Tampilkan postingan dengan label Sejenak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejenak. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2014

Kembali

Posted by bianglalabasmah at 5/30/2014 08:01:00 PM 0 comments
Assalamu’alaikum..
Hai, aku hanya merasa kita sudah cukup lama tak berjumpa di sini, di rumah bianglala-ku. Setelah bertambahnya status yang kulalui, tepatnya hampir dua tahun lalu memenuhi separuh dien (agama), rumah ini memang tak terurus. Sesekali hanya mendapati pertanyaan-pertanyaan di luar tentang rumah ini yang tak juga menyimpan cerita.

Kembali..
Sebenarnya, satu kata ini yang menyeret-nyeretku untuk menemuimu lagi disini. Aku begitu gugup untuk memulai. Mungkin karena waktu, atauu, ah.. alasan ini hanya membuatku ingin mengulur banyak pekerjaan saja. Ya sudahlah, aku memang harus kembali untuk sesuatu yang penting dan genting!

Dan mulai detik ini, aku kan kembali..
Untuk mengikat kata-kata yang nyaris terlumat oleh waktu. Mengingatkan diri bahwa ada tulisan yang memang harus dituntaskan. Ya, hampir di waktu yang bersamaan, tak hanya mengakhiri masa lajang, tapi aku juga sedang menuju masa akhir di kemilau kampusku. Walau dengan tersendat-sendat, qadarullaah wamaasyafa’al, ada yang harus kujalani terlebih dahulu sebelum benar-benar mengakhiri masa kuliah. Dan di antara waktu tersebut, lagi-lagi tak sempat menyinggahi cerita di rumah ini.

Berharap perjalanan di kisah akhir kemilau kampus ini bisa tersampaikan dengan sekembalinya aku di sini. Paling tidak, membiasakan kembali berkutat pada laptop, buku, dan tulisan. Agar sederet mimpi yang mulai bergumul di benak bisa kuraih selanjutnya. Aamiin..

Dan, sekembali dari rumahku ini, semoga ada kebaikan yang bisa didapatkan. Kita saling mendoakan untuk diberikan kemudahan disetiap kebaikan yang bermuara padaNya. Maafkan atas spasi-ku yang berbilang bulan.


Makassar, 30 Mei 2014



[ Read More ]

3 September 2012

Terperangkap!

Posted by bianglalabasmah at 9/03/2012 02:45:00 PM 8 comments
“Saya tidak pernah menyangka, ternyata saya bisa rajin shalat juga! Padahal malasnya ampuun deh, kalo disuruh shalat dulu..”
“Yaa.. Islamnya saya kan karena dari kakek nenek saya yang udah dari sananya Islam! Saya sih, ngikut-ngikut aja..”
“Kalo inget dulu bagaimana jahiliyahnya saya, duh maluu..”

“Lho kok bisa ya, saya milih ekskulnya kayak Rohis? Padahal waktu SMP saya anak cheersleaders!”

(Kutipan dari mereka yang kini telah menerima Islam secara kaffah)
*
Pernah merasa seperti kutipan-kutipan di atas? Ah, ini belum seberapa yang pernah kita dengar. Simple, tapi ‘ada’ yang merasa terheran-heran dengan dirinya sendiri. Sebab masih ada yang lebih jahil (baca: bodoh) yang bisa jadi kita akan tercengang berkali lipat kemudian hanya bisa berucap mengagungkan asma-Nya.

Apakah kita benar-benar butuh alasan untuk menelusuri takdirNya? Mencari tahu, kenapa tiba-tiba kita berada di sini, di jalan ini dan (menganggap) terperangkap, meski keterperangkapan ini berupa dalam ketaatanNya?

Memilih kata ‘terperangkap’ sebenarnya hanya menuliskan bentuk kata yang berarti ‘yang telah direncanakanNya’. Hanya saja, merasa kata ‘terperangkap’ ini disuguhkan disini, ketika kita sebagai manusia, baru bisa merasakan atau melihatnya setelah terjadi apa-apa yang belum pernah terbersit sebelumnya. Ya, tiba-tiba saja kita merasa meng-iya atau tidak-kan diri kita pada sesuatu (atau seseorang). Kemudian akan terlihat ke arah mana kita melaju. Begitu kan?

Tahukah? Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan kecenderungan dalam hati-hati manusia untuk melihat, mendengar, dan merasakan dengan cahayaNya. Sejauh mana seseorang memberikan kecenderungan di antara dua pilihan yang telah ditetapkanNya sejak awal; baik atau buruk, maka kecenderungan ini akan mengikuti ke arah mana ia akan pergi. Kembali lagi, bergantung pada amaliah seseorang.

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah*, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”(QS Az Zalzalah (99): 7-8)

Begitulah memang, rencanaNya begitu cantik untuk sekadar dipahami oleh indera manusia. Bahkan sekuat apapun rencana kita untuk mengerahkan kita ke tempat yang lebih, Allah dengan segala kemahaanNya akan memberikan kecenderungan berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan dari sang hamba.

Dan sekali lagi, kesyukuran tetap perlu ditanamkan dalam setiap diri kita atas nikmatNya yang tak pernah lengah. Sebab, adakalanya ia bagian dari anugerah dalam kemudahan untuk (me)ngenalNya, dan melihat kenyataan bahwa ada pula yang harus (di)kenal(kan)Nya dengan berbagai bentuk kehendakNya.

Merasa terperangkap dalam ketaatan? Ya, ucapkan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin..
***

~Fiuh, di ujung tulisan ini, aku harus menghindar dari kakak laki-lakiku yang ingin tahu adiknya ini sedang menulis apa. Tentu saja, ada banyak faktor yang menyebabkan ia seperti itu. “Kak, bisakah engkau berhenti mengintaiku? Aku tak sedang menuliskan tentangmu.. Tentangmu nanti sajalah, setelah saya benar-benar terperangkap sesuai kehendakNya!”

(Merasa diajari lagi oleh Allah perihal takdir yang bermuara
pada keikhlasan, kesabaran, dan kesyukuran untuk menggapai keridhaanNya)

*Kata dzarrah, berarti debu yang berterbangan di antara cahaya matahari. Atau debu yang menempel pada suatu benda. Sebagian ulama pun menafsirkan, bahwa dzarrah adalah semut yang paling kecil.

[ Read More ]

19 Agustus 2012

Sebab Semua Beriringan

Posted by bianglalabasmah at 8/19/2012 10:04:00 AM 8 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Sebab semua beriringan. Seperti halnya purnama yang tak bisa selamanya utuh. Ia yang akan berkurang dan bertambah seiring waktu yang terus menuju..

Sebab semua beriringan. Seperti manusia yang tak melulu baik dan tak bisa sempurna. Karena kadar imannya yang naik turun sesuai kebaikan dan keburukan yang mengikutinya..

Sebab semua beriringan. Untuk setiap niatan, ucapan, dan tindakan yang tak pelik mengantar pada kehidupan. Selalu ada khilaf yang menyertai dan alpa yang tersemat hingga dosa terus saja tertenun.

Sebab semua beriringan. Untuk banyak doa yang bisa terselip di sana, di sini, dan di hati kita masing-masing. Harapan dan cinta meraih ridha Allah, menjadi pemenang, sebagai orang yang bertaqwa.

"Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal kami dan kalian." Aamiin..


Ahad, 1 Syawal 1433 H / 19 Agustus 2012 M
menyapa dua rasa yang terkuak, di satu waktu..

[ Read More ]

28 Juni 2012

Menuju

Posted by bianglalabasmah at 6/28/2012 09:59:00 PM 4 comments
 

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Mudahkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Mudahkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)



Perjalanan penuh sembab dan haru T^T 
#hiks
[ Read More ]

11 Juni 2012

Sebab Anak*

Posted by bianglalabasmah at 6/11/2012 12:45:00 AM 2 comments

(Beribu maaf, tuk jemari seseorang yang ter-captured >.<)

Sebab anak, sang Ibu setia..
Melimpahi kesetiannya dalam hikmah dan cinta padaNya

Sore yang lengang. Sambil menikmati senja penuh gerimis, aku terduduk di depan TV. Awalnya sih, agak ngeh juga untuk menyimak tayangan tersebut karena tidak mengikutinya dari awal.  Seperti biasanya, aktivitas memindahi dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Tapi, saat mendengar satu kata “anak” yang menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, sinyal rasa ingin tahuku pun meninggi, kemudian mencoba memberikan perhatian penuh padanya.
Rupanya yang menjadi topik pembicaraan itu adalah tentang gerakan peduli lagu anak yang belakangan ini menjadi sebuah himbauan di kalangan pemerhati pendidikan dan dunia anak. Selain Kak Seto dihadirkan di sana, adapula beberapa pencipta lagu anak saat ini (meski masih kurang familiar menurutku), seorang psikolog anak, dan beberapa komunitas giat cipta lagu anak yang dilibatkan dalam diskusi ini.
Pada dua sesi yang kulihat, menghadirkan pencipta lagu anak, memberikan kesannya bahwa hari ini, para orang tua patut merasa dilema di saat anak-anak mereka tak lagi mengenal dekat lagu yang sepantasnya dengan kehidupan mereka. Dimana lagu anak, katanya, berfungsi sebagai alat komunikasi efektif, baik dari segi pelafalan dan pemaknaan yang menyertai di dalamnya secara berulang-ulang. Dalam sumbangsihnya secara tak langsung memang untuk memberikan kesan dan pesan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak dari lirik-lirik lagu.
Ketika membahas kondisi anak zaman sekarang, sepertinya era Joshua, Sherina, dan Tasya mungkin menjadi akhir dari episode lagu anak-anak di saat aku SD dahulu. Saat ini, anak-anak begitu dekat dengan lagu-lagu yang jauh dari usianya. Aku pun langsung teringat pada beberapa murid privatku. Mereka dengan mudah menyanyikan beberapa lirik lagu yang sebenarnya tak pantas diucapkan dan diperdengarkan, terlebih dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu keong racun, dengan sangat lancar terlisankan dari seorang anak yang masih berusia 4 tahun. Masya Allah, perasaanku langsung terhempas sangat kuat. Walaupun apa yang ia nyanyikan sebenarnya tidak sepenuhnya dimengerti makna dari lagu tersebut. Dan kasus ini ternyata bisa dialami di hampir seluruh orang yang dekat dengan lingkungan anak.
Di satu sisi, aku bisa menanggapi keefektifitas dalam memperkenalkan kosa kata mereka. Seperti, “Bun, keong itu apa?”  Begitu pertanyaannya Iza pada bundanya setelah menyanyikan lagu keong racun tersebut. Semisal yang tadinya anak tersebut tidak mengenal kata “keong”, maka ini menjadi satu kesempatan bagi orang tua untuk semaksimal mungkin memberikan penjelasan tersebut lebih ke ilmiah. Perasaanku yang sempat terhempas tadi, bisa terkembalikan atas pertanyaan polosnya si Iza. Duh, si Iza-ku..
Dalam sesi selanjutnya, penuturan dari beberapa komunitas giat cipta lagu anak menyisakan satu spirit yang menjadi visi mereka. Mengembalikan keberadaan lagu anak untuk menjadi bagian dari kehidupan anak semestinya. Dengan memfasilitasi secara cuma-cuma dengan hanya men-download gratis dan menyebarluaskan. Serta beragam usaha lainnya yang dikerahkan demi sebuah pengembalian tempat semestinya.
Sebagai salah seorang yang insyaa Allah tak lepas dari dunia anak, aku pun ingin memberangkatkan hal ini dari sisi positif. Ketika lagu anak pada topik ini yang kiranya dianggap menjadi penyampai sesuatu hal positif, maka aku pun ingin meminjam spirit tadi melebihi mereka. Agar bisa pula menumbuhkembangkan kecintaan anak pada sesuatu yang mulai diabaikan banyak kalangan. Yaitu, Al Qur’an.
Al Qur’an, satu peralihan peran secara verbal yang terbentuk dari kesempurnaan pelafalan huruf hijaiyyah yang mewakili pelafalan alphabet dari berbagai negara. Mungkin, banyak orang yang tidak tahu. Tapi, ini berdasarkan fakta secara langsung yang sering kita temui di lapangan. Kemudian secara nonverbal terletak pada isi dari Al Qur’an yang jika dipahami merupakan dari sebuah bacaan yang dilantunkan dan pesan-pesan di dalamnya yang diamalkan.
Sebagaimana yang dikemukakan pada salah seorang psikolog anak pada acara tersebut, bahwa aktivitas anak tak sekedar berujung pada kognitif (knowledge) semata. Melainkan ada afektif (attitude) dan psikomotorik (skill) yang saling menunjang dalam pertumbuhan anak. Hal tersebut, sangat mewakili dari apa yang ada pada Al Qur’an. Sekalipun, aku bukanlah salah seorang hafizhah (penghafal Al Qur’an). Dan untuk setiap orang yang memelihara lisannya dari kalamNya, semoga Allah memberikan keberkahan atas penjagaannya terhadap Al Qur’an.
Terakhir, Sebab anak! ketahuilah, jiwa anak harus dibangkitkan dengan hal positif agar tetap bersemangat setiap menghadapi kehidupannya dan masa depannya. Memberikan sesuatu yang positif akan menghasilkan yang positif bukan? Wallaahu a’laam..

*Disetiap tulisan selesai diketik, aku selalu tersendat pada judul.  Karena mengantuk (check waktu post tulisan ini), Sebab Anak dibuat karena menonton hanya alasan kata "anak". Pantas? -semoga-
[ Read More ]

27 Mei 2012

Mereka GAGA(L). Kita pun Gagal?

Posted by bianglalabasmah at 5/27/2012 09:45:00 PM 7 comments

“Kadang kita menjadi manusia yang teramat sedih atas ke-GAGA-lan yang sebenarnya adalah suatu kemungkaran. Tapi anehnya kita tak bisa menjadi manusia yang paling bahagia ketika kebaikan dekat dengan kita.”
(Bianglala Basmah)
A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim..
Sungguh, aku berlindung kepada Allah ta’ala dari muara syaithan la’natullaah ‘alaih yang sesering ia menembus celah manapun untuk mengalihkan kita dari orbit perjuangan Islam.
Ungkapan permulaan (ta'awudz) tadi bisa jadi sering kita ucapkan. Namun terkadang kita luput mengiringinya dalam diri ini pada banyak aktifitas untuk mengenal lebih dekat tentang apa-apa yang menjadi bagian dari seorang khalifah di muka bumi ini.
Setelah pendeklamasian atas pembatalan konser yang belakangan digaungkan di berbagai media, komentar beruntun langsung bertebaran di mana-mana. Ya, pro-kontra meramaikan jejaring sosial lagi. Menyedihkan, ketika pihak  pro menyayangkan atas pembatalan tersebut kemudian menyudutkan pihak-pihak yang mengakibatkan di antara alasan pemutusan pembatalan tersebut.
Seketika itu pula, ada saja kekhawatiran yang terangsang dari status-status yang berjejalan di jejaring sosial. Di satu sisi, kesyukuran berlimpah karena satu kebathilan yang akan menyapa negeri ini bisa dihandle. Tapi, di sisi selanjutnya, kita patut bersedih sedalam-dalamnya karena kecaman dari sebagian kita, ya, mereka yang “belum siap” menerima keputusan atas pembatalan konser tersebut.
Ada gerangan apa negeri ini? Apakah sebagian kita, “si mereka” mulai di gugu GAGA dan membenarkan pihak mereka tanpa mempertimbangkan segala sesuatu yang justru akan membawa pada suatu kemudharatan yang lebih besar? Sebagian kita, boleh saja hanya memikirkan keuntungan, kesenangan, dan kehedonisme masing-masing.  Tapi, pernahkah sekali duakali mau memikirkan kondisi negeri ini. Minimal generasi muda yang mulai melarut dalam hingar bingar yang tak jelas ujungnya. Mau di bawa kemana kami jika hal yang seperti ini teramat sulit dipertegas? Memang, kita tak bisa menyalahi sepenuhnya kepada mereka. Alasan mendasarnya, karena semua bermuara pada belum kuatnya pemahaman dan kesadaran dari masing-masing. Dan semoga hidayah itu tersampaikan pada mereka.
Kelak, pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap menjadi sebuah “tanya” yang akan membawa kita untuk mengintrospeksi masing-masing. Ketika suatu keberlangsungan dalam menyerukan kebaikan (dakwah) masih akan terus berjalan hingga kehidupan Islami menjadi aturan sepanjang hembusan nafas. Maka, mari memergoki apa yang telah kita perjuangkan untuk Islam selama ini.
Hari ini, begitu banyak orang Islam. Tapi, dari kebanyakan belum mampu untuk menerima Islam secara baik. Hari ini, memang sudah banyak orang yang menerima Islam. Tapi, belum semua mampu berkomitmen pada nilai Islam. Ya, sampai hari ini pun, ada orang-orang yang bisa berkomitmen pada Islam. Tapi, belum sepenuhnya komitmen itu digenggam dengan baik.
Rupanya, keadaan ini yang akhirnya masih belum menyelesaikan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Dalam waktu yang sama, kemaksiatan terus saja berlari sekencang mungkin hingga kebutuhan untuk menyerukan kebaikan (dakwah) pun sedemikian besar. Wallaahu a'lam.
~Mari, merapat untuk perjalanan panjang yang masih ada untuk kita..
[ Read More ]

10 Februari 2012

Bukan Datang Tanpa Alasan

Posted by bianglalabasmah at 2/10/2012 08:39:00 PM 16 comments
gambar 


“Aku tak tahu alasannya ketika aku bertanya pada diriku sendiri. ’Mengapa aku jatuh cinta padamu?’.  Karena cinta selalu datang tanpa alasan.”
 (Drama Korea, Miss Ripley episode  ?–tidak tahu-)
 
Maaf sebelumnya, kalimat ini terlihat agak nyentrik memulai sebuah tulisan ini. Karenanya justru menyulut perdebatan yang tak sedikit terutama padaku di kalimat terakhir. Awalnya berniat menonton tv dan memindahi dari satu program tv ke program lainnya secara acak. Dan terhenti pada sebuah chanel yang tengah menayangkan drama Korea ini. Bukan aku mengikutinya, tapi terhenti tidak memindahi ketika kalimat tadi terlontar dari seorang pria yang tengah memberikan alasan cintanya pada seorang wanita. Dan di akhir alasannya semakin menyulut tanya besar dalam diri, “Apa iya, cinta datang tanpa alasan?”
Ingatanku tiba-tiba terluapkan pada banyak peristiwa,beberapa teman yang seringkali mengadukan kisah cintanya yang sedikit banyak menghadirkan buliran-buliran bening mengapung di ujung matanya. Berakhir tragis? Dikhianati, diputuskan secara sepihak, dan ditinggal karena menikah dengan yang lain. Mungkin.
Bisakah cinta datang tanpa alasan? Kalau saja datang hanya untuk melukai dan dilukai, kecewa dan dikecewakan, lalu ada sebuah tanya yang ingin kuajukan pada Tuhan, “Mengapa bisa Engkau menyisipkan perasaan ini di hati-hati hambaMu ini?”
Dalam fragmen yang menyertakan keadaan ini, kadang aku harus menyesaki karena ada ruang keprihatinan melihat betapa banyak akhirnya menyalahi cinta yang katanya datang membawa sejuta kejutan manis. Mengantar pada cerita cinta ‘indah’ namun dalam waktu seketika bisa saja menebas perasaan dengan mudah ketika ada akhir yang berujung menyalahi sebuah senyawa bernama cinta. Pada sisi lain, aku pun kembali harus meluapkan rasa syukur atas segalanya karena masih terselamatkan dari kondisi tersebut, kondisi masih terjaga.
Seringkali ada kita yang tersudut asyik dengan cerita yang ramai dibersamai sekawanan manusia. Ya, kita terlalu banyak mengenal histori cinta menggenaskan yang telah dikamuflasekan untuk dijadikan cerita indah. “Cinta tak direstui” yang akhirnya menjadi sebuah tumpuan cinta kebanyakan. Kisah cinta Romeo and Juliet  salah satunya yang  telah membuat banyak hati manusia tergugah oleh kisah romantismenya. Lalu, pada Kisah Valentine yang tak ubahnya cerita yang berlatar pengingkaran cinta tak direstui dari banyak pihak dan anehnya terdeklamasikan menjadi hari cinta sepanjang sejarah.

Jika cinta datang tanpa alasan, dimana letak cinta sesungguhnya?
Pernahkah kita berusaha mengejar atau minimal mengenal kehidupan cinta Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Khadijah radhiyallaahu ‘anha atau bersama ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha? Kisah kehidupan Nabi Ibrahim bersama Sarah begitupula bersama Siti Hajar? Atau kisah-kisah lainnya yang membawa kita tahu, bahwa cinta datang pada sejumlah alasan untuk dirunut. Cinta orang-orang yang bisa menikmati keimanan padaNya. Mari, luangkan sejenak untuk merenungi kisah-kisah orang-orang terdahulu yang berhasil menjalani keislaman mereka karena cerita cinta yang secara nyata ada, bukan dalam bayang-bayang fiksi.

Teruntuk yang sering mengagungkan cinta; semoga bisa memahami bahwa penempatan cinta kepadaNya yang tak membuatmu saling menyalahi, kecewa, dan terlukai. Sekalipun kita menempatkan peran ini pada apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana.

Sesungguhnya, cinta telah datang dengan sejumlah alasan yang semestinya memang dipahami. Cinta mengantar pada alasan ‘mengapa’ terhadap jalinan kuat yang saling berpengaruh hingga kadar cinta tak mengurangi porsi seseorang terhadap efek yang membawa cerita yang lebih merona indah. Percayakan kesemuanya bahwa Allah menyisipkan cinta untuk menundukkannya pada tempat yang direstuiNya.

“Dan kunci-kunci semua yang ghaib; ada padaNya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al An’am : 59) 
 
Jikalau dedaunan yang berguguran saja memberi sejumlah alasan, bagaimana dengan cinta yang sengaja dihadirkan untuk kita?
“Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya pastilah dia merasakan kelezatan iman; (1) menjadikan Allah dan RasulNya menjadi yang paling dicintai darpada selain keduanya, (2) mencintai orang lain karena Allah ta’ala, (3) tidak senang bila dirinya dicampakkan ke dalam ke kafirannya yang lalu sebagaimana dia tidak suka dicampakkan ke dalam api.” (HR Bukhari)
Jelas, alasannya agar kita merasakan keimanan kita. Maha Suci Allah, untuk segala cintaNya..

[ Read More ]

5 September 2011

(Sejenak Saja)

Posted by bianglalabasmah at 9/05/2011 02:52:00 PM 6 comments
"Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu... Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya.Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku."
Tere Liye (Hafalan Shalat Delisa)
"Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Suci Engkau yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak ada punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan "perasaan" itu pada mahkluk ciptaanMu? Perasaan kehilangan...perasaan memiliki...perasaan mencintai...
Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa?"  
[ Read More ]

29 Agustus 2011

Maafkan Kami, Ramadhan...

Posted by bianglalabasmah at 8/29/2011 10:20:00 PM 4 comments



Ramadhan yang agung, dahulu pernah datang kepada kaum yang melakukan persiapan maksimal untuk menyambutnya, yang sangat memahami rahasia bulan suci itu, yang mengenali keistimewaannya. Mereka menantinya dan selalu berjaga untuk mendapatkannya, menyertainya dengan shalat, puasa, membaca Al-qur’an, dan melakukan banyak lagi ibadah yang lain. Mereka berdoa enam bulan sebelumnya agar diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan, demi mendapatkan keberkahan dan keutamaannya, lalu berdoa enam bulan kemudian agar yang mereka lakukan bersama Ramadhan, semua diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka berdoa,” Ya Allah, selamatkan  kami hingga Ramadhan, selamatkan pula Ramadhan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.”

Dahulu ia datang kepada kaum yang bergadang di malam hari demi bercengkerama bersamanya disetiap detiknya, merasakan dahaga di siang harinya, memahami bahwa Ramadhan adalah hari-hari yang tak tergantikan, lalu memberikan apa saja yang berharga dan bernilai yang mereka miliki. Mereka sangat memahani firman Allah subhanahu wa ta'ala, “(yaitu) beberapa hari tertentu,” hari-hari yang berbilang, hari-hari yang terbatas, maka mereka ingin agar tidak kehilangan sedikit pun. Serasa Ramadhan menatap mereka, sedang diantara mereka ada yang menangis, tenggelam dalam rasa takut mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ada yang mendirikan shalat, lupa dari kehidupan dunia. Ada yang sujud, meninggalkan dunia dibelakang punggungnya. Ada yang berdoa dan bermunajat, menggantungkan seluruh asanya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Kita membaca dalam sirah mereka, disana ada alim bernama Ibnu Syarahil yang karena sujudnya kepada Allah begitu lama hingga tanah memakan keningnya. Di sana ada Shafwan bin Salim yang berdiri melakukan shalat malam hingga kedua kakinya bengkak, dan urat-uratnya terlihat membiru. Ada pula Abdulllah bin Zubair yang shalat disekitar Ka’bah, tak merasakan batu-batu yang berjatuhan di sekitarnya, yang dilemparkan oleh orang-orang kafir. Ada Umar bin Khattab, yang selalu menangis ketika shalat hingga di kedua belah pipinya terlihat garis hitam oleh sebab airmata yang selalu menetes. 

Mereka selalu serius dengan Al-Qur’an, seperti Utsman bin Affan radhiyallaahu a'nhu yang mengkhatamkannya setiap hari selama Ramadhan, atau seperti Qatadah yang mengkhatamkannyasetiap tiga hari sekali. Atau seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang sengaja menghentkan segala aktifitasnya agar bisa berkonsentrasi penuh dengan Al-Qur’an.

Mereka begitu menikmati shalat malamnya, berkomunikasi dengan Penciptanya, dan meresapi tilawah Qur’annya. Ini terlihat dari keadaan Abdullah bin Fudhail yang ketika mendengarkan ayat Allah, “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada neraka, lalu mereka berkata ,’Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al An’am:27) tiba-tiba menangis dan kemudian tak sadarkan diri setelah itu.
Sungguh benar firman Allah subhanahu wa ta'ala  yang memuji mereka, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan harta apa-apa rezki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi merea, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS As Sajdah: 16-17)

Namun hari ini, Ramadhan datang kepada kita, yang tahu kemuliaannya tapi tak banyak melakukan apa-apa. Mungkin Ramadhan menatap kita dengan tatapan kosong; tak ada aktifitas di waktu malam kecuali hanya senda gurau, berhibur, dan menebar canda tawa. Mungkin Ramadhan melihat kita hanya sekumpulan dungu yang meninggalkan shalat dan hanya asyik menghabiskan waktu dengan chanel-chanel tv yang tak memberi manfaat. Mungkin Ramadhan hanya menatap kita sebagai sekumpulan orang-orang malas, yang merasa telah mengeluarkan segala kesungguhannya usai menunaikan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat dalam beberapa menit, setelah itu pergi dengan penuh rasa bangga, seolah telah melaksanakan dan menunaikan hak untuk ibadahnya dan terbebas dari kewajiban Allah kepadanya.
Mungkin kita harus meminta maaf kepada Ramadhan. Sebab hati kita barangkali telah berubah menjadi keras, membatu, mata kita kering. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya merasakan manisnya ketaatan, tidak pula indahnya ibadah, serta nikmatnya munajat-munajat malam Ramadhan. 

Ramadhan mungkin belum menemukan apa yang seharusnya ia temukan pada diri kita. Padahal menurut orang-orang yang ditemui Ramadhan dahulu, bahwa Ramadhan adalah bulan bertemunya dua macam jihad; jihad di waktu siang dengan berpuasa, dan jihad di waktu malam dengan memperbanyak shalat malam dan tilawah Qur’an. Dan Imam Ibnul Jauzi telah mengingatkan kita tentang hal itu dalam nasihatnya, “Siapa yang mengumpulkan dua jihad ini, serta melakukan keduanya dengan penuh sabar, pahalanya akan diberikan tanpa hisab.”

Hal yang sama juga telah disampaikan Ka’ab,” Pada hari kiamat akan terdengar seruan, ‘Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya saja para ahli Al-Qur’an dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batas, tanpa perhitungan.”

Sekali lagi, mungkin kita harus minta maaf pada Ramadhan. Karena ia belum menemukan dalam diri kita sesuatu yang sesungguhnya ia harapkan dari kehadirannya bersama kita. Seperti saat ia pernah hadir di tengah-tengah manusia yang memperlakukannya dengan sangat istimewa, yang tidak tunduk dan terpedaya oleh musuh. Ramadhan hadir di tengah mereka, dimana bumi yang dipijak selalu terdengar adzan, syiar Ramadhan selalu diagungkan, selalu ditinggikan.

*Menyalin tempel dari artikel berjudul,
“Maafkan kami, Ramadhan. Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka.”
(Sulthan Hadi)
Majalah Tarbawi edisi 257, Ramadhan 1432 H


[ Read More ]

16 Agustus 2011

Teruslah...

Posted by bianglalabasmah at 8/16/2011 05:34:00 AM 5 comments


 (Ket foto: mereka -Al Qur'an, Afkaar, Ahfadzi, adik Ahfadzi, pena dan pensil- bagian dari perjuangan)

Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikuti
Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan hingga kefuturan itu futur menyertaimu
Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu
Teruslah istiqamah di jalan dakwah ini 
meski sakit di telapak, berat di pundak,
peluh di sekujur hingga suatu saat nanti akan terjawab,
“Mengapa jalan dakwah ini begitu sulit?”
“Karena syurga itu indah”
Salam Perjuangan

Memungutnya dari mini book "Menjadi Aktivis Tak Tergantikan"
pada lembaran Unit Sekolah LMCM WI

Makassar, 14 Ramadhan 1432 H / 14 Agustus 2011 M
[ Read More ]

3 Agustus 2011

Menemukanmu Lagi!

Posted by bianglalabasmah at 8/03/2011 02:24:00 PM 2 comments


Ah, senangnya!!
Meski dalam hiruk pikuk dunia yang masih terbentang luas, adalah anugerah menemukanmu lagi dalam penantian yang cukup panjang. Karena ditiap detikmu yang berhembus ada nilai yang bermakna. Bertabur rahmah dan maghfirah dariNya, serta waktu yang tepat terijabahnya doa-doa. Pun malam-malam yang serasa dipanjangkan karena ingin membersamaiNya dalam tiap nafas. 

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikatNya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR Ath Thabrani)

“Berlumur senyum di wajahku, aku tak ingin kehilangan sedetik darimu, ya Ramadhan..”

Semoga bulan ini menjadi kesempatan emas kita
untuk kembali mempercantik amalan kita kepada Allah.. 
Aamiin!!

[ Read More ]

28 Juli 2011

Bianglala Basmah

Posted by bianglalabasmah at 7/28/2011 09:24:00 AM 0 comments

Sejuta makna yang belum sempat terurai dari kisah Temu Remaja Sekolah
Makassar, 23 Sya'ban 1432 H / 24 Juli 2011 M 
[ Read More ]

23 Juni 2011

(Kosong)

Posted by bianglalabasmah at 6/23/2011 06:25:00 AM 2 comments

Nafas rinduku sedang memendek
Dalam bulan-bulan yang kurasa memanjang
Pada satu dua kata yang selalu meluncur
Di ruang imaji membersamai hari

Karena aku ingat,
Semua tanyajawab hanya ingin ku langitkan
[ Read More ]

18 Mei 2011

Kitakah yang Setia?

Posted by bianglalabasmah at 5/18/2011 12:30:00 PM 2 comments


Seingatku, aku pernah melayangkan tanya pada mama. Tapi itu, cukuplah membuatku tersentak atas pertanyaan tersebut. Entah beberapa waktu telah terlewati, dengan kepolosan yang tak pernah terbersit dalam diri sendiri saat ini.
“Mama… mama…  Apa mataharinya gak capek nyinarin bumi terus?” tanyaku saat baru saja pulang sekolah.
            Dengan tersenyum, mama menjawab, “Ya gak-lah!! Kan mataharinya udah janji sama Allah.”
“Janjinya kayak gimana, ma?” Aku terheran dan penasaran.
“Matahari diciptakan sama Allah karena untuk menyinari seluruh alam. Bukan Cuma untuk bumi aja.”
“Berarti, mataharinya gak setia dong, ma?” Sanggahku.
“Lho? Kok bisa gitu?” Kali ini, mama yang terheran-heran atas pertanyaan putri kecilnya.
“Karena kan ada malam. Kalo kata mama matahari udah janji sama Allah, kenapa mesti ada malam? Jadi, mataharinya gak nyinarin seluruh alam.”
“Mataharinya tetap setia, kok!!” Mama tersenyum mendengar sanggahanku. “ Tapi, mataharinya akan menyinari negara-negara lain di belahan bumi lain. Bumi Allah kan luas. Misalnya aja, kalo di Jeddah lagi malam, di Indonesia udah pagi. Kamu kan sering nelpon kakak pas malam-malam. Dan biasanya kalo lagi nelpon jam 12 malam, di Indonesia udah pagi kan?” Papar mama jelas.
“Iya, ya.. ” Aku termanggut-manggut atas paparan mama.
“Jadi, apa yang Allah ciptakan itu sebenarnya udah pada janji semua sama Allah. Termasuk kita.”
“Apa janji kita sama Allah?”
“Kita harus rajin ibadah. Kamu kan pasti udah kenal ayatnya kan dari TPA?”
“O..oh iya, ya…” Pada saat itu pula, aku mengingat materi yang pernah aku pelajari di TPA. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu.” (SQ Adz Dzaariyat : 56)
Sekilas, pertanyaan masa lalu menerawang hanya untuk mengais banyak hal. Yah, semoga kita seperti makhluk Allah, yang setia pada setiap janjinya. Seperti matahari yang tak kunjung lelah menggairahkan kehidupan. Seperti langit, bebas seperti tak berbatas, namun tetap menunduk pada-Nya. Dan seperti banyak makhluk Allah lainnya, mereka telah mengemban dengan baik. Lalu, kitakah yang setia?
Alastu birabbikum? Qaalu balaa syahidnaa. “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.(Qs Al A’raf : 172)
Hanya ingin mem-paralel-kan kisah ini dengan kehidupan hari ini.
Mari, memetik hikmah di kebun kehidupan.

***

[ Read More ]

7 Mei 2011

Cinta Kita Tak Pernah Bertepuk Sebelah Tangan

Posted by bianglalabasmah at 5/07/2011 07:03:00 AM 0 comments
Pernahkah sahabat? Meski kemudian engkau tahu, bahwa rasa-rasa itu adalah sesungguhnya bukan pada sosok yang layak, dan belum dihalalkan-Nya, lalu kemudian mati-matian engkau coba lenyapkan dari segala bilik memorimu? Pernahkah?

Kemudian, pada saat yang tak terduga, saat harap-harapmu itu kian mencerah, kau dihadapkan pada sesuatu yang bagimu lebih dahsyat dari hancurnya katai putih menjadi supernova. Harapan dan asa yang kau rajut tiba-tiba saja buyar seketika.
Tiba-tiba saja mentari yang baru saja menyingsing di ufuk timur, dengan segera tenggelam seketika. Kau merasa gelap. Harapanmu itu kandas seperti bergantinya mentari dengan gelapnya sang malam tanpa rembulan. Semangatmu meredup. Harapanmu lenyap. Lalu, engkau menderita sebab langit asamu tiba-tiba saja mendung dan memuntahan hujan deras.

Ah, sahabat. Kau sedang dirundung kedukaan. Tapi, engkau tak boleh lupa satu hal, bahwa CINTAMU TAK PERNAH BERTEPUK SEBELAH TANGAN! Ya, sekali lagi, cintamu tak pernah bertepuk sebelah tangan. Sungguh, tak pernah.!!

Sebab, mungkin saja harap-harap itu telah membuatmu lupa bahwa ada banyak lokus cinta yang ada di sekelilingmu. Cinta tulus, yang tak pernah ada pamrih sedikitpun, tercurah untukmu, di saat engkau (mungkin) mengejar cinta yang bahkan bukan selayaknya untuk kau kejar!

Cobalah kembali kita insafi sejenak. Sungguh ada banyak cinta di sekeliling kita, tulus teruntuk buat kita, yang mungkin ambang dalam hati kita sebab satu lokus harap itu sudah tersandar bulat-bulat padanya. Cinta dari sahabat-sahabat kita, saudara saudari kita. Mereka yang merengkuh pundak-pundak kita dengan hangat. Berbagi kedukaan dan berbagi canda tawa dengan kita. Adakah pantas untuk terlupakan?

Ada lagi, curahan cinta yang lebih dahsyat dari itu. Bahkan, ia pertaruhkan nyawa demi kehidupan kita. Sungguh, cinta yang takkan pernah terbalaskan oleh diri kita. Ialah cinta ibu dan ayah kita. Lalu, apakah masih ada alasan bagi kita untuk lupa dengan segenap cinta yang begitu dahsyat ini dan masih merelakan separuh hati kita, bahkan untuk seseorang yang tak layak menurut-Nya? Cobalah sejenak kembali kita selami. Bukankah beliau berdua tak pernah rela membiarkan sedikitpun ada beban penderitaan di hati kita?

Saat kita bahkan lebih euphoria menerima SMS dia dari pada beliau berdua? Saat sebagian alam fikir kita justru tersedot pada seseorang yang belum tentu terbaik buat diri kita, dan lupa akan segala cinta dahsyat dari ayah bunda kita? Bukankah beliau telah berkorban segalanya untuk kita? Memberikan yang terbaik untuk kita. Berbahagia dengan kebahagiaan kita, melebihi kebahagiaan diri beliau sendiri. Apakah kita lupa itu?

Ingatkah kita, ketika beliau lebih rela kekurangan, lebih rela untuk tidak enak, hanya demi diri kita agar tidak kekurangan dan merasa lebih enak? Ingkatkah kita, ketika beliau senantiasa bersusah payah, lelah dan penat tetapi tak pernah beliau keluhkan itu? Bahkan, ketika kita bertanya, “adakah engkau lelah, Bunda?” beliau masih saja menjawab “tidak, anakku” padahal tubuh itu sudah begitu gemetaran? Aaah…, sungguh, mungkin kita lupa, ketika kita mengejar cinta yang belum tentu Alloh halalkan untuk diri kita. Lupakah kita akan hal itu?

Sahabat, bersyukurlah…bahwa engkau jauh lebih beruntung dikaruniai kasih dan cinta yang tak terbatas? Kita jauh lebih beruntung dari pada segenap anak-anak lainnya yang sama sekali tak merasakan dahsyatnya cinta luar biasa ini. Anak-anak yang tak pernah merasakan betapa bersahajanya belaian seorang ibu? Lalu, masihkah kita sanggup berkata, bahwa cinta kita bertepuk sebelah tangan?

Di atas itu semua, masih lagi ada cinta yang Maha Dahsyat! Cinta Sang Maha Pemilik Cinta. Kita, yang senantiasa melakukan dosa di hadapan-Nya, tapi, Dia masih membentangkan segenap keampunan. Masih mencurahkankan segenap Rahman dan Rahim-Nya pada diri kita yang dhaif ini. Dia yang sungguh jauh lebih dekat dengan kita. Bahkan, dia itu, tentulah tak lebih bandingannya dengan sebiji dzarrah dibandingkan luasnya semesta. Bahkan ia lebih kecil dari pada itu. Lalu, adakah kita lupa akan hal ini? Ah, sungguh…cinta kita tak pernah bertepuk sebelah tangan. Tak pernah…

Sahabat...

Sungguh, ada cinta-Nya yang Maha Indah yang lebih patut untuk kita kejar. Sungguh, dia itu bukan apa-apa. Bahkan, BELUM TENTU dia adalah sebaik-baik pilihan-Nya buat diri kita. Berhentilah melabuhkan harap pada manusia yang sama dhaifnya dengan diri kita. Berhentilah menyandarkan hati pada sosok yang belum tentu Dia ridhoi untuk membersamai kita. Sedangkan cinta-Nya dan kasih sayang-Nya, adalah sesuatu yang PASTI meliputi semua hamba-Nya, bahkan setelah kita bermaksiat sekalipun. Sungguh, ampunan-Nya lebih luas dari samudera, kendati pun dosa-dosa kita juga sebanyak air di lautan. Lalu, masihkah kita rela menukar cinta yang banyak dengan cinta yang sedikit? Tentu kita tak ingin merugi, bukan?

Sahabat, mari, kita saling mengingatkan. Mari kita mengejar cinta-Nya. Yaah, cukuplah pada-Nya saja kita labuhkan segenap harap. Dia paling tahu apa yang terbaik bagi diri kita, jauh melebihi kita. Bahkan kita tak tahu apa-apa.

Ditulis oleh:
El Mafazy Fauzan Azhari 
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea