibu saya yang masyaa Allah begitu mandiri dan telaten dalam mengemban tugas sebagai ibu rumah tangga. Tak bermodalkan ijazah berjenjang pendidikan tinggi. Namun bagi saya, beliau adalah sosok yang bisa menjadi teladan, mampu me-manage dengan baik. Yes, she is my Mom. My first teacher. Barakallaahu fiiha.

Di Nice Homework kali ini berjudul Menjadi Manajer Keluarga yang Handal. Berbekal dari ibu, saya (sedang berusaha) membentuk pola di dalam keluarga untuk tumbuh dan berkembang dari manajemen yang sedang saya upayakan. Tentunya setelah terjadi kesepakatan dan keputusan  bersama suami akan seperti apa rumah tangga ini.

Di Matrikulasi IIP 6, terdapat prinsip dalam mengelola aktivitas, yaitu: Put First Things First, One Bite at a Time, and Delegting.

Hal ini berarti ada tugas saya berusaha mendesain cara rumah dikelola, mendesain cara memfasilitasi anak agar mandiri, mengerjakan apa yang menjadi prioritas, dan membentuk hometeam bersama suami dan anak-anak.

Alhamdulillah, suami sangat supportif. Ia paham dan mendukung kegiatan yang bisa meng-upgrade saya untuk terus berproses menjadi pribadi, istri, dan ibu yang baik, in syaa Allah. Mengingat kami tidak memiliki ART (asisten rumah tangga). Maka ada beberapa tugas domestik yang ia handle dengan senang hati. Misal, untuk wilayah pekarangan rumah dan sekitarnya ia yang rutin lakukan dengan melibatkan anak-anak. Ia yang berbelanja ke pasar, ia pula yang rutin mencuci popok kain anak-anak, dan menemani aktivitas anak di pagi hari sampai ia akan berangkat kerja.

Sebagai penganut kaum multitasking, saya mengambil bagian pada aktivitas memasak, mencuci pakaian, menjemur, melipat, dan menyetrika. Sebab, beberapa aktivitas bisa dilakukan dalam satu waktu. Alhamdulillah...

Adapun pekerjaan rumah yang sedang saya delegasikan kepada dou-A Hafizhah kami, Asma’ dan ‘Aisyah adalah merapikan buku dan mainnya. Bahkan dou-A Hafizhah kami mulai menyapu sesuai kemampuannya tanpa dipinta. Hal itu sangat berarti bagi saya. Saya dan suami berkeinginan agar dou-A Hafizhah kelak menjadi anak-anak yang mandiri, menyadari tugas-tugas tanpa diperintah.

Itulah sebabnya, ketika saya memasak, mencuci pakaian atau piring, menjemur dan melipat baju, serta menyetrika, saya cenderung membiarkan dan melibatkan dou-A Hafizhah. Mengingat usia masih di bawah 4 tahun, maka saya mengizinkan meski sebatas melihat-lihat dan memperkenalkan apa yang sedang saya lakukan. Tentunya, kelekatan anak-anak di bawah usia 4 tahun yang masih mendominasi, sehingga kemanapun saya sebagai umminya melangkah, tentu ada dou-A Hafizhah yang akan selalu mengikuti.

*

Dan ini Nice Homework di pekan ke-6 pada kelas Matrikulasi:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!
Awalnya saya menganggap semua penting, tapi mencoba memilah yang penting dan yang tidak penting
Tiga aktivitas paling penting di rumah adalah: 
  1. Ibadah (Shalat fardhu dan tilawah AlQur’an)
  2. Melayani kebutuhan suami dan mendampingi aktivitas dou-A Hafizhah
  3. Belajar (Membaca, menulis, dan menyimak kajian)
Tiga aktivitas paling tidak penting adalah:
  1. Mengecek gadget dan stalking di Social Media
  2. Membuat kegiatan secara tak terduga untuk mengisi waktu (tetiba ingin menjahit, ingin membuat prakarya, mem-permak barang-barang yang kemungkinan masih digunakan, dll padahal masih ada kegiatan domestik yang belum terselesaikan)

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Sejauh ini baik aktivitas penting maupun (yang dianggap) tidak penting, sama-sama menyita waktu. Namun melihat dari sisi produktiviasnya mungkin masih kurang optimal.

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
In syaa Allah, sedang mengoptimalkan pada aktivitas penting. Terutama fokus pada aktivitas anak-anak yang berpeluang melakukan aktivitas “multitasking”.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.
Saya memberikan warna kuning pada kolom di amal yaumi. Di sana, ada waktu yang sangat kondusif dalam melakukan dan menyelesaikan aktivitas-aktivitas tsb. Meski bagi saya sifatnya fleksibel. Namun sejauh ini menjadi kegiatan rutin saya dan ‘alaa bi idznillah, bisa saya lakukan selama ini. Alhamdulillah..

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
(Beraaat instruksinya. Tapi in syaa Allah..) Mengingat saya sedang meminimalisir (sebatas menerima telpon atau menelpon bila ada keperluan) dan bahkan puasa gadget di pagi sampai dou-A Hafizhah tidur malam. Karena gadget bagi saya meski memberikan manfaat, namun tak jarang memberikan mudharat (kesia-siaan) yang cenderung membuat saya secara pribadi kurang fokus dalam menyelesaikan amal yaumi. Semoga saya bisa istiqamah
Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Bismillaah.. In syaa Allah..
***
Alhamdulillaah... Semoga dengan menjadwalkan aktivitas/amal yaumi bisa mengatur batasan-batasan untuk mendisiplinkan diri agar bisa menjadikan hari-hari ke depan lebih produktif. Bismillaah…

Salam Ibu Pembelajar


Basmah Thariq / Ummu Asma'

[ Read More ]

25 Januari 2017

NHW 01: Adab Menuntut Ilmu

Posted by bianglalabasmah at 1/25/2017 11:05:00 AM 0 comments
Nice Homework (NHW) perdana menjadi sajian yang paling mendebarkan. Seringnya menyimak di grup Whatsapp IIP Foundation as silent reader, tentu ada rasa ingin tahu yang tinggi terutama setelah ruangan chat dibanjiri oleh aliran rasa bagi yang telah lulus di kelas Matrikulasi IIP batch #2. Dan ada apa dengan kelas matrikulasi berasa seperti baru mendapatkan sebagian puzzle yang siap disusun setahap demi setahap. Tak luput, materi perdana yang disajikan di dalam kelas sebagai pembuka adalah Adab Menuntut Ilmu. Hal yang utama memang perlu dipahami bagi setiap pembelajar. Berharap dengan materi ini, bisa direnungkan dan dipahamkan tentunya untuk diamalkan. Ketika menuntut ilmu adalah sepatutnya wajib, maka yang perlu diperhatikan pun adalah adab bagaimana dalam menjemput ilmu itu sendiri.
Berikut NHW 01 dari materi Adab Menuntut Ilmu:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu parenting
2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Sebab pertama, ibu adalah anugerah dari Allah ta'ala, bahkan ada satu riwayat, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengunggulkan ibu sebanyak tiga kali dari seorang ayah. Kedua, ibu adalah sekolah pertama dan utama. Ketika seorang ibu telah dipersiapkan dengan baik maka sesungguhnya seperti mempersiapkan generasi yang kuat dan baik.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Al ‘ilmu qablal qaul wal ‘amal (Berilmu sebelum berkata dan berbuat). Maka menjadi seorang ibu tetap menjadi pembelajar dalam kehidupan terutama ketika akan dan setelah menyandang status istri dan ibu. Berilmu bisa dengan membaca beragam buku dan dengan menghadiri majelis-majelis ilmu serta terlibat dalam suatu komunitas selama yang di dalamnya tidak menyimpang dan bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Karena dua inilah yang menjadi warisan terbaik Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang pada ummatnya dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Ikhlas karena Allah dan tidak terburu-buru dalam setiap menerima ilmu dan informasi yang begitu cepat hadir di hadapan kita. Perlunya pengontrolan niat setiap kali ada hal-hal baru tertama ketika dalam mengamalkan ilmu, mengambil sumber yang jelas lagi shahih dengan bertabayyun adalah terpenting. Karena di sanalah keberkahan dari seorang penuntut ilmu. Ilmu akan membekas dan bermanfaat bila mengambil dengan cara yang haq.
“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia”

Salam Ibu Pembelajar,


Basmah Thariq / Ummu Asma’
[ Read More ]

22 Januari 2017

Menuju Lima

Posted by bianglalabasmah at 1/22/2017 09:32:00 PM 0 comments


Menuju angka lima dalam pernikahan bukan hal yang mudah dilewati. Bahkan ketika Allah ta'ala telah mengaruniakan dua putri pada kami. Sebab pernikahan tetap menjadi pertemuan dua orang dan dua keluarga yang berbeda. Hingga pernikahan tak melulu bermodalkan cinta. 

Cinta tak selalu menjadikan rumah tangga subur. Karena tetap akan dipertemukan pada ego masing-masing, juga kebiasaan yang sudah tertancap lama dari hasil didikan masa lalu. Sisa bagaimana kelebihan melengkapi kekurangan pasangan. Itulah mengutuhkan.

Maka pernikahan adalah memupuk dan menyuburkan selalu; pada iman. Meyakinkannya tak sekadar di hati siapa. Pun tak sekadar dilafadzkan di lisan pada moment sakral pertama yang menjadi salah satu syarat sah pernikahan. Melainkan dilibatkannya pada amalan setelah pernikahan itu digelar.

Maka pernikahan adalah anugerah. Tempat ibadah yang terluas meski amalan yang paling sederhana. Itulah sebabnya, pernikahan dikatakan memenuhi separuh agama. Menyempurnakan ibadah yang mungkin tak didapati dan atau tidak sepatutnya dilakukan di luar dari ikatan suci.

Begitupula pernikahan menjadi tempat belajar. Belajar untuk terus memupuk dan menyuburkan iman dalam pernikahan. Menguatkan cita dengan saling menggenggam pada nasehat menasehati dalam kebaikan-ketaatan, pun pada kesabaran. Sebab mengelola hati, memainkan peran penting dalam menapaki sepanjang perjalanan pernikahan. Semoga iman inilah yang terus terpelihara, hingga mengantarkan pada ridha Allah dan menuju JannahNya, kelak.

Wallaahu a'alam

untukmu, AF yang menjadi pengutuh dalam dien-ku,
jazakallaahu khaer wa barakallaahu fiik :) 

#karyaceria #owop #rumbelmenulisiip

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea