12 April 2010

Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse

Posted by bianglalabasmah at 4/12/2010 09:05:00 AM 0 comments
Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse PDF Print E-mail

Kita mengenal berbagai macam cara dan alat untuk menyampampaikan isyarat morse antara lain sebagai berikut

ALAT

CARA

Peluit

Bunyi Panjang dan Pendek

Bendera

Kibaran Panjang dan Pendek

Api/ Cahaya

Nyala Pendek dan Panjang

A s a p

Gumpalan Kecil dan Besar

Telegrap

Tulisan Titik dan Garis

Cermin dengan bantuan cahaya matahari

Sinar Sebentar dan Lama

Berikut ini aneka arti untuk pengiriman tanda morse dengan menggunakan peluit atau lainnya :

Image

Untuk menyampampaikan isyarat morse dengan alat bendera dilakukan seperti di bawah ini :

Image

[ Read More ]

Semaphore

Posted by bianglalabasmah at 4/12/2010 09:00:00 AM 0 comments
Semaphore PDF Print E-mail
Image

Semaphore adalah suatu cara untuk mengirim dan menerima berita dengan menggunakan 2 bendera, dimana masing-masing bendera tersebut berukuran 45 cm x 45 cm. Sedangkan warna yang sering dipergunakan adalah merah dan kuning dengan warna merah selalu berada dekat tangkainya.

Image

Penulis : Kakak Drs. Ringsung Suratno, M.Pd

[ Read More ]

Andai Engkau Tahu Siapa Aku Sebenarnya

Posted by bianglalabasmah at 4/12/2010 08:35:00 AM 0 comments

Betapa seringnya kita merasa bangga ketika melihat begitu banyaknya orang yang membutuhkan kita. Saat kita menyaksikan orang-orang berkumpul di sekeliling kita, betapa bangganya jiwa ini. Padahal –kita sendiri menyadari bahwa- orang-orang itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan bagaimana diri kita yang sesungguhnya. Dan yang membuat segalanya semakin parah –kita pun seperti selalu berusaha menampilkan berbagai bentuk dan rupa kepalsuan. Menampilkan kekhsyu’an padahal sesungguhnya tidak khusyu’. Berlagak seperti ahli dzikir, padahal hati selalu lalai mengingat Allah. Dan orang itu bukan siapa-siapa. Dialah kita.

Kaum shaleh terdahulu yang hampir tidak bisa diragukan lagi keshalehannya seringkali mengungkapkan kekhawatirannya akan dirinya sendiri. Bila kita meluangkan waktu untuk membaca jejak-jejak keshalehan mereka, rasanya kita sulit untuk mengerti mengapa mereka masih saja sangat khawatir amal mereka tidak diterima oleh Allah. Mengapa mereka masih saja selalu berperilaku seolah-olah merekalah para penghuni neraka. Jilatan dan kobaran api neraka seperti begitu dekat…

Padahal sesungguhnya bila kita mengerti, kita sama sekali tidak perlu heran. Itulah tanda utama kesalehan seorang hamba. Bila engkau selalu merasa khawatir amalmu tidak diterima, maka bersyukurlah. Sebab terlalu banyak manusia yang memandang Allah sebagai Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, namun lupa bahwa Ia juga Maha Perkasa dan Mahadahsyat siksaan-Nya. Saat ia tenggelam dalam kemaksiatan dan kedurhakaan, ia membayangkan bahwa Allah itu Maha Pengampun, dan lupa bahwa Ia tidak menyukai dan akan menghukum para pendurhaka. Dan –lagi-lagi- orang itu bukan siapa-siapa. Dia adalah kita sendiri.

Sepanjang sejarah memang selalu begitu yang terjadi. Semakin shaleh dan dekat seorang hamba dengan Allah, semakin takut dan khawatirlah ia bila cintanya ditolak oleh sang kekasih. Dan semakin durjana seorang makhluk, semakin optimislah ia bahwa kedurjanaannya itu pasti diampuni oleh Allah. Padahal ia tidak mengantongi secuil jaminan pun akan hal itu. Sangat jauh berbeda dengan shahabat-shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas-jelas telah ‘mengantongi’ jaminan masuk surga. Anda tentu tahu siapa itu Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar Al-Faruq dan ‘Utsman ibn ‘Affan. Mereka adalah beberapa sosok shahabat yang telah ‘mengantongi’ jaminan itu. Lalu bacalah perjalanan hidup mereka sesudah memperoleh jaminan surga itu. Tidak sekalipun mereka berleha-leha dalam beribadah. Jaminan itu justru semakin membuat mereka semakin meluap-luap untuk berjumpa dengan Rabb mereka. Duhai, alangkah pandirnya kita.

Suatu ketika, Jubair ibn Nufair mendengarkan do’a yang diucapkan oleh shahabat mulia Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhum di akhir shalatnya. Anda tahu do’a apa yang beliau panjatkan? ‘Audzubillahi minan nifaq (Aku berlindung kepada Allah dari sifat munafik). Ya, seorang shahabat seperti Abu ad-Darda’ begitu takut terhadap kemunafikan. Itulah sebabnya, -masih menurut penuturan Jubair ibn Nufair- beliau mengulang-ulangi do’a itu.

“Duhai tuan, ada apa antara Anda dengan kemunafikan?” tanya Jubair kepadanya.
“Sudahlah, engkau tidak usah mencampurinya. Demi Allah! Sesungguhnya seseorang itu dapat berubah-ubah dan berbolak-balik agamanya dalam satu jam, hingga akhirnya agama itu tercabut darinya!” jawab Abu ad-Darda’.

Seorang ‘alim bernama Yusuf ibn Ahmad Asy-Syairazy mengisahkan tentang salah seorang gurunya yang dikenal dengan Abu Waqt. Sang guru ini dikenal sebagai salah satu ahli hadits yang telah melakukan pengembaraan panjang untuk menyelami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bahkan digelari sebagai ruhlah ad-dunya; sang pengembara dunia. Simaklah penuturan Yusuf Asy-Syairazy tentang guru yang satu ini:
“…Allah akhirnya menakdirkan aku bertemu dengan beliau di negeri bernama Kirman. Saat aku pertama berjumpa, kuucapkan salam kepadanya lalu aku mencium (kepala atau pundaknya). Kemudian aku duduk bersimpuh di hadapan beliau. Tidak lama kemudian, beliau bertanya padaku:

“Apa yang membuatmu datang ke negeri ini?”
Aku menjawab: “Engkaulah yang menjadi maksudku, tuanlah sandaranku setelah Allah Ta’ala. Aku telah menulis hadits-hadists yang engkau riwayatkan dengan penaku, namun aku tetap berusaha menemui tuan dengan kedua kakiku agar aku bisa mendapatkan keberkahan nafas-nafas tuan dan mendapat sanad tuan yang lebih tinggi.”
Beliau kemudian berkata: “Semoga Allah memberikan taufiq dan keridhoan kepadaku dan kepadamu. Semoga Ia menjadikan segala upaya kita adalah karena-Nya. Semoga Ia menjadikan tujuan kita hanyalah pada-Nya. Duhai, seandainya saja engkau mengetahui aku dengan sebenar-benarnya, niscaya engkau tidak akan mau mengucapkan salam padaku. Niscaya engkau tidak akan sudi duduk di hadapanku…”

Beliau kemudian menangis. Lama sekali. Hingga membuat semua yang hadir pun turut menangis. Lalu beliau melanjutkan ucapannya, “Ya Allah! Tutupilah aib-aib kami dengan perlindungan-Mu Yang Mahaindah, dan jadikanlah apa yang ada di bawah perlindungan-Mu itu sesuatu yang Engkau ridhai untuk kami…”.

Itulah yang dikatakan oleh sang ‘alim pengembara dunia itu. Lalu apakah gerangan yang patut kita ucapkan dengan segala kelalaian kita? Katakanlah kepada siapapun yang mencoba mengagumi dan memuji kita: “Saudaraku, andai engkau tahu siapa aku sebenarnya…”. Lalu tangisilah diri sendiri.

Demikianlah salah satu nilai penting yang diwariskan generasi salaf kepada kita. Kesadaran dan kepekaan terhadap diri sendiri. Jangan pernah menjadi ‘ujub dan kagum pada diri sendiri. Intinya, tahu dirilah!


(kisah ke-4 dari buku “Cinta yang Membius” karya Abul Miqdad Al-Madany)
[ Read More ]

9 April 2010

Serpihan Hari

Posted by bianglalabasmah at 4/09/2010 09:11:00 AM 0 comments

Mengawali hari dengan segenap jiwa yang tak sanggup untuk menopangnya. Demi serpihan hari yang ingin kurangkai lewat sebuah asa yang ingin kususun. Namun, asa ini tak kunjung usai saat segalanya terburai oleh hentakan rasa yang mulai membuncah.

Kemarin, baru saja aku terbata dalam bait-bait cintaNya. Meski sempat menganggap rasa ini hanya menguap begitu kuakhiri bait-bait cintaNya. Tapi, kali ini aku tak sanggup membendung air mata yang menciptakan nafas yang terputus-putus.
"Lalu, apa yang ingin kau bangun dari serpihan hari ini?" Kali ini aku mulai berdialog lagi. Menyangkal segala imaji yang menepis asa yang sempat terbangun. Serpihan hari yang sempat mengguncang rasa. Karena hentakan-hentakan yang yang mengiris jiwa.

Hati, jangan paksa aku berucap rindu padanya.
Aku tetaplah manusia lemah..
[ Read More ]

8 April 2010

Salah Siapa?

Posted by bianglalabasmah at 4/08/2010 05:34:00 PM 0 comments

Ada rasa sesal yang mulai menyeruak akhir-akhir ini. Memprotesi diri karena luka yang tak kunjung sembuh. Mungkin seharusnya sejak awal ia berpinta untuk tidak menjumpai seseorang yang telah menyisakan luka yang menganga. Walau detik selanjutnya, ia mencoba menepis hal itu untuk melayarkan sisi positif ditiap perjumpaannya. Tapi, tetap saja luka itu perih, meski telah terbalut perban dengan rapat. Karena ia ingin berlari dengan kakinya sendiri. Mengurai senyum untuk mengejar sesuatu yang belum terlihat jelas. Merangkai mimpi-mimpi yang belum utuh, pun menenun asa yang sempat terurai. Lalu, menikmati setiap suka dan duka yang akan disuguhkan dari langkah-langkahnya yang sempoyongan. "Karena jatuh, untuk bangkit."
[ Read More ]

4 April 2010

Episode Luka

Posted by bianglalabasmah at 4/04/2010 07:30:00 AM 0 comments

Entah gelisah apa yang bakal menjemputku esok hari?
Sedang tangis tiba-tiba meledak
Memahami kedalaman jiwaMu
Tengah kususun seluruh perjuanganku
Membangun shaf demi shaf
Dari jantungMu Maha Cahaya..

Sungguh,
aku ingin terlepas dari segala sihir yang teramat maya
jalanmu yang telah penuh dengan kebencian dan dendam

masih begitu liar ketika tanganku terus maju
menggapai wajahMu dari balik kegelapan
Aku ingin bercerita di luar
Seperti burung-burung
tengah merindukan tempat bersarangnya

Oh alifku,
Aku rindu mengeja bait-bait kitabMu
Dari separuh dunia
yang begitu panas dan sesak..

17 Nov 2008
[ada sunyi yang tak pernah berubah saat tangisku pecah]
[ Read More ]

1 April 2010

Koreksi Lagi..

Posted by bianglalabasmah at 4/01/2010 09:44:00 AM 0 comments

Aku ingin melihat ke belakang lagi, menelusuri jalan-jalan yang pernah kulalui. Meski beberapa tahun itu telah berlalu. Kembali menilik hati dan mengoreksi diri. Bertanya tentang cita dan cinta yang ingin digapai. Sejatinya, cita dan cinta merupakan dua kata sederhana, yang bisa menjadi hal yang sangat istimewa dalam hidup jika digenggam dengan baik. Lalu, apa yang sedang ingin diungkit dari belakang?
Karena diri ini butuh penguatan tentang perjuangan dalam menggapainya. Pun untuk menilik diri, mungkin selama perjalanan yang dilalui salah arah atau tak terarahkan, hingga tujuan akhir yang tak secerah mentari di puncak siang. Mengapa harus mengoreksi diri?
Karena untuk mengurai dan memisahkan kegagalan dan keberhasilan sebagai pembelajaran ke depan. Juga merindukan jiwa-jiwa yang kuat yang senantiasa mengilhami keyakinan dalam tiap kisah hidup yang belum usai.


[4 tahun di Indonesia]
apa kabar kota Jeddah??
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea