13 Mei 2009

Saudariku… Kuingin Meraih Surga Bersamamu

Posted by bianglalabasmah at 5/13/2009 02:39:00 PM 0 comments

Oleh: Ummu Ziyad
Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai kenyataan yang kutemui.
Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.
Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.
Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut? Mulai dari baju, jilbab yang lebar, masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab lagi! Dan… apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?
Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah. Pengetahuan akan surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya. Panas dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.
Maka… hatiku kini pedih… Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, “Di mana jilbabnya?”
Ia menjawab, “Tidak sempat kupakai.”
Aih… waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah… mungkin karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.
Tapi hari ini… kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang pendek pula. Sesak rasanya dada ini. Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya… maka habislah sudah… karena perenungan dan pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali ditunjukkan kepadanya.
Saudariku… kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga kita bertemu di surga kelak…

sumber:
www.muslimah.or.id
[ Read More ]

Rapuh

Posted by bianglalabasmah at 5/13/2009 02:10:00 PM 0 comments

Di suatu malam yang hening, aku menemukan secarik kertas yang terburai di antara tumpukan buku. Tulisan yang tertera di sana, mengingatkanku pada satu moment yang membuat jiwa ni muak akan segala aktivitas dalam menghadapi UN. Tak terasa, secarik kertas ini memberikan efek pada tangan ini yang akhirnya mampu menari-nari di atas kertas tersebut.

Perlahan jiwa ini melemah
hingga segala asa yang terpendam nyaris padam
hingga langkahku mulai pupus dan terhapus
khawatir diri ini terhempas dan lepas
karena semuanya nyaris buyar dan memudar

aku rapuh.. ringkih.. nelangsa..
saat langkah kehilangan arah
saat raga melemah dan goyah
saat jiwa yang pernah hidup jadi redup

entah rasa apa yang menggerogotiku
menembus gelapnya ruang
menghentak gelora jiwa
mengguncang segenap asa
entah, ia menerangi atau membakar

kini, ia mulai meradang dan mematikan
membekukan akal, menghempas rasa
jika bukan karenaNya,
kemana kan dibawa sekeping hati ini?

(makassar, 22 Februari 2009)
[ Read More ]

18 Februari 2009

Maaf, Aku Bukan . . .

Posted by bianglalabasmah at 2/18/2009 04:14:00 PM 0 comments

Entah alasan apa, kebanyakan orang yang menjumpai saya mengatakan saya orang Jawa. Meskipun pernah merasa tak mempermasalahkan hal tersebut karena memang sudah melekat pada diri saya. Tapi, akhirnya saya merasa lelah dengan anggapan-anggapan tersebut. Sebab saya memang bukan dari Jawa. Yah, berusaha berbaik sangka pada mereka karena sampai detik ini saya belum mampu melebur dengan bahasa daerah asal saya, bugis. Ditambah dengan kesan mereka yang mengatakan bahwa saya itu "Indonesia Banget" dalam berkomunikasi. Tak heran jika setiap pembicaraan saya mengundang senyum atau bahkan tawa yang tertahan karena logat saya yang cenderung asing di pendengaran mereka. Entahlah..

Mencoba untuk beradaptasi pada mereka dengan banyak bertanya jika ada kosa kata yang asing bagi saya meski hal yang sepele. Dan saya akui untuk mempelajarinya butuh waktu lama karena logat saya lebih kental ke Jawa ketimbang ke Bugis. Huft... Walau dengan perlahan saya tetap saja berprinsip "be your self" daripada saya harus melawan keterbatasan. Tapi, tetap saja saya tak menampik untuk mempelajarinya.

Yahh, mungin sikap itulah yang saya tempuh agar saya tetap berada dalam posisi yang seimbang dan melawan keterbatasan. Karena saya harus akui, di tengah keterbatasan ini, selalu yakin bahwa Allah ingin mengembalikan kesadaran saya dengan inginNya. Bahwa Ia ingin memuliakan hambaNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal bagaimana kita mensyukuri segala yang ada dan menjalani segala sesuatu yang telah dirancangNya.

Maha Suci Allah, atas segala nikmat yang terus berhamburan..
[ Read More ]

Padamu, Palestinaku..

Posted by bianglalabasmah at 2/18/2009 04:11:00 PM 0 comments

Puisi Anak Palestina

Ayah!!
Kata mereka kau penjahat,
padahal sebenarnya engkau bukan penjahat.
Ayah!!
Mengapa mereka jauhkan aku dirimu,,
mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan untuk menciumku meski hanya sekali.
Atau mengusap air mata ibu,
ibu,,!!
Aku melihat air mata di kelopak matamu setiap pagi.
Apakah palestina tak berhak diberi pengorbanan?
Setiap hari aku bertanya kepada matahari,
ibu,
apakah ayah akan kembali pada suatu hari?
Ataukah dia akan pergi selamanya sampai hari kiamat?
Atau dia akan mengusap air mata ibu yang menetes setiap hari?
Wahai ayah,
dimana engkau?
Ooh, bayi-bayi yang dijajah,
kini telah datang hari raya baru,
setelah hari raya tahun lalu dan bayi barupun lahir setelah bayi yg itu.
Dan para syuhada berguguran setelah gugurnya syahid yang lalu,
sedangkn ayah masih disembunyikan di balik jeruji besi
dalam sel mengerikan yang tak layak dihuni manusia,
mana hari kemenangan dan kehancuran penjara besi itu?
Malulah kalian, malulah kalian!!
Aku ingin ayah pulang..


Dari Sebuah Pesan Singkat
[ Read More ]

Dari Kami yang Tak Ingin Tergantikan

Posted by bianglalabasmah at 2/18/2009 04:11:00 PM 0 comments

Laksana makna telah terukir
dalam menghadapi bait-bait kehidupan
dalam menapaki hari demi hari
dalam duri onak yang terbalut
dalam buaian kasih yang terkuak
cukup sudah seribu galau dan rasa

mungkin gampang mengakhiri segalanya
saat kegagalan mengiringi langkah
meski…ada rasa tertinggal di sini
ada sedih bertualang di jiwa
ada pilu yang membuncah di tengah gelaga hati
aku pudar…aku ringkih…

waktu seolah telah berlalu cepat di depanku
seolah jarak yang terpisah menghadirkan kerinduan
cintaku, entah aku menggapainya lagi atau tidak
kuingin bertahan demi cintaNya
menyelimutiku dengan kedamaian
meneguhkanku dengan sesuatu tak terduga
menghapus air mataku dengan kasihNya

Ya… keabadian itu hanya milikNya
tanpa kusadari kini langkahku di penghujung jalan ini
air mataku pun seakan menggugatku
ide yang tak terkaryakan
dan karya yang tertunda adalah saksi bisu bagiku

kucoba atur kembali gerak langkahku
walau kutau sejenak lagi kukan beranjak
namun kuyakin di persimpangan jalan sana
ada jalan yang masih sangat panjang
yang tercipta untukku
demi sebuah asa yang melambung tinggi
demi jannahNya yang kudambakan.

Episode Kurma17
Ada ego yang bersemi ketika langkah tak ingin tergeser
karena bergumul tugas yang belum juga usai
[ Read More ]

Indahnya Ayat-Ayat Al Qur'an

Posted by bianglalabasmah at 2/18/2009 03:44:00 PM 0 comments

Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.
Saudaraku,
Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,
Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.
Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.
Saudaraku,
Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.
[ Read More ]

Mari, Lihatlah Diri Kita..

Posted by bianglalabasmah at 2/18/2009 03:44:00 PM 0 comments


Sepanjang apapun perjuangan kita di jalan dakwah, kita tidak akan pernah mampu membalas apa yang dakwah ini telah berikan untuk kita.

Pandang diri kita, siapa diri kita sebelum merasakan nikmat hidayah.
Dahulu kita begitu jahil, tapi kini Allah membukakan mata hati kita merasakan indahnya Islam dan nikmatnya iman.

Sadarkah bahwa kita adalah orang-orang beruntung, ukhti?
Meski tak jarang kita merasa sakit, air mata yang terus mengalir, beban terasa menghimpit, tapi sudikah kita menukarnya dengan sesuatu yang tak ada bandingannya dengan surga Allah?
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea