7 Februari 2017

Berepisodenya di Kemilau Kampus

Posted by bianglalabasmah at 2/07/2017 10:37:00 PM 0 comments
Gedung Phinisi
Perjuangan dalam rentang waktu yang panjang menyadarkan ketika hitungan "tepat waktu" pun sesuai kadar dari masing-masing orang. Selama ikhtiar dan doa beriringan, Allah kan mudahkan. Jika dalam hal dunia kadang kita rela terpontang-panting tuk digapai, maka hal yang sifatnya kebaikan di akhirat pun tidak dengan cara santai bukan? (Bianglala Basmah -Repost dari akun Instagram sendiri @basmahthariq :D )

*

Tentang episode saya di kemilau kampus. Tepat pertengahan Agustus tahun lalu, 2016, akhirnya tertunaikannya amanah terakhir sebagai mahasiswi. Ada cerita yang berepisode di sana. Di jelang tahun ke-empat di kampus, kurang lebih empat tahun berlalu, ‘alaa bi idznillaah –atas izin Allah, seseorang datang menjemput untuk mengutuhkan dien saya.

 

Dari sanalah, cerita di kemilau kampus itu berepisode. Seperti hal yang dialami mahasiswa umumnya, 4 tahun adalah target dalam menuntaskan statusnya. Namun, cerita berepisode itu mengubah segalanya pada saya. Bertambahnya status dan amanah di sela-sela menunaikan amanah akademik yang berbilang tahun membidik saya.

 

'Aisyah (8m) menemani saya saat menanti dosen

Di tahun 2012, saat kami angkatan 2009 serentak memasuki babak tugas akhir, alhamdulillah, di saat itu saya hamil. Hingga pada sebagian teman telah seminar judul, saya masih menstabilkan kondisi saya yang didera morningsickness di trimester pertama pada kehamilan pertama. Maka, baru memulai seminar judul di sekitar bulan Maret 2013, dengan usia kandungan 6 bulan.

 

Dilanjutkan pada seminar hasil di bulan Maret lagi, di dua tahun berikutnya, tahun 2015, dengan kondisi hamil kedua usia kandungan 7 bulan. Jreng.. jreng.. jreng.. Terbilang cukup jauh jeda antara seminar judul dan hasil.  Di sela itu saya memang sempat tidak mendatangi kampus dan mengambil cuti akademik untuk bisa fokus memenuhi ASI eksklusif dan MPASI Asma’.

 

Masih terbayang, detik-detik jelang seminar hasil, saya menangisi diri saya di samping suami. Ia menyempatkan diri untuk mengantarkan saya sampai pada pintu ruang seminar. Antara haru bercampur sedih karena alhamdulillaah bisa sampai pada tahap ini dengan proses yang tak sebentar. Terbayang kondisi saya yang sedang hamil besar dan menitipkan Asma’ meski hanya beberapa jam di rumah orangtua namun meninggalkanya hampir setiap hari.  Di tambah proses menuju seminar hasil mulai dari menanti dosen, konsul dan tetap mendapatkan koreksi pada skripsi, juga pendaftaran seminar tetap mengantri selayaknya mahasiswa normal lainnya di kampus. Di sana selalu ada rasa bersalah meninggalkan anak mengingat di saat itu saya tetap nursing while pregnant (NWP).

 

Maka, setahun kemudian, barulah saya kembali ke kampus.  Di antara menanti dosen, konsul, dan menyelesaikan beberapa berkas dalam memenuhi syarat ujian tutup, kadang membawa dou-A hafizhah. Tapi lebih seringnya hanya sanggup membawa ‘Aisyah, dan kembali menitipkan Asma’ di rumah orangtua. Hiks..

 

detik-detik jelang ujian tutup

Sampai pada pertengahan bulan April 2016-lah tahap ini saya lakukan. Selain ujian ini dihadiri oleh teman seperjuangan di kampus, Asma' yang telah beranjak 2 tahun 8 bulan dan 'Aisyah 11 bulan dengan pendampingan ayah dan ibu saya, juga kakak saya yang turut hadir dalam rangka mendoakan, meramaikan dan menyemangati saya dalam proses tersebut. :D

 

Menjadi salah satu kesyukuran saya saat itu, karena alhamdulillaah masjid kampus telah ter-fasilitasi pendingin ruangan yang membuat saya nyaman ketika dou-A hafizhah beserta keluarga besar *LOL* menanti saya di sana selama proses ujian tutup.

 

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin… Beberapa tahapan tersebut menjadi begitu berepisode yang terdengar happy ending. Sebab di Agustus 2016 adalah batasan waktu bagi angkatan saya ‘harus’ menuntaskan gelar kemahasiswaan. Bayangan antara selesaikan atau dikeluarkan benar-benar memacu saya untuk mengupayakan terbaik, sebisa mungkin. Lagi-lagi pertolongan Allah ta’ala dan kemudahan dariNya.

 

Teringat ketika seorang dosen pembimbing di akhir pertemuan pada ujian tutup kemarin mengatakan, “Dengan ini……… (blablabla)……… status mahasiswa sudah tidak bisa dipertahankan……… (blablabla)………” Seperti melepas beban yang berat. Plong rasanya. Namun, tetap ada setampuk amanah yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah tentunya. Bukan hanya pada gelar yang mengiringi nama kita.

 

skripsi by me :)

Rupanya, tentang ilmu dan setelah menjadi orangtua adalah amanah yang perlu diperjuangkan. Tertakdirnya kita sebagai baby sitter Allah yang sesungguhnya menjadi bagian dari prioritas. Mengutamakan untuk memenuhi kewajiban sebagai orangtua terhadap anak dalam menyusui full 2 tahun, bisa mendampingi dalam perkembangan adalah kesempatan yang tak pernah terulang. Adalah rezeki saya dalam menempuh selama 7 tahun di kemilau kampus demi bisa memenuhi hak anak tersebut, menyusui dou-A hafizhah. Dengan cara itu, semoga Allah ta’ala mudahkan saya dalam hal lainnya.

 

Alhamdulillaahi bi ni’matihii tatimmush shaalihaat…


#OWOP2017
#OWOP2
#rumbelmenulisIIP
#IIPSulsel
[ Read More ]

1 Februari 2017

NHW 02: Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Posted by bianglalabasmah at 2/01/2017 10:50:00 PM 0 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillaah, di pekan kedua masih di kelas Matrikulasi IIP batch #3, sembari menyapa bulan baru, entah kenapa setiap buka Whatsapp jadi deg-deg serr sendiriMengingat ada beberapa grup online via Whatsapp yang juga memberikan tugas. Jadilah berasa kembali ke bangku kuliah lagi. Menambah jam belajar lagi. Buka laptop lagi. Diskusi lagi. Meski waktunya hanya bisa di luangkan pada malam hari setelah dou-Asma’Aisyah tidur pulas.

Taraa.. Berikut Nice Homework (NHW) kedua yang datang di malam hari setelah saya tidak sempat hadir di waktu diskusi.
*
Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yang kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan. Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
·         SPECIFIK (unik/detil)
·         MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
·         ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
·         REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
·         TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Maka, dari tugas di atas yang diberikan, awalnya saya sempat skip, karena terbayang akan ribet dan butuh waktu harus me-list daftar kegiatan yang dimiliki.

*
Here I go.


Setelah mencoba menghayati materi dan tanya jawab hasil dari diskusi grup, saya pun bersegera mencoba menuliskannya dalam bentuk tabel. Kemudian saya mendiskusikan (tepatnya bertanya dan memastikan) pada suami apakah indikator yang telah saya tulis ini ada yang kurang, atau ada yang tidak sesuai darinya. Tentunya, bukan hanya fokus pada indikator sebagai istri, melainkan sepaket mengenai pribadi saya, istri, dan ibu untuk anak-anaknya yang kelak akan siap dipertanggungjawabkannya nanti di hadapan Allah ta’ala.

Sebagai pribadi misalnya, ada hal-hal yang memang perlu dibahasakan bersama suami, meski indikator tersebut sifatnya untuk pribadi. Dalam hal ruhiyah misalnya, bertujuan untuk saling mengingatkan dalam ketaatan dan kebaikan bila mendapati ada kelalaian. Begitu pula pada aspek jasadiyah, mengingat ‘ideal’nya memang butuh powerfull dalam menjalani aktifitas rumahan yang membersamai anak dan suami. Dan suami pun perlu mengetahui apa-apa yang menjadi sumber kekuatan pada istri dalam fikriyahnya. Mengetahui passion istri yang bertujuan selain mendapatkan ridha suami, juga mendapatkan dukungan penuh.

Asma’ dan ‘Aisyah masih berusia di bawah 4 tahun. Indikator ibu tentunya ditanyakan langsung kepada ayahnya anak-anak. Peran ayah dalam pembentukan kurikulum keluarga. Sebab saya meyakini ketika seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka ayah adalah kepala sekolah.

Sejauh ini, saya memang mendiskusikan dan banyak menyampaikan progress anak-anak yang hampir 24 jam hadir di kehidupan mereka kepada suami. Termasuk konsep pendidikan dan metode apa yang coba kami aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sejauh ini memang sepengetahuan dan hasil kesepakatan dari suami, ayah dou-Asma’Aisyah. Bahkan ketika ada salah sikap yang saya tunjukkan, pun suami pada anak, kami akan diskusikan untuk mencari solusinya. Tentunya, kesepakatan yang kami pegang in syaa Allah berlandas pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, saya dan suami sedang berusaha tidak terbawa arus informasi dengan beragam konsep pendidikan yang tersaji. Istilahnya, kami tidak ingin latah. Sebab sudah menjadi keharusan bahwa orangtuanya-lah yang tau dimana letak kemampuan dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Wallaahu a’lam.

Khawatir pembahasan mengenai anak jadi meluas, *sering ketagihan curcol* :D in syaa Allah di lain waktu akan saya tulis konsep Home Education kami. Di atas tadi hanya sekadar mengulas pendapat saya dan suami mengenai indikator sebagai seorang ibu.

*
Masyaa Allah, mengerjakan NHW ini semacam bahan muhasabah menurut saya. Sejauhmana kita memposisikan diri sebagai hamba Allah dengan amanah yang telah Allah muliakan dari taqdirnya seorang perempuan. Maka, kesyukuran perlu ditingkatkan, bila masing-masing kita bisa berada dalam lingkar kebaikan tersebut. Semoga dengan men-list indikator tersebut saya bisa menjemput kebaikan-kebaikan itu. 


Salam Ibu Pembelajar,



Basmah Thariq / Ummu Asma'




[ Read More ]

31 Januari 2017

Perjumpaan pada Asma'

Posted by bianglalabasmah at 1/31/2017 10:51:00 PM 1 comments
Baru menyadari, di rumah ini belum pernah menyinggahkan awal pertemuan saya dengan dou-A Hafizhah kami. Setelah beberapa hari lalu dapat kesempatan di salah satu grup Whatsapp untuk menceritakan awal perjumpaan dengan buah hati, maka kesempatan ini saya kemas kembali untuk mengisi kisah yang mungkin sudah terlampau jauh. Kali ini, cerita perjumpaan saya dengan seorang Asma’ yang Allah perkenankan kehadirannya di tengah keluarga kecil kami. Di kali pertama kami mendapat amanah sebagai abi dan ummi.

*

Terhitung kurang lebih empat tahun lalu, dua bulan setelah menikah, saya menemukan dua garis pertama di testpack di jelang Subuh kala itu. Mengingat masa datang bulan yang tak kunjung dan disertai tanda-tanda yang menggerakkan saya tuk meminta suami untuk dibelikan testpack. Berlanjut pada menjalani masa kehamilan yang ternyata tidak mudah. Karena baru merasakan kehamilan pertama, tentu tubuh masih memerlukan pengadaptasian.

Morningsickness, diiringi dengan mual muntah hebat yang rupanya berbilang bulanan. Kalau kata orang yang mengalami masa itu, mual muntah hanya ada di trimester pertama. Namun tidak dengan kondisi saya. Betapa jatuhnya berat badan saya kala itu, lemas, dan hampir dirawat di RS karena nafsu makan yang benar-benar hampir hilang. Mempertahankan apa yang sudah masuk itu p-e-r-j-u-a-n-g-a-n. Kalaulah proses ini harus saya tempuh, saya hanya berpinta agar dimudahkan pertemuan saya dan buah cinta kami di masa persalinan nanti, tentu sekehendakNya.

Hari demi hari terlalui, bulan demi bulan terlewati, tubuh ini mulai bisa beradaptasi. Menjalani kehamilan dengan status masih mahasiswi tingkat akhir, dan berusaha kuat meski dengan menemui kondisi hampir masih sama. Mual muntah di sepanjang hari. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.. Seluruh raga ini, termasuk janin dalam kandungan adalah kehendakNya. Hanya tawakkal kepada Allah untuk segala rasa yang dihadirkanNya untuk saya.

Hingga waktu yang telah ditetapkanNya, gelombang cinta bernama kontraksi memberikan tanda-tanda dari proses perjumpaan ini. Cukup menghujam perih sekitar perut bawah depan dan belakang. Mules-mules seolah hendak buang hajat yang di ujung tanduk, namun tak berarti ada. Berkali-kali ke kamar mandi hanya untuk memastikan rasa mules yang semakin menjadi, tetap saja tidak ada. Tidak pula ditemukan tanda lainnya semacam bercak atau merembesnya ketuban. Namun gelombang cinta itu datang dan pergi silih berganti. Hingga awalnya saya yang penasaran dengan gelombang tersebut terus menerus memilih jalan-jalan mengitari ruangan dan naik turun tangga. Berusaha melepaskan gelombang yang terus meronta-ronta. Hingga akhirnya saya tak lagi sanggup berdiri. Hanya membungkuk untuk mencoba menopang gelombang cinta yang datang dan pergi secara bergilir.

Suami memang sedang tidak sedang menemani saya lebih sepekan. Setelah sebelum menitipkan saya di rumah orangtua, saya memastikan kandungan di salah satu RSIA. Prediksi dokter spog kala itu HPL jatuh selepas lebaran idul fitri. Maka, melepas suami untuk memenuhi amalan 10 malam terakhir Ramadhan di masjid, sembari menitipkan setumpuk doa tuk di panjatkan.

Melihat saya menahan perih dengan terus membungkuk, oleh orangtua, saya dilarikan ke RSIA tempat saya rutin memeriksakan kandungan. Suami yang harusnya masih beri'tikaf di hari ke-28 Ramadhan kala itu, qadarullah, memutuskan keluar dari masjid selepas sahur untuk memantau kondisi saya.

Ahh ya, gelombang cinta.. Masih saja terus mendesak. Jelang Subuh, sesampai di tempat, Bidan yang saya temui memeriksa setelah meminta saya untuk –maaf- buang air kecil terlebih dahulu.  Bidan mengatakan sudah pembukaan 7 dan mengingatkan untuk menahan desakan dari gelombang cinta sampai pada pembukaan lengkap. Oleh bidan pula, dipecahkannya ketuban. Dan semakin terus mendesak gelombang ini, raga saya melemah. Hingga doa bertubi-tubi berucap di lisan.

Hadirnya suami ba’da Subuh, langsung mendekati saya disertai mengingatkan untuk terus berdzikir. Dan mengatur emosi dan energi saya yang teramat lelah tak berkesudahan. Semakin mendesak saja, sedang lemah dan letih sudah dipuncak. Maka suami menyempatkan tuk menyuapi sarikurma dan sesekali memberi minum air untuk bisa bertahan. Nafas saya terputus-putus. Tak sanggup melepas desakan itu dengan nafas panjang. Hingga berulang kali nafas yang tetap terputus, seolah lupa bagaimana cara buang hajat.

Sungguh, Maha Sempurna milik Allah.. Gelombang cinta itu mendesak-desak, kemudian memberikan jeda yang sesekali saya mengatur ulang nafas tuk melepas desakan itu. Tapi belumlah maksimal. Hingga ilmu tawakkal itu seolah menguji saya. Tawakkal 'alallaah.. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

Tentang proses kehamilan dan persalinan, hingga gelombang cinta itu, tetiba terbersit wajah mama, yang pernah berkali-kali berjuang untuk sebuah pertemuan ini.

Masih dengan lemas yang tak berkesudahan diselingi jeritan-jeritan saya yang memenuhi ruang. Di detik-detik jelang melepas desakan yang terus meronta, saya melihat suami yang meneteskan air mata. Meminta maaf sambil terus berdoa. Menggenggam tangan saya begitu erat. Seolah ia ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia punya pada saya.

melalui doanya,
melalui tawakkalnya,
melalui harapannya,
dan melalui cintanya..

Melihat ia menggenggam tangan saya, dan tangan satunya terus mengelus ubun-ubun saya, sebagaimana kali pertama, di 11 bulan lalu, ia menyentuh dan meniupkan segenap doa setelah akad diucap.

Atas izin Allah, desakan yang tak mampu dijangkau oleh kata, lepas juga tepat di pukul 07.14 WITA, setelah nafas panjang yang saya hempaskan. Sebentuk kepala menyembul sempurna, kemudian diraih oleh bidan dan saat itu pula gelombang itu hilang. Tak ada tangisan yang kami dengar. Tenaga medis sesekali menggosok tubuh mungil buah cinta kami. Tetap belum ada isakan tangis. Menurut tenaga medis, ada  ketuban yg tertelan. Sehingga diambilkannya alat untuk membantu mengeluarkan cairan ketuban tersebut. Hanya berselang dua-tiga menit, tangisan yg kami nantikan pecah. Didekapnya ia, untuk berlanjut proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Suami mengecup kening saya yang masih terbaring lemah, kemudian dikecup pula buah cinta kami yang masih dalam IMD sambil menikmati jahitan dari pergolakan tadi.

Kini gelombang cinta yang mendesak-desak saya kala itu, telah berusia 3 tahun 6 bulan. Perjuangan di awal hanyalah sebuah proses menemui perjuangan-perjuangan bersamamu di hari selanjutnya, nak.. 

Asma’ binti Armawi FadliAlhamdulillaah bini'matihii tatimmush shaalihat..


#OWOP2017
#OWOP1
#rumbelmenulisIIP
#IIPSulsel


[ Read More ]

25 Januari 2017

NHW 01: Adab Menuntut Ilmu

Posted by bianglalabasmah at 1/25/2017 11:05:00 AM 0 comments
Nice Homework (NHW) perdana menjadi sajian yang paling mendebarkan. Seringnya menyimak di grup Whatsapp IIP Foundation as silent reader, tentu ada rasa ingin tahu yang tinggi terutama setelah ruangan chat dibanjiri oleh aliran rasa bagi yang telah lulus di kelas Matrikulasi IIP batch #2. Dan ada apa dengan kelas matrikulasi berasa seperti baru mendapatkan sebagian puzzle yang siap disusun setahap demi setahap. Tak luput, materi perdana yang disajikan di dalam kelas sebagai pembuka adalah Adab Menuntut Ilmu. Hal yang utama memang perlu dipahami bagi setiap pembelajar. Berharap dengan materi ini, bisa direnungkan dan dipahamkan tentunya untuk diamalkan. Ketika menuntut ilmu adalah sepatutnya wajib, maka yang perlu diperhatikan pun adalah adab bagaimana dalam menjemput ilmu itu sendiri.
Berikut NHW 01 dari materi Adab Menuntut Ilmu:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu parenting
2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Sebab pertama, ibu adalah anugerah dari Allah ta'ala, bahkan ada satu riwayat, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengunggulkan ibu sebanyak tiga kali dari seorang ayah. Kedua, ibu adalah sekolah pertama dan utama. Ketika seorang ibu telah dipersiapkan dengan baik maka sesungguhnya seperti mempersiapkan generasi yang kuat dan baik.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Al ‘ilmu qablal qaul wal ‘amal (Berilmu sebelum berkata dan berbuat). Maka menjadi seorang ibu tetap menjadi pembelajar dalam kehidupan terutama ketika akan dan setelah menyandang status istri dan ibu. Berilmu bisa dengan membaca beragam buku dan dengan menghadiri majelis-majelis ilmu serta terlibat dalam suatu komunitas selama yang di dalamnya tidak menyimpang dan bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Karena dua inilah yang menjadi warisan terbaik Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang pada ummatnya dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Ikhlas karena Allah dan tidak terburu-buru dalam setiap menerima ilmu dan informasi yang begitu cepat hadir di hadapan kita. Perlunya pengontrolan niat setiap kali ada hal-hal baru tertama ketika dalam mengamalkan ilmu, mengambil sumber yang jelas lagi shahih dengan bertabayyun adalah terpenting. Karena di sanalah keberkahan dari seorang penuntut ilmu. Ilmu akan membekas dan bermanfaat bila mengambil dengan cara yang haq.
Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia”

Salam Ibu Pembelajar,


Basmah Thariq / Ummu Asma’
[ Read More ]

22 Januari 2017

Menuju Lima

Posted by bianglalabasmah at 1/22/2017 09:32:00 PM 0 comments


Menuju angka lima dalam pernikahan bukan hal yang mudah dilewati. Bahkan ketika Allah ta'ala telah mengaruniakan dua putri pada kami. Sebab pernikahan tetap menjadi pertemuan dua orang dan dua keluarga yang berbeda. Hingga pernikahan tak melulu bermodalkan cinta. 

Cinta tak selalu menjadikan rumah tangga subur. Karena tetap akan dipertemukan pada ego masing-masing, juga kebiasaan yang sudah tertancap lama dari hasil didikan masa lalu. Sisa bagaimana kelebihan melengkapi kekurangan pasangan. Itulah mengutuhkan.

Maka pernikahan adalah memupuk dan menyuburkan selalu; pada iman. Meyakinkannya tak sekadar di hati siapa. Pun tak sekadar dilafadzkan di lisan pada moment sakral pertama yang menjadi salah satu syarat sah pernikahan. Melainkan dilibatkannya pada amalan setelah pernikahan itu digelar.

Maka pernikahan adalah anugerah. Tempat ibadah yang terluas meski amalan yang paling sederhana. Itulah sebabnya, pernikahan dikatakan memenuhi separuh agama. Menyempurnakan ibadah yang mungkin tak didapati dan atau tidak sepatutnya dilakukan di luar dari ikatan suci.

Begitupula pernikahan menjadi tempat belajar. Belajar untuk terus memupuk dan menyuburkan iman dalam pernikahan. Menguatkan cita dengan saling menggenggam pada nasehat menasehati dalam kebaikan-ketaatan, pun pada kesabaran. Sebab mengelola hati, memainkan peran penting dalam menapaki sepanjang perjalanan pernikahan. Semoga iman inilah yang terus terpelihara, hingga mengantarkan pada ridha Allah dan menuju JannahNya, kelak.

Wallaahu a'alam

untukmu, AF yang menjadi pengutuh dalam dien-ku,
jazakallaahu khaer wa barakallaahu fiik :) 

#karyaceria #owop #rumbelmenulisiip

[ Read More ]

17 Oktober 2016

Karir Wanita Karir

Posted by bianglalabasmah at 10/17/2016 09:49:00 PM 6 comments
“Kalau selesai kuliah, kamu mau kerja?” Tanya mama kala itu.“In syaa Allah mau fokus di rumah aja,” Jawabku.“Kalau begitu, untuk apa sibuk selesaikan skripsi?” Mama kembali mengajukan tanya.“In syaa Allah ilmu dari sekolah sampai kuliah tetap bisa bermanfaat di rumah..” Jawabku berusaha menenangkan mama. “Lagipula nanggung kalau harus berhenti, sisa skripsi ini, in syaa Allah..” Lanjutku.Kami pun sempat berdiam sejenak, saling mencerna kalimat masing-masing.“Mama yang gak kuliah, masyaa Allah tetap bisa membesarkan ke-tujuh anaknya. Paling minimal, saya juga ingin seperti mama..” Terangku meyakinkan beliau.

***

Adalah wajar ketika setiap orangtua punya harapan tinggi pada setiap anak terutama perempuan ketika telah berumah tangga dengan gelar sarjana pada setelah nama. Mungkin ini hal yang paling dilematis bagi orangtua ketika telah berupaya menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin, lalu akan diperhadapkan pada kenyataan bahwa putrinya kembali ke rumah. Memutuskan memilih di rumah sebagai tugas utama.

Seperti halnya percakapan di atas, pertanyaan itu hadir di saat saya sedang hamil anak pertama di usia kandungan 4 bulan. Belum genap setahun usia pernikahan saya dan masih berstatus mahasiswa di tahun ke4 di kemilau kampus.

Jujur, jauh dari sebelum menikah, saya ingin bisa seperti mama. Saya tahu, mama bukanlah sosok yang paling menguasai di segala ilmu. Qadarullah, mengenyam di bangku sekolah sampai jenjang SMA bukanlah rezeki beliau. Jangankan SMA, SMP pun tak sampai. Tapi, “ilmu” dalam rumah tangga, pun atas doa-doa yang selalu beliau panjatkan mengantarkan kami, ke-tujuh anaknya, mampu bersekolah dalam pencapaian masing-masing. Berkeluarga dan berkarir alhamdulillah 'alaa bi idznillah. Semoga Allah merahmati orangtua kami di sisa usia mereka.

Mama membebaskan apapun dalam setiap pengambilan keputusan. Tak ada sedikit pun halangan dalam hal jurusan atau aktivitas yang ingin kami geluti. Bagi beliau, selama keterlibatan kami bisa mengantarkan dalam ketaatan dan kebaikan, lakukanlah! Silakan!

Maka mencita-citakan agar bisa menjadi ibu professional, adalah cita-cita saya dalam karir wanita yang sesungguhnya. Tidak sedikit terbersit ingin berkarir di luar rumah. Sampai pada sahabat terdekat saya, saya pernah sampaikan, “Sekalipun kelak selesai S1 dan Allah belum menghendaki saya bertemu dengan jodoh, saya tidak akan melanjutkan S2 sebagaimana kebanyakan wanita. Saya akan mencari aktifitas semisal kursus untuk meningkatkan kualitas dalam profesi kerumahtanggan, in syaa Allah..”

Ketika hari ini, lembaran ijazah masih begitu hangat dalam genggaman (hitungan dua bulan), dengan proses yang tidaklah sebentar (baca: berepisode XD), tetap menjadikan saya jatuh cinta pada karir wanita sesungguhnya. Meski masih mendapati dengan banyak kekurangan. Masih tertatih-tatih. Dalam pencapaiannya dibutuhkan ilmu, kesungguhan, kesabaran, dan keistiqamahan. Tak tertinggal karena ingin mendapatkan ridha suami.

Tidak terlepas pada karir wanita sesungguhnya, saya berterima kasih pada semua wanita yang telah menjadikan karir wanita karir di luar rumahnya. Entah apa yang terjadi tanpa upaya dan pengorbanan mereka dalam penempatan yang menyelamatkan banyak kaum wanita. Pada bidang kesehatan, bidang pendidikan, dsb-nya yang in syaa Allah semoga Allah membalas kebaikan mereka, dengan pelayanan maksimal dari wanita karir.


Tuk setiap ibu, apapun keputusan dalam karir wanita, semoga selalu ada ridha suami dan berkahNya di perjalanan “baiti jannati”. Barakallaahu fiikumaa, emaks..^^

#rumbelmenulisIIP
#OWOP
#IIPSulsel
[ Read More ]

10 Oktober 2016

Menyederhanakan “Me Time”

Posted by bianglalabasmah at 10/10/2016 04:23:00 PM 4 comments
Ketika topik me time pernah menghangat bahkan menjadi viral di jejaring sosial oleh sebagian kalangan mahmud (baca: mamah muda) sejagat Indonesia Raya. Pasalnya ada satu ungkapan me time yang kurang lebihnya mengenai ibu rumah tangga perlu piknik. Bahkan piknik 10.000 kali. Uwoow!! Subhanallaah! Kebayang bagaimana sambutannya. Lebih kebayang gimana piknik 10.000 kali yang menurut saya bakal ngos-ngosan. Tapi kali ini, saya enggan untuk membahas perihal piknik yang hitungannya ribuan itu. Khawatir pro-kontra justru hadir di sini, cukup mengenai bagaimana me time dalam perspektif di kehidupan saya saja.

Secara sadar, setelah bertambahnya status menjadi seorang istri dan telah dikaruniai dou A-Hafizhah –‘alaa bi idznillah-, maka perubahan waktu secara pribadi juga tidak sama sebagaimana saat single dahulu. Waktu-waktu sendiri, atau istilah me time dalam suguhan mahmud, begitu berharga. Tak jarang seorang ibu, terutama yang memutuskan full mom stay at home, kerap ada harapan, dimana me time berharga untuk dirinya. Entah bisa menikmati shalat secara khusyuk, makan tanpa diburu, menyelesaikan amanah domestik bebas iklan, hingga tidur pulas cantik. *maaf bila tulisan ini mengandung curhat

Sungguh, menjadi agak mendrama di kalangan mahmud, terlebih yang tidak dibarengi dengan kehadiran asisten rumah tangga misalnya. Atau telah hidup mandiri tanpa seatap di pondok indah orangtua/mertua. Ditambah dengan kehadiran anak-anak yang masih di sekitaran usia batita, yang kemanapun si ibu melangkah, anak-anak mengekorinya. Bahkan pada saat mandi pun berasa nikmat sekalipun hanya bisa mencelupkan diri ke air sesaat, asal tak membuat beberapa waktu kemudian rumah akan berlatarkan suara isak tangis anak sambil gedor-gedoran pintu kamar mandi. Cukup ya bu, curhatnya..cukup!! Betapa mahalnya kehadiran me time!

Maka me time bisa menjadi sebuah kemewahan, kelezatan, dan kenikmatan hingga tak jarang ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bisa jadi timbulnya ketidakpercayaan pada dirinya, emosi yang tak tersalurkan, dan menganggap amanah rumah menjadi tuntutan yang berujung pada ikhlas yang dipertaruhkan. Pasalnya, lelah yang tak berkesudahan. Iman yang menurun. Kesabaran yang masih perlu di-dikte-kan kembali. Lantas, kesemuanya akan menyalahi taqdir? Atau pada suami? Pun pada anak-anak? Semoga bukan obsesi dalam ketiadaan me time yang ala "piknik", namun pada manajemen waktu itu sendiri.

Memulai me time dengan me-manage waktu. Saya sendiri di awal kelahiran anak pertama berusaha menjadwalkan jam tidur anak dari tidur pagi, tidur siang, dan tidur malam. Sampai pada kelahiran anak kedua berusaha tetap konsisten, Alhamdulillah. Tujuan mengaturkan jadwal jam tidur, agar saya bisa menyelesaikan amanah domestik tentunya secara leluasa (beberes tumpukan cucian piring, ke pasar, masak, mencuci dan menjemur pakaian, dll). Ditambah dengan menyelesaikan skripsi pada saat itu yang berepisode. Hahaha… terlihat sampai memakan waktu tiga tahun penyelesaiannya.

Kembali pada me time, sesederhana me time bagi saya tidak melulu pada piknik terlebih seorang diri dengan sekali lagi ada anak, tanpa art, juga tanpa kehadiran orangtua/mertua di sisi. Adalah hal mustahil bisa nge-mall dan ngemil sesuka hati, seorang diri. Atau ke salon, ke majelis ilmu, ke kegiatan parenting, dll. Sungguh, bagi saya, justru senang bila bisa mengajak anak-anak ke tempat yang bisa kami jangkau bersama dan memperkenalkan lingkungan baru ke anak-anak. Hal ini saya buktikan selama ini, saya tetap momong anak sambil kuliah, sepanjang proses penyusunan skripsi –yang ehem, tetap berepisode- hingga pencapaian gelar sarjana di tahun ketujuh di kampus –‘alaa bi idznillaah.

Me time pun tak selamanya dilakukan ketika anak tertidur pulas saja. Bisa di sela-sela waktu kehadiran ayahnya, di setiap paginya hingga jelang berangkat kerja, dan atau di malam hari sepulangnya dari kerja. Me time pun bukan persoalan dalam hal bersemedi ya, merenung, atau apalah namanya. Sebab me time bisa pada menyelesaikan amanah domestik yang bebas iklan. Hehehe.. Bisa pada menikmati makan makanan yang belum diperkenalkan pada anak-anak alias cheating time, semisal es krim, aneka cemilan coklat, dan…. mi instant. *maapkeun saya. Dan tentunya, harapan bisa menikmati pada dihadirkannya ke-khusyu’an dalam ibadah.

Dan me time pun bisa dengan cara menurunkan standar kita dari jadwal pada amanah domestik yang kerap saya lakukan. Dengan dibebastugaskan masak di waktu-waktu tertentu, tentu meminta ridha suami. Atau menunda sesaat menyelesaikan pekerjaan demi sebuah maslahat agar bisa istirahat sejenak. Dan menolerirkan sebagian amanah domestik yang sifatnya tidak terlalu mendesak/keharusan diselesaikan di waktu tersebut alias dikejar deadline. Mengingat pekerjaan rumah sifatnya berulang, meski telah tuntas di hari itu, namun keesokan hari akan menemuai hal yang serupa, begitupun seterusnya. Maka, memaafkan diri kita, meminta maaf pula pada suami, pun memaafkan dan membiarkan anak-anak dalam ekplorasinya yang menghasilkan rumah begitu tak seindah dalam pandangan. Maka, maafkanlah. Jadikan setiap sudut rumah menjadi baiti jannati dalam kondisi apapun.

Sesederhana me time itulah, in syaa Allah akan begitu ringan seperti melepas beban, bukan menjadi tuntutan, bahkan hadirnya energi positif di setiap kali kita menuntaskan amanah-amanah tersebut. Walau menyelesaikan harus dalam keadaan merangkak, paling tidak, me time bukan jadi momok yang begitu dirindukan karena sulitnya kita “memaafkan” diri ini karena tak mampu menyederhanakan me time.

Menikmati me time tetap dalam kebaikan, ketaatan, dan kebersamaan karena Allah pun bisa tanpa harus piknik 10.000 kali bukan? Tapi, sesekali piknik, tafakur alam, boleh lah yah… *lempar senyum ke suami. Istri mana sih yang akan menolak jika diajak piknik? :D

Wallaahul musta’an.


Menulis bagian menasehati diri
#rumbelmenulisIIP
#OWOP
#IIPSulawesi
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea