27 Agustus 2019

Dialog Iman

Posted by bianglalabasmah at 8/27/2019 02:00:00 PM 0 comments
'AisyahAfra' berebutan mainan yang membuat keduanya menangis cukup memekakan telinga. Karena sudah terbiasa, saya tetap tenang di meja makan sambil menyelesaikan makan malam. Sedang suami yang baru selesai cuci tangan menghampiri duoA yang masih istiqamah mempertahankan keinginannya. Subhaanallaah.

"Sini 'AisyahAfra'-ku karena Allaah." Merangkul kedua putrinya. "Sini, Abi persaudarakan kalian karena Allah. Ayo saling sayang karena Allah." Ucap Abu Asma' yg membuat saya dan Asma' yang menyaksikan adegan mereka tersenyum.

"Kalian bersaudara. Semoga Allah mempersaudarakan kalian dalam Islam." Setelah ucapan dan doa dari Abinya, Afra' secara spontan merangkul 'Aisyah meski 'Aisyah berusaha menghindari adiknya. Hanya hitungan detik, mereka kembali tertawa riang entah sebab apa. Masyaa Allaah.

Kadang saya sering berfikir hati anak-anak ini lembut, masyaa Allaah. Mudah rasanya mengajak mereka dalam kebaikan. Dialog iman yang sederhana saja membuat hati mereka menerima sepenuh hati. Maka menghindari kata cela di hadapan mereka, kalimat negatif dan tuduhan-tuduhan yang membuat jiwa mereka terluka. Bahkan untuk kata "malas, nakal, dll" tidak kami izinkan keluar dari lisan kami, saya dan suami.

Di saat anak mengeluh kata "tidak bisa" misal untuk memberesi mainan atau bukunya yang berserakan di mana-mana, kami mengupayakan tuk membangkitkan semangatnya dengan doa.

"In syaa Allah bisa. Semoga Allah yang mampukan. Ayo berusaha dulu. Kalo capek, boleh istirahat dulu. Nanti Ummi yang bantu kalo benar-benar capek." Rupanya, kalimat itu mudah membuat anak-anak mengerti dan menuntaskan tugasnya, bi idznillaah.

Contoh lain, ada pemulung depan rumah, kami membiarkan anak-anak melihat. Dan bbrapa pertanyaan muncul dari Asma'Aisyah atas keprihatinan mereka. "Ummi, apa dia bikin? Kenapa bajunya kotor?"

"Qadarullaah. Asma'AisyahAfra' bantu doakan. Semoga Allah berikan rezeki untuk ibu itu. Dia bekerja dengan caranya, menjemput rezekinya dengan halal in syaa Allah. Boleh bantu bersedekah dengan ibu itu." Saya/suami biasa menitipkan uang ke tangan mungil 3A dan menghampiri ibu tsb. Agar mereka belajar berbagi, belajar menggagas kebaikan dari apa yang mereka lihat. 

Ketidaksempurnaan tetap disuguhkan dlm kehidupan. Barangkali teori parenting sudah kami pelajari dan 'merasa' hafal di luar kepala. Tetapi, tetap ada saja tingkah anak yang tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tantrum misalnya. Efek egosentris yang cukup kuat di usia ketiga putri kami masih di tahapan fase pre-tamyiz.

Ditambah semakin hari anak tumbuh dan ingin mengenal lingkungan luar, berinteraksi dengan keluarga, teman, dan tetangga. Ada saja kata-kata di luar kendali kami yg terserap dalam interaksi mereka. Mulai dari yang paling baik sampai yang buruk dalam kata, na'udzubillaah. Meski sepenuhnya mereka masih belum mengerti apa yang mereka ucapkan sejatinya. Dan menjadi PR kami untuk mengkonfirmasi setiap kata yang mereka ucapkan.

"Kakak paham apa yang kita' bilang?" Tanya saya suatu ketika. "Biarkan mereka bilang seperti itu, nak. Tidak untuk Asma', 'Aisyah, dan Afra'." Jelas kami mencoba menegosiasi.

"Kenapa Ummi?" Tanya Asma' dengan wajah polos tanpa beban.

"Karena Abi dan Ummi tidak pernah bilang seperti itu, apalagi untuk Asma', 'Aisyah, dan Afra'. Sebelum bicara, boleh tanya dulu ke Ummi ato Abi supaya kakak Asma' bicara yang baik atau diam kalo tidak mengerti. Ada hadits Rasulullah yang sudah kita' (kamu dalam bahasa bugis) hafal. Asma'Aisyah sangat hafal masyaa Allah."

"Yang Amsik 'alayka lisaanak itu Ummi? Jagalah mulutmu. Hadits riwayat At Tirmidzi." Asma'Aisyah mengingat hafalan haditsnya.

"Masih ada satu lagi kakak. Yang awalan mang kaa na." Saya mengingatkan kembali awalan hadits ttg perkataan.


"Mang kaana yu'minu billaahi walyaumil aakhir fal yaqul khaeran aw liyasmut. Barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam."

"Barakallaahu fiik nak.. Kita' tau hadits dan masyaa Allah sdh dihafal. Ummi Abi harapkan supaya bisa sama-sama diamalkan. Dijaga ucapan ta' (akhiran dari kata kita': anda/kamu)."

Semoga ikhtiar kami dlm dialog iman yg sederhana ini bisa mengantar pada setiap amal apa yang perlu dilakukan. Muaranya hanya pada Al Qur'an dan Sunnah yang menjadi warisan berharga, untuk generasi peradaban. Allahu a'lam.
[ Read More ]

31 Maret 2019

Membersamai dengan Al Quran

Posted by bianglalabasmah at 3/31/2019 10:36:00 PM 1 comments
Sejujurnya saya menyukai semua pekerjaan di ranah domestik, apapun itu. Mungkin karena background Mama saya yang menekuni hampir semua pekerjaan tsb tanpa ART pada saat kami masih kecil dahulu. Mulai dari masak, mencuci dan proses menjemur-menyetrika dan melipat, serta tak luput mendidik, mengenalkan huruf hijaiyyah, bahkan calistung. Sehingga kami dari ke-tujuh bersaudara, hanya satu saudara kami yang melewati bangku TK, selebihnya langsung masuk SD. Masyaa Allaah tabarakallah, Ma! Barakallaahu fiik~

Pada tahap saya berkiprah di rumah tangga pun tak jauh seperti Mama. Cita-cita yang terpatri sejak dulu, ingin seperti Mama, atas izin Allah alhamdulillaah. Dan yang tak pernah saya lupa dari seorang Mama adalah beliau tidak pernah meninggalkan waktu membaca Al Qur'annya kecuali saat berhalangan. Masyaa Allah.

Menjadi jawaban ketika saya pun merasa butuh dengan Al Qur'an. Saya yang masih butuh bimbingan, masih faqir ilmu Islam, tentu ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anak. Meski diri ini masih jauh dari kata baik dan sempurna.

Mencoba pada suatu hal yang menjadi kebutuhan kita, sejatinya. Yaitu mengatur waktu kita untuk Al Qur'an, niscaya Allah akan mengaturkan waktu untuk kita.

Seberapa banyak kita menyempatkan bersama Al Qur'an, seberapa banyak pula hajat kita dimudahkan oleh Allah. Hajat seperti apa? Saya begitu merasakan bagaimana pekerjaan di ranah domestik bisa terselesaikan tanpa ART secara tuntas, bi idznillah.

Sejak kehamilan ketiga, saya meng-azzam-kan diri untuk bisa memperbanyak interaksi bersama Al Qur'an. Merutinkan kembali one day one juz dan diet gadget di hadapan duo-A hafizhah. Alhamdulillah atas izin Allah, Asma'Aisyah secara perlahan baik saya sadari maupun tidak, mereka mengingat banyak bacaan dari Al Qur'an, masyaa Allah. Belakangan saya menyadari Asma' sudah hafal Surah Al Kahfi tanpa saya talqin dengan sengaja. 'Aisyah dengan 20 ayat pertama pada surah Maryam-nya. Sedang yang kami rutinkan pada Duo-A hafizhah baru juz 30 dan kini mereka tengah menyempurnakan juz 29. Alhamdulillah wa Masyaa Allah tabarakallah. Maka nikmat Tuhan yang manakah kamu ragukan?

Kami lakukan di hampir setiap waktu. Men-talqin dan mengajak muraja'ah secara bertahap. Tentunya, saya dan suami melihat mood duo-A hafizhah kami. Bila mereka enggan, kami tak memaksa. Tapi, seringnya kami dapati, Asma'Aisyah selalu meminta untuk mengaji bila jelang tidur di pagi dan malam hari.

Maka mulailah hari bersama Al Qur'an dengan memperbanyak bermulazamah bersama Al Qur'an ketimbang gadget. Adapun pekerjaan di ranah domestik akan menjadi sangat menyenangkan dan dijalankan dengan santai in syaa Allah.

[ Read More ]

22 Maret 2019

Pre-Tamyiz (Part 2)

Posted by bianglalabasmah at 3/22/2019 04:45:00 PM 0 comments
Pada usia 0-7 tahun perlunya membersamai mereka dengan kalimat thayyibah dan menahan kata-kata yang tentunya tidak dikehendaki.

Setiap tantrum, atau enggan menuruti permintaan kami misalnya, kalimat thayyibah inilah menjadi pengantar untuk menenangkan mereka. "Semoga Allah kasih hidayah ke 'Aisyah ya,  supaya 'Aisyah mau sikat gigi lagi." Ucap suami kala membujuk 'Aisyah suatu malam. Namun 'Aisyah tetap enggan karena mengantuk dan lelah, jelasnya.

Saya pun memandangi anak dan abinya dengan seksama. Selalu terpana dengan kata 'ajaib' untuk membujuk putrinya. "Jazaakallaahu khaer Abu Asma'. Barakallaahu fiikum." Ucap saya kepada suami, wujud syukur dan terima kasih yang hanya bisa selalu saya sampaikan berulang di setiap kesempatan dan di semua aktifitas bersama kepada suami, sang qawwam (pemimpin), kepala sekolah, partener, pembimbing, dll.


Di lain waktu,"Ummi, saya besok mau memanah lagi ya. Kalo bangun, shalat subuh, saya mau panahan sama abi." Kata Asma' sebelum tidur.

"Iya. In syaa Allah. Kalo gitu, bilang apa juga kakak?" Tanya saya mengingatkan sesuatu.

"In syaa Allah, ummi." Jawab Asma', seperti yang memang kami harapkan.
"Barakallaahu fiik, nak." Puji dan doa saya sambil mengusap ubun-ubunya.

Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan baik serta doa yang biasa kami saling berikan kepada anak dan pasangan di setiap waktu.

Kalimat thayyibah, perkataan baik yang perlu disisipkan di setiap kejadian agar bisa tetap mengikatkan hatinya kepada Allah dan terjaga fitrahnya. Salah satu bagian dari menanamkan iman. Menanamkannya perlu dengan proses men-talqin (pengucapan), mengenalkannya perlu pembiasaan, diingatkan selalu, dan diamalkan oleh orangtua terlebih dahulu secara konsisten. Agar tumbuh seiring waktu bersama amalan baik yang menjaga fitrah imannya.

Berharap agar rahmat, taufiq, dan bimbingan Allah selalu hadir bersama kita dan anak-anak kita. Maka semua dimulai dari perkataan kita. Allahu A’lam. (Bersambung)


#imansebelumquran
#adabsebelumilmu
#fasepretamyiz
[ Read More ]

21 Februari 2019

Pre-Tamyiz (Part 1)

Posted by bianglalabasmah at 2/21/2019 09:31:00 AM 0 comments
Tulisan ini pernah saya posted di akun instagram saya @basmahthariq sebulan yang lalu. Hanya kali ini saya sedang kangen dengan blogging, ingin merapikan dan merepost sebagian tulisan saya dari instagram.

***

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Semoga kita bagian dari orang yang sangat familiar dengan hadits ini. Mampu meresapi, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah (bermakna suci, pembawaan sejak lahir yang belum ada pengaruh buruk apapun).

Adapun fitrah di atas Islam adalah setiap kita ketika masih di dalam kandungan, telah bersaksi di hadapan Allah secara langsung, sebagaimana dalam surah Al A'raf: 172, "Alastu bi rabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa" ~~“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Sederhananya, ponsel yang kita miliki, jauh sebelum kita beli telah disiapkan aplikasi-aplikasi yang akan menunjang dari penggunaan ponsel tsb. Sisa kita, mau menggunakannya atau tidak.

Seperti itulah kita manusia, yang perlu diupayakan adalah tetap dalam fitrah, hingga kembali menemuiNya. Dan tugas kita sebagai orang tua yang Allah titipkan berupa anak, diharapkan mengupayakan dalam menginstall iman mereka terlebih dahulu bukan yang lain.

Man Rabbuk? Siapa Tuhanmu?
Maa diinuk? Apa Agamamu?
Man Nabiyyuk? Siapa Nabimu?

Mengenalkan ushul tsalaatsah, tiga landasan utama inilah yang perlu disajikan ke dalam kehidupan anak pre-tamyiz (0-7 tahun). Bermula dari bagaimana orang tua menyajikan sendiri. Berupa pemahaman 'ilmu' yang tentunya diamalkan. Melalui pengamalan ini mengiringi kepada pengenalan, penanaman, dan pembiasaan secara berulang kepada anak setiap hari.

Penyajian dalam bentuk dialog iman kepada anak pun dibutuhkan. Tentu penyampaian disesuaikan dengan penguasaan literatur anak.

Sering mendapati orang tua berharap anaknya bisa shaleh/shalehah, hal sepele seperti kalimat thayyibah dilupakan. Lupa mengucapkan alhamdulillaah, masyaa Allah, astaghfirullaah, subhaanallaah, innaalillaah dan masih banyak lagi bentuk dzikrullaah pada setiap perkataan yang sangat berkaitan apa yang tengah kita dialami.

Dari kalimat thayyibah bermula, anak sedikit demi sedikit akan bertanya, Siapa Allah? Kenapa harus alhamdulillah Ummi? Kenapa bilang innaalillaah? Kenapa beristighfar astaghfirullah begitu? Kenapa qadarullaah Ummi? Kenapa syafaakillah? Kenapa dadah-dadah diganti fii amaanillaah? Apa itu barakallaahu fiik? Kenapa kalo ketemu  ato nelpon bilangnya Assalamu'alaikum, bukan halo?

Pertanyaan sederhana pada perkenalan  Rabb (Tuhan) juga mengarah kepada ad-Diin (Agama). Dan masyaa Allah ketika setiap orangtua mampu menguraikannya. Saya dan suami sering takjub dan terharu yang tak terhingga ketika mendapati banyak hal dari fitrah imannya anak yang sejatinya ada tertanam di hati mereka. Sisa kita, mau menumbuhkan atau tidak.


"Ihfazhillaaha yahfazhka, ihfazhillaaha tajidhu tujaahaka. 
Jagalah (agama) Allah niscaya Allah akan menjagamu, 
jagalah (agama) Allah niscaya kamu dapati Dia dihadapanmu. 
Hadits riwayat At Tirmidzi, hadits Hasan Shahih."

Beginilah Asma'Aisyah kala sedang muraja'ah hadits. 1 hadits 1 bulan yang kami terapkan. Meski pada progress mereka, 1 hadits bisa dihafal hanya memakan waktu 3 hari saja. Bahkan meminta hadits tambahan untuk mereka hafal. 

"Ummi, tambah lagi haditsnya." Pinta Asma'Aisyah ketika mereka sudah hafal dengan hadits tsb. 

"Haditsnya untuk diamalkan kakak. Biar lebih berberkah, in syaa Allah." Jelas saya setiap permintaan mereka tambahan hadits.

"Kenapa Ummi?" Tanya Asma'Aisyah yang hampir berbarengan.

"Saya mau hadits lagi." Ujar 'Aisyah seperti biasanya.

"Ya gak papa. Supaya lebih mantap aja in syaa Allah." Ucap saya sambil mengacungkan jempol di hadapan kedua wajah mungil nan shalehah tsb.

Namanya anak-anak, semangatnya luar biasa. Masyaa Allah. Kadang saya harus banyak bersyukur atas kelelahan yang sering menghampiri diri. Lelah yang tak seberapa rupanya.


Terbayang hadits-hadits tsb seperti menumbuhkan fitrah iman mereka. Saya gak perlu bersusah payah semestinya mengeluarkan beribu kata untuk menyampaikan nasehat kepada anak-anak. Melalui hadits yang saya kenalkan kepada Asma'Aisyah, alhamdulillaah bi idznillaah, di sanalah mereka mendapatkan ibrah (pelajaran). Sungguh, agama ini begitu sempurnanya. Sebaris hadist yang tak seberapa jumlah kata, pesannya tersampaikan langsung. Menancap in syaa Allah ke hati seiring ditumbuhkan, diingatkan, dan diamalkan pada anak-anak. Dan tentu ketika orangtua bisa menjadi teladan.

Melalui hadits yang satu per satu diperkenalkan, bi idznillaah, saya menyadari bagaimana pengenalan dan penambahan kosa kata baru kepada anak-anak. Menjelaskan dan mendeskripsikan bentuk pengamalannya. Sampai masuk ke ranah iman dan adab. Bagaimana bentuk penjagaan kita kepada Allah misalnya, dan masih banyak lagi.

Anakku, sebagaimana doa yang Abi Ummi kenalkan padamu. Doa untuk selalu diberikan petunjuk, ketaqwaan, kesucian diri, dan kekayaan jiwa. Allaahu a'lam.


#imansebelumquran
#adabsebelumilmu
#fasepretamyiz
[ Read More ]

20 Februari 2019

Cerita di Kemistri 2018

Posted by bianglalabasmah at 2/20/2019 11:09:00 PM 0 comments
Beberapa bulan lalu, kami sekeluarga alhamdulillah bisa hadir di Kemistri Camp 2018. Keluarga Muslim Nyantri sebutan dari Kemistri, merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) dan sekarang telah berubah nama menjadi Homeschooling Muslim Indonesia (HSMI). Dimana keluarga praktisi dan calon praktisi homeschooling bisa berkumpul untuk bersilaturahmi, saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam membersamai anak-anak dalam homeschooling.

Kegiatan yang saya idamkan dari tahun-tahun sebelumnya, qadarullah wal hamdulillaah baru tersampaikan karena saat itu, kondisi saya yang hamil dan melahirkan dalam waktu yang lumayan dekat.

Selalu mupeng dengan suasana camp, meski saya pribadi alhamdulillaah pernah melakukan perkemahan (Persami dan Perjusami) pada kegiatan pramuka semasa di kampus.  Dan Kemistri ini tentu membawa tantangan baru. Suasana kekeluargaan disertai nyantri mulai dari bangun qiyamul layl sampai akan tidur kembali, share pengalaman dan ilmu membuat kami mendapat pengalaman baru masyaa Allah.
Kemistri ini berlangsung pada tanggal 7-9 September 2018 di Gunung Pancar, Bogor. Terbayang pada saat berkemas barang dan segala keperluan yang akan dibawa, kota Bogor identik dengan suasana dingin dan hujan. Tapi, sesampai di lokasi malah suasananya jadwal mandi subuh dan sore tetap berlaku. Geraahnya masyaa Allah.. Ditambah dengan aktivitas anak yang kebanyakan outdoor.

Di awal kedatangan, kami disambut panitia, dan diantar menuju tempat pengambilan tenda. Karena suasana camping, tinggalnya ditenda dengan ukuran tergantung jumlah personil. Bersyukur dapat ukuran tenda besar yang dibangun oleh masing-masing keluarga setelah ada demo membangun tenda oleh panitia.
Kehadiran saya saat itu, diantar dengan orangtua saya, adik saya, dan tante saya yang domisili di Bogor (sebagai tour guide kami selama disini), membuat suasana tenda kami paling rameee masyaa Allah. Mau camping aja sampai diantar sekeluarga. Ayah dan adik saya pun akhirnya turut membantu dalam proses membangun tenda yang akan kami tinggali beberapa hari.


Di Kemistri, terdapat 5 Kabilah yang per kabilahnya terdiri dari 5 sampai 6 keluarga dengan nama-nama sahabat Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sesuai dengan namanya, keluarga muslim nyantri. Family camp yang sangat masyaa Allah, menariknya luar biasa. .

Rundown kegiatannya yang mencakup amal yaumi, kajian untuk orangtua, sharing ilmu dan pengalaman para praktisi homeschool, outbond anak, penampilan dari masing-masing kabilah di malam api unggun, tracking, dan aktivitas lainnya cukup mendukung dalam membangun home team. Masyaa Allah.

Terasa banget perjuangannya di family camp saat saya dan suami berbagi tugas menjaga dan mengemong anak. Mendampingi dan menenangkan anak kala tantrum misalnya. Atau meng-handle anak yang mau ke kamar mandi dengan jarak yang lumayan jauh dari tenda kami secara bergantian. Saling menguatkan dan mengkondisikan di saat tertentu kepada anak-anak, terutama saat jam tidur malamnya namun masih ada kegiatan dan seseruan di tracking moment.

Sesampai di Makassar pun, rupanya Asma'Aisyah masih terngiang dengan yel-yelnya , kangen dengan tenda yang mereka akui sebagai tempat tinggal sementara selama di puncak. Terasa senang dengan pengalaman baru, teman baru, 'logat' barunya, masyaa Allah.

Asma': "Ummi, nanti kita pergi lagi. Bermalam di tenda ya. Di Bogor."

Ummi: "In syaa Allah yah. Minta sama Allah dulu kalo ada keinginan Asma."

Asma': "Kenapa Ummi?"

Ummi: "Karena Allah yang akan gerakkan hati Abi dan Ummi nantinya. Apakah nanti qt camping lagi. Ato pergi ke Makkah, umrah mungkin. Berdoa saja dulu ke Allah." (Kemudian menyaksikan Asma'Aisyah berdoa, menengadahkan tangan)

Dan moment Asma'Aisyah berdoa selalu membuat kami terharu. Semoga doa setiap keinginan kebaikan dan ketaatan itu menembus langit ya nak..

Barakallaahu fìikum anak-anak shalehah hafizhah qurrata a'yunnya Abi Ummi (sebutan kami, dalam doa senantiasa dimohonkan demikian) ❤❤❤

Alhamdulillaah bi ni'matihii tatimmush shaalihaat.


#kemistricamp2018
#edutrip
#MuslimFamilyCamp 
#HomeschoolingMuslim
[ Read More ]

Tanya Asma'

Posted by bianglalabasmah at 2/20/2019 07:57:00 PM 0 comments
"Ummi, apa itu hadits?" Tanya Asma' suatu hari.

"Hadits itu sesuatu dari Nabi kita Muhammad, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dari beliau katakan, amalkan, sifat, atau persetujuan."

"Kenapa Ummi?" Seperti biasanya, Asma' akan bertanya dengan kata kenapa ketika ia masih belum mendapatkan jawaban yang ia hendaki.

"Karena Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam manusia atau orang terbaik yang Allah hadirkan untuk kita."

"Kenapa Ummi, Rasulullah jadi terbaik?"

"Karena dijamin sama Allah. Kalo salah, langsung Allah tegur. Makanya dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam segala amalan atau kegiatannya kita sebaiknya ikuti. Makanya disebut sunnah."

"Oh, makanya kalo makan harus tangan kanan kan?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Gak boleh mencela makanan juga kan, Ummi?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Baca doa kalo mau makan, sudah makan, mau ke kamar mandi juga.. Begitu?"

"Iya, karena ada haditsnya."

"Harus malu juga, Ummi?"

"Iya, kan ada haditsnya juga."

"Jadi semua ada hadits? Dari bobo sampai bobo?"

"Iya. Nanti in syaa Allah Ummi kenalkan satu satu haditsnya."

"Kenapa?"

"Supaya Asma', 'Aisyah, Afra', kenal gimana kehidupan Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam."

"Nanti, nanti saya kasih kenal hadits ke 'Abdullah.." Sela 'Aisyah polos.

Masyaa Allah.. Itu cita-cita yang membuat Umminya terharu.

"In syaa Allah.. Makanya gak cuma dihafal hadits yang Ummi kenalkan. Tapi diamalkan juga. In syaa Allah Abi, Ummi, Asma', 'Aisyah, Afra' bisa saling mengingatkan."

"Selalu ji ku ingatkan 'Aisyah sama Afra', Ummi.. Kalo lagi makan. 'Aisyah..., Afra'..., Makannya duduk. Tangan kanan, ya Ghulaam*.. Begitu Ummi." Cerocos Asma' semangat.

"Iya, pokoknya saling mengingatkan. Termasuk ke Abi sama Ummi."

"Kenapa Abi Ummi juga harus dingatkan?" Tanya 'Aisyah.

"Karena Abi Ummi manusia biasa kayak Asma', 'Aisyah, sama Afra'. Siapa tau Ummi lupa, kalo makan berdiri. Kan perlu diingatkan."

"Termasuk laa taghdhab ya Ummi? Jangan marah. Jangan nah. Jangan Ummi." Tegas 'Aisyah sambil menggeleng-gelengkan kepala di hadapan saya, Umminya. Kemudian ia mengecup pipi saya. Entah gemas ato greget.

"Jangan apa 'Aisyah?"

"Jangan marah-marah Ummi. Laa taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah maka bagimu surga. Hadits riwayat Thabrani." Balas 'Aisyah sambil mengutip sebuah hadits yang ia hafal.
Seketika Umminya lebam ditabok pake hadits.. 

"Iya, 'Aisyah. Ummi harus belajar sabar. Afwan 'Aisyahku." Saya pun membalas mengecup kening 'Aisyah.

"Kalo memanah kayak Abi, hadits juga Ummi?" Tanya Asma' lagi.

"Iya, in syaa Allah apa yang kita lakukan ya harus seperti di Al Qur'an dan hadits." Jelas saya.

"Ummi, kalo gak mau dilakukan seperti di hadits kenapa?"
Sebenarnya agak berat menjawab pertanyaan ini. Tapi, selalu berusaha menjawab sesuai dengan penguasaan literatur anak. Dan tentu memohon pertolongan pada Allah untuk bisa memahamkan putri kami yang tiada henti bertanya dengan kata kenapa. .

"Bisa rugi." .

"Kenapa rugi?"

"Karena Rasulullah itu manusia yang Allah jadikan petujuk dan teladan. Berarti harus dicontoh. Kita umatnya Nabi Muhammad, Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Nanti Allah akan kumpulkan bersama orang-orang yang kita sayangi."

"Terus?"

"Allah sudah menjamin Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan amal dan perkataannya. Berarti itu semuanya baik. Dan yang paling penting, karena Nabi Muhammad beriman kepada Allah ta'ala."

Hampir setahun ini,  kami mulai memperkenalkan hadits seiring berjalannya talqin juz 30 dan 29, 'alaa bi idznillaah. Kami pun sisipkan membacakan sirah sebagai penguat dalam hal apapun dalam amal yaumiah. Meski masih sangat jauh, bahkan terlampau jauh amalan kami dibanding dengan mereka orang terdahulu di zaman Rasulullaah shallallaahu 'alaihiwa sallam.

Ya Allah, bimbinglah kami. Mampukan kami.


#istiqamahberkisah
#komunitasibuberkisah
#jalanbahagiaberkisah
#kelompokannur
[ Read More ]

2 Mei 2018

Big Project

Posted by bianglalabasmah at 5/02/2018 11:05:00 AM 0 comments
Bismillaah..
Saat ini sedang fokus utama saya dan suami adalah dalam hal pendidikan anak. Konsep yang dijalankan dalam pendidikan pada ketiga putri kami Asma', Aisyah, dan Afra' berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah in syaa Allah. Dengan konsep Fitrah Based Education yang memang 2 tahun ini sedang kami pelajari dan beberapa kali kami mengikuti rangkaian kajian FBE dari Ustad Harry Santosa dan mengikuti grup HEbAT.


Beberapa contoh penerapannya saat ini adalah saya membuat jurnal kegiatan sebagai salah satu tahapan membuat portofolio 3A menggunakan framework FBE dan kegiatan harian 3A berdasarkan konsep FBE.

Adapun ilmu dalam penerapannya saya memilih sebagaimana umumnya yang sering disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari, Lc berupa pengenalan tauhid.

Harapan ke depannya, kami bisa menyusun dan membukukan sebagai panduan pendidikan nabawiyah untuk anak-anak pra usia dini. Sekaligus menebar ilmu nabawiyah dan kegiatan-kegiatan yang bisa menumbuh fitrah iman kepada anak-anak sejak usia dini. Semoga dengan kehadiran buku tersebut, kelak akan membantu setiap orangtua dalam mengenalkan Iman dan tahapan-tahapannya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Adapun  langkah yang sedang kami jalani bersama adalah menyusun kurikulum. Dan kurikulum yang kami siapkan mencakup pada:
  1.  Kurikulum disesuaikan dengan usia (0-7) yang sifatnya flexible dan mudah diterima.
  2. Mengenalkan iman dan membacakan sirah disesuaikan dengan penguasaan literatur anak.
  3. Belajar dengan metode Al Hifzh (menghafal), yaitu: dimana men-tasmi’ dan men-talqin (usia 0-7 tahun) secara berulang dan berlanjut terhadap materi yang ingin disampaikan. Hal ini berupa bacaan Al Qur’an, doa-doa pada amal yaumiyah,  dan pengenalan tauhid.
  4. Belajar tanpa dipaksa. Melalui dari kesadaran dan keinginan yang ditumbuhkan.
  5. Orangtua dalam hal ini selain sebagai rule model, juga sebagai pembimbing, fasilitator, dll yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak dalam ketaatan, kebaikan dan perkembangan.
  6. Selalu memohon pertolongan kepada Allah di setiap kelas kehidupan yang membersamai anak untuk menjadikan generasi yang Rabbani.


#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateriLima
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea