Tampilkan postingan dengan label #TantanganClubMenulisHSMNSulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TantanganClubMenulisHSMNSulawesi. Tampilkan semua postingan

9 April 2018

"Hadiah"

Posted by bianglalabasmah at 4/09/2018 05:49:00 PM 3 comments
Selepas Isya', saya mengantar ketiga putri hafizhah kami tidur. Tentunya, Afra' masih dibantu tidur dengan menyusui, bi idznillah. Hal yang rutin biasanya kami  lakukan adalah men-talqin Al Qur'an 1/4 juz dari Juz 30 atau Juz 29.
Aktivitas Mengaji Asma'Aisyah setelah Shalat Maghrib
Setelah ditalqinkan Al Qur'an, Afra' dan 'Aisyah sudah tidur. Asma' masih terjaga meski dibiarkan sendirian pun ia akan tidur dengan sendirinya. Namun pada malam itu, saya masih mau menemani di jelang tidurnya. Maklum, setelah kehadiran adiknya, 'Aisyah dan Afra', perhatian lebih tentunya tercurah kepada dua adiknya. Kesempatan bisa bersama putri sulung, ketika 'Aisyah dan Afra' tidur atau dihandle sama abinya.

Saya mengusap punggung Asma' sambil terus mengaji menunggu Asma' tertidur. "Ummi, kenapa Ummi suka mengaji?" Tanya Asma' di suasana kamarnya yang gelap.
"Hm.. Karena Ummi suka mengaji. Supaya Ummi ingat Allah terus."
"Kenapa lagi Ummi?" 
"Hm.. Kenapa ya?" Saya pun mencari jawaban yang tepat untuk seusia Asma'. "Karena Ummi mau kasih hadiah untuk Baba dan Sittinya Asma', Abi Ummi-nya Ummi."
"Ooh..hadiah kado begitu, Ummi?"
"Iya, kayak kado. Tapi ini hadiahnya istimewa. Asma' suka gak dikasih hadiah?"
"Suka." 
"Nah, Ummi juga pengen bisa kasih hadiah ke Baba dan Sitti hadiah lewat mengajinya Ummi."
"Kenapa?" Asma' selalu penasaran setelah jawaban-jawaban saya. Dan ini bagian dari fitrah iman yang perlu dijaga. Dialog iman perlu dirutinkan pada setiap kesempatan.

Teringat pada sebuah hadits, “Siapa saja membaca Al Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah membawa al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim).

Masih sambil terus mengusap punggung Asma', "Karena janji Allah untuk yang suka mengaji, baca Al Qur'an. Nanti Abi Umminya bisa dikasih hadiah mahkota kehormatan."
"Hadiahnya dibeli?"
"Gak dibeli sih Kak. Hadiahnya langsung dari Allah. Cukup dengan rajin membaca Al Qur'an saja. Masyaa Allah."
"Oh.. Kalo Asma' rajin mengaji, berarti Asma' bisa kasih hadiah juga di'?"
"Asma' mau jugakah kasih hadiah? Untuk siapa?"
"Iya, hadiah untuk Abi Ummi. Kan Asma' tidak bisa beli hadiahnya."
"Jadi caranya dengan apa kalo gitu?"
"Asma' harus rajin mengaji juga, kayak Abi sama Ummi. Masyaa Allah..."

Mendengar kepolosan Asma', mata saya pun gerimis. Dua kesyukuran dalam satu waktu. Bersyukur karena kamar anak-anak sudah gelap. Hanya dibantu cahaya lampu dari luar kamar  yang membuat Asma' tentu tidak bisa melihat saya dengan jelas. Kesyukuran kedua, harapan dari seorang Asma' yang membuat saya mengamini dalam hati berkali-kali. Saya pun memeluk Asma' dengan posisi tidur. "Aamiin. Jazaakillaahu khaer ya kak. Ayo tidur ya. Supaya bisa bangun sebelum shalat Subuh." Pesan saya sambil terus mengusap punggung dan membelai rambutnya. Mengecup ubun-ubunnya dengan sesekali mengusap mata saya yang sembab.

Anak-anak masih suci jiwanya. Entah kita ingin memberikan teladan yang seperti apa untuk mereka kelak. Saya pun masih perlu belajar tentang agama ini. Ingin kami, mereka adalah penyelamat orangtuanya kelak di akhirat. Tugas kami pun masih sangat banyak. Bukan hanya mengenyangkan perut, bukan sebatas melihat mereka tersenyum bahagia dengan segala pemenuhan yang sebenarnya lebih banyak akan mendatangkan mudharat bagi mereka kelak. Ah, tugas kita (kami, maksudnya) menjauhkan mereka dari godaan syaithan. Allaahul Musta'an..
[ Read More ]

3 Maret 2018

Cerita Asma' #5: Ada Halalnya

Posted by bianglalabasmah at 3/03/2018 11:41:00 PM 0 comments

"Ummi, apa ini yang warna hijau bulat?" Saya tak pernah menyangka akan mendapati pertanyaan itu dari Asma'. .

"Oh yang ini.. Ini namanya label halal MUI." Jawab saya sekenanya.

"Untuk apa?" Tanyanya kembali.

"Supaya kita tau kalo ini halal. Boleh dipake sama orang yang muslim kayak Asma', Abi dan Ummi. Juga sama siapa saja."

"Kenapa?" Asma' masih tetap penasaran.

"Karena kita boleh makan, minum, dan apa saja yang bisa kita pake itu yang halal."

"Kenapa?"

"Karena itu perintah Allah." Berharap pertanyaan selanjutnya bukan tanya kenapa. 😅😅 "Jadi Asma' nanti kalo sudah bisa beli apa-apa harus tau atau boleh tanya-tanya sama penjualnya. Ini halal gak? Begitu kakak.." Sambung saya.

"Ooh.." Semoga dengan 'oh'nya ia mengerti. "Jadi, ini halal?" Asma' mulai menunjuk ke arah kemasan tisu basah.

"In syaa Allah. Asma' liat ada apa di sana?"

"Ada halal MUI. Bulat hijau."

"Lipstiknya Ummi juga halal?" Tanya Asma' yang liat Afra' pegang lipstik emaknya pengganti mainan 😂😂

"Iya. Tapi gak ada di sana logonya kak. Di kemasannya waktu Ummi beli. Cuma Ummi udah buang." Jelas saya sebelum dicecar pertanyaan di mana.

"Kalo Asma' beli mainan harus ada logo halalnya gak?" Pertanyaan yang masyaa Allah bagi saya.

"Gak mesti ada kak.. Tapi, uang yang dipake buat beli mainannya harus Asma' tau asalnya darimana. Halal ato gak."

"Dari Abi. Rizki dari Allah."

"Iya. Jadi halal itu bukan dilihat dari logo saja. Tapi caranya dari mana. Misalnya, Asma' ambil uangnya 'Aisyah tanpa izin terus beli mainan. Ato makanan meskipun ada logo halalnya, tapi gak bener caranya itu gak boleh. Nanti gak berkah."

"Gak berkah? Kenapa?"

"Nanti susah taat sama perintah Allah kalo apa yang kita pake dapatnya gak halal."



Tanpa saya sadari, Asma' sering memerhatikan benda di sekitarnya dan mencari si bulat hijau, logo halal MUI. Mungkin ia pun sering memerhatikan kami ketika sedang berbelanja yang tidak asal ambil. "Ummi ini ada bulat hijaunya.." Tukas Asma' melihat saya mengamati satu kemasan makanan di salah satu supermarket.

"Iya.. Tapi Ummi lagi baca dulu."

"Kenapa?"

"Karena biasa ada makanan atau minuman gak cocok untuk Ummi yang lagi menyusui. Mimik adek Afra'."

"Kenapa?"

"Karena Afra' masih mimik di Ummi. Kalo Ummi makan sembarangan, kasian adek Afra'."

"Ada ji halalnya Ummi."

"Iya, tapi halalan dan thayyiban. Halal dan baik. Meskipun halal kalo gak baik ato belum cocok, mending dihindarin."

"Oh.. Karena...?" (Sama aja dengan pertanyaan kenapa 😅😅)

"Karena gak semua orang cocok sama makanan apa saja begitupun minuman. Kayak Asma'. Gak cocok minum susu ult*a. Biasanya kalo udah minum langsung men**et kan? Padahal ada halalnya. Berarti gak thayyib, gak baik buat Asma'."

Semoga Allah mampukan dirimu ya kak. Memilih sesuatu yang bukan sebatas memilih karena nafsu. Apa yang menjadi pilihanmu kelak, itu yang akan menjadi pertanggung jawaban di hadapan Allah. Semoga Allah menjauhanmu, juga pada adik-adikmu dari hal yang diharamkan. Allaahul musta 'an.

Barakallaahu fiik, untuk sederet pertanyaan ajaibmu masyaa Allah. Meski Ummi selalu deg-degan menjawab sambil berdoa dalam hati agar dimudahkan dalam menyampaikan yang haq.

[ Read More ]

28 Februari 2018

Ketika Saya Menulis

Posted by bianglalabasmah at 2/28/2018 12:11:00 AM 6 comments
Dalam beberapa kesempatan, notifikasi sosmed saya dibubuhkan komentar, “Ditunggu buku parentingnya..”

Hati saya meluruh. Keinginan menuangkan ide dan cerita, semacam menggenapkan tulisan menjadi sebuah buku itu sudah cukup lama. Namun, harapan itu akhirnya hanya bisa diamini, menjadi bagian doa dan disematkan dalam cita-cita.

Portofolio Asma'Aisyah
Menahan ambisi untuk banyak alasan, meski keinginan untuk menggenapkan cerita itu selalu ada dan tak bisa disimpan dalam ingatan.

Memulai menulis lagi sebenarnya untuk melepas segala rasa. Sesekali menjejak di sosmed karena bagian dari ‘menunaikan tugas’. Dan belakangan kebanyakan berlabuh pada lembaran portofolio serta diary anak-anak yang kami buat sebagai rangkaian dari catatan homeschooling.

Kerap kali saya menulis untuk memelihara rasa ‘baik’. Sebuah proses pembelajaran dimana saya sebagai al umm madrasatul ula untuk anak-anak. Bukan bermaksud memamerkan kebaikan yang saya lakukan pada anak-anak. Sama sekali bukan. Melainkan mengajak diri untuk bisa istiqamah atas apa-apa yang saya lakukan pada anak-anak dalam kebaikan.


Satu hal yang menyenangkan dari menulis itu tentunya menjadi alarm diri. Baik dari segi penulisan maupun sering disadarkan setelah menulis betapa banyak hal yang perlu dibenahi bahkan dihayati. Sering merasa berat menghadapi rentetan pertanyaan anak-anak, misalnya. Sederet Tanya, “Kenapa Ummi?” yang memberatkan saya ketika menghadapi kondisi ini. Namun setelah terjadi kemudia ditulis, saya seperti mendapat hantaman yang menyesakkan. Ada sesal yang tak bisa diulang. Mengingat melewati pertanyaan ‘unik’ mereka dengan jawaban atau penjelasan yang seadanya. Subhanallah..

Ah ya, bagian dari kehidupan adalah cerita (yang dituliskan) kemudian menghadirkan makna sejatinya. Menyadurkan kata hikmah. Hikmah untuk menyemangati diri dengan harapan yang diikat dalam doa-doa. Semakin kita mampu mengambil hikmah dari sebuah peristiwa, maka semakin kuat pula harapan yang kita bangun.

Apapun yang menjadi bagian dari kehidupan, cobalah untuk menulis.
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea