15 Juli 2012

Potret di Lokasi KKN

Posted by bianglalabasmah at 7/15/2012 01:28:00 PM 9 comments
Captured 1: 
Detik-detik pembekalan KKN dan pengumuman lokasi

“Semoga ini tempat yang terbaik,” Pasrahku setiap kali orang-orang memberikan gambaran tentang lokasi ini. Benar, sama sekali aku tak menyesal.

Captured 2:
Alhamdulillaaah, rasa syukur berkali lipat setelah mobil yang mengantarkan kami ber-3 memasuki halaman rumah Kepala Desa yang sekaligus menjadi posko kami di Desa Maccini Baji, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan

Captured 3:  
Jelajah perdana menuju rumah kepala dusun setempat.


Captured 4: 
Ah, benar! Separuh hatiku masih tertinggal di Makassar

Captured 2: 
Rumah warga di Desa Maccini Baji

Captured 3

Captured 4

Singkatnya, aku sedang mengakrabi diri dengan hobi baru sebagai photographer. Yah, walaupun masih amatiran. Mengabadikan beberapa pemandangan yang teramat jarang kutemui dijantung  kota. Benar-benar puas bisa melihat bentangan langit dan hamparan hijau merumput. Subhanallah... Untuk captured dan cerita lainnya, insya Allah menyusul. ^^

[ Read More ]

28 Juni 2012

Menuju

Posted by bianglalabasmah at 6/28/2012 09:59:00 PM 4 comments
 

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Mudahkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Mudahkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)



Perjalanan penuh sembab dan haru T^T 
#hiks
[ Read More ]

25 Juni 2012

#5 Sudut Hati: sementara

Posted by bianglalabasmah at 6/25/2012 05:16:00 PM 4 comments

seperti hening yang berjarak
masing-masing kita berpaling
bukan pada zona ..si ..si
yang kadang membuat degup jantung bergelimpangan
tapi, menulis cerita baru di lembar-lembar kemilau kampus
sedianya aku, akan mengutip hikmah di setiap langkah -insya Allah-
(KKN segera beranjak menyuguhkan cerita)

[ Read More ]

11 Juni 2012

Sebab Anak*

Posted by bianglalabasmah at 6/11/2012 12:45:00 AM 2 comments

(Beribu maaf, tuk jemari seseorang yang ter-captured >.<)

Sebab anak, sang Ibu setia..
Melimpahi kesetiannya dalam hikmah dan cinta padaNya

Sore yang lengang. Sambil menikmati senja penuh gerimis, aku terduduk di depan TV. Awalnya sih, agak ngeh juga untuk menyimak tayangan tersebut karena tidak mengikutinya dari awal.  Seperti biasanya, aktivitas memindahi dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Tapi, saat mendengar satu kata “anak” yang menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, sinyal rasa ingin tahuku pun meninggi, kemudian mencoba memberikan perhatian penuh padanya.
Rupanya yang menjadi topik pembicaraan itu adalah tentang gerakan peduli lagu anak yang belakangan ini menjadi sebuah himbauan di kalangan pemerhati pendidikan dan dunia anak. Selain Kak Seto dihadirkan di sana, adapula beberapa pencipta lagu anak saat ini (meski masih kurang familiar menurutku), seorang psikolog anak, dan beberapa komunitas giat cipta lagu anak yang dilibatkan dalam diskusi ini.
Pada dua sesi yang kulihat, menghadirkan pencipta lagu anak, memberikan kesannya bahwa hari ini, para orang tua patut merasa dilema di saat anak-anak mereka tak lagi mengenal dekat lagu yang sepantasnya dengan kehidupan mereka. Dimana lagu anak, katanya, berfungsi sebagai alat komunikasi efektif, baik dari segi pelafalan dan pemaknaan yang menyertai di dalamnya secara berulang-ulang. Dalam sumbangsihnya secara tak langsung memang untuk memberikan kesan dan pesan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak dari lirik-lirik lagu.
Ketika membahas kondisi anak zaman sekarang, sepertinya era Joshua, Sherina, dan Tasya mungkin menjadi akhir dari episode lagu anak-anak di saat aku SD dahulu. Saat ini, anak-anak begitu dekat dengan lagu-lagu yang jauh dari usianya. Aku pun langsung teringat pada beberapa murid privatku. Mereka dengan mudah menyanyikan beberapa lirik lagu yang sebenarnya tak pantas diucapkan dan diperdengarkan, terlebih dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu keong racun, dengan sangat lancar terlisankan dari seorang anak yang masih berusia 4 tahun. Masya Allah, perasaanku langsung terhempas sangat kuat. Walaupun apa yang ia nyanyikan sebenarnya tidak sepenuhnya dimengerti makna dari lagu tersebut. Dan kasus ini ternyata bisa dialami di hampir seluruh orang yang dekat dengan lingkungan anak.
Di satu sisi, aku bisa menanggapi keefektifitas dalam memperkenalkan kosa kata mereka. Seperti, “Bun, keong itu apa?”  Begitu pertanyaannya Iza pada bundanya setelah menyanyikan lagu keong racun tersebut. Semisal yang tadinya anak tersebut tidak mengenal kata “keong”, maka ini menjadi satu kesempatan bagi orang tua untuk semaksimal mungkin memberikan penjelasan tersebut lebih ke ilmiah. Perasaanku yang sempat terhempas tadi, bisa terkembalikan atas pertanyaan polosnya si Iza. Duh, si Iza-ku..
Dalam sesi selanjutnya, penuturan dari beberapa komunitas giat cipta lagu anak menyisakan satu spirit yang menjadi visi mereka. Mengembalikan keberadaan lagu anak untuk menjadi bagian dari kehidupan anak semestinya. Dengan memfasilitasi secara cuma-cuma dengan hanya men-download gratis dan menyebarluaskan. Serta beragam usaha lainnya yang dikerahkan demi sebuah pengembalian tempat semestinya.
Sebagai salah seorang yang insyaa Allah tak lepas dari dunia anak, aku pun ingin memberangkatkan hal ini dari sisi positif. Ketika lagu anak pada topik ini yang kiranya dianggap menjadi penyampai sesuatu hal positif, maka aku pun ingin meminjam spirit tadi melebihi mereka. Agar bisa pula menumbuhkembangkan kecintaan anak pada sesuatu yang mulai diabaikan banyak kalangan. Yaitu, Al Qur’an.
Al Qur’an, satu peralihan peran secara verbal yang terbentuk dari kesempurnaan pelafalan huruf hijaiyyah yang mewakili pelafalan alphabet dari berbagai negara. Mungkin, banyak orang yang tidak tahu. Tapi, ini berdasarkan fakta secara langsung yang sering kita temui di lapangan. Kemudian secara nonverbal terletak pada isi dari Al Qur’an yang jika dipahami merupakan dari sebuah bacaan yang dilantunkan dan pesan-pesan di dalamnya yang diamalkan.
Sebagaimana yang dikemukakan pada salah seorang psikolog anak pada acara tersebut, bahwa aktivitas anak tak sekedar berujung pada kognitif (knowledge) semata. Melainkan ada afektif (attitude) dan psikomotorik (skill) yang saling menunjang dalam pertumbuhan anak. Hal tersebut, sangat mewakili dari apa yang ada pada Al Qur’an. Sekalipun, aku bukanlah salah seorang hafizhah (penghafal Al Qur’an). Dan untuk setiap orang yang memelihara lisannya dari kalamNya, semoga Allah memberikan keberkahan atas penjagaannya terhadap Al Qur’an.
Terakhir, Sebab anak! ketahuilah, jiwa anak harus dibangkitkan dengan hal positif agar tetap bersemangat setiap menghadapi kehidupannya dan masa depannya. Memberikan sesuatu yang positif akan menghasilkan yang positif bukan? Wallaahu a’laam..

*Disetiap tulisan selesai diketik, aku selalu tersendat pada judul.  Karena mengantuk (check waktu post tulisan ini), Sebab Anak dibuat karena menonton hanya alasan kata "anak". Pantas? -semoga-
[ Read More ]

1 Juni 2012

#4 Sudut Hati: Mengutuhkan

Posted by bianglalabasmah at 6/01/2012 09:40:00 PM 8 comments

(Pic: "memergoki" di balik bingkai kacamataku)


“Setiap kita yang masih menggenggam separuh, menikahlah! Karena menikah itu mengutuhkan jiwa-jiwa terhadap cintaNya. Mengutuhkan hati yang selalu menerbitkan kecenderungan. Dan karena setiap kita punya cerita tetap di lauhul mahfudz.”

[ Read More ]

30 Mei 2012

ノート(Nouto)*

Posted by bianglalabasmah at 5/30/2012 05:31:00 PM 2 comments

Ini sudah Document 7 setelah berkali-kali jari kelingking dan telunjuk kiriku secara serentak menekan tuts ctrl+n pada Afkaar, my black lapty. Baru menulis beberapa paragraf yang masih dalam uraian sementara, aku pun berpindah lagi pada new blank document untuk tulisan baru ini.
Hopeless. Kata ini selalu saja ingin menghinggapiku berkali-kali. Ya, setelah berulang-ulang merevisi usulan penelitianku yang tersendat pada kerangka teoritik di salah satu variabel. Dimana variabel tersebut akan menguatkan penelitianku ke depannya, insya Allah. Sebab, sumber dari variabel tersebut masih sangat minim. Berharap semoga bisa diupayakan goal di semester 8.
Sebenarnya hal yang kadang membuat perasaanku pasang surut dalam merevisi penelitian ini adalah karena tanggapan dari beberapa orang yang mengatakan bahwa memilih penelitian pada kategori non-PTK (bukan Penelitian Tindakan Kelas) cukup rumit dan tingkat keberhasilan yang diragukan. Makanya, banyak teman-temanku bahkan dari tahun-tahun sebelumnya yang sejurusanku memilih PTK dalam tugas akhirnya.
Berbeda dengan teman-teman yang mengambil PTK, menurutku non-PTK merupakan penelitian yang bisa memberikan sumbangsih besar pada proses pembelajaran di SD secara umum. Karena non-PTK memberikan keluwesan pada peneliti untuk mengambil garis besar yang terjadi secara umum di sekolah-sekolah. Sedangkan PTK memiliki prinsip bahwa penindakan terjadi di satu kelas tertentu karena satu permasalah yang dihubungkan dengan satu model pembelajaran yang kemudian akan dikondisikan pada kelas yang mengalami permasalahan. Dan permasalahan tersebut belum tentu akan terjadi pada kelas lainnya.
Mengingat PTK hanya ditujukan kepada permasalahan yang terjadi oleh siswa dan mengesampingkan persoalan guru dari teknik mengajar, maka memilih non-PTK menjadi suatu landasan utama yang menarik bagiku. Membuat suatu inovasi yang dibutuhkan baik dari guru maupun siswa secara keseluruhan: usefull, flexible, dan insya Allah terjangkau.
Adapun penelitianku terinspirasi dari sebuah konsep yang telah ada di Jepang dan dituliskan pada salah satu komik Jepang yang bercerita tentang kehidupan anak-anak 小学校(dibaca: Shougakko =Sekolah Dasar) di Jepang. Ia akan menjadi bagian variabel independen dimana pada penerapan きぼう (dibaca: kibou yang artinya buku rapor) di Jepang yang terkonsep dalam penilaian. Akan sangat menarik jika きぼうditerapkan dalam aktivitas kelas di sekolah Indonesia.
Ide penelitian ini sebenarnya telah lama mengendap*. Terhitung dari semester 4 di saat aku membaca komik tersebut yang kemudian aku benar-benar ingin mengembangkannya untuk menjadi tugas akhir di semester 8 nanti, insya Allah. Sebelumnya, aku memang sempat terpikirkan pada banyak hal. Salah satu diantaranya ingin mendiagnosis kesulitan belajar dan bentuk pengajaran remedial yang sering terjadi pada Nobita, salah satu pemeran utama kartun Doraemon. Namun kendala ada pada dia yang berasal dari tokoh fiktif dan sistem pembelajaran SD di Jepang sangat berbeda dengan pembelajaran di Indonesia.
Nah, teruntuk adik-adik di PGSD, sangat direkomendasikan untuk memilih non-PTK agar bisa menjadi orang yang lebih berkembang dalam situasi apapun. Intinya, bisa menghidupkan dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan tanpa keluar dari batasan kurikulum yang telah ditetapkan. Walaupun kita tak bisa menutup mata bahwa PTK pun punya nilai tersendiri dalam menindaki kelas-kelas yang memiliki masalah khusus. Soredewa, mata au hi made… (sampai bertemu lagi…)
*catatan
 ♥ ♥ ♥

[ Read More ]

27 Mei 2012

Mereka GAGA(L). Kita pun Gagal?

Posted by bianglalabasmah at 5/27/2012 09:45:00 PM 7 comments

“Kadang kita menjadi manusia yang teramat sedih atas ke-GAGA-lan yang sebenarnya adalah suatu kemungkaran. Tapi anehnya kita tak bisa menjadi manusia yang paling bahagia ketika kebaikan dekat dengan kita.”
(Bianglala Basmah)
A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim..
Sungguh, aku berlindung kepada Allah ta’ala dari muara syaithan la’natullaah ‘alaih yang sesering ia menembus celah manapun untuk mengalihkan kita dari orbit perjuangan Islam.
Ungkapan permulaan (ta'awudz) tadi bisa jadi sering kita ucapkan. Namun terkadang kita luput mengiringinya dalam diri ini pada banyak aktifitas untuk mengenal lebih dekat tentang apa-apa yang menjadi bagian dari seorang khalifah di muka bumi ini.
Setelah pendeklamasian atas pembatalan konser yang belakangan digaungkan di berbagai media, komentar beruntun langsung bertebaran di mana-mana. Ya, pro-kontra meramaikan jejaring sosial lagi. Menyedihkan, ketika pihak  pro menyayangkan atas pembatalan tersebut kemudian menyudutkan pihak-pihak yang mengakibatkan di antara alasan pemutusan pembatalan tersebut.
Seketika itu pula, ada saja kekhawatiran yang terangsang dari status-status yang berjejalan di jejaring sosial. Di satu sisi, kesyukuran berlimpah karena satu kebathilan yang akan menyapa negeri ini bisa dihandle. Tapi, di sisi selanjutnya, kita patut bersedih sedalam-dalamnya karena kecaman dari sebagian kita, ya, mereka yang “belum siap” menerima keputusan atas pembatalan konser tersebut.
Ada gerangan apa negeri ini? Apakah sebagian kita, “si mereka” mulai di gugu GAGA dan membenarkan pihak mereka tanpa mempertimbangkan segala sesuatu yang justru akan membawa pada suatu kemudharatan yang lebih besar? Sebagian kita, boleh saja hanya memikirkan keuntungan, kesenangan, dan kehedonisme masing-masing.  Tapi, pernahkah sekali duakali mau memikirkan kondisi negeri ini. Minimal generasi muda yang mulai melarut dalam hingar bingar yang tak jelas ujungnya. Mau di bawa kemana kami jika hal yang seperti ini teramat sulit dipertegas? Memang, kita tak bisa menyalahi sepenuhnya kepada mereka. Alasan mendasarnya, karena semua bermuara pada belum kuatnya pemahaman dan kesadaran dari masing-masing. Dan semoga hidayah itu tersampaikan pada mereka.
Kelak, pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap menjadi sebuah “tanya” yang akan membawa kita untuk mengintrospeksi masing-masing. Ketika suatu keberlangsungan dalam menyerukan kebaikan (dakwah) masih akan terus berjalan hingga kehidupan Islami menjadi aturan sepanjang hembusan nafas. Maka, mari memergoki apa yang telah kita perjuangkan untuk Islam selama ini.
Hari ini, begitu banyak orang Islam. Tapi, dari kebanyakan belum mampu untuk menerima Islam secara baik. Hari ini, memang sudah banyak orang yang menerima Islam. Tapi, belum semua mampu berkomitmen pada nilai Islam. Ya, sampai hari ini pun, ada orang-orang yang bisa berkomitmen pada Islam. Tapi, belum sepenuhnya komitmen itu digenggam dengan baik.
Rupanya, keadaan ini yang akhirnya masih belum menyelesaikan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Dalam waktu yang sama, kemaksiatan terus saja berlari sekencang mungkin hingga kebutuhan untuk menyerukan kebaikan (dakwah) pun sedemikian besar. Wallaahu a'lam.
~Mari, merapat untuk perjalanan panjang yang masih ada untuk kita..
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea