Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

26 Maret 2018

Pengalaman Belajar Kreativitas

Posted by bianglalabasmah at 3/26/2018 08:48:00 PM 0 comments
Memasuki caturwulan tiga pada kelas Bunda Sayang dikejutkan dengan munculnya beberapa slide gambar. Di antara gambar, kami diberi kesempatan diskusi mengenai slide-slide yang dimunculkan. Gambarnya tidak hanya berisi materi, tapi juga berbagai tantangan  seperti menebak gambar, menebak tulisan, juga menghubungkan titik-titik dengan garis yang membuat saya terpaku beberapa menit untuk menemukan jawaban versi saya sebelum melanjutkan membaca jawaban dari teman-teman di kelas.


Pada saat diskusi kelas dimulai, saya tidak hadir qadarullah. Namun, saat membaca chat per chat di kelas membuat saya terkesima, terpancing, dan terpaku sejenak untuk turut berfikir sebelum membaca lanjutan diskusi teman di kelas.

Termasuk ketika fasil di kelas mengajukan pertanyaan untuk memberikan kesimpulan terhadap learning point dari tantangan pada setiap gambar yang telah dibagikan. Masyaa Allah, berasa hiruk pikuknya berada di kelas. Jawaban dalam benak saya terasa ingin berloncatan, memunculkan apa yang menjadi bagian dari diskusi tadi dalam kelas. Lagi-lagi hanya bisa membaca hasil diskusi dengan bermain tebak-tebakan sendiri. Huhuhu..

Berbeda dari materi sebelumnya, kali ini memang materinya sendiri disampaikan secara singkat dan padat tanpa banyak uraian. Sehingga diskusi begitu terasa lebih hidup. Sampai pada fasil memberikan sebuah tanya, "Apa yang menghambat Anda selama ini untuk menjadi ibu kreatif, dan bagaimana solusinya?"
  1. Rasa malas dan tidak mau repot.
  2. Terlalu banyak ide. Atau terlalu banyak referensi sehingga seringnya menunda untuk mengeksekusi.
  3. Takut akan banyak hal. Seperti takut mencoba, takut tidak sesuai dengan harapan, takut pada perubahan, takut dianggap biasa/tidak diapresiasi.
  4. Fokus pada rutinitas yang itu-itu saja.
  5. Terlalu perfeksionis.
"Anak-anak secara fitrah sudah lahir kreatif. Kitalah yang harus mengubah diri agar layak mendampingi para creator di zamannya nanti"
Pada dasarnya setiap anak sudah kreatif sejak awal. Buktinya:
  1. Anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar.
  2. Tidak mengenal kata tidak mungkin.
  3. Tidak takut salah (selalu berani mencoba).

Sedang yang terjadi justru kadang kita sebagai orangtua memandang apa yang mereka lakukan tidak seperti yang kita harapkan. Kita kerap kali protektif, banyak mengekang segala usaha anak, memaksakan anak untuk bisa menuruti kemauan kita, sampai pada hasil mereka kita remehkan. Menganggap kitalah yang paling tahu karena telah berpengalaman. Dan tanpa kita sadari, telah mematikan kreativitas anak-anak kita. Astaghfirullaah wa atuubu ilayh... Padahal anak-anak butuh kesempatan lebih banyak pada ruang dan tempat untuk mengeksplorasi rasa ingin tahunya. 

Lantas, apa yang harus kita (saya kali) lakukan? Men-support dengan membersamai anak-anak. Menghargai sekecil apapun usaha yang telah mereka lakukan. Seperti itulah perangkat lunak yang Allah siapkan pada setiap anak sejatinya yang perlu kita install. Kita harus mengubah mindset terlebih dahulu. Orangtua-lah yang perlu berubah dan kreatif.

Selama berada dalam ketentuan Allah yang menjadi tumbuh dan berkembangnya kehidupan dan tidak merusak fitrah itu sendiri, untuk maslahat diri dan ummat, itulah kreativitas. (Bianglala Basmah) 
Maka yang perlu dimiliki oleh ibu terkhususnya, sebagai orang yang memiliki peluang begitu banyak membersamai anak adalah:
  1. Ubah fokus dan geser sudut pandang kita dalam melihat aksi anak-anak. 
  2. Don't assume, jangan berasumi. Membuat pernyataan terhadap sikap dan hasil yang tengah dilakukan oleh anak-anak. Terlalu banyak pernyataan ketimbang pertanyaan. Padahal yang perlu adalah bertanya pada anak, agar anak-anak mampu menyampaikan gagasannya secara jelas (CLEAR) dan yang kita butuh dari mereka hanya klarifikasi (CLARIFY).
  3. Thinking out of the box. Biarkan anak-anak bertindak dan berfikir yang berbeda dari pengalaman kita, selama tak menyalahi ketentuan Allah. Kita dan mereka tumbuh di zaman yang berbeda bukan?


Proses dari kreativitas itu sendiri bisa kita lihat:

Sedang berkaca pada diri sendiri tentunya dengan berusaha untuk menahan lisan ini atas apa yang anak-anak lakukan. Memberikan keleluasaan tanpa mendikte atau mencecari segala pola tingkah Asma' dan 'Aisyah. Mengapresiasi segala hal meski hal paling kecil sekalipun. Dan selalu bersyukur, sebab Allah selalu menyisipkan jiwa ibu tentunya pada setiap perempuan, alhamdulillah. Maka selama tak menyalahi kehendakNya, masih dalam jalur fitrah, bereksplorasi apapun adalah suatu kreativitas.

Semoga saya dan suami bisa istiqamah dengan jalan apa yang telah kami lakukan selama ini. Dengan ilmu yang selalu hadir pada banyak kesempatan, seperti ilmu pada Bunda Sayang ini menjadi PR kami para orangtua. Ilmu bukan sebatas menambah pengetahuan. Melainkan menambah pada ketaatan kita di hadapan Rabb. 

Jazakumullaahu khaer IIP, pertemuan demi pertemuan menjadi kesyukuran, alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat (segala puji Allah atas segala nikmat kebaikan)


[1] Materi dan diskusi Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional
[2] Menjaga Anak Tetap Kreatif. Khresna Aditya.
[3] Renungan kami, Abi dan Ummi


#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkungCreative
[ Read More ]

3 Maret 2018

Cerita Asma' #4: Bersyukur

Posted by bianglalabasmah at 3/03/2018 11:30:00 PM 0 comments

"Alhamdulillaah, hari ini makannya satu saja dulu ya kak. Kalo habis, ingat bilang alhamdulillaah.." Pesan kami sebelum memberi cemilan.

Asma'Aisyah sejauh ini alhamdulillah manut. No drama-drama. Meski mereka tahu, bahwa cemilan yang mereka punya masih ada. "Yang ini untuk besok ya, Ummi?" Tunjuk Asma' yang melihat saya menyimpan stok cemilan dalam lemari dapur.

"Iya, in syaa Allah." Saya pun tersenyum dan selalu bersyukur karena taufiq dari Allah sehingga putri kami mengerti.

"Kalo nanti habis, Asma' mau berdoa dulu, Ummi. Supaya Allah mudahkan rizki Abi Ummi." Sambung Asma' yang mengulang perkataan saya dan abinya di setiap kesempatan.

"'Aisyah juda (juga) mau be(r)doa." Ujar 'Aisyah yang rupanya menyimak sejak tadi.

"Masyaa Allah.. Barakallaahu fiikumaa kakak Asma' dan 'Aisyah." Saya hanya bisa berbalas doa pada mereka. 

Speechless setiap kali mendapati keteguhan hati mereka.

Hanya butuh kesabaran dalam membersamai mereka, wahai Ummi. Menumbuhkan iman, memelihara dan menggemburkan fitrah mereka sejatinya. Mereka tak lantas seperti ini kalau bukan karena pertolongan dari Allah.

Bukan pula tentang seberapa sanggup kita memberikan kepada anak. Melainkan seberapa mampu menghadirkan sifat qana'ah, merasa cukup atas apa yang ada di hadapan kita. "Harus bersyukur, 'Aisyah.." Ujar Asma' di suatu pagi ketika menghadapi keinginan sang adik yang kadang masih mau meminta jatah lebih dari kesepakatan awal.

Tak jarang kami menceritakan anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung mereka 'alaa bi idznillaah. Demi sesuap nasi, mereka harus menempuh jalan panjang menjajaki jualan gorengan misalnya. (Asma'Aisyah sering kami ajak dialog tentang kondisi ini).

Tentang anak-anak di Palestina, Syria, Myanmar dan di bumi Allah lainnya. Bukan saja menahan lapar dan dahaga. Tapi bertaruh nyawa demi mempertahankan keimanan mereka. Maka bersyukurlah. Tahanlah segala keinginan yang berlebih. Infaqkanlah sebagian hartamu dan panjatkan doamu. Allaahul musta'an


[ Read More ]

21 Januari 2018

Di Balik Rival Siblings #2

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 11:32:00 PM 0 comments


"Asma' dulu yang ngaji."
"Tidak mau. 'Aisyah dulu.."
"Ummi... Asma' dulu yang mau ngaji." Pinta Asma' yang mulai merengek.
"'Aisyah dulu. 'Aisyah dulu.." Sang Adik pun bersikeras. Ia pun tampak histeris untuk mendahului kakaknya.
"Udah mau dimulai ngajinya belum? Afwan kakak Asma', dari kanannya Ummi dulu yang ngaji. Berarti 'Aisyah." Selalu berusaha tidak pilih-pilih. Jadi, mengikuti sunnahnya memulai dari kanan, maka siapa yang berada di kanan itulah yang memulai.

'Aisyah pun mulai mengaji dengan membacakan hafalan surah yang ia sukai. Dan diiringi tangisan Asma' yang masih keukeuh ingin ia didahulukan.

Setelah keduanya mengaji dan saya telah men-talqin 1/4 juz dari juz 29 barulah saya jelaskan bagaimana beradab bila Al Qur'an sedang dibacakan. Termasuk perihal fastabiqul khaerat antar si kakak dan si adik yang berebut ingin didahulukan dalam mengaji dan stor hafalan.

Semoga Allah jaga niat, semangat, kesungguhan, dan keistiqamahan dalam mempelajari Al Qur'an ya.. Aamiinn..


#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day10
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP
[ Read More ]

Menyambut Fitrah Anak

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 11:15:00 PM 0 comments
"Ummi, Asma' mau dibuatkan alif ba ta yang bisa diwarnai." Pinta Asma' di suatu siang.

"Oh iya. Tunggu ya. Ummi ambilkan kertas sama spidol." Saya pun berusaha menyambut permintaan Asma'.

Bagian dari fitrah seorang anak adalah ketika ada keinginannya, maka sambutlah dan pelihara agar tumbuh.

Setelah selesai memenuhi permintaannya, saya memberikan lembaran kertas yang saya buat secara manual dan mendampingi Asma' dan 'Aisyah dalam mewarnai.

Sedang 'Aisyah masih dalam tahapan mewarnai sesukanya. Sekalipun telah dibuatkan pola yang sama seperti kakaknya. Sedang Asma' sudah menunjukkan kemampuan memegang crayon dan mampu mewarnai berdasarkan pola yang ditentukan. Masyaa Allah.

Barakallaahu fiikumaa kakak Asma' dan 'Aisyah..


#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day9
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP
[ Read More ]

Cerita Asma' #2

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 10:59:00 PM 0 comments
Asma' dan 'Aisyah turut latihan
 memanah bersama Abinya sebagai Coach
Beberapa tahun belakangan, suami menekuni olahraga sunnah yang kini sedang naik daun, yaitu memanah. Berawal dari bergabung di salah satu club panahan yang tentunya didominasi oleh laki-laki.

Saya pun turut men-support hobi Suami dan sesekali membiarkan anak-anak turut ke lapangan bersama ayahnya.

Hingga di satu hari, sepulang dari latihan memanah, Asma' menceritakan betapa senangnya ia di lapangan. Tentunya, ketika ke lapangan saya menitipkan segambreng perlengkapan anak pada suami. Mulai dari pakaian ganti, cemilan sampai sepeda dibawa untuk jaga-jaga. Menghindari kejenuhan di lapangan selama berlangsungnya latihan.

"Ummi, banyak temannya Asma' di lapangan masyaa Allah." Lapor Asma' seperti biasanya.

"Masyaa Allah. Terus, Asma' ikut memanah sama teman-temannya Asma' juga?"

"Iya. Seperti begini.." Bak pemanah profesional, ia menunjukkan posisi tegaknya. Kemudian tangan kirinya direntangkan ke depan. Dan menunjukkan posisi tangan kanannya berada didagu ketika akan menaris busur. "Begini Ummi kalo tarik panahnya."

"Masyaa Allaah.. Berarti ikut juga pemanasan?"
"Iya. Seperti begini.. Begini.. Begini juga ada." Jelas Asma' sambil terus memperlihatkan bentuk gerak pemanasan di lapangan tadi.

"Masyaa Allaah.." Selalu dibuat takjub dengan setiap moment bersama putri pertama kami, alhamdulillaah.. "Terus? Nama temannya Asma' siapa? Ada yang Asma' kenal namanya?"

"Ada. Namanya Ustad." Jawab Asma' dengan polosnya.

Saya pun berusaha menahan tawa geli. Maklum, background umumnya para anggota dari club suami adalah aktivis dakwah. Dan sapaan Ustadz bukan hal tabu tentunya. Hingga di tempat latihan pun sapaan Ustadz tetap menjadi bagian dari keakraban antar anggota.

Barakallaahu fiik ya kakak Asma'. In syaa Allaah memanah akan menjadi bagian yang engkau geluti di suatu hari nanti.

#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day8
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP

[ Read More ]

Cerita Asma' #1

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 10:09:00 PM 0 comments
Ada yang punya kemiripan seperti Umminya. Senang mengumpulkan segala printilan yang bisa digunakan kembali. Siapa lagi kalau bukan Asma'.

Salah satunya yang menjadi kebiasaannya  adalah senang mengumpulkan kemasan makanan. Tanpa instruksi apapun putri-putri hafizhah kami menyusun sesuai keinginannya. Masyaa Allah.

"Ummi, Asma' bikin kue buat Ummi." Asma' menarik tangan saya untuk mendatangi tempat yang sedang ia tata sedemikian rupa.

"Masyaa Allaah.. Kue apa ini kakak?" Ucap saya sembari mengambil bagian yang ia tujukan pada saya. Seolah-olah mengicip kue buatan kakak Asma'.

"Onde-onde Ummi. Sama donat." Jawab Asma' bersemangat.

"Masyaa Allaah.. Enak buatannya kakak." Puji saya sambil sesekali memerhatikan tatanan kue ala Asma'.

"Nanti kasih liat Abi nah... Kuenya Asma' yang ini untuk Abi.."

"Iya, in syaa Allaah kalo Abi pulang kantor. Abi suka sekali kue buatan putrinya Abi."


#BasmahThariq
#Level7
#Day7
#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#KeluargaBintang
[ Read More ]

Di Balik Rival Siblings #1

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 08:16:00 PM 0 comments
Belum genap usia dua tahunnya Asma', lahir adiknya, 'Aisyah dengan segala perhatian dan kasih sayang sang kakak yang mulai terbagikan. Ditambah dengan perkembangan si adik begitu melesat masyaa Allah hingga sering dianggap kembar ketika Asma' dan 'Aisyah sedang bersama.

Ada upaya dari kami, saya dan suami untuk tidak membanding-bandingkan keduanya. Mengingat setiap anak adalah unik. Mereka berkembang dengan segala keunikannya masing-masing. Maka membandingkan antara si kakak dengan si adik akan menumbuhkan persaingan, atau lebih dikenal dengan istilah rival siblings.

Sekecil apapun yang dilakukan oleh putri kami, maka kami mengupayakan penghargaan setinggi-tingginya. Dan tidak menyebut kekurangan anak tersebut di hadapan saudaranya. Berusaha tidak membandingkan, terlebih menyudutkan yang akan menjatuhkan harga diri dan kepercayaan anak.

Semisal menghindari kalimat:
"Ayo, habisin makanannya 'Aisyah. Itu kakak Asma' udah habis nasinya."


Mengganti dengan menggunakan kalimat:
"'Aisyah, makanannya dihabisin nak. Wa laa habbah*. Ada berkah di sisa makanan terakhir."


Sejauh ini alhamdulillaah mendapat respon dari anak-anak yang bersegera mengikuti instruksi yang membangun. Tanpa ada yang disudutkan maupun dilukai. Dan semoga lisan kami selalu Allah mudahkan dalam berujar kebaikab dengan penuh hikmah.


#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day6
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP



*tak sebiji = tidak bersisa
[ Read More ]

Cooking Class ala Asma'Aisyah

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 08:15:00 PM 0 comments
"Ummi, kalo ke pasar, Asma' titip dibelikan tempe ya. Minta tolong.. Supaya Asma' bisa potong-potong tempenya sama sayurnya."

The real cooking class namanya kalau begini ya. Langsung terjun di dapur rumah, mengenal segala alat dapur secara bertahap bagi Asma dan 'Aisyah, alhamdulillaah bi idznillaah.

Alhamdulillaah.. Senang rasanya ketika putri sulung kami mulai meminta dirinya dilibatkan dalam beberapa hal. Termasuk urusan dapur. Sebatas memotong tempe misalnya. Atau memetik sayuran. Sampai membantu mengambilkan segala keperluan masak baik dari kulkas maupun lemari piring.

Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Asma' dan 'Aisyah yang merasa dilibatkan, dipercayakan dalam melayani keperluan dapur.

Barakallahu fiikumaa ya kakak Asma' dan 'Aisyah.. Ummi sangat terbantu dengan semangat dan sikap kalian sekecil apapun.


#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day5
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP

[ Read More ]

Membuat Mozaik Pizza

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 04:58:00 PM 0 comments
Asma': "Ini plastik warnanya untuk siapa, Ummi?" (Sambil menunjuk plastik mika yang sedang saya pegang)


Ummi: "Ini plastik mika untuk kakak Asma' dan 'Aisyah ya."

Asma': "Mau dibikin apa?"

Ummi: "Terserah kakak Asma' sama 'Aisyah mau dibikin apa. Ini Ummi siapkan gunting, lem, sama piring kertas."

Asma': "Digunting baru ditempel-tempel di piring ini, Ummi?"

Ummi: "Boleh. Sesuka kakak Asma' sama 'Aisyah. Yang penting saling pinjam lem sama guntingnya."

Saya pun melihat dan sesekali mengarahkan Asma' dan 'Aisyah dalam prakarya. Selalu senang bila dipercayakan membuat sesuatu. Mampu tahan beberapa lama ketika menggeluti aktivitasnya. Berusaha tidak mendiktekan mereka selama dalam batas aman.

Asma': "Ummi, kayak bikin pizza."

Ummi: "Pizza? Oh iya, yang ada toppingnya ya. Masyaa Allaah.." (Saya takjub. Padahal saya ingin sampaikan bahwa karya yang sedang mereka buat ini seperti mozaik.)


#BasmahThariq
#Level7
#Tantangan10Hari
#Day4
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP

[ Read More ]

Outing

Posted by bianglalabasmah at 1/21/2018 04:29:00 PM 0 comments
Ada yang selalu berbinar bila diajak keluar rumah. Maklum, Asma' dan 'Aisyah anak rumahan. Aktivitasnya kebanyakan di dalam rumah. Kalaupun keluar rumah, hanya sebatas di pekarangan rumah saja.

Dengan mengajak Asma' dan 'Aisyah bersepeda, memberi makan pada ayam-ayamnya, menyiram tanaman, dan lari-lari membuat mereka senang.

Sesekali mengajak mereka ke pasar, melibatkan mereka dalam beragam kegiatan luar yang mengasah motorik kasarnya. Tak lupa menyisipkan iman dengan banyak berdialog tentang alam, lingkungan, dan orang-orang yang mereka jumpai.

"Nak, seberapa langkahmu menjauh nantinya, tetap ingat untuk kembali."


#BasmahThariq
#Level7
#Day3
#Tantangan10Hari
#KeluargaBintang
#KuliahBunsayIIP
[ Read More ]

17 Januari 2018

Berfastabiqul Khaeratlah, Nak!

Posted by bianglalabasmah at 1/17/2018 09:31:00 AM 0 comments
Saat ini sedang menikmati masa-masa duo-A hafizhah kami yang saling ber- fastabiqul khaerat, masyaa Allah. Tidak lengkap rasanya bila hal apapun termasuk yang paling sepele bisa menjadi 'heboh' karena ingin semuanya dilibatkan. Semisal, kami meminta tolong Asma' mengambilkan popok untuk Afra'. Ada ' Aisyah yang turut bergegas tuk memenuhi permintaan tsb. Begitu pun sebaliknya.

Maka, tak sepantasnya pula kami mematikan semangat fastabiqul khaerat yang fitrahnya ada pada setiap anak. Berusaha selalu mengapresiasi apapun keadaan dan usaha yang mereka telah lakukan dengan banyak melafazhkan doa di hadapan mereka. Agar tetap merasa selalu dihargai. Bila perlu, tanpa sungkan kami menyempatkan salim tangan duo-A hafizhah atas kebaikan yang telah mereka lakukan, alhamdulillaah bi idznillah.

"Syukran kakak Asma' dan kakak 'Aisyah yang sudah ambilkan popok adek Afra'. Jazakumallaahu khaer. Semoga Allah membalas kebaikan kakak Asma' dan kakak 'Aisyah. Menjadikan kalian shalehah hafizhah qurrata a' yun birrul walidaynnya abi ummi.." Doa panjang dan berusaha lengkap selalu saya dan suami ucapkan di hadapan mereka meski harus ngos-ngosan . Tapi hasilnya, mereka tak bosan ber-fastabiqul khaerat ala duo-A hafizhah. Tidak terlepas aksi heroik yang menegangkan urat kala berfastabiqul khaerat mereka, menahan emosi untuk mencoba menghadapi kenyataan mereka ya anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya. 


#BasmahThariq
#Tantangan10Hari
#Day1
#Level7
#BintangKeluarga
#KuliahBunsayIIP
[ Read More ]

22 Desember 2017

Math with Iman (Part 3)

Posted by bianglalabasmah at 12/22/2017 11:52:00 PM 0 comments

Alhamdulillah, Asma' dan 'Aisyah sudah lama bisa menyebutkan angka 1-10. Memperkenalkannya bukan sebuah kesengajaan. Hanya cukup menyebutkan secara berulang ketika hendak melakukan sesuatu. Kemudian menjadi kebiasaan yang tanpa kami sadari, mereka sudah merekam dengan baik dan hafal secara berurut.

Berawal dari senang bertanya, maka saya buatkan angka 1-9. Kemudian memperkenalkan simbol angka satuan. Sesekali diajak menebak simbol angka, menentukan jumlah, dan sebagainya. 







Setelah mengenal simbol angka yang dilakukan sebelumnya, Asma' masih perlu dikuatkan dengan permainan yang melekatkan angka dengan sekitatnya. 


πŸ“ŒBerapa mata Asma'?
πŸ“ŒAda berapa kaki/tangan Asma'?
πŸ“ŒAda berapa buku Asma'?
πŸ“ŒAda berapa boneka helloki**nya Asma'?
Dst

Jawabnya bisa menyebutkan angka sekaligus menunjukkan simbol angka yang dimaksud.

Yang paling saya suka itu ketika ditanya, 

πŸ“Ada berapa rukun Iman? 

πŸ“Ada berapa rukun Islam?

Yang paling seru ketika ditanya,
πŸ“Asma' mau punya adek berapa?



Dan ia menginjakkan kaki pada foto tsb. πŸ˜†πŸ˜† Sembari menjawab, "Seperti adek Ahmad, Ummi naah.. In syaa Allah." Kids jaman now, masyaa Allah.. Edisi mujahidah mendambakan saudara yang mujahid ya.. 





Setelah cukup mengenal angka 1-9, Asma' pun perlu tahu tentang jumlah benda.pada angka tersebut. Sesekali mendrngarkan coletah Asma' yang sedang membagi stik es kri.nya ke dalam kotak-kotak. "Asma mau' kasih stik esnya dua untuk di sini." Ujarnya sambil menata stik di kotak tegel yang ia maksud.

Barakallaahu fiik ya kak.. Selalu ada cara yang menarik untuk dipelajari.😊😊😊 





Buat #busybook ini dari zaman kapan, tapi belum kelar-kelar juga. Berhubung momen tugasnya berkaitan ini, saya pun mengeluarkan busybook ini yang sudah dinantikan lama oleh duo-A hafizhah.

Betapa bahagia keduanya masyaa Allah sampai berebut ingin buat pizza, kata Asma'Aisyah. Eits, topping pizzanya harus disesuaikan dengan angkanya ya kakak Asma'Aisyah. "Kenapa?" Tanya 'Aisyah.

"Supaya nanti Asma'Aisyah tau, kalo pizzanya ada potongan tomatnya yang sedikit, ada juga yang banyak.. "
"Pake lombok (sambal) duda (juga)?"
"Iya kalo mau. Tapi nanti 'Aisyah kepedesan. Ssh.. Ssh begitu.Makanya Ummi cuma pake tomat aja. Dihitung ya nak.."πŸ˜„πŸ˜„ 





Alhamdulillah, salah satu kesyukuran terbesar kami memutuskan #homeeducation 3A hafizhah di rumah. Belajar menjadi fitrah anak sejatinya yang bisa tumbuh tanpa ada paksaan. Datang berawal dari ketertarikan, keinginan, kebiasaan, dan sampai keteladanan.

Sambutlah!
Seperti sebelumnya, kami telah mengenalkan simbol angka dan jumlah stick angka bila disandingkan pada benda. Saat saya sedang santai menemani Afra' belajar duduk dan berdiri, tetiba Asma' mengeluarkan angka-angkanya dan mengurutkan secara mandiri sambil menyebutkannya. 

Masyaa Allah, jadilah pembelajar yah nak. Meski ruang kelasmu tak bersekat. Di setiap sudut ruang dan waktu ada kesempatan untuk belajar nak. Ambillah ilmu untuk menambah kebaikan dan ketaatan di hadapan Allah yah.. Barakallaahu fiik 😊😊 








Saat ini, berupaya mengenalkan Rukun Islam dan Rukun Iman serta menyebutkan jumlah rakaat shalat secara rutin. Perlu? Iya.

Buatlah anak-anak lebih kenal Rukun Iman dan Islam. Bila perlu, jadikan senandung di keseharian anak-anak terutama 0-7 tahun. Karena fase ini, mereka merekam dangat baik. Setelah 7 tahun, memasuki fase tamyiz, berikan pemahaman secara bertahap. Sisipkan dalam mata pelajaran matematika kehidupan 😊. Saya suka sampaikan pada Asma' dan 'Aisyah, atau melapor tepatnya πŸ˜…πŸ˜…bila hendak shalat, "Ummi mau shalat Subuh, ada dua rakaat."

"Syahadatain itu dua kalimat syahadat."

"Shalat itu Rukun Islam yang kedua."

"Iman kepada Allah itu yang pertama. Jadi kalo Asma' lagi sakit, minta sama Allah dulu. Berdoa. Baru sama Abi Ummi.."

Begitu pun suami saya setiap akan ke masjid, berusaha pamit ke anak-anak dan menyampaikan shalat apa dan berapa jumlahnya. Gak masalah bagi kami, mereka saat ini mungkin belum paham, tapi memfamiliarkan akan membantu memudahkan bila kelak mereka mulai menyadari akan hal tsb.

Maka, bagi kami sebagai orangtua, belajar agama itu gak mentok hanya shalat kita yang sudah in syaa Allah rutin dilakukan. Puasa udah terlaksana. Zakat pun demikian. Bukan sebatas itu. Luaaaas masyaa Allah. Islam rahmatan lil 'aalamiin. Bisa masuk di setiap lini kehidupan.







'Aisyah yang serba dua dalam hal menjawab. Maka saya selalu mengajukan pertanyaan padanya yang jawabannya akan sama dengan realitanya. *bahasa apah ini..?* Jadi, pertanyaannya bisa begini:
U: Berapa Allah ciptakan mata untuk adek Afra'?
A: Dua.
U: Coba tolong ditunjuk mana mata adek Afra'!
A: Ini. Satu. Dua.
U: Masyaa Allah.. Terus, ada berapa kaki Ummi yang Allah ciptakan?
A: Ada dua.
U: Mana coba? Tolong ditunjuk?
A: Ini kaki Ummi. Satu kanan, satu kiri.
U: Masyaa Allah. Barakallaahu fiik kakak ' Aisyah.. Dst


[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea