11 November 2015

Oleh-Oleh Seminar Pendidikan Finansial Sejak Dini

Posted by bianglalabasmah at 11/11/2015 10:55:00 PM 0 comments
Seminar murah yang tidak murahan ini di gagas oleh Smart Mom Community dengan pembicara Yuria Pratiwi Cleopatra alias the famous Teh Patra. Tempatnya di sebuah rumah yang homy di Jalan Layar 10 Arcamanik tanggal 7 November 2015.

Selain materinya menarik, saya juga sebenarnya penasaran sama si Teh Patra. Siapa sih beliau? Ternyata si ibu cantik adalah adik kelas saya di ITB. Ia jurusan Sipil angkatan 1996. Hebatnya dimana? Di anak-anaknya yang jumlahnya 4 orang itu! Teh Patra senang berbagi pengalamannya membesarkan ke-4 anaknya yang kini berusia 18 tahun, 14 tahun, 13 tahun dan 3,5 tahun. Ke-4 anak ini juga mendapatkan pendidikan Homeschooling dari orang tuanya.

Sempat heran juga, kenapa angkatan 1996 bisa punya anak umur 18 tahun? Lah saya angkatan 1993 anaknya baru 8 tahun. Dimana letak kesalahannya? Ternyata salahnya di tahun pernikahan. Ketika saya masih galau dengan tugas kuliah, Teh Patra sudah menikah di tingkat 1. Dengan orang seangkatan saya lagi. Ketika saya wisuda di ITB hanya dengan didampingi orang tua, Teh Patra wisuda dengan Pendamping Wisuda pasukan lengkap:  1 suami, 2 anak dan 1 bayi. Padahal kami sama-sama nyangkut di Ganesha 10 semester. Kelihatan kan bedanya? Jadi dalam urusan pengalaman ngurus anak dan keluarga, kudu lah kita berguru.

Dalam sharing selama 1 jam, ibu jebolan ‘jalur sutra’ SMP 5 – SMA 3 – ITB  ini berbagi pengalaman tentang bagaimana mempersiapkan anak mandiri dan cerdas secara finansial. Membuat anak cerdas finansial itu BUKAN semata-mata mengajarkan anak BERDAGANG. Catet ya! Tapi lebih ke arah mempersiapkan mental enterpreneurship anak.

Sekitar tahun 2011 Teh Patra dan suaminya sempat berjalan-jalan dan menemukan seorang penjual kue lupis dan putu yang enak. Tapi sayang pembelinya terbatas karena belum banyak yang tahu. Saat itu Teh Patra memiliki ide, yang kemudian dituangkan dalam bentuk proposal kepada suatu departemen untuk memfasilitasi si penjual makanan dan para pembeli dengan menggunakan jasa ojek pangkalan. Proposal itu ditolak. Ide pun tenggelam.

Dan di tahun 2015, muncul lah yang namanya Gojek. Idenya persis sama dengan ide Teh Patra. Tapi eksekusinya beda. Teh Patra hanya bisa ngelus dada, “Mungkin di situ bedanya lulusan Harvard dan ITB.”

Itulah mengapa mental enterpreneurship perlu di asah. Ide boleh sama, hasil bisa jadi sangat jauh berbeda ketika kecerdasan finansial dipahami sejak awal. Jangan sampai anak-anak kita hanya bisa mengelus dada dan menjadi penonton di masa depan ketika ide-ide briliannya dieksekusi oleh orang lain.

Anak adalah aset dan investasi masa depan. Coba renungkan, maukah teman-teman menukar anak tersayang -  yang sangat nyebelin ketika ngambek, dengan sebuah Lamborgini terbaru? Rasanya kalau masih waras, jawabannya tentu tidak.

Mandiri

Dalam Islam tidak ada itu istilah remaja. Tidak ada itu istilah remaja yang lagi puber, labil, dan sejenisnya. Islam hanya mengenal istilah anak baligh dan belum baligh. Anak yang sudah baligh adalah anak yang mandiri dan bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Semestinya kita tidak perlu mengenal anak usia baligh yang masih selalu minta dilayani, makan disiapkan, baju dicucikan, sekolah dianterin, uang dikasih, atau kemanjaan-kemanjaan yang tidak perlu lainnya.

Kemandirian adalah salah dasar penting dalam mengembangkan mental enterpreneurship. Berikut sejumlah dalil mengenai kemandirian dalam Islam:


“Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak, kemudian memanggul kayu bakar dan memikulnya di atas punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau di tolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. dan sesungguhnya Nabi Daud AS dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR Bukhari)

“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR Ibnu Majah)

Ada sebuah cerita dimana seorang anak yang telah dewasa dan berkeluarga namun ia masih diberikan segala kebutuhannya oleh ibunya. Jika merupakan uang si ibu pribadi, itu bisa dinilai sebagai sedekah. Jika merupakan uang keluarga, sedangkan si ayah tidak tahu apalagi merestui, itu bisa dikategorikan pencurian.

Tanamkan pada anak untuk tidak menjadi BEBAN SOSIAL  bagi orang lain. Tidak menjadi beban ibunya, tidak keluarga lainnya, apalagi masyarakat.

Masalahnya sering ada pada IBUNYA. Sebagai ibu, kita ini yang paling tidak tegaan sama anak. Terasa kan beratnya ketika mulai menyapih, membantu mereka belajar jalan atau makan, memenuhi permintaan mereka. Seorang ibu akan selalu punya kecenderungan untuk memberikan kenyamanan buat anaknya.

Ketika anak-anaknya kecil, Teh Patra tidak pernah membiasakan anaknya jajan. Ketika orang lain jajan, anaknya tetap tidak diberikan jajan. Sampai anaknya nangis-nangis juga nggak dikasih. Terkadang si nenek yang ikut lemah dan ingin memberikan.

Anak-anaknya protes, “Itu anak orang lain dikasih jajan kok.”

“Ya udah, kamu jadi anak orang lain aja,” kata si Umi.

Tapi sebagai gantinya, Teh Patra memberikan hal-hal yang anak lain tidak dapatkan untuk anak-anaknya, seperti buku atau barang-barang penting lainnya, sambil memberi penjelasan, “Umi nggak ngasih bukan karena nggak punya uang atau nggak sayang, tapi karena Umi ingin kamu dapat yang lebih baik.”

Ketika kita tidak melatih anak mandiri, “Yang repot itu ibunya.”

Anak-anak usia baligh itu semestinya sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak ada lagi ibunya jungkir balik melayani dan menyuapi anak-anaknya.

Pegang anak tertua, dan biasanya adik-adiknya akan mengikuti.

Mental enterpreneurship

Sekali lagi, kecerdasan finansial bukan sesederhana anak dikasih barang dagangan dan jualan. Tapi yang lebih penting lagi adalah melatih mental/karakter enterpreneurship anak seperti kejujuran, keramahan sosial, kemampuan bekerjasama, tidak egois, tanggung-jawab dan memikul konsekuensi, inovatif dan kreatif. Ada banyak nilai penting dari mental enterpreneurship.

Ok, sekarang kita bahas satu-satu ya.

Kejujuran

Anak itu cenderung tidak jujur karena merasa dirinya terancam.  Biasanya ketidakjujuran mulai terjadi pada usia 3 tahun keatas. Coba apresiasi anak yang jujur, jangan dimarahi. Biarkan anak nyaman bicara dan terbuka  dengan kita. Walau terkadang jujur itu menyebalkan. Terutama jika ia menyampaikan hal yang tidak penting kita ketahui. Gampang banget bikin darah kita naik.

Disamping itu, sebagai orang tua kita pun harus membiasakan jujur. Jujur pada diri sendiri yang utama. Ini yang susah kan ya. Jangan biasa mengancam dan membohongi anak.

“Nanti Mama belikan permen ya kalau nggak nakal.” Walau anak tidak menagih, kita harus amanah dengan janji kita. Jangan sampai anak merekam bahwa orang tuanya berbohong dengan menjanjikan sesuatu yang tidak ditepati.

Sopan dalam hubungan sosial

Terkadang dalam berdagang, transaksi dapat terjadi karena kita memiliki ketertarikan personal terhadap penjualnya. Penjual yang ramah lebih disukai daripada penjual yang jutek.

Kemampuan bersosialisasi dan ramah dengan orang lain bisa dilatih dari kecil. Terkadang ada anak-anak yang begitu pemalunya. Biasanya semakin parah jika diberi label oleh lingkungan sebagai “Pemalu” di keningnya. Anak akan lebih tertekan kalau ibunya mulai merasa terganggu dengan omongan orang. “Anakku tidak pintar”, “Anakku pemalu”, “Anakku nakal”, “Anakku pendek”. Ibunya stress anaknya yang jadi korban ikutan stress.

Bijaknya, orang tua bisa membantu anaknya untuk menyikapi labeling sosial itu. Buat anak nyaman dengan dirinya. Keluarkan potensi anak. Ajak anak bicara. Untuk anak yang masih kecil, bisa juga dengan cerita-cerita inspiratif atau bermain role model dengan boneka tangan.

Sportif

Dalam berbisnis kita perlu kemampuan untuk bisa bekerja sama. Tidak saling menjatuhkan dengan orang lain. Memang ada 2 cara untuk sukses. Cara pertama kita kerja keras, cara kedua adalah dengan menjatuhkan lawan.

Ini bisa dilatih dengan mengajarkan anak untuk tidak jadi pengadu. Anak-anak itu terkadang suka mengadu, dan merasa menang jika aduannya membuat orang lain jadi dimarahi. Jika ketemu kasus seperti ini, coba si pengadu ditegur terlebih dulu. Disampaikan bahwa ia tidak seharusnya mengadu, tapi malah harus mengingatkan saudara atau temannya terlebih dulu.
Kita perlu mengajarkan anak untuk bisa kompak dan bukannya saling menjatuhkan satu sama lain.

Belajar tidak berhutang

Ajarkan ke anak, jangan beli sesuatu jika kamu tidak punya uangnya. Tapi mungkin susah ya kalau orang tuanya masih punya hobi berhutang.

Profesional

Latih anak untuk menjadi profesional di bidangnya dan mengeluarkan potensi terbaiknya. Jangan terlalu mudah memanjakan anak dengan pujian.

Tanggung jawab dan konsekuensi

Pada suatu hari anak Teh Patra menelpon, “Umi, tolong jemput di depan kompleks dong”
“Emang kenapa?”
“Saya nggak punya uang untuk naik angkot?”
“Emang uangmu kemana?”
“Tadi dikasihkan ke orang yang butuh”
“Kenapa dikasihkan semua? Kenapa tidak disisakan sebagian untuk ongkos kamu pulang?”
“Nggak kepikiran Umi”
“Ya udah, kalau begitu kamu harus bisa menanggung konsekuensinya. Ketika kamu berbuat baik, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Jangan jadi Umi yang ketempuhan suruh jemput kamu. Kalau begitu yang berbuat baik bukan kamu, tapi Umi.”

Anak sejak dini harus belajar dengan yang namanya konsekuensi dan tanggung jawab dari apa yang dia kerjakan. Bukan melimpahkannya kepada orang lain. Anak harus tahu konsekuensi logis dan sosial dari perbuatan yang dilakuannya.

Tidak menaruh mainan ditempatnya – rumah berantakan, mainan susah dicari.
Banyak makan permen atau jajanan tidak bergizi  – gigi sakit, badan tidak sehat.

Pada anak kecil, hal seperti ini perlu dilakukan berulang-ulang. Menurut Ibu Elly Risman perlu perulangan  ribuan kali biar nyantol di otak anak. Jadi jangan bosen mengulang-ulang.

Pada anak yang sudah besar, ia harus mulai belajar konsekuensi dari kemandirian.
Tidak mau mempersiapkan makan – tidak makan.
Tidak mau mencuci pakaian – tidak ada pakaian bersih.
Tidak cari uang – tidak punya uang.

Usahakan anak dari kecil tidak dibiasakan dengan mendapatkan apa-apa dengan mudah. Sejak bayi sudah di manja pakai barang branded, padahal mengerti pun tidak.

Orang tua berkewajiban memenuhi KEBUTUHAN, sedangkan KEINGINAN anak harus diusahakan sendiri oleh si anak.

Kewajiban orang tua harus segera diberikan kepada anak, jangan menunggu anak sampai meminta-minta. Beri teladan anak untuk menyegerakan kewajiban.

Reward uang bisa diberikan oleh orang tua kepada anak untuk pekerjaan yang orang tua biasa membayar orang lain. Misalnya daripada membayar daycare, bisa diganti dengan membayar si kakak untuk jaga adiknya. Atau bayar anak untuk bantu membersihkan rumah dan cuci mobil. Untuk hal-hal yang sifatnya kewajiban anak, tidak perlu dibayar. Disinilah perlunya rapat keluarga untuk membahas apa yang menjadi kewajiban setiap anggota keluarga.

Kita juga perlu mengajarkan anak untuk realistis. Bukan berarti mematahkan semangat anak tapi mengajarkan anak realitas yang mereka perlu persiapkan.

Ketika anak tertuanya menyampaikan ingin belajar ke AS, Teh patra hanya bilang:
“Kuliah disana mahal, uang Umi tidak sampai segitu. Sekolah di Eropa lebih murah.”

Dengan demikian anak jadi bisa lebih kreatif dengan berusaha mencari beasiswa dan kemungkinan pendanaan lainnya. Orang-orang yang survive dalam keterbatasan biasanya lebih sukses dalam hidup dibanding orang yang biasa hanya disuapi oleh orang tuanya.

Praktek berjualan

Kapankah anak siap melakukan transaksi keuangan? Ketika anak itu mengerti dan paham akan uang dan barang. Jangan memaksakan anak yang ngomongnya saja masih belum jelas untuk bertransaksi di warung misalnya. Kan kasihan penjualnya.

Dalam berjualan, anak harus mengenal  dan memahami konsep keuangan seperti modal, biaya produksi dan keuntungan. Jadi tidak ada cerita anak dagang, barang habis uang tak ada.

Konsep balik modal ini perlu ditanamkan. Misalnya ketika anak minta les berenang. Ia harus mengerti bahwa les berenang itu ada biayanya, dan biaya itu harus bisa kembali. Bisa dengan mengajarkan adik-adiknya atau lainnya. Setiap keahlian yang didapat harus bisa menjadi produktif. Jadi tidak ada cerita 2 kali ikut sudah bosen. Harus ada komitmen yang jelas, jika tidak bisa saja uangnya diminta kembali. Segala sesuatu harus dikerjakan sampai tuntas. Jangan setengah-setengah.

Orang tua bisa segera memfasilitasi minat anaknya. Jangan dibiarkan momennya lewat. Misalnya anak tertarik dengan menggambar atau berenang, maka bantu anak mencari orang-orang untuk mengembangkan ilmu itu. Bisa dengan mencari teladan dan kisah sukses orang lain, memfasilitasi les, games, outing atau magang.

Apakah jiwa bisnis hanya bisa diturunkan oleh orang tua yang berbisnis? Bagaimana kalau orang tuanya Dosen, PNS, dan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan dagang?

Untuk kesekian kalinya, jiwa enterpreneurship itu bukan hanya urusan dagang. Melainkan ke arah membuat sesuatu memiliki nilai lebih dan bermanfaat bagi banyak orang. Dosen yang tidak memiliki jiwa enterpreneurship bisa jadi hanya makan uang gaji saja, tapi dosen dengan jiwa enterpreneruship bisa mengoptimalkan ilmunya dengan membuat seminar dan mengamalkan ilmunya dengan cara yang lebih kreatif.

Demikianlah sedikit oleh-oleh dari pertemuan seru hari ini. Terima kasih sekali kepada Teh Patra yang sudah membuka wawasan saya mengenai sejumlah hal. Termasuk juga terima kasih banyak atas tumpangannya seusai acara sehingga memungkinkan obrolan-obrolan lanjutan yang seru sepanjang perjalanan.  


Semoga bermanfaat buat teman-teman semua.

sumber dari blog Shanty Belajar Menulis
[ Read More ]

Seperti Sepanjang Jalan Kenangan

Posted by bianglalabasmah at 11/11/2015 10:35:00 PM 0 comments

Ketika membuka lembaran ms.word pada laptop, saat itu juga saya bingung ingin menuliskan apa. Padahal setiap ada rasa-rasa ingin menulis, banyak sekali yang terlintas. Tapi, saat duduk manis berhadapkan dengan laptop, langsung hening.Bingung. Zing!


Memulai dari mana ya? Begitulah kira-kira yang selalu terulang dalam benak.


Usia pernikahan menginjak tahun ke-3 lebih beberapa bulan, segala cuaca menghias dalam rumah tangga. Tentunya kebingungan untuk memulai, membiasakan kembali dengan menulis, mengurai apa-apa yang pernah terlewati bukanlah hal mudah. Seperti sepanjang jalan kenangan. *Uhuuk!

Pernikahan, masa saling mengenal dengan suami, kehamilan dan kelahiran yang telah dilewati dua kali alhamdulillah membawa cerita masing-masing. Tuh, banyak yang terlewati. Seperti sepanjang jalan kenangan. *apasih

Alhamdulillah, bisa memulai tulisan ini pun sudah bersyukur banget. Dengan kondisi yang tak sendiri. Ada iringan tawa dan tangis anak yang sesekali menjadi backsound tulisan ini. Tak jarang, tulisan ini harus beberapa kali terhenti mana kala harus mem-bobo-kan 'Aisyah, anak kedua saya. Setelah terlelap, baru beberapa kata disinggahi di laptop, kembali si kakak, Asma' yang meminta ini dan itu. Alhasil, tulisan ini berkali-kali harus melewati masa delay. *Sepenting apakah tulisan ini?

Paling tidak, menyinggahi tulisan ini untuk menyimpan yang semestinya. Saya berusaha akan menyisir cerita itu satu per satu. In syaa Allah. Kata teman, "Biar gak mampet aja.." Iya sih, terasaaa gak nulis itu kayak ada yang ganjal di hati. Beberapa kali tersimpan di ponsel, qadarullah, ter-delete..


Dan seperti sepanjang jalan kenangan, ada syukur, cinta, dan sabar menjadi tarbiyah kehidupan. Semoga Allah selalu memberkahi tiap-tiap keluarga muslim, sakinah ma waddah wa rahma.

Salam Cinta
Ummu Asma'
[ Read More ]

4 Juni 2014

KelasTerakhir

Posted by bianglalabasmah at 6/04/2014 11:01:00 AM 1 comments
Tentang waktu; ia tak akan pernah memulangkanmu kepermulaan detik menit yang menderit. Kalaupun iya, ia hanya mengembalikanmu dalam bayang-bayang pikiran, pandangan, dan pendengaran. Kemudian merangkulnya dalam bait-bait cerita.

KelasTerakhir
Selepas mata mengerahkan pada kelas  yang pernah terlalui dibeberapa waktu lalu, naluriku ingin menarik-narik kembali tentang banyaknya ‘pertemuan’. Tak pernah menyangka, bahwa seringkali perkuliahan mengajakku bergegas menyaingi waktu fajar. Menanti dosen, tugas yang menggugat, dan jarak antara kuliah ke kuliah dengan perentangan waktu yang berkepanjangan. Hanya untuk menemui kembali setumpukan tugas yang akan bisa berlama-lama berhadapan dengan buku, laptop, kelas, dan anak.

Menemui zona ..si, ..si, ..si tak lepas dari menguras energy dan emosi. Dan menjadi tetap, bahwa kesemuanya akan berakhir. Akhir dari perjalanan sebuah kelas yang disuguhi bersama, akhir dari perkuliahan hasil eksekusi di beberapa semester lalu untuk menyingkatkan waktu, dan akhir dari pertanda kita lepas dari penantian dosen yang jamak dilakukan.

Rupanya masih banyak kisah mengendap yang hanya bisa dibawa pecah oleh senyum, tawa, dan tangis. Ketika pertemuan terakhir seorang dosen berujar dengan perasaan tertahannya di hadapan kami, “Kalian, akan berakhir dengan segera in syaa Allah..” Lalu, di sudut mata beliau menitikkan air mata kesedihan bercampur bahagia. Saat itu, ada yang baru tersadar betapa gegasnya waktu berlari dari pergerakan kita. Sedang untuk berbenah menyimpan memori kelas-kelas yang terlalui pun sungkan. Kemudian, lagi dan lagi hanya bisa meratapi semua dengan kenangan. Bergegas mengejar tugas akhir untuk meraih mimpi-mimpi selanjutnya.

Karena kita pernah ada, bertemu, dan bersama; “Maukah kita akhiri dengan tetap menjalin keberadaan ini, bertemu dan bersama?”

Untukmu juga untukku; yang sama-sama ingin meraih S.Pd, juga semoga ridha Allah ta’ala.                    

Setelah berbilang bulan, tulisan ini baru bisa menyapa.

[ Read More ]

30 Mei 2014

Kembali

Posted by bianglalabasmah at 5/30/2014 08:01:00 PM 0 comments
Assalamu’alaikum..
Hai, aku hanya merasa kita sudah cukup lama tak berjumpa di sini, di rumah bianglala-ku. Setelah bertambahnya status yang kulalui, tepatnya hampir dua tahun lalu memenuhi separuh dien (agama), rumah ini memang tak terurus. Sesekali hanya mendapati pertanyaan-pertanyaan di luar tentang rumah ini yang tak juga menyimpan cerita.

Kembali..
Sebenarnya, satu kata ini yang menyeret-nyeretku untuk menemuimu lagi disini. Aku begitu gugup untuk memulai. Mungkin karena waktu, atauu, ah.. alasan ini hanya membuatku ingin mengulur banyak pekerjaan saja. Ya sudahlah, aku memang harus kembali untuk sesuatu yang penting dan genting!

Dan mulai detik ini, aku kan kembali..
Untuk mengikat kata-kata yang nyaris terlumat oleh waktu. Mengingatkan diri bahwa ada tulisan yang memang harus dituntaskan. Ya, hampir di waktu yang bersamaan, tak hanya mengakhiri masa lajang, tapi aku juga sedang menuju masa akhir di kemilau kampusku. Walau dengan tersendat-sendat, qadarullaah wamaasyafa’al, ada yang harus kujalani terlebih dahulu sebelum benar-benar mengakhiri masa kuliah. Dan di antara waktu tersebut, lagi-lagi tak sempat menyinggahi cerita di rumah ini.

Berharap perjalanan di kisah akhir kemilau kampus ini bisa tersampaikan dengan sekembalinya aku di sini. Paling tidak, membiasakan kembali berkutat pada laptop, buku, dan tulisan. Agar sederet mimpi yang mulai bergumul di benak bisa kuraih selanjutnya. Aamiin..

Dan, sekembali dari rumahku ini, semoga ada kebaikan yang bisa didapatkan. Kita saling mendoakan untuk diberikan kemudahan disetiap kebaikan yang bermuara padaNya. Maafkan atas spasi-ku yang berbilang bulan.


Makassar, 30 Mei 2014



[ Read More ]

2 Januari 2013

S P A S I

Posted by bianglalabasmah at 1/02/2013 03:05:00 PM 9 comments

Adakalanya kita harus mengerti perihal sekecil apapun. Bahkan sesuatu celah yang tak pernah kita bahasakan. Pun dengan kekosongan yang membuat kita tak menaksirkan maksud dan tujuan. Entah ada sikap abai, atau sikap menghindar untuk sesuatu yang selalu ada dalam hidup. Baik secara tersirat maupun tersurat untuk kita saling memahami.

S P A S I
Ini selalu menjadi waktuku membuat spasi di setiap tulisanku, terutama ketika harus menyusun kata demi kata. Menganggap itu semua tak pernah lengah tentang spasi-spasi yang ku selipkan di sana. Agar yang membaca mudah mengerti.

Seperti yang selalu terlihat, spasi ada di antara setiap kata yang tak pernah berhenti. Spasi, sesuatu yang memang diperuntukkan pada ruang nafas ketika setiap kita mengeja kata demi kata. Mengisi cerita tentang kehidupan yang dihembuskan dari masing-masing rasa. Untuk waktu-waktu yang disesuaikan, agar bisa mengisi hening di antara kata-kata.

Adalah spasi yang menjadi perantara, yang ditempatkan di antara untuk mengantar tiap-tiap kata yang tersusun. Kemudian mengutuh menjadi suatu kalimat, paragraf, hingga cerita.

Meski di satu waktu, aku pernah menginginkan setiap tulisanku tak ber-spasi, agar kau datang kepadaku dan bertanya, "Apa maksud dari tulisanmu ini?" Lalu membiarkanmu tetap dalam ketidakmengertian hingga benar-benar mengering.

Ah ya, setelah detik-detik yang selalu membuatku bergetar karena spasi menyertai, mengisi untuk menyelaraskan. Namun, aku tak ingin jika spasi ini berlanjut dan ia tak menyediakan ruang untuk tulisan-tulisanku hingga tak sedikitpun menyisakan makna yang sejatinya. Kemudian, haruskah ku beralih meminta pada petik, koma, dan titik menspesifikasi agar menjadi suatu tulisan yang sempurna?

Maka, demikianlah spasi hadir untuk setiap kata, setiap cerita, dan setiap kita bahwa hidup tak selalu terus menerus berjalan. Melainkan ada saja celah yang sengaja hadir untuk setiap yang akan ingin beranjak bersamanya. Bersama spasi, cerita kita akan lebih meneduhkan setelah kata demi kata tersusun panjang menarik kita untuk mengerti.

Oh Allah, spasi membuat setiap kita tuk selalu ingin membaca setiap kata-kataMu, perlahan demi perlahan..
Bukankah hidup yang sejatinya berjalan, sesungguhnya ia mengenal henti?

[ Read More ]

23 Oktober 2012

Leave and Go

Posted by bianglalabasmah at 10/23/2012 08:37:00 PM 5 comments
Berkali lipat, kutemui wajah sekitar dengan  penuh kesembaban. Satu orang, dua orang, tiga orang, … entah sampai angka berapa harus ku hitung hingga tak lagi menemukan wajah-wajah yang dipenuhi kesenduan. Ah, meninggalkan dan ditinggalkan; rupanya, suasana ini akan memberikan suasana yang berbeda memeriakkan ruang hati seseorang.

Agaknya, di antara siang nan terik ini tak mampu mengeringkan kesembaban. Sedang aku, hanya bisa menarik diri dari kerumunan wajah-wajah itu. Kepayahan memang, saat harus berbalik dan melawan arah dari arus orang-orang yang menuju ke beberapa orang yang akan meninggalkan mereka. Setidaknya mencoba melesap pergi, agar tidak menarikku ke rasa yang sama, sendu.

Meninggalkan dan ditinggalkan. Entah berapa banyak cerita ini terkumpul dari mereka yang meninggalkan. Kemudian tak sedikit pula menyisakan rasa terserak dari yang merasa ditinggalkan. Baik sementara, atau mungkin selamanya. Tetap saja tak bisa mengalihkan perasaan yang sejatinya memang ada.

“Kakak Basmah, di mana Kakak Fadli?” Terdengar suara Akram, seorang adik yang juga sepupu dari Kak Fadli, sejak tadi turut bersamaku menelusuri hampir sebagian pekarangan masjid.

Aku menatap Akram lekat. Kemudian menarik lengan Akram dan menggenggamnya erat, “Mungkin Kakak Fadli masih belum naik bus. Soalnya dari tadi kakak gak liat Kakak Fadli di dalam bus yang disini..” Jelasku menunjuki beberapa bus yang siap beranjak. Dan pandanganku terus saja menyapu pekarangan masjid Al Markaz, tempat di mana wajah-wajah sendu itu ada.

Setidaknya, pertanyaan Akram tadi mengembalikan kesadaranku. Bahwa bukan aku seorang yang ‘merasa’ ditinggalkan pergi. Tapi, ada Akram, juga Akram lainnya, yang serasa bagaimana kita kami ditinggalkan pergi. Mengantarkan jejak-jejak mereka yang mulai beranjak satu per satu pergi, meninggalkan.

Kepergian. Suatu sikap yang justru menjadi satu harapan besar bagi yang ditinggalkan untuk kembali, dalam keadaan yang dikehendakinya. Dan bagi yang ditinggalkan seharusnya memasrahkan kepergiannya untuk tetap bisa kembali dalam keadaan yang dikehendakiNya, Allah ta’ala. 

Jika setelah pertemuan yang kita lewati karena kehendakNya, maka bersiaplah untuk menyambut perpisahan dalam bentuk apapun. Entah sesuai keinginan, pun bisa jadi yang bertolak dari kita. Sejatinya, kita akan bertemu keduanya; pertemuan dan perpisahan, yang diperuntukkan kepada kehidupan. Maka, nikmatilah!

Saat riuh rendah orang-orang di pekarangan masjid dan sekitarnya menyentuh selaput pendengaranku, jiwaku bergetar. Ya, Allah! Panggilan memenuhi rumahMu sungguh menjadi lirikan hati di setiap muslim dunia. Adakah aku bisa kembali memenuhi rumahMu?

Waktu, ia akan mengantar dan menjemput
Sedang kita, hanya menjumput di antaranya
Maros, 14 Oktober 2012
[ Read More ]

6 September 2012

#jleb

Posted by bianglalabasmah at 9/06/2012 10:20:00 AM 6 comments
(#jleb captured)
 
Setelah beberapa waktu lalu menjauhkanku pada lokasi KKN, rupanya ada ketidaknyamanan di tempat sendiri. Bukan hanya di rumah yang harus mendapati saudara lelakiku yang bertambah hari (maaf) semakin centil, tapi pada banyak pihak yang membuatku terjerembab pada kata ‘jleb’.

Pada buku-buku yang tengah kubaca, pada kalender yang tertempel rapi di mading kamarku, pada layar Ahfadzii dan Afkaarku (si ponsel dan laptopku), pada lembaran mushaf yang ku baca (lagi di surah An Nisaa’ dan hafalan di surah ke-33, jadi mantap sudah! #eh?), dan pada setiap pertemuanku; tetangga, sekolah, kampus, mall -hiks-, sampai dokter. (Maaf pembaca, telah membuatmu ngos-ngosan baca paragraf ini. Hahaha…)

Di satu sisi, bisa menjadi bagian doa dan penyangga harapan untuk terus mematri kebaikan. Namun di sisi yang berseberangan, ada rasa yang tak berkutik karena dibentur oleh sesuatu yang memeriakkan emosi.

Bukan hal yang mengherankan sebenarnya, jika tiba-tiba saja aku langsung ter-jleb oleh keadaan. Bagaimana tidak? Reaksi mereka menggembar-gemborkan satu hal tentangku begitu mengobor dan semangat '45. Kadang aku harus memasang wajah sedatar-datar mungkin, untuk mendinginkan ekspresi mereka.

"Barakallaahu lakumaa, eh, taqabbalallaahu minna wa minkum dulu, ya? Hehe.. Sini dek, dipeluk dulu.." Cegat seorang Kakak yang ku temui di depan pintu mesjid kampus Unhas kemarin. Dengan pasrah, aku membiarkan kakak itu memelukku erat untuk meredam rasa
jleb-ku.

"BASMAAAAAH!!!!" Terdengar jerit payah seseorang karena harus melawan keramaian pengunjung mall. Kemudian berlari kecil ke arahku yang baru saja keluar dari mushallah. Bukan hanya nama yang terpanggil, terperangah. Tapi, sekeliling orang yang berlalu lalang pun rela menghentikan langkahnya hanya untuk melihat ketiga wajah dengan senyuman utuhnya yang pernah ku temui di masa putih abu-abu.

Buru-buru aku menyerahkan tangan kananku dan merangkulnya satu per satu, "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.." Salamku lengkap untuk membekap histeria mereka.

"Kumsalaam.." Singkat Ayu yang belum terbendung rasa histerianya. "Arghhh.. Basmah.. Basmah!! Basmah udah gede!" Serbunya lagi gemas. Ditambah dengan beberapa temanku yang lain mulai ingin menjahiliku. Jujur, mengingat kalimat terakhirnya, malah mengembalikan ingatanku pada satu episode disini.

Masih di situasi ke-jleb-anku, saat sedang menelusuri beberapa rak di satu toko buku, tiba-tiba ada yang menarik lenganku. "Hei, Sini! Lupakan dulu masalah pendidikan, sekolah beserta anak SDnya. Tempatmu, disini!" Seret Anti sambil menunjuki papan nama rak yang ia maksud.

Aku hanya melongo, berusaha mencari oksigen cadangan untuk bisa menghirup kembali nafas segar seperti semula. Tapi, sulit rasanya. Mulutku seperti tersumbat, tak berkutik. Ooh,
jleb lagi.

Dan di suatu silaturahim bersama saudari-saudariku, suaraku langsung tercekat pada saat seseorang mempersilakanku untuk mengutarakan sesuatu. Padahal biasanya bisa sangat lancar tanpa text dalam hal berbicara. Setelah saudari-saudariku membuat murabbiyah kami speechless, aku pun akhirnya terseret.

Ziing! 
Hening sesaat. Satu per satu ku pandangi wajah-wajah itu, duduk manis dan setia menunggu kata demi kata yang keluar dari bibirku. Tapi, "Ya Allaah, saya benar-benar gak tau mau bilang apa..?" Imbuhku seketika. Ingin menyerah, dan meminta saudariku lainnya yang berbicara.

Saudari-saudari yang sudah memasang wajah seriusnya memaksaku. "Ayo! Bilang.. Bilang! Kasih tauin, Basmah!!"

Setelah merasa ter-
jleb berkali-kali, sederet kalimatku selanjutnya akhirnya membalikkan mereka ter-jleb serentak.

"Haah? Tunggu dulu.. Apa saya ndak salah dengar..?" Tanya seseorang meyakinkan kalimatku tadi.

Aku mengangguk, membenarkannya.

Beberapa detik selanjutnya, "Kyaaaaa… Basmaaaah!!" Pekik mereka berhamburan.

#
jleb


***


Kadang aku harus mengatup rapat-rapat pada satu garis yang telah disediakanNya.
Membiarkan seberkas cahaya memantulkan garisNya, agar ia menyemburat dengan bentuk sejadinya.

Maafku, untuk semua yang tak bisa terbalaskan: SMS, twitter, facebook, dan aktivitas blogwalking. Memberlakukan silent reader dan meng-aamiin-kan doa sebagai penyanggaku.

Jazaakumullah khaer.. ^^
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea