27 Januari 2012

Di Antara

Posted by bianglalabasmah at 1/27/2012 09:12:00 PM 12 comments
#1
Pagi cerah menghabiskan waktu pada lembaran-lembaran buku Soft Skills untuk Pendidikan, mengajak pikiran ini dicecar oleh bayangan kedua negeri yang menjadi impianku. “Negara maju berarti ia telah memperhatikan pendidikan dalam kondisi sedemikian rupa.” Simpulku.
Tak ada alasan, ketika setiap kali berada dalam posisi yang terperangkap pada negeri yang begitu mencemaskan akan pendidikan. Maka, meraba beberapa negeri seberang adalah bentuk upaya untuk memajukan negeri ini. Apa salahnya? Pada sejumlah buku yang berimbuh pendidikan yang pernah kubaca, justru merekomendasikan untuk memperhatikan dan mempelajari bagaimana negara-negara asal Asia Timur ini membangun negaranya.
Jepang dan Korea, kedua negara tersebut juga pernah terpuruk, pernah mengalami kekalahan dalam peperangan, pernah mengalami kegagalan, dan lainnya. Tapi, kedua negeri itu punya beberapa hal yang bisa membangun kembali negerinya, yaitu: kesadaran, tanggung jawab, dan komitmen kuat dalam mengawali kehidupan bernegara dan memperbaiki semuanya dari sebuah penanaman dalam diri yang terbentuk dan terarah bernama pendidikan. Pendidikan yang tidak hanya meminta implementasi segi kognitif, tapi juga menuntut pada psikomotorik dan afektif seseorang. Yang tak kalah mengejutkan, justru pendidikan bagi keduanya itu sebagaimana ilmu itu bisa memberi ruh dalam dirinya masing-masing. Kejujuran yang tak hanya ada pada teori. Kedisiplinan yang tak hanya pada banyak janji belaka. Rasa tanggung jawab tak hanya ada dalam bayang-bayang. Tapi, mengupayakan adanya indikasi dari pendidikan dan meyakini bahwa pendidikan merupakan investasi yang luar biasa dalam membangun negeri.
Ah, semoga kita bisa memberi ruh pada masing-masing ilmu yang kita miliki. Sama seperti mereka, kita terlahir dalam keadaan yang berakal untuk menempatkan sesuatu yang memang semestinya.

#2
Duniaku sedang berputar pada: Ruang kelas – Gedung Sekolah – Anak – Ibu
“Mbak, anak saya tulisannya gak terlalu bagus. Padahal dia udah kelas 2 lho, mbak..”
“Bu, anak saya kok susah sekali ya kalo disuruh belaja? Butuh hidayah kayaknya ya?”
“Si A.. Selalu aja kalo waktu belajar, maunya maiiiin terus.. Gimana bu?”
Tersadarkan atas pertanyaan-pertanyaan ini justru sering dilayangkan untuk seorang “aku” yang masih memiliki kadar sedikit untuk membenahi anak-anak. Tak lepas dari hal itu, seringkali kondisi ini pula yang bisa mengantarku untuk banyak belajar lagi dan mendapati jawaban dari proses yang kulalui. Tentunya, untuk memenuhi semuanya, mencoba menjawab dari hasil membaca banyak buku, banyak bertanya dan share ke orangtua murid, terlibat langsung dengan mengikuti seminar parenting dan training untuk calon pendidik. Setidaknya ada bekal melatih diri untuk lebih. Lebih mengerti, lebih memahami, lebih tahu, dan… lebih mempersiapkan diri untuk menuju.

#3
Guru dan Murid = Sama-sama sedang belajar
Intinya, kita mau – bisa – lakukan demi ketercapaian proses pembelajaran.
Memiliki skill khusus dibutuhkan waktu untuk mengupayakan semuanya ada. Percaya atau tidak, aku baru mahir dalam meng-gradasi warna itu disaat duduk di bangku perkuliahan. Pada saat salah satu murid privatku sedang mengisi waktu kosongnya dengan mewarnai dengan sangat indahnya, aku pun tak ragu ingin belajar. “Azka, ustadzah* boleh belajar gradasi warna dari Azka?” Tanyaku penuh harap. Ia pun tanpa sungkan menerimaku dan mengajariku dengan sangat tekun seusai belajarnya selesai. Alhasil, setiap kali aku menyelesaikan gambarku, kemudian membawa dan menyuruhnya untuk mengoreksi hasil gradasi warnaku. “Azka, ustadzah udah warnain ini. Coba dinilai ya..”
Di sini, kita bisa melatih kepercayaan dan kemampuan anak didik, bahwa segala sesuatu itu tidak harus didapatkan dari guru seorang. Tapi, bisa jadi murid membelajarkan pada banyak sisi yang justru kita kadang luput dari kemampuannya yang lebih.
Lain gradasi, lain juga dengan origami. Pada saat sedang mengeluarkan buku dari tasnya, tiba-tiba sebuah hasil karya origami terjatuh. Aku yang memungutnya mengamati lekat kertas lipatan itu. “Ini Azka yang buat? Boleh diajarin cara buatnya?”
“Tapi, aku cuma taunya yang ini aja, ustadzah.. Itupun diajarin temenku di sekolah” Katanya dengan sangat polos.
“Oh gak papa, Azka.. Ntar ustadzah bakal kasih tau cara membuat yang lainnya.” Akhirnya, aku rajin men-search di google dan mengikuti tutorial origami dari internet yang kemudian ku bagikan kepadanya dan murid-muridku di waktu senggang.
Rupanya, aku memang masih harus banyak belajar..

#4
Mau mendengarkan suara (hati) kecil..
Kita kerapkali dihadapkan untuk tiba-tiba memahami kondisi seseorang. Sekalipun ia tak mengerti bahwa memahami kondisinya bukan hal mudah dituruti seketika.
Kali pertama mem-privat di sebuah rumah kompleks sebelah, seorang anak laki-laki yang kondisi belajarnya masih labil dan bergantung pada mood-nya, lagi-lagi mengajariku pada banyak hal. Mulai dari belajarnya harus ditemani oleh ayahnya yang justru membuatku kikuk dihadapannya, sampai pada mogok belajar karena kondisi keterpaksaan. Disanalah aku mengerti, menumbukan kecintaan belajar pada anak diawali dari hal-hal yang dekat dengan dunianya. Yah, bermain. Bukan dengan ancaman atau bujukan sekalipun yang akan mengubah mindset anak bahwa belajar: menakutkan.
Awalnya, ingin menyerah ketika berhari-hari dipertemukan dengan kondisi yang sangat dipaksakan. Tapi, situasi itu justru mengalihkan cara membelajarkan sosoknya dari biasa menjadi luar biasa. Laki-laki yang berusia 4 tahun itu akhirnya mau mengaji hanya bermodal crayon dan kertas putih polos yang tanpa sengaja tergeletak di atas meja belajarnya. Memulainya ketika tiba-tiba saja ia mendekat dan menggambar di sebelahku tanpa dipinta.
“Mirza lagi gambar apa nih?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Lagi gambar mobil.” Katanya pelan dengan tetap memainkan jarinya di atas kertas tersebut.
“Waah, anak shaleh yang satu ini, hebat...” Pujiku sambil terus mengamati gambarnya. “Kalo gitu, dik Mirza bisa gambar rumah juga dong?” Pintaku kembali sambil terus mengamati tangan mungilnya yang lihai.
“Bisa..” Jawabnya datar yang kemudian memenuhi pertanyaanku itu.
“Masya Allah, bener-bener keren..” Pujiku lagi sambil mengusap kepalanya ketika ia telah berhasil menggambar rumah. Kemudian aku meminta ia menggambar sesuai keinginannya. Maka, ia pun menggambar sampai akhirnya, “Kalo gambar huruf alif atau a yang ada di iqra’nya adek Mirza, bisa gak?” Tanyaku pelan-pelan dengan sebuah penawaran baru. Aku tak sungkan memperlihatkan buku Iqra’nya.
“Bisa..” Masih dengan jawaban yang singkat, ia memenuhi permintaanku.
“Hebat, masya Allah!!” Pujiku ketika ia menunjukkan hasilnya yang maksimal. “Yang adek gambar itu huruf apa?” Tanyaku mengulangi apa yang ia gambar tadi.
“Huruf alif atau a..”
“Masya Allah, benar-benar anak shaleh! Hebat!” Pujiku untuk kali kesekian dengan perasaan senang. “Adek bisa buat huruf ba, gak?” Tanyaku kembali sambil menunjuk ke arah iqra’ miliknya.
Ia pun menuruti keinginanku. Setidaknya metode ini bisa mengantarnya untuk mengenal huruf-huruf hijaiyyah dengan caranya. Sesukanya, tanpa mengikatnya bahwa belajar ya harus pada buku Iqra tersebut.
Pekan-pekan berikutnya, ia tak ingin lagi menggambar. Sepertinya rasa bosan tengah menggugah dirinya. Tak ingin kehilangan cara, mataku tiba-tiba terpikat pada sebuah bantal guling berbentuk boneka Lala, salah satu pemeran Teletubbies. Entahlah, tanganku tiba-tiba ingin meraih boneka tersebut dan memainkanya
“Hey Lala, si Mirza anak shaleh ini lagi ngambek tuh..” Godaku sambil mengajak boneka teletubies ini berinteraksi padaku. Waktu itu, ia sedang merebahkan badannya di sofa. Aku pun mulai mengelilinginya sambil terus membawa boneka Lala. “Oh ya? Kalo gitu kita ajak main aja, yuk..” Jawabku dengan mengubah nada suaraku menjadi sosok Lala yang menghampiri Mirza.
Aku dan Lala pun mendekat ke adik kecil ini, Mirza. Ia pun akhirnya menuruti keinginanku dan Lala untuk mau mengaji. Sesekali ada tawa yang selalu membersamainya saat melihatku yang berlaku Lala. Kadang, aku berperan menjadi sosok yang berpura-pura tidak tahu dan menjadikan Lala sosok guru yang siap mengajariku dan Mirza untuk mengaji. Butuh waktu yang lama untuk bisa membuat Mirza menurut. Yah, hitung-hitung, melatih diri berbahasa anak untuk suatu nanti. Mungkin di suatu hari nanti pula, aku akan menggunakan cara ini di depan kelas menghadapi anak-anak didikku. ^^ Doakan ya..


Mungkin, 
karena kesempatan mengetahui banyak hal itu 
bergantung pada kondisi dan situasi,
hingga kemampuan juga akan terlahir dari kesempatan yang ada.
*sapaan Bu Guru; entah kenapa sang ibu menyematkan sapaan itu pada yang sebenarnya aku ingin dipanggil "Kakak"
[ Read More ]

13 Januari 2012

Lingkar Ukhuwah

Posted by bianglalabasmah at 1/13/2012 09:23:00 PM 31 comments
[ Read More ]

12 Januari 2012

Award Berantai: Award The Seven Shadowz

Posted by bianglalabasmah at 1/12/2012 10:51:00 PM 29 comments
Bismillahirrahmaanirrahim..
Semenjak mengenal dunia pendidikan dan anak, aku jadi mengerti, bahwa betapa pentingnya kehadiran penghargaan kepada seseorang yang terlibat dalam kehidupan kita meski dalam bentuk sekecil apapun. Bagi anak-anak, penghargaan justru akan membawa jiwanya “lebih” bersemangat dalam mengembangkan potensinya. Tanpa kita sadari, ada banyak bibit-bibit kesadaran yang bisa tumbuh seketika hanya dengan sepeser penghargaan yang kita serahkan padanya.
Awalnya dari sebuah simulasi mengajar di salah satu SD Negeri di Makassar. Pada siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran akan mendapatkan reward berupa bintang (terbuat dari kertas karton manila berwarna kuning, perekatnya hanya beberapa senti double tip) yang kemudian akan ditempelkan di saku baju seragam putih. Seusai mengajar, hampir seluruh siswa justru mengatakan begini, sambil terus menarik lenganku, “Bu guru, besok datang ngajar lagi kan?” Penawaran yang membuatku tersentuh. Padahal simulasi ini hanya satu kali pertemuan demi memenuhi tugas pada mata kuliahku. Ah, anak-anak ini.. Pertanyaan yang menahan, ya? Batinku. Kemudian aku hanya memegang pundaknya dengan penuh harapan. “Insya Allah.. Kalau ada kesempatan lagi, bu guru bakal kesini. Belajar yang rajin ya..”
Menuliskannya jadi ingin menjenguk di sekolah itu.. :’)
Mengaitkan kata penghargaan, beberapa hari yang lalu, aku mendapat 1st Award dari kakak Kemilau Cahaya Emas setelah beberapa tahun tulisanku mulai melayang di ruangan ini. Terima kasih telah membantuku bangun ketika aku tidak mampu menggerakkan kakiku~. Begitu katanya. Jujur, meski kalimat ini masih meberi tanda tanya besar, tapi cukuplah kebaikan-kebaikan (jika memang ada) itu, Allah ta’ala yang akan membalasnya. Award ini juga akan persis sama seperti siswa yang mendapatkan penghargaan itu dengan mata yang berbinar-binar. Semoga keberadaan blog ini bukan hanya dipenuhi muatan di antara aku saja, tapi bisa memetik hikmah dari setiap kehidupan. Aamiin.
~Pembukaan yang teramat sangat panjang..
 
Karena judulnya Award The Seven Shadowz yang berantai, maka aku akan memberikan pada ke-7 orang yang bisa membangunkanku dalam tulisan di blog ini. Mereka adalah:
1.       Kemilau Cahaya Emas
Bianglala-burung pipit-es krim.. Kata-kata itu selalu berputar di benakku ketika melihat rumah blogku. Adakah dirimu sedang bergelayut di sana? Haha.. Tapi benar, kemilau cahayamu, selalu menyemburat di ruang ini. ^^ Jazakillah khaer kakak..

2.       Corat-coret Makna
Hm… Dunia itu sempit ya? Ternyata kakak sudah mengenal lebih awal sahabatku yang membuatku kadang merasa kalah. Haha.. Oh iya, terima kasih juga kakak, karena jejak yang selalu disisakan disini membuatku semakin harus belajar lagi. ^^

3.       Abu Hanifah's Blog
Blogmu sangat penting. Di sana ada banyak tsaqafah yang membuatku selalu berkata dalam diri, “Aku hanya punya sedikit ilmu yang bisa dibagikan..” Keep blogging and dakwah bil qalam.. ^^ ~cerita dari negeri sakura selalu ditunggu, rid!!

4.       Lensa Kehidupan
Mungkin hanya beberapa kali mengunjungi rumahmu, adindaku.. Tapi, setiap kali ke sana menjengukmu, rasanya ingin bertemu. Bisakah sedikit waktu saja mengantarkan kita? Walau hanya berucap salam dan menanya kabar?

5.       Daun Cinta
Aku bukanlah yang teristimewa bagimu. Tapi, diam-diam aku selalu mencarimu setiap langkah ini berada di sekolah. Apakabar adikku?

6.       Islam, My Love
Bagaimana kabarmu? Pasti ada banyak cerita yang belum terangkum kan? Ditunggu..^^

7.       Awan Putih
Sebenarnya, ingin kenal andisa lebih dekat. Sangat ingin.. ^^
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya untuk nama-nama yang telah disebutkan atas banyak hal yang terjadi di antara kita. ~halaah.. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan ini yang telah sama-sama kita upayakan dengan caranya masing-masing dari tiap kata. Award The Seven Shadowz sudah diberikan, maka silakan dibawa pulang ya.. Jangan lupa membaginya kepada 7 blogger lainnya beserta alasannya. Keep dakwah bil Qalam.. ^^



[ Read More ]

8 Januari 2012

Perempuan Ini

Posted by bianglalabasmah at 1/08/2012 09:09:00 PM 24 comments
: Menyisakan cerita untuk hari ini..
Pernah satu hari, aku merasa takut menjadi seorang perempuan, yang mudah meluruh dan tersentuh dengan keadaan. Bahkan, takut karena perasaan ini yang selalu mengalahkan dirinya. Sering juga terbersit, kenapa aku tidak terlahir seperti perempuan lainnya? Yang mampu tegak dan bersikeras untuk menopang perasaannya. Tampak kuat hingga jarang ditemukan buliran-buliran bening di sudut matanyas.
Apakah rimanya perempuan ini selalu terbayarkan oleh tangisan? Merasa perasaan itu akan terusir dengan air mata. Kadang wajah ini harus bersembunyi di balik ketundukan. Minimal di balik kaca minusnya yang membantu untuk menyamarkan.
Tahukah? Perempuan ini yang begitu mudah menurut oleh perasaannya. Entah karena ia begitu lembut hingga akan merasa terbayarkan kesemuanya oleh deraian air mata yang nantinya membawa mata ini sembab tak karuan.
Perempuan ini yang kadang rimanya terenyuh lagi mengalah atas apa yang terjadi. Kemudian hanya bisa meredakannya dengan beradu padaNya dalam sunyinya.
Perempuan ini juga yang terkadang harus bernafas terputus-putus karena menyangga perasaannya yang seringkali hampir roboh oleh isakan yang merajainya. Sesekali mungkin memainkan kedua tangannya untuk menghapusnya.
Dan, perempuan ini yang akhirnya memang harus mengendalikannya. Sandaran perasaannya memang akan dikembalikan padaNya. Sebab, perempuan ini yakin, ada energi yang harus diserap untuk perasaannya agar mampu dikembalikan ke tempat yang lebih baik.

Selepas hujan, ada pelangi yang mengantarnya tersenyum

[ Read More ]

7 Januari 2012

Pesan Singkat: "Ya Allah, Semoga......"

Posted by bianglalabasmah at 1/07/2012 09:14:00 AM 16 comments


Sejak awal, kita tak kan pernah bisa lepas dariNya, termasuk di saat kepasrahan yang selalu melintas, semestinya tawakkal langsung didekap untuk lebih kuat bertahan.

Ini tentangku di kemilau kampus, yang selalu merasa terperangkap oleh zona ..si ..si (presentasi, diskusi, dan simulasi kelas) hingga tak jarang luput dari persiapan ujian. Di saat hari H ujian, barulah meminta diri ini untuk bersikeras mendalaminya.

Cerita dari mata kuliah Statistika, ada nilai yang terkenang. Buku statistika-ku yang tadinya hanya penuh coretan-coretan yang tak jelas memintaku untuk mengerjai latihan soal-soalnya demi satu momen yang akan datang beberapa jam lagi. Yah, ujian statistika yang akan tergelar di siang hari mengalihkan perhatianku. Benar-benar perasaan yang terdesak dan dibuatnya ku mengerti hanya dalam hitungan beberapa menit saja. Oh, Allah! Beginilah jadinya hamba yang tak pernah ada perhatian penuh pada mata kuliah ini. Bukan karena mata kuliah ini sebenarnyanya, tapi pada suasana kelas dan tempat dudukku yang tak bisa melihat langsung ke arah papan tulis. Ditambah dengan mata minusku. Kilahku selalu.

“Ya Allah, semoga ini yg masuk, Amiin!!”
Selepas memecahkan beberapa soal statistika yang dianggap paling inti, bersama seoarang saudariku, Ana, akhirnya kami sepakat membubuhkan sebuah pesan singkat pada lembaran dimana kami sama-sama menyelesaikan soal-soal latihan statistika agar upaya beberapa menit lalu bisa menjadi bagian yang menentukan beberapa jam lagi.

Jelang ujian digelar, sebagian teman-teman mulai gusar mengambil posisi strategis untuk kenyamanan masing-masing. Aku dan Ana hanya menyaksikan dalam diam atas kegusaran mereka. Dengan begitu percaya dirinya, kami justru mengambil posisi terdepan. Meski rasa gugup masih terus menguasai diri. Toh, posisi manapun akan terpantau jelas oleh Allah. Jadi, tak perlu mengkhawatirkan posisi dimana kita akan duduk, tapi yang perlu dikhawatikan adalah bagaimana kita bisa jujur dalam mengerjakan ujian tersebut.

Semenit, 2 menit, 3 menit, …5 menit berlalu. Belum ada tanda-tanda dosen kami datang. Sesekali, ketua kelas kami menghubunginya, tapi hasilnya suara operator bernada “nomor yang anda tuju sedang sibuk” secara berulang dari seberang yang menjawab. Keresahan mulai merayapi satu per satu kehidupan kelas kami.

“Kayaknya gak jadi ujian. Soalnya dosen yang ini gak biasanya telat.”
“Iya, biasanya beliau datang lebih awal dari waktu yang disepakati.”

Akhirnya, 30 menit telah berlalu mengantarkan kehidupan kelas pada suasana keresahan kerisauan, kegalauan, dan ke…ke..an lainnya. Satu per satu mulai memilih meninggalkan tempat. “Kayaknya benar-benar gak datang!” Keluh seorang teman.

Aku yang duduk sejak tadi memandangi secarik kertas berisi soal dan penyelesaiannya hanya melirik ke arah Ana yang sama-sama sedang menunggu kedatangan dosen.“Pesan kita sedang diproses, ukhti..” Kataku berusaha menenangkan diri dan ia sambil menunjukkan pesan singkat yang tertulis di atas lembaran tadi.

“Iya. Kalo gak jadi datang, bakal saya kerjakan semua soal latihannya.” Janjinya dengan semangat ‘45.

Sepintas, ada banyak penyesalan yang akhirnya ditinggalkan begitu saja di kelas saat kesabaran tak lagi bisa bersama bagi yang tidak menerimanya. Sedang aku berusaha menyemangati diri. Semoga Allah selalu menyediakan perasaan-perasaan yang baik ini pada kami lebih dari biasanya.

Benar saja, pesan singkat itu Ia jawab sesuai harapan di saat ujian berlangsung di pekan selanjutnya. Dan catatan ini hanya ingin menyisakan ruang lebih di hati, bahwa melibatkanNya pada diri-diri ini perlu. Agar bisa mengayakan hati karena muara hidup kita kepadaNya kan?

Teruntuk Ana: yang telah memilihku sebagai saudarinya,
Pesan singkat yang menyenangkan


Terima kasih Allah, untuk balasan dari pesan singkat ini..

[ Read More ]

24 Desember 2011

Waktu..

Posted by bianglalabasmah at 12/24/2011 11:30:00 PM 21 comments

Seiring perjalanan panjang ini masih dilalui, maka semakin banyak saja yang akan ditemui. Di sana, ada rentangan waktu yang sebaiknya ditelusuri seksama. Aku, kau, dia, dan mereka..

Yah, rentangan waktu itu yang mengutuhkan cerita. Begitu kata banyak orang. Waktu, yang kerap kali terabai karena kita terlalu digerus oleh rasa, emosi, atau entah apa namanya yang selalu saja ingin berpihak pada kita.

Tapi, waktu telah mengiring kita pada tiap detik-detik yang fungsional. Waktu telah menghadirkan kita dalam cerita yang tak sedikit. Waktu, telah mensinyalirkan pada banyak bentuk. Pun waktu telah mengajarkan arti dari setiap yang berlalu untuk yang akan ada.

Membangun dan atau mengembalikan kesemuanya yang hampir usang pun hanyalah karena ingin keutuhan dari cerita. Dan, kita sama-sama ingin memampukan diri-diri ini mendapat keutuhan cerita itu dariNya melalui waktu. Bukankah begitu?

Setidaknya, berdamailah dengannya waktu. Karena bersamanya yang masih bergulir, memperlihatkan kita pada kehidupan..


Karena waktu,
 benar-benar membuatku tersipu olehNya...
[ Read More ]

16 Desember 2011

[Tulisan Berantai] 11-11-11

Posted by bianglalabasmah at 12/16/2011 12:34:00 AM 18 comments

Bismillah…
Subhanallah… Tulisan berantai edisi ke-3 super bombastis dan fantastis dari Bu Maya kembali memenuhi ruang blog ini.. Kembali menerka dan mengira tulisan mengenai almanak 11-11-11 yang sempat menoreh sejuta cerita di kolong bumi ini.

Lantas, 11-11-11 ini ternyata tiga rantai yang berjumlah 11. Sebagaimana yang telah tertera di blog bu guru Maya dan aku hanya ingin menyalin tempel saja ya.. ~Bu guru, izin ya salin tempelnya… : Pertama, menuliskan 11 hal tentang diri sendiri. Kedua, menjawab 11 pertanyaan yang diajukan oleh blogger yang memberikan tulisan berantai ini. Ketiga, membuat 11 pertanyaan untuk dilemparkan lagi kepada 11 blogger yang beruntung.

Rantai Pertama: 11 Hal tentang Aku, si Bianglala:
1.     Biru
Seperti langit membiru, ia begitu sejuk, teduh, dan sederhana. Meski terkadang tampak sendu, tapi tetap cantik bukan? Makanya aku tak canggung memilih warna biru menjadi penyemat dalam hidup. Silakan dibuktikan, tak akan terluputkan warna ini dalam atributku. ƪ˘) ƪ˘)ʃ ˘)ʃ Let's to my home..

2.    Angka 7 dan 17
Jangan mengira angka hoki, lho! Kedua angka ini lebih identik dekat dalam kehidupanku. Angka 7: Terlahir di bulan ke-7 dan menjadi anak ke-7 yang terlahir dari rahim seorang ibu (meski sekarang posisiku menjadi anak ke-6 karena kehendakNya). Serta beberapa hal lain mengenai angka ini.
Angka 17:  Terlahir di hari ke 17, pernah sekolah di sebuah SMA Negeri ke-17, beralamatkan di salah satu wilayah Makassar yang ber-kilometer 17, bertetanggan dengan rumah yang nomor rumahnya itu bertuliskan angka 17 (apaan, sih?) (Ɔ'З')Ɔ, berwarganegara Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 (lagi-lagi memaksa) dan punya segudang cerita di tanggal ke 17 baik di tahun hijriah maupun miladiah (biasa dikenal dengan sebutan masehi).

3.    Buku
\(`)/ Mencintainya tanpa sisa. Setiap buku yang bisa kuraih dari hasil jerih payahku, akan ku lumat habis kata demi kata. Semoga bisa kembali membuka perpustakaan pribadi yang sempat terjeda. 

4.    Guru
“Bu guru” bisa menjadi sapaan akrab semenjak duduk di bangku perkuliahan. Hampir semua kalangan rasanya selalu menyebut kata itu hanya untuk memanggilku. Dan semoga sapaan itu benar-benar terpatri dalam diri ini. Menjadi guru untuk diri, anak, dan orang lain. Aamiin..

5.    Orang Jawa
(ɔ˘з˘)-σ Kesan pertama orang yang pertama mengenalku adalah mengira aku ini orang Jawa. Katanya sih, wajahku, wajah Jawa. Logatku, logat Jawa. Perangaiku, seperti orang Jawa. Yah, meski telah berupaya untuk bisa beradaptasi di lingkungan berbahasa lokal (Bugis-Makassar), tapi tetap saja mereka menerka aku orang Jawa.  ƪ( ▿‾ƪ)

6.    Hi Tech
Tulisanku tidak rapi alias berantakan. ~Sebenarnya ingin menuliskan kata jelek, tapi diperindah saja, ya.. Dan bisa terlihat cantik hanya dengan pulpen ini. Jadi, rela merogoh kocek sedalam-dalamnya demi menjaga keprofesionalan seorang guru, eh aku yang ingin tampil cantik. ~Sigh.. (–˛ — º)

7.    Pedas dan Durian

Oh No! Enggan untuk menyentuhnya. Walaupun pedas-pedas sedikit, rasanya enggan untuk mendzalimi lidahku yang tak terbiasa pedas. Bahkan, terbilang takut untuk merasakannya. Sedangkan durian, ya Allah, aku benar-benar benci baunya yang menyengat itu. ~Uu.. hueks.. Maaf ya… (˘o ˘")

8.    Senyum

Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Sebuah hadits yang telah mensinyalirkan tentang senyum, sedekah yang begitu mudah namun sering terluputkan. Seberapapun yang kalian minta, akan ku beri… ~Tidak mau kalah dari Bu Guru Maya, nih.. ڡˆ)
Tapi, ada yang sirik nih dengan senyumku. Masa’ sampai bilang begini, “Dek, kalo bisa senyumnya gak pake pamer lesung pipi..” Grr.. Mana bisa? (,")

9.    Pucat
Terkadang, aku tidak menyadari apa yang terjadi di wajahku. Setiap kali terlihat lesu, beberapa orang yang menyadari wajah itu langsung menegur, “Kenapa muka kamu pucat, Bas? Sakit ya?” Dan itu sudah seringkali terjadi. Padahal hanya wajah lelah saja kok.(́_̀)

10.  Afkaar dan Ahfadzii
Banyak orang yang salah paham terhadap kedua nama tersebut. “Ya Allah, Bu Basmah… Kirain nama Afkaar dan Ahfadzii itu nama anak-anaknya ibu Basmah. Ternyata nama laptop dan hapenya si ibu Basmah..” Ujar seorang ibu tampak surprised di sebuah sekolah tempatku mengajar. Hihi… Didoakan saja, ya.. (•ˆˆ•)

11.   Mencoret-coret
Sekalipun mencintai dunia tulis menulis, aku pun tak bisa melepas kebiasaan mencoret-coret di banyak lembaran kertas. ƪ(˛“)ʃ Terutama pada perkuliahan, sambil mencatat apa yang disampaikan dosen, pada sisi lembar lainnya akan dipenuhi coretan-coretan. Bisa dalam bentuk gambar abstrak yang menantang daya imajinasi, dan atau bahkan mentranslate kembali catatan perkuliahan ke tulisan hiragana-katakana  (bahasa Jepang) atau hangeul (bahasa Korea).

Rantai Kedua: 11 Pertanyaan dari Ibu Guru Maya
1.     Tuliskan tiga kata tentang aku! Senior, pinky, dan unyu..
2.    Jika kamu diberi kesempatan untuk mengambil apapun dariku, apa yang akan kamu ambil? Ingin mengambil ilmu kakak maya deh.. Karena, mengambilnya tak akan mengurangi apa yang menjadi milik kakak. ( .)-σ Aku tidak egois, kan? 
3.    Apa aku sudah pernah melakukan sesuatu untukmu? Alhamdulillah, sudah pernah.. Dan insya Allah sangat berkesan. Oh, my senior.. ˘)/(˘˘)
4.    Apa target utamamu di tahun 2012 mendatang InsyaAllah? (ʃ⌣ƪ) Hm, kasih tau gak ya? MENIKAH.. o_O ~semoga yang membaca ini Kaget dan diiringi dengan mendoakanku.. Hahahaha… Sebenarnya banyak sih targetnya.. Khawatir menuliskannya tak akan mencukupi ruang maya ini.. ("▿‾")
5.   Benda apa yang kamu inginkan -harganya murah- tetapi kamu belum memilikinya? Boneka dan mainan. Tapi, berhubung belum punya anak, jadi belum boleh beli. Hiks..
6.    Apakah kamu ingin bertemu denganku? Sangat ingin.. Kapan kita bisa ketemu? Pertemuan yang bukan sekedar pertemuan.. ˘ )
7.    Apa penyesalan terbesar dalam hidupmu? Di saat aku takut mendapat teguran dariNya..
8.    Mau ditraktir makan apa? (*^^*) (Dengan berbinar-binar) Kak Maya mau traktir beneran, nih? Pengen empek-empek kapal selam..

9.    Jika aku menghilang, apa yang akan kamu lakukan? Berdoa. Berikhtiar. Jika masih tidak ditemukan, aku berharap semoga ada kak Maya lainnya. ~Apaan sih ini Kak Maya pertanyaannya? Kak May mau benar-benar menghilang ya? Jangan buat aku cemas, dong!! ("( ́_ ̀))> O('_'")
10.  Apa kamu mau membeli bukuku? Boleh, kalau ada yang berhubungan dengan anak, ibu, pendidikan, pendidikan Jepang dan Korea. Kak May punya? Lagi nyari nih.. (ړײ)
11.   Pernahkah terpikir untuk mendonorkan organ tubuhmu ketika kamu meninggal? Pernah. Tapi kepada orang yang bisa memanfaatkan organ tubuhku dengan baik. Ingin mendonorkan pita suaraku. Agar pita suaraku selalu menggemakan lantunan ayat-ayat Allah ta’ala..  ~sok bagus aja suaranya.. (˘_˘")

Rantai Ketiga: 11 Pertanyaan untuk Teman Blogger  
1.     Bagaimana kabarmu hari ini?
2.    Menurutmu, termasuk tipe apakah aku dan berikan alasannya? (Koleris/Sanguinis/Melankolis/Plegmatis)
3.    Apa yang ingin kamu berikan di hari bahagiaku (baca: Pernikahan)?
4.    Alasan apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?
5.    Jika kamu diberi kesempatan untuk membahagiakan seseorang sepenuhnya, siapakah orang itu?
6.    Apakah kamu begitu menikmati masa-masa sekolah?
7.    Jika suatu hari nanti kamu dipertemukan dengan seorang guru SD yang pernah bersikap tidak menyenangkan hati, apa yang kamu lakukan?
8.    Apakah kamu ingin terlibat dalam cerita di blogku?
9.    Apa bunyi sms mu terhadapku jika mendengar berita aku jatuh cinta pada seseorang?
10.  Hal apa yang tersulit ketika kamu menghadapiku?
11.   Sifat buruk apa yang ingin kamu musnahkan dalam dirimu?
Berikut, orang-orang yang mendapat harus melanjutkan tulisan ini: (_o_)
·         Putri Cahaya ~special buat Bu guru, hanya rantai ketiga saja, ya..
·         Azka’s Zone
·         Daun Cinta
·         As-Satrah Blog Ummat
·         Awan Putih
·         Seindah Cahaya Pelangi

Selamat ya, yang telah mendapatkan tulisan berantai ini.. (˘⌣˘)/(˘⌣˘)

[ Read More ]
 

Bianglala Basmah Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea