22 Juli 2017

Training Bobo Mandiri

Posted by bianglalabasmah at 7/22/2017 10:30:00 PM 0 comments
Asma': “Ummi, jangan tutup pintu kamar Asma' kalo Asma' bobo nah..”
Ummi: “Kenapa?
Asma’: “Nanti Asma' nangis.
Ummi: “Kenapa Asma' nangis?
Asma’: “Karena gak ada Ummi bobo dekat Asma'.”
Ummi: “Kan Asma' udah gede'. Bobonya sama 'Aisyah di kamar Asma'Aisyah.
Asma’: “Asma' mau sama Ummi juga.
Ummi: “Ummi cuma bisa temani Asma'Aisyah sampai bobo. Kan Asma'Aisyah dijaga Allah.
Asma’: “Asma' mau bobo sama Ummi juga..
Ummi: “Ummi kan ada kamarnya, sama abi.
Asma’: “Abi saja dijaga Allah.. Ummi sama Asma'.”
Ummi: “Iya, Asma'. Allah yang jaga Asma' Aisyah, juga jaga abi ummi. Tapi tidur di kamar masing-masing. Ummi gak tutup pintu kamar Asma'Aisyah. Ok!” (padahal saya udah speechless dan senyum-senyum sendiri dengar kepolosan Asma', masyaa Allah..)
*

Asma', 'Aisyah dan Afra' tidur di kamarnya
Hampir setahun lalu kami memulai training bobo mandiri ini pada anak-anak. Mulai dari memperkenalkan mana kamar anak-anak dan mana kamar abi ummu, menemani di jelang tidur dengan ‘ritual’ membacakan buku/bercerita dan men-talqin bacaan surah Al Qur’an dan berdoa, sampai hanya sebatas nge-ronda ketika anak terbangun dan mengembalikan anak-anak tidur di kamarnya.

Training bobo mandiri dimulai pada saat penyapihan ‘Aisyah yang saya mulai ketika hamil ketiga. Alhasil, menemani hanya sampai anak-anak tertidur. Tentu tetap menyampaikan bahwa Asma’Aisyah akan tidur tanpa abi dan ummi lagi di samping mereka. Bila ditanya kenapa? Jawabanya, karena Asma’ dan ‘Aisyah sudah besar. Sudah tidak mimik lagi. Dan ada adek dalam perut ummi (saat pengenalan training bobo mandiri)

Bagian dari kamar 3A Hafizhah :)
Perjalanan bobo mandiri pun berlangsung sampai putri ketiga lahir. Alhamdulillah, training yang berbilang bulanan ini sampai pada ujungnya. Duo-A hafizhah kami mulai tidur mandiri, setelah keduanya telah kami sapih. Walau tetap saja duo-A hafizhah ini ketika terbangun tengah malam memilih pindah ke kamar abi umminya. Tapi, dalam kondisi yang memungkinkan pun saya atau suami akan memboyong kembali ke kamar.

“Kalau terbangun tengah malam, cukup baca doa bismika allaahumma amuutu wa ahya, terus dan lanjut tutup mata ya, kakak. Supaya bisa bobo lagi.” Begitulah pesan saya pada Asma’Aisyah di hampir tiap malam jelang tidur mereka. Kemudian berikan kecupan sayang dan pelukan hangat pada mereka sebelum bobo. “Allah yang jaga kakak Asma’ dan kakak ‘Aisyah..”

Alhamdulillaah wa syukuurillaah, bila kita berazzam dalam kebaikan lalu bertawakkal, maka Allah mudahkan. Di mata kami, kemandirian dalam tidur ini pun menjadi satu bukti tentang duo-A hafizhah ini. Mereka belajar tumbuh. Semoga tumbuhnya bersama iman yang tertancap kuat dalam hati-hati kalian, anak shalehah hafizhah..

#BasmahThariq  
#Day3 
#GameLevel2
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst


[ Read More ]

21 Juli 2017

When Weaning with Love and Iman

Posted by bianglalabasmah at 7/21/2017 11:57:00 PM 1 comments
Bisa menyusui dua tahun full dan tanpa bantuan susu formula adalah komitmen saya dan suami, in syaa Allah. Maka, menjemput komitmen itupun bukan hal mudah. Alhamdulillaaah, atas rahmat dan taufiq dari Allah, Allah mudahkan atas semuanya terhadap saya juga pada 3 putri kami. Nursing while Pregnant (NWP) disambi dengan Weaning with Love and Iman (WWLAI) itu juga perjuangan.

'Aisyah menemani Ummi yang sedang konsul skripsi :))
Banyak bertanya kala Asma’ yang belum genap 2 tahun sedangkan saya tetap menyusui dan sedang hamil kedua. Kemudian tandem nursing, yaitu masih menyusui Asma’ setelah ‘Aisyah lahir sampai usia ‘Aisyah 4 bulan. Kondisi ini kembali terjadi ketika hamil ketiga, ‘Aisyah yang masih menyusui karena belum genap 2 tahun. Dan tetap menyusui saat Afra’, putri ketiga kami lahir hingga berusia sebulannya ‘Aisyah tetap menyusui sampai genap diusianya 2 tahun. Tentunya proses NWP ini saya lakukan setelah konsultasi dengan dua dokter obgyn, dan diperiksa kondisi kehamilan dan bayi dalam kandungan.

Qadarullah wa maa syafa’al, pada hamil pertama dan kedua masih harus berkutat pada skripsi. Bolak-balik ngampus dengan bawa bayi yang entah dalam kondisi digendong atau dikandung yang sungguh kala itu pikiran orang yang melihat saya ‘wow’. But so amazed, masyaa Allah. Kemudian hamil kedua dan ketiga dengan kondisi saya masih menyusui anak yang belum dua tahun, plus masa kehamilan yang selalu diiringi ‘ngidam berat’ sepanjang hari di setiap sembilan bulan masa kehamilan. Sampai pada kehamilan ketiga, saya diharuskan untuk rawat inap. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal.

Setelah pernah menjalani fase menyapih di anak pertama pada kehamilan kedua, tentu ada bekal pengalaman pada fase ini di kehamilan berikutnya. Tidak seperti mi instsan yang hanya modal merebus mi dan tuang bumbu-bumbu setelahnya, dan siap disajikan. Weaning with Love and Iman (WWLAI) ini prosesnya puanjaaaaang, masyaa Allah.

Ketika menyadari hamil di usia ‘Aisyah yang masih 1y3m, di sanalah penyapihan berlangsung. No tipu-tipu istilahnya. Tanpa balur balsem, cabai, atau apapun di payudara yang membuat si bayi jadi tidak nyaman dan enggan untuk menyusui atau mimik lagi. Memulai dengan menyampaikan secara sederhana. Di jelang tidurnya, di setiap meminta ketika sedang beraktivitas, dan di setiap aksi heroik (baca: tanrum) hadir secara tiba-tiba.

“In syaa Allah ‘Aisyah mau punya adek. Adeknya Allah titip di perut Ummi nak..”
“’Aisyah mimiknya kalo mau bobo aja ya, nak..”
“Ummi tetap sayang ‘Aisyah karena Allah. Meskipun ‘Aisyah udah gak mimik lagi..”
“Ummi peluk ‘Aisyah aja ya.. Karena mimiknya untuk bobo aja.”

Semua perlakuan di atas berlanjut selama 9 bulan. Setelah menyampaikan berlanjut mengurangi porsi menyusui yang tadinya menyusui kapan saja yang ia inginkan, menjadi kapan saja ia butuhkan di setiap bulannya. Misal, ketika akan tidur pagi, siang, sore, dan malam di mana waktu-waktu inilah ia butuh mimik. Kala beraktifitas, saat ia meminta, maka berikan pelukan sambil menyampaikan tentang adik yang ada dalam kandungan Ummi. Berikan perhatian lebih dan cemilan sebagai pengalihan.

Ketika ke dokter, saya mengajak anak-anak untuk melihat saya. Termasuk menyampaikan perubahan badan dan perut saya yang semakin membesar. Memperlihatkan tendangan bayi yang menyembul pada bagian perut saya kepada anak-anak sebagai tanda bahwa calon adiknya sedang bergerak di dalam perut ummi. Serta penyampaian berlanjut di sebulan menuju HPL, bahwa kelak Asma' dan 'Aisyah akan bersama kakek dan nenek selama Abi dan Ummi di rumah sakit untuk berjuang menjemput adik yang akan keluar dari perut Ummi. Dan setelahnya, in syaa Allah si adik akan kelak akan mimik seperti kakak dulu. 


Ketika kami masih ber-4 :)
Penyapihan ini pun harus dengan terlibatnya suami, yaitu ayah dari anak-anak. Terutama ketika saya mulai kelelahan pada malam hari dan rasa ngantuk yang menyerang, sedang anak masih saja ingin diberi perhatian. Subhaallaah... Namun, penyapihan ini berujung juga, wal hamdulillaah. Melihat 'Aisyah yang sudah dua bulan ini setelah genap dua tahun usianya mandiri. Ia mulai mengerti, dan bahkan begitu 'legowo' ketika melihat adiknya, Afra' sedang mimik. Tak jarang pula ia membantu adiknya ketika menangis dengan memberi tahukan kepada saya, "Ummi, adek Affa (Afra') mau mimik.." Ujarnya dengan polos.


Alhamdulillaah.. Alhamdulillaah.. Melepaskanmu tanpa paksaan. Dan menyapihmu karena perintah Allah. Tentunya, selalu memohon pertolongan pada Allah untuk segala hajat. Termasuk dalam proses menyapih yang karenaNya begitu banyak hikmah yang bisa saya dan suami belajar dari seorang 'Aisyah. Barakallaahu fiik ya, nak shalehah hafizhah kami.. Jazakillaahu khaer tuk setiap tahapan perkembangan yang Allah tujukan padamu..



#BasmahThariq
#Day2
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
[ Read More ]

20 Juli 2017

Rumah dan Fitrah Anak

Posted by bianglalabasmah at 7/20/2017 07:43:00 AM 0 comments
Aktivitas duo-A Hafizhah
Setelah menikah, kerapian rumah hanya terjaga di awal kehidupan rumah tangga yang masih diisi oleh saya dan suami. Tapi, setelah kehadiran Asma', kemudian disusul oleh 'Aisyah, membuat saya dan suami semakin mengerti bahwa kenyamanan itu tidak datang dari rumah yang selalu rapi. Menjaga tetap bersih, iya. Namun, berharap setiap ruang dengan tanpa dijejali mainan berhamburan, lembaran-lembaran kertas berserak, bahkan buku-buku yang jadi bacaan favorit lecek sampai tak utuh itu, m u s t a h i l.

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat

Entah kesyukuran apa lagi yang harus kami panjatkan, karena rumah yang kami anggap kapal pecah itu menjadi sebab adanya kehidupan. Tentang tangis yang tak pernah absen, hadir secara bergantian bahkan hampir bersamaan. Tentang rival siblings pun bisa membuat nada-nada kami khilaf, merubah menjadi melengking. *Astaghfirullaah..* Tentang kertas-kertas yang seringnya menghujani hampir seisi rumah dalam keadaan tak lagi utuh, menjadi hal menarik yang justru diminati. Tentang mainan berserakan menjadikan kaki perih ketika tanpa sengaja menginjak. Dan tentang berhiasnya senyum tawa selalu menjadi penyejuk, penghapus lelah yang tak berkesudahan.

Berbenah sebelum meninggalkan rumah
Kesyukuran ini semakin bertambah ketika duo-A hafizhah tetap dalam fitrah anak sesungguhnya. Tanpa harus melibatkan gadget dan TV yang membuat kami seringnya menahan tak ber-gadget ria di hadapan mereka. Tujuannya agar koordinasi tangan dan mata berkembang dengan baik. Motorik halus dan kasar terasah, imajinasi yang terarah. Daya ingat yang menajam tanpa dijejalkan pada hal-hal yang tak semestinya.


Di usianya yang beranjak batita dan balita, duo-A hafizhah secara perlahan mulai kami libatkan dalam hal membereskan mainan misalnya. Asma’(3y11m) terbiasa tanpa kami pinta turut membantu adiknya. ‘Aisyah (2y2m) yang ingin minum, mengambilkan dan membantunya menuang. Ketika mendapati lantai basah karena tumpahan minum/makan, kakak Asma’ dengan sigap segera mengambil lap yang memang kami sudah siapkan untuk anak-anak bisa dijangkau. Di jelang bepergian misalnya, atau di sebelum makan dan tidur malam mereka, kami mengajaknya untuk sama-sama membereskan mainan dan buku-bukunya untuk dikembalikan di tempatnya. Masyaa Allah wal hamdulillaah. Perlunya bermula dari memberikan teladan, menyampaikan, lalu mengajak,  dan mengingatkan agar fitrah itu tetap hadir.

Kondisi Kamar duo-A Hafizhah
Dari kesemuanya, kemandirian yang kami ajarkan bukan menjadi tuntutan yang berujung mengancam. Tetap pada porsi mereka di usia yang masih tak seberapa. Setiap usahanya tetap kami sambut dibarengi ucapan terima kasih. Agar mereka mengerti akan tanggung jawab tentang apa-apa yang mereka lakukan. 

Lagi-lagi, kalaulah keinginan rapi terpelihara, cukuplah ‘rapi’ itu saat anak telah tertidur pulas. Ketika bangun tidur pun kami tetap mengizinkan rumah ini berantakan. Sebab, kami sadar sesadar-sadarnya, betapa nikmat sehat, aktif, dan rasa ingin tahunya yang tinggi, mahal harganya.

Sebab pula tak sebanding dengan gadget yang kebanyakan menjadi senjata paling ampuh untuk penenang buah hati. Pun hiburan tv yang sejak awal memang sengaja kami tiadakan di rumah. Walau 'mungkin' hal tsb akan terlihat kalian lebih tenang, rumah tak akan seperti kapal pecah, dan mungkin tak ada lagi drama rebutan mainan antar saudara yang disertai dengan isak tangis.

Barakallaahu fiikunna, duo-A hafizhah kami.. Jazaakunallaahu khaer.

#BasmahThariq  
#Day1 
#GameLevel2 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
[ Read More ]

24 Maret 2017

NHW 09: Bunda sebagai Agen Perubahan

Posted by bianglalabasmah at 3/24/2017 02:32:00 PM 1 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Alhamdulillaah..  Masih bisa dapat mengenyam ilmu pada kelas matrikulasi. Tentang Bunda sebagai Agen Perubahan. The last Nice Homework -mungkin ya- secara teori. Namun, Nice Homework ini menjadi PR di kehidupan saya. Adalah sebentuk cita-cita kecil yang tengah saya susun step by step dengan bantuan suami, bi idznillaah. Betapa banyak permasalahan hari ini yang sering kita dapati di sekitar yang bisa terpecahkan jika setiap keluarga berperan dalam perubahan kebaikan di masyarakat. Meskipun perubahan itu terlihat sederhana.
Saat menulis ini seperti pun membayangkan, sekiranya setiap ibu mengambil peran dalam membangun peradaban, maka wujudnya in syaa Allah akan dirasakan oleh keluarga dan masyarakat. Salah satu cara untuk mendukung bunda sebagai agen perubahan adalah dengan berempati yang kemudian dibarengi dengan passion masing-masing yang bisa mendukung.
*
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

***
Bismillaah, semoga Allah mudahkan dan mengizinkan dalam menjalankan tugas-tugas ini. Bukan sekadar tugas yang tertulis, melainkan sebuah wujud nyata. Aamiin...
Salam Ibu Pembelajar

Basmah Thariq / Ummu Asma'


[ Read More ]

17 Maret 2017

NHW 08: Misi Hidup dan Produktivitas

Posted by bianglalabasmah at 3/17/2017 03:36:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim…


Alhamdulillaah, masih bisa stay di kelas Matrikulasi di pekan ke-8. Ketika awal-awalnya hanya menerka-nerka tentang ‘isi’ dari matrikulasi tersebut. In syaa Allah dengan modal menerka-nerka, sambil menyelami materi tiap pekan dan mengupayakan dalam pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari lebih mengarahkan saya ke arah mana produktivitas tersebut.

Melirik pada bakat dan passion yang memudahkan saya dalam menjalankan misi hidup yang selaras dengan perjalanan produktivitas. Dalam Nice Homework ke-8, diminta kembali untuk melihat dan mengambil salah satu dari ranah aktivitas yang telah ditulis pada Nice Homework ke-7, kuadran SUKA dan Bisa. Dalam hal ini, saya senang pada aktivitas rumahan; mendesain dan melakukan aktivitas bersama anak (belajar dan bermain).

“BE DO HAVE” di bawah ini:

BE
Fitrahnya seornag perempuan. Ibu, menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Mereka belajar lewat apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Mereka belajar dari apa yang seorang ibu mereka ucapkan dan lakukan.

DO
Belajar dari sumber yang shahih. Al Qur’an dan Sunnah. Parenting Nabawiyyah, satu di antaranya yang menguatkan saya dalam perjalanan produktivitassaya. Sebab teladan ada pada sosok Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada teori-teori lain yang dikemukakan oleh orang barat pada umumnya dalam melahirkan generasi rabbani, in syaa Allah.

HAVE
Alhamdulillah, dengan kekuatan yang saya miliki, sebagai educator, designer, dan server yang cukup mendominasi menjadi komitmen awal dan dukungan dari suami dalam menjalankan aktivitas bersama anak, in syaa Allah.


3 Aspek Dimensi Waktu
Lifetime Purpose
Dalam kurun waku kehidupan saya, in syaa Allah ingin menjadi seorang khalifah yang bisa memainkan peran sesuai kadar dan fitrah sebagai perempuan. Menjadi ibu professional, istri yang shalehah, dan anak yang berbakti kepada orangtua, In syaa Allah. Walaupun dalam hal tersebut tidak semudah yang dituliskan. Namun, semoga cita-cita ini bisa diwujudkan. Allaahumma Aamiin..

Strategic Plan
Dalam kurun 5-10 tahun, jika Allah menghendaki, ingin bersama suami menciptakan suasana belajar dan lingkungan yang kondusif untuk anak-anak. Bisa melahirkan generasi rabbani yang hafizh/hafizhah, dan shaleh/shalehah.

New Year Resolution
Dalam kurun satu tahun, berharap bisa fokus dalam aktivitas anak baik pada belajar maupun bermain anak-anak. Bersabar dan bisa menjadi teladan bagi anak-anak, mengenyahkan rasa malas dan egois dalam diri. Seiring dengan itu pula, saya bisa melahirkan sebuah buku dengan harapan besar bisa memotivasi saya dan orang lain dalam mendampingi dan mendidik anak-anak.

Bismillaah...
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH


Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'



[ Read More ]

11 Maret 2017

NHW 07: Tahapan Menuju Bunda Produktif

Posted by bianglalabasmah at 3/11/2017 10:05:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Alhamdulillaah, telah memasuki pekan ke7. Sejauh ini saya senang sesuatu yang bisa mendukung 'kinerja' saya dalam hal bakat. Dan pada kesempatan ini, Nice Homework-nya diarahkan untuk mengisi di temubakat.com

'Alaa kulli haal, ketika baik itu segala anugerah dari Allah. Dan segala kekurangan yang buruk tentunya menjadi bahan introspeksi. Menyempurnakan dengan memaksimalkan potensi yang baik, yang menjadi anugerah dari Allah ta'ala. Tentunya, segalanya diupayakan dengan kesungguhan dan berbekalkan iman, ilmu, dan ihsan.
Berikut hasil dari temubakat.com yang telah saya ikuti..

Deskripsi singkat tentang hasil dari temubakat.com


Salam Ibu Pembelajar



Basmah Thariq / Ummu Asma'



[ Read More ]

3 Maret 2017

NHW 06: Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Posted by bianglalabasmah at 3/03/2017 05:53:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada hal-hal yang tidak pernah terlintas dalam benak atau belum terpelajari di kehidupan sebelum menikah. Namun tidak ada kata terlambat untuk belajar, mengambil hikmah dan sisi terbaik dari setiap peristiwa.

Membelajarkan diri, melalui banyak pengalaman yang bisa dipetik, terutama dari seorang ibu saya yang masyaa Allah begitu mandiri dan telaten dalam mengemban tugas sebagai ibu rumah tangga. Tak bermodalkan ijazah berjenjang pendidikan tinggi. Namun bagi saya, beliau adalah sosok yang bisa menjadi teladan, mampu me-manage dengan baik. Yes, she is my Mom. My first teacher. Barakallaahu fiiha.

Di Nice Homework kali ini berjudul Menjadi Manajer Keluarga yang Handal. Berbekal dari ibu, saya (sedang berusaha) membentuk pola di dalam keluarga untuk tumbuh dan berkembang dari manajemen yang sedang saya upayakan. Tentunya setelah terjadi kesepakatan dan keputusan  bersama suami akan seperti apa rumah tangga ini.

Di Matrikulasi IIP 6, terdapat prinsip dalam mengelola aktivitas, yaitu: Put First Things FirstOne Bite at a Time, and Delegting.

Hal ini berarti ada tugas saya berusaha mendesain cara rumah dikelola, mendesain cara memfasilitasi anak agar mandiri, mengerjakan apa yang menjadi prioritas, dan membentuk hometeam bersama suami dan anak-anak.

Alhamdulillah, suami sangat supportif. Ia paham dan mendukung kegiatan yang bisa meng-upgrade saya untuk terus berproses menjadi pribadi, istri, dan ibu yang baik, in syaa Allah. Mengingat kami tidak memiliki ART (asisten rumah tangga). Maka ada beberapa tugas domestik yang ia handle dengan senang hati. Misal, untuk wilayah pekarangan rumah dan sekitarnya ia yang rutin lakukan dengan melibatkan anak-anak. Ia yang berbelanja ke pasar, ia pula yang rutin mencuci popok kain anak-anak, dan menemani aktivitas anak di pagi hari sampai ia akan berangkat kerja.

Sebagai penganut kaum multitasking, saya mengambil bagian pada aktivitas memasak, mencuci pakaian, menjemur, melipat, dan menyetrika. Sebab, beberapa aktivitas bisa dilakukan dalam satu waktu. Alhamdulillah...

Adapun pekerjaan rumah yang sedang saya delegasikan kepada dou-A Hafizhah kami, Asma’ dan ‘Aisyah adalah merapikan buku dan mainnya. Bahkan dou-A Hafizhah kami mulai menyapu sesuai kemampuannya tanpa dipinta. Hal itu sangat berarti bagi saya. Saya dan suami berkeinginan agar dou-A Hafizhah kelak menjadi anak-anak yang mandiri, menyadari tugas-tugas tanpa diperintah.

Itulah sebabnya, ketika saya memasak, mencuci pakaian atau piring, menjemur dan melipat baju, serta menyetrika, saya cenderung membiarkan dan melibatkan dou-A Hafizhah. Mengingat usia masih di bawah 4 tahun, maka saya mengizinkan meski sebatas melihat-lihat dan memperkenalkan apa yang sedang saya lakukan. Tentunya, kelekatan anak-anak di bawah usia 4 tahun yang masih mendominasi, sehingga kemanapun saya sebagai umminya melangkah, tentu ada dou-A Hafizhah yang akan selalu mengikuti.

*

Dan ini Nice Homework di pekan ke-6 pada kelas Matrikulasi:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!
Awalnya saya menganggap semua penting, tapi mencoba memilah yang penting dan yang tidak penting
Tiga aktivitas paling penting di rumah adalah: 
  1. Ibadah (Shalat fardhu dan tilawah AlQur’an)
  2. Melayani kebutuhan suami dan mendampingi aktivitas dou-A Hafizhah
  3. Belajar (Membaca, menulis, dan menyimak kajian)
Tiga aktivitas paling tidak penting adalah:
  1. Mengecek gadget dan stalking di Social Media
  2. Membuat kegiatan secara tak terduga untuk mengisi waktu (tetiba ingin menjahit, ingin membuat prakarya, mem-permak barang-barang yang kemungkinan masih digunakan, dll padahal masih ada kegiatan domestik yang belum terselesaikan)

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Sejauh ini baik aktivitas penting maupun (yang dianggap) tidak penting, sama-sama menyita waktu. Namun melihat dari sisi produktiviasnya mungkin masih kurang optimal.

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
In syaa Allah, sedang mengoptimalkan pada aktivitas penting. Terutama fokus pada aktivitas anak-anak yang berpeluang melakukan aktivitas “multitasking”.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.
Saya memberikan warna kuning pada kolom di amal yaumi. Di sana, ada waktu yang sangat kondusif dalam melakukan dan menyelesaikan aktivitas-aktivitas tsb. Meski bagi saya sifatnya fleksibel. Namun sejauh ini menjadi kegiatan rutin saya dan ‘alaa bi idznillah, bisa saya lakukan selama ini. Alhamdulillah..

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
(Beraaat instruksinya. Tapi in syaa Allah..) Mengingat saya sedang meminimalisir (sebatas menerima telpon atau menelpon bila ada keperluan) dan bahkan puasa gadget di pagi sampai dou-A Hafizhah tidur malam. Karena gadget bagi saya meski memberikan manfaat, namun tak jarang memberikan mudharat (kesia-siaan) yang cenderung membuat saya secara pribadi kurang fokus dalam menyelesaikan amal yaumi. Semoga saya bisa istiqamah
Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Bismillaah.. In syaa Allah..
***
Alhamdulillaah... Semoga dengan menjadwalkan aktivitas/amal yaumi bisa mengatur batasan-batasan untuk mendisiplinkan diri agar bisa menjadikan hari-hari ke depan lebih produktif. Bismillaah…

Salam Ibu Pembelajar


Basmah Thariq / Ummu Asma'

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea