22 April 2018

Ilmu Pendukung dan Maestro

Posted by bianglalabasmah at 4/22/2018 10:26:00 AM 1 comments
Pada tahap ini kami diminta menuliskan ilmu-ilmu pendukung yang diperlukan untuk mempertajam bakat dan mencapai impian.

Impian:
  1. Menjadi seorang ibu, sebagaimana Ummahatul Mukminin
  2. Desainer
  3. Penulis
  4. Ahli Sejarah Islam

Ilmu pendukung:
Ustadz Budi Ashari, Lc adalah seorang yang berkonsetrasi dalam dunia sejarah Islam, sejalan dengan pendidikannya saat kuliah di Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Nabawiyyah yaitu Fakultas hadis dan Dirosah. Ustadz Budi Ashari juga membidani lahirnya sebuah lembaga kajian yang diberi nama Cahaya Peradaban Islam. 
Hasil dari eksplorasi kajian beliau terkait sejarah Islam diaplikasikan dengan konsentrasi pendidikan dan parenting. Beliau mendirikan beberapa lembaga pendidikan berbasis sejarah Islam seperti Kuttab Al Fatih, Parenting Nabawiyah dan juga Akademi Sirah Nabawiyah. 
Dalam tulisan kali ini kami akan membagikan 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang digagas oleh Ustadz Budi Ashari. Parenting Nabawiyah adalah konsep pendidikan keluarga berbasis Nubuwah (kenabian).Sumber utama dari Parenting nabawiyah adalah Al-qur,an hadits serta sejarah-sejarah bagaimana ulama-ulama terdahulu mendidik anak sehingga melahirkan generasi yang luar biasa. Tak hanya bersinar di dunia namun juga gemilang hingga akhiratnya. 
Berikut adalah 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang diusung oleh Ustadz Budi Ashari.
1.  Visi Keluarga Muslim 
“Kalau orang hebat hari ini berpikir 250 tahun ke depan. Kita dibiasakan oleh Islam berpikir sangat-sangat jauh ; Sesudah kematian….” (Ustadz Budi Ashari Lc) 
Ustadz budi Ashari menjabarkan visi dari keluarga Islam ada empat diantaranya adalah menyejukkan pandangan mata, pemimpin bagi masyarakat bertakwa, terjaga dari api neraka dan bersama hingga ke surganya. Empat hal ini harus menjadi cita-cita utama setiap rumah tangga muslim. 
Rumah tangga ibarat sebuah kendaraan. Ia digunakan untuk menempuh sebuah perjalanan. Seluruh anggota keluarga adalah penumpang dengan masing-masing perannya. Penumpang ayah dan ibu ibarat nahkoda dan navigatornya. Merekalah yang memiliki rencana an mengumumkan kepada seluruh anggota keluaga; kemana tujuannya, lama perjalanan yang ditempuh dan apa yang akan dilakukan sesampainya. Begitu Ustadz Budi Ashari menyampaikan. 
Beliau juga menambahkan keluarga adalah awal dari berdirinya peradaban Islam yang megah. Pemimpin yang istimewa berawal dari keluarga yang istimewa, pemimpin yang membahagiakan masyarakat berasal dari keluarga yang menyejukkan pandangan mata bagi keluarganya dan pemimpin yang Istimewa merupakan karya perpaduan harmonis suami istri. Dan inilah tugas utama dari sebuah keluarga. 
Untuk mencapai setiap visi ini, tentu harus menggunakan cara-cara yang telah teruji dalam membangun peradaban Islam sejak dahulu kala yaitu metode parenting Nabawiyah. 
2. Melahirkan Generasi penegak Khilafah 
“Ternyata masa depan yang dipikirkan orang tua hanya masa kini. Masa depan sesungguhnya adalah kebesaran islam” (Ustadz Budi Ashari Lc) 
Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan oleh HR.Ahmad : 
“Nubuwah ada pada kalian sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khilafah di atas manhaj (sistem aturan) nubuwwah sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerajaan yang menggigit sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerjaan yang diktator sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khilafah di atas manhaj nubuwwah. Kemudia beliau diam.” 
Akan hadir kembali fase Khilafah di atas manhaj Nubuwwah. Para pemimpinnya adalah pemimpin-pemimpin yang adil mensejahterakan rakyatnya. Rakyatnya adalah orang-orang beriman yang senantiasa berupaya berada dalam ketaatan kepada Allah subhaanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Konsep parenting Nabawiyah salahnya satunya adalah menyiapkan generasi kita sebagai generasi penegak khilafah. Berdo’a kepada Allah, berusaha membentuk kepribadian yang shaleh/ha dalam diri anak sehingga menjadi generasi yang diperlukan dalam fase kebangkitan Islam nanti, fase Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. 
3. MelahirkanGenerasi Pembuka Roma 
“Carikalan pendidik yang bukan saja berilmu tinggi tapi juga berakhlak mulia. Karena seringkali sesuatu yang tidak terucapkan tetapi terajarkan” (Ustadz Budi Ashari, Lc) 
Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam menyandingkan antara pembuka Konstantinopel dan pembuka Roma. Dari sini kita dapat belajar dan mengambil inspirasi kalau kualitas dan cara melahirkan mereka harus disejajarkan dan disamakan. Sehingga kita harus mempelajari bagaimana Muhammad Al Fatih sang penakhluk konstantinopel dididik sebagai inspirasi mendidik generasi kita agar menjadi generasi pembuka Roma. 
Demikian konsep pendidikan Parenting Nabawiyah yang diusung oleh Ustadz Budi Ashari. Sebuah konsep yang tidak hanya teruji dari pengalaman serta hasil eksperimennya melahirkan generasi hebat tapi juga teruji dan terpercaya sumbernya, yaitu jalan kenabian.

Sumber:
https://www.elmina.id/3-konsep-utama-dalam-parenting-nabawiyah-menurut-ustadz-budi-ashari-lc/


#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateri6
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
[ Read More ]

9 April 2018

"Hadiah"

Posted by bianglalabasmah at 4/09/2018 05:49:00 PM 3 comments
Selepas Isya', saya mengantar ketiga putri hafizhah kami tidur. Tentunya, Afra' masih dibantu tidur dengan menyusui, bi idznillah. Hal yang rutin biasanya kami  lakukan adalah men-talqin Al Qur'an 1/4 juz dari Juz 30 atau Juz 29.
Aktivitas Mengaji Asma'Aisyah setelah Shalat Maghrib
Setelah ditalqinkan Al Qur'an, Afra' dan 'Aisyah sudah tidur. Asma' masih terjaga meski dibiarkan sendirian pun ia akan tidur dengan sendirinya. Namun pada malam itu, saya masih mau menemani di jelang tidurnya. Maklum, setelah kehadiran adiknya, 'Aisyah dan Afra', perhatian lebih tentunya tercurah kepada dua adiknya. Kesempatan bisa bersama putri sulung, ketika 'Aisyah dan Afra' tidur atau dihandle sama abinya.

Saya mengusap punggung Asma' sambil terus mengaji menunggu Asma' tertidur. "Ummi, kenapa Ummi suka mengaji?" Tanya Asma' di suasana kamarnya yang gelap.
"Hm.. Karena Ummi suka mengaji. Supaya Ummi ingat Allah terus."
"Kenapa lagi Ummi?" 
"Hm.. Kenapa ya?" Saya pun mencari jawaban yang tepat untuk seusia Asma'. "Karena Ummi mau kasih hadiah untuk Baba dan Sittinya Asma', Abi Ummi-nya Ummi."
"Ooh..hadiah kado begitu, Ummi?"
"Iya, kayak kado. Tapi ini hadiahnya istimewa. Asma' suka gak dikasih hadiah?"
"Suka." 
"Nah, Ummi juga pengen bisa kasih hadiah ke Baba dan Sitti hadiah lewat mengajinya Ummi."
"Kenapa?" Asma' selalu penasaran setelah jawaban-jawaban saya. Dan ini bagian dari fitrah iman yang perlu dijaga. Dialog iman perlu dirutinkan pada setiap kesempatan.

Teringat pada sebuah hadits, Siapa saja membaca Al Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah membawa al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim).

Masih sambil terus mengusap punggung Asma', "Karena janji Allah untuk yang suka mengaji, baca Al Qur'an. Nanti Abi Umminya bisa dikasih hadiah mahkota kehormatan."
"Hadiahnya dibeli?"
"Gak dibeli sih Kak. Hadiahnya langsung dari Allah. Cukup dengan rajin membaca Al Qur'an saja. Masyaa Allah."
"Oh.. Kalo Asma' rajin mengaji, berarti Asma' bisa kasih hadiah juga di'?"
"Asma' mau jugakah kasih hadiah? Untuk siapa?"
"Iya, hadiah untuk Abi Ummi. Kan Asma' tidak bisa beli hadiahnya."
"Jadi caranya dengan apa kalo gitu?"
"Asma' harus rajin mengaji juga, kayak Abi sama Ummi. Masyaa Allah..."

Mendengar kepolosan Asma', mata saya pun gerimis. Dua kesyukuran dalam satu waktu. Bersyukur karena kamar anak-anak sudah gelap. Hanya dibantu cahaya lampu dari luar kamar  yang membuat Asma' tentu tidak bisa melihat saya dengan jelas. Kesyukuran kedua, harapan dari seorang Asma' yang membuat saya mengamini dalam hati berkali-kali. Saya pun memeluk Asma' dengan posisi tidur. "Aamiin. Jazaakillaahu khaer ya kak. Ayo tidur ya. Supaya bisa bangun sebelum shalat Subuh." Pesan saya sambil terus mengusap punggung dan membelai rambutnya. Mengecup ubun-ubunnya dengan sesekali mengusap mata saya yang sembab.

Anak-anak masih suci jiwanya. Entah kita ingin memberikan teladan yang seperti apa untuk mereka kelak. Saya pun masih perlu belajar tentang agama ini. Ingin kami, mereka adalah penyelamat orangtuanya kelak di akhirat. Tugas kami pun masih sangat banyak. Bukan hanya mengenyangkan perut, bukan sebatas melihat mereka tersenyum bahagia dengan segala pemenuhan yang sebenarnya lebih banyak akan mendatangkan mudharat bagi mereka kelak. Ah, tugas kita (kami, maksudnya) menjauhkan mereka dari godaan syaithan. Allaahul Musta'an..
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea