16 April 2011

Aku kepada Kamu*

Posted by bianglalabasmah at 4/16/2011 05:22:00 PM 5 comments
*Biarkan diri ini berceloteh untuk diri sendiri, untuk mengemasnya dibawa pergi..

Berulang kali ku berpinta, bahwa kamu yang sekarang sedang berada kondisi yang tidak memadai untuk menjalankan rutinitas. Meski kamu menyadari itu salah, tapi tetap saja kamu ngotot hingga kamu mendeklamasikan sebuah kalimat di sebuah jejaring pertemanan “Suaraku, habis di tengah jalan.”

***

Mungkin ini yang kamu perlukan, menunggu.  Menunggu sesuatu yang baik dan menahan laju langkah mencari jawaban yang pasti. Walaupun terkadang ingin cepat-cepat, tapi tentunya kamu tidak ingin kehilangan jati diri dalam pencarian itu. Bukankah begitu? Allah meminta kita untuk menunggu dengan alasan yang penting. Dan itu, pasti.

***

“Tenang, kamu hanya perlu membiasakan diri”  Begitu yang serig kamu katakan kan? Rasa canggung atas perbedaan yang bagimu cukup asing untuk menerka mereka. Bukankah kamu orang yang cepat melebur pada siapa saja? Lakukan demi kelancaran amalanmu.

***

Setidaknya kamu belum tertinggal jauh dari perjalanan panjang ini. Meski kamu sempat mencoba beristirahat untuk mencari setangkup air pelepas dahaga, agar nantinya kamu tak kehabisan energi  dalam perjalanan selanjutnya. Bukankah begitu? Tapi, peristirahatan ini membuatmu nyaris kehilangan jejak mereka hingga sempat ingin memilih mundur dan melesap pergi. Maka bangkitlah segera, dan kejarlah mereka.

***
Beri aku waktu
Untuk menjawab semuanya
Untuk menuntaskan segalanya
Agar selalu meyakinkanNya,
bahwa aku masih menyimpan sebentuk asa
saat menemuiNya kelak…

[ Read More ]

14 April 2011

Tiada Keraguan padaNya

Posted by bianglalabasmah at 4/14/2011 08:18:00 AM 1 comments

Boleh jadi ada saat-saat dalam hidup ini, manusia mengalami keraguan tentangNya. Boleh jadi keraguan tersebut mengantar mereka untuk menolak kehadiran Allah ‘azza wa jalla dan menanggalkan kepercayaanNya. Tetapi, ketika keraguanNya akan beralih menjadi kegelisahan, terkhusus disaat termenung, maka ketahuilah:

“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, dan mereka tidak lain hanya menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah : 24)

Bahkan, boleh jadi kita dapat berkata bahwa mereka yang tidak mempercayai wujudNya adalah orang-orang yang kehabisan akal dank eras kepala ketika berhadapan dengan satu kenyataan yang tidak sesuai dengan “nafsu” itu.

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadika hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. 
Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi anugrah.” (QS Ali ‘imran : 8)

Mata hati jauh lebih tajam dan lebih meyakinkan daripada pandangan mata. Bukankah mata sering menipu kita? Dia hanya bisa dilihat oleh hati dengan hakekat KEIMANAN.


#apakabarhati?
[ Read More ]

7 April 2011

Dan Bermekarlah Kuncup-kuncup Bunga Keimanan

Posted by bianglalabasmah at 4/07/2011 08:27:00 PM 1 comments
: Sebuah notes dari seseorang di jejaring sosial

Dengan bismillah mesra, kami semburkan tinta ini untuk hati yang tengah gundah dan gulana. Semoga Alloh meridhoi dan menjadikan kami dan anda sebagai orang yang ikhlas dalam beramal. Pula, semoga dengan hitam diatas putih ini adalah saksi agar kami dapat menatap wajah-Nya kelak di Surga, sebuah negeri penuh cinta.

Sahabat,  begitu sering kegalauan jiwa menginangi hati. Jadilah hati itu gundah. Gelisah pun secara perlahan mendominasi hingga pikiran jernih tak lagi diraih. Telah tiba musim jenuh yang memalaskan raga untuk peragakan amal shalih, mendiamkan hati agar tak terpaut dengan Allah, dan membisukan lisan agar tak semburatkan sejuta kebaikan.

Kapankah datang musim semi yang menghadiahkan pucuk-pucuk keimanan bagi dahan jiwa?

Kapankah bertandang musim hujan yang menunaskan rumput-rumput ketakwaan?

Tenanglah sahabat. Kepadamu, dari sudut beranda kalbu, kami bisikkan semilir untaian kata bahwa hanya karena Alloh lah kami mencintaimu. Sehingga tak pelak kami goreskan tinta ini untuk kami dan untukmu.

Pun kiranya tak perlu banyak kata untuk membuatmu menjauhi tulisan ini, dan tak perlu pula sajak bintang berirama indah untuk membuatmu punah dari gundah. Tapi di tulisan ini, kami berharap ada banyak rasa yang akan membuatmu jadi permatanya. Maka tetaplah disini. Buka mata dan hati. Tersenyumlah, karena senyummu adalah begitu indah sejukkan hati.


---000----000---

Sahabat,

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Salah satu di antara tujuh golongan orang yang akan diberi naungan Allah pada hari kiamat adalah; seorang yang mengingat Allah lantas kedua matanya pun mengalirkan air mata.” [1].

Tapi…

Tapi…

Bagaimana mungkin hati bisa tersentuh dan mata membulirkan air yang menandakan sejuknya keimanan sementara saat ini hati kita tengah mati?

Sungguh kita adalah orang-orang yang menzhalimi diri sendiri dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Mata kita ini bukan menangis karena takut pada Alloh, namun karena sinetron cinta picisan. Mata ini terbangun pula di gulita mala namun bukan untuk bermunajat pada-Nya namun hanyalah sekedar untuk menelpon si “dia”, menonton acara-acara murahan.

Suara serak kita ini bukanlah karena bacaan tilawah Al-qur’an atau mengulang-ngulang hafalannya namun karena bersenandung lagu-lagu cinta ala anak muda. Hingga bait-bait lirik lagu lebih kita kenal dibanding bacaan indah Al-qur’an.

Bukan pula kata-kata yang baik dan enak terdengar namun kata-kata yang penuh dusta dan menusuklah yang terlontar.
Kaki kitapun, jarang kita dapati langkahnya untuk menuju majelis zikir, majelis ilmu, beribadah lima waktu di masjid, malahan degup langkah bertapak ke konser musik, Mall dan tempat shopping lainnya.

Ya Robbi, sungguh kami termasuk orang yang merugi. Ampunilah diri kami. Ampunilah kami.

Takutlah kita dengan azab Allohu ta’ala. Cobalah renungilah tentang maut. Saat sakaratul maut, terlihat demikian mudahnya arwah orang mukmin keluar dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Tidak, sekali-kali tidak.

Adakah keraguan pada diri kita bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari dahsaytnya sakaratul maut. Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda: "Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih." [2]

Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Ka'ab Al Ahbaar: "Wahai Ka'ab, ceritakan kepada kita tentang kematian!

Ka'ab pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!" [3]

Syaddaad bin Al Aus berkata: "Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak." 

Bila demikian dahsyatnya rasa sakit yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri kita wahai saudara-saudara kami? Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal kita? Sedang masihkah kita masih terpaku dengan pacaran, taruhan, judi, minum minuman keras dan tidak menutup aurat?

Sahabat..

Cobalah ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah kita rasakan ketika tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan? Bagaimana halnya bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf kita merasakan sakit. Disaat ruh kita berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat. Betul-betul menyakitkan. Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang kita rasakan.

Sahabat,..

Siapkah kita menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?

Bila kita tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran amal dan menghitamkan hati kita? Mengapa kaki terasa kaku, tangan serasa terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika ada seruan beribadah kepada Allah?’ [4]

Ketahuilah bahwa itu hanyalah sedikit kabar bagaimana pedihnya sakaratul maut. Belum lagi ditambah dengan siksa kubur yang tak  kalah dahsyatnya dan juga pedihnya siksa api neraka. Sedang siksa neraka yang paling ringan saja adalah ketika kaki menginjak neraka dan membuat otak mendidih. Lemas diri ini membuat tulisan ini. Takut sekali rasanya. Ya robbi, sungguh zholim diri ini, maka ampunilah kami, jikalau Kau tidak mengampuni kepada siapa lagi hendak kami akan mohon ampun ini. 

Kiranya, kami goreskan pena ini hanyalah untuk diri kami karena hati kami mati, kami yakin hati kalian masih bersemi.

***

Penulis : Erlan Eskandar
Penyunting & Penyelaras  Bahasa : Abdullah Akiera Van As-samawiey

________
Footnote :::

[1] HR. Bukhari dalam Kitab Ar-Riqaq [6114][2] HR. Imam Bukhari
[3] Riwayat Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya'
[4] Sebuah renungan terhadap kematian, ust Arifin Badri, dari www.almanhaj.or.id , dengan sedikit editing
[ Read More ]

15 Maret 2011

(Kali ini, Tanpa Judul)

Posted by bianglalabasmah at 3/15/2011 10:03:00 PM 1 comments

(Sebuah PUISI* yang sempat terpendam oleh riuh putaran waktu yang telah digores oleh seseorang..)
18 December 2008 at 12:05 @ SMAN 17 Makassar




Gejolak yang membuncah membuatku tergelepar
Hampir tak sanggup kuhadang badai yang menampar
Menggoyahkan pondasi istiqamah yang terhunjam dalam
Meliukkan mahkota ridha yang bertengger di awan

Tergetar tanah tempatku berpijak
Remuk kapalku di terjang ombak
Meninggalkan ribuan keping berserak

Putus asa membuat dada serasa sesak
Dunia serasa gelap
Jalanan terlihat kabur oleh asap
Tertatih menyusuri lorong tanpa tentu arah
Sementara luka yang diterima kian menganga

Sungguh manusia tak berdaya
Untuk menolak bala’ dan bencana
Hanya keluh kesah dan air mata
Lupa akan semua nikmat yang selalu di banggakan

Berganti ratap pilu tak terkira
Hanya kesabaran yang menjadi senjata
Berbekal ridho, sempitnya bencana akan sirna
Karena pada setiap zaman ada penderitaan
Di setiap tempat ada kesedihan
Di setiap sudut pernah ada tangisan
Di setiap lembah ada kematian
Dan di setiap bukit pun tak luput dari ratapan
Karena memang begitulah dunia di ciptakan

Ya Allah...
Tuntunlah lisanku tuk selalu menyebut kata terindah,
Nama-Mu
Bimbing bibirku tuk selalu melantunkan istighfar
Jadikan ratapku, harapku, takutku
Hanya pada-Mu
Karuniakan kesabaran seperti yang Engkau
Berikan kepada Nabi-Mu
Binalah cinta dalam hatiku untuk
Kupersembahkan bagi-Mu

(seorang adik, AR)




*Bukan menyengaja menyimpannya, tapi "ia" masih tersemat secara maya saat kembali terjenguk.
[ Read More ]

6 Maret 2011

Cinta yang Tak Terbagi

Posted by bianglalabasmah at 3/06/2011 09:08:00 PM 2 comments
Senja yang mulai merangkak, menghampar kejinggaan di jantung kota mengiringiku dengan  gontai menuju sebuah angkutan umum untuk pulang seusai ngampus. Baru sejenak dalam angkutan tersebut, tiba-tiba sang supir menyetel musik dengan nada-nada yang memekakan telinga.

“Pak, bisa dikecilin musiknya?” Tegasku. Meski berharap kata “kecilin” itu berganti “matiin”. Karena akan sama hasilnya, alunan itu tetap terdengar. Sang supir pun menurut instruksiku, mengecilkan alunan tersebut.

Entah karena alunan tersebut mengganggu perjalananku, sesekali aku menyimak lirik tersebut. Seperti biasanya, sepanjang perjalanan senja ini, aku tak pernah menemukan lirik lagu yang tak bertemakan cinta. Entah kehabisan tema, hingga semua lirik yang terlantunkan hanya mengurai kata cinta, cinta, dan cinta. Subjek dan objeknya tak jauh dari dan untuk dia, dia, dan dia. Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Benar-benar tak sehat. Bisikku mendelik.

Karena bosan menyimak dan sedikit mual mendengarnya, aku menyimpulkan sendiri untuk semua lirik tersebut, cinta yang tak terbagi. Kasihan sekali para penikmat musik ini.  Mereka hanya disuguhkan pada keindahan cinta, cinta yang tak terbagi. Cinta yang sejatinya indah, namun oleh oknum-oknum tertentu, ia berubah menjadi hal yang sempit. Fatalnya lagi, lirik-lirik ini dan semua lirik yang bersinggungan dengan kata c-i-n-t-a ini, mampu menyugesti banyak orang yang mengaku “music is my life”. Atau, “Hambar rasanya, kalo dunia ini gak dibubuhin musik”, dan masih banyak lagi kalau mau menuruti komentar-komentar mereka.

Padahal, menilik sejenak perkataan dari Imam ibnu Qayyim, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri”. Membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Tapi, apa yang kita dapati dari kebanyakan lirik tersebut? Seolah cinta mengurucutkan hanya pada sebuah objek, tak ada yang lain. Benar-benar memaksakan si pendengarnya, bahwa cinta memang tak terbagikan. Hingga para penikmat alunan-alunan tak bermakna tersebut jauh dari Pemilik Cinta yang hakiki. Ia mampu membelenggukan seseorang, menjauh secara perlahan dari aktivitas cinta untukNya. Al Qur’an, aktivitas yang bersifat sunnah, dan masih banyak lagi yang bisa mengantarkan seseorang untuk menikmati kecintaan padaNya, Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah”. (Al Baqarah: 165)

Rabb, adakah yang lebih berarti dari mencintaiMu?
Cinta yang tak terbagi terkadang meluputkan seseorang, tapi entah mengapa sarana-sarana ini selalu mendapat tempat di hati kaum muslim?

Pada akhirnya, segala sesuatu dikembalikan pada diri kita yang akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak secara nafsi (seorang). Kitakah bagian dari pelaku cinta yang tak terbagi? 

Wallaahu a’alam..
[ Read More ]

Sayap Patah

Posted by bianglalabasmah at 3/06/2011 08:56:00 PM 0 comments

Tak lagi bisa terbang,
Walau asa ingin membumbung tinggi…
Karena hari mulai merapuh
satu keinginan, lesap menjauh

Dan mulai patah…
Tak lagi ingin menyapa
Pun tak membumbung membedah langit
Karena mendung menggelapkan hati

Dan lagi, patah…
Tak lagi meliuk-liuk di lazuardi
Pun tak menepikan pada kata
Karena sayap tak lagi mengepak

Aku, si Bianglala
3 Maret 2011 – Pada kelas bilingual bersemi, menanti senja..
[ Read More ]

1 Maret 2011

Jadi Sahabat Anak-Anak

Posted by bianglalabasmah at 3/01/2011 11:32:00 PM 3 comments
Wajah teduh itu,
Membantu rasa ini lebih baik
Hingga segaris senyum membersit
Juga tawa segar sering muncul di wajah

Sebuah rutinitas biasa yang kugeluti bersama teman-teman kecil di jelang senja, mengajar. Aktivitas yang terbilang menyenangkan sekaligus menerapi kesabaran. Karena mengenal mereka cukup menyulitkan awalnya. Terlebih mereka memiliki banyak perbedaan dari segi usia, kelas, dan sekolah. Meski akhirnya beberapa pertemuan yang berlanjut membuat kami menjadi “teman akrab”.

Dan, ini  selalu menjadi sore kita.. Pertemuan demi pertemuan membuat aku semakin bisa mengenal dunia mereka. Yah, banyak hal pasti menjadi tantangan dan dinamikanya sendiri. Terlebih kesabaran menjadi modal awal dalam mengkonsepkan sebuah pembelajaran yang bagi mereka menjadi permainan menarik. Sebab, sesekali waktu, adakalanya mereka jengah jika disajikan pada metode pembelajaran yang kaku seperti halnya mereka dapatkan dari sekolah masing-masing. Jika sudah seperti ini, beragam model mulai diluncurkan. Mengajak menggambar dan bercerita hingga bernyanyi walaupun kebanyakan lagu-lagu tersebut mereka yang mengajariku.

Tapi, ada hal yang membuat haru menyelusup di hati, ketika setiap kali ingin mengakhiri pertemuan, mereka selalu meminta untuk berlama-lama belajar. Sekalipun ujungnya, kami akan bermain. Atau di saat diri ini mengalami keterlambatan hadir di tempat mengajar karena kuliah atau kegiatan lainnya, ternyata mereka telah menungguiku di depan pintu masuk dan menyambut girang lewat salamnya.

Akhirnya, aku mengiyakan sebuah artikel yang mengargumentasikan bahwa “Bagi anak-anak, bermain bukan main-main”. Seiring bergulirnya waktu, Allah ingin menyadarkan padaku tentang sosok makhluk kecil bernama anak, agar selalu memberikan kesempatan untuk mengekspresikan kesenangan dan siap membimbingnya, bukan menjadikan ia sebagai “orang” sesuai keinginan kita. Karena anak memiliki hak atas kehidupannya. Yang terpenting, sebagai pendidik, jadilah pendidik yang bisa menjadi sahabat yang selalu optimis. "Not only teach, but also touch".

Terima kasih adik-adikku:
Azka, Mirza, Alif, Nuzul, Arya, Icha, Noni, Rimba, dan Zul.
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea