30 Juli 2011

Menyapa Janji

Posted by bianglalabasmah at 7/30/2011 02:11:00 PM 2 comments


Segunung harap masih menyimpan arti
Walau harus siap lapuk karena kelengahan

Atau akan menjadi fosil yang tak terhirau

Untuk sebuah kata yang kadang terbata



Kau yang menyapa , lalu lupa?

Seperti gelembungan yang lelah dihembus

Kemudian mengudara dan pecah tak berarti

Menepi, tertinggal..



Kemanapun langkah ini pergi, kau yang janji..

Aku, Si Bianglala
[ Read More ]

29 Juli 2011

Sepenggal dari TERAS: Mencari

Posted by bianglalabasmah at 7/29/2011 09:10:00 AM 0 comments

Di sudut panggung megah ini, langkahku tak juga bergeming. Meski, sesekali mata ini terus mencari wajah-wajah itu. Adik-adikku... mengapa engkau tak kunjung memancarkan isyarat untukku? Dan sesekali pula ku berharap, Ahfadzi ada di sisiku mengabarkan kondisi mereka. Tapi, tetap saja tak bergeming.
Rasanya, seperti meniup gelembung balon ke udara, kemudian ia terbang dan pecah tak berarti.
“Dijebak lagi, yah?” Sahut seorang kakak yang sangat doyan melempar senyumnya padaku. 

Aku yang baru saja memasuki bagian kanan panggung menjadi tempat persiapan pengisi acara, mataku terus mencari.“Hahaha… Kakak kok tahu?” Jawabku dengan balik bertanya.
“Soalnya dari tadi kerjaannya ngintip-ngintip keluar terus. Pasti cari pesertata’ toh?”
“Hehe.. Iya kak!” Singkatku. Buru-buru, aku mengalihkan pembicaraan. Hanya untuk penjagaan diri, khawatir akan ada air mata di sana. Di mataku yang terus mencari, namun tak pernah bertemu.
***
“Baiklah untuk lebih mengenal penyelenggara kegiatan kita, Forum Ukhuwah Muslimah Makassar,akan mengikutisertakan sosialisasi yang akan disampaikan oleh ketua Forum Ukhuwah Muslimah Makassar..” Sebuah kalimat yang mengawali segmen sosialisasi yang dibawakan oleh partenter MC-ku..
“Oleh al ukh . . . , disilakan!” Seusai aku menyilakan pembawa sosialisasi dan tayangan dimulai, kami pun –para MC- memasuki wilayah “Behind The Scene” di bagian kanan panggung.
“Huwaah… Pengan jadi peserta!” Kataku meringis saat beberapa kali mendengar hiruk pikuk peserta di luar.
“Kalau kita mau jadi peserta, kembaliki’ lagi jadi anak sekolah!” Timpal kakak yang tengah bersiap-siap akan mengisi segmen kali ini.
“Iya sih, kak! Soalnya beda kakak, feel peserta dan feel panitia.” Ucap seseorang yang mendukung ringisanku.
Sejauh ini aku bisa memaklumi. Kami sangat menghayati peran putih abu-abu yang menjadi dresscode panita. Meskipun sekali lagi, aku, tidak mengenakannya dengan alasan lain. Aku yang tak terbiasa berdiam diri di tempat, qadarallah acara segenting ini mengutusku untuk menjadi orang yang memang tak bergeming di tempat.
Setidaknya, aku bisa merasakan setiap detik acara ini bersama mereka. Menghirup di setiap  celah riuhan decak kagum dan berbagai rasa yang diterbangkan peserta atas udaranya masing-masing. Merasakan banyak hal yang untuk sebagian panitia, mungkin tak dapat melihat meski hanya sepenggal kisah di panggung maupun di bawah panggung.
Tapi, sekali lagi.. Menahan bendungan di mata itu begitu sulit. Hingga membuatku sesekali menengadahkan wajah ke langit. “Langit, bisakah kau menghiburku?S etidaknya melumatkan rasa ini yang sejak awal menciptakan beningan ini mangapung-ngapung di pelupuk mata.” Bisikku membatin.
Sampai acara ini ditutup, akhirnya aku memasrahkan bahwa hati mereka tetap padaNya. Ada tidaknya mereka, Dia jua yang menghendakinya. Tetap memasang senyum, walau masih menyimpan sedih.
Mengira segalanya berakhir, seseorang meng-smsku di keesokan paginya, “Ukhti, adaji ternyata..” Sepenggal kalimat membuatku tersenyum. Alhamdulillah! Tuh, kan.. kejutanNya selalu memesona.
***
 : Ahad, 24 Juli 2011 @ Auditrium UIT pada TEMU REMAJA SEKOLAH :)
[ Read More ]

28 Juli 2011

Bianglala Basmah

Posted by bianglalabasmah at 7/28/2011 09:24:00 AM 0 comments

Sejuta makna yang belum sempat terurai dari kisah Temu Remaja Sekolah
Makassar, 23 Sya'ban 1432 H / 24 Juli 2011 M 
[ Read More ]

6 Juli 2011

SENJA

Posted by bianglalabasmah at 7/06/2011 12:53:00 AM 2 comments

Sepenggal catatan lama
Mengantarkan kau dan aku pada kisah senja
Bersamanya kita saksikan awan berserak
Meski ada cerita lain yang selalu sulit dibaca

Seharusnya kau tak mengurainya
Pada sepotong senja menjingga di langit
Karena ku tak kuat mengukirnya di ruas hati
Dan juga tak sanggup ku alihkannya dari mata

Betapapun ingin menghapus warna-warna ini
Sedang senja masih menyimpan cerita
Dalam kebekuan, dalam kekakuan
Buat ku tak bergeming

Tak ingin melepas bayang-bayang senja
Walau seharusnya meminta satu hal padamu
Berhenti melukisnya untukku
Karena ku tak bisa bersembunyi dari jingganya


Segalanya masih dalam genggamanNya..
Adakah kau yang kan membersamaiku bertemu denganNya? 
(untukmu, di seberang sana)
[ Read More ]

25 Juni 2011

My (The Princess) Diary

Posted by bianglalabasmah at 6/25/2011 10:51:00 AM 2 comments

Masa kecil layaknya sebuah kanvas yang dilukis oleh tangan-tangan keluguan, kepolosan, dan keceriaan yang tiada getir dengan memberi warna-warna hidup sumringah, membentuk dan menata mozaik indah di kanvas putih tersebut. Sehingga , tak diragukan betapa masa itu, lukisan tersebut masih saja terbias di masa kini dengan penuh decak kekaguman dalam memaknai tiap warnanya.
Beberapa waktu lalu, aku (baru disempatkan) kembali menjenguk sebuah diary yang menjadi  awal tulisan bebas ku di beberapa tahun silam. Buku yang aku menyebutnya dengan “The Princess Diary”, adalah sebuah nama yang diambil dari sebuah novel yang juga difilm-kan. Entahlah, bingung memberi nama dan belum terbersit untuk menamai Cinderella atau Snow White, karena sejak kecil mama telah menjatuhkan pilihan pada Barbie sebagai teman kecilku. Serba ber-aksesoris  Barbie dan serba pink yang dikenal sebagai Princess.  Hh, sungguh bertolak dengan aku yang sekarang.
Karenanya, aku pun memilih Pink menjadi sebuah buku untuk tulisan bebasku. Buku yang seharga SR 5 ,- (Lima riyal saudi) inilah mengawali kegiatan menulis bebas yang tertanggalkan pada 13 Juni 2004 (waktu itu duduk di bangku SMP kelas 1) dan melepasnya pada 12 Juli 2009. (sudah mengakhiri masa SMA beberapa bulan) Banyak dan lama? Oh, ternyata tidak juga. Beranjak tahun 2006 sampai menuju tahun 2009 itu, ada penjedaan yang cukup lama, membuat Diary ini terbenam dengan baik di antara buku-buku.
Berbeda dari diary biasanya yang orang lakukan, aku selalu memberikan judul pada setiap cerita yang terjadi. Yah, seperti di blog-blog sekarang. Dengan memberi judul, hal itu akan memudahkan aku untuk mengingat kisah-kisah tersebut tanpa harus membacanya sampai habis. Berikut ini beberapa judul tulisan bebasku yang membuat aku tak bisa luput dalam bayangan.


1.       An Episode: Sorry
2.       Trip 2 Sains
3.       Gara-gara Sepatu (part I dan II)
4.       Ke”DAPAT”an
5.       Jadi Puteri Banten Semalaman
6.       Love at The First Sight
7.       Jakarta, We’ll Coming!!
8.       Oh, (my) Rival!
9.       Ratu Lapangan
10.   Wisuda TPA Al Naashiriyyah
11.   Umrah Lagi.. Al Baik Lagi..
12.   Tiga Hari di Madinah
13.   Me Vs Him
14.   Sumpah, Gue Takut Benci (Benar-Benar Cinta)
15.   Perpisahan itu… SAKIT
16.   Bye-bye Jeddah & Welcome Indonesia
17.   Jeddah Kota Kenangan
18.   Be@ble (baca: BerJUBEL at Jubel)
Beberapa judul dari sekian judul yang telah memenuhi lembaran “The Princess Diary” ini, dikisahkan dalam bingkai ruang dan waktu di Sekolah Indonesia Jeddah dan TPA Al Naashiriyyah. Tentang pengalaman, sahabat, cinta, prestasi, rival, dan hobi yang mengurai tawa, menguras air mata. Mengundang  suka, melahirkan duka. Memberikan senyuman, membenamkan amarah dan membuang sesal. Menyimpan harap, mengejar cita dan masih banyak lagi.
Yah, tulisan bebas ini hanya biar aku tahu dan aku bisa menyisip sejuta harap atas udaraku dalam melakukan banyak hal. Hanya aku biar lebih bisa menafsirkan hidup, betapa metamorphosis dibutuhkan dalam hidup. Betapa segalanya ter-raih dari bagaimana menyikapi setiap perubahan tempat dan waktu. Mungkin, karena aku juga sedang butuh mencintai sesuatu (atau seseorang). Hehe.. Melepas segala yang terjadi dan memilih atas pilihanNya untuk memungut hikmah dari skenarioNya.

Inilah aku
yang memercik warna untukNya
di langit kehidupan
tuk membentuk bianglala

-Bianglala Basmah-

[ Read More ]

23 Juni 2011

(Kosong)

Posted by bianglalabasmah at 6/23/2011 06:25:00 AM 2 comments

Nafas rinduku sedang memendek
Dalam bulan-bulan yang kurasa memanjang
Pada satu dua kata yang selalu meluncur
Di ruang imaji membersamai hari

Karena aku ingat,
Semua tanyajawab hanya ingin ku langitkan
[ Read More ]

28 Mei 2011

Monolog (Lagi)

Posted by bianglalabasmah at 5/28/2011 06:19:00 PM 3 comments
Entah kekuatan apa yang memberanikan diri ini untuk kembali menjemput segala rutinitas. Meski banyak yang harus ditanggalkan. Jam ngajar mulai tersisihkan untuk menjumput makna di setiap pertemuan sederhana ini. “Aku memang tak yakin bisa dengan raga yang rapuh ini. Tapi, Allah meyakinkanku untuk semuanya.” Ucapku lirih. Kemudian meremas resah untuk mengemasnya dibawa pergi. Karena ada janjiNya yang lebih indah, bukan?

***

Bukan, bukan Engkau, Rabbi.. Semestinya aku tak melakukan hal ini. Menjaga jarak darinya, berarti sama saja aku sedang membatasi diriku padaMu. Dan aku tak ingin kehilangan jejakMu walau sedetik. Aku menghargai pemberianMu atasnya, menjumpai mereka meski menemui banyak kesulitan di setiap kekakuan lidah mengenal alif, ba, dan ta yang diakhiri ya. Tapi, dari sanalah aku ingin menjumput kembali maknaMu.

***

“Dik, apa yang kau tangisi darinya?” Tanyaku di akhir pertemuan kemarin. Rasanya terlalu sadis aku menanyainya seperti ini, sedang wajahnya masih terbaca jelas guratan perih menahan rasa yang menjalar di ruas hatinya.

“Ndak tau ka juga.” Ujarnya dengan masih menahan seribu tanya di kepalaku. Selebihnya, aku sedikit menggengam harap, menungguinya mengucap gundah, bersabar mendengar tangis yang memecah. Sesekali di matanya ada air yang mengapung-ngapung.

Lagi-lagi, bibit itu. Dan ia berniat ingin bersemayam di hati adikku ini.

“Jangan biarkan celah di hati ini untuk menanamnya. Apalagi untuk dia yang tak memberikan sepeser kasih pun” “Memberi celah, berarti mau tak mau kita akan menanaminya, memeliharanya, dan memupukinya hingga ia bermekaran.”

Hh.. Memikirkannya adalah kebodohan. Sedang memelihara rasa untuknya adalah kepedihan.

***

Akhir-akhir ini, terlampau sering senja ku pandang. Mungkin jarak aktivitas dan rumah yang cukup jauh, akhirnya memanfaatkan perjalanan pulang untuk menikmati senja yang merangkak siap menengadahkan langit kelamnya.

Seolah membalas kepenatan yang menyemat di tiap waktu. Lalu menyapa langit dengan doa petang yang bisa menguatkan kembali langkah-langkah ini. Padamu langit, engkau telah dititipkanNya yang terindah untuk dipandang. Awan yang selalu berserakan, cerah dan kelammu tetap saja membuatmu cantik. Aku suka langit.

***

Hey… Aku, si Bianglala.
Rupanya seseorang menyimpan namaku di phonebook pada ponselnya dengan nama Bianglalaku. Dan ternyata, ia menyimpan beberapa nama blog sebagai nama di phonebooknya. Ada Kemilau Cahaya Emas, dan mungkin ia masih menyimpan nama dengan caranya sendiri.. Hm, gara-garanya aku dibuat takjub dan terharu. Sebab ia tak pernah menyisakan jejak sedikit pun (semoga kamu membacanya ya, dik!!) di rumah ini. Ternyata, ia pembaca tanpa jejak (mungkin aku akan menyimpan nama itu di phonebooku ).

Terima kasih atas keceriaan dan cerita yang kau beri. Yang setiap pertemuannya selalu berucap, “Kak, ada yang kurang! Mana Kak Tri?” Ia menganggapku, aku dan Tri satu paket. Ah, semua orang berpikiran begitu..

***

Maafkan aku, kakak! Sepertinya aku belum bisa duduk di sana untuk kali kesekian. Meski aku selalu merindukan dalam diam. Menangis dalam diam. Karena disanalah tempat cinta yang tak bersyarat. Mengajarkan riuh putaran waktu yang indah karenaNya.

Aku masih dibelenggu oleh keegoisan diri. Hingga menghentikan langkahku untuk hadir disana. Entahlah sampai kapan. Berharap, suatu hari nanti, langkah ini masih ada dan tak pernah melesap pergi.

Aku masih baik-baik saja kok, kak!


Emosi yang masih saja ber-fluktuasi

"MerindukanMu, dalam diamku.."
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea